May 01, 2020
31 mins

Perjalanan bagi saya adalah waktu yang tepat untuk kontemplasi. Karena itu juga, saya tidak suka bersama banyak orang. Salah satu tempat yang selalu saya kunjungi selain kota tua adalah sungai.  Sungai menjadi saksi bisu bergulirnya sejarah di negara tersebut dan menjadi tempat yang asyik untuk duduk melamun saat senja. Berikut sungai yang pernah saya kunjungi di beberapa negara.

1. SUNGAI DANUBE BUDAPEST, HUNGARIA

Mengunjungi sungai Danube pada senja hari merupakan ide yang tepat. Saya sampai di Budapest pada malam sebelumnya naik bus dari Vienna Austria. Begitu sampai, saya  kebingungan saat hendak masuk ke gedung tua tempat saya menginap.  Hostel itu berada di lantai 4 gedung tua dengan pintu gerbang yang besar dan berat sampai saya tidak kuat mendorongnya. Seorang cowok lewat dan kasihan melihat saya kesulitan mendorong pintu. Dia membantu saya mendorong pintu dan menyelesaikan drama itu. Tetapi memang banyak drama saat di Budapest. Saya kesulitan mencari kartu transportasi sehingga memutuskan mengikuti google map untuk berjalan kaki sampai sungai. Untung dari hostel ke sungai tidak terlalu jauh. Justru saya menemukan banyak hal menarik sepanjang perjalanan dari hostel ke sungai seperti yang bisa saya kunjungi esok harinya.

Saya tiba di pinggir sungai tepat saat lampu-lampu kota yang berwarna kekuningan mulai menyala tetapi langit masih terang. Lampu yang diatur sedemikian artistik itu membuat bangunan-bangunan tua di sekitar sungai berubah keemasan. Salah satunya adalah gedung Parlemen Budapest yang menjadi tujuan wisata para turis. Beberapa operator cruise yang mengangkut turis tampak bolak balik menyusuri sungai. Mereka menikmati pemandangan senja dan bangunan-bangunan bersejarah di kota Buda dan Pest dari kapal. Sebagian penumpang melambaikan tangan ke arah turis yang duduk menikmati senja di tepi sungai.  Sungai Danube pada senja hari sangat cantik dan romantis.

Sungai Danube merupakan sungai panjang yang bersumber dari Jerman hingga Laut Hitam di Rumania.  Ada 10 negara yang dilewati sungai ini mulai dari Austria, Bulgaria, Kroasia, Jerman, Hungaria, Moldavia, Slowakia, Rumania, Ukraina dan Serbia. Sungai Danube membagi Budapest menjadi dua bagian yaitu kota Buda dan kota Pest.  Kota Pest terletak di dataran sebelah timur, merupakan pusat kota yang memiliki banyak pusat perbelanjaan dan kafe-kafe sementara kota Buda terletak di sebelah barat dengan kontur berbukit-bukit. Keduanya dihubungkan oleh 9 jembatan, salah satunya jembatan Chain yang terkenal dan menjadi tujuan wisata para turis. Dari tempat saya duduk, saya bisa melihat bangunan-bangunan tua cantik di kota Buda yang ada di seberang sungai.

