Tag Archives: japan

10 SUNGAI INI MENYUGUHKAN PANORAMA YANG MENARIK

Perjalanan bagi saya adalah waktu yang tepat untuk kontemplasi. Karena itu juga, saya tidak suka bersama banyak orang. Salah satu tempat yang selalu saya kunjungi selain kota tua adalah sungai.  Sungai menjadi saksi bisu bergulirnya sejarah di negara tersebut dan menjadi tempat yang asyik untuk duduk melamun saat senja. Berikut sungai yang pernah saya kunjungi di beberapa negara.

1. SUNGAI DANUBE BUDAPEST, HUNGARIA

Mengunjungi sungai Danube pada senja hari merupakan ide yang tepat. Saya sampai di Budapest pada malam sebelumnya naik bus dari Vienna Austria. Begitu sampai, saya  kebingungan saat hendak masuk ke gedung tua tempat saya menginap.  Hostel itu berada di lantai 4 gedung tua dengan pintu gerbang yang besar dan berat sampai saya tidak kuat mendorongnya. Seorang cowok lewat dan kasihan melihat saya kesulitan mendorong pintu. Dia membantu saya mendorong pintu dan menyelesaikan drama itu. Tetapi memang banyak drama saat di Budapest. Saya kesulitan mencari kartu transportasi sehingga memutuskan mengikuti google map untuk berjalan kaki sampai sungai. Untung dari hostel ke sungai tidak terlalu jauh. Justru saya menemukan banyak hal menarik sepanjang perjalanan dari hostel ke sungai seperti yang bisa saya kunjungi esok harinya.

Saya tiba di pinggir sungai tepat saat lampu-lampu kota yang berwarna kekuningan mulai menyala tetapi langit masih terang. Lampu yang diatur sedemikian artistik itu membuat bangunan-bangunan tua di sekitar sungai berubah keemasan. Salah satunya adalah gedung Parlemen Budapest yang menjadi tujuan wisata para turis. Beberapa operator cruise yang mengangkut turis tampak bolak balik menyusuri sungai. Mereka menikmati pemandangan senja dan bangunan-bangunan bersejarah di kota Buda dan Pest dari kapal. Sebagian penumpang melambaikan tangan ke arah turis yang duduk menikmati senja di tepi sungai.  Sungai Danube pada senja hari sangat cantik dan romantis.

Sungai Danube merupakan sungai panjang yang bersumber dari Jerman hingga Laut Hitam di Rumania.  Ada 10 negara yang dilewati sungai ini mulai dari Austria, Bulgaria, Kroasia, Jerman, Hungaria, Moldavia, Slowakia, Rumania, Ukraina dan Serbia. Sungai Danube membagi Budapest menjadi dua bagian yaitu kota Buda dan kota Pest.  Kota Pest terletak di dataran sebelah timur, merupakan pusat kota yang memiliki banyak pusat perbelanjaan dan kafe-kafe sementara kota Buda terletak di sebelah barat dengan kontur berbukit-bukit. Keduanya dihubungkan oleh 9 jembatan, salah satunya jembatan Chain yang terkenal dan menjadi tujuan wisata para turis. Dari tempat saya duduk, saya bisa melihat bangunan-bangunan tua cantik di kota Buda yang ada di seberang sungai.

Setelah duduk menikmati suasana Budapest dari pinggir sungai Danube sekitar tiga jam, saya berjalan kaki menyusuri trotoar pinggir sungai ke arah jembatan Chain. Sebelum sampai di jembatan Chain, saya melewati Szechenyi Street. Tampak beberapa orang membawa bunga mawar dan meletakkan bunga mereka di atas sepatu besi yang ada di pinggir sungai.  Tempat itu adalah Shoes on The Danube Promenade, memorial untuk memeringati korban Holocaust, “Mengenang korban yang ditembak ke Sungai Danube oleh milisi Arrow Cross pada 1944-1945”. Instalasi yang terdiri dari 60 pasang sepatu dari besi dan di belakangnya terdapat bangku yang terbuat dari batu sepanjang 1.188 meter dengan tinggi 71 cm ini merupakan saksi salah satu momen terkelam di Budapest selama Perang Dunia II tepatnya pada musim dingin 1944-1945.  Ribuan orang Yahudi pada masa itu diikat bersamaan dan ditembak ditepi sungai. Jasad mereka dilemparkan ke Sungai Danube oleh Arrow Cross Party. Sungai Danube menjadi pemakaman Yahudi paling mengeringkan pada masa itu. Karena sepatu saat itu sangat berharga maka sebelum ditembak mereka dipaksa melepaskan sepatunya dan sepatu itu akan dijual ke pasar gelap oleh para eksekutornya. Memorial ini terbuka untuk dikunjungi para turis, terkadang juga kerabat para korban. Mereka meletakkan bunga, koin dan lilin di sana.

Malam semakin sepi saya melanjutkan perjalanan ke jembatan Chain yang masih ramai. Orang-orang duduk di pinggir sungai sekitar jembatan Chain menikmati malam. Sayapun bergabung untuk duduk di sana. Sungai Danube yang cantik dan romantis namun menyimpan tragedi kelam dari masa lalu ini sayang untuk dilewatkan jika anda ke Budapest.

2.SUNGAI SEINE PARIS, PRANCIS

Sungai Seine memang menjadi tujuan utama saya saat berkunjung ke Paris. Sebagai orang yang suka melamun di pinggir sungai, tempat ini tidak akan saya lewatkan. Sungai Seine tidak hanya menjadi ikon pariwisata di Paris tetapi juga menjadi inspirasi banyak seniman Prancis ; pematung, pelukis, filmmaker bahkan penulis dalam karya-karya mereka. Maka setelah seharian berjalan kaki menyusuri kota Paris yang super eksotis, saya turun ke trotoar tepi sungai Seine. Siapa tahu saya juga mendapatkan inspirasi seperti para seniman itu, meskipun kenyataannya saya malah terkagum-kagum dengan pemandangan sepanjang sungai sehingga tidak mendapatkan inspirasi apapun.

