Category Archives: Asia

“Takayama Jepang” Nuansa Samurai Di Kota 9 To 5


“Travel brings power and love back into your life.”  – Rumi
Kota Takayama
Jika anda memasuki kota Takayama setelah mengunjungi Tokyo yang glamour, sibuk dan sangat ramai, maka Takayama akan menjadi dunia yang sangat berbeda. Tapi di sanalah serunya kota ini!
Berangkat Sekolah
PERJALANAN MENUJU TAKAYAMA
Setelah mengunjungi Osaka, Tokyo dan Kyoto, saya bersama dua orang teman dari Indonesia memutuskan mampir ke kota kecil Takayama sebelum kembali ke tanah air. Kami memesan tiket bus melalui internet dan bus akan melewati halte tepat jam 8 pagi esok harinya. Pemesanan bus di internet sudah termasuk paket hostel dan paket wisata ke Shirakawa go. 
Bus yang membawa kami ke Takayama
Jepang terkenal dengan kediplinannya, maka jangan sampai datang di halte lewat semenit saja dari jam 8 pagi. Pagi-pagi buta kami sudah packing dan naik turun subway agar sampai di halte sebelum jam delapan. Kami membayangkan akan banyak penumpang yang bersama kami menuju Takayama. Tetapi tepat jam 8 pagi, sebuah bus tingkat tanpa penumpang berhenti di halte.  Apa benar ini bus yang kami pesan? Kenapa kosong? Sopir bus turun dan menyapa kami dalam bahasa Jepang. Teman saya menunjukkan tiketnya dan ternyata benar, bus tingkat ini bus yang akan membawa kami  ke Takayama. Sopir bus mengatakan penumpangnya hanya empat dan kami dipersilakan memilih tempat duduk di mana saja.  Kami memilih duduk di tingkat atas, sementara satu penumpang lagi di bawah. 
Perjalanan Menuju Takayama
Perjalanan dari Kyoto menuju Takayama memerlukan waktu empat jam. Sepanjang perjalanan, saya sengaja tidak tidur karena sayang melewatkan pemandangan yang kami lalui. Setelah melewati kota-kota kecil, jalan tol panjang yang menembus pegunungan, dan istirahat di rest area selama setengah jam, tepat jam 12 siang kemudian kami memasuki kota kecil Takayama. 
Menurut wikipedia, Takayama adalah sebuah kota benteng yang berada di Prefektur Gifu. Pegunungan mengelilingi Takayama sehingga suasana asri dan sejuk akan menyelimuti kota ini. Itulah bayangan saya. Tetapi Takayama sangat berbeda dengan bayangan saya.  Takayama sangat panas di bulan Mei. Bahkan Kyoto jauh lebih sejuk dibanding Takayama. Tidak hanya panas, Takayama juga sepi. Tidak banyak orang muda melintas di jalanan, kami hanya menemukan para manula beraktivitas. Saya mulai ragu, apa yang akan saya temukan di kota kecil ini?
Memasuki Kota Takayama
Udara yang sangat panas membuat kami kelelahan dan memutuskan istirahat sebentar di hostel sebelum menjelajah Takayama. Seorang teman dari Belgium mengatakan Takayama akan habis dijelajahi dalam satu jam dan kota kecil ini sangat cantik. Tetapi kota ini hanya terlihat aktif mulai jam 9 pagi hingga jam 5 sore. Benarkah? Kami mulai penasaran akan menemukan sesuatu yang cantik di sini. Maka, saat matahari tak lagi garang, bersama satu orang teman baru dari Malaysia, kami mulai menjelajah Takayama.
NUANSA SAMURAI dan KOTA NINE TO FIVE
Kota Takayama yang cantik dan tenang
Meski matahari sudah tidak garang, tetapi udara masih panas saat kami mulai menyusuri kota kecil Takayama. Ada beberapa pilihan menjelajahi kota ini yaitu dengan naik sepeda atau bus dari stasiun. Tapi kami lebih suka jalan kaki agar bisa memotret apa saja yang kami lalui. 
Nuansa Samurai Takayama

 

Jepang selalu identik dengan era Samurai. Di kota tua Takayama ini, kami masih bisa merasakan nuansa Samurai itu. Selama periode Edo, Takayama dipertahankan sebagai kota budaya dan dagang. Kami bisa melihat budaya yang masih terus dipertahankan di kota ini, salah satunya saat kami mengunjungi jalan Sannomachi. Di sepanjang jalan ini tampak rumah dan bangunan kuno yang masih dipertahankan bentuknya sejak periode Edo. Hampir seluruh bangunan itu terbuat dari kayu dan pengunjung diperbolehkan masuk untuk melihat-lihat ke dalam bangunan tersebut. Selain dipertahankan sebagai rumah tinggal, bangunan kuno itu juga dipergunakan sebagai toko souvenir, restoran atau tempat penginapan khas Jepang yang disebut ryokan.
Kafe Cantik
Saya menemukan kafé-kafé cantik yang bisa digunakan untuk bersantai menikmati kota tua Takayama, tetapi sayang kafé ini hanya buka sampai jam 5 sore. Dan benar kata teman dari Belgium itu, kota ini hanya aktif mulai jam 9 pagi hingga jam 5 sore. Ketika kami kembali ke hostel jam tujuh malam, suasana sangat sepi. Tidak ada hiburan malam di kota ini.  Menurut saya kota ini memang sangat cocok untuk manula karena ketenangannya. Saya jadi membayangkan kalau saya warga Jepang, saya akan menghabiskan masa tua di kota ini.
Morning Market

Esoknya, di sudut kota Takayama kami menemukan pasar yang buka pada jam 6 pagi. Banyak wisatawan berkunjung ke pasar pagi ini. Pasar ini buka hingga pukul 12 siang dan menjual berbagai barang seperti makanan, sayur mayur, buah-buahan, souvenir hingga alat-alat rumah tangga. Yang paling mengesankan buat saya di sini saat disapa laki laki jangkung  sambil tersenyum ramah,” Assalamu’alaikum.”
Penjual di morning market
SHIRAKAWA GO
Shiroyama Point
Setelah menjelajah kota tua Takayama, esoknya kami mengunjungi Shirakawa go, salah satu situs warisan dunia yang terletak di lembah sungai Shokawa. Daerah ini pada zaman dahulu terisolasi karena lokasinya berada di tengah pegunungan. Tetapi saat ini jalan toll dan highway sudah menghubungkan Shirakawa go dan desa-desa sekitarnya. Jalan menuju Shirakawa go memang melewati pegunungan, tetapi pegunungan itu telah ditembus sehingga tercipta tunnel-tunnel jalan toll menembus pegunungan.  Perjalanan dari Takayama sampai Shirakawa go memerlukan waktu sekitar satu jam.
Ada satu spot terbaik untuk melihat Shirakawa go yaitu dari desa Shiroyama. Dari Shiroyama ini kita bisa melihat keseluruhan pemandangan Shirakawa go yang menawan. Dari kejauhan, pedesaan ini nyaris sama dengan pemandangan pedesaan di film-film klasik Jepang. Asri, sejuk dan cantik. Kami benar-benar tak sabar untuk segera tiba di sana.
Desa Ogimachi
Desa Ogimachi adalah desa terbesar di Shirakawa go. Kami memerlukan waktu sekitar satu jam untuk mengelilingi desa yang cantik ini. Di kelilingi pegunungan yang lebat, rumah-rumah tradisional yang bercirikan atap miring tampak unik dan kokoh. Kontruksi ini juga sangat kuat untuk berlindung pada musim salju. Terdiri dari tiga sampai empat tingkat, rumah-rumah tradisional ini cukup untuk tempat satu keluarga besar. Desa ini benar-benar seperti surga dunia. Airnya yang bening, bunga-bunga yang indah, ikan-ikan yang berkeliaran di saluran air dan udara yang sejuk.  Yang paling menarik bagi saya adalah kulkas alami yang ada di setiap depan rumah. Minuman-minuman di botol ditaruh di ember penuh air dingin. Saat kita mengambil botol minuman itu dinginnya sama seperti saat kita mengambilnya dari kulkas.
Kulkas alami
Wisatawan bisa memasuki rumah-rumah tradisional ini dan minum teh atau sake yang sudah disiapkan oleh penjaga rumah yang ramah. Bahkan kami bisa naik ke bagian rumah paling atas untuk melihat benda-benda kuno yang ada di dalam rumah tersebut. Shirakawa go benar-benar pedesaan yang bertahan dari gempuran modernisasi yang ada di sekelilingnya.
Pemandangan dari dalam rumah tradisional
OLEH-OLEH DARI TAKAYAMA
Kue-kue lucu Takayama
Selain souvenir, kerajinan tangan dan makanan khas Takayama, yang paling terkenal dari Takayama adalah boneka Sarubobo. Boneka ini khas Takayama dan tidak ada di tempat lain di Jepang. Boneka ini memang agak aneh, tidak memiliki pancaindera di wajahnya dan kalau diperhatikan agak menakutkan.  Menurut cerita setempat, boneka ini dibuat seorang nenek untuk cucunya agar mendapatkan kebahagiaan dalam menjalani hidupnya kelak. 
Sarubobo I love you
Menurut travel guide kami, boneka ini dahulu hanya dibuat dalam satu warna saja yaitu warna merah, namun sekarang terdiri dari berbagai warna yang dari masing-masing warna itu memiliki arti sendiri. Misalnya warna merah yang berarti keberuntungan dari pernikahan dan kelahiran. Warna biru yang berarti keberuntungan di tempat kerja, warna pink untuk percintaan, warna hijau untuk kesehatan, warna kuning untuk rezeki yang baik dan warna hitam untuk membuang kesialan. Boneka ini banyak tersedia di toko-toko seluruh Takayama dan menurut saya oleh-oleh paling khas yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. 
Takayama, satu kota di Jepang yang membuat saya ingin kembali ke sana. 🙂

Bali : Berkeliling Danau Batur, Mengunjungi Kuburan TRUNYAN



“Wherever you go, go with all your heart” – Confusius

 

Tengkorak di kuburan Trunyan


Apa yang ingin anda kunjungi di Bali?  Pantai, gunung, menikmati tradisi yang eksotis, duduk bersantai di kafe sambil ngobrol bersama teman, atau memanjakan diri di spa? Kalau semua itu sudah anda lakukan di Bali, coba hal lain yang lebih menantang dan berpetualang. Saya jamin, liburan anda pasti lebih seru! Apakah sesuatu yang lebih menantang dan berpetualang itu? Berkeliling Danau Batur menggunakan sepeda motor dan mengunjungi kuburan Trunyan. Mau coba? Ada baiknya anda menyimak perjalanan saya beberapa waktu lalu mengelilingi danau Batur dan mengunjungi kuburan Trunyan.