Setelah duduk menikmati suasana Budapest dari pinggir sungai Danube sekitar tiga jam, saya berjalan kaki menyusuri trotoar pinggir sungai ke arah jembatan Chain. Sebelum sampai di jembatan Chain, saya melewati Szechenyi Street. Tampak beberapa orang membawa bunga mawar dan meletakkan bunga mereka di atas sepatu besi yang ada di pinggir sungai.  Tempat itu adalah Shoes on The Danube Promenade, memorial untuk memeringati korban Holocaust, “Mengenang korban yang ditembak ke Sungai Danube oleh milisi Arrow Cross pada 1944-1945”. Instalasi yang terdiri dari 60 pasang sepatu dari besi dan di belakangnya terdapat bangku yang terbuat dari batu sepanjang 1.188 meter dengan tinggi 71 cm ini merupakan saksi salah satu momen terkelam di Budapest selama Perang Dunia II tepatnya pada musim dingin 1944-1945.  Ribuan orang Yahudi pada masa itu diikat bersamaan dan ditembak ditepi sungai. Jasad mereka dilemparkan ke Sungai Danube oleh Arrow Cross Party. Sungai Danube menjadi pemakaman Yahudi paling mengeringkan pada masa itu. Karena sepatu saat itu sangat berharga maka sebelum ditembak mereka dipaksa melepaskan sepatunya dan sepatu itu akan dijual ke pasar gelap oleh para eksekutornya. Memorial ini terbuka untuk dikunjungi para turis, terkadang juga kerabat para korban. Mereka meletakkan bunga, koin dan lilin di sana.

Malam semakin sepi saya melanjutkan perjalanan ke jembatan Chain yang masih ramai. Orang-orang duduk di pinggir sungai sekitar jembatan Chain menikmati malam. Sayapun bergabung untuk duduk di sana. Sungai Danube yang cantik dan romantis namun menyimpan tragedi kelam dari masa lalu ini sayang untuk dilewatkan jika anda ke Budapest.

2.SUNGAI SEINE PARIS, PRANCIS

Sungai Seine memang menjadi tujuan utama saya saat berkunjung ke Paris. Sebagai orang yang suka melamun di pinggir sungai, tempat ini tidak akan saya lewatkan. Sungai Seine tidak hanya menjadi ikon pariwisata di Paris tetapi juga menjadi inspirasi banyak seniman Prancis ; pematung, pelukis, filmmaker bahkan penulis dalam karya-karya mereka. Maka setelah seharian berjalan kaki menyusuri kota Paris yang super eksotis, saya turun ke trotoar tepi sungai Seine. Siapa tahu saya juga mendapatkan inspirasi seperti para seniman itu, meskipun kenyataannya saya malah terkagum-kagum dengan pemandangan sepanjang sungai sehingga tidak mendapatkan inspirasi apapun.

Sungai Seine membelah kota Paris menjadi dua bagian yaitu utara dan Selatan dengan panjang 776 kilometer dan memiliki puluhan jembatan yang bertengger diatasnya. Sebagai sungai terpanjang kedua di Perancis setelah Sungai Loire, pada awalnya Sungai Seine digunakan sebagai sarana transportasi dan pembuangan. Tetapi pada masa kini, sungai Seine menjadi salah satu cagar budaya UNESCO. Tidak hanya sebagai jalur lalu lintas komersial, sungai ini juga menjadi tujuan wisata para turis dari seluruh dunia. Selain Eiffel, sungai Seine merupakan ikon kota Paris. Di sepanjang pinggir sungai banyak turis, orang lokal yang duduk menikmati senja atau olahraga juga mereka yang bekerja di sungai.  Wisata yang ditawarkan adalah menyusuri sungai dengan naik cruise yang akan melewati ikon-ikon wisata di Paris. Jika menyisir dari arah timur menuju arah barat Sungai Seine, akan tampak puluhan situs yang terletak di kanan-kiri lembah Sungai Seine. Di lembah kiri sungai tampak berturut-turut la Grand Bibliotheque, Institut de Paris, Musee d’Orsay, hingga Menara Eiffel. Sementara, di sayap kanan sungai berdiri dengan megah bangunan yang lain dari Bercy, Hotel de Ville, Musee du Louvre, hingga Jardin Trocadero. Ada bermacam operator cruise di Paris seperti Batobos, Bateux Parisiens dan Vandettes du Pont Neuf.  Masing-masing bisa dipilih sesuai fasilitas yang ditawarkan dan kemampuan kantong kita. Ada cruise yang menawarkan tour biasa hanya keliling melihat wisata melalui sungai Seine, ada dinner tour hingga private tour. Saya memilih tour biasa menggunakan Vandettes du Pont Neuf dengan tiket yang bisa dibeli langsung di dermaga atau online di website. Saya memilih membeli langsung di dermaga.

