November 18, 2019
10 mins

Seorang teman pecinta bangunan-bangunan lawas bersejarah terus menerus mengirim pesan agar saya memotret semua bangunan lawas bersejarah yang saya lewati selama saya melakukan perjalanan di Rusia.  Bagi pecinta bangunan-bangunan lawas bersejarah dan benda-benda seni yang masih terjaga kelestariannya, Rusia memang surganya. Rusia memiliki bangunan-bangunan dari berbagai zaman yang menjadi saksi perubahan zaman dan bertahan dari kebakaran, invasi Tartar-Mongol hingga revolusi.

Salah satu tempat yang saya susuri adalah stasiun metro di Moskow, Rusia. Tidak hanya sebagai alat transportasi yang mudah dijangkau, namun hampir semua stasiun metro di Moskow adalah mahakarya seni dan arsitektur yang sangat indah. Saat menyusuri stasiun-stasiun ini, saya merasa berada dalam galeri seni yang besar dan menikmati karya-karya seniman pada masa lampau yang terukir di dinding stasiun.  Dibuka pada tahun 1935, sarana transportasi bawah tanah ini memiliki 13 jalur dan 236 stasiun.  Saya tidak bisa mengunjungi semua stasiun itu karena waktu perjalanan yang singkat tetapi setidaknya saya mengunjungi beberapa stasiun terindah.

Saat mendorong pintu stasiun, saya sudah merasakan aroma masa lalu. Pintu yang saya dorong terbuat dari kayu, kokoh dan klasik.  Bersamaan dengan ramainya warga Moskow yang pulang kerja sore hari, saya mencari mesin untuk membeli kartu  Troika. Beberapa mesin menyediakan pilihan Bahasa Inggris dan sangat mudah digunakan. Tetapi jika anda ragu, bisa membeli di loket yang juga disediakan petugas khusus yang bisa berbahasa Inggris (English Speaking) jika anda tidak bisa berbahasa Rusia.  Setelah beres urusan tiket, saya masuk ke dalam stasiun dan turun menggunakan eskalator untuk menuju jalur yang saya tuju. Kebanyakan stasiun metro di Moskow berada di dalam tanah dengan kedalaman maksimal 74 meter di Stasiun Park Pobedy. Tetapi pada setiap stasiun, saya merasa gemetar karena eskalatornya curam dan dalam. Begitu sampai di bawah, saya tercengang melihat stasiun di depan mata saya.

 

Stasiun cantik pertama yang saya lewati bernama Taganskaya. Dibuka pada tahun 1950, dengan arsitektur abad pertengahan stasiun bernuansa biru ini didesain oleh arsitek K.Ryzhkov dan A.Medvedev.  Stasiun ini dinamai Taganskaya karena posisinya terletak di bawah Taganskaya Square. Desainnya bergaya flamboyan pasca perang dengan motif tradisional Rusia. Tampak lengkungan-lengkungan menyerupai kubah pada bagian atap, dinding dan pintu keluar menuju masing-masing jalur. Pilar-pilarnya dihiasi panel majolika berwarna biru sedangkan lantainya terbuat dari granit berwarna hitam dan abu-abu. Pencahayaan stasiun ini berasal dari 12 lampu gantung antik yang berhias panel majolika berwarna biru senada.  Pada dinding stasiun ini terdapat profil-profil seperti pelaut, operator tangki dan pilot juga pahlawan tentara Soviet. Nuansa stasiun ini terasa lembut karena perpaduan warna biru, krem dan pencahayaan dari lampu gantung yang dramatis.

 

Saya kemudian melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi stasiun cantik yang lainnya. Stasiun kedua yang saya lewati adalah Kiyevskaya.  Stasiun yang dibuka tahun 1954 ini didesain oleh E.I.Katolin, V.K. Skugarev dan G.E. Golubev. Menurut informasi, stasiun ini dibangun dibawah pengawasan langsung pemimpin Soviet Nikita Khruschev sebagai penghormatan pada tanah kelahirannya Ukraina.  Pembukaan stasiun ini juga bertepatan dengan peringatan tahun penyatuan kembali Ukraina dan Rusia sehingga desain yang ditampilkan bertemakan persahabatan kedua bangsa. Berjalan di stasiun ini, saya seperti berada di galeri Renaissance yang megah dan indah.  Bernuansa emas dengan lobby yang dihiasi marmer dan granit serta pada dindingnya terdapat 18 panel mosaik dalam tradisi Florentine karya A.V. Myzin. Panel relief di dinding itu menunjukkan sejarah hubungan antara Rusia dan Ukraina dari masa Pereyaslav tahun 1954 hingga revolusi pada 1917. Di bawah relief-relief itu terdapat tempat duduk kecil yang bisa digunakan untuk menunggu atau menikmati stasiun ini. Banyak turis rombongan atau sendiri mengunjungi stasiun ini. Saya memutuskan untuk menikmati suasana keramaian pulang kerja di stasiun megah ini sambil duduk di bawah salah satu relief sebelum melanjutkan ke stasiun lainnya.

