Category Archives: Asia

Hoi An, Vietnam : Lawas Dan Romantis

“Some folks call her a runaway. A failure in the race. But she knows where her ticket takes her. She will find her place in the sun”

― Tracy Chapman

Setelah Google map membuat saya nyasar-nyasar mencari tempat makan halal dan tidak menemukannya, saya tiba di jalanan besar dengan lalu lalang orang yang kebanyakan turis berambut pirang. Dengan penerangan lampion yang artistik di berbagai tempat, suasana malam menjadi hangat dan romantis.

“Nanti saya ingin bulan madu di sini,” Saya terpesona pada malam yang romantis dan bangunan-bangunan tua yang eksotis. “Kamu sudah memilih tempat bulan madumu, jadi yang mana calon suamimu?” Saya balas tertawa.

Hoi An merupakan kota kecil di Vietnam Tengah yang pada abad ke 15 hingga abad ke 19 merupakan pelabuhan dagang utama di Asia Tenggara dan menjadi pusat kerajaan Champa. Namun seiring runtuhnya dinasti Nguyen dan redupnya kejayaan Hoi An pelabuhan dagang itu pindah ke Da Nang, kota pelabuhan terdekat.  Hampir selama ratusan tahun, Hoi An tak tersentuh modernisasi sehingga sampai hari ini bisa kita nikmati eksotisme keaslian bangunan-bangunan tuanya yang berarsitek perpaduan Jepang dan Tiongkok.

Bahkan sejak 1999, Hoi An ditetapkan sebagai salah satu warisan dunia UNESCO sebagai pelabuhan dagang Asia Tenggara yang terawat dengan baik. Bangunan-bangunan tua ini pada masa kini digunakan sebagai hotel, kafe, ruko dan tempat tinggal yang masih terjaga keasliannya.

Untuk mencapai Hoi An diperlukan waktu satu jam perjalanan udara atau sekitar semalam perjalanan darat dari Hanoi, kota yang saya kunjungi sebelumnya di Vietnam Utara.Karena waktu saya sempit, saya menggunakan pesawat dari Hanoi sore hari dan tiba di Da Nang international airport malam hari.  Tidak ada bandara di Hoi An, jadi bandara terdekatnya adalah di kota Da Nang. Dari Da Nang dibutuhkan waktu 40 menit untuk sampai di Hoi An menggunakan taksi, shuttle bus atau bus. Karena saya tiba di Da Nang sudah malam, maka yang tersedia hanya taksi. Beberapa taksi yang direkomendasikan oleh para traveler adalah Mai Linh, Son Han, Tien Sa Da Nang, dan Vinasun taksi. Saya kemudian memilih Vinasun taksi. 

Karena sebelumnya saya kena scam taksi di Hanoi saat terjebak macet pengalihan jalan akibat Trump-Kim Hanoi Summit, jadi saya langsung curiga saat taksi membelah jalanan kota Da Nang dan argo taksi bergerak cepat menuju angka million. Saya langsung nyolek sopir taksi dan menanyakan jumlah argonya. Ternyata saya salah lihat koma di argo. Argo yang benar menunjukan ratusan, bukan million. Sopir taksi malah menertawakan kecurigaan saya dan ketika sampai di depan hotel malah mengembalikan uang tips yang saya berikan untuk menunjukkan kejujurannya. Saya jadi malu.

Tak hanya Hoi An The Ancient Town yang menarik buat saya, tapi ada satu tempat yang ingin saya kunjungi yaitu MYSON SANCTUARY komplek candi Hindu sebagai peninggalan kejayaan kerajaan Champa. Dari kota Hoi An dibutuhkan waktu satu jam untuk sampai di komplek MYSON menggunakan bus bersama banyak traveler yang lain. Terletak di perbukitan, candi-candi ini sebagian telah hancur karena perang Vietnam. MYSON juga salah satu warisan peninggalan dunia UNESCO yang banyak dikunjungi wisatawan.

Saya sendiri mengunjungi candi ini karena dalam Babad Tanah Jawi disebutkan bahwa salah satu putri Champa yang bernama Anawarati atau Dwarawati menikah dengan raja Majapahit Brawijaya V (Kertabhumi) dan sekarang makamnya ada di Trowulan Mojokerto. Jadi saya merasa tempat ini ada hubungannya dengan negara saya.

Bahkan dalam salah satu ruangan candi tampak patung Garuda yang sekarang menjadi lambang negara kita. Saya tidak paham benar soal candi-candi Hindu, tetapi yang menarik lagi kemudian adalah orang-orang Champa ini setelah bersinggungan dengan pedagang Arab kemudian beragama Islam. Mereka tersebar di Saigon, Vietnam selatan, Kamboja dan Thailand. Lokasi ini kemudian menjadi salah satu tujuan wisata yang menarik buat turis Asia maupun Barat. Dengan fasilitas yang nyaman, mobil terbuka hingga pintu masuk areal Myson dan kafe yang menyediakan makanan, pengunjung bisa menikmati kunjungannya dengan gembira.

Tetapi saya sarankan kalau berkunjung ke tempat ini lebih baik pagi hari karena jika siang hari panasnya luar biasa.
Sebagai kota pelabuhan, Hoi An sudah jelas lebih panas dibanding Hanoi. Keindahan kota ini akan tampak pada sore saat sunset hingga malam hari lampion-lampion menyala. Sungai yang membelah tengah kota tua semarak dengan perahu-perahu sewaan yang membawa pasangan-pasangan romantis diterangi temaram lampion. Saat teman saya mengajak naik, saya malah memilih duduk di sisi sungai melihat beberapa wanita tua yang menjual lampion kecil dalam wadah kertas untuk dilarung ke atas sungai.

Orang-orang berjuang untuk hidup tentu saja, ketika pasangan-pasangan romantis naik perahu, nenek-nenek tua ini berjuang menjual lampion-lampion kecil untuk melanjutkan hidupnya.  Saya ingin menghabiskan malam ini sampai pagi di tepi sungai, tetapi saya salah duga. Tepat jam 9, setelah saya mencicipi kopi Vietnam di salah satu kafe, lampion-lampion mulai mati. Kafe-kafe juga mulai closing dan mengusir pembelinya.

Turis-turis mulai pulang ke hotel masing-masing. Begitu saya, akhirnya memutuskan kembali ke hotel. Lebih lucu lagi ternyata hotel sudah mematikan semua lampu dan penjaga tidur di depan pintu masuk. Tepat jam 10 malam, kota romantis ini telah mati.

Saya sudah mengunjungi beberapa kota tua di beberapa negeri seperti Edinburgh Old Town di Inggris, Phuket Old Town di Thailand, Kyoto Old Town di Jepang, Takayama Old Town di Jepang,  Jeonju Hanok village di Korea, Geneva Old Town di Geneva Swiss dan saya jatuh cinta pada Hoi An The Ancient Town dibanding yang lainnya. Saya akan kembali lagi untuk bulan madu. Semoga.

Hanoi, Vietnam : Kota Ramah Di Tepi Sungai Merah

“Every new friend, is a new adventure, the start of more memories… – Patrick Lindsay.
Pagi baru dimulai saat pesawat yang saya tumpangi mendarat di bandara Noi Bai international airport Hanoi, Vietnam utara.  Waktu tempuh dari Kualalumpur ke Hanoi sekitar 2 jam penerbangan. Belum meletihkan untuk satu perjalanan udara bahkan saya bisa menikmatinya.  Ini kedua kalinya saya menjejakkan kaki di Vietnam setelah sebelumnya pada tahun 2011, saya mengunjungi Saigon, Ho chi Minh, Vietnam selatan.
 
Noi Bai International airport tidak terlalu megah. Begitu selesai urusan imigrasi, hanya perlu berjalan sebentar sudah berhadapan dengan pintu keluar utama.  Setelah mematuhi nasehat pejalan lain untuk menukarkan uang USD yang saya bawa dari Indonesia di Songviet Corp Currency Exchange karena nilai tukarnya lebih bagus dari money changer yang lain dan tidak memotong biaya apapun, saya segera keluar pintu utama.  Bus bernomor 86 akan membawa saya ke pusat kota Hanoi. Bus stop 86 terletak di sisi kiri setelah keluar pintu utama airport. Hanya dengan tiket seharga 35.000 VND atau sekitar Rp. 22.000,  bus berwarna kuning yang mirip TransJakarta dan nyaman ini akan membawa saya ke pusat kota. Rata-rata backpacker dari berbagai negara menggunakan bus ini karena dipastikan lebih murah dibanding taksi atau angkutan online. Di Hanoi juga beroperasi Grab car dan Grab Bike, meskipun saya tidak sempat mencoba angkutan online itu karena lebih banyak berjalan kaki atau naik bus. 
Saya meminta kondektur agar memberi tahu saat bus tiba di Old Quarter tempat saya menginap, yang ternyata masih harus berjalan sekitar 1 kilometer dari halte tempat saya turun menuju hotel. Tetapi keramahan resepsionis hotel membuat keletihan saya mencari lokasi hotel hingga nyasar-nyasar langsung hilang. Saya suka cara mereka memperlakukan tamu. Sopan, ramah, hangat dan ringan tangan untuk membantu.  
Hanoi merupakan ibukota Vietnam yang dahulu berfungsi sebagai ibukota Vietnam Utara. Terletak di tepi kanan Sungai Merah, Hanoi memiliki iklim yang lembab ; saat musim panas sangatlah panas dan lembab namun pada musim dingin, relatif dingin dan kering.  Bulan Februari ini Hanoi masih dingin dan berkabut. Hujan juga masih turun jadi jaket dan jas hujan sangat diperlukan.  Vietnam yang bernama resmi Republik Sosialis Vietnam ini merupakan negara paling timur di Semenanjung Indochina, Asia Tenggara. Berbatasan dengan Tiongkok di sebelah utara, Laos di sebelah barat laut, Kamboja di sebelah barat daya dan Laut China Selatan membentang di sebelah timur.

 

Sebagai backpacker muslim, tantangan saya di setiap perjalanan adalah mencari makanan halal.  Makanan halal di Hanoi tidaklah sulit, meski juga tidak gampang ditemukan. Di areal Masjid Al Noor, Hang Luoc street ada kantin kecil yang menyediakan makanan halal dengan menu-menu yang sangat enak. Sore setelah istirahat sejenak, saya memasuki kantin kecil itu dan bertemu banyak muslim dari berbagai negara. Seperti layaknya saudara yang lama tidak berjumpa, kami langsung akrab dan berbagi kursi. Beberapa orang lelaki bahkan makan di emperan masjid karena kursi kantin sudah penuh. Saya setuju dengan saudara dari Malaysia bahwa makanan di sini sangat enak. Bahkan hanya dengan menu tumis kangkung saja rasanya luar biasa. Mungkin juga karena saya sangat kelaparan.   
  
