METRO MOSKOW, MAHAKARYA SENI DAN ARSITEKTUR DI BAWAH TANAH

Seorang teman pecinta bangunan-bangunan lawas bersejarah terus menerus mengirim pesan agar saya memotret semua bangunan lawas bersejarah yang saya lewati selama saya melakukan perjalanan di Rusia.  Bagi pecinta bangunan-bangunan lawas bersejarah dan benda-benda seni yang masih terjaga kelestariannya, Rusia memang surganya. Rusia memiliki bangunan-bangunan dari berbagai zaman yang menjadi saksi perubahan zaman dan bertahan dari kebakaran, invasi Tartar-Mongol hingga revolusi.

Salah satu tempat yang saya susuri adalah stasiun metro di Moskow, Rusia. Tidak hanya sebagai alat transportasi yang mudah dijangkau, namun hampir semua stasiun metro di Moskow adalah mahakarya seni dan arsitektur yang sangat indah. Saat menyusuri stasiun-stasiun ini, saya merasa berada dalam galeri seni yang besar dan menikmati karya-karya seniman pada masa lampau yang terukir di dinding stasiun.  Dibuka pada tahun 1935, sarana transportasi bawah tanah ini memiliki 13 jalur dan 236 stasiun.  Saya tidak bisa mengunjungi semua stasiun itu karena waktu perjalanan yang singkat tetapi setidaknya saya mengunjungi beberapa stasiun terindah.

Saat mendorong pintu stasiun, saya sudah merasakan aroma masa lalu. Pintu yang saya dorong terbuat dari kayu, kokoh dan klasik.  Bersamaan dengan ramainya warga Moskow yang pulang kerja sore hari, saya mencari mesin untuk membeli kartu  Troika. Beberapa mesin menyediakan pilihan Bahasa Inggris dan sangat mudah digunakan. Tetapi jika anda ragu, bisa membeli di loket yang juga disediakan petugas khusus yang bisa berbahasa Inggris (English Speaking) jika anda tidak bisa berbahasa Rusia.  Setelah beres urusan tiket, saya masuk ke dalam stasiun dan turun menggunakan eskalator untuk menuju jalur yang saya tuju. Kebanyakan stasiun metro di Moskow berada di dalam tanah dengan kedalaman maksimal 74 meter di Stasiun Park Pobedy. Tetapi pada setiap stasiun, saya merasa gemetar karena eskalatornya curam dan dalam. Begitu sampai di bawah, saya tercengang melihat stasiun di depan mata saya.

 

Stasiun cantik pertama yang saya lewati bernama Taganskaya. Dibuka pada tahun 1950, dengan arsitektur abad pertengahan stasiun bernuansa biru ini didesain oleh arsitek K.Ryzhkov dan A.Medvedev.  Stasiun ini dinamai Taganskaya karena posisinya terletak di bawah Taganskaya Square. Desainnya bergaya flamboyan pasca perang dengan motif tradisional Rusia. Tampak lengkungan-lengkungan menyerupai kubah pada bagian atap, dinding dan pintu keluar menuju masing-masing jalur. Pilar-pilarnya dihiasi panel majolika berwarna biru sedangkan lantainya terbuat dari granit berwarna hitam dan abu-abu. Pencahayaan stasiun ini berasal dari 12 lampu gantung antik yang berhias panel majolika berwarna biru senada.  Pada dinding stasiun ini terdapat profil-profil seperti pelaut, operator tangki dan pilot juga pahlawan tentara Soviet. Nuansa stasiun ini terasa lembut karena perpaduan warna biru, krem dan pencahayaan dari lampu gantung yang dramatis.

 

Saya kemudian melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi stasiun cantik yang lainnya. Stasiun kedua yang saya lewati adalah Kiyevskaya.  Stasiun yang dibuka tahun 1954 ini didesain oleh E.I.Katolin, V.K. Skugarev dan G.E. Golubev. Menurut informasi, stasiun ini dibangun dibawah pengawasan langsung pemimpin Soviet Nikita Khruschev sebagai penghormatan pada tanah kelahirannya Ukraina.  Pembukaan stasiun ini juga bertepatan dengan peringatan tahun penyatuan kembali Ukraina dan Rusia sehingga desain yang ditampilkan bertemakan persahabatan kedua bangsa. Berjalan di stasiun ini, saya seperti berada di galeri Renaissance yang megah dan indah.  Bernuansa emas dengan lobby yang dihiasi marmer dan granit serta pada dindingnya terdapat 18 panel mosaik dalam tradisi Florentine karya A.V. Myzin. Panel relief di dinding itu menunjukkan sejarah hubungan antara Rusia dan Ukraina dari masa Pereyaslav tahun 1954 hingga revolusi pada 1917. Di bawah relief-relief itu terdapat tempat duduk kecil yang bisa digunakan untuk menunggu atau menikmati stasiun ini. Banyak turis rombongan atau sendiri mengunjungi stasiun ini. Saya memutuskan untuk menikmati suasana keramaian pulang kerja di stasiun megah ini sambil duduk di bawah salah satu relief sebelum melanjutkan ke stasiun lainnya.