 

Stasiun berikutnya yang tak kalah cantik adalah Novoslobodskaya. Saat memasuki stasiun ini saya seperti memasuki gereja.  Menurut informasi, pada awal pembukaannya memang para arsitek sempat takut stasiun ini akan menyerupai gereja tetapi saat ini mereka justru melihat stasiun ini seperti akuarium bawah laut yang sangat  cantik. Saya berjalan berkeliling di antara lalu lalang orang dan  tampak 32 panel kaca berwarna-warni yang sangat cantik di dinding stasiun. 32 panel kaca ini merupakan karya 3 seniman yaitu M.Ryskin, E.Krests dan Latvia E.Veylandan. Di dalam setiap panel kaca ini terdapat keping kaca warna-warni yang disatukan dalam frame  kuning keemasan.  Enam dari panel kaca berwarna itu menggambarkan orang-orang dari berbagai peofesi mulai dari arsitek, musisi, ahli agronomi sementara 26 sisanya merupakan gambar bintang yang rumit dan pola-pola geometris. Di ujung koridor stasiun, saya melihat ada satu karya yang sedikit berbeda dan mengusung nilai perdamaian. Mosaik ini ternyata karya Pavel Korin yang diberi judul “Peace Throughout the World.”  Dengan penerangan lampu gantung yang pas stasiun ini tampak bersinar seperti istana bawah laut yang sangat cantik.

 

Mayakovskaya adalah stasiun berikutnya yang membuat saya kagum. Terletak 33 meter di bawah permukaan tanah, stasiun ini memiliki dinding-dinding tinggi dan ramping yang terbuat dari baja pesawat terbang. Berjalan di stasiun ini saya seolah mengelilingi sebuah aula besar yang tampak futuristik. Dibuka pada tahun 1938, stasiun ini dirancang oleh arsitek Alexey Dushkin sedangkan nama Mayakovskaya diambil dari nama penyair terkenal Soviet pada tahun 1893-1930 yang bernama Vladimir Mayakovskiy. Tema stasiun ini adalah “24 Jam di Tanah Soviet.” Penggambaran tema itu tampak di 34 mosaik yang terdapat di langit-langit stasiun. Stasiun Mayakovskaya selama perang dunia II digunakan sebagai pos komando sekaligus tempat perlindungan dari serangan bom Jerman.  Bahkan Joseph Stalin tinggal di tempat ini selama perang dunia II dan berpidato di depan para pemimpin partai dan orang-orang Moskow di tengah aula stasiun ini. Tak hanya desainnya yang mengagumkan dan cantik, tetapi stasiun ini juga memiliki nilai historis pada perang dunia II.

 

Saya kemudian melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi stasiun yang lainnya. Stasiun berikutnya adalah Komsomolskaya.  Terletak 37 meter di bawah tanah, stasiun metro dari rangkaian nomor 5 ini berada di jalur Koltsevaya di antara stasiun Prospekt Mira dan Kurskaya.  Dibuka pada tahun 1952, tepat di bawah Komsomolskaya square, stasiun ini merupakan salah satu stasiun paling sibuk di Moskow. Stasiun Komsomolskaya tampak mewah dengan desain kekaisaran Rusia dan Moskow Baroque.  Dengan lampu gantung perunggu yang elegan, mozaik yang terbuat dari smalt, arcade marmer dan lantai yang dirancang oleh Alexey Shchusev, stasiun ini merupakan puncak gaya kekaisaran Stalinis. Pavel Korin merupakan seniman yang paling berpengaruh dalam menciptakan  delapan mozaik indah di langit-langit stasiun ini dimana inspirasinya datang dari pidato Joseph Stalin di Parade Moskow tahun 1941, sementara gagasan untuk mendesain mozaik ini berasal dari Katedral Saint Shopia di Kiev. Dari lantai atas stasiun yang megah ini saya menikmati lalu lalang warga Moskow yang mengejar kereta yang datang setiap 90 detik itu.

 

Dan stasiun terakhir yang sempat saya kunjungi adalah Ploshchad Revolyutsii.  Terletak di bawah Revolution Square, stasiun dengan penerangan redup ini tampak luar biasa megah.  Ada 76 patung perunggu dengan gaya realisme sosialis di dinding-dindingnya yang menggambarkan masyarakat Uni Soviet dengan beragam profesinya mulai dari pekerja pabrik, insinyur, pelajar, tentara, petani, pelaut, atlet, penulis, penerbang dan lain sebagainya.  Karena tempatnya yang tidak terlalu luas, patung-patung ini hampir semuanya berposisi duduk. Konon orang yang melewati stasiun dan menyentuh patung-patung ini akan mendapat keberuntungan. Stasiun yang arsitekturnya dirancang oleh Alexey Dushkin ini mengarah ke jantung kota Moskow dan berada di jalur biru. Dibuka pada tahun 1938 patung-patung yang berada dalam stasiun ini sebenarnya menggambarkan transformasi Rusia dari masa pra-revolusioner, revolusi kemudian era kotemporer.  Sayang saya melewati stasiun ini menjelang tengah malam sehingga sedikit gelap untuk mengambil foto dan suasananya jadi agak menakutkan. Tapi itu toh tidak mengurangan kemegahan stasiun Ploshchad Revolyutsii.  Mengunjungi stasiun-stasiun metro di Moskow tak hanya menikmati keindahan mahakarya seni dan arsitektur, tetapi juga menengok kembali jejak-jejak sejarah Rusia dalam karya para seniman Rusia.

 

Pctures by : mine and Google

Avatar
Writer, Traveller and Dreamer

Leave a Reply

  • (not be published)