Tak hanya di Masjid Al Noor, saya juga mencoba restaurant halal India PK Spice Restaurant di Hang Manh street yang terletak di kawasan Old Quarter. Jadi untuk teman-teman muslim yang akan berkunjung ke Hanoi tidak perlu khawatir mencari makanan halal, memang tidak banyak tetapi mudah ditemukan jika anda menginap di kawasan Old Quarter.
Hanoi Old Quarter merupakan tempat yang terdiri dari 36 ruas jalan dan telah berusia lebih dari 1000 tahun. Berbagai gerai toko berada di ruas jalan ini seperti cinderamata, obat-obatan herbal, baju, sutera pelangi, bunga dan banyak lagi. Ruas-ruas jalan ini dinamai berdasarkan produk yang dijual. Old Quarter menurut saya sangat menarik, apalagi di kawasan ini juga terdapat beberapa tempat wisata seperti Ba Ma Temple, Danau Hoan Kiem, Ngoc Son temple, Viatnemese Women’s Museum, Dong Xuan Market dan beberapa tujuan wisata menarik lainnya.  Saya lebih suka berjalan kaki menyusuri 36 ruas jalan di Old Quarter meskipun bisa menggunakan Cyclo, atau becak khas Vietnam. Setelahnya bisa berjalan menuju tepi danau Hoan Kiem untuk  duduk menikmati senja. 

 

“Where are you from?” tanya seorang lelaki pejalan saat saya duduk di salah satu meja kapal Halong Bay esok harinya.  “Indonesia,” jawabku sambil duduk di hadapannya. Seorang perempuan berambut pirang, satu lagi berwajah melayu berambut keriting dan satu lagi mengenakan jilbab duduk di samping lelaki itu. “Oh, i see. Nasi goreng right? I like nasi goreng,” lanjut lelaki itu.  Dan pembicaraan kami mengalir lancar disertai gurauan. Meraka dari Australia, Philipina, Malaysia dan Brazilia. Keempatnya solo traveler yang dipertemukan dalam bus menuju Halong Bay dan sudah pernah berkeliling Indonesia sampai ke lekuk-lekuknya sementara saya yang asli Indonesia malah belum. Oke, pertemuan yang menarik di meja kapal Halong Bay, semenarik tempat yang sudah sangat lama ingin saya kunjungi ini.

 

Teluk Halong merupakan teluk di sebelah utara Vietnam yang berbatasan dengan Tiongkok dan berjarak sekitar 170 km dari Hanoi. Saya memesan paket tour dari Klook karena tidak bisa pergi naik motor sendirian dan juga tidak tahu caranya jika harus pergi sendirian. Klook menurut saya sangat recomended karena profesional pelayanan dan guidenya yang tanggap juga ramah. Saya dijemput di hotel dan bertemu peserta lain di salah satu jalan kawasan Old Quarter dan pulangnya diantar ke jalan dekat hotel lagi. Bus yang saya naiki juga bagus dan nyaman, termasuk makanan dan kapal di Halong Bay. Bahkan request halal food saat memesan tiket secara online juga disediakan ketika makan bersama di kapal.  Secara khusus sang guide menyajikan sepiring makanan halal khusus. 

 

Teluk Halong sejak tahun 1994 ditetapkan sebagai warisan dunia oleh Unesco, bahkan pada tahun 2012, teluk ini menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia versi New 7 Wonders Foundation. Teluk ini terdiri dari 1900 lebih pulau-pulau kapur yang menjulang dramatis. Beberapa pulau memiliki goa yang besar dan cantik seperti goa Hang Dau Go yang merupakan goa terbesar di kawasan Halong. Mengunjungi teluk ini, saya seperti diseret ke tempat asing yang mistis dan luar biasa indah. Kabut yang menyelimuti pulau-pulau kapur yang menjulang itu menambah kecantikan teluk ini. Sayangnya saya belum sempat mengekplor lebih dalam kehidupan penghuni teluk ini karena waktu yang sempit. Jadi saya hanya bisa menikmati keindahannya sebagai turis tanpa mengetahui kehidupan penghuninya.  Saya ingin kembali dan bertemu penghuninya suatu saat nanti.
Hanoi yang cantik, penduduknya yang ramah dan teman perjalanan saya yang menyenangkan, membuat perjalanan singkat saya sangat berkesan. Saat resepsionis meminta maaf jika ada kekurangan selama saya tinggal di sana, lalu bersama tiga petugas hotel lainnya mengantarkan saya ke mobil yang akan mengantar saya ke bandara, mendadak saya gelisah. Saya seperti hendak berpisah dengan saudara-saudara saya sendiri. Saya enggan pergi, tetapi pejalan harus terus berjalan meski hati saya tertambat di Hanoi.

 

 

 

Baduy : Jalinan Persaudaraan 15 Tahun

“Panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung, kurang tidak boleh ditambah, lebih tidak boleh dikurang,” (Pepatah Suku Baduy yang maknanya manusia harus jujur apa adanya)

Rumah Suku Baduy

Hampir tiga minggu saya tidak bisa menulis karena writer’s block. Beberapa deadline berantakan. Semakin saya memaksakan diri untuk menulis, semakin saya kacau.  Saya harus pergi ke suatu tempat yang membuat otak saya fresh.  Lalu, saya memutuskan pergi ke Baduy,  dengan pertimbangan saya bisa jalan-jalan ke hutan sekaligus bertemu saudara Baduy yang pernah saya kunjungi sebelumnya.

Jalan menembus hutan ke perkampungan Baduy

 

Hutan menuju perkampungan Baduy

 

Sungai jernih di Baduy

Ini ketiga kalinya saya ke Baduy.  Pertama kali ke Baduy tahun 2003, mengikuti teman mahasiswa yang sedang penelitian, lalu tahun  2008, riset untuk novel yang sampai hari ini belum juga ditulis. Dari ketiga kunjungan itu saya menginap di tempat yang sama yaitu di rumah Kang Sarpin Baduy luar yang kemudian saya anggap sebagai saudara. Saya mengagumi keluarga Kang Sarpin dan mengikuti perjalanan keluarga ini dari anak-anak mereka kecil hingga tumbuh dewasa.  Jika ada yang bilang ikatan persaudaraan tidak hanya terjadi karena ikatan darah, maka saya menemukan ikatan persaudaraan ini dengan keluarga Kang Sarpin. 
Tahun 2003, pertama kali ke Baduy bertemu Kang Sarpin
 

Tahun 2008, kedua kalinya ke Baduy, Marno anak Kang Sarpin masih kecil
Tahun 2018, ketiga kalinya ke Baduy, Marno anak Kang Sarpin sudah remaja.
Orang-orang yang belum pernah ke Baduy selalu berpikir bahwa Baduy itu seram, susah dijangkau dan antah berantah. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Sebelum ada KRL, memang agak menyebalkan naik kereta dari Jakarta ke Rangkasbitung dengan kondisi kereta yang buruk. Tapi setelah ada KRL perjalanan menjadi sangat gampang. Kita hanya perlu naik KRL dari Tanah Abang ke Rangkasbitung dengan biaya Rp.13.000 selama 2 jam perjalanan lalu disambung dengan mobil ELF ke Ciboleger dengan biaya Rp.25.000 selama 2 jam perjalanan. Dari Ciboleger kita jalan kaki menembus hutan sekitar 1 jam dengan jarak 2 kilometer, baru kemudian sampai di perkampungan Baduy.
Salah satu rumah suku Baduy

 

Kampung Gajeboh Baduy

Gadis mencuci di Sungai
Dari ketiga kali kunjungan saya, Baduy luar mengalami banyak perubahan mulai dari jalanan yang semula tanah menjadi batu-batu berundak sehingga memudahkan para pejalan, rumah-rumah yang semakin rapih serta manusia-manusianya yang menjadi lebih terbuka. Tetapi Baduy tetap sama di mata saya. Tempat ini bukan tempat wisata buat saya, tetapi tempat untuk mencerahkan pikiran dan menata ulang sudut pandang.  Sebagai orang yang tinggal di Jakarta, saya tidak perlu kecentilan mencari sensasi dengan terkaget-kaget tidur di balai-balai, mandi di pancuran terbuka, makan dengan ikan asin atau bergelap-gelap tanpa listrik. Saya lebih suka memasuki alam pikiran warga Baduy yang sederhana, apa adanya dan damai. Bahkan saya mengagumi cara mereka bertemu di jalanan, berhenti sejenak, saling menyapa hangat seperti semut-semut yang bertemu saudaranya.  Karena itu semua, saya lebih suka ke Baduy sendirian bukan bersama rombongan sehingga saya bisa maksimal hidup di tengah-tengah mereka meskipun hanya beberapa hari.
Laki-laki suku Baduy
 

Kegiatan para wanita menenun

Berjalan menembus hutan
Kegiatan yang bisa dilakukan di perkampungan ini adalah pergi ke sungai, menyusuri beberapa perkampungan yang sudah terhubung dengan jembatan bambu dan jalanan batu berundak sehingga sangat mudah untuk menjelajah sendiri sekalipun, ikut tuan rumah ke ladang ikut para wanita belajar menenun dan berkunjung ke Baduy dalam. Jarak Baduy dalam dari Baduy luar sekitar 10 km berjalan kaki. Adat istiadat di Baduy dalam lebih ketat, misalnya kita tidak boleh mandi menggunakan sabun saat mandi di sungai dan hanya menggunakan lampu minyak kecil pada malam hari.  Jika di Baduy luar masih tersedia bilik-bilik pancuran untuk mandi, di Baduy dalam harus ke sungai.
Malam di rumah Suku Baduy
 

Ambu kesayangan, istri Kang Sarpin

 

Gadis-gadis kecil Suku Baduy yang cantik

Saya mencintai Baduy sejak pertama saya datang berkunjung.  Malam-malam gelap di bawah cahaya bulan dan bintang, udara dingin yang membuat tubuh menggigil, suara anjing yang menggonggong di hutan, laki-laki yang bersenandung lagu Sunda sambil berjalan dalam gelap, suara langkah kaki bersahutan dalam hening malam dan tawa lirih para gadis yang duduk di emper rumah menunggu kantuk.  Saya sering berharap malam tidak cepat berlalu saat menginap di Baduy, karena malam-malam di perkampungan ini sangat indah.  Membuat otak saya terbuka, membersihkan sampah yang selama ini terkeliaran tanpa manfaat di kepala saya dan menghadirkan energi-energi positip baru. Selama perkampungan Baduy ini masih ada, saya akan terus kembali. 