DANAU BATUR YANG CANTIK
 

Danau Batur

 

Danau Batur merupakan danau terbesar di Bali, terletak di kecamatan Kintamani Bangli, 65 kilometer dari Denpasar. Danau Batur merupakan danau terbesar di Bali yang juga telah ditetapkan sebagai Global Geofark Network atau taman Bumi oleh Unesco. Artinya kawasan danau Batur menjadi taman bumi pertama pertama yang ditetapkan secara resmi oleh Unesco.

Danau Batur

Untuk mencapai tempat ini, anda bisa menyewa mobil dari kawasan Kuta dengan biaya kisaran 400-500 ribu perhari atau menyewa sepeda motor dengan biaya sekitar 50 ribu perhari. Jika perjalanan lancar hanya membutuhkan waktu dua jam dari Denpasar, namun terkadang jalur menuju Kintamani sangat padat sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama. Saya lebih suka menggunakan sepeda motor karena petualangan akan terasa lebih seru.

Asyiknya bersepeda motor mengelilingi Danau Batur

Beberapa waktu lalu, citra buruk melekat pada wisata danau Batur sehingga wisatawan enggan menikmati danau Batur lebih dekat karena pengemudi seringkali menghentikan perahu di tengah danau dan akan melanjutkan perjalanan jika wisatawan mau membayar sejumlah uang yang diminta pengemudi. Tetapi kondisi sekarang sudah semakin membaik. Meskipun awalnya saya agak ragu, tetapi saya memutuskan untuk menikmati danau Batur lebih dekat.

 

Jalan curam di sekeliling danau Batur

Pemandangan danau Batur dari Kintamani tampak mempesona. Gunung Batur yang menjulang menaungi danau Batur dibawahnya. Wisatawan bisa menikmati pemandangan indah ini sambil duduk bersantai di areal public yang tersedia sambil menikmati makanan kecil. Tetapi saya tidak puas hanya menikmati danau Batur dari ketinggian Kintamani. Saya bersama beberapa teman memutuskan untuk membawa motor turun mendekati danau.  Menyusuri jalanan menurun yang berkelok-kelok, pemandangan danau Batur semakin mempesona dari dekat. Beberapa orang menawari kami menyeberang ke desa Trunyan dengan biaya 800 ribu per kapal, tetapi saya masih ragu untuk menyeberang mengingat kisah-kisah buruk yang pernah saya baca di media. 
 

Memancing di tepi danau

 

Saat kami istirahat di pinggir danau dan menikmati pemandangan tiba-tiba seorang lelaki mendekati kami dan menawarkan perahu untuk menyeberang ke desa Trunyan dengan harga murah. Hanya 400 ribu perkapal! Benarkah? Saya mulai tergoda karena memang sejak lama saya ingin menyeberang ke desa Trunyan. Seorang teman asli Bali kemudian menawar harga itu dan lelaki itu memberi kami harga baru 300 ribu perkapal! Wah, murah sekali! Sayang sekali kalau sudah sampai di sini tapi tidak mampir ke kuburan Trunyan, kan? Saya memutuskan mengambil tawaran itu. Dan kami dikasih aba-aba untuk mengikuti motor lelaki kekar itu.

Desa Trunyan

Kami naik turun bukit di pinggiran danau Batur mengikuti lelaki itu. Pemandangan di sepanjang perjalanan menakjubkan. Hingga kami memasuki batas desa Trunyan, lelaki itu tak juga berhenti. Kami mulai curiga dan was-was kira-kira kami akan dibawa kemana? Apakah karena hanya membayar 300 ribu maka kami dibawa ke perkampungan paling dekat untuk menyeberang ke kuburan Trunyan? Tapi saya justru menikmati perjalanan mengelilingi danau Batur dengan mengendarai motor. Hingga motor lelaki itu melewati pura di pinggir danau Batur dan berhenti di perkampungan paling dekat dengan kuburan Trunyan. Dua orang wisatawan dari Jakarta juga sedang menunggu di sana.

Tak lama perahu dengan tenaga kayuh manusia datang menjemput kami dan kami semakin yakin bahwa kuburan Trunyan tinggal dekat saja. Benar, hanya 15 menit kami naik perahu sudah sampai ke kuburan Trunyan.

KUBURAN TRUNYAN

Welcome to Kuburan Trunyan

 

Desa Trunyan terkenal dengan pemakamannya yang unik. Tidak seperti masyarakat Bali lainnya yang melakukan ngaben untuk jenazah, tetapi warga desa Trunyan meletakkan jenazah di satu area berundak di bawah pohon Taru Menyan. Pohon  besar yang menjulurkan akar-akarnya ini menguarkan bau wangi sehingga mayat yang diletakkan dibawahnya tidak berbau.

Pohon Taru Menyan

Untuk mencapai kuburan Trunyan, pengunjung bisa melalui akses jalur darat sekitar 45 menit dari jalur Panelokan seperti yang saya lakukan lalu dilanjutkan bersampan sekitar 15 menit, atau menyewa boat di dermaga Kedisan yang memerlukan waktu sekitar 45 menit menyeberangi danau Batur. Memasuki areal kuburan, kita akan melihat pemandangan yang mengerikan. Tengkorak yang berjejer di atas undakan, mayat-mayat yang berbaring di ancak saji (kurungan bambu berbentuk segitiga sama kaki), koin-koin bertebaran, baju-baju jenazah yang dibawakan oleh keluarganya sebagian terkubur di tanah dan tulang belulang yang berserakan di atas tanah. Saya beruntung karena ada jenazah yang baru di tempatkan di salah satu ancak saji dan kondisinya masih utuh. Wisatawan bebas mengambil foto di area ini bahkan menyentuh tengkorak-tengkorak yang berjejer di undakan.

Jenazah dalam ancak saji dan barang yang dibawakan dari rumah
Tidak semua jenazah dikuburkan di pekuburan Trunyan. Mereka yang dikuburkan di bawah pohon Taru Menyan adalah mereka yang meninggal secara wajar. Sedangkan mereka yang meninggal karena kecelakaan, dibunuh dan bunuh diri akan dikuburkan di lokasi berbeda yang bernama Sema Bantas. Sedangkan jenazah anak-anak dan bujangan dikuburkan di Sema Muda.
Ancak saji (kurungan bambu berbentuk segitiga sama kaki) hanya berjumlah 11. Jika ada yang meninggal maka salah satu jenazah yang sudah menjadi tulang akan digeser untuk diisi dengan jenazah baru. Di depan ancak saji terdapat foto jenazah, piring, baju, perhiasan, sapu tangan milik jenazah. Kuburan Trunyan ini melengkapi kekayaan wisata Kintamani, Danau Batur yang indah sekaligus menyimpan tradisi yang unik.  Jangan sampai anda lewatkan saat berkunjung ke Bali.

 

Jepang: Keindahan Masa Lalu Dan Masa Kini


“Travel is the only thing you buy, that makes you richer”

Jepang menawarkan ragam wisata yang menarik bagi wisatawan.  Jika anda penggemar hal-hal yang berbau klasik dan eksotis dari masa lalu anda bisa mengunjungi wisata-wisata klasik bernuansa Samurai dari periode Edo yang masih dipertahankan keasliannya. Tetapi jika anda menyukai wisata modern dan futuristik, anda juga bisa mengunjungi tempat-tempat wisata yang menawarkan hal-hal berbau futuristik dan glamour masa kini. Jadi anda ingin mengunjungi yang mana? Jepang memiliki keduanya.

OSAKA

Saat saya mengunjungi Jepang beberapa bulan lalu, saya memutuskan untuk mengambil penerbangan Jakarta- Osaka (Kansai) dan menikmati Osaka beberapa hari sebelum melanjutkan perjalanan ke kota lain menggunakan bus malam. Osaka memiliki tempat-tempat menarik baik yang klasik maupun modern. Saya membeli one day pass (Amazing Osaka Pass) di Kansai Airport sebelum berkeliling Osaka. Kelebihan one day pass (Amazing Osaka Pass) ini, dengan membeli seharga 2300 Yen, kita sudah bisa berkeliling seharian menggunakan bus dengan nomor tertentu dan masuk beberapa tempat wisata tanpa membayar lagi.
Osaka dari ketinggian

Dengan panduan peta Osaka, saya bersama dua teman dari Indonesia siap menjelajah Osaka.  Sepanjang sisi jalan yang saya telusuri, saya menemukan bangunan-bangunan menjulang dan kota yang sangat modern. Orang-orang lalu lalang menggunakan sepeda dan sebagian bersantai di areal public yang luas sambil membaca buku. Kami memasuki stasiun dan mencari jalan terdekat menuju Hep Five Ferris Wheel. 
Hep Five Ferris Wheel
Hep Five Ferris Wheel adalah sebuah bianglala di atas gedung tinggi. Dari puncaknya kita bisa menyaksikan keseluruhan kota Osaka. Saya sebenarnya paranoid terhadap ketinggian, tetapi sayang rasanya melewatkan bianglala ini. Hep Five Ferris Wheel dibangun sejak Desember 1998 setinggi 106 meter dengan waktu putar 15 menit. Memandangi kota Osaka menjelang sore dari ketinggian 106 meter sungguh menakjubkan. Gedung-gedung tinggi menjulang memenuhi langit, seolah menjadi simbol modernisasi. Setelah 15 menit putaran itu selesai, saya turun dari bianglala itu dengan gemetar. Tapi juga takjub karena saya bisa menaklukkan ketakutan saya.
Parit yang mengelilingi Osaka Castle

Tujuan selanjutnya adalah Osaka Castle. Berbeda dengan pemandangan yang saya temukan dari ketinggian  Hep Five Ferris Wheel yang sangat modern, Osaka Castle menawarkan pemandangan negeri dongeng dari masa lalu. Kastel yang memiliki arsitektur khas istana Jepang ini berbentuk seperti piramida dan dikelilingi oleh perairan atau parit besar. Fungsinya sekarang sebagai museum yang menyimpan bukti-bukti sejarah pembangunan kastel Osaka.
Osaka Minami

 Dari Osaka Castel hari sudah menjelang malam. Kami melanjutkan perjalanan ke  Minami untuk naik  Tombori River Cruise.  Setelah semua penumpang naik kapal, kami kemudian menyusuri Minami. Sepanjang pinggir sungai kami melihat  restoran, hotel dan tempat  belanja. Perjalanan hanya memakan waktu sekitar duapuluh menit dengan guide yang  kocak. Yang menarik dari tour singkat Tombori River Cruise ini buat saya adalah sepanjang perjalanan kami  melambaikan tangan ke setiap orang ditepian sungai meskipun kami tidak  kenal. Mereka juga balas melambai dengan suka cita. Menurut saya ini bagian yang paling menarik dari tour ini. Keramahan dari orang-orang yang tidak saling mengenal untuk menyapa dan bertukar senyuman.