Sungai Seine membelah kota Paris menjadi dua bagian yaitu utara dan Selatan dengan panjang 776 kilometer dan memiliki puluhan jembatan yang bertengger diatasnya. Sebagai sungai terpanjang kedua di Perancis setelah Sungai Loire, pada awalnya Sungai Seine digunakan sebagai sarana transportasi dan pembuangan. Tetapi pada masa kini, sungai Seine menjadi salah satu cagar budaya UNESCO. Tidak hanya sebagai jalur lalu lintas komersial, sungai ini juga menjadi tujuan wisata para turis dari seluruh dunia. Selain Eiffel, sungai Seine merupakan ikon kota Paris. Di sepanjang pinggir sungai banyak turis, orang lokal yang duduk menikmati senja atau olahraga juga mereka yang bekerja di sungai.  Wisata yang ditawarkan adalah menyusuri sungai dengan naik cruise yang akan melewati ikon-ikon wisata di Paris. Jika menyisir dari arah timur menuju arah barat Sungai Seine, akan tampak puluhan situs yang terletak di kanan-kiri lembah Sungai Seine. Di lembah kiri sungai tampak berturut-turut la Grand Bibliotheque, Institut de Paris, Musee d’Orsay, hingga Menara Eiffel. Sementara, di sayap kanan sungai berdiri dengan megah bangunan yang lain dari Bercy, Hotel de Ville, Musee du Louvre, hingga Jardin Trocadero. Ada bermacam operator cruise di Paris seperti Batobos, Bateux Parisiens dan Vandettes du Pont Neuf.  Masing-masing bisa dipilih sesuai fasilitas yang ditawarkan dan kemampuan kantong kita. Ada cruise yang menawarkan tour biasa hanya keliling melihat wisata melalui sungai Seine, ada dinner tour hingga private tour. Saya memilih tour biasa menggunakan Vandettes du Pont Neuf dengan tiket yang bisa dibeli langsung di dermaga atau online di website. Saya memilih membeli langsung di dermaga.

Tepat menjelang matahari terbenam cruise yang saya naiki memulai perjalanan menyusuri sungai Seine. Saya memilih duduk di bagian atas kapal yang terbuka sehingga lebih leluasa mengambil foto. Tidak banyak turis yang naik cruise ini sehingga saya bebas memilih tempat duduk. Seorang wanita Asia berambut panjang dan cantik memandu perjalanan itu.  Matahari bersinar keemasan menerpa menara Eiffel sehigga terlihat sangat cantik dari sungai. Udara musim semi terasa dingin di tubuh tropis saya sehingga saya perlu merapatkan jaket. Jika anda ingin menyusuri sungai Seine ketika berlibur ke Paris, saya sarankan waktu sunset karena romantisnya kota Paris dan sungai Seine akan berpadu menciptakan keindahannya.

3.SUNGAI THAMES, INGGRIS

Menyusuri tepian sungai Thames selalu menjadi satu bundel kegiatan berwisata para turis seluruh dunia yang datang ke London, Inggris. Karena selain sangat populer, di sekitar sungai ini bisa dijumpai banyak ikon kota London seperti Big Ben, London Eye, dan Tower Bridge. Saya hanya memiliki waktu sebentar pada siang hari selepas mengunjungi Big Ben untuk menyusuri tepi sungai ini sehingga tidak sempat melamun lama-lama dan menunggu senja datang. Tetapi waktu sebentar itu saya manfaatkan sebaik-baiknya.

Sungai Thames mengalir di selatan Inggris dan menghubungkan kota London dengan laut sepanjang 356 kilometer.  Selain sebagai penyedia ikan bagi penduduk kota, sungai ini juga menjadi pensuplai air serta sarana transportasi. Meskipun dinobatkan sebagai sungai terbersih di dunia, tetapi pada masa lalu sungai ini pernah menjadi sungai mati karena limbah sampah dan manusia dengan polusi yang sangat tinggi. Kemudian pemerintah Inggris bekerja keras untuk mengatasi masalah polusi itu dengan berbagai proyek konservasi dan perbaikan sitem. Semua kerja keras itu menampakkan hasilnya hingga saat ini sungai Thames menjadi sungai bersih yang menjadi lokasi wisata turis dari berbagai belahan dunia.

Seperti di beberapa negara Eropa lainnya, banyak cara yang bisa dilakukan untuk menikmati sungai Thames mulai dari mengikuti tour cruise dengan berbagai jenis paket yang akan membawa turis ke berbagai ikon wisata seperti London Eye, Tower Bridge, Gedung Parlemen Kerajaan Inggris, Big Ben dan Gereja Katedral St. Paul. Atau bisa juga mampir di salah satu kafe-kafe pinggir sungai dan duduk di sana menikmati lalu lalang orang sambil memesan beberapa makanan kecil. Saya tidak memiliki waktu untuk keduanya sehingga hanya berdiri beberapa menit di pinggiran sungai sambil melihat lalu lalang orang di sekitaran Tower Bridge. Seorang penjual kacang almond tampak ramai dikerubungi turis dan saya ikut bergabung untuk membeli kacang almond dalam berbagai rasa itu. Begitu saya memegang kacang almond, merpati yang beterbangan di situ mendekat. Sayapun menikmati kacang almond bersama beberapa merpati sambil menunggu matahari tidak terlalu panas untuk meninggalkan tempat itu.

4.SUNGAI VLTAVA, PRAHA, REPUBLIK CEKO

Saya tiba di Praha pagi hari setelah nyasar-nyasar mencari apartemen tempat saya menginap yang ternyata jauh dari pusat kota dan ada di ujung blok. Pemilik apartemen itu, Miroslav, seorang cowok gondrong berwajah baik dan penuh senyum datang satu jam setelah saya menunggu dengan kaki kesemutan di depan gedung. Tetapi begitu memasuki apartemen semua rasa lelah itu terobati dengan kegugupan naik lift tua yang cara operasinya masih manual dan ruangan apartemen yang terasa wow sekali. Bagaimana tidak?  Apartemen itu cukup besar dan bagus. Bahkan Miro melengkapinya dengan beberapa bahan makanan gratis di kulkas, peta kota Praha dan konsultasi gratis lokasi-lokasi menarik yang harius saya kunjungi. Saya bebas memasak, mencuci dan melakukan apa saja layaknya di rumah sendiri selama tinggal di Praha. Meskipun lokasinya agak jauh dari tujuan wisata, tetapi berdekatan dengan mall yang disana saya bisa mendapatkan makanan dengan mudah.

Saya lupa menulis kota tua Praha di tulisan saya sebelumnya tentang Old Town padahal Praha adalah kota tua paling eksotis. Memasuki pusat kota Praha saya seperti memasuki  masa lalu. Nyaris semua bangunan tua masih berdiri dengan megahnya menjadi fokus pariwisata. Sebelum duduk di pinggir sungai Vltava, saya memutuskan untuk menjelajahi kota tua Praha dan memulainya dari Charles Bridge. Satu dari puluhan jembatan yang sangat terkenal dan menjadi tujuan utama para turis. Karena masih pagi, Charles Bridge belum ramai sehingga tenang untuk menikmatinya.  Charles Bridge merupakan jembatan bersejarah yang sudah berumur 8 abad dibangun pada masa pemerintahan Raja Charles IV. Jembatan ini membentang di atas sungai Vlatva ini menghubungkan dua kota di Praha yaitu Old Town dan Lesser Town. Sebelum menyeberangi jembatan, saya naik ke menara yang ada di gerbang jembatan untuk melihat kota Praha dari ketinggian. Di menara ini juga ada kisah sejarah masa lalu jembatan Charles.