Kopi Kong Djie Belitung : Menikmati Arabika Dan Robusta Dalam Satu Cangkir

“Adventure in life is good; consistency in coffee even better. (Justina Chen)”

Matahari belum tinggi saat mobil kami membelah jalanan Belitung yang rapih dan bersih. Sebelum menjelajah pantai di Belitung Selatan, kami memutuskan untuk singgah di kedai kopi paling otentik di Belitung yaitu kedai kopi Kong Djie. Terletak di jalan Siburik Barat Tanjung Pandan depan Gereja Regina Pacis, kedai kopi ini sudah berdiri sejak 1943. Mungkin ini bukan kedai pertama yang ada di Belitung tetapi setidaknya kedai kopi  yang masih mempertahankan keotentikannya selama 75 tahun.

 

Bangunan kedai kopi Kong Djie tampak tradisional, sederhana dan kecil. Mungkin hanya bisa menampung sekitar 50 pengunjung baik di bagian luar kedai maupun di dalam kedai. Karena bagian luar penuh, kami memutuskan mencari tempat duduk di bagian dalam satu meja dengan warga lokal yang ngopi pagi sambil bercengkerama.  Berbagai lapisan masyarakat berbaur dalam aroma kopi dan candaan yang hangat.  Sambil menunggu dua cangkir kopi susu pesanan yang merupakan favorit di kedai ini, kamipun terlibat obrolan dengan warga lokal.  Menurut mereka, masyarakat Belitung selalu mengawali dan mengakhiri hari-harinya dengan segelas kopi. Pagi sebelum beraktivitas mereka menyulut semangat dengan segelas kopi dan malam sepulang aktivitas  juga melepas penat dengan segelas kopi.  Kedai Kong Djie buka mulai pukul 5 pagi hingga 4 sore. 

 

 

Tak lama pesanan kopi susu kami datang.  Sebenarnya tak hanya kopi susu yang laris dipesan di kedai ini, namun juga kopi O dan kopi hitam. Saya menyesap kopi perlahan dan merasakan nikmatnya kopi susu yang lembut.  Memakai campuran kopi Arabika dan Robusta serta resep rahasia peninggalan keluarga, kopi ini dimasak dalam tungku arang supaya aromanya keluar.  Agar kopi tidak terbau apek, air yang digunakan untuk menyeduh harus benar-benar mendidih. Ada tiga ceret  yang digunakan untuk memasak kopi ini, satu berukuran paling tinggi dan dua yang lain berukuran setengahnya.  Ketiga ceret ini dahulu terbuat dari tembaga, namun sekarang sudah dimodifikasi menggunakan bahan aluminium. Perubahan bahan ceret ini tidak akan mengubah kenikmatan rasa kopi yang dihasilkan. Tak hanya menjual kopi, kedai Kon Djie juga menyediakan makanan kecil seperti donat, pastel, gorengan dan telur ayam setengah matang.

 

Duduk di dalam kedai kopi yang sudah berumur 75 tahun dan dipertahankan keotentikannya, membuat saya melamunkan masa tahun 1943.  Saat itu Indonesia belum merdeka dan masih dalam penjajahan Jepang.  Menurut pemiliknya yang merupakan generasi penerus kedai kopi Kong Djie, keluarganya yang bermarga Ho, Tionghoa terpaksa menyeberang dari Bangka ke Belitung karena kelaparan pada masa penjajahan Jepang.  Mereka kemudian mendirikan kedai kopi Kong Djie.  Kata Kong Djie sendiri berasal dari bahasa Hakka (bahasa yang dituturkan oleh orang Hakka di pegunungan Guangdong, Tiongkok), Kong artinya terang, sementara Djie adalah nama untuk anak kedua. Kedai ini memiliki beberapa cabang dengan mengadopsi sistem franchise yang hanya meminjam brand sementara bahan baku diambil dari Kong Djie. Di franchise ini pula, Kong Djie menempatkan satu peracik kopi yang telah menguasai racikan kopi mereka. Karena tidak ada perkebunan kopi di Belitung kedai kopi Kong Djie terpaksa mengambil pasokan kopi dari pulau Jawa dan Sumatera. 

 

 

Segelas kopi susu di cangkir kami telah tandas dan warga lokal yang menemani kami telah berangkat beraktivitas. Tapi saya enggan meninggalkan kehangatan kedai kopi ini. Saya bisa merasakan perjuangan masa lalu yang hebat, tradisi yang mengikatnya dan sejarah yang terbentuk selama 75 tahun di kedai ini. Mungkin benar kata-kata yang pernah saya baca, Tuhan menciptakan kopi agar kita bisa berteman, bercengkerama, tertawa dan saling memahami. Dan itu semua saya temukan di kedai kopi Kong Djie.

 

Belitung, Ketika Alam Membuatku Jatuh Cinta

“Kata orang Indonesia adalah potongan surga yang jatuh ke bumi, dan mungkin Belitung salah satu potongannya.”

Matahari belum tinggi saat saya membelah jalanan kota Tanjungpandan yang basah setelah hujan semalam.  Kota yang bersih, jalanan beraspal halus dan suasana yang lengang membuat saya seperti memasuki sisi dunia lain setelah keluar dari kebisingan Jakarta.  Terkenal dengan sebutan Bumi Laskar Pelangi sejak novel dan film Laskar Pelangi meledak tahun 2008, Belitung menjadi tempat wisata terkenal di Indonesia.  Pantai-pantai yang cantik, terumbu karang yang terawat, pulau-pulau yang masih perawan dan infrastruktur yang mendukung membuat Belitung bertahan menjadi tempat tujuan wisata.  Saya menjelajahi Belitung untuk membuktikan bahwa tempat ini seperti potongan warna surga yang jatuh ke bumi.

PANTAI TANJUNG KELAYANG DAN PULAU BURUNG

Saya memerlukan waktu 45 menit bermobil dari pusat kota Tanjungpandan untuk sampai di pantai Tanjung Kelayang.  Begitu turun dari mobil  saya disergap papan besar dengan tulisan warna-warni “PANTAI TANJUNG KELAYANG” dan “WELCOME TO BELITONG”.   Di belakang tulisan ini pemandangan biru air laut tampak sempurna. Airnya jernih, pasirnya putih halus dan bebas sampah membuat saya terpesona.  Banyak kapal nelayan bersandar di pantai ini, menambah cantiknya pemandangan. 

Pantai Tanjung Kelayang juga menjadi pelabuhan untuk para wisatawan memulai menjelajah pulau-pulau kecil yang cantik.  Setelah berganti pakaian untuk berenang, saya mulai menjelajahi pulau-pulau kecil di sekitar pantai Tanjung Kelayang.  Tak jauh dari pantai Tanjung Kelayang, tampak pulau kecil dengan batu granit  menjulang tinggi menyerupai kepala burung garuda. Pulau ini juga disebut pulau Burung. Karena masih pagi, kami memutuskan untuk menjelajah pulau terjauh lebih dahulu.  Sepanjang perjalanan, langit biru cerah dan air laut di kejauhan tampak berwarna toska.  Batu-batu granit yang berwarna putih tampak kontras dengan kebiruan di sekelilingnya. Baru memulai penjelajahan dan saya sudah memercayai bahwa Belitung adalah potongan warna surga yang jatuh ke bumi.

  
PULAU BATU BERLAYAR
Setelah berperahu sekitar 20 menit sampailah saya di pulau Batu Berlayar.  Seperti namanya, pulau Batu Berlayar memiliki ciri batu granit yang lebar seperti kapal yang sedang berlayar di tengah lautan.  Saya turun ke pantai dan menyusuri pantai. Batu-batu granit menyebar eksotis di sekeliling pulau. 

Airnya sangat jernih dan pasirnya putih lembut.  Sejauh mata memandang tampak kebiruan air laut, langit yang cemerlang dan batu-batu granit putih yang menjulang.  Saya menceburkan diri berendam di lautan dangkal yang jernih itu sambil melihat burung-burung kecil yang terbang di langit.  Sepertinya saya akan betah berjam-jam berendam di sini. Namun, saya memutuskan melanjutkan perjalanan ke pulau lain.

PULAU LENGKUAS

Sebelum mencapai Pulau Lengkuas, saya singgah di spot snorkeling yang menyuguhkan pemandangan bawah laut yang indah.  Terumbu karangnya masih terjaga dan ikan warna-warni berseliweran di sekitar saya.  Saya ingin berenang lebih lama di spot ini, tetapi mercusuar di Pulau Lengkuas yang menjulang tinggi seolah-olah memanggil saya untuk segera ke sana. 

Pulau Lengkuas memiliki ikon mercusuar peninggalan Belanda sejak 1882 setinggi 62 meter yang masih berfungsi untuk memantau kapal yang keluar masuk ke Pulau Belitung hingga saat ini. Kita bisa memasuki mercusuar dan naik ke atas melalui anak tangga, tetapi saat ini hanya bisa sampai lantai 4 karena sedang direnovasi.  Di setiap lantai terdapat jendela yang mempelihatkan pemandangan birunya laut Belitung.  

Tempat ini juga menjadi tempat istirahat para wisatawan setelah menjelajahi pulau demi pulau.  Banyak tempat duduk dari kayu yang bisa kita gunakan untuk istirahat makan siang sambil menikmati pemandangan laut yang indah.  Jangan lupa sambil minum air kelapa muda yang segar.Tak hanya mercusuar yang menjulang ikonik, di sisi lain tempat ini juga terdapat batu-batu granit besar yang membuat pulau ini tampak semakin eksotis.  Para pengunjung bisa memanfaatkan sisi ini untuk berfoto.  Di bawah pohon besar teduh yang daunnya kemerahan menjulang ke laut, saya duduk berjam-jam menikmati pemandangan. Tempat ini sangat indah tepat untuk menenangkan diri.

 PULAU KELAYANG

Matahari sedikit condong ke barat ketika saya melanjutkan perjalanan menuju Pulau Kelayang.  Berjarak 20 menit dari Pulau Lengkuas menggunakan perahu, pulau ini merupakan pulau terbesar diantara gugusan pulau-pulau yang lain. 