 

Stasiun berikutnya yang tak kalah cantik adalah Novoslobodskaya. Saat memasuki stasiun ini saya seperti memasuki gereja.  Menurut informasi, pada awal pembukaannya memang para arsitek sempat takut stasiun ini akan menyerupai gereja tetapi saat ini mereka justru melihat stasiun ini seperti akuarium bawah laut yang sangat  cantik. Saya berjalan berkeliling di antara lalu lalang orang dan  tampak 32 panel kaca berwarna-warni yang sangat cantik di dinding stasiun. 32 panel kaca ini merupakan karya 3 seniman yaitu M.Ryskin, E.Krests dan Latvia E.Veylandan. Di dalam setiap panel kaca ini terdapat keping kaca warna-warni yang disatukan dalam frame  kuning keemasan.  Enam dari panel kaca berwarna itu menggambarkan orang-orang dari berbagai peofesi mulai dari arsitek, musisi, ahli agronomi sementara 26 sisanya merupakan gambar bintang yang rumit dan pola-pola geometris. Di ujung koridor stasiun, saya melihat ada satu karya yang sedikit berbeda dan mengusung nilai perdamaian. Mosaik ini ternyata karya Pavel Korin yang diberi judul “Peace Throughout the World.”  Dengan penerangan lampu gantung yang pas stasiun ini tampak bersinar seperti istana bawah laut yang sangat cantik.

 

Mayakovskaya adalah stasiun berikutnya yang membuat saya kagum. Terletak 33 meter di bawah permukaan tanah, stasiun ini memiliki dinding-dinding tinggi dan ramping yang terbuat dari baja pesawat terbang. Berjalan di stasiun ini saya seolah mengelilingi sebuah aula besar yang tampak futuristik. Dibuka pada tahun 1938, stasiun ini dirancang oleh arsitek Alexey Dushkin sedangkan nama Mayakovskaya diambil dari nama penyair terkenal Soviet pada tahun 1893-1930 yang bernama Vladimir Mayakovskiy. Tema stasiun ini adalah “24 Jam di Tanah Soviet.” Penggambaran tema itu tampak di 34 mosaik yang terdapat di langit-langit stasiun. Stasiun Mayakovskaya selama perang dunia II digunakan sebagai pos komando sekaligus tempat perlindungan dari serangan bom Jerman.  Bahkan Joseph Stalin tinggal di tempat ini selama perang dunia II dan berpidato di depan para pemimpin partai dan orang-orang Moskow di tengah aula stasiun ini. Tak hanya desainnya yang mengagumkan dan cantik, tetapi stasiun ini juga memiliki nilai historis pada perang dunia II.

 

Saya kemudian melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi stasiun yang lainnya. Stasiun berikutnya adalah Komsomolskaya.  Terletak 37 meter di bawah tanah, stasiun metro dari rangkaian nomor 5 ini berada di jalur Koltsevaya di antara stasiun Prospekt Mira dan Kurskaya.  Dibuka pada tahun 1952, tepat di bawah Komsomolskaya square, stasiun ini merupakan salah satu stasiun paling sibuk di Moskow. Stasiun Komsomolskaya tampak mewah dengan desain kekaisaran Rusia dan Moskow Baroque.  Dengan lampu gantung perunggu yang elegan, mozaik yang terbuat dari smalt, arcade marmer dan lantai yang dirancang oleh Alexey Shchusev, stasiun ini merupakan puncak gaya kekaisaran Stalinis. Pavel Korin merupakan seniman yang paling berpengaruh dalam menciptakan  delapan mozaik indah di langit-langit stasiun ini dimana inspirasinya datang dari pidato Joseph Stalin di Parade Moskow tahun 1941, sementara gagasan untuk mendesain mozaik ini berasal dari Katedral Saint Shopia di Kiev. Dari lantai atas stasiun yang megah ini saya menikmati lalu lalang warga Moskow yang mengejar kereta yang datang setiap 90 detik itu.