KYOTO

Jika anda menyukai eksotisme masa lalu seperti saya, maka Kyoto-lah tempatnya. Kyoto merupakan kota kuno yang kaya dengan sejarah masa lalu yang masih dipertahankan hingga sekarang. Dengan berbekal peta dan kartu tranfortasi pasmo, saya dan teman-teman mulai menjelajah Kyoto. 

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Kiyomizudera Temple. Jalanan menuju kuil yang berada di atas bukit itu memang menanjak tetapi  masih bisa ditempuh segala umur. Kiyomizudera temple dibangun dengan kayu yang tidak lapuk meski umurnya sudah lebih dari seribu tahun dan berada diatas bukit dengan pemandangan yang bagus. Dari dalam kuil kita bisa memandang kota Kyoto di kejauhan. Di sekeliling kuil juga terdapat taman Jepang dan kolam-kolam jernih yang didalamnya terdapat ikan warna-warni. Turun  dari Kiyomizudera Temple kita melewati Higashiyama district yang merupakan tempat jajaran kafe-kafe dan toko cinderamata khas Jepang. Tempat ini sangat ramai, tetapi teratur dan menarik untuk berbelanja.

Tujuan berikutnya adalah Sagano bamboo forest atau hutan bambu Sagano di Arashiyama pinggiran barat Kyoto. Hutan bambu Sagano merupakan situs alam yang menyenangkan sekaligus menenangkan. Kita bisa menikmati hutan bambu Sagano dengan berjalan kaki, naik becak yang ditarik manusia atau naik sepeda. Kami memasuki hutan dengan berjalan kaki. Jalan setapak dalam hutan bambu ini sekitar 200 meter dan jika anda haus selama perjalanan, jangan kuatir, kita bisa membeli minuman botol/kaleng di mesin minuman yang tersedia di sepanjang perjalanan. Tidak hanya hutan bambu, di sekitar Sagano bamboo forest ini juga terdapat kuil  Tenryu yang merupakan kuil Zen terbesar di Jepang. Jika kita terus berkeliling kita juga akan menemukan rumah-rumah tua khas Jepang dan  taman yang indah, dan pemandangan menakjubkan di tepi sungai. Sagano bamboo forest merupakan tempat yang tepat untuk menenangkan diri dan berdekatan dengan alam.

Fushimi Inari Taisha
Menjelang senja kami melanjutkan perjalanan ke Fushimi Inari Taisha. Berbeda dengan kuil lain di Jepang, Fushimi merupakan lorong panjang dengan deretan rapat Torii (dua batang palang sejajar yang disangga dua batang tiang vertikal)  berwarna oranye.   Kuil ini terletak di lereng gunung dan untuk mencapai kuil inti , pengunjung harus mendaki ratusan anak tangga dan jalan setapak yang dinaungi Torii warna oranye yang membentuk koridor indah.  Fushimi Inari merupakan kuil untuk Inari yaitu dewa kesuburan sebagai sumber kesuksesan. Menikmati Fushimi saat senja dan lampu mulai menyala sangat mengesankan. Bangunan dan torii berwarna oranye itu akan menyala tertimpa lampu dan memancarkan aura hangat yang menentramkan.

Buah di Nishiki market
Esoknya kami mengunjungi Nishiki Market dan Gion district. Nishiki Market terletak di jantung pusat perbelanjaan Kyoto. Pasar Nishiki menjual segala jenis makanan yang dikeringkan, buah-buahan, sayuran, seafood segar juga yang sudah diawetkan, serta teh khas Jepang. Pasar Nishiki sangat teratur dan rapi. Tidak hanya untuk belanja, pasar ini juga menjadi tempat yang sangat menarik untuk para wisatawan untuk berwisata kuliner dan membeli oleh-oleh.
Tempat yang paling ingin saya kunjungi di Kyoto adalah Gion distric. Gion merupakan tempat yang sangat terkenal karena kebanyakan Geisha berada di sana. Sebagai pekerja seni mereka bekerja di restoran dan rumah teh yang ada di sekitaran Gion. Tetapi sayang, harusnya saya mengunjungi Gion pada waktu malam hari sehingga bisa bertemu Geisha, karena pada sore hari belum banyak dari mereka yang terlihat. Tidak hanya Geisha yang menjadi daya pikat Gion district, tetapi deretan rumah-rumah kuno yang masih dipertahankan keasliannya dan masih terawat dengan baik sangat menarik untuk dijelajahi. Maka meskipun tidak bisa menikmati teh sambil melihat Geisha mempertunjukkan kemampuan seninya, saya cukup terhibur melihat salah satu dari mereka berjalan menyusuri jalan Hanami-koji di areal Gion.

Distric Gion

TOKYO

Dengan gedung-gedung tinggi yang menjulang ke langit, papan-papan iklan yang artistik dan glamour serta orang-orang yang mengenakan pakaian serba hitam berjalan tergesa-gesa, lengkaplah sudah pemandangan Tokyo sebagai kota modern, masa kini, sibuk dan glamour. Dan kota ini memang cocok untuk wisatawan penggemar tempat-tempat modern dan futuristik.
Toko di Harajuku

Tetapi jangan salah, kita juga bisa menemukan kuil Sensoji atau kuil Asakusa Kannon yang tampak tradisional di tengah semua kemodernan itu. Kuil Sensoji banyak dikunjungi wisatawan dan merupakan kuil tertua di Tokyo. Untuk memasuki kuil Sensoji pengunjung harus memasuki dua gerbang. Selain sebagai tempat ibadah, area Sensoji temple juga sebagai pemujaan arwah. Di jalan sekeliling Sensoji Temple kita bisa menemukan kafe-kafe, restoran dan tempat penjualan  cinderamata. Tempat favorit saya di Asakusa adalah rooftop gedung informasi di seberang kuil Sensoji. Dari tempat itu saya bisa melihat Asakusa dari ketinggian. Benar-benar pemandangan yang indah! Kita bisa melihat Sensoji temple, deretan pertokoan, kafe dan restoran, orang lalu lalang serta Tokyo Skytree di kejauhan.
 

Dari Asakusa kami melanjutkan perjalanan ke Harajuku yang terkenal dengan banyak remaja lalu lalang mengenakan dandanan aneh-aneh. Kami memasuki Takeshita-dori dan mulai menelusuri area itu. Kegiatan yang bisa dilakukan di Harajuku selain melihat penampilan para remaja berdandan aneh adalah berbelanja. Banyak butik-butik yang menjual pakaian ajaib ala Harajuku hingga yang biasa saja. Harga yang mereka tawarkan terjangkau. Bagi penyuka belanja mungkin Harajuku bisa menjadi tempat pilihan untuk berbelanja.

Pemandangan malam Tokyo dari Rainbow Brigge
Setelah menyusuri Harajuku, hari sudah malam. Tetapi kami masih memiliki satu wish list yaitu menyeberangi Rainbow Bridge pada waktu malam hari. Saya masih paranoid terhadap ketinggian, apalagi di bawah jembatan itu laut lepas, tetapi saya tidak mungkin menyia-nyiakan tantangan menarik ini. Begitu memasuki areal jembatan, malam begitu sepi mencekam, angin bertipu kencang, hanya ada satu dua orang lewat dan dibawah sana laut lepas tampak hitam pekat. Jembatan dengan panjang 580 meter ini menghubungkan Shibaura Pier dengan Odaiba. Sepertinya akan romantis kalau menyeberangi jembatan ini waktu sunset sambil melihat pemandangan kota Tokyo di kejauhan, bukan malam hari dengan angin kencang dan suasana mencekam seperti ini. Tetapi toh, pemandangan malam dari Rainbow Bridge cukup mengesankan. Lampu-lampu diatas jembatan dan kapal yang lalu lalang di lautan menyala dikejauhan, menyuguhkan pemandangan malam yang berbeda.

Hachiko Entrance
Esoknya kami menyempatkan diri menengok Hachiko yang ada di depan stasiun Shibuya. Tempat ini sangat ramai dan banyak wisatawan ingin bertemu dengan patung anjing Hachiko. Kesetiaan anjing Hachiko menunggui majikannya pulang hingga bertahun-tahun padahal majikannya telah meninggal membuat para wisatawan terharu dan antri berfoto dengan patungnya. Drama memang selalu memikat manusia, dimanapun mereka berada.

 

Pemakaman Jepang

Beberapa hari menikmati Tokyo yang sangat modern, seorang teman asli Jepang membawa kami berkeliling pinggiran Jepang, untuk melihat hal yang berbeda. Kami dibawa mengelilingi pemakaman Jepang juga kuil-kuil di pinggiran Tokyo yang bersejarah dan masih terawat dengan baik. Jepang membuat saya takjub melihat modernisasi dan tradisional yang bersinergi tanpa harus saling mematikan. Sinergi yang menciptakan keindahan. (end).