Tak hanya bisa menikmati bebatuan granit yang menjulang, dan pasir putih yang halus, di tempat ini kita juga bisa memasuki hutan kecil yang terdapat goa di dalamnya. Goa yang terbentuk dari bebatuan granit ini terhubung dengan laut. Jika kita menyusuri lebih jauh, kita bisa naik ke atas batu-batu granit dan memandang laut dari ketinggian. Dari bebatuan tinggi ini kita bisa melihat birunya laut di kejauhan. Pulau Kelayang tidak jauh dari pantai Tanjung Kelayang, maka setelah puas menikmati pemandangan di Pulau Kelayang, saya kembali ke Pantai Tanjung Kelayang untuk melanjutkan perjalanan ke pantai yang lain.

PANTAI TANJUNG TINGGI

Pantai Tanjung Tinggi juga dikenal sebagai Pantai Laskar Pelangi karena pantai ini menjadi lokasi syuting film Laskar Pelangi. Terletak tidak jauh dari pantai Tanjung Kelayang, pantai cantik ini memiliki banyak sekali batu granit yang besar dan tinggi sehingga menjadikan pantai ini sangat unik. Nama Tanjung Tinggi diambil dari kata tanjung yang artinya semenanjung dan tinggi yang artinya pantai yang memiliki bebatuan yang tinggi. 

Di pantai ini pengunjung bisa melakukan banyak aktivitas seperti mendaki batu-batu granit yang tinggi dan melihat pemandangan laut dari ketinggian, memancing di sela-sela bebatuan, berenang atau duduk menunggu matahari terbenam seperti yang saya lakukan. Pemandangan saat matahari terbenam di pantai ini sangat menakjubkan.

PANTAI PENYABONG

Esoknya saya melanjutkan perjalanan menjelajah Belitung Selatan. Tujuan pertama saya mengunjungi Pantai Penyabong.  Jalanan bagus beraspal menyambung sampai pantai, sehingga mobil bisa masuk sampai tepi pantai.  Kita hanya perlu berjalan sedikit untuk menaiki batu granit besar yang ada di sisi pantai.  


Pantai di Belitung Selatan lebih alami, sepi dan perawan dibanding pantai sebelumnya. Di sini bebatuan granit besar menjulang tinggi sehingga para pengunjung bisa naik ke atas untuk menikmati pemandangan lautan biru dari ketinggian.  Saya mendaki ke atas batu dan melihat warna laut seperti berlapis mulai dari biru jernih dan hijau toska. Di tempat ini juga terdapat warung makan yang menjual masakan kepiting dengan harga murah. Anda tak akan melewatkan ini setelah melihat pemandangan alam yang menakjubkan.

PANTAI TELUK GEMBIRA

Pantai Teluk Gembira terletak tidak jauh dari Pantai Penyabong. Pantai ini telah dilengkapi berbagai fasilitas lengkap untuk menerima para wisatawan seperti restoran, gasebo, mushala, toilet yang bersih dan bagus.  Pengunjung bisa menikmati keindahan pantai sambil duduk di gasebo tepi pantai atau duduk di bebatuan granit yang menjorok di pantai.

 Memiliki panorama yang indah perpaduan antara bebatuan granit, pasir putih serta laut lepas yang berwarna biru dihiasi pulau-pulau kecil di sekitar Teluk Gembira, pantai ini memiliki air yang jernih dan bebas dari sampah. Di pantai Teluk Gembira ini juga terdapat dermaga penyeberangan yang disinggahi oleh perahu yang membawa orang-orang yang tinggal di Pulau Seliu. Setiap hari ada dua kali jadwal perahu yang menyebarang dari Teluk Gembira ke Pulau Seliu dan sebaliknya.

DANAU KAOLIN
Tempat terakhir yang melengkapi potongan warna surga di Belitung yaitu Danau Kaolin. Danau berwarna hijau toska ini terletak di desa Air Raya Tanjungpandan.
   

Memiliki daratan yang putih bersih dan warna air yang hijau toska, danau ini berasal dari bekas penambangan Kaolin yang telah ditinggalkan.  Kaolin merupakan bahan untuk membuat cat dan kosmetik.  Air danau ini juga dipercaya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit.  Perpaduan warna putih dan hijau toska akan menjadi obyek foto yang menarik jika anda menyukai fotografi.  ***

Pantai Cantik Di Dekat Jakarta

Gaya hidup Jakarta yang serba macet, bising dan terburu-buru membuat sebagian orang mudah dilanda stress hingga depresi. Jika anda penyuka pantai, ada beberapa pantai cantik yang dekat dengan Jakarta yang bisa anda kunjungi bersama keluarga untuk melepaskan penat, tidak membutuhkan waktu lama dan anggaran-pun tidak akan membengkak. Pantai apa saja itu? Simak pengalaman perjalanan saya menyusuri pantai cantik yang tidak jauh dari Jakarta.

 

1.                PULAU HARAPAN

Pulau harapan terletak di gugusan pulau seribu, berjarak 2 jam menggunakan speedboat dari Marina Ancol, atau 3 jam jika anda menggunakan kapal ekonomi dari Kaliadem. Pulau ini merupakan pulau berpenduduk, jadi anda bisa menyewa rumah penduduk untuk menginap.  Fasilitas homestay cukup nyaman, bahkan pemilik rumah akan memasakkan makanan untuk anda termasuk dalam biaya menginap. Tetapi jika anda tidak mau repot, lebih baik anda memesan paket trip dari Jakarta, sehingga sampai Pulau Harapan tinggal menikmati liburan. 

Memiliki pantai yang berpasir putih, taman bermain, warung makan, deretan kios souvenir dan dermaga untuk menjemput dan mengantar penumpang kapal, Pulau Harapan juga menjadi pintu untuk para wisatawan menjelajahi pulau-pulau kecil di sekitarnya.  Dengan menyewa kapal anda bisa island hoping ke beberapa pulau cantik seperti Pulau Bulat, Pulau Bira dan Pulau Kalampunian Besar.  Semua pulau kecil itu memiliki pantai yang cantik, berpasir putih dan masih perawan. Tak hanya menikmati pantai, anda juga bisa snorkeling untuk menikmati terumbu karang indah yang ada di bawah laut.  Malamnya, anda bisa menikmati ikan bakar yang lezat di depan homestay anda.  Pulau Harapan bisa dikunjungi dengan waktu singkat 2 hingga 3 hari. Anda bisa melakukannya saat weekend bersama keluarga.

2.               
                    PULAU PAHAWANG

Beberapa tahun terakhir, Pulau Pahawang naik daun dan banyak dikunjungi wisatawan. Terletak di Lampung, anda memerlukan waktu sekitar 12 jam perjalanan darat dan laut dari Jakarta untuk sampai Pulau Pahawang.  Tetapi jika anda menggunakan pesawat waktu bisa dipangkas lebih pendek.  Dari Pelabuhan Ketapang, anda bisa menyewa kapal untuk island hoping menikmati pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Pahawang yang tak kalah cantiknya. Saya justru lebih jatuh cinta pada pulau-pulau kecil yang jarang dikunjungi seperti Pulau Balak, Pulau Kelagian, Taman Nemo Pulau Pahawang, Pulau Kelagian Lunik dan Tanjung Putus.  Pantainya berpasir putih lembut dan airnya jernih.  Anda bisa snorkeling dan berendam di pantai sepuas-puasnya. 

Banyak homestay dan beberapa resort disediakan di Pulau Pahawang. Penginapan homestay sebagian besar digunakan pengunjung open trip sementara resort biasanya dipilih pengunjung yang membutuhkan suasana tenang bersama teman atau keluarga. Saya menginap di sebuah resort di Tanjung Putus tepat di depan pantai dengan harga yang terjangkau sudah termasuk biaya makan. Ada beberapa pilihan harga resort yang bisa kita sesuaikan dengan dana yang kita miliki.  Saya sarankan anda memilih paket trip yang tepat yang memberi keleluasaan anda memilih tempat menginap, menyediakan makan sehingga anda tidak kesulitan lagi mencari makan serta memberikan pilihan island hoping yang menarik sehingga perjalanan anda aman dan nyaman. Pulau Pahawang dan pulau-pulau kecil yang masih perawan di sekitarnya menjadi pilihan menarik untuk mengisi weekend gateway anda dan keluarga.

3.                 PULAU BELITUNG

Sejak novel dan film Laskar Pelangi meledak di pasaran, pulau ini menjadi sangat terkenal. Seringkali kita berpikir pulau ini jauh tetapi kenyataannya hanya membutuhkan waktu 50 menit menggunakan pesawat dari Jakarta.  Anda hanya memerlukan waktu 3 sampai 4 hari untuk mengunjungi Belitung dan akan menikmati panorama alam yang luar biasa indahnya. 

Memiliki infrastruktur yang bagus dan lengkap, serta panorama laut yang membiru, pasir putih dan batu-batu granit yang menjulang membuat Belitung sangat istimewa. Anda bisa mengunjungi Pantai Tanjung Kelayang yang menjadi pelabuhan kapal untuk memulai island hoping menuju pulau-pulau kecil cantik seperti Pulau Burung, Pula Lengkuas dan Pulau Batu Berlayar. Semua pulau ini memiliki pantai berpasir putih dan bebatuan granit yang unik.  Tak hanya menyusuri pantai, anda juga bisa snorkeling untuk menikmati keindahan bawah laut.   Jika anda memiliki cukup waktu, Pantai Penyabong dan Pantai Teluk Gembira di Belitung Selatan tak kalah menarik. Lebih perawan dibanding pantai-pantai yang lain, pantai di Belitung Selatan ini layak untuk dikunjungi. Nah, tertarik mengisi weekend anda untuk mengunjungi pantai?  Saya yakin dengan mengunjungi pantai-pantai itu anda akan kembali semangat menjalani rutinitas sehari-hari. ***

Bertemu Tarsius Di Belitung

Belitung selain memiliki panorama alam yang luar biasa indah perpaduan pasir putih yang lembut, batu granit yang menjulang di berbagai pulau dan air laut yang membiru ternyata menyimpan kekayaan fauna langka yang menarik untuk dikunjungi. Apakah primata langka itu? Ia adalah Tarsius, monyet kecil berukuran sekitar 15 centimeter dengan berat 1 kilogram yang terdapat di hutan Batu Mentas, Kecamatan Badau, Belitung Barat, sekitar 40 menit berkendara dari pusat kota Tanjungpandan. 

 

Hanya ada tiga tempat di Indonesia yang menjadi habitat Tarsius, yaitu Sulawesi Utara, Kalimantan dan Belitung.  Tarsius jenis spectrum mendiami Cagar Alam Gunung Tangkoko, Sulawesi Utara dan Tarsius bancanus saltator yang mendiami hutan Batu Mentas Belitung. Menurut informasi Tarsius Tangkoko berukuran lebih kecil dari Tarsius Batu Mentas dan hidup berkelompok pada lubang-lubang pohon. Sedangkan Tarsius Batu Mentas cenderung hidup di bawah kanopi daun dan hidup berpindah-pindah dengan menandai teritorinya menggunakan air seninya.

