November 14, 2019
8 mins

“We have fond memories of the old location”

Saya terbangun linglung melihat teman perjalanan saya berdiri di hadapan saya dengan ketakutan. “Ada apa Ri? Ada apa?” Saya terengah-engah dan mengambil minuman di meja lalu menghela napas dalam. Saya menoleh ke arah gudang kecil di samping saya dan tidak ada siapapun di sana. Gadis kecil berkuncir telah lenyap dari pandangan. Saya kembali membaringkan tubuh sambil meminta teman saya kembali ke kamarnya, “besok aja aku ceritain, sekarang tidur lagi aja.”

Saya terbangun jam 5 pagi untuk sholat subuh kemudian tidur lagi sampai jam 8 pagi. Di luar udara sangat dingin dan gerimis turun membuat malas beranjak dari selimut. Gadis berkuncir mungkin juga bergelung dalam selimutnya sehingga enggan menemui saya lagi. Baru sekitar jam 11 siang saat hujan mulai reda, saya bersiap untuk menjelajahi kota tua kecil kelahiran Rusia ini. Dengan berbekal payung, peta dan jaket tebal saya keluar apartemen. Begitu keluar pintu apartemen, saya bertemu nenek-nenek yang sibuk bercengkerama dengan kucingnya. Kebanyakan nenek-nenek ini hanya tinggal sendirian di apartemen bersama kucingnya di berbagai lantai tanpa lift.  Saya menaiki lantai 4 melalui tangga dengan langkah terseok sementara nenek-nenek ini dengan santai naik turun tangga diikuti para kucingnya. Di Rusia jumlah wanita lebih banyak daripada pria, mungkin karena itu juga saya lebih banyak menemukan wanita lansia daripada pria lansia.  Saya berjalan menyusuri jalan di samping apartemen dan menemukan banyak tempat makan, supermarket, cafe, penjual buah-buahan, bunga, sayuran bahkan makanan halal. Hanya perlu melewati satu blok, saya sudah sampai di jalan besar yang diseberangnya terdapat Kremlin (sebuah bangunan yang berbentuk benteng dan memiliki gerbang). Kremlin di Veliky Novgorod bisa jadi merupakan Kremlin tertua di Rusia.

Setelah melewati jalan setapak hutan kecil yang rimbun, tampak menara Kremlin menyembul dari kejauhan. Saya jadi teringat benteng kota Xi’an Tiongkok yang cantik. Kremlin di Veliky Novgorod juga secantik benteng di kota Xi’an Tiongkok.  Angin berhembus kencang bersamaan dengan udara dingin yang menusuk tulang. Saya merapatkan jaket dan memandangi Kremlin dari tempat saya berdiri. Saya membayangkan bangsa Viking yang datang ke Veliky Novgorod pada masa lalu melalui jalur laut untuk berdagang dan membajak di lautan. Pada abad ke IX, sungai-sungai Novgorod merupakan bagian dari rute perdagangan bangsa Viking ke Yunani. Dari perdagangan inilah kemudian bangsa Viking yang terkenal terampil dalam berperang menjadi prajurit di bawah penguasa Slavia, kemudian menetap di Novgorod dan menjadi penduduk Rus.  Salah satu bangsa Viking yang bernama Rurik menurut sejarah datang di kota ini karena diminta untuk melindungi kota dari serangan perampok namun kemudian Rurik berkuasa di kota ini.  Saya akan menyusuri jejak-jejak Rurik yang masih tertinggal di kota ini.

Angin dingin dan kencang menghamburkan jilbabku bersamaan dengan daun-daun merah musim gugur yang berjatuhan dari pepohonan. Saya terus melangkah menyusuri sepanjang sisi Kremlin yang panjang untuk mencapai gerbang utama.  Di depan gerbang Kremlin tampak seorang wanita tua sedang memainkan akordion. Mengenakan baju tebal berwarna merah, kerudung kuning dan sepatu boots hitam, wanita tua itu tersenyum padaku. Duduk di strollernya yang berwarna biru, wanita tua itu tampak menikmati permainan musiknya sendiri. Saya suka melihat caranya tersenyum yang ramah dan bersahabat tidak seperti orang Rusia kebanyakan yang kaku. Setelah menaruh uang di kotak yang ada di depannya, saya segera memasuki gerbang Kremlin.