Sekelompok pemuda memainkan musik di dekat pintu masuk jembatan Charles membuat suasana semakin romantis. Lampu-lampu antik dan patung bergaya Eropa klasik di sisi kiri dan kanan jembatan tampak sangat cantik saat diabadikan dengan kamera dengan latar kota tua. Saya merasakan aura eksotis dan mistis yang bersamaan. Kota ini benar-benar menjerat saya. Apalagi saat turun dari jembatan lalu mampir ke Praha Castle dan masuk ke salah satu library kafe di salah satu bangunan tua. Saya benar-benar terkesima dengan kecantikan kota ini. Endingnya, menjelang sore saya turun ke pinggir sungai Vltava.

Pinggiran sungai Vltava tempat saat menikmati suasana tampak masih natural dan tidak dibangun macam-macam. Ada beberapa bangku tua dan pohon-pohon meranggas di sekelilingnya. Burung-burung beterbangan bebas dan bebek-bebek liar berwarna hijau cantik berenang di sungai. Sungai Vltava merupakan sungai terpanjang di Republik Ceko, 430 km, yang mengalir ke tenggara di sepanjang hutan Bohemia dan kemudian ke utara melintasi Bohemia, melalui Cesky Krumlov, Ceske Budejovice dan Praha. Dari tempat saya duduk, saya bisa melihat jembatan Charles yang melintang dengan patung-patung Baroque yang menghiasinya. Sungai Vltava juga menjadi tempat berkumpul penduduk lokal yang melakukan aktivitas seperti berjualan di pasar loak, melakukan olahraga dan masih banyak lagi. Saya ingin menunggu senja di tepi sungai Vltava, tetapi matahari terbenam baru pukul 10 malam, jadi saya memutuskan meninggalkan pinggir sungai Vltava dan kembali ke apartemen. Untuk anda yang menyukai hal-hal klasik seperti saya, Praha jangan dilewatkan.

5.SUNGAI NEVA, SANK PETERSBURG, RUSIA

Saya tiba di Sank Petersburg setelah semalaman naik kereta dari Moscow. Di kota ini banyak tempat yang saya rencanakan untuk dikunjungi salah satunya sungai Neva. Tetapi saya terdampar di tepi sungai Neva karena nyasar mencari makan malam. Setelah mengunjungi salah satu gereja kuno dan salah belok saat di pertigaan, saya malah tiba di lokasi antah berantah. Berharap menemukan mall tetapi malah tiba di pinggir jalan besar bebas hambatan. Setelah mencari penyeberangan yang ternyata jauh sekali, akhirnya saya tiba di tepi sungai Neva. Pada suhu 9 derajat dan malam yang sangat sepi, sungai Neva mengalir tenang. Hanya ada satu orang lokal sedang memancing saat saya tiba. Sungai Neva melintasi Sank Petersburg dan bermuara di Teluk Finlandia. Meskipun panjangnya hanya 74 km, tetapi sungai Neva merupakan salah satu sungai yang memiliki volume air terbesar di Eropa. Sungai Neva menghubungkan Danau Ladoga yang merupakan danau terbesar di Eropa dengan Laut Baltik.

Menikmati malam yang dingin di tepi sungai Neva pada sisi jalan bebas hambatan terasa sangat privat karena hanya berteman seorang pemancing lokal. Di seberang sungai tampak gedung-gedung megah menjulang dengan lampu yang menyala gemerlapan. Saya berpikir mungkin di sana ada mall dengan foodcourt didalamnya sehingga saya bisa makan malam. Tetapi rasanya sayang melewatkan duduk melamun di pinggir Sungai Neva karena saya khawatir besok tidak memiliki waktu lagi. Maka saya memutuskan untuk turun ke pinggir sungai melalui undakan semen yang tertata rapi dan duduk di salah satu bangku semen yang memang disiapkan untuk orang yang bersantai di sana. Beberapa kapal melintas membawa muatan. Sungai Neva memang selama berabad-abad menjadi sarana transportasi yang penting antara Rusia, Swedia, Finlandia dan Baltik hingga pernah terjadi peperangan di tepi sungai ini. Neva juga menjadi cikal bakal lahirnya kota Sank Petersburg.

Seperti di negara Eropa lainnya, banyak kapal wisata yang lalu lalang menyusuri sungai Neva. Semua tempat wisata di Sank Petersburg seperti Benteng  Peter dan Paul, Istana Musim Dingin, Penunggang Kuda Perunggu, Taman Musim Panas, Biara Alexander Nevsky, Katedral Smolny, Istana Marmer dan banyak lagi bisa dijangkau melalui sungai karena lokasinya dekat dengan sungai. Sehingga kapal wisata yang menyusuri sungai bisa berhenti untuk menurunkan turis di tempat wisata yang ingin mereka kunjungi. Tetapi dari semua tempat wisata itu, bagi saya Sungai Neva menjadi daya tarik tersendiri yang menyimpan sejarah masa lalu.  Jam menunjukkan pukul 9 malam saat saya berjalan terus menyusuri sepanjang sisi sungai Neva namun tidak juga menemukan mal. Akhirnya saya memesan taksi online yang kemudian mengantar saya ke Galeria Mal yang ternyata posisinya ada di sebelah apartemen tempat saya menginap. Untung di Galeria Mal saya bertemu mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang kemudian memberi masukan agar tidak nyaasar-nyasar lagi. Tetapi kesulitan membaca peta itu ada baiknya karena ketemu hal-hal tak terduga yang menyenangkan saat perjalanan.

6.SUNGAI VOLKHOV, VELIKY NOVGOROD, RUSIA

Setelah naik bus 4 umum jam dari Sank Petersburg, saya sampai di kota Veliky Novgorod. Kota kecil yang menjadi cikal bakalnya Rusia. Apartemen yang saya sewa berada di dekat Kremlin (Benteng) yang menjadi tujuan wisata sehingga hanya perlu berjalan kaki untuk memasuki Kremlin. Tetapi kota Veliky Novgorod memang kecil dan sebenarnya bisa dikelilingi dengan berjalan kaki untuk mengunjungi kawasan wisatanya. Menikmati sungai pada senja hari sepertinya tidak mungkin dengan suhu bulan November yang sangat dingin, bahkan saat saya tiba di apartemen pukul 5 sore saja sudah tidak berani keluar karena hujan dan dinginnya luar biasa.

Maka saya mengunjungi Sungai Volkhov pada esok harinya. Itupun saat matahari tepat diatas kepala dan saya masih saja menggigil kedinginan. Setelah memasuki Kremlin dan mengunjungi situs-situs bersejarah di dalam Kremlin, saya menyeberangi jembatan yang berada tepat di atas sungai Volkhov. Banyak orang menikmati siang di pinggiran sungai bersama keluarganya dan memberi makan merpati yang beterbangan di sekitar situ. Di ujung jembatan ada kapal yang digunakan sebagai restoran dan bangku-bangku yang bisa digunakan untuk duduk menikmati ponorama sungai.