 

 

MONYET HANTU YANG SETIA

 

Warga Belitung menyebut Tarsius bancanus saltator ini sebagai pelilean atau monyet hantu.  Pelilean hidup nocturnal atau aktif di malam hari.  Karena hidup di malam hari, maka ia akan tidur pada siang hari.  Tarsius termasuk karnivora.  Bentuk matanya besar dan pada malam hari menjadi sangat awas. Ia dengan mudah menemukan mangsanya seperti kecoa, burung, jangkrik dan kelelawar yang kemudian menjadi makanannya.  Tarsius juga mampu memutar kepalanya 180 derajat sehingga dengan matanya yang lebar pada malam hari akan sangat mengejutkan saat bertemu dengannya. Karena aktif pada malam hari, saat saya berkunjung ke Batu Mentas siang hari, Tarsius ini hanya diam di balik kanopi pohon sembunyi dari pengunjung.

 

Tarsius merupakan primata langka terkecil di dunia yang termasuk dalam kelas mamalia dari famili Tarsiidae.  Ia melakukan semua aktivitas hidupnya di pohon mulai dari makan, minum, tidur bahkan saat melahirkan sekalipun. Berbeda dengan monyet yang suka bergelayutan di atas pohon, Tarsius dengan tulangnya yang bisa memanjang lebih suka melompat-lompat dari pohon satu ke pohon yang lain.  Ia tidak bisa berada di atas tanah, dan ketika terpaksa di atas tanah maka ia akan terus melompat-lompat.

 

Selain menjadi habitat Tarsius, Batu Mentas juga menjadi tempat penangkaran Tarsius. Ketika saya berkunjung, ada dua Tarsius di tempat percontohan.  Menurut penjaga, kedua Tarsius itu sedang dijodohkan. Tarsius merupakan hewan yang setia pada pasangannya dan tidak mudah dijodohkan. Biasanya Tarsius hanya akan berkembang biak dengan satu pasangan.  Tetapi di Batu Mentas ini seekor Tarsius berhasil mendapatkan bayi dari pasangan yang lain.  Prestasi ini akan memberikan harapan untuk menjaga kelestarian Tarsius di masa depan.

 

 

WISATA PETUALANGAN DAN KEBUN LADA

 

Mengunjungi Batu Mentas Belitung tidak hanya akan bertemu primata langka Tarsius, tetapi juga banyak paket wisata petualangan menarik yang ditawarkan.  Mulai dari hiking menuju air terjun, river tubing, flying fox,  mandi di air sungai yang jernih hingga berkemah di areal Batu Mentas yang masih alami. Di tempat ini juga ada beberapa bungalow yang disewakan jika kita ingin menikmati suasana hutan yang tenang. 

 

Fasilitas untuk pengunjung di Batu Mentas juga cukup baik. Di areal depan sungai tampak tempat ibadah, toilet serta tempat ganti pakaian setelah bermain di sungai dan warung kecil yang menyediakan makanan untuk para pengunjung yang kelaparan. Tepat di depan sungai ada areal untuk duduk sambil menikmati pemandangan sungai yang jernih dan tenang.  Perlengkapan petualangan juga disediakan dengan lengkap untuk para pengunjung yang ingin bertualang sambil menyusuri sungai.  Tak hanya itu, tempat ini juga bersih dari sampah.

 

Selain wisata petualangan yang menarik,  Belitung merupakan salah satu tempat penghasil lada putih terbesar di Indonesia. Sepanjang jalan menuju Batu Mentas kita akan melihat perkebunan lada penduduk yang rimbun. Menurut informasi, jika kita berkunjung pada bulan Juli- Agustus, kita bisa menyaksikan para petani lada memanen lada di kebun mereka. Tak hanya lada, kita juga menemukan perkebunan nanas di sepanjang jalan menuju Batu Mentas.  Kebanyakan warga Belitung mencampurkan nanas dalam masakan mereka sehingga menimbulkan rasa asam manis yang menyegarkan. Jika anda berkunjung ke Belitung, kawasan wisata Batu Mentas ini jangan anda lewatkan karena kekayaan flora dan faunanya yang unik sangat menarik untuk dikunjungi. ***

 

Beijing : Cahaya Diantara Warna Merah

“Focus on the journey not the destination.”

 

Tiananmen square

Matahari  baru menggeliat bangun saat aku menaiki eskalator stasiun Qianmen. Sinarnya hangat menerpa tubuhku yang semalam kedinginan menginap di bangku-bangku tidak nyaman bandara Beijing. Warga lokal berjalan tergesa-gesa memasuki stasiun, hendak berangkat beraktivitas. Sebagian wisatawan menyeret kopernya tertatih-tatih dengan wajah yang letih. 

Pendestrian Tiananmen saat malam

Penginapanku di kawasan backpacker tidak jauh dari stasiun Qianmen.  Lokasinya sangat strategis karena berdekatan dengan stasiun dan Tiananmen Square. Area Qianmen membuatku langsung jatuh cinta. Bangunan-bangunan tradisional Tiongkok masih berdiri kokoh dijadikan hostel, toko souvenir, restoran-restoran dan juga tempat tinggal. Motor listrik berseliweran tetapi tidak membuat gaduh kecuali sedang mengklakson. Aku seolah sedang berada di lokasi film-film kungfu China yang aku tonton. Tempat menginapku pun bangunannya tradisional dan unik.

“Kita istirahat saja dulu beberapa jam sebelum menjelajah sekitaran Qianmen,” kata temanku.

 
Aku menyetujuinya. Tujuh jam perjalanan Jakarta-Beijing sangat meletihkan karena kami bermalam di bandara yang dingin. Sebelum menikmati jalanan kota Beijing, aku merebahkan tubuhku di pembaringan hostel. Tak sampai sepuluh menit aku terlelap.

***

Penjaga Tiananmen square

“Here we are! Tiananmen square!” teriak temanku girang.

Tiananmen square adalah alun-alun besar dengan lebar sekitar 500 meter dan panjang 880 meter yang merupakan pusat kota Beijing yang sangat terkenal. Ada empat pintu masuk utama Tiananmen square yaitu melalui utara, selatan, barat dan timur.  Alun-alun ini terbuka hingga tengah malam dengan pemeriksaan keamanan di setiap pintu masuk bagi pengunjung.

“Ri, minggir Ri, ada barisan mau lewat!” temanku mendorongku menepi.

Tampak sekelompok tentara berbaris melintasi alun-alun, sementara sebagian tentara yang lain berjaga di setiap sudut alun-alun. Ada beberapa tempat bersejarah yang bisa kita lihat di sini seperti Museum Nasional China, Makam Mao Zedong, Balai Agung Rakyat dan Monumen Pahlawan Rakyat. Pada pagi dan sore hari juga ada upacara pengibaran dan penurunan bendera. Tak hanya tempat bersejarah, di alun-alun ini juga ada penjual makanan dan minuman. Kami membeli minuman sebelum menyeberang jalan bawah tanah menuju Forbidden City.

“Jangan terlalu banyak minum,” cegah temanku ketika aku membuka botol minuman.

 
Bagi sebagian orang yang biasa tinggal di tempat bertoilet bersih, maka menggunakan toilet-toilet umum di Beijing sebaiknya dihindari. Lebih baik menggunakan toilet di hotel sebelum berangkat dan setelah pulang dari jalan-jalan. Karena akan membuat sedikit trauma dengan kondisinya yang jorok bahkan sebagian orang tidak menutup pintu toilet saat buang air.

“Sssttt! Lihat tuh kebanyakan anak kecil celananya bolong,” celetuk temanku lagi.

 
Dan begitu aku menoleh, tampak ibu dari anak itu membiarkan anaknya buang air di mana saja tanpa menggunakan air untuk membersihkannya. Dengan kondisi toilet yang horor ini, membuat aku dan teman-teman mengurangi jatah minum sehingga hampir dehidrasi.  

Forbidden City

Forbidden city atau Kota Terlarang merupakan komplek istana seluas 720.000 m2, yang dibangun sejak 1406 hingga tahun 1420.  Ada sekitar 800 bangunan dan 8000 ruangan. Warna merah, emas dan ukiran khas China mendominasi bangunan yang berdiri megah dan kokoh itu. Pada masa pemerintahan dua dinasti terakhir di China yaitu Dinasti Ming hingga Qing, sekitar 500 tahun, komplek istana ini tertutup untuk umum sehingga di sebut Kota Terlarang. Pada tahun 1987, Unesco menetapkan komplek ini sebagai situs warisan dunia. Meskipun tidak lagi ditempati kaum bangsawan, tetapi tempat ini terjaga dengan baik dan menjadi tujuan wisata yang sangat populer di Beijing. Untuk mengelilinginya diperlukan waktu tiga jam dari pintu masuk gerbang selatan di dekat Tiananmen square dan pintu keluar bagian utara. Aku memutuskan tidak berjalan sampai ujung karena kaki sudah mulai kram belum sempat istirahat panjang sejak perjalanan dari Jakarta. Belum lagi dehidrasi yang mulai mengintai tubuhku. 

Wangfujing street

Hari menjelang malam ketika aku menyusuri Wangfujing street mencari makanan halal tetapi malah tersesat masuk pasar dan membeli makanan halal yang sangat mahal. Setelah menyesal kehilangan banyak Yuan untuk seporsi makanan yang sangat tidak enak, kami kembali ke hostel melewati Qianmen street yang semarak. Pendestrian ini sangat menyenangkan untuk berjalan-jalan. Pertokoan, kafe-kafe bahkan pasar yang berjualan souvenir bisa kami temukan di salah satu gangnya. Kakiku mulai kram lagi dan aku memutuskan kembali ke hostel untuk istirahat.

***

Pagi baru saja dimulai saat kami tiba di stasiun subway Dongzhimen. Orang-orang lokal Tiongkok berjalan tergesa mengejar subway menuju tempat kerja, mengantri panjang di depan  pintu kereta dan berebut lebih dulu menaiki eskalator. Kami memilih exit B kemudian mencari terminal bus Dongzhimen yang terletak sekitar 100 meter dari pintu keluar subway.