Mengingat Desember Di Macau Mosque & Cemetery (2)


Masjid itu memang satu komplek dengan pemakaman muslim. Tampak lengang dan tidak nampak seorangpun di sana. Aku dan Meidy melangkah menuju pelataran belakang masjid yang dekat dengan pemakaman dan menemukan seorang wanita berjilbab hitam panjang sedang menangis. Aku dan Meidy saling pandang lalu memutuskan untuk duduk di samping wanita itu tanpa bicara apapun. Saat dia mengangkat wajahnya, aku bisa mengenali bahwa dia orang Indonesia. Ia tersenyum padaku dan Meidy lalu mengusap air matanya.
Masjid Macau
“Teman saya dari Indonesia sakit dan meninggal.  Dia masuk Macau dengan ilegal. Saya berharap masih bisa dimakamkan di sini,” katanya.
“Sakit apa?”
“Demam tinggi,” jawabnya. “Inilah susahnya kalau ilegal, kalau nggak dapat ijin dimakamkan di sini, kemungkinan dia akan di kremasi.”
Rumah nenek Aisha
Dan ia menangis terisak-isak lagi. Adzan dhuhur berkumandang, tampak beberapa lelaki berwajah Indonesia memasuki masjid dan mbak jilbab hitam bangkit dari duduknya untuk mengambil wudhu. Ia sempat bertanya kami siapa dan berasal dari Indonesia mana. Dalam sekejab kami sudah akrab seperti layaknya saudara. Tak lama kamipun sholat berjamaah.
Aku, nenek Aisha dan si mbak
Usai sholat jama’ah, seorang nenek masuk ke dalam masjid. Si mbak memperkenalkan kami ke nenek yang berwajah chinese ini. Beliau seorang mualaf dan tinggal di rumah mungil dekat masjid sendirian. Nama mualaf nenek ini Aisyah. Karena iman Islamnya, dia rela meninggalkan keluarganya dan hidup sendirian di usianya yang sudah renta. Subhanallah. Si mbak yang sering mengirimi nenek ini makanan setiap ke masjid. Aku jadi berkaca-kaca melihat kondisi nenek, rumahnya dan kekuatan iman Islamnya.
Karena ada titipan salam dari headwriter, aku diantar si mbak menemui imam masjid. Ternyata beliau berasal dari Sumatera. Rasanya lega setelah menyampaikan titipan salam. Kami menunggu ashar sambil menemani si mbak menunggu jenazah temannya. Tetapi sampai adzan ashar berkumandang, jenazaha tak juga datang. Ternyata si teman sudah di kremasi dan tidak bisa dimakamkan di sini. Si mbak menangis lagi, tetapi sambil terus berdoa untuk temannya.
Pemakaman di areal masjid
 Usai ashar kami memutuskan pulang. Karena tidak tahu jalan pulang ke hotel, si mbak berbaik hati mengantarkan kami sampai terminal. Sepanjang perjalanan kaki menuju terminal, si mbak cerita suka dukanya bekerja di negeri yang jauh dari kampung halaman. Tujuh tahun sudah si mbak merantau, bermula dari Hongkong. Ia bekerja untuk membiayai anak-anaknya. Pernah dikejar-kejar polisi karena berjualan asongan. Sampai kemudian dia bekerja di Macau sebagai pembantu rumah tangga. Sementara suaminya menceraikannya. “Hidup memang tidak selalu mudah, tetapi juga tidak sulit jika kita mau mensyukurinya,” katanya.
Sebelum berpisah, kami berpelukan lalu menghilang di keramaian terminal. Aku sendiri lupa nama si mbak dan lupa minta nomor handphonenya. Tetapi aku berharap suatu hari kalau aku ke Macau lagi bisa bertemu dengan Mbak ini. Semoga.

Mengingat Desember di Mesquita e Cemitério de Macau (1)

A good traveler has no fixed plans, and is not intent on arriving.  ~Lao Tzu

“Good Morning from Macau!”  kicauku di twitter pada suatu pagi di bulan Desember 2011 dari salah satu hostel mungil di dekat kawasan kasino Grand Lisboa Macau. Aku main internet sambil meringkuk di selimut.  Sebenarnya suhu cuma sekitar 18 derajat celcius, tapi buat orang tropis sepertiku sudah cukup bikin menggigil dan malas beranjak dari pembaringan.

Beberapa menit kemudian, headwriterku di sinetron series mention. “Tary lagi di Macau? Salam hormat ya untuk imam masjid Macau. Saya pernah singgah di sana beberapa waktu lalu.”  Aku membalas mention itu,”Insya Allah.” Tiba-tiba aku sadar. Waduh! “Salam” itu kan harus disampaikan dan kata “Insya Allah” itu harus diusahakan sampai titik darah penghabisan. Wah, gimana nih? Padahal aku nggak tahu dimana masjid itu! Sisi hatiku yang lain bilang “makanya ri, lain kali jangan segampang itu bilang insya Allah.”  Akhirnya aku memutuskan untuk mengubah beberapa rencana dan memasukkan agenda ke masjid Macau pada sore hari menjelang Ashar.
jalanan Macau malam hari
Setelah resign sebagai karyawan stasiun “Televisi Milik Kita Bersama” pada Agustus 2011 dan mendapati kenyataan hidup yang meleset dari rencana, aku memutuskan untuk melihat dunia di luar sana. Meidy, sepupuku yang baru pulang sekolah di Perancis bersedia menjadi travelmate-ku. Kebetulan dia juga lagi galau dan butuh hal-hal baru untuk penyegaran hidupnya. Karena perjalanan dengan paket wisata sudah pasti mahal, maka kami memutuskan backpacker ke Macau-Hongkong-Singapura dalam 12 hari. Ini pertama kalinya aku keluar negeri!

Dengan panduan buku-buku traveling dan Om Google, aku mengurus sendiri akomodasi dan transfortasi selama perjalanan ke tiga negara itu. Keder juga sih, soalnya pertama kalinya pergi dan semua ngurus sendirian.  Tujuan utamaku pergi hanya ingin melihat dunia yang berbeda dan menemukan hal-hal baru. Tetapi, mention dari headwriter-ku itu membuatku punya tujuan lain. Aku ingin sholat di masjid kota-kota yang aku kunjungi! Dan begitulah seterusnya, mencari masjid kemudian menjadi tujuan utama bagiku ketika mengunjungi tempat-tempat baru.
pendestrian di pinggir waduk
Setelah mengunjungi tempat-tempat wisata populer di Macau, aku dan Meidy naik bis menuju menuju pemberhentian terakhir di dekat pelabuhan. Menurut peta, dari sana bisa berjalan kaki ke arah masjid. Tetapi begitu turun dari bis, kami berada di sebuah perempatan dan tidak tahu harus kemana.  Tak seorangpun yang kami temi bisa berbahasa Inggris sampai akhirnya kami mengikuti insting untuk naik ke pinggiran sebuah waduk besar.  Kami bertanya menggunakan bahasa isyarat  pada orang yang kami temui kemudian dan menunjukkan peta lokasi masjid. Orang itu menunjuk ke kanan lalu ke kanan lagi. Hmm, sepertinya tidak jauh. Kami segera berjalan mengikuti petunjuk orang itu.
Kami berjalan menyusuri pendestrian pinggir waduk yang bersih dan banyak ditanami bunga warna warni. Udara sangat segar dan waduk tampak  tenang di kejauhan. Tempat ini sepertinya juga dipakai olahraga karena banyak alat-alat untuk olahraga. Tetapi setelah kami berjalan sekitar 30 menit, belokan ke masjid itu tak juga kami temukan. Dimana masjid itu? Kami terus berjalan dan bertemu mbak-mbak dan mas-mas dari Indonesia sedang bercengkerama di pinggir waduk sambil menikmati sore hari. Aku dengar mereka ngomong bahasa Jawa. “Kapan kowe mulih? Yak opo se kon iku? Gak main blas wis!” Hehehe. Sepertinya mereka berasal dari tanah kelahiranku.

alat olahraga di pinggir waduk
 Seorang cowok hitam manis yang berpapasan dengan kami senyum-senyum. Apa maksudnya ya? Ia kemudian menghampiri kami dan bertanya, “Dari Malaysia?” Meidy menggeleng. “Kami dari Indonesia.” “Mau ke masjid. Dimana ya?” Cowok itu menunjuk jalan di ujung . Waduhhh! Masih jauh rupanya. Kami kemudian pamit dan melanjutkan perjalanan menuju masjid. Cowok hitam manis itu senyum-senyum sambil melambaikan tangannya. Meidy tertawa geli.

Seperti petunjuk cowok itu, kami berbelok ke kanan. Tapi kami menemukan kelenteng. Apa masjid di sini arsitekturnya seperti ini? Tapi nggak ada tulisannya masjid? Kayaknya bukan ini deh! Mungkin masih di depan sana. Aku dan Meidy terus berjalan sampai menemukan rumah (kalau di Indonesia kontrakan kali ya). Meidy terdiam bingung. Mana masjidnya?
2011 belum populer selfie lho padahal! haha
“Mungkin masjidnya di dalam sana. Ngetuk pintu dan nanya orang aja yuk,” kataku. Tapi Meidy terdiam ragu. Aku tidak sabar dan melangkah ke halaman. Meidy mengikutiku. Semua pintu tertutup dan sangat sepi. Meidy berhenti dan mencermati petanya lagi. Aku ikut melihat peta. Tiba-tiba beberapa menit kemudian ada suara-suara napas. Kami menoleh ke arah suara. Bersamaan itu tampak anjing besar berwarna hitam di halaman agak jauh dari kami membuka matanya. Melihat orang asing, anjing itu langsung bangkit dan menyalak. Sorot matanya penuh permusuhan. Lalu, dua anjing besar lainnya datang! Ketiganya sama besarnya dan sama sangarnya!  Waaaaaaa! Ini benar-benar gila! Aku mencoba memasukkan bayangan anjing-anjing lucu, baik dan setia ke dalam otakku. Tapi kenyataannya aku tetap saja ketakutan! Nggak lucu kalau sampai digigit anjing di sini, beneran deh! OMG tolongggg!