Sungai Volkhov memiliki panjang 224 km dan menghubungkan Danau Ilmen dan Danau Ladoga. Kota Veliky Novgorod terletak di sepanjang aliran sungai ini. Meskipun hanya kecil tetapi sungai ini memiliki peran yang sangat strategis sebagai transportasi perdagangan pada abad pertengahan.  Sungai Volkhov merupakan satu-satunya sungai yang menembus jauh ke pedalaman Rusia menuju Baltik. Di sekitar sungai ini masih berupa hutan kecil dengan banyak pohon menjulang.  Andai saja suhu dan cuaca bersahabat, sangat menyenangkan duduk-duduk menikmati senja di tepiannya ditemani burung-burung kecil yang jinak bersarang di pohon-pohon rendah. Tetapi meskipun kedinginan, musim gugur sangat cantik karena daun-daun merah beterbangan di sekeliling sungai. Pada senja harinya saat saya pulang dari pasar dan melewati sungai melalui jembatan diatasnya, saya melihat langit kemerahan dan orang-orang duduk di tepi sungai. Tetapi saya tidak sanggup melakukan itu karena udara semakin dingin. Mungkin saya akan kembali ke pinggir sungai Volkhov pada musim panas yang lain, semoga saja saya bisa kembali untuk menikmatinya.

7.SUNGAI CHEONGGYECHEON, SEOUL, KOREA SELATAN

Tempat favorit saya di Seoul, selain Taman Nasional Gunung Seoraksan, rumah-rumah tradisional di Jeonju, yaitu sungai Cheonggyecheon. Selama di Seoul saya mengunjungi sungai ini setiap sore hingga malam hanya untuk duduk menikmati suasana dan memandangi lalu lalang orang sambil mencelupkan kaki ke airnya yang sejuk. Orang-orang mengenal sungai Han sebagai sungai utama di Korea Selatan tetapi sungai Cheonggyecheon ini menjadi tujuan turis yang datang ke Seoul.  Siang sampai malam selalu ramai. Tetapi bagusnya berkunjung senja sampai malam karena tidak panas dan sering ada festival atau atraksi-atraksi gratis di sekitarnya. Saya sempat menonton festival musik gratis di dekat sungai ini waktu berkunjung ke sana.

Sungai Cheonggyecheon memang bukan sungai sebenarnya. Sungai ini adalah sungai buatan yang mengalir di tengah kota, diantara gedung-gedung tinggi. Melalui proses yang panjang akhirnya sungai ini menjadi primadona wisata Seoul. Tak hanya menjadi ruang publik yang menarik untuk berjalan kaki atau duduk menikmati kota, tetapi aliran sungai ini juga menjadi bukti bahwa suasana desa dengan gemericik air dan tumbuh-tumbuhan bisa dihadirkan di tengah gemerlap metropolitan.  Di sekeliling sungai ini juga banyak restoran dan kafe sehingga kita bisa duduk menikmati makanan sambil memandang aliran sungai. Jika malam hari dan kita turun ke bawah, kita bisa menyeberangi sungai melalui batu-batu yang sudah ditata sedemikian rupa. Di ujung sungai tampak patung dengan air mancur dan cekungan besar yang digunakan para turis dan orang lokal untuk melempar koin. Sepertinya itu koin keberuntungan. Saya menyusuri sepanjang sisi sungai dan menemukan beberapa penjual makanan dan pelukis foto.  Di tempat yang lumayan sepi saya duduk dan mencelupkan kaki ke air yang sejuk. Seketika kaki yang pegal karena menjelajah seharian hilang. Apalagi sambil menikmati es krim. Sungai Cheonggyecheon selalu akan menjadi tempat favorit saya ketika kembali ke Seoul.

8. SUNGAI CHAO PHRAYA, BANGKOK, THAILAND

Mengunjungi Bangkok tanpa menyusuri sungai Chao Phraya itu rasanya pasti ada yang kurang karena sungai Chao Phraya mengalir di hampir seluruh kota Thailand. Sungai dengan panjang 372 km ini mengalir dari Bangkok dan bermuara di Teluk Thailand.  Hari terakhir di Bangkok sambil menunggu penerbangan malam, saya berjalan kaki menyusuri trotoar dan sampailah di tepi sungai Chao Phraya. Jadi tidak ada rencana untuk duduk-duduk manis melamun di tepi sungai seperti di kota lain karena waktu perjalanan saya kali itu sangat sempit.  Tapi karena di depan saya ada dermaga maka saya belok saja dan memesan tiket untuk naik boat keliling sungai. Pemandangan tetap cantik meskipun siang bolong dan panas, saya membayangkan pada waktu senja pasti lebih cantik lagi.

Sungai Chao Phraya merupakan pertemuan 4 sungai kecil yaitu sungai Ping, Wang, Nan dan Yom. Selain berfungsi sebagai sarana transportasi yang sangat penting, sungai ini juga berfungsi untuk irigasi dan pasar terapung. Dari sungai ini kita juga bisa melihat ikon wisata Bangkok seperti Wat Arun, Grand Palace, kawasan belanja Asiatique dan hotel-hotel mewah yang berjajar di tepi sungai. Karena memilih tiket paling murah maka saya hanya sekali jalan dan turun pada dermaga berikutnya. Saya benar-benar tidak puas dengan perjalanan ini dan berharap bisa mengulangnya. Karena menurut saya menyurusi Bangkok melalui sungai Chao Phraya adalah cara terbaik untuk mengenali kota ini. Apalagi saya belum mendapatkan sunsetnya. Saya akan kembali suatu saat nanti jika ada kesempatan.

9. SUNGAI MEKONG, PHNOM PENH, KAMBOJA

Terletak di tepi sungai Mekong Phnom Penh memiliki banyak tempat menarik untuk di ekplore salah satunya sungai Mekong itu sendiri yang tepiannya menjadi tempat publik berjalan kaki, duduk menikmati senja dan pedagang asongan berjualan. Sungai ini tepat berada di tengah kota, dekat dengan taman di depan Royal Palace dan deretan restoran serta hotel di sepanjang sisi yang lainnya. Saya menikmati sungai Mekong Phnom Penh pada senja hari tepat sebelum matahari terbenam.  Sedang asyik melamun membayangkan naik kapal menyusuri sungai terpanjang di Asia ini, seorang penjual cemilan Kamboja sebangsa jangkrik, kalajengking, kecoa dan belalang lewat di dekat saya menawarkan dagangannya. Pada masa kecil ketika saya tinggal di desa, tetangga juga banyak makan belalang dan jangkrik tetapi bukan kecoa dan kalajengking. Saya tidak membeli tetapi jika ingin memotret saya harus membeli dulu. Akhirnya saya beringsut ke sisi yang lain berpapasan dengan para biksu yang sedang lewat dan berhenti di dekat penjual balon yang dikerubungi anak-anak.