 

Dan stasiun terakhir yang sempat saya kunjungi adalah Ploshchad Revolyutsii.  Terletak di bawah Revolution Square, stasiun dengan penerangan redup ini tampak luar biasa megah.  Ada 76 patung perunggu dengan gaya realisme sosialis di dinding-dindingnya yang menggambarkan masyarakat Uni Soviet dengan beragam profesinya mulai dari pekerja pabrik, insinyur, pelajar, tentara, petani, pelaut, atlet, penulis, penerbang dan lain sebagainya.  Karena tempatnya yang tidak terlalu luas, patung-patung ini hampir semuanya berposisi duduk. Konon orang yang melewati stasiun dan menyentuh patung-patung ini akan mendapat keberuntungan. Stasiun yang arsitekturnya dirancang oleh Alexey Dushkin ini mengarah ke jantung kota Moskow dan berada di jalur biru. Dibuka pada tahun 1938 patung-patung yang berada dalam stasiun ini sebenarnya menggambarkan transformasi Rusia dari masa pra-revolusioner, revolusi kemudian era kotemporer.  Sayang saya melewati stasiun ini menjelang tengah malam sehingga sedikit gelap untuk mengambil foto dan suasananya jadi agak menakutkan. Tapi itu toh tidak mengurangan kemegahan stasiun Ploshchad Revolyutsii.  Mengunjungi stasiun-stasiun metro di Moskow tak hanya menikmati keindahan mahakarya seni dan arsitektur, tetapi juga menengok kembali jejak-jejak sejarah Rusia dalam karya para seniman Rusia.

 

Pctures by : mine and Google

VELIKY NOVGOROD (2) : JEJAK RURIK DI PINGGIR SUNGAI VOLKHOV

“We have fond memories of the old location”

Saya terbangun linglung melihat teman perjalanan saya berdiri di hadapan saya dengan ketakutan. “Ada apa Ri? Ada apa?” Saya terengah-engah dan mengambil minuman di meja lalu menghela napas dalam. Saya menoleh ke arah gudang kecil di samping saya dan tidak ada siapapun di sana. Gadis kecil berkuncir telah lenyap dari pandangan. Saya kembali membaringkan tubuh sambil meminta teman saya kembali ke kamarnya, “besok aja aku ceritain, sekarang tidur lagi aja.”

Saya terbangun jam 5 pagi untuk sholat subuh kemudian tidur lagi sampai jam 8 pagi. Di luar udara sangat dingin dan gerimis turun membuat malas beranjak dari selimut. Gadis berkuncir mungkin juga bergelung dalam selimutnya sehingga enggan menemui saya lagi. Baru sekitar jam 11 siang saat hujan mulai reda, saya bersiap untuk menjelajahi kota tua kecil kelahiran Rusia ini. Dengan berbekal payung, peta dan jaket tebal saya keluar apartemen. Begitu keluar pintu apartemen, saya bertemu nenek-nenek yang sibuk bercengkerama dengan kucingnya. Kebanyakan nenek-nenek ini hanya tinggal sendirian di apartemen bersama kucingnya di berbagai lantai tanpa lift.  Saya menaiki lantai 4 melalui tangga dengan langkah terseok sementara nenek-nenek ini dengan santai naik turun tangga diikuti para kucingnya. Di Rusia jumlah wanita lebih banyak daripada pria, mungkin karena itu juga saya lebih banyak menemukan wanita lansia daripada pria lansia.  Saya berjalan menyusuri jalan di samping apartemen dan menemukan banyak tempat makan, supermarket, cafe, penjual buah-buahan, bunga, sayuran bahkan makanan halal. Hanya perlu melewati satu blok, saya sudah sampai di jalan besar yang diseberangnya terdapat Kremlin (sebuah bangunan yang berbentuk benteng dan memiliki gerbang). Kremlin di Veliky Novgorod bisa jadi merupakan Kremlin tertua di Rusia.