Menurut informasi, ada beberapa bus yang bisa membawa kami ke  The Great Wall gerbang Mutianyu antara lain bus nomor 980, 915, 915 express, 916 dan 916 express. Seorang wanita petugas terminal berseragam biru dengan bahasa Inggris yang lumayan lancar menyarankan kami naik bus nomor 916 express yang melewati jalan tol sehingga lebih cepat dan turun di halte wilayah Huairou.  Karena tidak memiliki Beijing Transportation Card kami dikenakan biaya CNY 15, sedangkan pemegang kartu dikenakan biaya CNY 12 untuk perjalanan bus dari terminal Dongzhimen hingga wilayah Huairou. 

Bersama warga lokal Tiongkok yang sedang menjalankan aktivitas hariannya dan bercengkerama ramai di bus dengan teman-temannya, kami menikmati perjalanan menuju distrik Huairou, sekitar 70 kilometer dari kota Beijing tempat gerbang Mutianyu, The Great Wall berada. 

The great wall

 
The Great Wall atau Tembok Besar Tiongkok merupakan sejarah penting bagi negeri Tiongkok. Tembok yang dibangun ratusan tahun silam pada masa Dinasti Ming ini memiliki panjang sekitar 8851 kilometer dan pada tahun 1987 bangunan ini masuk sebagai salah satu situs warisan dunia Unesco. Ada empat gerbang untuk memasuki Tembok Besar Tiongkok yaitu melalui gerbang Badaling, Mutianyu, Jinshaling dan Simatai.  Gerbang Badaling merupakan gerbang yang paling populer dikunjungi turis karena jaraknya paling dekat dari kota Beijing, memiliki tanjakan yang relatif mudah dilewati dan mudah dijangkau dengan transportasi umum. Gerbang Badaling telah banyak direstorasi dan selalu ramai pengunjung. Sementara gerbang Jinshaling dan Simatai merupakan gerbang yang letaknya paling jauh dari kota Beijing dan memiliki tanjakan yang sulit dilalui. Gerbang Jinshaling dan Simatai lebih cocok untuk mereka yang memiliki stamina kuat dan penggemar hiking. 

Here we are! My dream come true!

Setelah mempertimbangkan berbagai hal, kami kemudian memilih memasuki Tembok Besar Tiongkok melalui gerbang Mutianyu. Selain tidak terlalu ramai pengunjung, gerbang Mutianyu lebih otentik dan bisa dijangkau menggunakan transportasi umum. 

Hampir jam 10 pagi saat penumpang lokal yang duduk di sebalah temanku  dengan menggunakan bahasa isyarat menyarankan agar kami turun di salah satu halte Huairao. Dari halte tersebut kami masih harus menyewa mobil untuk sampai gerbang Mutianyu. Tetapi begitu kami turun dari bis, kami dikerubungi empat sopir taksi yang gayanya setengah memaksa kami untuk naik taksinya. Temanku mencoba bertanya dengan bahasa Inggris tapi tak satupun mereka paham bahasa Inggris. Mendadak kami takut karena salah satu dari mereka kasar dan memaksa.

“Kita cari minimarket dulu aja yuk,” kata temanku menarik lenganku.

 
Aku berjalan menghindar dari empat sopir taksi itu, tetapi mereka malah mengikuti kami. Kami jadi bingung dan ketakutan. Tiba-tiba ada seorang cewek lokal yang cantik dan memerhatikan kami. Ia hendak naik ke boncengan motor yang dikendarai wanita paruh baya sepertinya ibunya.

“May i help you?” tanyanya dengan bahasa Inggris yang fasih dan jelas di dengarkan.

Yesss!!! Dunia seketika menjadi terang mendengar cewek cantik itu bisa berbahasa Inggris. Kami segera mengemukakan masalah kami. Cewek itu menjelaskan bahwa untuk sampai gerbang Mutianyu memang harus menyewa mobil mereka. Dan ia menawar harga pulang pergi ke sopir-sopir taksi itu dengan harga terendah yang ia ketahui sebagai orang lokal. Salah satu sopir yang umurnya paling tua dan wajahnya baik bersedia mengantar kami. Aku dan temanku mengucapkan terima kasih tak terhingga pada cewek cantik yang sudah menolong kami itu. Sayang sekali, aku tidak menanyakan siapa namanya dan bertukar kontak.
Gerbang Mutianyu
 

Satu jam kemudian, kami sudah sampai di gerbang Mutianyu. Suasana tidak terlalu ramai dan udara sangat sejuk. Kami membeli tiket cable car untuk naik ke tembok besar dan turunnya menggunakan kereta luncur atau toboggan dengan biaya CNY 100. Tetapi begitu antri cable car aku mulai merasa takut. Bagaimana tidak? Cable car yang aku pilih ternyata tanpa dinding kaca sama sekali. Begitu giliran kita masuk cable car, kita harus berdiri di tempat dan terdorong dengan keras masuk ke dalam cable car. Petugas kemudian mengunci kami dan cable car berjalan ke atas tanpa sekat apapun.

“Bagaimana kalau tiba-tiba ada angin kencang nabrak kita?” tanya temanku sambil tertawa saat cable car mencapai puncak tertinggi.
Cable car terbuka

Ia tahu aku sangat ketakutan. Sebagai penderita phobia ketinggian dan claustrophobia, aku ingin mengurangi ketakutanku pada ketinggian setiap kali traveling dengan mencoba hal-hal yang menantang. Tetapi keringat dingin mengaliri pelipisku. Temanku mengalihkan ketakutanku dengan mengajak melihat pemandangan di kejauhan.  Dari ketinggian, tembok besar itu terlihat meliuk-liuk bagaikan ular naga yang sedang tidur. 

Begitu aku mulai menikmati naik cable car ternyata sudah harus turun. Petugas di bawah meneriaki kami agar kami melompat karena lintasannya sangat cepat dan susul menyusul. Begitu pintu terbuka kami melompat keluar. Dan hufff! Aku oleng hampir jatuh. Untung temanku memegangi tanganku. 

Kami segera mencari pintu masuk tembok besar dan mulai mendaki. Benar seperti yang pernah aku baca, tembok besar China gerbang Mutianyu terlihat lebih otentik. Tidak banyak pengunjung sehingga lebih tenang dan tidak  berdesakan saat mendakinya.  Masih banyak pepohonan sehingga tembok raksasa ini seolah meliuk-liuk di tengah hutan.  

The great wall

 
Tembok besar gerbang Mutianyu menggunakan batu granit dengan tinggi 8 meter dan lebar 5 meter. Terdapat menara suar yang pada masanya digunakan untuk menyampaikan pesan militer dengan cara membuat sinyal asap di siang hari dan api pada malam hari. Tembok besar menjadi salah satu bagian penting dari sejarah arsitek China yaitu untuk membatasi wilayah perkotaan dan perumahan, batas kepemilikan lahan, penanda perbatasan dan jalur komunikasi untuk menyampaikan pesan.

“Bagaimana kalau kita istirahat satu jam di sini?” ajakku pada teman-teman.

 

Mereka menyetujuinya, lagipula kami menyewa mobil selama empat jam pulang pergi. Kami segera mencari tempat duduk yang nyaman, lalu membuka bekal makanan dari hostel yang aslinya makanan dari Jakarta. Puding jelly, roti dan beberapa botol minuman. 

Turun dari tembok besar kami sudah membeli tiket tobbogan atau kereta luncur. Hanya di gerbang Mutianyu yang dilengkapi kereta luncur untuk kembali ke pintu masuk. Awalnya aku membayangkan kami akan naik kereta luncur bersamaan dan kenyataannya naik sendiri-sendiri. Tanganku langsung berkeringat dingin. Aku ingin berbalik dan membeli cable car saja, tetapi haruskah aku membuang-buang uang? Aku menyeka keringat dingin dan mulai antri di dekat papan luncur. 

Kereta luncur tobbogan sejenis kereta beroda untuk diduduki dan dilengkapi dengan rem. Kereta dapat meluncur sampai 60 km/jam menempuh jarak sejauh 1.6 km diatas lintasan stainless steal. Begitu naik ke atas kereta luncur aku berusaha menyesuikan diri meskipun masih ketakutan. Naik motor saja aku tidak bisa bagaimana naik kereta luncur di atas ketinggian ini?  

Penjual di kawasan the great wall

 Dan benar saja! Sepertinya aku membuat orang-orang di belakangku kesal karena aku bergerak lambat. Aku berusaha menikmati perjalanan menerabas hutan menggunakan kereta luncurku meskipun tanganku berkeringat dingin dan tubuhku gemetar. Orang-orang di belakangku tidak bisa ngebut dan memanjakan adrenalin mereka. Aku tidak peduli meskipun mereka marah, lebih baik aku pelan daripada jatuh ke bawah. Sampai di bawah tanganku dingin dan aku menangis. Ini sangat menyenangkan sayangnya aku ketakutan.

“Lunch! Lunch! Cheap! Cheap!” kata bapak sopir yang mencegat kami di depan restoran. 
Kami menggeleng. Sebenarnya lapar, tetapi tidak yakin makan ditempat yang tidak halal dan sama sekali tidak tahu jenis makanannya karena semua menu berbahasa China. Kami kemudian kembali ke tempat parkir.
“Take a picture, please?” temanku ingin foto bersama di parkiran dengan background lintasan tobbogan di kejauhan.

Bapak sopir segera beraksi mengambil foto kami. Tetapi begitu berada di mobil dan kami memeriksa hasil fotonya, semua foto adalah kaki kami! Ok, good pictures!

***

Belum terlalu sore ketika kami tiba kembali di terminal bus Dhongzhimen. Hampir seharian tidak makan kami memutuskan untuk langsung ke masjid Niujie. Menurut informasi, di sekitar masjid Niujie banyak makanan halal. Tetapi  dari terminal bus Dhongzhimen kami tidak menemukan nomor bus ke distrik Xuanwu. Kami harus naik subway kemudian menggantinya dengan bus kota. Baiklah, karena sudah sangat lapar kami buru-buru masuk ke dalam stasiun subway dan mencari line menuju distrik Xuanwu.Tiga puluh menit kemudian setelah naik subway dan berganti bus kami sampai di distrik Xuanwu. Sepanjang jalan sekitar masjid tampak pertokoan dan restoran halal. Kami memilih salah satu restoran yang ada di paling ujung. Awalnya kebingungan mencari tempat masuknya, tetapi pelayan restoran menunjukkan kami pintu masuk. Di dalam restoran tampak luas dan nyaman. Kami memilih tempat di pojok agar bisa mengamati lalu lalang orang yang masuk ke dalam restoran. 