Dengan panjang 4200 km, sumber aliran sungai Mekong dari dataran tinggi Tibet Cina yang kemudian melintasi Kamboja bagian utara hingga selatan dan melewati Phnom Penh. Sebenarnya selain duduk melihat sungai yang mengalir tenang itu ada cara lain untuk menikmati sungai Mekong yaitu dengan menyewa kapal dan menyusuri sepanjang sungai. Dengan kapal ini wisatawan juga bisa mampir ke ikon-ikon wisata di Phnom Penh. Tetapi selain mahal, saya lebih suka menikmati sungai ini dengan bergabung bersama orang-orang lokal dan pedagang asongan yang sibuk menawarkan dagangannya. Sementara untuk mengunjungi ikon-ikon wisata itu saya menggunakan tuk-tuk. Hampir jam 7 malam ketika saya meninggalkan pinggir sungai Mekong dan berjalan menuju hostel bersama beberapa biksu yang juga berjalan dengan arah yang sama. Setiap kota selalu menarik untuk di ekplore dengan semua kekayaan khasnya, saya menyukai keramaian orang-orang lokal yang menunggu matahari terbenang di pinggir sungai Mekong Phnom Penh.

 10. SUNGAI KAMOGAWA, KYOTO, JEPANG

 Kyoto menyuguhkan wisata klasik yang diburu para pemuja eksotisme seperti saya. Selain bangunan-bangunan tua peninggalan bersejarah dari zaman Edo di Gion district, kuil Kiyomizudera,  Fushimi Inari Taisha, hutan bambu Arashiyama, kuil Nijo, pasar Nishiki juga ada satu sungai yang menarik untuk disusuri tepiannya yaitu sungai Kamogawa.  Setelah menyusuri Gion dan mencari makanan di Pasar Nishiki, saya berjalan terus menyusuri trotoar yang disampingnya banyak restoran dan toko-toko hingga kemudian saya menemukan sungai Kamogawa. Sungai Kamogawa adalah sungai utama yang membelah Kyoto menjadi dua bagian yaitu barat dan timur. Untuk menikmati sungai ini kita bisa berjalan kaki atau bersepeda menyusuri sepanjang sisinya. Saat senja banyak turis dan orang-orang lokal mengenakan pakaian tradisional Jepang Kimono berjalan menyusuri tepian sungai ini sementara sebagaian yang lain duduk di pinggir sungai menikmati senja. Di sepanjang sungai ini juga nampak berjejer rumah-rumah penduduk dengan nuansa khas Kyoto. Karena lokasinya yang masih banyak pohon dan seperti hutan kecil, saat menyusuri sungai Kamogawa, kadang kita akan berjumpa hewan-hewan yang belum pernah kita jumpai sebelumnya.

Sumber air sungai Kamogawa berasal dari gunung Sajikigatake yang berada di sisi utara Kyoto dan mengalir hingga ke Teluk Osaka. Karena berasal dari pegunungan air sungai ini jernih dan lingkungan sekitarnya juga masih natural. Kita bisa menikmati sungai Kamogawa tanpa halangan gedung-gedung tinggi pencakar langit. Bahkan duduk di dekat sungai ini seperti berada di kawasan pegunungan yang sejuk dan asri. Kata seorang teman, pada malam hari sungai ini juga ramai dikunjungi penduduk lokal dan turis. Mereka duduk di sepanjang sungai untuk menikmati malam sambil memandang lampu-lampu dari jembatan yang memantul gemerlapan ke permukaan air.  Sungai yang masih alami ini sangat menarik untuk disusuri saat anda berkunjung ke Kyoto. (*)

10 KOTA TUA CANTIK INI LAYAK ANDA KUNJUNGI

Saya menyukai hal-hal berbau klasik dan eksotis. Begitu juga saat traveling. Tempat yang tidak akan saya lewatkan adalah mengunjungi kota tua (OLD TOWN) di setiap negara yang saya lewati. Karena bangunan-bangunan lawas eksotis itu akan bicara banyak hal sekaligus mengajarkan nilai-nilai tertentu pada saya. Jika bangunan-bangunan lawas itu masih berdiri megah hingga saat ini, ada dua hal yang saya kagumi. Pendirinya ratusan tahun yang lalu sekaligus mereka yang berusaha menjaga kelestariannya hingga saat ini. Tidak mudah melestarikan sebuah peninggalan bersejarah berupa bangunan, kenyataannya di negara saya sendiri kebanyakan sudah tinggal puing-puing. Maka, berikut 10 kota tua cantik di dunia yang pernah saya kunjungi dan saya sarankan untuk anda kunjungi jika kebetulan anda lewat di negara tersebut.

1. KOTA TUA EDINBURGH (EDINBURGH OLD TOWN)

Saya tiba di Edinburgh pagi hari setelah naik bus semalaman dari London. Begitu keluar terminal bus, udara dingin 9 derajat sudah menunggu. Tetapi tidak hanya itu yang menunggu saya, begitu kaki menapak trotoar, bangunan-bangunan masa lalu yang yang sangat indah dan sudah berumur seabad lebih menjulang di mana-mana. Seperti time traveler ke masa lalu atau jika anda penggemar serial Harry Potter maka anda akan merasa hidup satu tempat dengan penyihir berwajah imut itu. Hanya saja orang-orang yang melintas di jalanan menggunakan jaket tebal, sepatu boots, bukan pakaian seabad lalu yang penuh renda-renda.  Sayapun melanjutkan berjalan kaki menyusuri Princess street menuju hostel yang sudah saya pesan. Ternyata hostel yang saya pesan tepat berada di tengah kota tua Edinburgh, bahkan keluar sedikit dari pintunya sudah sampai Royal Mile.

Apa itu Royal Mile? Royal Mile adalah sebuah kawasan yang menjadi  jantung kota tua Edinburgh. Di jalanan ini banyak bangunan bersejarah yang bisa kunjungi para turis seperti Kastil Edinburgh (Edinburgh castle), Holyrood Palace, museum nasional Skotlandia, St. Gilles Katedral. Museum penulis, pasar tradisional, gedung parlemen Skotlandia dan Universitas Edinburgh. Oh ya, jika anda penggemar Harry Potter, di kota tua inilah penulisnya JK. Rowling menuliskan bab-bab awal Harry Potter di salah satu kafe bernama The Elephant House yang kemudian menjadi sangat terkenal untuk dikunjungi turis dari seluruh dunia. Saya sengaja menikmati kopi di kafe ini di meja dekat tempat JK. Rowling menulis yang menghadap ke jendela terbuka dengan pemandangan Kastil Edinburgh.  Tak hanya kafe yang menjadi jejak Harry Potter, tapi juga Victoria Street yang menjadi inspirasi JK.Rowling untuk menciptakan Diagon Alley. Di sini juga ada toko souvenir antik seperti The Boys Wizard yang menjual barang-barang sihirnya Harry Potter. Selain bangunan-bangunan bersejarah itu. Edinburgh juga menjadi rumah bagi para penemu besar di dunia seperti David Hume, Adam Smith dan Robert Burns yang direpresentasikan dengan patung-patung mereka di setiap sisi jalan.