Setelah melewati jalan setapak hutan kecil yang rimbun, tampak menara Kremlin menyembul dari kejauhan. Saya jadi teringat benteng kota Xi’an Tiongkok yang cantik. Kremlin di Veliky Novgorod juga secantik benteng di kota Xi’an Tiongkok.  Angin berhembus kencang bersamaan dengan udara dingin yang menusuk tulang. Saya merapatkan jaket dan memandangi Kremlin dari tempat saya berdiri. Saya membayangkan bangsa Viking yang datang ke Veliky Novgorod pada masa lalu melalui jalur laut untuk berdagang dan membajak di lautan. Pada abad ke IX, sungai-sungai Novgorod merupakan bagian dari rute perdagangan bangsa Viking ke Yunani. Dari perdagangan inilah kemudian bangsa Viking yang terkenal terampil dalam berperang menjadi prajurit di bawah penguasa Slavia, kemudian menetap di Novgorod dan menjadi penduduk Rus.  Salah satu bangsa Viking yang bernama Rurik menurut sejarah datang di kota ini karena diminta untuk melindungi kota dari serangan perampok namun kemudian Rurik berkuasa di kota ini.  Saya akan menyusuri jejak-jejak Rurik yang masih tertinggal di kota ini.

Angin dingin dan kencang menghamburkan jilbabku bersamaan dengan daun-daun merah musim gugur yang berjatuhan dari pepohonan. Saya terus melangkah menyusuri sepanjang sisi Kremlin yang panjang untuk mencapai gerbang utama.  Di depan gerbang Kremlin tampak seorang wanita tua sedang memainkan akordion. Mengenakan baju tebal berwarna merah, kerudung kuning dan sepatu boots hitam, wanita tua itu tersenyum padaku. Duduk di strollernya yang berwarna biru, wanita tua itu tampak menikmati permainan musiknya sendiri. Saya suka melihat caranya tersenyum yang ramah dan bersahabat tidak seperti orang Rusia kebanyakan yang kaku. Setelah menaruh uang di kotak yang ada di depannya, saya segera memasuki gerbang Kremlin.

Veliky Novgorod terletak di pinggir Sungai Volkhov. Sungai ini membagi kota menjadi dua bagian yaitu Sofiyskaya dan Torgovaya. Terkenal dengan warisan budayanya, Veliky Novgorod merupakan satu-satunya tanah Rusia kuno yang tidak hancur selama abad ke 9 hingga ke 13. Banyak sekali peninggalan bersejarah yang masih terjaga dengan baik di kota ini, bahkan ada 37 benda yang masuk dalam daftar Warisan Dunia Unesco.  Saya melewati gerbang Kremlin tanpa dipungut biaya wisata apapun, kemudian memasuki areal dalam Kremlin dan mata saya disergap pemandangan taman dengan eksotisme musim gugur.  Terdapat Monumen Millennium of Rusia di sisi kanan dari arah masuk gerbang Kremlin, lalu Katedral St. Sophia, St. Sophia Bell Tower, The History Museum dan Kokuy Tower. Saya kemudian keluar gerbang Kremlin dan menyeberangi jembatan bersama orang-orang lokal yang lalu lalang. Dari jembatan penyeberangan (pendestrian bridge) ini, saya bisa memandang Kremlin yang megah dan eksotis dengan Kokuy Tower yang menjulang.

 

Setelah sampai di seberang, saya bertemu dengan patung gadis yang sedang duduk santai di pinggir sungai seolah sedang melepas penat setelah berjalan mengelilingi kota Veliky yang cantik. Sepatunya dilepas di sebelahnya, bibirnya tersenyum simpul, matanya menatap langit yang biru cerah. Patung ini lebih dikenal dengan The Girl Tourist yang menjadi spot menarik untuk berfoto para turis karena di belakang sang gadis tampak pemandangan sungai Volkhov yang mengalir tenang dan bersih serta kapal cantik yang sedang bersandar. Gadis ini tampak modern dan pastilah tidak pernah bertemu Pangeran Rurik.

 

Saya kemudian melanjutkan perjalanan ke Court Of Yaroslav.  Taman dengan gereja-gereja kecil seperti Cathedral of St. Nicholas dan Gereja St. George.  Saya duduk beberapa saat di taman karena banyak burung-burung kecil yang berumah di tanaman sekitar taman. Burung-burung ini tidak terbang menjauh dan jinak dengan manusia seolah saat saya duduk di salah satu bangku taman mereka mengajak ngobrol.  Tak hanya burung-burung kecil, tampak beberapa lansia juga duduk di taman sambil bercengkeram dan memberi makanan pada burung-burung ini.

