Tag Archives: backpackers

NONTON SIRKUS DI MOSKOW

Malam itu suhu turun menjadi 7 derajat. Teman perjalanan saya sedang ke minimarket saat saya membuka-buka aplikasi KLOOK mencari tiket pertunjukan di Moskow. Sudah beberapa negara saya kunjungi tanpa sempat menonton pertunjukan khas mereka dan kali ini saya tidak mau kelewatan lagi. Sebenarnya saya ingin menonton teater atau balet di Moskow, tetapi mengingat pertunjukan teaternya berbahasa Rusia dan baletnya sangat mahal, maka saya mencari alternatif lain. Lalu saya menemukan sirkus yang harga tiketnya hanya Rp. 189.000 untuk kelas 9. Begitu saya klik, ternyata tiket kelas 9 sudah habis, adanya tiket kelas 8 dengan harga Rp. 332.000. Baiklah, akhirnya saya dan dua orang teman sepakat untuk membeli tiket itu. Tiket akan dikirim dalam 24 jam dan benar, esoknya saya sudah menerima tiket berbahasa Rusia. Setelah saya Google translate, dalam tiket terdapat alamat, pintu masuk, kursi dan jam show.

Sebenarnya, sejak kecil saya tidak suka menonton sirkus bahkan saya belum pernah menonton sirkus seumur hidup saya. Saya takut melihat binatang-binatang buas di dalam kerangkeng dan membayangkan binatang itu ngamuk melukai pawangnya hingga membuat keributan yang luar biasa seperti di film-film. Setelah dewasa ini, saya tidak suka sirkus karena kasihan melihat binatang-binatang itu dijinakkan dan dijadikan ajang untuk mencari uang oleh manusia. Menurut saya tidak seharusnya mereka berada di sana menjadi budak-budak manusia.  Mereka seharusnya punya kehidupannya sendiri, di hutan. Tetapi rasa ingin tahu saya tentang sirkus dan  saat sirkus ini datang ke Indonesia tiketnya sangat mahal sehingga saya tidak mampu membelinya, maka mumpung berada di Rusia saya memaksakan diri sendiri untuk menontonnya.

Dengan naik metro ganti line dua kali sampailah saya di tempat sirkus ini. Lokasinya sangat mudah dijangkau, gedungnya bagus dan mentereng dengan hiasan khas sirkus di puncaknya. Penonton (yang kebanyakan dari turis Tiongkok) berdatangan dengan tertib. Saya hanya menunjukkan tiket di handphone kemudian diverifikasi lalu bisa masuk melalui pintu yang disebutkan ditiket. Saat saya datang ternyata sirkus sudah mulai sekilat 10 menit, sehingga saya ditahan dipintu sejenak agar tidak menganggu penonton dan pemain. Pintu masuk dan pengaturan pertunjukan ini sangat profesional sehingga kita telat datangpun tidak bikin ribut dan menganggu yang lain. Setelah satu show berakhir, petugas segera menunjukkan kursi kami.

Kursi kelas 8 ternyata ada di deretan paling belakang. Tapi nggak usah sedih, karena deretan paling belakang inipun masih bisa menikmati pertunjukan dengan jelas karena gedungnya tidak terlalu besar. Hanya beberapa penonton menganggu dengan kamera yang diacung-acungkan ke depan sehingga menutupi saya. Sirkus ini sangat modern dan menarik. Kostumnya luar biasa, penampilannya luar biasa dan dikemas dengan sangat menghibur. Setiap jeda satu show dengan show lainnya dimunculkan karakter-karakter komedi yang berinteraksi dengan penonton. Saya suka bagian ini meskipun tidak ada bahasa Inggrisnya, tetapi masih bisa dipahami.

Jika awalnya saya ingin pulang seandainya sirkus ini membosankan, ternyata waktu tiga jam dengan istrirahat 15 menit masih kurang. Saya justru enggan beranjak setelah sirkus selesai. Betapa profesionalnya mereka. Saya membayangkan kedisiplinan mereka berlatih dan terus berlatih. Sirkus ini rekomended untuk di tonton meskipun saya tetap sedih melihat binatang-binatang itu di dalam sana dan tidak setuju mereka menjadi seperti itu.

Hampir tengah malam saat saya keluar dari gedung pertunjukan dan berjalan kedinginan menuju stasiun metro. Saya terus berpikir tentang mereka para pelaku sirkus ; berlatih-berlatih dan berlatih. Kadang-kadang hidup tidak menyediakan pilihan lain kecuali yang ada di depan mata kita, tetapi bisa juga kehidupan itu memang yang terbaik untuk kita atau memang itu yang kita cita-citakan. Stasiun metro mulai lengang tapi kereta tetap datang setiap 90 detaik sekali. Saya masih hanyut melamunkan para pelaku sirkus.

BLUSUKAN DI PASAR TRADISIONAL VELIKY NOVGOROD RUSIA

Tempat yang paling saya incar untuk blusukan di setiap negara yang saya kunjungi itu adalah pasar tradisional. Bukan untuk belanja (meskipun kadang jadi belanja juga), tapi saya senang melihat orang-orang lokal berkegiatan di pasar, bertransaksi, saling ngobrol dan menjajakan barang dagangannya. Tak hanya manusianya, barang-barangnya sudah tentu unik dan berbeda dari setiap negara.  Kali ini saya blusukan ke salah satu pasar tradisional yang ada di Veliky Novgorod, kota tertua di Rusia.