Aku dan Meidy berdiri membeku di tengah halaman sementara tiga anjing ganas itu terus menyalak dan seperti hendak menerkam kami. Meidy memegang tanganku erat sampai lecet rasanya, sementara sekujur tubuhku dingin. Aku mulai baca-baca doa. Paling nggak semoga ada manusia muncul dari balik pintu rumah itu. Tapi tidak ada satu manusiapun. Anjing itu terus menyalak dan mendekati kami. Aku menarik lengan Meidy agar berjalan pelan-pelan keluar halaman. Aku dengar Meidy berbisik,”kalau terjadi apa-apa, maafin aku ya.” Aku diam saja dan menarik Meidy berjalan pelan-pelan keluar halaman. Begitu keluar dari halaman, aku memberi aba-aba ke Meidy,”lariiiii!” Dan kami lari tunggang langgang dikejar anjing. Kami tiba di depan gerbang tinggi sebuah bangunan lalu tanpa pikir panjang kami mendorong gerbang  yang tidak terkunci itu. Kami segera menutup gerbang dan sembunyi. Tiga anjing itu berkeliaran di luar gerbang, menyalak-nyalak dan mengendus gerbang. Hampir seperempat jam mereka di sana, baru pergi setelah putus asa tidak menemukan kami. 

waduk yang keren

Begitu situasi aman, aku dan Meidy menghela napas lega. Kami melihat sekeliling lalu membaca tulisan di gerbang. Tampak tulisan arab “Bismillah” kemudian ada huruf china dan di bawahnya (kami nggak tahu artinya apaan) dan ada lagi tulisan, “Macau Mosque and Cemetery” “Mesquita E Cemeterio De Macau.” Kami saling berpandangan lalu berpelukan senang. Alhamdulillah! Akhirnya kita menemukan masjidnya! Tapi kenapa tempat ini sangat sepi? Aku memandang berkeliling dan tidak menemukan siapapun. Ada banyak pohon menjulang tinggi dan daun-daun kering berjatuhan. Beberapa sisi juga tampak kotor dan tua. Tiba-tiba tangan Meidy mencengkeram lenganku kuat-kuat lagi.

“Lihat itu.. lihat itu.. itu kan.. itu kan…” wajah Meidy pias ketakutan. Aku menoleh ke arah telunjuk Meidy dan mendapati barisan nisan diam membeku di sana. Hah!? Ini masjid atau kuburan???
(berlanjut ke bagian 2)

CHIANG MAI- THAILAND, Beautiful Roses from The North

The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes, but in having new eyes.”  – Marcel Proust

Si mawar dari utara. Itulah sebutan untuk Chiang Mai. Setiap membaca atau mendengar sebutan itu, sebagai wanita saya selalu membayangkan sesuatu yang romantis, indah dan dramatis. Dan keinginan saya mengunjungi Chiang Mai-pun semakin besar dari hari ke hari. Maka dalam serangkaian perjalanan ke beberapa kota di Thailand saya meng-agendakan untuk singgah di Chiang Mai selama tiga hari yang kemudian menjadi empat hari karena rasa penasaran saya tentang kota ini.

Chiang Mai merupakan ibukota kerajaan kuno Lanna pada abad 13, asal muasal bangsa Thailand yang kemudian berlanjut ke Sukhotai, ibukota pertama Thailand. Sebagai kota kedua terbesar di Thailand, Chiang Mai memiliki daya tarik tersendiri di banding kota lain di Thailand. Jika Bangkok merupakan kota modern dan surga belanja maka Chiang Mai adalah kota yang tenang, nyaman, sejuk dan ramah. Sangat cocok untuk berlibur rileks dan menenangkan diri. Berjarak sekitar 700 kilometer dari Bangkok dan dapat ditempuh melalui perjalanan udara selama 1 jam 15 menit atau menggunakan perjalanan darat sekitar 10 jam. Chiang Mai terletak di antara pegunungan yang membentuk daerah utara Thailand sehingga memiliki pemandangan yang indah dan udara yang sejuk.

Saya sendiri melakukan perjalanan dengan rute Jakarta – Phuket – Chiang Mai. Jarak tempuh Phuket – Chiang Mai sekitar 1200 kilometer atau 1 jam 45 menit perjalanan udara. Tiba di Chiang Mai sudah jam 9 malam, tetapi begitu menginjakkan kaki di bandara saya malah merasa seperti pulang ke negara saya sendiri. Seorang teman traveler nyeletuk saat saya senyum-senyum sendiri, “hmm, welcome to your second home.” Ya, saya juga merasa aneh merasa begitu nyaman menginjakkan kaki di kota itu. Chiang Mai kota yang tenang, nyaman, tidak mengundang banyak kecurigaan seperti kota lain di Thailand. Saat sopir taksi mengantar saya ke hostel saya bisa memercayainya lebih banyak ketimbang di Bangkok atau di Phuket. Hampir tengah malam ketika saya sampai di hostel dengan gaya yang unik ala tatami di Jepang. Meski letih saya susah tidur karena tidak sabar menunggu menjelajahi Chiang Mai esok harinya.
KOTA KUNO dan SITUS-SITUS BUDAYA


Pagi-pagi, saya dan seorang teman traveler sudah tidak sabar untuk menjelajahi Chiang Mai. Hari itu kami menjadwalkan untuk mengelilingi kota kuno, mencari masjid pada waktu sholat dhuhur serta makanan halal di sekitar masjid untuk makan siang. Dan mulailah perjalanan menyenangkan itu. Dengan berbekal peta kami menyusuri trotoar kota kuno Chiang Mai.
Kota kuno Chiang Mai merupakan wilayah bujur sangkar yang menjadi pusat kota Chiang Mai. Kota kuno ini dikelilingi oleh parit yang luas dan bersih tanpa sampah. Selain lokasi bujur sangkar ini dikelilingi parit juga dibatasi oleh puing-puing tembok kota yang masih berdiri kokoh di beberapa tempat. Untuk melindungi dan mempertahankan kota kuno ini pemerintah Chiang Mai melarang pembangunan gedung pencakar langit dengan jarak tertentu dari kota kuno. Berjalan mengelilingi kota kuno saya seperti merasakan kerajaan Lanna pada masa lalu yang berdiri di area ini.

Di dalam kota yang di kelilingi tembok dan parit ini, saya menemukan banyak sekali wat (candi) indah yang didirikan sejak abad 13 sejak pendiriang kota Chiang Mai oleh Raja Mengrai. Beberapa candi yang saya kunjungi adalah Wat Chedi Luang yang didirikan pada tahun 1941, berada di dalam kota kuno dengan gaya arsitektur Lanna. Lalu Wat Phra Singh, berlokasi di kota kuno dan didirikan pada tahun 1345. Wat ini berasitektur utara Thailand. Wat yang paling terkenal di Chiang Mai adalah Wat Phrathat Doi Suthep yang berada di ketinggian bukit sebelah barat laut kota. Ada sekitar 300 wat di pelosok Chiang Mai yang membuat kota sangat kaya dengan situs-situs bersejarah.


 Setelah memasuki beberapa wat saya meneruskan perjalanan menuju pintu gerbang utama tembok kota di Chiang Mai yang terkenal dengan nama Tha Phae. Banyak sekali wisatawan asing menuju pintu gerbang Tha Phae dan berfoto-foto di sana. Saya semakin penasaran seperti apa melewati gerbang ini. Ketika saya menyeberang dan memasuki gerbang Tha Phae saya seperti melihat dua peradaban yang kontras dan menakjubkan. Di dalam tembok, saya bisa merasakan aura kerajaan Lanna di masa lalu dengan situs-situs bersejarah yang dilindungi dan dilestarikan sementara di luar tembok saya melihat kemodernan seperti restoran, café-café dengan arsitektur modern bertebaran. Seperti mengunjungi dua peradaban di satu kota.
Puas berkeliling kota tua, saya meneruskan perjalanan mencari masjid yang berada tidak jauh dari lokasi kota kuno. Menemukan masjid di kota asing selalu menjadi agenda saya dalam setiap traveling. Setelah berjalan beberapa saat saya menemukan sebuah masjid dengan tempat makan halal di seberang jalan depan masjid. Usai shalat dhuhur saya memutuskan untuk makan siang di tempat makan halal itu. Pemilik tempat makan itu menemani saya makan bahkan menyendokkan makanan ke piring saya dan mengajak mengobrol lama. Menemukan saudara seiman saat traveling selalu saja meneduhkan hati dan selalu ingat pada Allah SWT.
WHITE TEMPLE, GOLDEN TRIANGLE dan LONG NECK KAREN

Hari kedua saya menjadwalkan ikut tour ke Chiang Rai untuk melihat White Temple, Golden Triangle dan Long Neck Karen. Chiang Rai semakin terkenal dengan perpaduan alam yang eksotis dan wisata-wisata petualangannya. Dengan menggunakan mobil ELF yang nyaman saya bersama tujuh wisatawan dari berbagai negara berangkat ke Chiang Rai. Dalam perjalanan, kami sempat mampir ke Hot Spring Chiang Rai dan merebus telur di sumber air panas tersebut sebelum menuju  White Temple.
Setengah jam kemudian, kami sampai di White Temple sebuah wat yang megah dan semuanya serba putih. White Temple atau Wat Ron Kun ini merupakan ide seorang seniman Thailand Chalermchai Kositpipat yang ingin membangun kuil serba putih. Untuk memasuki kuil ini kami melewati semacam jembatan yang dibawahnya terdapat patung-patung berupa tangan dan manusia yang sedang menggapai-gapai ke udara. Kami melepaskan alas kaki saat memasuki wat dan melihat ke dalam kuil. Tampak ikon budaya dan kontemporer di dinding wat seperti gambar superman, kapal luar angkasa, doraemon bahkan Neo Matrix ada di dinding ini. Terlihat unik. Keluar dari kuil kami mengelilingi sisi halaman lain white temple dan melihat bangunan megah keemasan yang ternyata toilet. Saya bertanya-tanya apa sebenarnya pesan yang disampaikan oleh sang seniman melalui bangunan toilet emas ini dan belum menemukan jawabannya. Usai mengelilingi White Temple kami melanjutkan perjalanan ke Golden Triangle.