Tepat menjelang matahari terbenam cruise yang saya naiki memulai perjalanan menyusuri sungai Seine. Saya memilih duduk di bagian atas kapal yang terbuka sehingga lebih leluasa mengambil foto. Tidak banyak turis yang naik cruise ini sehingga saya bebas memilih tempat duduk. Seorang wanita Asia berambut panjang dan cantik memandu perjalanan itu.  Matahari bersinar keemasan menerpa menara Eiffel sehigga terlihat sangat cantik dari sungai. Udara musim semi terasa dingin di tubuh tropis saya sehingga saya perlu merapatkan jaket. Jika anda ingin menyusuri sungai Seine ketika berlibur ke Paris, saya sarankan waktu sunset karena romantisnya kota Paris dan sungai Seine akan berpadu menciptakan keindahannya.

3.SUNGAI THAMES, INGGRIS

Menyusuri tepian sungai Thames selalu menjadi satu bundel kegiatan berwisata para turis seluruh dunia yang datang ke London, Inggris. Karena selain sangat populer, di sekitar sungai ini bisa dijumpai banyak ikon kota London seperti Big Ben, London Eye, dan Tower Bridge. Saya hanya memiliki waktu sebentar pada siang hari selepas mengunjungi Big Ben untuk menyusuri tepi sungai ini sehingga tidak sempat melamun lama-lama dan menunggu senja datang. Tetapi waktu sebentar itu saya manfaatkan sebaik-baiknya.

Sungai Thames mengalir di selatan Inggris dan menghubungkan kota London dengan laut sepanjang 356 kilometer.  Selain sebagai penyedia ikan bagi penduduk kota, sungai ini juga menjadi pensuplai air serta sarana transportasi. Meskipun dinobatkan sebagai sungai terbersih di dunia, tetapi pada masa lalu sungai ini pernah menjadi sungai mati karena limbah sampah dan manusia dengan polusi yang sangat tinggi. Kemudian pemerintah Inggris bekerja keras untuk mengatasi masalah polusi itu dengan berbagai proyek konservasi dan perbaikan sitem. Semua kerja keras itu menampakkan hasilnya hingga saat ini sungai Thames menjadi sungai bersih yang menjadi lokasi wisata turis dari berbagai belahan dunia.

Seperti di beberapa negara Eropa lainnya, banyak cara yang bisa dilakukan untuk menikmati sungai Thames mulai dari mengikuti tour cruise dengan berbagai jenis paket yang akan membawa turis ke berbagai ikon wisata seperti London Eye, Tower Bridge, Gedung Parlemen Kerajaan Inggris, Big Ben dan Gereja Katedral St. Paul. Atau bisa juga mampir di salah satu kafe-kafe pinggir sungai dan duduk di sana menikmati lalu lalang orang sambil memesan beberapa makanan kecil. Saya tidak memiliki waktu untuk keduanya sehingga hanya berdiri beberapa menit di pinggiran sungai sambil melihat lalu lalang orang di sekitaran Tower Bridge. Seorang penjual kacang almond tampak ramai dikerubungi turis dan saya ikut bergabung untuk membeli kacang almond dalam berbagai rasa itu. Begitu saya memegang kacang almond, merpati yang beterbangan di situ mendekat. Sayapun menikmati kacang almond bersama beberapa merpati sambil menunggu matahari tidak terlalu panas untuk meninggalkan tempat itu.

