Category Archives: Asia

Teluk Kiluan, Indonesia

KEINDAHAN TERSEMBUNYI

“A wise traveler never despises his own country.” – Carlo Goldoni

Indonesia menyimpan banyak keindahan alam yang tersembunyi dan kadang sulit dijangkau karena transportasi yang sulit dan kondisi jalan yang belum memadai. Salah satu keindahan tersembunyi itu adalah Teluk Kiluan yang berada di Lampung Selatan.

Dalam perjalanan yang memakan waktu semalaman dari Jakarta itu awalnya saya sudah hopeless karena kondisi jalan yang luar bisa susah, rusak dan nyaris bisa dibilang mengerikan. Dalam hati saya sudah mengancam, kalau sampai teluk tidak menemukan “something different” mungkin saya akan sangat kecewa. Apalagi kami membawa mobil yang salah untuk menaiki pegunungan dan jalanan tusak itu sehingga sekujur tubuh rasanya rontok semua.

Pagi hari kami memasuki Teluk Kiluan dan saya belum bisa melihat kecantikannya. Tetapi saat kami makan sarapan, saya mulai merasakannya. Makanan laut yang luar biasa enak itu mulai membuat saya tertarik, apalagi saat siang hari kami naik sampan ke tengah lautan. Wow! Dan penjelajahan dimulai.

  Kami menuju tengah lautan lepas yang menghitam, dan diam-diam saya sangat ketakutan. Ini pertama kalinya saya bersampan ke tengah lautan lepas dengan perahu kecil. Oh my God! Sementara saya tidak bisa berenang, jadi saya memutuskan untuk berdoa dan pasrah pada takdir. Rencana ke tengah lautan ini adalah untuk melihat lumba-lumba di habitat yang sesungguhnya. Menuju garis horison di tengah lautan rasanya sangat jauh tapi saya mulai terbiasa dan tenang. Setelah menunggu beberapa saat, kawanan lumba-lumba itupun muncul dan berseliweran di dekat perahu kami. Hilang sudah ketakutanku dan berganti dengan kegirangan.

 Tak hanya melihat lumba-lumba di lautan, saya bisa menyisir beberapa pulau kecil di sekitar Teluk Kiluan yang tak kalah cantiknya seperti pulau Kepala, batu Candi dan banyak lagi. Memang susah untuk menjangkau tempat ini tetapi dalam hati saya berpikir bahwa pulau-pulau cantik di Indonesia memang sebaiknya tetap tak terjangkau agar tidak kotor dan rusak. Semakin banyak pengunjung akan semakin banyak sampah dan jejak-jejak perusak. Dan rasanya kesulitan perjalanan sepadan dengan apa yang kita lihat di tempat tersembunyi ini. So? Tetaplah tersembunyi pulau-pulau yang cantik di Indonesia…

Saigon, Vietnam

PARIS IN THE ORIENT

When you travel, remember that a foreign country is not designed to make you comfortable. It is designed to make its own people comfortable.” – Clifton Fadiman

Saigon

 

Perjalanan saya ke Saigon sangat singkat , tetapi lumayan mengesankan. Kadang-kadang saat kita terburu-buru mengunjungi suatu tempat justru ingin memaksimalkan segala sesuatunya dan seluruh waktu tidak ada yang terbuang. Begitu juga saat saya melakukan perjalanan ke Saigon.


Pedagang Keliling

Museum Perang

 

Restoran halal Saigon

 

Penjual Kartu ucapan

Saigon sekarang lebih dikenal dengan Ho Chi Minh City (HCMC). Pernah berganti nama sampai beberapa kali. HCMC dulunya merupakan kampung nelayan Prey Nokor yang dihuni oleh Khmer dan berada di bawah kekuasaaan Kerajaan Khmer atau Kamboja. Awal abad ke 17 dengan seizin Raja Kamboja, pengungsi dari Vietnam mulai berpindah ke Prey Nokor. Para pengungsi kemudian menamakannya Saigon. Dinas ti Nguyen yang memerintah Vietnam pada abad ke 17 akhirnya mengoneksasi Saigon lalu memberi nama Gia Dinh. Nama Saigon baru resmi dipakai ketika penjajah Prancis menaklukkan Vietnam tahun 1960-an. 

Kantor Pos Saigon

 

 

Cu Chi Tunnel

 

singkong ala Cu Chi Tunnel

 

 

Masjid satu-satunya di Saigon

Penjajah Prancis kemudian membangun gedung-gedung megah. Saigon disulap menjadi kota cantik hingga mendapat julukan “Paris in The Orient”. Saigon juga dijadikan ibukota Cochinchina, sebutan bagi jajahan Prancis di Indochina. Selain menjadi pusat pemerintahan, Saigon juga menjadi pusat perdagangan penting di Delta Sungai Mekong. Setelah Saigon jatuh di bawah pemerintahan komunis Vietnam Utara, nama kota itu diganti menjadi Ho Chi Minh City, sebagai bentuk penghormatan terhadap Ho Chi Minh, pemimpin tertinggi Vietnam kala itu. Sampai sekarang HCMC dipakai sebagai nama resmi, namun sebutan Saigon tetap lazim digunakan dalam suasana tidak resmi.

Puppet Show

 

Saigon malam hari

 

video clip

 

menunggu pesanan mie

 

pelukis kartu

Menikmati kota Saigon seperti mengenang Indonesia di tahun 80-an dengan model bangunan, jalanan dan kendaraan yang mereka gunakan. Bahkan saat saya melihat televisi dengan video-video clip yang nyaris seperti jaman Tomy J Pissa, menyanyi di tengah jalan dengan angin memburaikan rambut sang penyanyi. Dramatis dan oldist.  Jalanan dipenuhi dengan motor yang menyemut dan menyulitkan ketika menyeberang. Saya lebih banyak menggunakan taksi dan paket tour ketimbang melakukan perjalanan sendiri karena tranfortasi umum sedikit susah. Tapi tak menyurutkan niat saya untuk menikmati kota ini. Bukankah setiap tempat selalu menawarkan hal yang menarik? 

bergaya di depan kantor pos
jajanan pinggir jalan

 

 

Patung menimang anak

 

Notre Dame Catedral

 

hiasan bunga mai di jalanan

Berbagai tawaran lokasi wisata bisa kita kunjungi di sana dan saya menyempatkan diri mengunjungi museum perang, Cu Chi Tunnel, menyusuri pusat kota, shalat di satu-satunya masjid di negeri Komunis ini, nonton the puppet show dan belanja di Ben Thanh Market sebelum kembali ke Indonesia. Perjalanan singkat ini memang kurang membekas bagi saya, tapi saya menemukan magnet yang kuat saat menemukan bunga Mai di meja kafe. Saya membayangkan seseorang meninggalkan bunga itu untuk saya, bunga keabadian. Dan saat saya kembali ke Indonesia, bunga Mai itu sudah menjadi satu cerita pendek yang dimuat di majalah Femina.