Golden Triangle merupakan wilayah perbatasan Thailand dengan Laos, Myanmar dan China. Perbatasan ini hanya dipisahkan oleh delta pertemuan sungai Mekong dan sungai Ruak. Golden Triangle ini dahulu merupakan rute perdagangan dan penyeluncupan candu dan sangat identik dengan opium. Tetapi opium di Golden Triangle sekarang tinggal sejarah. Setiap tempat dijaga dengan ketat untuk menindak tegas para pengedar opium baik warga lokal maupun mancanegara. Kami baik boat menyusuri sepanjang sisi sungai dan melihat lebih dekat perbatasan ini.  Tampak sebuah patung Budha keemasan di wilayah Thailand, bangunan Kasino di wilayah Myanmar dan pasar yang ada di wilayah Laos. Untuk memasuki pasar di wilayah Laos ini kami bisa masuk tanpa imigrasi. Pasar ini menjual berbagai souvenir Laos dan beberapa produk seperti tas yang ternyata produk China. Usai makan siang, kami sempat mengunjungi Mae Sai, wilayah Thailand paling utara. Wilayah ini berbatasan langsung dengan Myanmar hanya dengan border sungai dan jalan raya. Sebenarnya kami bisa masuk ke wilayah Myanmar dengan menunjukkan passport melalui perbatasan ini, tetapi kami masih memiliki tujuan lain yaitu Long Neck Karen dan hari sudah menjelang sore. Karena itu kami segera melanjutkan perjalanan.

Sudah senja saat kami tiba di Long Neck Karen, satu-satunya tempat yang menjadi tujuan utama saya mengunjungi Thailand. Long Neck Karen atau suku leher panjang sangat terkenal dan diliput berbagai media karena keunikannya, saya ingin melihat mereka. Memasuki area Long Neck Karen kami langsung melihat pemandangan unik dengan pakaian tradisional mereka dan leher berhias gelang yang tampak sangat berat. Mereka memercayai bahwa semakin panjang lehernya maka semakin cantik. Proses pemakaian gelang tersebut dilakukan pada anak perempuan sejak usia 5 tahun. Tumpukan gelang tersebut akan ditambah setiap dua sampai tiga tahun sekali. Gelang seberat 7 kilogram pada para wanita Karen ini boleh dilepas pada saat-saat tertentu misalnya persalinan, sedang sakit dan ingin muntah atau saat pernikahan. Gelang besi ini baru benar-benar boleh dilepas saat meninggal dunia. Selain mencoba gelang yang berat ini kami sempat menikmati tarian mereka yang lincah dan ceria. Hari sudah malam saat kami kembali ke Chiang Mai.
SUNDAY WALKING MARKET, KULINER dan BELANJA MURAH


Seorang teman menyarankan saya memperpanjang waktu untuk menikmati Sunday Walking Market di Chiang Mai. Saya rasa saran itu sangat tepat. Sunday Walking Market nyaris mirip dengan Malioboro di Yogyakarta tetapi areanya sangat luas. Saya dan seorang teman sampai letih menyusuri area pasar dadakan di hari minggu ini. Tetapi belanja dan menikmati kuliner khas Thailand membuat kami tak memedulikan kaki yang mulai menjerit-jerit minta diistirahatkan. 


Sepanjang area Sunday Walking Market kami menemukan penjual pakaian, souvenir, makanan, pertunjukan seni bahkan tukang pijat. Ramai dan seru! Di sini kita bisa membeli berbagai macam souvenir khas Thailand yang sangat menarik dengan harga yang menarik juga karena setengah dari harga yang ada di Bangkok. Tak hanya souvenir-souvenir lucu, di area ini kami juga menemukan berbagai macam kuliner khas Thailand seperti Pad Thai dan Tom Yam yang berbahan dasar mie dan sea food. Sunday Walking Market ini mengakhiri malam saya di Chiang Mai sebelum esoknya saya melanjutkan perjalanan.
Chiang Mai, kota kuno yang tenang, ramah dan sejuk ini meninggalkan kesan yang spesial bagi saya. Jika anda menyukai tempat berlibur yang tenang dan tentu saja murah, maka Chiang Mai bisa menjadi pilihan menarik. Selamat berlibur!
 Published : Annisa Magazine 2013

Bangkok, The Venice Of The East’

“The world is a book and those who do not travel read only one page.” – Augustine of Hippo

 

Seorang teman dari Canada mengatakan, “no city like Bangkok.” Saya rasa kekaguman teman saya itu ada benarnya. Bangkok merupakan sebuah kota yang lengkap dengan keindahan budaya masa lalu dan antusiasme penuh akan hal-hal baru. Tidak hanya lokasi-lokasi wisata bernilai budaya warisan masa lalu yang unik dan menarik, tetapi Bangkok juga menyediakan kemodernan yang terus berkembang. Bangkok mampu menjadi pusat regional yang dapat menyaingi Singapura dan Hongkong. Tak hanya itu, Bangkok yang murah juga menjadi surga para backpacker dan destinasi favorit teratas di Asia bagi wisatawan dunia. Khaosan Road merupakan kawasan backpacker terkenal di Bangkok.

 

Selain destinasi-destinasi wisata Bangkok yang menarik, belanja selalu menjadi tujuan beberapa wisatawan Indonesia mengunjungi Bangkok. Saya mencoba melakukan hal yang sedikit berbeda untuk menikmati Bangkok. Diantaranya dengan menyusuri sungai Chao Phraya, menonton pertunjukan Siam Niramit, menengok harian Bangkok Post dan menonton Bioskop di Bangkok. Tertarik menjadikan Bangkok sebagai destinasi anda berikutnya? Simak perjalanan saya kali ini sebelum anda melakukan perjalanan ke negeri Gajah Putih itu.

SUNGAI CHAO PHRAYA ‘THE VENICE OF THE EAST’

 

Menyusuri sungai Chao Phraya merupakan salah satu cara yang saya pilih untuk menikmati Bangkok. Banyak wisatawan asing juga memilih menikmati Bangkok dengan cara menyusuri sungai ini. Chao Phraya adalah sungai terpanjang dan terpenting di Thailand yang membelah Bangkok dari utara hingga selatan.  Memiliki panjang 372 kilometer yang mengalir dari utara Thailand menuju ke Teluk Thailand (Teluk Siam) di selatan. Hulu sungai Chao Phraya ini berada di Sungai Ping.

 

Memiliki air berwarna coklat namun bersih dari sampah, sungai Chao Phraya tampak selalu ramai dari siang hingga malam. Selain kapal pengangkut barang yang hilir mudik, kita bisa melihat kapal-kapal wisatawan menyusuri setiap tepian sungai Chao Phraya. Di setiap dermaga pemberhentian banyak ditawarkan paket wisata menyusuri sungai Chao Phraya dengan berbagai harga dan penawaran wisata yang menarik. Saya memulai perjalanan dari salah satu dermaga pemberhentian dan membeli tiket single trip seharga 40 THB yang akan mengantarkan saya hingga ke akhir perjalanan. Awalnya ingin membeli tiket trip seharga 150 THB agar bisa naik turun boat seharian, tetapi karena waktu yang sempit dan saya harus menuju tempat lain saya memilih single trip ini. Dan meski saya hanya membeli tiket single trip ternyata cukup menyenangkan. 


Sepanjang perjalanan saya bisa menikmati Bangkok dari sungai Chao Phraya. Ada pos-pos pemberhentian menarik di sepanjang perjalanan yang merupakan lokasi  wisata terkenal di Thailand seperti : Grand Palace yang berada di area Rattanakosin, Wat Arun , Wat Pho atau patung buddha sedang istirahat dan Chinatown. Kita juga bisa menikmati gedung pencakar langit yang menjulang dari sepanjang sungai Chao Phraya. Bangkok tampak lengkap dinikmati dari perjalanan menyusuri sungai ini, kota dengan warisan masa lalu yang kaya dan kemodern-an masa kini yang penuh semangat. Tak heran jika dengan wisata sungai Chao Phraya ini Bangkok juga dikenal dengan sebutan The Venice of the East.

KUIL, MADAME TUSSAUDS dan TEMPAT MENARIK LAINNYA

 

Selain kemodernan yang terus berkembang pesat, Bangkok memiliki warisan budaya yang sangat banyak dan tak ternilai harganya. Ada sekitar 400 kuil yang tersebar di Bangkok. Beberapa yang terkenal adalah ; Grand Palace dan Wat Phra Kaeo yang merupakan istana raja. Grand Palace buka mulai pukul 8.30 sampai 3.30 sore. Mengunjungi Grand Palace harus mengenakan pakaian yang sopan dan bersepatu. Jangan tergoda bujukan sopir tuk-tuk yang mengatakan bahwa Grand Palace buka pukul 1 siang karena mereka akan mengajak anda berkeliling kota dengan menarik biaya mahal sehingga anda terlambat mengunjungi Grand Palace.

 

Kuil terkenal lain yang saya kunjungi adalah Wat Pho, terletak di dekat Grand Palace, kuil ini dibangun 1688 sebagai tempat Reclining Buddha. Terdapat patung berlapis emas yang panjangnya 46 meter dan tingginya 15 meter dengan mata dan kaki yang dilapisi kerang mutiara. Untuk memasuki tempat ini juga diharapkan mengenakan pakaian yang sopan dan pantas. Wat Pho buka jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Lalu saya melanjutkan perjalanan dengan mengunjungi Wat Arun (Temple of Dawn) yang terletak di tepi sungai Chao Phraya. Wat Arun memantulkan cahaya yang indah karena dilapisi porselen.

 

 

Tempat menarik lain yang bisa dikunjungi adalah Erawan Shrine yang merupakan patung pemujaan Dewa empat muka yang sakti. Banyak  wisatawan manca negara ke sini untuk bersembahyang. Selain kuil, kita bisa juga mengunjungi Jim Thompson House yang sangat terkenal dengan koleksi sutra Thai-nya. 


Dan jangan lupa mengunjungi Madame Tussauds (museum patung lilin orang-orang terkenal) yang berlokasi di Siam Square (Siam Discovery) karena di tempat ini kita bisa menemukan Bapak Proklamator kita Soekarno diabadikan dalam patung lilin bersama para pemimpin dunia hebat yang lain. Melihat patung lilin beliau berada di antara deretan patung lilin pemimpin hebat dunia rasanya sangat membanggakan sebagai bangsa Indonesia.

MENONTON SIAM NIRAMIT, THAI BOXING dan BIOSKOP

 

Mungkin bagi sebagian wisatawan menonton bioskop bukanlah sesuatu yang ingin dilakukan di negeri asing karena berpikir bahwa di Indonesia-pun kita bisa menonton bioskop. Tapi saya justru ingin melakukannya karena sensasinya pasti berbeda. Menonton ‘Breaking Dawn’ dengan subtittle bahasa Thailand yang tentu saja tidak saya mengerti saja sudah asyik, apalagi ikut berdiri mendengarkan semua penonton menyanyikan lagu kebangsaan Thailand sebelum pertunjukan dimulai menjadi sesuatu yang sangat berbeda.