4.SUNGAI VLTAVA, PRAHA, REPUBLIK CEKO

Saya tiba di Praha pagi hari setelah nyasar-nyasar mencari apartemen tempat saya menginap yang ternyata jauh dari pusat kota dan ada di ujung blok. Pemilik apartemen itu, Miroslav, seorang cowok gondrong berwajah baik dan penuh senyum datang satu jam setelah saya menunggu dengan kaki kesemutan di depan gedung. Tetapi begitu memasuki apartemen semua rasa lelah itu terobati dengan kegugupan naik lift tua yang cara operasinya masih manual dan ruangan apartemen yang terasa wow sekali. Bagaimana tidak?  Apartemen itu cukup besar dan bagus. Bahkan Miro melengkapinya dengan beberapa bahan makanan gratis di kulkas, peta kota Praha dan konsultasi gratis lokasi-lokasi menarik yang harius saya kunjungi. Saya bebas memasak, mencuci dan melakukan apa saja layaknya di rumah sendiri selama tinggal di Praha. Meskipun lokasinya agak jauh dari tujuan wisata, tetapi berdekatan dengan mall yang disana saya bisa mendapatkan makanan dengan mudah.

Saya lupa menulis kota tua Praha di tulisan saya sebelumnya tentang Old Town padahal Praha adalah kota tua paling eksotis. Memasuki pusat kota Praha saya seperti memasuki  masa lalu. Nyaris semua bangunan tua masih berdiri dengan megahnya menjadi fokus pariwisata. Sebelum duduk di pinggir sungai Vltava, saya memutuskan untuk menjelajahi kota tua Praha dan memulainya dari Charles Bridge. Satu dari puluhan jembatan yang sangat terkenal dan menjadi tujuan utama para turis. Karena masih pagi, Charles Bridge belum ramai sehingga tenang untuk menikmatinya.  Charles Bridge merupakan jembatan bersejarah yang sudah berumur 8 abad dibangun pada masa pemerintahan Raja Charles IV. Jembatan ini membentang di atas sungai Vlatva ini menghubungkan dua kota di Praha yaitu Old Town dan Lesser Town. Sebelum menyeberangi jembatan, saya naik ke menara yang ada di gerbang jembatan untuk melihat kota Praha dari ketinggian. Di menara ini juga ada kisah sejarah masa lalu jembatan Charles.

Sekelompok pemuda memainkan musik di dekat pintu masuk jembatan Charles membuat suasana semakin romantis. Lampu-lampu antik dan patung bergaya Eropa klasik di sisi kiri dan kanan jembatan tampak sangat cantik saat diabadikan dengan kamera dengan latar kota tua. Saya merasakan aura eksotis dan mistis yang bersamaan. Kota ini benar-benar menjerat saya. Apalagi saat turun dari jembatan lalu mampir ke Praha Castle dan masuk ke salah satu library kafe di salah satu bangunan tua. Saya benar-benar terkesima dengan kecantikan kota ini. Endingnya, menjelang sore saya turun ke pinggir sungai Vltava.

Pinggiran sungai Vltava tempat saat menikmati suasana tampak masih natural dan tidak dibangun macam-macam. Ada beberapa bangku tua dan pohon-pohon meranggas di sekelilingnya. Burung-burung beterbangan bebas dan bebek-bebek liar berwarna hijau cantik berenang di sungai. Sungai Vltava merupakan sungai terpanjang di Republik Ceko, 430 km, yang mengalir ke tenggara di sepanjang hutan Bohemia dan kemudian ke utara melintasi Bohemia, melalui Cesky Krumlov, Ceske Budejovice dan Praha. Dari tempat saya duduk, saya bisa melihat jembatan Charles yang melintang dengan patung-patung Baroque yang menghiasinya. Sungai Vltava juga menjadi tempat berkumpul penduduk lokal yang melakukan aktivitas seperti berjualan di pasar loak, melakukan olahraga dan masih banyak lagi. Saya ingin menunggu senja di tepi sungai Vltava, tetapi matahari terbenam baru pukul 10 malam, jadi saya memutuskan meninggalkan pinggir sungai Vltava dan kembali ke apartemen. Untuk anda yang menyukai hal-hal klasik seperti saya, Praha jangan dilewatkan.