So? Setiap perjalanan selalu memberikan sesuatu yang berharga. Dan saya selalu membuktikan itu dengan memaknai setiap perjalanan.













Karimunjawa, Indonesia

THE REAL PARADISE

“You cannot discover new oceans unless you leave sight of the shore” – Fortune Cookie

sunset di Karimunjawa

Awalnya saya hanya ingin meredakan letih ketika berkunjung ke Pulau yang berada di Jawa Tengah ini, tetapi setelah saya sampai di sana, saya jatuh cinta. Tidak hanya letih karena rutinitas yang lenyap tapi benar-benar menjadi “sweet escaped” buat saya. Apalagi saya mendapatkan beberapa teman yang menyenangkan selama di sana juga penduduk yang ramah dan siap membantu.

Ferry dari Pelabuhan Tanjung Mas Semarang
Teman baru, Antoine and Camila

Welcome!
Jajaran rumah apung

Setelah menempuh perjalanan 3 jam dari pelabuhan Tanjung Mas Semarang, saya memasuki pintu gerbang Pulau Karimunjawa. Cuaca panas menyambut saya tetapi tak mengurangi semangat saya menjelajah daerah ini. Menggunakan mobil bak terbuka saya menuju penginapan apung yang saya pesan. Karena terletak di atas laut, maka kami harus naik perahu lagi menuju penginapan. Dan, wow! Saya langsung ‘bahagia’ mendapatkan sebuah kamar dengan pintu persis menghadap laut. It’s beautiful view! I like it!

anak-anak hiu

perahu snorkeling

pulau kecil sekitar  wisma

Hutan Mangrove

Banyak hal bisa kita lakukan di Pulau Karimunjawa, mostly wisata bahari seperti menyelam, snorkeling dengan spot yang luar biasa cantik, mengunjungi pembiakan ikan hiu bahkan berenang bersama hiu-hiu yang masih kanak-kanak, mengelilingi pulau dengan berjalan kaki menikmati pasirnya yang putih bersih, menjelajahi daratan melihat hutan bakau dan jangan lupa mencicipi masakan seafood yang luar biasa lezat.

I love Karimunjawa!
Antoine and Camila
ladang mutiara


pelabuhan

Seminggu berada di Pulau ini membuat saya enggan untuk pulang. Meskipun baju bersih saya sudah habis dan kulit saya sudah menghitam tapi saya masih enggan packing. Tidur siang menghadap laut, mendengarkan ombak kecil menghantam karang dan suara perahu motor membelah lautan membuat saya merasa sangat dekat dengan pencipta alam ini. Tapi, saya harus kembali ke Jakarta untuk kembali ke kehidupan yang sesungguhnya. Tapi saya janji akan kembali suatu hari untuk cinta saya pada pulau ini!

Macau


NEGERI SERIBU LORONG

“The world is my home, and every man in it my brother”-James Michener

 
 