Jam 3 sore karena kedinginan setelah menyusuri jalanan kota Veliky yang sepi, saya belok ke pasar tradisional ini. Sebenarnya hanya ingin menghangatkan badan dengan masuk ke dalam pasar, tapi jadi malah keterusan menyusuri semua lorongnya. Pasar ini tidak luas, namun bersih dan rapi. Terdiri dari dua lantai, pembagian kios-kiosnya tidak menentu, bahkan terkesan tidak beraturan sehingga lantai satu bisa jadi berjualan makanan basah dan kering, pakaian, bunga plastik, mini market dan minuman. Begitu juga dengan lantai dua yang berisi kain, pakaian, mainan anak-anak dan minuman.

Saya kemudian kembali ke lantai satu untuk mencari teh khas Rusia setelah mengecek di internet teh mana yang sebaiknya saya beli. Saya memang suka membeli teh dari berbagai negara saat ke pasar selain hanya ingin ngobrol dengan penjualnya. Tetapi di sini saya tidak bisa mengobrol karena semuanya berbahasa Rusia sementara saya tidak paham bahasa Rusia. Tidak ada yang bicara dalam bahasa Inggris, sehingga saya hanya menduga-duga pembicaraan mereka, menggunakan kalkulator untuk menawar harga atau menggunakan google translate.

Saya menemukan teh yang saya cari di lantai satu, dekat dengan penjual coklat. Harga tehnya hanya 95 Rubel atau Rp.25.000 lalu saya membeli satu setelah bingung mau membeli yang mana dan penjualnya menyarankan saya membeli jenis teh hitam. Setelah ngobrol pakai bahasa tubuh dan akhirnya nggak saling paham juga, saya hanya senyum-senyum dan meminta untuk memotret penjualnya. Penjualnya ramah dan murah senyum, dia mengijinkan saya memotret apa saja yang ingin saya potret.  Dari penjual teh saya bergeser ke penjual coklat.  Ada berbagai coklat dengan harga yang murah dibandingkan di Indonesia (tentu saja) tetapi saya tidak membeli coklat. Saya malah jalan-jalan ke arah lain bagian pakaian dan sepatu.

Begitu memasuki satu kios saya disambut mbak-mbak cantik yang penampilannya nyaris seperti artis di film-film spionase. Ternyata mbak cantik ini penjual jaket di salah satu kios. Dia menawarkan jaketnya yang sedang sale seharga sekitar 100 ribuan jika dirupiahkan menggunakan bahasa Rusia. Orangnya ramah, tetapi sayangnya lagi, dia tidak bisa berbahasa Inggris, jadi kami hanya ngobrol menggunakan google translate yang sangat terbatas dan kalkulator untuk menanyakan harga.  Teman saya kemudian tergoda untuk melihat jaket-jaketnya lebih detail bahkan kemudian membelinya sementara saya justru berpindah ke bagian lain yaitu sepatu setelah meminta ijin untuk memotret mbak cantik itu. Dia bilang ke teman-temannya di pasar kalau saya fotographer, dan saya tertawa ngikik menjawabnya menggunakan bahasa Indonesia, “bukan-bukan, saya hanya suka memotret, bukan fotographer.” Ya, sekali-kali menggunakan dua bahasa berbeda nggak apa-apa ‘kan? Biar sekalian saja sama bingungnya.

Seorang ibu paruh baya menjual sepatu boots sambil menggendong anjing pudelnya berwarna coklat yang lucu. Ibu ini tampak ngos-ngosan setiap bergerak. Tetapi begitu saya melihat-lihat sepatunya, dia tampak antusias. Saya menanyakan harga menggunakan kalkulator dan lagi-lagi berkomunikasi menggunakan bahasa tubuh, tetapi ibu ini cukup bisa memahami maksud saya.  Karena saya membutuhkan sepatu boots dan harga yang ditawarkan hanya 100 ribuan dalam rupiah, maka saya membelinya satu. Tetapi setelah beres pembelian, saya meminta untuk memotret ibu paruh baya itu. Awalnya saya pikir ibu itu akan menolak di foto, ternyata begitu saya menunjuk kamera saya, si ibu malah mengambil anjing pudelnya dan memeluknya untuk diajak foto bersama.

Setelah puas menyusuri pasar malah kebablasan belanja saya kemudian keluar pasar. Tampak di luar, penjual labu sibuk melayani pembeli, kios-kios roti dan minuman kaleng sementara saya memutuskan untuk menyeberang melalui penyeberangan bawah tanah ke seberang pasar. Dalam penyeberangan bawah tanah juga ada penjual pakaian dan minuman. Di seberang pasar tampak pasar kaget yang menjual sayuran, tanaman hias, bunga, bawang putih, jamur dan umbi-umbian.  Saya kemudian melanjutkan perjalanan ke arah lain untuk mencari mini market. Kota tua Novgorod sangat cantik, saya akan mengulaskan tersendiri di bagian destinasi. Ikuti terus perjalanan saya di Rusia, ya! Terima kasih!