5.SUNGAI NEVA, SANK PETERSBURG, RUSIA

Saya tiba di Sank Petersburg setelah semalaman naik kereta dari Moscow. Di kota ini banyak tempat yang saya rencanakan untuk dikunjungi salah satunya sungai Neva. Tetapi saya terdampar di tepi sungai Neva karena nyasar mencari makan malam. Setelah mengunjungi salah satu gereja kuno dan salah belok saat di pertigaan, saya malah tiba di lokasi antah berantah. Berharap menemukan mall tetapi malah tiba di pinggir jalan besar bebas hambatan. Setelah mencari penyeberangan yang ternyata jauh sekali, akhirnya saya tiba di tepi sungai Neva. Pada suhu 9 derajat dan malam yang sangat sepi, sungai Neva mengalir tenang. Hanya ada satu orang lokal sedang memancing saat saya tiba. Sungai Neva melintasi Sank Petersburg dan bermuara di Teluk Finlandia. Meskipun panjangnya hanya 74 km, tetapi sungai Neva merupakan salah satu sungai yang memiliki volume air terbesar di Eropa. Sungai Neva menghubungkan Danau Ladoga yang merupakan danau terbesar di Eropa dengan Laut Baltik.

Menikmati malam yang dingin di tepi sungai Neva pada sisi jalan bebas hambatan terasa sangat privat karena hanya berteman seorang pemancing lokal. Di seberang sungai tampak gedung-gedung megah menjulang dengan lampu yang menyala gemerlapan. Saya berpikir mungkin di sana ada mall dengan foodcourt didalamnya sehingga saya bisa makan malam. Tetapi rasanya sayang melewatkan duduk melamun di pinggir Sungai Neva karena saya khawatir besok tidak memiliki waktu lagi. Maka saya memutuskan untuk turun ke pinggir sungai melalui undakan semen yang tertata rapi dan duduk di salah satu bangku semen yang memang disiapkan untuk orang yang bersantai di sana. Beberapa kapal melintas membawa muatan. Sungai Neva memang selama berabad-abad menjadi sarana transportasi yang penting antara Rusia, Swedia, Finlandia dan Baltik hingga pernah terjadi peperangan di tepi sungai ini. Neva juga menjadi cikal bakal lahirnya kota Sank Petersburg.

Seperti di negara Eropa lainnya, banyak kapal wisata yang lalu lalang menyusuri sungai Neva. Semua tempat wisata di Sank Petersburg seperti Benteng  Peter dan Paul, Istana Musim Dingin, Penunggang Kuda Perunggu, Taman Musim Panas, Biara Alexander Nevsky, Katedral Smolny, Istana Marmer dan banyak lagi bisa dijangkau melalui sungai karena lokasinya dekat dengan sungai. Sehingga kapal wisata yang menyusuri sungai bisa berhenti untuk menurunkan turis di tempat wisata yang ingin mereka kunjungi. Tetapi dari semua tempat wisata itu, bagi saya Sungai Neva menjadi daya tarik tersendiri yang menyimpan sejarah masa lalu.  Jam menunjukkan pukul 9 malam saat saya berjalan terus menyusuri sepanjang sisi sungai Neva namun tidak juga menemukan mal. Akhirnya saya memesan taksi online yang kemudian mengantar saya ke Galeria Mal yang ternyata posisinya ada di sebelah apartemen tempat saya menginap. Untung di Galeria Mal saya bertemu mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang kemudian memberi masukan agar tidak nyaasar-nyasar lagi. Tetapi kesulitan membaca peta itu ada baiknya karena ketemu hal-hal tak terduga yang menyenangkan saat perjalanan.

