Pontianak, Kota Katulistiwa

January 08, 2013
7 mins

“Not all those who wander are lost” – JRR. Tolkien

 Tengah hari saat matahari tepat di atas kepala saya mendarat di Bandara Supadio, Pontianak. Matahari sangat terik dan udara begitu panas melebihi Jakarta. Tetapi udara yang panas tak mengurangi semangat saya untuk menjelajahi kota ini.  Setiap tempat selalu menawarkan pesona dan pembelajaran yang berbeda bagi  penjelajah, juga kota yang satu ini.  Bukankah setiap tempat di Indonesia selalu punya sisi unik dan menarik? Banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi di Kota Khatulistiwa ini mulai dari wisata alam, sejarah, budaya dan kuliner. Ayo, kita susuri kota ini dan kita temukan sisi menariknya! 

ISTANA KADRIAH

Kota Pontianak  mulanya di bangun di tengah persimpangan Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Landak, yang dikenal dengan nama Kampung Dalam Bugis.  Istana Kadriah merupakan cikal bakal lahirnya Kota Pontianak.  Dibangun  pada tahun 1771 M dan baru selesai tahun 1778 M.  Sultan pertama yang memerintah kesultanan Pontianak adalah Sayyid Syarif Abdurahhman Alkadri. Dalam perkembangannya, istana ini telah mengalami beberapa kali renovasi hingga seperti yang kita lihat sekarang. Sultan ke -6, yaitu Sultan Syarif Muhammad Alkadri tercacat sebagai salah satu Sultan yang merenovasi istana ini secara besar-besaran.



Istana Kadriah terletak di Kampung Beting, Kelurahan Dalam Bugis, tidak jauh dari pusat Kota Pontianak.  Lokasi ini dapat dijangkau menggunakan jalur darat maupun jalur sungai.  Melalui jalur darat kita bisa melewati jembatan  Sungai Kapuas sedangkan jalur sungai bisa menggunakan sampan atau speed boat dari pelabuhan Senghie.
Memasuki halaman istana kita masih bisa merasakan sisa kemegahan Istana Kadriah pada masanya. Halaman yang luas dan ditumbuhi rumput terasa lapang ketika dipandang, dibagian depan tampak meriam kuno buatan Portugis. Menginjakkan kaki di anjungan istana, kita bisa melihat tempat peristirahatan Sultan. Dari tempat ini konon, Sultan beristirahat sambil melihat pemandangan Sungai Kapuas dan Sungai Landak yang indah. Di pintu utama terdapat hiasan ornamen bulan dan bintang. Warna kuning mendominasi ruang ketika memasuki balairung. Di balairung ini pengunjung bisa melihat foto-foto Sultan dan keluarganya, lampu kesultanan pada masanya, lampu hias, kipas angin, kaca seribu wajah juga singgahsana Sultan dan Permaisuri. Kami diijinkan foto di depan singgahsana tetapi tidak boleh duduk diatasnya.

Selain balairung di sisi kiri dan kanan terdapat 6 kamar tidur, salah satunya adalah kamar tidur Sultan lengkap dengan tempat tidur Sultan yang juga bernuansa kuning, sementara kamar yang lainnya dulu merupakan kamar mandi dan ruang makan. Di bagian belakang terdapat satu ruangan besar yang berisi benda-benda warisan Kesultanan Pontianak seperti pakaian Sultan dan Permaisurinya, foto-foto, senjata dan arca.  Pengunjung tidak dipungut biaya saat mengunjungi istana ini, namuan seorang ibu yang mengaku sebagai  cucu  kesekian sultan mengingatkan pada pengunjung untuk menaruh uang sumbangan di kotak.   Istana Kadriah merupakan salah satu peninggalan yang sangat bernilai, semoga terus dilakukan perawatan dengan baik sehingga peninggalan bersejarah ini tidak rusak dimakan waktu.