Veliky Novgorod terletak di pinggir Sungai Volkhov. Sungai ini membagi kota menjadi dua bagian yaitu Sofiyskaya dan Torgovaya. Terkenal dengan warisan budayanya, Veliky Novgorod merupakan satu-satunya tanah Rusia kuno yang tidak hancur selama abad ke 9 hingga ke 13. Banyak sekali peninggalan bersejarah yang masih terjaga dengan baik di kota ini, bahkan ada 37 benda yang masuk dalam daftar Warisan Dunia Unesco.  Saya melewati gerbang Kremlin tanpa dipungut biaya wisata apapun, kemudian memasuki areal dalam Kremlin dan mata saya disergap pemandangan taman dengan eksotisme musim gugur.  Terdapat Monumen Millennium of Rusia di sisi kanan dari arah masuk gerbang Kremlin, lalu Katedral St. Sophia, St. Sophia Bell Tower, The History Museum dan Kokuy Tower. Saya kemudian keluar gerbang Kremlin dan menyeberangi jembatan bersama orang-orang lokal yang lalu lalang. Dari jembatan penyeberangan (pendestrian bridge) ini, saya bisa memandang Kremlin yang megah dan eksotis dengan Kokuy Tower yang menjulang.

 

Setelah sampai di seberang, saya bertemu dengan patung gadis yang sedang duduk santai di pinggir sungai seolah sedang melepas penat setelah berjalan mengelilingi kota Veliky yang cantik. Sepatunya dilepas di sebelahnya, bibirnya tersenyum simpul, matanya menatap langit yang biru cerah. Patung ini lebih dikenal dengan The Girl Tourist yang menjadi spot menarik untuk berfoto para turis karena di belakang sang gadis tampak pemandangan sungai Volkhov yang mengalir tenang dan bersih serta kapal cantik yang sedang bersandar. Gadis ini tampak modern dan pastilah tidak pernah bertemu Pangeran Rurik.

 

Saya kemudian melanjutkan perjalanan ke Court Of Yaroslav.  Taman dengan gereja-gereja kecil seperti Cathedral of St. Nicholas dan Gereja St. George.  Saya duduk beberapa saat di taman karena banyak burung-burung kecil yang berumah di tanaman sekitar taman. Burung-burung ini tidak terbang menjauh dan jinak dengan manusia seolah saat saya duduk di salah satu bangku taman mereka mengajak ngobrol.  Tak hanya burung-burung kecil, tampak beberapa lansia juga duduk di taman sambil bercengkeram dan memberi makanan pada burung-burung ini.

Setelah menikmati suasana lengang bersama burung-burung dan lansia, saya melanjutkan perjalanan ke arah jalan raya kemudian menyeberang untuk melihat toko souvenir di sana. Kota ini sangat sepi dan nyaris seperti tanpa aktivitas. Tetapi saat kita memasuki toko atau restoran, terasa kehangatan para penguhuninya. Seorang pemuda dengan bahasa Inggris terbata meminta maaf saat saya menunggu antrian di belakangnya untuk menukar uang di salah satu money changer. Dia bilang keluarganya yang sedang antri sedang menjual rumah dan memerlukan uang untuk menukar tapi perlu konsultasi agak lama. Saya sebenarnya tidak masalah, tetapi dia yang tidak enak sendiri karena saya lama menunggu. Bahkan saat saya hendak membeli salah satu souvenir dengan bahasa Rusia, dia menerjemahkan bahasa dalam souvenir itu. Kota ini memang lengang dan terlihat dingin, tetapi manusianya hangat dan ramah.

 

 

Penjelajahan hari itu saya akhiri dengan mengunjungi perbukitan yang merupakan jejak-jejak kediaman Pangeran pertama Rusia, Rurik. Terletak di perbukitan, bangunan tua itu menjadi saksi bisu bahwa pada abad 9 hingga 10 dinasti Rurik menjadi cikal bakalnya Rusia. Di sisa-sisa kediaman asli Rurik yang masih dilestarikan inilah saya dapat merasakan negeri terluas di dunia ini bermula. Negeri besar yang melewati banyak perubahan zaman mulai dari invasi Mongol Tartar hingga revolusi. Namun dari semua perubahan zaman itu, Veliky Novgorod satu-satunya kota yang terselamatkan dari kehancuran.  Sebelum malam, saya meninggalkan sisa-sisa kediaman Rurik sambil berharap bisa kembali ke kota ini dan melihat lebih dalam lagi tentang kehidupan penghuninya. Semoga.

Avatar
Writer, Traveller and Dreamer

Leave a Reply

  • (not be published)