 

Tak hanya menonton bioskop, pertunjukan yang membuat saya terkagum-kagum adalah SIAM NIRAMIT, Journey to the Enchanted Kingdom of Siam. Pertunjukan yang kental nuansa budaya Thailand ini menceritakan kerajaan-kerajaan di Thailand sekaligus kehidupan masyarakat Thailand. Semua budaya Thailand yang eksotis ditampilkan dalam pertunjukan spektakuler yang berdurasi dua jam ini. Gedung pertunjukan yang megah dengan teknik panggung yang luar biasa ini juga merupakan gedung pertunjukan terbesar di dunia dan masuk dalam Guinness World Record. Tak hanya tempat pertunjukannya yang luar biasa, para penari, teknik panggung, lighting, kostum dan cerita yang disuguhkan sangat menarik sehingga tidak membosankan. Penonton pertunjukkan juga dilibatkan langsung dalam pertunjukan dengan diajak maju berpentas di depan atau penari tiba-tiba muncul di tengah penonton. Selama dua jam tak henti tepuk tangan penonton dari berbagai bangsa terus bergemuruh mengagumi pertunjukan ini. Sayang kami dilarang memotret di dalam gedung pertunjukan.
 
Dan jika anda penggemar pertunjukan lain yang berupa tantangan maka anda tak boleh mengabaikan Thai Boxing. Di  MBK, salah satu mall besar di Bangkok pertandingan Thai Boxing diadakan setiap Rabu mulai pukul 6 petang. Nah, tertarik menikmati Bangkok? Anda bisa memilih cara anda sendiri yang berbeda dan lebih menarik. Selamat jalan-jalan!
 
(Published : Sekar Magazine)

Pontianak, Kota Katulistiwa

“Not all those who wander are lost” – JRR. Tolkien

 Tengah hari saat matahari tepat di atas kepala saya mendarat di Bandara Supadio, Pontianak. Matahari sangat terik dan udara begitu panas melebihi Jakarta. Tetapi udara yang panas tak mengurangi semangat saya untuk menjelajahi kota ini.  Setiap tempat selalu menawarkan pesona dan pembelajaran yang berbeda bagi  penjelajah, juga kota yang satu ini.  Bukankah setiap tempat di Indonesia selalu punya sisi unik dan menarik? Banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi di Kota Khatulistiwa ini mulai dari wisata alam, sejarah, budaya dan kuliner. Ayo, kita susuri kota ini dan kita temukan sisi menariknya! 

ISTANA KADRIAH

Kota Pontianak  mulanya di bangun di tengah persimpangan Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Landak, yang dikenal dengan nama Kampung Dalam Bugis.  Istana Kadriah merupakan cikal bakal lahirnya Kota Pontianak.  Dibangun  pada tahun 1771 M dan baru selesai tahun 1778 M.  Sultan pertama yang memerintah kesultanan Pontianak adalah Sayyid Syarif Abdurahhman Alkadri. Dalam perkembangannya, istana ini telah mengalami beberapa kali renovasi hingga seperti yang kita lihat sekarang. Sultan ke -6, yaitu Sultan Syarif Muhammad Alkadri tercacat sebagai salah satu Sultan yang merenovasi istana ini secara besar-besaran.



Istana Kadriah terletak di Kampung Beting, Kelurahan Dalam Bugis, tidak jauh dari pusat Kota Pontianak.  Lokasi ini dapat dijangkau menggunakan jalur darat maupun jalur sungai.  Melalui jalur darat kita bisa melewati jembatan  Sungai Kapuas sedangkan jalur sungai bisa menggunakan sampan atau speed boat dari pelabuhan Senghie.
Memasuki halaman istana kita masih bisa merasakan sisa kemegahan Istana Kadriah pada masanya. Halaman yang luas dan ditumbuhi rumput terasa lapang ketika dipandang, dibagian depan tampak meriam kuno buatan Portugis. Menginjakkan kaki di anjungan istana, kita bisa melihat tempat peristirahatan Sultan. Dari tempat ini konon, Sultan beristirahat sambil melihat pemandangan Sungai Kapuas dan Sungai Landak yang indah. Di pintu utama terdapat hiasan ornamen bulan dan bintang. Warna kuning mendominasi ruang ketika memasuki balairung. Di balairung ini pengunjung bisa melihat foto-foto Sultan dan keluarganya, lampu kesultanan pada masanya, lampu hias, kipas angin, kaca seribu wajah juga singgahsana Sultan dan Permaisuri. Kami diijinkan foto di depan singgahsana tetapi tidak boleh duduk diatasnya.

Selain balairung di sisi kiri dan kanan terdapat 6 kamar tidur, salah satunya adalah kamar tidur Sultan lengkap dengan tempat tidur Sultan yang juga bernuansa kuning, sementara kamar yang lainnya dulu merupakan kamar mandi dan ruang makan. Di bagian belakang terdapat satu ruangan besar yang berisi benda-benda warisan Kesultanan Pontianak seperti pakaian Sultan dan Permaisurinya, foto-foto, senjata dan arca.  Pengunjung tidak dipungut biaya saat mengunjungi istana ini, namuan seorang ibu yang mengaku sebagai  cucu  kesekian sultan mengingatkan pada pengunjung untuk menaruh uang sumbangan di kotak.   Istana Kadriah merupakan salah satu peninggalan yang sangat bernilai, semoga terus dilakukan perawatan dengan baik sehingga peninggalan bersejarah ini tidak rusak dimakan waktu.

MASJID  JAMI’ PONTIANAK


Selain Istana Kadriah, masjid Jami’ Pontianak yang juga dikenal dengan nama Masjid Sultan Syarif Abdurrahman ini merupakan bangunan bersejarah sebagai tonggak berdirinya kota Pontianak. Lokasi masjid ini satu kawasan dengan Istana Kadriah, tidak jauh dari pusat kota Pontianak dan bisa ditempuh melalui jalur darat maupun sungai.

Masjid Sulatn Syarif Abdurrahman adalah masjid tertua dan terbesar di kota Pontianak. Masjid dengan undakan berasitektur Jawa dengan mahkota berasitektur Eropa ini mayoritas kontruksi bangunan terbuat dari kayu belian. Pagar, lantai, dinding, menara dan bedug besar semuanya terbuat dari kayu belian. Tonggak utama masjid yang terdiri dari 6 buah juga terbuat dari kayu belian dan diperkirakan sudah berusia 170 tahun. Masjid ini berbentuk panggung dan memiliki kolong di bawah lantainya, berada tepat di atas sungai Kapuas.  Seperti pada Istana Kadriah, pengunjung tidak dipungut biaya saat mengujungi tempat bersejarah itu.

TUGU KHATULISTIWA
Keistimewaan Pontianak adalah salat satu kota di dunia yang tepat dilintasi garis khatulistiwa. Karena itu ibu kota Kalimantan Barat ini mendapat julukan Kota Khatulistiwa. Sebagai keistimewaan sekaligus mengukuhkan julukan itu, dibangunlah sebuah tugu yang letaknya persis di pinggir Sungai Kapuas.

Tugu Khatulistiwa atau Equator Monument berada di Jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara, Propinsi Kalimantan Barat. Lokasinya berada sekitar 3 km dari pusat Kota Pontianak, ke arah kota Mempawah. Tugu ini menjadi salah satu ikon wisata Kota Pontianak dan selalu dikunjungi masyarakat, khususnya wisatawan yang datang ke Kota Pontianak.
Pada bulan Maret dan September, Tugu Khatulistiwa  sangat istimewa karena pada tengah hari ketika matahari mencapai titik kulminasi dan tidak menciptakan bayangan. Selain melihat bayangan yang hilang pada bulan itu juga ada  festival dan atraksi budaya untuk wisatawan.

MAKANAN & OLEH-OLEH KHAS PONTIANAK
Mengunjungi Pontianak belum lengkap kalau belum berwisata kuliner. Saya mencicipi makanan khas Pontianak salah satunya adalah bubur pedas, kuliner yang diklaim sebagai makanan khas dari Sambas.  Saya mengira bahwa bubur ini akan terasa sangat pedas sesuai namanya, tapi ternyata saya salah. Bubur ini bercita rasa gurih dan segar dengan berbagai aroma sayuran.  Bubur pedas terbuat dari beras yang disangrai bersama kelapa parut, setelah ditumbuk dan berasnya pecah baru dimasak dalam air mendidih dan ditambahkan tetelan daging. Setelah itu dibubuhi aneka sayuran. Sayur yang paling umum digunakan adalah, kangkung, kacang panjang, pakis, umbi merah dan daun kesum. Daun kesum inilah yang membuat bubur beraroma beda dan bercita rasa unik. Pelengkap nikmat makan bubur pedas adalah ikan teri goreng, kacang tanah goreng, sambal, jeruk sambal dan kecap manis.  

Selain makanan khas Pontianak yang saya coba, kita juga bisa membeli oleh-oleh khas Pontianak di jalan Pattimura seperti air minum lidah buaya, jeruk Pontianak, keripik keladi, lempok durian, dodol buah dan manisan.  Tak hanya makanan, Pontianak juga memiliki souvenir-souvenir unik seperti kaos bertuliskan Khatulistiwa atau Pontianak, gantungan kunci Bornoe, hiasan dinding dari ukiran Dayak serta kain-kain khas Pontianak.  Kota Khatulistiwa ini menawarkan berbagai hal yang menarik untuk dikunjungi. Tertarik untuk berkunjung?  Jangan ditunda lagi!

Seoul


ROMANTISME DRAMA ASIA

“There are no foreign lands. It is the traveler only who is foreign.” – Robert Louis Stevenson


Sejak lama negeri ini disebut sebagai negeri ginseng, lalu negeri K-Pop atau negeri K-Drama. Tetapi, saya memiliki panggilan sendiri setelah mengunjunginya. Negeri romantis. Bagaimana tidak? Menyusuri jalanan kota Seoul mata saya terperangkap oleh pemandangan yang bernuansa cinta di mana-mana. Manis dan romantis. Pasangan-pasangan remaja yang berjalan bergandengan serta mengenakan baju yang sama, berfoto mesra dengan tangan terkait membentuk gambar hati, kafe-kafe unik bernuansa cinta bahkan kue bergambar hati. Saya seperti sedang menyaksikan drama series Korea yang romantis sehingga saya enggan meninggalkannya. Korea Selatan memiliki banyak tempat menarik untuk dikunjungi. Tertarik? Simak perjalanan saya menyusuri kota Seoul.