6.SUNGAI VOLKHOV, VELIKY NOVGOROD, RUSIA

Setelah naik bus 4 umum jam dari Sank Petersburg, saya sampai di kota Veliky Novgorod. Kota kecil yang menjadi cikal bakalnya Rusia. Apartemen yang saya sewa berada di dekat Kremlin (Benteng) yang menjadi tujuan wisata sehingga hanya perlu berjalan kaki untuk memasuki Kremlin. Tetapi kota Veliky Novgorod memang kecil dan sebenarnya bisa dikelilingi dengan berjalan kaki untuk mengunjungi kawasan wisatanya. Menikmati sungai pada senja hari sepertinya tidak mungkin dengan suhu bulan November yang sangat dingin, bahkan saat saya tiba di apartemen pukul 5 sore saja sudah tidak berani keluar karena hujan dan dinginnya luar biasa.

Maka saya mengunjungi Sungai Volkhov pada esok harinya. Itupun saat matahari tepat diatas kepala dan saya masih saja menggigil kedinginan. Setelah memasuki Kremlin dan mengunjungi situs-situs bersejarah di dalam Kremlin, saya menyeberangi jembatan yang berada tepat di atas sungai Volkhov. Banyak orang menikmati siang di pinggiran sungai bersama keluarganya dan memberi makan merpati yang beterbangan di sekitar situ. Di ujung jembatan ada kapal yang digunakan sebagai restoran dan bangku-bangku yang bisa digunakan untuk duduk menikmati ponorama sungai.

Sungai Volkhov memiliki panjang 224 km dan menghubungkan Danau Ilmen dan Danau Ladoga. Kota Veliky Novgorod terletak di sepanjang aliran sungai ini. Meskipun hanya kecil tetapi sungai ini memiliki peran yang sangat strategis sebagai transportasi perdagangan pada abad pertengahan.  Sungai Volkhov merupakan satu-satunya sungai yang menembus jauh ke pedalaman Rusia menuju Baltik. Di sekitar sungai ini masih berupa hutan kecil dengan banyak pohon menjulang.  Andai saja suhu dan cuaca bersahabat, sangat menyenangkan duduk-duduk menikmati senja di tepiannya ditemani burung-burung kecil yang jinak bersarang di pohon-pohon rendah. Tetapi meskipun kedinginan, musim gugur sangat cantik karena daun-daun merah beterbangan di sekeliling sungai. Pada senja harinya saat saya pulang dari pasar dan melewati sungai melalui jembatan diatasnya, saya melihat langit kemerahan dan orang-orang duduk di tepi sungai. Tetapi saya tidak sanggup melakukan itu karena udara semakin dingin. Mungkin saya akan kembali ke pinggir sungai Volkhov pada musim panas yang lain, semoga saja saya bisa kembali untuk menikmatinya.

7.SUNGAI CHEONGGYECHEON, SEOUL, KOREA SELATAN

Tempat favorit saya di Seoul, selain Taman Nasional Gunung Seoraksan, rumah-rumah tradisional di Jeonju, yaitu sungai Cheonggyecheon. Selama di Seoul saya mengunjungi sungai ini setiap sore hingga malam hanya untuk duduk menikmati suasana dan memandangi lalu lalang orang sambil mencelupkan kaki ke airnya yang sejuk. Orang-orang mengenal sungai Han sebagai sungai utama di Korea Selatan tetapi sungai Cheonggyecheon ini menjadi tujuan turis yang datang ke Seoul.  Siang sampai malam selalu ramai. Tetapi bagusnya berkunjung senja sampai malam karena tidak panas dan sering ada festival atau atraksi-atraksi gratis di sekitarnya. Saya sempat menonton festival musik gratis di dekat sungai ini waktu berkunjung ke sana.