Seorang teman berkata kepada saya;  jika ingin menikmati perpaduan budaya Eropa dan Cina di suatu negeri maka pergilah ke Macau. Hm, sepertinya menarik. Saya bisa menikmati dua budaya sekaligus, Eropa dan Cina. Apalagi negara ini bebas Visa, maka dengan gembira saya memutuskan untuk pergi. Sebagai koloni Eropa tertua di Cina sejak abad 16, pengaruh Portugis sangat kental di negara ini. Arsitektur gedung khas Eropa, bangunan bergaya Art Deco, tempat-tempat bersejarah, nama jalan hingga makanan, hampir semuanya beraroma Portugis. Pemerintah Portugal menyerahkan kedaulatan Macau terhadap Republik Rakyat Cina pada tahun 1999.  Dan Macau kini merupakan sebuah Daerah Administratif khusus Cina, yang artinya meskipun Macau merupakan bagian dari Republik Rakyat Cina tetapi Macau memiliki system pemerintahan dan pendapatan yang berdiri sendiri. Selain budaya Cina dan Eropa yang mencolok, Macau juga terkenal dengan Casino. Sehingga Macau sering disebut sebagai Las Vegas-nya Asia. Melalui tulisan ini, anda akan saya ajak menyusuri lorong-lorong Makau, salah satu negara kaya di Asia.
KOTA SERIBU LORONG
Menggunakan penerbangan direct flight Jakarta-Macau, saya tiba di Bandara International Macau pukul 16. 30 waktu Macau, dengan perbedaan waktu lebih cepat satu jam dengan Jakarta. Setelah menyelesaikan urusan imigrasi saya segera menuju tourism desk di dekat pintu keluar bandara.  Meski dengan komunikasi yang sedikit tersendat karena bahasa Inggrisnya yang tidak familiar di telinga saya, saya berhasil mendapatkan informasi bus yang akan membawa saya ke dalam kota.
Transfortasi di Macau sangat bagus. Selain menyediakan shuttle bus gratis dari Airport dan Ferry Terminal menuju hotel-hotel berbintang tempat Casino yang bisa dinaiki siapa saja, juga terdapat public bus yang bisa diakses dengan mudah dari setiap halte dengan ongkos yang murah. Awalnya saya memilih untuk menunggu shuttle bus gratis menuju Grand Lisboa (Casino terbesar di Macau) tetapi karena terlalu malam shuttle bus yang menuju Grand Lisboa sudah tidak beroperasi. Akhirnya saya memutuskan untuk naik public bus menuju ke dalam kota dengan membayar 5 HKD atau sekitar Rp.6000. Selain Hongkong dollar, mata uang yang berlaku di Macau adalah Patacas (MOP). Tetapi karena setelah keluar dari Macau, mata uang Patacas tidak bisa digunakan lagi, saya lebih memilih menyimpan Hongkong dollar.
Macau adalah negeri kecil yang terletak sekitar 65 km sebelah barat Hongkong dan hanya memiliki tiga pulau kecil yaitu Macau Peninsula, Taipa dan Coloane. Saya merasa takjub begitu bus berjalan menuju kota. Selain bus yang bersih dan nyaman, saya terpesona oleh lampu-lampu yang berpendar di sepanjang jalan. Lampu-lampu itu ditata sedemikian rupa sehingga menghasilkan cahaya yang indah. Gemerlap hotel-hotel berbintang dan Casino terlihat gemerlap. Negeri kecil yang cantik, teratur dan bersih. Begitu kesan pertama saya begitu bus berhenti di pusat kota, tepat di terminal bus Grand Lisboa.
Turun dari bus saya segera menyiapkan gambar hotel dan nama hotel yang tertulis dalam bahasa Canton. Menurut informasi yang saya dapatkan dari beberapa teman yang berkunjung ke Macau, dengan menunjukkan gambar tempat yang ingin dituju dan nama jalan dalam bahasa Canton akan mempermudah saya. Dan benar saja, begitu saja tunjukkan gambar hotel dan jalan yang sedang saya cari, seorang gadis langsung menunjukkan tangannya, “there!”. Saya segera menyusuri jalan itu dan menemukan banyak lorong. Nama jalan di Macau selalu dimulai dengan nama Travessa, Avenida, Estrada dan Rua. Avenida dan Estrada adalah jalan utama yang biasanya terdiri dari dua arah. Rua adalah jalan lebih kecil yang biasanya satu arah dan Travessa adalah lorong yang hanya bisa dilalui motor, pejalan kaki, sepeda atau becak Macau. Saya menemukan banyak sekali lorong-lorong ini sehingga saya menyebutnya sebagai kota seribu lorong. Hotel kecil yang saya pesan berada di Avenida de D.Joao dan saya memutuskan untuk beristirahat di hotel kecil yang nyaman itu sebelum melanjutkan perjalanan menyusuri lorong-lorong kota Macau esok harinya.
EGG TART, MARGARET’S CAFÉ NATA dan PASTERIA KOI
Dengan mematuhi itinerary perjalanan yang saya rancang, saya bersiap keliling Macau hari itu. Saya ingin memulainya dengan sarapan di Margaret’s Café Nata yang berada tidak jauh dari tempat saya menginap. Tidak sabar rasanya mencicipi Portuguese egg tart dan menu-menu lain di Margaret’s Café Nata yang sangat terkenal itu. Tetapi, begitu saya berbelok ke arah Café’s Nata tampak sepi. Apakah Café ini sudah tidak berjualan lagi? Saya penasaran dan menghampiri tempat itu. Saya mendapatkan informasi bahwa Margaret’s Café Nata tutup pada hari Rabu. Dengan kecewa saya meninggalkan tempat itu dan berjalan menyusuri sepanjang trotoar ke arah Senado Square. Toko-toko disepanjang trotoar yang saya lewati masih tutup, tetapi para pekerja sudah mengantri untuk masuk kerja. Pagi terasa baru menggeliat ketika saya memasuki area Senado Square.
Senado Square adalah sebuah area yang terdiri dari deretan gedung-gedung tua bersejarah, pusat perbelanjaan, toko-toko yang menyediakan souvenir khas Macau dan juga makanan khas Macau. Pada waktu malam, Senado Square tampak sangat indah dalam pendar cahaya lampu yang berwarna kuning keemasan. Jalan vaping blok berkilau seperti lukisan. Di salah satu sudut tampak taman kecil dan pohon-pohon yang rimbun sehingga orang-orang bisa berteduh dibawahnya dengan nyaman. Saya juga banyak menemukan tempat-tempat public yang nyaman dan pendestrian yang aman di beberapa lorong dan sudut kota.

Di pojok Senado square saya melihat toko kue Koi Kei Pastelaria. Toko kue ini sangat terkenal di Macau. Saya memasuki toko kue ini dan menemukan berbagai jenis makanan khas Macau seperti permen kacang, almond cake, kue semprong khas Macau, Chinese cake, dendeng daging babi dan sapi juga egg tart. Banyak turis membeli oleh-oleh makanan khas Macau di toko ini. Saya sendiri memutuskan membeli Portuguese egg tart setelah gagal makan egg tart di Margaret’s Café Nata. Kue ini masih hangat ketika saya membawanya ke taman pojok Senado square. Sambil duduk di bawah pohon rindang, mengamati lalu lalang orang sambil  menikmati Portugues egg tart. Kue mungil berbahan dasar telur, tepung, susu dan mentega ini memang lezat. Pantas saja sangat terkenal.
BANGUNAN BERSEJARAH
Setelah menikmati Portuguese egg tart yang lezat, saya memutuskan untuk mengunjungi beberapa tempat wisata.  Berjalan sekitar sepuluh menit dari Senado square, saya menemukan reruntuhan gereja St. Paul yang merupakan symbol pariwisata Macau. Meskipun saya berkunjung bukan pada hari libur, tetapi banyak sekali turis-turis yang mengunjungi tempat ini.
Hanya halaman depan berbatu dan tangga besar yang tersisa dari Gereja St. Paul. Gereja ini dibangun pada tahun 1602 di samping Jesuit College of St. Paul’s, universitas Barat pertama di Asia dimana para misionaris belajar tentang China sebelum bertugas di Ming Court di Beijing sebagai ahli astronomi dan ahli matematika. Di tahun 1835, kebakaran melanda universitas dan gereja tersebut, meninggalkan hanya halaman depan yang dramatik itu dengan empat baris tiang, lengkap dengan ukiran dan patung. Arsitektur Gereja St. Paul yang unik mengingatkan pada gaya Renaissance Eropa dan arsitektur Asia dalam sebuah campuran mempesona dari unsur China dan Barat. 
 