Jalanan Royal Mile juga menyediakan atraksi-atraksi menarik seperti festival dan pertunjukan pada waktu-waktu tertentu. Jika anda ingin menyusuri kota tua lebih mendalam, banyak tersedia paket tour berbayar ataupun gratis.  Ada banyak tour gratis berjalan kaki mengelilingi kota tua bersama banyak turis dengan titik kumpul di satu tempat yang dipandu guide orang lokal. Biasanya peserta akan memberi tips sukarela kepada guide lokal tersebut. Bahkan pada malam hari ada paket tour mengunjungi tempat-tempat berhantu. Dan jangan kuatir, jika anda lelah atau lapar banyak restoran di sisi jalanan Royal Mile dan kafe-kafe cantik. Bahkan restoran bertulisan halal di pintunya juga ada jika anda muslim.  Toko-toko yang menjual pakaian khas Skotlandia dan penjual makanan khas Skotlandia juga tersedia di sepanjang jalan ini. Dan pada senja harinya, anda bisa menikmati matahari terbenam dari Calton Hill. Dari ketinggian yang bisa dijangkau dengan jalan kaki dari pusat kota ini, anda bisa melihat keseluruhan kota Edinburgh yang seperti di negeri dongeng tersapu sinar matahari keemasan. Saya yakin anda tak mau melewatkan kota tua yang sangat cantik ini jika berkunjung ke Britania Raya.

2. KOTA TUA GENEVA (GENEVA OLD TOWN)

Orang-orang pergi ke Switzerland atau Swiss biasanya untuk menikmati panorama alam yang luar biasa cantiknya seperti ke Luzern, Lauterbrunnen, Grindelwald, Interlaken dan banyak yang lainnya, tetapi saya malah datang ke Geneva.  Selain danau yang cantik dengan bebek-bebek berenang di dalamnya, kota ini memanjakan pejalan kaki dengan trotoar yang luas dan nyaman. Jika anda tinggal di hostel ataupun hotel akan mendapat kartu transportasi gratis selama di Geneva karena memang transportasi umum di Geneva gratis. Jadi anda bisa keliling kota sepuasnya naik tram dan bus tanpa membayar. Selain gedung PBB Geneva yang ingin saya kunjungi disini, tentu saja kota tua Geneva.

Mengunjungi kota tua Geneva pada senja hari bukanlah waktu yang tepat. Tapi saya membayangkan keliling kota tua pada waktu senja bakal mengasyikkan. Kenyataanny memasuki waktu senja kota sudah mulai sepi nyaris seperti mati. Tetapi kota tua Geneva sangat menarik untuk dijelajahi meskipun hanya kecil saja. Perancis menyebut kota tua Geneva sebagai Vieille Ville yang merupakan kawasan kecil berbentuk bujur sangkar yang didalamnya terdapat bangunan-bangunan lawas yang digunakan sebagai kafe-kafe cantik dan artistik, restoran (Cafe De Ville), galleri, museum sejarah Geneva (Maison Tavel), tempat bersejarah yang menjadi hotel terkenal yaitu Hotel de Ville dan Katedral St. Peter (St.Peter’s Cathedral).  Di tempat ini kita juga diajak kembali ke Geneva ratusan tahun lalu. Jika waktunya tepat kita bisa menikmati festival l’Escalaude yang hanya ada dua tahun sekali. Tapi saat saya ke sana sedang tidak ada festival.

Di sekitar kota tua Geneva terdapat mall, tempat makan dan pendestrian yang banyak dikunjungi turis. Tetapi karena saya ke sana sore maka semua tempat sudah tutup. Bahkan kota sudah sangat sepi. Meskipun tidak banyak yang bisa saya ekplore tetapi kota tua Geneva menjadi salah satu kota tua yang sangat menarik untuk dikunjungi.

3. KOTA TUA KYOTO (KYOTO OLD TOWN)

Selain tempat kelahiran Doraemon, Jepang menyimpan kekayaan zaman kekaisaran Edo yang masih dilestarikan di banyak Prefektur di Jepang. Salah satu tempat yang masih menyimpan eksotisme masa lalu itu adalah Kyoto. Saya tiba di Kyoto setelah semalaman naik bus dari Tokyo. Berbeda jauh dengan Tokyo yang hingar bingar dengan hal-hal modern, Kyoto sangat tenang dan penuh keindahan masa lalu.

Saya menjelajahi Kyoto dari Kiyomizudera temple yang sudah berumur lebih dari seribu tahun. Dibangun dari kayu yang tidak lapuk dengan jalanan yang menanjak dengan taman-taman di pinggirannya yang sangat cantik. Lalu mengunjungi Sogano Bamboo Forest yang didalamnya terdapat kuil Tenryu, kuil Zen terbesar di Jepang dan Fushimi Inaro Taisha, lorong panjang dengan deretan torri (dua batang palang sejajar yang disangga dua batang tiang vertikal berwarna oranye).  Dan sorenya saya mengunjungi Gion district. Disinilah sebenarnya old town itu karena deretan rumah-rumah kuno peninggalan kekaisaran Edo banyak terdapat disini berjajar dan masih digunakan sebagai tempat tinggal, tempat minum teh, penginapan bahkan rumah tinggal. Keaslian rumah-rumah kuno itu masih terjaga hingga saat ini. Di district ini kita juga bisa bertemu Geisha yang bekerja di rumah-rumah minum teh untuk memainkan kesenian tradisional Jepang. Meskipun hanya district kecil saja, tetapi tempat ini sangat menarik dikunjungi pecinta kota tua.

4. KOTA TUA TAKAYAMA (TAKAYAMA OLD TOWN)

Takayama berada di Prefektur Gifu, yang dikelilingi oleh pegunungan. Bisa disebut sebagai pedesaan Jepang meskipun kenyataanya Takayama tidak seperti desa yang saya bayangkan.  Lebih mirip kota kecil yang penghuninya kebanyakan manula dan ketika bulan Mei saya berkunjung udaranya sangat panas. Memang alam pedesaan dalam mimpi saya hanya ada di Shirakawa Go yang terletak diantara pegunungan, banyak tanaman dan bunga-bunga liar yang indah juga sungai-sungai yang jernih. Dan tujuan saya ke Takayama memang awalnya ke Shirakawa Go. Tapi ternyata di Takayama ada Old Town yang terletak di jalan Sannomachi yang kawasannya lebih luas dari Gion Kyoto.