Pelayan tidak bisa bahasa Inggris, sehingga kami hanya menunjuk menu yang kami inginkan. Nasi, sate domba, kuah sup dan teh hangat. Pengunjung restoran kebanyakan warga lokal. Aku melihat gadis mengenakan jilbab sedang makan di salah satu meja dan tersenyum kepadaku. Aku membalas senyumnya seraya mengangguk. 

Tak lama makanan datang dan kami menyantapnya dengan lahap. Ternyata makanan yang kami pesan kurang untuk berempat. Aku masih kelaparan, tetapi mau pesan lagi kuatir keburu sore ke masjid. Berharap pulang dari masjid bisa makan lagi di tempat ini.

Dari restoran tempat kami makan, masjid Niujie ada di seberang jalan. Kami menyeberang dan menyusuri sepanjang jalan Niujie. Tampak sebuah masjid berarsitektur campuran China dan Arab yang berdiri megah di depan kami. Begitu memasuki gerbang seorang lelaki tua beruban dengan wajah ramah menyapa kami.

“Assalamu’alaikum. Are you from Malaysia?” tanyanya.

“Wa’alaikumsalam. I am from Indonesia,” jawabku.

Wajahnya tampak sumringah. “Oh, Indonesi… come…come…” lelaki tua berambut putih itu mengantarkan kami ke pintu masuk.

 
Sebenarnya masjid sudah tutup bagi wisatawan, tetapi karena kami muslim dan datang dari jauh kami diperbolehkan masuk. Masjid Niujie juga bisa dikunjungi non muslim tetapi harus menggunakan pakaian sopan dan tidak diperkenankan masuk ke tempat ibadah. Aku dan teman-teman masuk lewat samping dan mulai berkeliling. 

Masjid Niujie

  
Masjid Niujie merupakan masjid tertua di Beijing yang dibangun pada 996 pada masa Dinasti Liao (916-1125). Masjid ini menjadi titik awal masuknya Islam di dataran Tiongkok. Populasi muslim terbesar Beijing tinggal di sekitar masjid membentang dari utara ke selatan.

“Tempat sholat perempuan di sebelah sana,” kata temanku menunjuk papan petunjuk.
Tempat sholat perempuan Masjid Niujie

Aku melihat-lihat berkeliling lebih dulu. Beberapa jamaah dan pengunjung tampak duduk di halaman masjid. Sebagian ngobrol, sebagian lagi melamun. Aku jadi ingin duduk melamun memandangi masjid yang unik dan indah ini. Maka aku pun mengambil tempat duduk di halaman berdekatan dengan jama’ah wanita yang sudah tua. Beliau tersenyum melihat aku menghampirinya. Sayang kami tidak bisa saling menyapa karena keterbatasan bahasa. 

Bagian areal dalam masjid

 
Luas kompleks masjid mencakup 6000 meter persegi terdiri dari ruang sholat utama, tempat wudhu, menara dengan paviliun, ruang sholat perempuan dan juga ruang pameran. Karena kami sejak siang belum menunaikan sholat, maka kami segera ke tempat sholat perempuan. Tetapi pintu tempat sholat perempuan terkunci dan tidak ada seorangpun yang bisa kami tanyai. Mungkin karena sebentar lagi malam. Setelah puas berkeliling, kami segera keluar halaman masjid. 

Pintu menara masjid dan saya

 Dari jalan Niujie masjid tua itu berdiri megah. Sudah melewati banyak perjalanan hidup yang berat dan ia masih berdiri kokoh di sana. Warna merah menghiasi setiap sudut Tiongkok. Dan aku melihat cahaya terpancar dari masjid tua Niujie. Menerangi langkahku untuk terus melanjutkan perjalanan.

***

(artikel ini ada dalam buku saya “Keliling Asia Memburu Cahaya” terbitan Grasindo, masih beredar di seluruh toko buku Indonesia)

Xi’an : Cahaya 1000 Tahun

“He who returns from a journey is not the same as he who left.” – Chinese proverb

Kota Xian dari ketinggian tembok kota

Mendengar kata Xi’an, kepala para pejalan akan dijejali bayangan kejayaan Tiongkok masa lampau.  Di ibukota Tiongkok kuno ini terdapat terracotta warrior ; koleksi ribuan patung prajurit penjaga makam yang dibuat pada masa dinasti Qin, tembok kuno yang mengelilingi kota Xi’an, Bell Tower dan Giant Wild Goose Pagoda sebagai bukti kejayaan Tiongkok pada masa lampau. 

Eksotis.  Aura itu menyergap mataku, begitu bus yang kutumpangi memasuki kota Xi’an.  Saat bus melewati jalan menikung di ketinggian, aku terdorong dan oleng ke samping hingga seorang lelaki lokal yang duduk di sebelahku tertawa. Aku membalasnya dengan senyum dan membuang pandang ke jendela kaca bus. “Sian… Sian…” lelaki itu menyentuh lenganku sambil menunjuk-nunjuk tembok yang mengelilingi kota di kejauhan.

Tembok kota Xian

Aku mengajaknya bicara dalam bahasa Inggris tetapi lelaki itu tertawa sambil menggeleng-geleng. Lagi-lagi ia menunjuk tembok tinggi yang mengelilingi kota Xi’an di kejauhan. Aku hanya bisa menangkap isyarat bahwa kami telah memasuki kota Xi’an dengan tanda tembok yang menjulang mengelilingi kota.  Lelaki di sebelahku ini tampak sangat bangga dengan kota tempat ia tinggal. Sayangnya aku tidak bisa bahasa Mandarin sehingga kami hanya berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat tubuh. Tetapi seperti kebanyakan lelaki lokal yang aku temui selama menyusuri dataran Tiongkok, mereka kocak dan siap membantu. 

Matahari tepat di atas kepala saat bus memasuki gerbang tembok kota Xi’an lalu melambat mengikuti arus lalu lintas yang padat.  Bus berbelok ke samping Longhai Hotel. Di samping hotel yang tampak seperti terminal kecil itulah bus airport ini berhenti dan menurunkan penumpangnya.  Lelaki lokal di sampingku melambaikan tangan lalu meninggalkan aku turun dari bus lebih dulu. 

Mencari alamat hostel tempatku menginap di Xi’an ternyata tak semudah dugaan. Memasuki dunia tanpa google sekaligus sebagai fakir wifi aku hanya mengandalkan catatan petunjuk dalam notesku. Dari Xi’an Railway Stasiun mengambil line 2 turun di Bei Da Jie. Tetapi mencari stasiun kereta bawah tanah yang tidak jauh dari tempat kita berdiripun ternyata tidak mudah.  Tidak ada petunjuk Bahasa Inggris dan tubuh yang letih membuat pikiran susah fokus.  Setelah berjalan memutar dan salah arah, akhirnya aku menemukan pintu masuk stasiun yang ternyata tidak jauh dari lokasiku mondar-mandir. Aku menyeret travel bag menuruni tangga stasiun subway dan membeli tiket subway. Setelah mengambil line 2, tiga puluh menit kemudian aku berhasil turun di Bei Da Jie. 

Stasiun Bei Da Jie

Perjalananku semakin lambat karena sejak pagi belum makan. Mencari alamat hostel yang seharusnya mudah sesuai petunjuk tidak juga segera kutemukan. Keluar dari stasiun subway aku menyeret travel bag dengan kepala pusing dan perut keroncongan. Sepertinya harus mencari tempat makan sebelum pingsan di jalan. Tapi di mana? Aku menyadari kesalahan keduaku ; tidak survey lokasi makan halal di sekitar stasiun subway. Sedangkan kesalahan pertamaku adalah ; tidak belajar bahasa mandarin sedikitpun.Baiklah, mungkin sebaiknya melanjutkan perjalanan. Aku berharap menemukan tempat makan halal di perjalanan menuju hostel.

Sesuai petunjuk, dari arah jalan besar aku harus belok ke kanan. Tampak deretan pohon besar yang menaungi sisi jalan sehingga suasana menjadi sejuk dan teduh.  Beberapa sopir angkutan sejenis bajaj ngetem menunggu penumpang. Melihat aku lewat di depannya, mereka menawarkan diri dengan ramah untuk mengantarku. Aku menggeleng dan menolak dengan halus. Tanpa sengaja mataku tertumbuk pada deretan kedai makan di seberang jalan yang hampir semuanya terdapat plang halal di bagian pintu. Aku bersorak kegirangan dan memutuskan menyeberang jalan memasuki salah satu kedai makan itu.  

Kedai makan yang kumasuki ternyata belum buka. Areal kedai tampak kotor dan sedang dibersihkan. Sebagian karyawan wanita mengenakan jilbab menyapu halaman kedai dan sebagian yang lain sedang  sibuk memasak. Sementara karyawan laki-laki yang mengenakan kopyah putih sibuk merapikan bangku-bangku kedai. Aku berniat untuk pindah ke kedai lain, tetapi kedai yang lain juga masih tutup. Sepertinya kedai-kedai ini hanya buka di malam hari.  

Rumah makan muslim yang pemiliknya baik hati memberi kami makanan

 Seorang perempuan tua, mengenakan jilbab warna merah jambu tersenyum ramah menghampiriku. Dan mulailah ia menggunakan bahasa mandarin untuk berkomunikasi. Aku menggeleng-geleng bingung. Tetapi nenek ramah ini seperti memahami kebingunganku. Ia membawakan sepiring roti dan semangkok mie kuah lalu dengan isyarat bahasa tubuh seolah bicara, “kamu mau makan ini?” Lalu aku mengangguk yakin. Seorang wanita berjilbab yang lain membawakan aku segelas air putih sambil mempersilakan aku makan. “Xie…xie.. terima kasih,” hanya itu bahasa mandarin yang paling aku pahami. 

Semangkok mie kuah di depanku masih panas, sementara roti bakpao berwarna pandan menggoda untuk segera kulahap. Aku masih mengira-ngira bagaimana aturan makan roti dan mie kuah di depanku ketika nenek ramah itu mengajariku cara makan roti dan mie kuah. Ia memakan roti terlebih dahulu kemudian mie atau mencampurkan roti ke dalam mie. Tetapi bisa juga sesuai selera.
  
Meski tidak sesuai dengan lidah Indonesiaku, roti dan mie kuah ini lumayan sebagai pengganjal perut. Porsinya terlalu banyak untukku tetapi aku berusaha menghabiskannya. Aku belum tahu budaya setempat tentang makan, tetapi karena pemilik warung ini muslim, aku yakin tidak akan suka melihat orang makan tanpa menghabiskannya.

“Saya akan membayar. Berapa semuanya?” aku nekat bertanya dalam bahasa Indonesia sambil mengeluarkan dompet.