Di dekat Ruins of St. Paul’s terdapat Museum of Sacred Art and Crypt. Museum ini memajang lukisan, patung dan benda religi lainnya dari gereja-gereja di Macau sementara di pemakaman sejajar museum pengunjung dapat memperhatikan relik-relik dari para martir Jepang dan Vietnam. Masuk ke dalam bangunan museum saya menemukan area luas di ketinggian. Sisi-sisinya dibentengi tembok tinggi dan terdapat beberapa meriam.
Tempat yang bernama Benteng Gunung ini merupakan benteng barat pertama di China. Benteng Gunung dari abad ke-17 menempati puncak bukit di semenanjung Macau dan merupakan salah satu benteng Barat terkuno di China. Sekitar 300 tahun yang lalu, saat puncak kejayaan Dinasti Ming dan sebelum Ruins of St. Paul’s dilahap api, Benteng Gunung menjaga kota. Di tahun 1998, Museum Macau dengan tiga lantai dibangun di dalam benteng tersebut dan sekarang menjadi tempat tujuan wisata utama.  Di kaki bukit sebelah timur dari Monte Fort Anda akan menemukan Koridor Benteng, menempati tanah di tengah Museum Macau dan zona pejalan kaki St. Lazarus. Monte Fort terletak dekat pintu masuk kota dan tempat yang terkenal untuk acara seperti ‘20th Macau International Music Festival’.
Usai mengunjungi Ruins of St.Paul, museum dan Benteng Gunung, saya melanjutkan perjalanan ke A Ma Temple.  Dibutuhkan waktu sekitar sepuluh menit naik public bus dari Senado square.  Kuil A-Ma adalah tempat kaum Portugis mendarat pertama kali di Macau. Kuil ini menjadi titik awal dari perjalanan bersejarah.  Kuil tersebut terdiri atas koridor untuk berdoa, paviliun dan halaman yang dibangun di bukit berbatu dan disambungkan dengan jalan yang berputar melewati gerbang-gerbang bulan dan taman-taman mini. Pada pintu masuk terdapat sebuah batu besar dimana sebuah sampan pelayaran tradisional diletakkan lebih dari 400 tahun yang lalu. Di batu yang lain terdapat  ukiran karakter-karakter merah yang sedang meminta restu dari para dewa. Legenda China mengatakan bahwa dengan menyentuh puncak dari gerbang bulan yang berada di atas bukit akan membawa keberuntungan baik dalam hal percintaan. Di seberang kuil terdapat Museum Kelautan, menampilkan banyak aspek sejarah kelautan Portugis dan China meliputi periode mulai dari abad ke-15 sampai abad ke-17. Beberapa restoran Portugis yang terkenal berlokasi tak jauh dari sana. Bangunan-bangunan bersejarah ini menunjukkan kebersamaan budaya timur dan barat.
Sore harinya, saya menyempatkan diri mengunjungi satu-satunya masjid di Macau.  Dengan berbekal peta saya mencari Mesquita de Macau. Masjid ini terletak di dekat Macau Ferry terminal. Setelah memutari reservoir dan kawasan tepi laut yang sepi lalu jalan setapak yang sedikit menanjak, saya menemukan gerbang masjid yang bernama resmi Mesquita E Cemetario de Macau. Pintu gerbang terbuka ketika saya memasuki halaman masjid yang sangat sepi ini. Tiba-tiba seorang nenek-nenek menyerukan salam dan menyapa saya menggunakan bahasa isyarat. Nenek yang masih terlihat cantik meski sudah berusia 89 tahun ini bernama Aisha dan menetap di halaman samping masjid. Ia memperingatkan saya agar tidak tidur di masjid.
Jendela-jendela masjid yang lebar tampak terbuka dan seorang wanita yang tidak mau disebut namanya tampak duduk termenung memandangi makam di sisi kanan masjid. Matanya sembab dan merah. Setelah berkenalan, wanita dari Indonesia yang bekerja sebagai TKW di Macau ini sedang menunggu temannya yang hendak dimakamkan sore ini. Seorang tenaga kerja wanita asal Indonesia sudah tidak memiliki visa dan meninggal di Macau. Sebuah pertemuan yang dramatis di tengah gemerlapnya Macau. Ketika kembali ke Ferry terminal, wanita ini mengantar saya dan kami bertemu banyak tenaga kerja wanita sedang istirahat di trotoar sepanjang reservoir.
 
GEMERLAP MALAM dan CASINO
Hari menjelang malam ketika saya menaiki shuttle bus gratis dari Macau Ferry terminal menuju The Venetian Resort; sebuah hotel, casino dan pusat perbelanjaan yang megah. Begitu memasuki halaman The Venetian Resort, tampak pilar-pilar gedung yang kokoh dan mewah. Di dalam gedung tampak deretan Casino yang terdapat penjaga di pintunya. Saya langsung naik ke lantai tiga tempat sungai/kanal buatan lengkap dengan gondola ala Venice. Desain langit-langit gedung yang diwarnai seperti langit sungguhan tampak sangat menawan. Dengan membayar 108 MOP, pengunjung bisa menaiki gondola ini dan mendengarkan suara pengemudinya saat menyanyi dengan merdu.
Casino memang telah menjadi bagian dari kota Macau. Hampir setiap hotel kecil dan besar, resort dan tempat-tempat umum selalu menyediakan kartu-kartu, dadu dan mesin judi. Bahkan jumlah Casino di Macau telah melampaui jumlah Casino di Las Vegas. Pendapatan terbesar negara kaya di Asia ini dari Casino dan pariwisata tempat-tempat bersejarah yang dinobatkan sebagai World Heritage. Saya mengagumi Macau yang bisa menjaga warisan budaya dengan baik namun modernisasi dan teknologi juga terus berkembang. Masih banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi di negeri ini seperti : bungy jumping dan skywalk di Macau Tower, Lotus Flower Plaza (Monumen Bunga Lotus), Macau Fisherman’s Wharf, sebuah theme park di Macau dan The Bubble, sebuah pertunjukan multimedia di City of Dreams.