GYEONGBOKGUNG PALACE dan NAMSAN HANOK VILLAGE.
Di tengah-tengah nuansa modern Seoul yang semarak, kita bisa menemukan peninggalan budaya yang bernilai tinggi dan terjaga kelestariannya. Saya mengunjungi salah satu istana tertua yaitu Gyeongbokgung Palace. Istana ini dibangun pada tahun 1394 pada masa dinasti Joseon dan merupakan istana terbesar di Seoul. Seluruh bangunan tampak terawat dengan baik dan terjaga sehingga tidak tampak bahwa bangunan ini telah berumur ratusan tahun. 

 Tak hanya istana tertua yang menarik perhatian saya. Hal klasik lain yang berada ditengah kota dan menyatu dengan kemodernan adalah Namsan Hanok Village. Namsan Hanok Village merupakan perkampungan hanok (rumah tradisional Korea). Berada di lahan seluas 8000 m2, Namsan Hanok Village merupakan replika rumah-rumah Korea kuno yang menarik. Lokasi ini terbagi menjadi beberapa bagian yaitu : perkampungan hanok, taman kuno Korea dan tempat pameran kebudayaan Korea. 

 GWANGHWAMUN SQUARE dan CHEONGGYECHEON STREAM

Saya mengunjungi kedua tempat ini sore hari dan saya rasa memang waktu yang tepat. Langit merona merah dan air mancur berwarna-warni di depan patung Admiral Yi Sun-shin mulai menyala dan saya kembali melihat pasangan-pasangan romantis berkejaran di antara air mancur. Gwanghwamun square merupakan pusat kota Seoul dan berlokasi di sepanjang depan Gwanghwamun Gate. Di sini terdapat patung Admiral Yi Sun-shin seorang laksamana yang berhasil menaklukkan perahu-perahu Jepang pada zaman Perang Myeongryang dan patung raksasa King Sejong, raja yang menciptakan Hangeul atau bahasa Korea. Di rute bawah tanah kita bisa melihat pameran-pameran foto sejarah King Sejong dan area pameran foto-foto renovasi Gwanghwamun square.

Setelah menyusuri beberapa tempat yang menawarkan hal-hal klasik di kota Seoul, saya ingin mengistirahatkan kaki yang letih. Hanya perlu waktu sekitar sepuluh menit menyeberang jalan dari Gwanghwamun square untuk menuju Chenggyecheon stream. Saya mengunjungi tempat itu saat weekend dan ramai oleh pameran serta pertunjukan musik.  Chenggyecheon stream sebenarnya sungai kecil yang jernih membelah kota Seoul.  Sebuah suasana pedesaan yang dibawa ke tengah perkotaan yang besar dan modern. Kebersihan sungai ini sangat terjaga dan tidak saya tidak melihat sedikitpun sampah. Bahkan batu-batu di sungai ini tidak berlumut. Banyak pengunjung yang duduk-duduk di sepanjang sungai ini sambil mencelupkan kaki atau melompati batu-batu di tengah sungai ke arah seberang. Saya membuka sepatu dan mencelupkan kaki di sungai ini sambil menikmati es krim yang saya beli di sebuah minimarket. Sungguh senja yang mempesona!

MAKANAN KHAS KOREA SELATAN

Makanan khas Korea yang terkenal dan saya coba diantaranya adalah :  kimchi, bulgogi, bibimbap dan dakgalbi.  

Bulgogi adalah masakan daging asal Korea. Daging yang digunakan antara lain daging sirloin atau daging sapi yang bagus. Bumbu Bulgogi adalah campuran kecap asin dan gula ditambah bumbu lain bergantung pada resep asal di Korea.
Bibimbap atau Bibimbab adalah makanan Korea berupa semangkuk nasi putih dengan lauk di atasnya berupa sayur-sayuran, daging sapi, telur dan sambal gochujang. Sebelum dimakan, nasi dan lauk diaduk menjadi satu.
Kimchi adalah makanan tradisional Korea, salah satu jenis asinan sayur hasil fermentasi yang diberi bumbu pedas. Setelah digarami dan dicuci, sayuran dicampur dengan bumbu yang dibuat dari udang krill, kecap ikan, bawang putih, jahe dan bubuk cabai merah. Sayuran yang paling umum dibuat kimchi adalah sawi putih dan lobak. Kimchi selalu dihidangkan di waktu makan sebagai salah satu jenis banchan yang paling umum. Kimchi juga digunakan sebagai bumbu sewaktu memasak sup kimchi, nasi goreng kimchi dan berbagai masakan lain.
Dakgalbi merupakan satu dari beberapa makanan populer yang terbuat dari potongan ayam berbentuk dadu yang direndam dalam pasta cabai. Cara memasaknya ditumis dengan campuran kubis, ubi jalar, daun bawang, bawang bombay dan kue beras.

NAMI ISLAND dan GEMBOK CINTA

Penggemar K-drama pasti tidak asing dengan drama series Winter Sonata, Boys Before Flowers, Full House, Princess Hours, Coffee Prince. Atau drama series klasik Hwang Yin Ji, Daejanggeum (Jewel in the palace) dan The Great Queen Seondeok. Sebagian turis datang karena terpikat lokasi-lokasi drama yang menarik seperti lokasi Winter Sonata di Pulau Nami atau lokasi Daejanggeum di Pulau Jeju. Saya menyempatkan diri mengunjungi Nami Island yang terletak 63 km dari Seoul. Nami Island adalah lokasi shooting drama Winter Sonata yang terkenal. 

Memasuki kawasan Nami Island, saya langsung disergap suasana yang sejuk, teduh dan romantis. Patung dan poster pemeran drama Winter Sonata menjadi incaran para wisatawan untuk berfoto. Saya sendiri lebih menyukai pohon-pohon yang berjajar rindang di beberapa tempat juga kafe-kafe yang bangunannya sangat unik.  Saya membayangkan tempat ini lebih indah pada musim gugur tiba. Daun-daun kekuningan dan berguguran. Area seluas 480.000 m2 ini juga bisa dikelilingi dengan mengendarai sepeda. Terdapat tempat penyewaan sepeda bagi wisatawan yang ingin bersepeda. 

Tempat romantis lain yang saya kunjungi adalah lokasi Gembok Cinta di NSeoul Tower yang berada di Gunung Namsan. Lokasi Nseoul Tower dan tempat parkir bus lumayan jauh dengan jalanan yang mendaki. Dengan sedikit perjuangan saya akhirnya bisa mendaki sampai Nseoul Tower dan melihat dari dekat lokasi Gembok Cinta yang terkenal itu. Pasangan-pasangan yang sedang jatuh cinta menaruh nama mereka di gembok warna-warni itu dan menguncinya dengan harapan cinta mereka akan abadi selamanya.

TEMPAT BELANJA

Tak hanya peninggalan tradisional yang dipertahankan dan menjadi tempat wisata menarik, kebanyakan wanita ke Korea untuk belanja. Disana tersedia berbagai merk kosmetik seperti Etude, Skinfood, Missha yang bisa didapatkan dengan murah dibanding ketika membeli di Jakarta. 
 

 
Counter kosmetik bisa ditemukan hampir dimana saja. Selain kosmetik, para wanita bisa memuaskan diri dengan membeli pakaian dengan harga miring dan kualitas bagus made in Korea di Dongdaemun market atau souvenir-souvenir lucu di Namdaeum atau Insa-dong. Jika sebelumnya saya bukan tipe yang suka belanja dan kosmetik, tetapi Korea Selatan membuat saya belanja dan menyukai kosmetik. Bagaimana dengan anda? Tertarik menghabiskan liburan di sana?

(pernah dimuat majalah Sekar)

Ujunggenteng, Indonesia

PANTAI & JALAN TANPA UJUNG YANG MISTIS

“Travel is more than the seeing of sights; it is a change that goes on, deep and permanent, in the ideas of living.” – Miriam Beard”
 

 

Bagi saya pantai ini biasa saja, tidak memiliki keistimewaan yang membuat saya langsung jatuh cinta. Memiliki pasir coklat dan bentuk pantai yang memanjang, tak banyak yang bisa dinikmati saat senja. Tapi benarkah begitu? Saya tetap yakin kalau setiap tempat itu memiliki detail keistimewaan tersendiri yang mungkin belum saya temukan saat pandangan pertama.  

Maka saya akan berburu keistimewaan itu sampai menemukannya. Dari air terjun ratu yang menjulang, lalu kawasan air terjun yang membentuk semacam ceruk, dari kejauhan tempat ini nyaris seperti Tanah Lot, tapi memang begitu orang-orang menyebutnya karena mirip sekali, mencoba makanan khas tepi pantai  dan nongkrong malam-malam bersama tukang ojek di sebuah warung makan. Tapi saya tetap belum menemukannya dan saya belum putus asa.


Esoknya, sebelum benar-benar give up, saya menyusuri jalanan desa pinggir pantai yang panjang tak berujung (atau mungkin ujungnya ada di desa lain, saya melakukan perjalanan dan kembali sebelum sampai ujung). Nah, di jalan desa tepi pantai inilah saya menemukannya. Selain anak-anak kecil yang berlarian bahagia meminta saya memotretnya, nenek-nenek tua yang sibuk bekerja di depan rumah, mbak-mbak yang berjalan menggendong bakul dan hewan-hewan ternak yang merumput. Saya menemukan sebuah jalan, sepi, lengang dan tidak terlihat ujungnya. Saat saya menapaki jalan ini, saya seolah menuju perjalanan hidup saya yang tidak saya ketahui. Dan inilah keistimewaan tempat ini bagi saya karena saya kemudian merasa sendu di tempat ini. Seperti pejalan yang menyadari bahwa suatu ketika saya akan menapaki jalan ini sendirian, menuju Cinta segala Cinta. Tinggal menunggu waktu itu datang! Saya yakin, saat waktu saya tiba, saya akan menyusuri jalan itu sendirian…. suatu saat nanti!