Setelah menikmati suasana lengang bersama burung-burung dan lansia, saya melanjutkan perjalanan ke arah jalan raya kemudian menyeberang untuk melihat toko souvenir di sana. Kota ini sangat sepi dan nyaris seperti tanpa aktivitas. Tetapi saat kita memasuki toko atau restoran, terasa kehangatan para penguhuninya. Seorang pemuda dengan bahasa Inggris terbata meminta maaf saat saya menunggu antrian di belakangnya untuk menukar uang di salah satu money changer. Dia bilang keluarganya yang sedang antri sedang menjual rumah dan memerlukan uang untuk menukar tapi perlu konsultasi agak lama. Saya sebenarnya tidak masalah, tetapi dia yang tidak enak sendiri karena saya lama menunggu. Bahkan saat saya hendak membeli salah satu souvenir dengan bahasa Rusia, dia menerjemahkan bahasa dalam souvenir itu. Kota ini memang lengang dan terlihat dingin, tetapi manusianya hangat dan ramah.

 

 

Penjelajahan hari itu saya akhiri dengan mengunjungi perbukitan yang merupakan jejak-jejak kediaman Pangeran pertama Rusia, Rurik. Terletak di perbukitan, bangunan tua itu menjadi saksi bisu bahwa pada abad 9 hingga 10 dinasti Rurik menjadi cikal bakalnya Rusia. Di sisa-sisa kediaman asli Rurik yang masih dilestarikan inilah saya dapat merasakan negeri terluas di dunia ini bermula. Negeri besar yang melewati banyak perubahan zaman mulai dari invasi Mongol Tartar hingga revolusi. Namun dari semua perubahan zaman itu, Veliky Novgorod satu-satunya kota yang terselamatkan dari kehancuran.  Sebelum malam, saya meninggalkan sisa-sisa kediaman Rurik sambil berharap bisa kembali ke kota ini dan melihat lebih dalam lagi tentang kehidupan penghuninya. Semoga.

VELIKY NOVGOROD (1) : THE BIRTHPLACE OF RUSSIA & HANTU GADIS KECIL

“Old things always seems better”

Hampir pukul 4 sore saat bus yang saya tumpangi dari Saint Petersburg tiba di terminal bus Veliky Novgorod. Sopir yang wajahnya khas Rusia menunggu saya menurunkan koper dari bagasi bus tanpa tersenyum sedikitpun.

“Spasiba!” kataku sambil mengangguk sopan pada sopir lalu mendorong koper ke pinggir. Selama di Rusia, kata yang paling saya kuasai hanyalah “spasiba” alias terima kasih karena bahasa Rusia kedengeran begitu ruwet di telingaku meski jadi menantang untuk dikuasai lebih banyak. Bus itu melanjutkan perjalanan lagi sementara saya celingukan mencari jalan keluar terminal. Lalu saya menyeret koper saya ke arah pintu terminal. Tidak banyak orang di terminal, hanya ada beberapa pemuda memanggul tas mirip tas belanja tanah abang kalau di Jakarta dan beberapa keluarga yang baru datang dari perjalanan. Saya terus menyeret koper saya menuju depan terminal lalu berhenti di samping kios kecil yang menjual kopi dan makanan. Saya melihat berkeliling untuk mengenal wajah kota yang baru saja masuki.

Veliky Novgorod awalnya bukan tujuan perjalanan saya. Tetapi karena saya tidak mendapatkan kereta ke Kazan maka saya memutuskan untuk singgah di kota ini beberapa hari. Sepertinya akan menarik karena menurut sejarahnya kota ini adalah kota tertua di Rusia yang menjadi cikal bakalnya Rusia. Di kota ini ada sisa-sisa kediaman asli Rurik, pangeran pertama Rusia. Saya selalu tertarik dengan hal-hal yang terhubung dengan masa lalu karena banyak yang bisa dipelajari dari kisah-kisah masa lalu. Tidak hanya pembelajaran itu yang saya kejar namun juga penampakannya yang eksotis. Benar saja, kota ini memang tua, tenang dan eksotis.

Bus-bus tua berseliweran di jalanan yang bertabur daun-daun kekuningan musim gugur, para Babushka (nenek) berjalan di trotoar bersama binatang piaraannya dan ibu-ibu muda berjalan cepat sepulang aktivitas mengenakan jaket merah, kuning atau hijau. Orang-orang di kota ini memakai pakaian yang lebih berwarna ketimbang warna pakaian orang-orang di Moscow atau Saint Petersburg. Tetapi memang saya lihat lebih banyak lansia yang tinggal di kota ini ketimbang anak muda. Mungkin anak mudanya bekerja di kota lain seperti Moscow atau Veliky Novgorod.