Lampu-lampu di sepanjang jalan tampak gemerlap ketika saya turun di terminal bus grand Lisboa dan berjalan menuju penginapan. Sisi-sisi jalan dan gedung-gedung tua yang tersorot lampu kekuningan tampak eksotik dan misterius. Saya mengagumi Macau karena keberhasilannya menjaga keseimbangan masa lampau dan masa kini. Sebuah negeri yang lorong-lorongnya membawa kenangan pada setiap traveler yang singgah di sana. (end)

Hongkong

NEW YORK DI ASIA

“One’s destination is never a place, but a new way of seeing things.” – Henry Miller

 Anda menyukai wisata belanja dan keramaian megapolitan? Jika jawabnya ‘ya’, maka anda akan menyukai Hongkong.  Selain surga belanja dan kota trend setter fashion, anda bisa mengunjungi tempat-tempat menarik di sana. Hongkong merupakan wilayah yang dikelilingi ratusan pulau kecil lainnya. Deretan gedung tinggi yang sambung menyambung dengan tepi pelabuhan Victoria hampir mirip dengan kota New York di United States. Hongkong Island merupakan sisi modern dari Hongkong, pusat bisnis dan keuangan berada.  Di tempat ini juga banyak apartemen dan pekerja asing tinggal. Jika New York memiliki Empire State Building maka Hongkong memiliki Bank of China Tower. 
Terdapat beberapa tempat wisata menarik yang bisa di kunjungi di Hongkong Island ini diantaranya : Avenue of Stars (finger print artis-artis Hongkong) yang berada di pinggir pelabuhan di sisi Kowloon, Symphony of Lights (atraksi permainan laser di malam hari (mulai jam 8 malam) yang ditembakkan dari gedung-gedung di sisi Hongkong Island), The Peak dan Madame Taussads di sisi Hongkong Island. Dan anda penyuka belanja bisa mengunjungi Ladies Market di Mongkok, Causeway Bay, Wancai dan Sentral yang merupakan deretan butik-butik dan pusat-pusat perbelanjaan. Yuk, simak perjalanan seru saya di Hongkong dan persiapkan perjalanan anda!
AVENUE OF STARS
Setelah beristirahat sejenak, sore hari saya memutuskan untuk mengunjungi Avenue of Stars yang terletak di pinggir pelabuhan di sisi Kowloon tidak jauh dari hotel tempat saya menginap. Avenue of Stars merupakan finger print artis-artis Hongkong yang ada di sepanjang tepi pelabuhan Victoria. Menyenangkan rasanya berjalan di tepi laut sambil mencari-cari cetak tangan artis idola kita. Ada banyak sekali cetak tangan artis Hongkong seperti Jet Li, Bruce Lee, Andi Lau, Jacky Chen, Michele Yeoh dan lain-lain. Tak jarang beberapa wisatawan menjerit-jerit kegirangan ketika menemukan cetak tangan artis idolanya dan berfoto dengan fose berbaring di atas cetak tangan itu. Selain cetak tangan para artis Hongkong, sepanjang pelabuhan juga terdapat patung-patung para pembuat film seperti sutradara, cameramen dan beberapa peralatan syuting. Ketika kaki mulai letih berjalan, saya bisa menikmati senja dengan duduk memandang laut sambil mengunyah castel fish. Gelap mulai datang dan lampu-lampu gedung pencakar langit itu mulai menyala gemerlapan. Tiba-tiba dari sebuah panggung di areal itu terdengar suara music. Ternyata pentas amal untuk penderita aids. Wah, sepertinya saya bisa menikmati pertunjukan live gratis malam ini. Saya tak menyia-nyiakan kesempatan dan segera menyusup di antara para penonton yang memenuhi halaman pertunjukan. Sayapun  menikmati live show  sambil mengistirahatkan kaki yang letih.
SYMPHONY OF LIGHTS
Tepat pukul 19.30, saya beranjak dari tempat duduk saya dan kembali berjalan menyusuri sepanjang pelabuhan. Ada beberapa tempat terbaik untuk menikmati Symphony of light dan saya memutuskan untuk menikmati dari Tsim Sha Tsui waterfront tidak jauh dari Cloker Tower dan HK Cultural Center. Symphony of lights merupakan pertunjukan lampu dan laser yang berasal dari gedung-gedung dari dua buah yang berhadapan yakni Hongkong Island dan Kowloon Island. Yang mengikuti pertunjukan lampu  dan laser ini sekitar 44 gedung dan mendapatkan penghargaan Guiness world record sebagai “the world’s largest permanent light and sound show “. Permainan lampu dan laser yang diiringi music ini berlangsung sekitar 15 menit dan berlangsung dimulai setiap jam 8 malam kecuali jika sedang badai. Tidak hanya dari  sepanjang Tsim Sha Tsui waterfront hingga Aveneu Stars, kita juga bisa menikmati symphony of lights dari titik lain seperti Golden Bauhinia Square ( Wan Chai). Malam mulai merangkak naik ketika pertunjukan berakhir dan saya kembali ke hotel untuk mempersiapkan penjelajahan esok harinya.
THE PEAK
Pagi berikutnya saya memulai perjalanan dengan naik ferry menuju The Peak Tram Lower Terminus yang berlokasi di Garden Road. Setelah membeli tiket saya antri naik tram kuno yang akan membawa saya naik ke puncak The Peak. Tempat ini sebenarnya hanyalah beberapa bangunan yang terdapat di puncak yang terdiri dari restoran, tempat berjualan souvenir dan taman tempat duduk santai. Dari The Peak inilah kita bisa melihat pemandangan Hongkong secara keseluruhan, gedung-gedung yang menjulang tinggi dan lautan yang membiru. Selain Sky Terrace untuk melihat Hongkong dari ketinggian yang dibatasi kaca ada juga museum lilin di tempat ini. Sangat cocok untuk bersantai sambil menikmati indahnya pemandangan kota Hongkong.
MADAME TUSSAUDS
Di dalam The Peak, tepatnya di lantai 2 terdapat museum patung lilin bernama Madame Tussauds. Tidak sulit menemukan museum ini karena terdapat petunjuk yang jelas dan di depannya ada patung lilin Brucee Lee mengenakan pakaian warna kuning gonjreng. Terdiri dari beberapa zona kita bisa menemukan patung-patung orang terkenal dari bidangnya masing-masing seperti di zona olahraga terdapat David Beckham, Yao Ming dan Tiger Woods, zona para kepala negara terdapat Saddam Husein, Adolf Hitler dan Mahatma Gandhi, zona acak dari bagian terdepan terdapat Nicole Kidman, Brangelina (Brad Pitt & Angelina Jolie), Andy Lau, Edy Murphy, Robert Pattinson, Diana Spencer (Lady Diana), Pelukis Picasso, William Shakespeare, Amitab Bhachan, Marlyn Monroe, Johnny Depp, Pierce Borsnan dan lain-lain serta di zona terakhir yaitu Rock n Roll terdapat The Beattles, Maddona, Lady Gaga, Michael Jackson, Tina Turner, Elvis Presley. Di tempat ini kita akan menemukan kesenangan tersendiri dengan foto-foto karena patung-patung ini benar-benar mirip manusia.
AYO BELANJA!
 Puas berfoto dengan orang-orang terkenal di Madame Tussauds, saya meneruskan perjalanan ke Mongkok untuk berbelanja di pasar malam Ladies Market. Dengan naik MTR turun di Mongkok Station dengan Exit D3, kami sampai di Tung Choi Street tempat para pedagang kaki lima berjajar dan di sebut Ladies Market. Tempat belanja murah ini menjadi tujuan para penggila belanja karena harganya yang lebih miring dari tempat lain. Dan saya menemukan banyak orang Indonesia sedang berbelanja di sini. Walaupun namanya Ladies Market, barang yang dijual disini tidak melulu untuk kaum hawa. Banyak barang-barang untuk para lelaki juga dijual disini.  Sebagian besar barang-barang tidak jauh dengan barang yang dijual di Jakarta karena itu saya mencari yang lebih unik seperti souvenir dan kaos bertuliskan kota-kota di Hongkong. 
Ladies Market hanyalah salah satu dari tempat belanja terkenal di Hongkong, masih banyak tempat lain yang banyak dikunjungi penggila belanja seperti Causeway Bay yang merupakan pusat perbelanjaan paling popular di Hongkong Island dan Citygate Factory outlet yang merupakan shopping mall beberapa outlet seperti Crocs, Esprit Outlet, Benetton Outlet, Girdano, City Chain dan Swatch (toko jam), Armani Exchange, DKNY dan lain-lain.  Mereka menjual barang-barang di factory outlet ini dengan diskon berkisar antara 30% hingga 70%.  Penggila belanja akan dimanjakan dengan barang-barang bermerk dengan harga yang terjangkau. Kelelahan belanja saya kembali ke hotel dan berkemas untuk kembali ke Indonesia. Nah, tunggu apalagi? Ambil cuti anda dan nikmati wisata belanja yang menyenangkan di Hongkong! 
(artikel ini pernah dimuat majalah Sekar)