Selama periode Edo, Takayama dipertahankan sebagai kota budaya dan dagang. Di sepanjang jalan Sannomachi ini kita bisa melihat budaya periode Edo yang masih dipertahankan. Tampak bangunan-bangunan lawas dari kayu yang digunakan sebagai kafe, restoran, toko souvenir, tempat penginapan khas Jepang yang dinamakan Ryokan juga sebagai tempat tinggal. Ada rumah pembuatan sake yang bisa dikunjungi dan dicicipi juga sake-nya dengan gratis. Jika anda penggemar nuansa eksotis kekaisaran Edo, anda tak akan melewatkan jalan Sannomachi di Takayama.

 5. KOTA TUA PHUKET (PHUKET OLD TOWN)

Sebagian besar turis yang berkunjung ke Phuket ingin menikmati pantai, tetapi saya malah menginap di dekat kota tua Phuket. Kota tua Phuket lumayan luas untuk dijelajahi. Dan sebaiknya menjelajah dengan berjalan kaki. Karena sepanjang menyusuri trotoar kota tua, kita akan menemukan banyak bangunan antik dan eksotis yang sayang untuk dilewatkan jika kita naik mobil. Bisa juga menggunakan tuk-tuk tetapi jalanan hanya satu arah, jadi kemungkinan akan memutar dan kembali ke jalanan semula.

Bangunan-bangunan lawas bergaya Portugis menjadi saksi pengaruh Eropa di kota Phuket sekitar abad 16 hingga 18. Kota ini memang mengundang kedatangan kaum kolonial dengan kekayaan timah yang dimilikinya sebagai komoditi yang sangat mahal. Sementara para pekerjanya datang dari Cina sehingga bangunan sehingga ada nuansa Cina yang warna-warni di bangunan-bangunan lawas itu.

Saat ini bangunan-bangunan lawas itu digunakan sebagai kafe, restoran, penginapan bahkan tempat tinggal. Arsitekturnya masih dipertahankan sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi turis untuk mengunjunginya. Jika anda muslim dan mencari makanan halal, jangan kuatir. Ada beberapa restoran Malaysia yang menyediakan makanan halal di jalanan kota tua ini. Phuket Old Town jangan sampai anda lewatkan kalau anda berkunjung ke Phuket.

6. KOTA TUA CHIANG MAI (CHIANG MAI OLD TOWN)

Satu kota tua lagi di Thailand yang pernah saya kunjungi adalah Chiang Mai Old Town. Chiang Mai dengan sebutan “Mawar dari Utara” merupakan satu kota cantik yang berada di Thailand bagian utara. Berada di dataran tinggi, Chiang Mai memiliki suhu lebih dingin di banding Phuket atau Bangkok. Dan memasuki Chiang Mai seperti memasuki kota seribu candi karena ada ratusan candi di dalamnya yang sangat menarik untuk di jelajahi.

Kota tua Chiang Mai sendiri merupakan kawasan bujur sangkar yang di dalamnya terdapat rumah-rumah peninggalan masa lalu dan candi-candi yang dibangun ratusan tahun lalu. Kawasan bujur sangkar ini merupakan peninggalan kerajaan Lanna kuno yang menjadi cikal bakalnya bangsa Thailand.  Di kelilingi oleh parit dan tembok yang sebagian telah menjadi puing di beberapa sisi dan tidak diperbolehkan ada bangunan baru di dalam kawasan bujur sangkar ini. Jadi di dalam kawasan kota tua ini hanya ada rumah-rumah masa lalu yang masih dijaga kelestariannya dan candi-candi.

Pada akhir pekan, di dalam kota kuno ini ada pasar malam yang sangat ramai. Posisi pasar malam ini juga berada di sepanjang jalur kota tua. Berbagai souvenir dan makanan khas Chiang Mai ada di sini. Bahkan ada pertunjukan seni yang bisa dinikmati.

7. KOTA TUA HOI AN (HOI AN OLD TOWN)

Kota tua Hoi An berada di Vietnam sekitar satu jam dari kota Da Nang. Jika anda naik pesawat, dari bandara Da Nang perlu sekitar satu jam untuk sampai kota tua Hoi’an. Ini salah satu kota tua favoritku bahkan saya pengen bulan madu ke sini suatu saat nanti. Saya tiba di Hoi An sekitar jam 7 malam, naik taksi dari bandara Da Nang. Tetapi harus hati-hati kalau memilih taksi, gunakan taksi yang benar-benar direkomendasikan sehingga tidak tertipu dengan argo kuda.

Kota tua Hoi An sangat romantis pada malam hari karena seluruh lampu yang menyala di kota ini berbentuk lampion-lampion yang sangat cantik.  Di tengah kota tua kecil ini ada sungai yang mengalir tenang dan perahu-perahu dengan hiasan lampion cantik hilir mudik membawa pasangan-pasangan melintasi sungai sambil menikmati malam. Tidak hanya lampu-lampu itu, tetapi bangunan-bangunan lawas dan jalanan sempit di Hoi An berusia ribuan tahun dengan arsitektur perpaduan gaya lokal dengan pengaruh Jepang dan Tiongkok sangat menarik untuk dijelajahi.  Hoi An merupakan salah satu World Heritage Site kategori pelabuhan dagang Asia Tenggara abad ke 15 hingga 19 yang masih terawat dengan baik hingga saat ini.

Bangunan-bangunan lawas ini digunakan sebagai rumah tinggal, hotel, restoran, kafe-kafe cantik, toko-toko baju dan souvenir serta tempat pertunjukan seni. Hanya saja jika anda berkunjung siang hari situasinya tidak semenarik malam hari dan sangat panas karena kota pelabuhan. Sementara pada malam hari, semua tempat ini akan tutup tepat jam 9 malam. Saya sebenarnya ingin menghabiskan malam nongkrong di kafe sambil menikmati lampu-lampu lampion yang cantik, tetapi tepat jam 9 malam kafe-kafe ini sudah tutup, listrik dimatikan dan kondisi jadi sangat sepi seperti kota mati. Tapi meski begitu, Hoi An tetap salah satu kota favorit saya.