MASJID  JAMI’ PONTIANAK


Selain Istana Kadriah, masjid Jami’ Pontianak yang juga dikenal dengan nama Masjid Sultan Syarif Abdurrahman ini merupakan bangunan bersejarah sebagai tonggak berdirinya kota Pontianak. Lokasi masjid ini satu kawasan dengan Istana Kadriah, tidak jauh dari pusat kota Pontianak dan bisa ditempuh melalui jalur darat maupun sungai.

Masjid Sulatn Syarif Abdurrahman adalah masjid tertua dan terbesar di kota Pontianak. Masjid dengan undakan berasitektur Jawa dengan mahkota berasitektur Eropa ini mayoritas kontruksi bangunan terbuat dari kayu belian. Pagar, lantai, dinding, menara dan bedug besar semuanya terbuat dari kayu belian. Tonggak utama masjid yang terdiri dari 6 buah juga terbuat dari kayu belian dan diperkirakan sudah berusia 170 tahun. Masjid ini berbentuk panggung dan memiliki kolong di bawah lantainya, berada tepat di atas sungai Kapuas.  Seperti pada Istana Kadriah, pengunjung tidak dipungut biaya saat mengujungi tempat bersejarah itu.

TUGU KHATULISTIWA
Keistimewaan Pontianak adalah salat satu kota di dunia yang tepat dilintasi garis khatulistiwa. Karena itu ibu kota Kalimantan Barat ini mendapat julukan Kota Khatulistiwa. Sebagai keistimewaan sekaligus mengukuhkan julukan itu, dibangunlah sebuah tugu yang letaknya persis di pinggir Sungai Kapuas.

Tugu Khatulistiwa atau Equator Monument berada di Jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara, Propinsi Kalimantan Barat. Lokasinya berada sekitar 3 km dari pusat Kota Pontianak, ke arah kota Mempawah. Tugu ini menjadi salah satu ikon wisata Kota Pontianak dan selalu dikunjungi masyarakat, khususnya wisatawan yang datang ke Kota Pontianak.
Pada bulan Maret dan September, Tugu Khatulistiwa  sangat istimewa karena pada tengah hari ketika matahari mencapai titik kulminasi dan tidak menciptakan bayangan. Selain melihat bayangan yang hilang pada bulan itu juga ada  festival dan atraksi budaya untuk wisatawan.

MAKANAN & OLEH-OLEH KHAS PONTIANAK
Mengunjungi Pontianak belum lengkap kalau belum berwisata kuliner. Saya mencicipi makanan khas Pontianak salah satunya adalah bubur pedas, kuliner yang diklaim sebagai makanan khas dari Sambas.  Saya mengira bahwa bubur ini akan terasa sangat pedas sesuai namanya, tapi ternyata saya salah. Bubur ini bercita rasa gurih dan segar dengan berbagai aroma sayuran.  Bubur pedas terbuat dari beras yang disangrai bersama kelapa parut, setelah ditumbuk dan berasnya pecah baru dimasak dalam air mendidih dan ditambahkan tetelan daging. Setelah itu dibubuhi aneka sayuran. Sayur yang paling umum digunakan adalah, kangkung, kacang panjang, pakis, umbi merah dan daun kesum. Daun kesum inilah yang membuat bubur beraroma beda dan bercita rasa unik. Pelengkap nikmat makan bubur pedas adalah ikan teri goreng, kacang tanah goreng, sambal, jeruk sambal dan kecap manis.  

Selain makanan khas Pontianak yang saya coba, kita juga bisa membeli oleh-oleh khas Pontianak di jalan Pattimura seperti air minum lidah buaya, jeruk Pontianak, keripik keladi, lempok durian, dodol buah dan manisan.  Tak hanya makanan, Pontianak juga memiliki souvenir-souvenir unik seperti kaos bertuliskan Khatulistiwa atau Pontianak, gantungan kunci Bornoe, hiasan dinding dari ukiran Dayak serta kain-kain khas Pontianak.  Kota Khatulistiwa ini menawarkan berbagai hal yang menarik untuk dikunjungi. Tertarik untuk berkunjung?  Jangan ditunda lagi!
Avatar
Writer, Traveller and Dreamer

Leave a Reply

  • (not be published)