Tana Toraja, Indonesia

PERJALANAN MERAYAKAN KEMATIAN

“All journeys have secret destinations of which the traveler is unaware.” –  Martin Burber

‘Negeri yang bulat seperti bulan dan matahari’ begitulah gelar untuk wilayah Tana Toraja. Orang Toraja menyebut dirinya to raya yang artinya keturunan para raja atau to riaja yang artinya orang yang berdiam di atas awan (pegunungan). Toraja termasuk salah satu wilayah propinsi Sulawesi Selatan, sekitar 350 kilometer sebelah utara kota Makasar. Toraja bisa dijangkau dengan dua cara menggunakan jalur darat dan udara; menggunakan bus dari Makasar atau pesawat kecil dari Bandara Sultan Hasanudin ke bandara Pongtiku. 

Sejak dua tahun lalu, saya ingin melakukan perjalanan ke Tana Toraja, namun berbagai kesibukan selalu membatalkan rencana itu. Akhirnya saya memutuskan mengambil cuti tahunan saya dan melakukan perjalanan ke Tana Toraja. Saat riset lokasi-lokasi wisata lewat internet dan mencari informasi perjalanan, saya merasakan bahwa perjalanan saya kali ini bukanlah perjalanan biasa.

Warisan kebudayaan megalitik serta gaya hidup Austronesia menjadikan Tana Toraja menarik untuk dikunjungi wisatawan. Pemandangan alam yang indah dan nuansa tradisional Toraja mulai saya rasakan begitu bus yang saya tumpangi memutari kolam buatan di kota Makale. Atap rumah adat Toraja, tongkonan, yang bentuknya seperti perahu tampak indah timbul tenggelam di antara kabut yang menyelimuti kota yang dikelilingi pegunungan ini. Infrasuktur jalan di Toraja yang menghubungkan dua kota utama ; Makale dan Rantepao cukup baik. Dan selama perjalanan ini, saya memutuskan untuk menginap di Rantepao.

PASAR BOLU dan WISATA PEMAKAMAN

Tepat pukul 9 pagi, saya menginjakkan kaki di Rantepao. Beberapa pengendara bentor (becak motor) menawari saya untuk mengantarkan ke hotel. Namun saya memilih naik pete-pete (angkutan umum). Pete-pete di Toraja bukan seperti angkutan umum biasa seperti di kota-kota lain. Kebanyakan pete-pete di Toraja adalah mobil Avanza yang digunakan sebagai angkutan umum dan sangat nyaman.

Setelah beristirahat sejenak dan berganti pakaian, saya tidak sabar untuk menjelajah Toraja. Lewat petugas hotel saya menyewa motor untuk transportasi ke lokasi-lokasi wisata yang ingin saya kunjungi.
Lokasi pertama yang saya kunjungi adalah pasar hewan Bolu, Rantepao. Menurut petugas hotel hari ini adalah hari pasaran dan saya tak boleh melewatkannya. Berdekatan dengan lokasi pasar tradisional, pasar hewan ini tampak unik dengan hamparan tedong (kerbau) dan babi di areal tanah lapang yang luas. Tidak seperti pasar hewan yang biasa saya lihat di tempat lain, para penjual hewan di pasar ini semuanya laki-laki dan sebagian besar mengenakan sarung dipinggangnya. Terjadi sekali seminggu, dan hampir 90% kerbau yang dijual di pasar ini untuk upacara kematian. Tedong Bonga (kerbau belang) adalah kerbau yang sangat mahal dan langka. Harganya bisa mencapai ratusan juta. Saya melihat banyak wisatawan asing di pasar hewan Bolu. Mereka tampak antusias melihat keunikan pasar ini.