Sebenarnya saya ingin naik bus menuju apartemen yang telah saya sewa, tetapi dengan bawaan koper yang berat saya memutuskan menggunakan taksi online Yandex. Tidak sampai lima menit taksi Yandex sudah menjemput saya di depan terminal lalu mengantarkan saya menuju apartemen. Hanya membutukan waktu sekitar 10 menit untuk sampai apartemen. Saya tiba agak terlambat sehingga pemilik apartemen sudah menunggu lama di depan gedung apartemen. Pemiliknya seorang wanita muda yang tidak bisa bahasa Inggris, mengenakan jaket hijau army dan wajah polos tanpa make up. Setelah komunikasi menggunakan bahasa isyarat yang bisa saling dipahami, wanita itu hendak meninggalkan apartemen. Saya menanyakan dimana meletakkan kunci saat saya check out nanti dan dia menyuruh saya meninggalkan kunci di meja televisi. Sepertinya keamanan di Rusia terjaga sehingga beberapa apartemen yang saya inapi selalu cuek meminta meninggalkan saja kuncinya check out jika dia belum datang.

Apartemen itu ada di lantai 4 dengan gedung yang sudah tua. Tanpa lift saya harus mengangkat koper saya menaiki tangga hingga tiba di depan pintunya. Tetangga apartemen seorang Babushka (nenek) yang hidup sendirian bersama kucingnya. Dan begitu pintu apartemen terbuka, saya merasakan aura yang kurang enak, sepertinya tempat ini ada yang ‘menunggu’ di dalam. Tapi saya tidak memedulikan dan masuk ke dalam, meletakkan koper lalu memilih tempat tidur di dalam yang dekat dengan gudang kecil yang gelap tanpa penerangan. Mengabaikan semua yang saya rasakan, saya membuka pintu balkon, melihat kejauhan kota tua yang mulai menguning karena senja turun dan menikmati daun-daun jatuh menimpa balkon apartemen.

Suhu menunjukkan angka 10 derajat dan di luar hujan mulai turun. Saya mengurungkan niat untuk berjalan-jalan sekitar apartemen karena suhu 10 derajat bagi orang tropis sangat dingin dan memutuskan duduk di depan jendela dapur sambil memandangi hujan dan menyesap kopi perlahan-lahan. Entah kenapa, saya merasa terhubung dengan kota ini, rasanya seperti pulang ke rumah. Kota yang tenang, eksotis dan nyaman untuk ditinggali. Berbeda dengan Moscow dan Saint Petersburg yang ramai dan sibuk. Veliky Novgorod tampak sederhana, apa adanya dan cantik. Saya merasa di sini bisa menjadi diri saya sendiri, tanpa perlu mengenakan topeng.  Saya jatuh cinta pada kota tua ini, sejak pertama melihatnya.

Sambil membaca-baca booklet tentang Veliky Novgorod dan tempat-tempat menarik yang bisa saya kunjungi esok harinya, saya membayangkan bertemu Pangeran Pertama Rusia dari dinasti Rurik di tempat ini. Mungkin sangat menarik jika saja ada mesin waktu yang bisa membawa saya menemui mereka, ngobrol tentang kehidupan mereka di tempat menarik ini dan cita-cita mereka di masa depan. Lalu saya tertawa sendiri dengan lamunan saya dan memutuskan untuk membuat mie instant yang saya bawa dari Indonesia untuk makan malam. Selesai makan malam kantuk tak tertahankan dan saya langsung tidur meringkuk di pembaringan samping gudang kecil yang gelap tanpa penerangan. Dan time travel itu terjadi dalam mimpi saya.

Seorang gadis kecil dengan rambut merah berponi dan dikuncir sepinggang berjalan pelan keluar dari gudang kecil gelap di samping tempat tidur saya. Gadis kecil itu mengenakan rok pendek kotak-kotak warna merah dan atasan putih tulang lengan panjang, mengenakan sabuk tampak rapi dan manis. Sepatunya hitam dengan kaos kaki tinggi. Gadis itu tersenyum pada saya dan mengulurkan tangannya untuk menyalami saya. Tidak ada kata-kata, tetapi wajahnya ramah dan penuh senyum seolah mengucapkan selamat datang. Saya menyambutnya tak kalah ramah dan merasa terhubung dengannya. Tetapi saat saya mau melepaskan tangan saya, gadis kecil itu memegang tangan saya begitu erat dan menarik saya hingga jatuh tertelungkup di gudang. Beberapa saat saya mengigau, akhirnya saya bisa terbangun. Dengan mata masih buram, saya melihat bayangan gadis itu berdiri di depan gudang kecil gelap itu.

(to be continued…)