Sungai Cheonggyecheon memang bukan sungai sebenarnya. Sungai ini adalah sungai buatan yang mengalir di tengah kota, diantara gedung-gedung tinggi. Melalui proses yang panjang akhirnya sungai ini menjadi primadona wisata Seoul. Tak hanya menjadi ruang publik yang menarik untuk berjalan kaki atau duduk menikmati kota, tetapi aliran sungai ini juga menjadi bukti bahwa suasana desa dengan gemericik air dan tumbuh-tumbuhan bisa dihadirkan di tengah gemerlap metropolitan.  Di sekeliling sungai ini juga banyak restoran dan kafe sehingga kita bisa duduk menikmati makanan sambil memandang aliran sungai. Jika malam hari dan kita turun ke bawah, kita bisa menyeberangi sungai melalui batu-batu yang sudah ditata sedemikian rupa. Di ujung sungai tampak patung dengan air mancur dan cekungan besar yang digunakan para turis dan orang lokal untuk melempar koin. Sepertinya itu koin keberuntungan. Saya menyusuri sepanjang sisi sungai dan menemukan beberapa penjual makanan dan pelukis foto.  Di tempat yang lumayan sepi saya duduk dan mencelupkan kaki ke air yang sejuk. Seketika kaki yang pegal karena menjelajah seharian hilang. Apalagi sambil menikmati es krim. Sungai Cheonggyecheon selalu akan menjadi tempat favorit saya ketika kembali ke Seoul.

8. SUNGAI CHAO PHRAYA, BANGKOK, THAILAND

Mengunjungi Bangkok tanpa menyusuri sungai Chao Phraya itu rasanya pasti ada yang kurang karena sungai Chao Phraya mengalir di hampir seluruh kota Thailand. Sungai dengan panjang 372 km ini mengalir dari Bangkok dan bermuara di Teluk Thailand.  Hari terakhir di Bangkok sambil menunggu penerbangan malam, saya berjalan kaki menyusuri trotoar dan sampailah di tepi sungai Chao Phraya. Jadi tidak ada rencana untuk duduk-duduk manis melamun di tepi sungai seperti di kota lain karena waktu perjalanan saya kali itu sangat sempit.  Tapi karena di depan saya ada dermaga maka saya belok saja dan memesan tiket untuk naik boat keliling sungai. Pemandangan tetap cantik meskipun siang bolong dan panas, saya membayangkan pada waktu senja pasti lebih cantik lagi.

Sungai Chao Phraya merupakan pertemuan 4 sungai kecil yaitu sungai Ping, Wang, Nan dan Yom. Selain berfungsi sebagai sarana transportasi yang sangat penting, sungai ini juga berfungsi untuk irigasi dan pasar terapung. Dari sungai ini kita juga bisa melihat ikon wisata Bangkok seperti Wat Arun, Grand Palace, kawasan belanja Asiatique dan hotel-hotel mewah yang berjajar di tepi sungai. Karena memilih tiket paling murah maka saya hanya sekali jalan dan turun pada dermaga berikutnya. Saya benar-benar tidak puas dengan perjalanan ini dan berharap bisa mengulangnya. Karena menurut saya menyurusi Bangkok melalui sungai Chao Phraya adalah cara terbaik untuk mengenali kota ini. Apalagi saya belum mendapatkan sunsetnya. Saya akan kembali suatu saat nanti jika ada kesempatan.

9. SUNGAI MEKONG, PHNOM PENH, KAMBOJA

Terletak di tepi sungai Mekong Phnom Penh memiliki banyak tempat menarik untuk di ekplore salah satunya sungai Mekong itu sendiri yang tepiannya menjadi tempat publik berjalan kaki, duduk menikmati senja dan pedagang asongan berjualan. Sungai ini tepat berada di tengah kota, dekat dengan taman di depan Royal Palace dan deretan restoran serta hotel di sepanjang sisi yang lainnya. Saya menikmati sungai Mekong Phnom Penh pada senja hari tepat sebelum matahari terbenam.  Sedang asyik melamun membayangkan naik kapal menyusuri sungai terpanjang di Asia ini, seorang penjual cemilan Kamboja sebangsa jangkrik, kalajengking, kecoa dan belalang lewat di dekat saya menawarkan dagangannya. Pada masa kecil ketika saya tinggal di desa, tetangga juga banyak makan belalang dan jangkrik tetapi bukan kecoa dan kalajengking. Saya tidak membeli tetapi jika ingin memotret saya harus membeli dulu. Akhirnya saya beringsut ke sisi yang lain berpapasan dengan para biksu yang sedang lewat dan berhenti di dekat penjual balon yang dikerubungi anak-anak.