Saya lalu meneruskan perjalanan ke goa pemakaman Londa, setengah jam dari Makale ke arah Rantepao. Londa merupakan sebuah pemakaman purbakala yang berada dalam goa. Untuk memasuki goa pemakaman Londa saya menyewa lampu petromak dan diantar Toni, pemuda Toraja yang sejak kecil sudah menjadi pemandu wisata menjelajahi lekuk-lekuk goa Londa. 

Menurut Toni, semua yang dimakamkan di goa Londa adalah dari garis keturunan Tatengkeng. Di bagian depan pemakaman tampak tau-tau (patung dari kayu nangka) yang mirip dengan mayat yang dimakamkan. Tau-tau itu di letakkan di pemakaman setelah melalui ritual tertentu. Menurut Toni, mereka yang patungnya berjajar di balkon pemakaman berasal dari kasta yang tinggi. Beberapa kali tau-tau itu dicuri orang sehingga sempat dibuatkan teralis dan dikunci.
Di depan gua saya juga melihat keranda dengan bentuk yang berbeda-beda. Toni menjelaskan bahwa bentuk keranda yang dipakai untuk mengantarkan jenasah ke pemakaman sesuai dengan status social atau kasta orang yang meninggal. Jenazah yang berkasta tinggi diantar dengan keranda berbentuk tongkonan, sementara jenazah yang berkasta biasa menggunakan keranda bambu. Peletakan jenazah di goa juga sesuai dengan kastanya masing-masing. Kasta tertinggi di letakkan di tempat paling tinggi sementara kasta biasa di tempat yang rendah. Orang Toraja masih mempercayai bahwa setelah meninggal, mereka akan menuju Puyo (surga) dan semakin tinggi mayat diletakkan maka semakin dekat mereka dengan Puyo.

Dengan penerangan lampu petromak saya merangkak memasuki goa. Saya harus berhati-hati agar tidak menyenggol tengkorak-tengkorak berusia ratusan tahun yang berserakan di sekeliling. Untuk menggeser tengkorak itu sedikit saja, harus melalui proses ritual. Di sekeliling tengkorak itu banyak tumpukan baju, gelas plastic aqua dan rokok. Saya pikir ini sampah yang ditinggalkan pengunjung, tapi ternyata saya salah. Tumpukan baju usang, gelas plastic dan rokok itu sengaja di kirimkan keluarga mayat. Orang Toraja berkeyakinan bahwa mereka yang sudah mati juga membutuhkan baju, makanan dan minuman seperti orang yang masih hidup.

Saya terus merangkak memasuki goa dan menemukan peti mati baru. Peti itu masih terlihat bagus dan rangkaian bunga yang melingkari peti belum layu. Menurut Toni, peti itu baru diletakkan tujuh hari lalu. Hingga sampailah saya di depan dua tengkorak yang saling bersisian. Dua tengkorak itu tampak dramatis berada di ruangan goa yang temaram. Menurut Toni, dua tengkorak itu adalah sepasang kekasih yang tidak direstui oleh orang tua mereka. Semacam kisah Romeo Juliet dari Toraja. Hm, ternyata setiap daerah selalu memiliki kisah-kisah yang romantic sekaligus tragis!
               
Tujuan selanjutnya adalah Lemo. Pemakaman alam yang dipahat sekitar abad XVI ini merupakan pemakaman leluhur Toraja. Di pemakaman batu Lemo ini ada 75 liang batu kuno dan 40 tau-tau yang tegak berdiri dan 75 lubang batu. Posisi tau-tau di Lemo berbeda dengan tau-tau di Londa. Tau-tau di Lemo mengangkat tangan ke atas dengan mata menatap langit sebagai prestise, status dan peran para bangsawan di Desa Lemo. Di beri nama Lemo karena salah satu model liang batu di sana berbentuk bundar dan berbintik-bintik seperti jeruk. 
    

Tujuan berikutnya adalah To’Doyan, pohon besar yang menjadi tempat pemakaman bayi (anak yang belum tumbuh giginya). Pohon ini secara alamiah memberi akar-akar tunggang yang secara teratur tumbuh membentuk rongga-rongga. Rongga inilah yang digunakan sebagai tempat menyimpan mayat bayi. Namun, pohon ini sekarang tidak lagi digunakan sebagai pemakaman.

            
Pada masa sekarang, beberapa orang Toraja membuat Patane (rumah makam) yang lebih modern untuk tujuh turunan dan meletakkan di pinggir jalan sehingga mudah dijangkau. Rumah makam modern ini terbuat dari beton seperti laiknya bangunan di kota. Dari pemakaman bayi To’Doyan saya singgah di kampung tradisional Kete Kesu. Di kampung tradisional ini saya bisa melihat tongkonan-tongkonan tua yang atapnya terbuat dari bambu dan telah ditumbuhi ilalang. Di sekitar tongkonan tua ini saya juga menemukan beberapa perajin ukir Toraja.
MAKANAN dan OLEH-OLEH KHAS TORAJA.
 Saat makan siang, saya berburu makanan khas Toraja. Sayang kalau saya tidak mencicipi makanan khas Tana Toraja. Meski sebagian besar penduduk Tana Toraja memeluk agama Kristen, tetapi di kota Rantepao kita bisa menemukan rumah makan-rumah makan khusus untuk muslim. 
 

Selain kopi Toraja yang sangat terkenal, Tana Toraja juga memiliki berbagai makanan khas yang unik dan lezat. Salah satu contohnya adalah Papiong. Papiong merupakan lauk pauk untuk pelengkap makan dengan nasi. Dimasak dengan berbagai sayuran di dalam bambu dan memasaknya dengan cara dibakar. Campuran sayuran di dalam Papiong yaitu : daun bawang, serai, bawang putih, telor, merica dan bawang merah.  Biasanya ada beberapa pilihan isi lauknya yaitu : ayam, ikan dan babi. Kalau di Jawa Papiong lebih mirip dengan pepes. Dimakan dengan nasi hangat sangat lezat. 

Makanan khas Toraja yang lain adalah Pamarrasan dan Pangrarang. Pamarrasan berupa lauk pauk daging ayam, babi atau ikan yang sudah dibakar lalu dimasak menggunakan keluwek dan sayur pangi. Sayur pangi adalah kulit keluwek yang sudah di iris tipis-tipis dan dijemur . Keluwek dalam bahasa Toraja adalah Pamarrasan. Sementara Pangrarang adalah sate Toraja. Bedanya dengan sate di tempat lain adalah cara memasaknya. Pangrarang hanya di bakar dengan bumbu garam secukupnya lalu setelah dibakar matang dimakan dengan cabe ulek.  