 8. KOTA TUA SHANGHAI (SHANGHAI OLD TOWN)

Shanghai Cina sebenarnya kota metropolis yang sangat gemerlap. Tapi di sini kita bisa menemukan Old Street yang menyuguhkan nuansa masa lalu Cina. Begitu memasuki jalanan ini, kita akan melihat kuil dan Vihara yang membawa kita ke masa lalu Cina. Di kawasan ini kita juga bisa menemukan taman terkenal di Shanghai yang bernama Yuyuan Garden, sebuah taman yang dibangun poada masa Dinasti Ming sekitar tahun 1559. Dengan kolam yang cantik dan bangunan lawas yang eksotis, taman ini menjadi incaran para turis saat mengunjungi Shanghai. Tidak hanya Yuyuan Garden, di tempat ini banyak bangunan tua yang digunakan sebagai tempat berjualan souvenir dan makanan khas Cina. Bahkan di sekitar tempat ini juga ada masjid dan kuil. Sebaiknya jika ingin mampir ke tempat ini jangan  musim liburan karena akan sangat penuh turis dan anda tidak akan bisa menikmatinya. Saya sendiri berkunjung ke sana saat turun hujan, jadi meski kurang nyaman ada hal menarik lainnya yaitu melihat air hujan menimpa kolam cantik di taman Yuyuan membuat saya time travel ke abad-abad saat taman itu dibuat. Tempat ini sangat menarik dan rekomended untuk dikunjungi saat anda berada di Shanghai.

 9. KOTA TUA XI’AN (XI’AN OLD TOWN)

Tujuan utama saya ke Xi’an adalah museum Terracotta.  Tetapi ternyata Xi’an adalah kota kuno yang sangat menarik. Begitu bus yang saya tumpangi memasuki gerbang kota Xi’an saya merasa memasuki abad lampau. Semua bangunan di kota ini kebanyakan masih bernuansa masa lalu, jadi saya merasa benar-benar hidup di masa itu. Xi’an Moslem Quarter adalah tempat yang sangat menarik untuk dikunjungi selain naik ke benteng-benteng yang mengelilingi seluruh kota Xi’an.  Jika ingin naik ke benteng-benteng yang mengelilingi kota Xi’an baiknya pada pagi hari. Di sana juga disediakan sepeda sehingga anda bisa berkeliling benteng dan melihat keseluruhan kota Xi’an dari ketinggian sambil mengendarai sepeda.

Pada masa dinasti Han ribuan tahun lalu, Xi’an merupakan jalur sutra perdagangan. Banyak pedagang dari Arab dan Persia datang bahkan menetap di Xi’an hingga terbentuklah muslim street. Orang-orang muslim ini dipanggil muslim Hui oleh orang-orang lokal dan mereka berada di Xi’an hingga saat ini.

Moslem Quarter sangat ramai mulai sore hari. Segala jenis makanan khas Xi’an ada di sini, juga souvenir-souvenir. Bangunan-bangunan di sepanjang jalan ini masih kuno dan digunakan sebagai tempat berjualan seperti restoran, kafe dan toko baju. Beberapa tempat makanan khas Xi’an menyediakan atraksi menarik bagaimana makanan itu diolah oleh para chef mereka. Menyusuri sepanjang moslem quarter kita juga bisa berbelok ke gang-gang sempit dimana para penduduk lokal tinggal. Lalu jika kita menyusuri gang itu akan menemukan masjid agung Xi’an. Masjid dengan arsitektur nyaris seperti kuil ini sudah berusia ratusan tahun dan sanggup menampung banyak jamaah.  Mengunjungi Xi’an seperti kembali ke masa-masa para pedagang Arab berdatangan lalu menetap di kota ini sehingga saya masih bisa menikmati keramaian moslem quarter.

10. KOTA TUA PENANG (PENANG OLD TOWN)

Jujur saja saya kurang menyukai Kualalumpur, tetapi saya jatuh cinta pada Penang khususnya George Town. Sebenarnya kota ini terkenal sebagai kota berobat bagi orang Indonesia karena banyak rumah sakit bagus di sini. Tetapi jangan salah, Penang juga merupakan satu kota tua yang sangat menarik untuk dikunjungi. Memang sih, tidak seperti kota lain yang banyak dikunjungi muda-mudi bule, saya lebih banyak menemukan manula berjalan-jalan disini. Mungkin karena kotanya sepi dan tenang.

Menyusuri George Town, kita akan menemukan bangunan-bangunan peninggalan serdadu Inggris yang mendarat di pulau itu dan membentuk benteng sekaligus kota pertama mereka. Berdiri sejak tahun 1800-an kawasan kota tua ini dibagi menjadi dua bagian yaitu Core Zone yang berada dekat bibir pantai dan Buffer Zone yang merupakan perluasan kota.

Berjalan mengelilingi George Town kita tidak akan bosan karena di setiap sudut selalu ada mural-mural yang bisa kita gunakan untuk berfoto selain bangunan-bangunan klasik yang masih terawat dengan baik. Tetapi jika kecapekan, kita bisa naik becak yang banyak mangkal di sepanjang sisi jalan.  Bangunan-bangunan tua itu juga digunakan sebagai restoran, kafe, hotel, tempat tinggal bahkan kantor-kantor penting. Jika anda sudah lelah menyusuri George Town anda bisa naik bus dari terminal ke tempat wisata lain seperti Penang Hill atau Kek lok Sie Temple. Kota tua di berbagai belahan dunia menunggu anda untuk dikunjungi, jangan sampai anda lewatkan.

NISHIKI MARKET KYOTO : Pasar Sejak 400 Tahun Lalu

Mengunjungi Kyoto, selalu membuat saya seperti kembali ke Jepang pada zaman Edo. Kebudayaan ratusan tahun lalu yang masih dilestarikan itu tercermin dari bangunan-bangunan eksotis di sepanjang Gion. Tak hanya bangunan-bangunan eksotis pada zaman Edo, tetapi di sini juga ada Nisiki Market. Pasar rakyat yang ada sejak 400 tahun lalu. Banyak wisatawan manca negara maupun warga lokal berkunjung ke pasar ini. Pasar ini tampak bersih, rapi, dinamis dan menyenangkan. Berkunjung ke Kyoto tanpa mampir ke Nisiki market tidak akan lengkap. Apalagi kalau anda penggemar kuliner Jepang. Nisiki Market menjual banyak sekali kuliner khas Kyoto yang sangat menarik.

Saya berkunjung ke Nishiki Market setelah mengelilingi Gion untuk melihat bangunan-bangunan zaman Edo yang masih berdiri kokoh. Sebenarnya ingin mencicipi teh di salah satu bangunan itu namun batal karena harganya mahal. Maka saya memilih untuk berburu kuliner di Nishiki Market. Memasuki pasar ini saya justru kebingungan mau membeli apa karena segala kuliner Jepang ada di sini. Mulai dari makanan khas Kyoto, buah-buahan, acar, teh sampai ikan asin.

Saya tergoda untuk membeli buah strowberry yang terlihat segar dan besar-besar. Saya jarang menemukannya di Indonesia. Lalu teman saya membeli teh hijau untuk oleh-oleh. Ada bermacam-macam teh bisa kita dapatkan di pasar ini dengan harga terjangkau. Jangan lupa mencoba sushi dan beberapa penganan lokal yang sangat menarik. Jika anda penggemar kuliner, jangan lewatkan mampir ke Nishiki Market!