Dengan panjang 4200 km, sumber aliran sungai Mekong dari dataran tinggi Tibet Cina yang kemudian melintasi Kamboja bagian utara hingga selatan dan melewati Phnom Penh. Sebenarnya selain duduk melihat sungai yang mengalir tenang itu ada cara lain untuk menikmati sungai Mekong yaitu dengan menyewa kapal dan menyusuri sepanjang sungai. Dengan kapal ini wisatawan juga bisa mampir ke ikon-ikon wisata di Phnom Penh. Tetapi selain mahal, saya lebih suka menikmati sungai ini dengan bergabung bersama orang-orang lokal dan pedagang asongan yang sibuk menawarkan dagangannya. Sementara untuk mengunjungi ikon-ikon wisata itu saya menggunakan tuk-tuk. Hampir jam 7 malam ketika saya meninggalkan pinggir sungai Mekong dan berjalan menuju hostel bersama beberapa biksu yang juga berjalan dengan arah yang sama. Setiap kota selalu menarik untuk di ekplore dengan semua kekayaan khasnya, saya menyukai keramaian orang-orang lokal yang menunggu matahari terbenang di pinggir sungai Mekong Phnom Penh.

 10. SUNGAI KAMOGAWA, KYOTO, JEPANG

 Kyoto menyuguhkan wisata klasik yang diburu para pemuja eksotisme seperti saya. Selain bangunan-bangunan tua peninggalan bersejarah dari zaman Edo di Gion district, kuil Kiyomizudera,  Fushimi Inari Taisha, hutan bambu Arashiyama, kuil Nijo, pasar Nishiki juga ada satu sungai yang menarik untuk disusuri tepiannya yaitu sungai Kamogawa.  Setelah menyusuri Gion dan mencari makanan di Pasar Nishiki, saya berjalan terus menyusuri trotoar yang disampingnya banyak restoran dan toko-toko hingga kemudian saya menemukan sungai Kamogawa. Sungai Kamogawa adalah sungai utama yang membelah Kyoto menjadi dua bagian yaitu barat dan timur. Untuk menikmati sungai ini kita bisa berjalan kaki atau bersepeda menyusuri sepanjang sisinya. Saat senja banyak turis dan orang-orang lokal mengenakan pakaian tradisional Jepang Kimono berjalan menyusuri tepian sungai ini sementara sebagaian yang lain duduk di pinggir sungai menikmati senja. Di sepanjang sungai ini juga nampak berjejer rumah-rumah penduduk dengan nuansa khas Kyoto. Karena lokasinya yang masih banyak pohon dan seperti hutan kecil, saat menyusuri sungai Kamogawa, kadang kita akan berjumpa hewan-hewan yang belum pernah kita jumpai sebelumnya.

Sumber air sungai Kamogawa berasal dari gunung Sajikigatake yang berada di sisi utara Kyoto dan mengalir hingga ke Teluk Osaka. Karena berasal dari pegunungan air sungai ini jernih dan lingkungan sekitarnya juga masih natural. Kita bisa menikmati sungai Kamogawa tanpa halangan gedung-gedung tinggi pencakar langit. Bahkan duduk di dekat sungai ini seperti berada di kawasan pegunungan yang sejuk dan asri. Kata seorang teman, pada malam hari sungai ini juga ramai dikunjungi penduduk lokal dan turis. Mereka duduk di sepanjang sungai untuk menikmati malam sambil memandang lampu-lampu dari jembatan yang memantul gemerlapan ke permukaan air.  Sungai yang masih alami ini sangat menarik untuk disusuri saat anda berkunjung ke Kyoto. (*)

Avatar
Writer, Traveller and Dreamer

Leave a Reply

  • (not be published)