Untuk oleh-oleh kita bisa membeli deppa tori’, kue khas Toraja dan sirup Markisa yang belum dicampur dengan apapun. Kita juga bisa membawa oleh-oleh berupa ukiran, kain tenun Toraja, cinderamata berupa patung-patung dari kayu nangka juga t’shirt khas Toraja.
PERAYAAN KEMATIAN

Dalam perjalanan, saya melihat sebuah areal luas dengan banyak rumah itu dihiasi kain warna merah, putih dan motif hitam diatas merah. Saya memutuskan berhenti. Pak Indra yang sedang bekerja di situ mengatakan bahwa minggu depan akan diadakan perayaan kematian atau lebih dikenal Rambu Solo’. Areal dengan deretan rumah dari bambu dan kayu ini disebut rante. Saya langsung antusias untuk melihat perayaan itu minggu depan. Tetapi saya tidak mungkin memperpanjang cuti saya. Maka, untuk mengobati kekecewaan, saya mendengar cerita Pak Indra tentang perayaan kematian Rambu Solo’.

Rambu Solo’ merupakan upacara kematian yang sangat meriah dan memakan waktu berhari-hari. Upacara ini biasanya dilaksanakan pada siang hari saat matahari mulai condong ke barat dan biasanya berlangsung dua sampai tiga hari, bahkan untuk kalangan bangsawan bisa sampai dua minggu. Jumlah kerbau dan babi yang dipotongpun berbeda sesuai status social. Jika yang meninggal dunia bangsawan, maka jumlah kerbau yang dipotong lebih banyak dibanding yang bukan bangsawan. Keluarga bangsawan akan menyembelih kerbau antara 24 sampai dengan 100 ekor kerbau. Sedangkan warga golongan menengah diharuskan menyembelih 8 ekor kerbau ditambah dengan 50 ekor babi. Sebelum jumlah itu mencukupi, jenazah tidak boleh dikuburkan di tebing atau di tempat tinggi. Maka, tak jarang jenazah disimpan selama bertahun-tahun di Tongkonan sampai akhirnya keluarga menyiapkan hewan kurban. Namun bagi penganut agama Nasrani dan Islam kini, jenazah dapat dikuburkan dulu di tanah, lalu digali kembali setelah pihak keluarganya siap melaksanakan upacara. 

Prosesi dimulai dengan jenazah dipindahkan dari rumah duka menuju tongkonan pertama (tongkonan tammuon), yaitu tongkonan dimana ia berasal. Di sana dilakukan penyembelihan 1 ekor kerbau sebagai kurban atau dalam bahasa Torajanya Ma’tinggoro Tedong, yaitu cara penyembelihan khas orang Toraja, menebas kerbau dengan parang dengan satu kali tebasan saja. Kerbau yang akan disembelih ditambatkan pada sebuah batu yang diberi nama Simbuang Batu. Setelah itu, kerbau tadi dipotong-potong dan dagingnya dibagi-bagikan kepada mereka yang hadir. Jenazah berada di tongkonan pertama (tongkonan tammuon) hanya sehari, lalu keesokan harinya jenazah akan dipindahkan lagi ke tongkonan yang berada agak ke atas lagi, yaitu tongkonan barebatu, dan di sini pun prosesinya sama dengan di tongkonan yang pertama.

Selanjutnya, jenazah diusung menggunakan duba-duba (keranda khas Toraja). Di depan duba-duba terdapat lamba-lamba (kain merah yang panjang, biasanya terletak di depan keranda jenazah, dan dalam prosesi pengarakan, kain tersebut ditarik oleh para wanita dalam keluarga tersebut. Jenazah tersebut akan disemayamkan di rante, di sana sudah berdiri lantang (rumah sementara yang terbuat dari bambu dan kayu) yang sudah diberi nomor. Lantang itu sendiri berfungsi sebagai tempat tinggal para sanak keluarga yang datang nanti. Sesampainya di rante, jenazah diletakkan di lakkien (menara tempat disemayamkannya jenazah selama prosesi berlangsung). Jenazah dibaringkan di atas lakkien sebelum nantinya akan dikubur. Hiburan yang ditunggu-tunggu dalam perayaan kematian ini adalah ma’pasilaga tedong (adu kerbau). Adu kerbau sangat digemari orang-orang Toraja. Saya jadi teringat kerbau-kerbau di Pasar Bolu yang saya kunjungi pagi tadi.

Matahari mulai turun dan saya mengingat pesan petugas hotel, “lebih baik mbak kembali ke hotel sebelum malam. Karena setelah petang warga Toraja menghentikan kegiatannya dan lebih suka berdiam diri di rumah.” Tetapi baru saja berpamitan dengan Pak Indra perut saya keroncongan. Akhirnya saya berhenti di rumah makan kecil dengan lokasi yang memukau. Berbentuk panggung, pengunjung rumah makan bisa menikmati hamparan sawah dan gunung di kejauhan. Sambil menunggu ayam yang dimasak dalam bambu dan nasi putih hangat, saya menikmati secangkir kopi Toraja.

Dan gerimis mulai turun. Perjalanan hari ini sangat menakjubkan. Diam-diam saya merasakan aura mistis, saya seperti mendengar seseorang melakukan Ma’badong (menyanyikan lagu-lagu untuk mengenang jenazah) di upacara pemakaman Toraja, sementara ibu-ibu bersedu-sedan dan para pria berteriak penuh semangat. Setelah peti jenazah dimasukkan ke dalam liang batu di sisi tebing, maka masa berkabung telah lewat.  Sebuah kematian boleh disertai rasa duka, namun juga harus dirayakan dengan kegembiraan. Karena manusia yang mati itu telah selesai tugasnya di dunia dan tidak lagi merasakan kesusahan. Bentuk penghormatan terhadap kematian dan kearifan falsafah local Toraja yang masih terjaga meski zaman telah digerus modernisasi. 
(artikel ini pernah dimuat majalah Femina)