 
Seorang lelaki bertubuh pendek mengenakan kopyah yang sedari tadi sibuk membantu membereskan bangku-bangku kedai menghampiriku dan menggeleng-geleng sambil membuat isyarat tangan tidak usah membayar. Hah!? Tidak usah membayar? Jangan dong, aku sudah makan masa tidak membayar? Aku memaksa memberikan uangku, tetapi lelaki yang ternyata pemilik kedai itu tetap menolak. Ia membuat isyarat menengadahkan tangan ke langit seolah berdoa lalu menangkupkan kedua tangannya di dada sambil tersenyum. Melihat ketulusan di wajahnya, aku tidak memaksa memberikan uangku lagi. 



Keharuan menyeruak di dadaku saat berpamitan dengan pemilik kedai, nenek yang ramah dan semua karyawannya. Menerima kebaikan di tempat asing selalu membuat dadaku bergetar.  Aku merasakan persaudaran muslim yang kuat di tanah ini, bukan karena semata ketulusannya memberi musafir seperti aku makanan gratis, tetapi keramahannya menerima sebagai saudara.

“Xie…xie…” aku agak bergetar mengucapkannya.
Lohas Hostel

 
Perjalanan mencari alamat hostel mungkin masih melelahkan, tetapi semangatku membara karena kebaikan dari pemilik kedai. Aku kembali menyeret travel bag meninggalkan kedai. Berapa gang lagi yang harus kulewati untuk menemukan alamat hostel itu? Tetapi baru lima langkah mataku tertumbuk pada plang hostel yang kucari. Ternyata hostel yang kucari hanya berjarak sekitar duapuluh langkah dari kedai makan itu.  
Pelajaran yang aku dapat hari ini, jangan coba-coba mencari sesuatu dalam keadaan lapar! Sudah pasti mata akan kabur dan otak susah bekerja sehingga plang hostel yang tidak jauh dari pandanganpun menjadi kabur.  Beruntung pemilik kedai yang baik hati itu menyelamatkan aku. Dengan tawa miris, aku bergegas menuju hostel itu.

***

Lohas hostel tempatku menginap cukup nyaman. Meskipun resepsionis berwajah tampan yang menyambut kami bicara bahasa Inggris terbata-bata, tetapi sangat ramah dan penolong. Dari jendela kamar di lantai tiga, aku melihat jalanan riuh oleh lalu lalang motor listrik dan orang berjalan kaki. Sebagian besar mereka mengenakan jilbab dan kopyah. 

Aku terseret masa lalu, membayangkan saat Islam memasuki kota ini. 
Islam memasuki kota Xi’an diperkirakan pada abad ke 7 melalui jalur sutra pedagang Arab dan Persia. Suku Hui yang mendiami kota Xi’an menjadi salah satu etnis terbesar yang memeluk agama Islam.  Muslim Tiongkok tidak selalu melewati masa yang mudah. Pada masa revolusi kebudayaan China dibawah Mao Zedong menjadi teror bagi kamu muslim. Tetapi setelah Mao Zedong mangkat, muslim Tiongkok bisa kembali hidup damai dan membangun masjid-masjid. Menurut informasi yang aku baca ada 10 masjid di kota Xi’an saat ini, salah satunya The Great Mosque atau masjid agung Xi’an yang merupakan masjid tertua di Tiongkok.

Ya, The Great Mosque! Itulah tujuan perjalananku. Aku tak sabar untuk mencari masjid tertua di Tiongkok ini dan merasakan pendar-pendar cahayanya.

***

 

Usai shalat ashar di hostel, aku mengikuti arus orang yang berjalan kaki menuju muslim quarter.  Menurut informasi resepsionis hostel, The Great Mosque tidak jauh dari muslim quarter. Aku berniat sholat maghrib di sana. Sepanjang jalan menuju muslim quarter tampak ramai turis Asia lalu lalang. Penduduk lokal laki-laki mengenakan kopyah, sementara para wanita lokal mengenakan jilbab. Sebagian hilir mudik dengan motor listrik dengan klakson yang mengagetkan pejalan kaki dan sebagian yang lain berjualan di tokonya masing-masing. Semakin mendekati gerbang muslim quarter semakin ramai. 

Muslim quarter

Tiba di persimpangan jalan, tampak gerbang muslim quarter dengan jajaran toko-toko yang ramai pengunjung. Aku memasuki gerbang dan terpesona dengan banyaknya jajanan halal yang berderet di sepanjang sisi jalan. Para turis membeli makanan eceran dan langsung memakannya sambil jalan-jalan menyusuri sepanjang muslim quarter.  Para penjual berteriak-teriak menjajakan dagangannya. Aku merasakan aura yang hangat, dekat dan bersahabat. Melihat minuman berwarna kemerahan yang menggoda aku membeli satu. Minuman yang aku kira teh itu ternyata terbuat dari sari buah-buahan. Rasanya agak asam  tapi enak sekali diminum sore-sore.  

Jajanan di muslim quarter


 Sebagian besar makanan di sepanjang muslim quarter halal. Hampir setiap tempat berjualan makanan memasang plang halal atau halal coret merah yang artinya tidak halal.  Selama aku menyusuri dataran Tiongkok, Xi’an memiliki tempat makanan halal paling banyak. Berbagai makanan dan minuman lokal yang unik dan menggoda selera dijual di sepanjang jalan ini seperti satai domba, gurita goreng, buah-buahan dan berbagai minuman. Roti berisi daging sepertinya menjadi favorit para turis karena antreannya mengular panjang. Tak hanya makanan, sepanjang muslim quarter juga banyak toko yang berjualan souvenir, rempah-rempah, kain khas Tiongkok dan baju. 

Penjual kue di muslim quarter

Aku dan teman-teman terlalu gembira menyusuri muslim quarter  sampai lupa waktu maghrib telah lewat. Aku menemukan plang petunjuk arah ke masjid dan mengikuti jalan itu. Tetapi jalan kecil itu malah membawa kami masuk ke pemukiman penduduk lokal dengan gang kecil yang gelap. Tetapi ada seseorang yang berbaik hati menunjukkan kami arah masjid. Kami segera berbalik arah mengikuti petunjuk itu. 

Tiba di gerbang masjid ternyata sudah tutup. Kami tidak menemukan jalan lain untuk masuk ke dalam masjid. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke muslim quarter.  Perut mulai keroncongan dan kami masuk ke sebuah kedai makan yang khusus menjual dumpling. Karena penjual tidak bisa berbahasa Inggris, kami menunjuk mangkok pembeli untuk memberi tahu makanan  yang kami pesan. Beberapa saat kemudian penjual mengangguk-angguk dan meracik pesanan kami. 

Aku mengedarkan pandangan mengelilingi ruangan di dalam kedai. Banyak wanita-wanita lokal mengenakan jilbab dengan gaya khas mereka. Kulit mereka putih bersih dengan wajah yang kemerahan. Saat menunduk, mereka tampak seperti orang yang tersipu malu. Mataku bertubrukan dengan seorang wanita yang juga sedang memandangku. Kami saling tersenyum dan mengangguk. Seandainya aku bisa berbahasa mandarin, aku sudah menghampiri mejanya dan mengajaknya ngobrol.  Sayangnya kami hanya bisa saling memandang dan tersenyum. 

Dumping Xian

 Selain dumpling, aku memesan satai domba satu tusuk seharga 10 Yuan. Menurut informasi, satai domba ini makanan favorit di muslim quarter selain roti isi daging. Ketika satai itu datang aku terpana melihat tusukan besar dari besi dan keratan daging yang besar-besar. Keluargaku terbiasa makan segala sesuatu dalam bentuk yang kecil, tetapi melihat sate ini malah tertantang untuk menggigitnya. Aku membayangkan kalau ibuku tahu hal ini, beliau akan marah. Bagi ibu, kesopanan juga termasuk  makan dalam potongan kecil-kecil sehingga makanan lebih rapi saat dikunyah. Tetapi begitu aku menggigit sate domba itu, rasanya tidak rugi kalau harus menabrak norma yang diajarkan ibuku. Karena sate domba ini sangat enak. Dagingnya empuk dan bumbu jintannya terasa gurih di mulut. Sebelum pesanan dumpling datang, aku sudah menghabiskan satu tusuk sate itu.

“Kenapa mereka selalu menggunakan bumbu jinten, sih?” tanya temanku yang tidak suka makan jintan.

“Coba tanyakan ke penjualnya,” jawabku.
Sate domba yang empuk!

 
Lalu terjadilah pembicaraan yang aneh lagi. Karena kebanyakan warga lokal tidak bisa berbahasa Inggris, temanku menggunakan bahasa Indonesia, sementara pelayan menggunakan bahasa Mandarin. Hasilnya kami  tidak menemukan jawaban kenapa hampir semua makanan menggunakan bumbu jinten dan rempah. Justru dari artikel perjalanan di internet aku mendapat jawaban. Seperti Islam yang masuk melalui pedagang Arab dan Persia, kuliner mereka pun banyak dipengaruhi kuliner Arab yang banyak menggunakan jinten dan rempah. 

Hampir pukul 10 malam saat kami selesai makan dumpling dan berpamitan pada pemilik kedai. Semakin malam jalanan sepanjang muslim quarter semakin ramai. Para penjual meneriakkan makanannya dan turis-turis menikmati jajanan dengan gembira. Mataku tinggal 5 watt, tetapi aku dan teman-teman malah tersesat menjauh dari arah pulang ke hostel. Tidak menemukan orang yang bisa berbahasa Inggris sehingga kami semakin susah menemukan jalan pulang. Menjelang jam 12 malam kami baru sampai hostel. Bukankah perjalanan tanpa pengalaman tersesat tidak akan seru?

Maka bersyukurlah bila kau tersesat dalam perjalanan.

***

The great mosque Xi’an
Masjid agung Xi’an. The great mosque!

Di sinilah kemudian aku berdiri esok harinya. The great mosque merupakan masjid tertua di Tiongkok. Lokasi masjid agung Xi’an berada di sekitar muslim quarter tidak jauh dari hostel tempatku menginap. Hari itu hari jum’at dan jama’ah sedang menunaikan sholat  jum’at di dalam masjid. Tidak hanya sebagai tempat ibadah umat muslim di kota Xi’an, The great mosque juga mengijinkan turis non muslim melihat-lihat areal masjid tapi tidak diperbolehkan ke bagian dalam masjid. 

Jamaah sholat Jum’at di Masjid Agung Xian

Saat melihat berkeliling, aku menemukan catatan pada bagian interior masjid yang menyebutkan bahwa masjid ini didirikan pada tahun 742 masehi atau 13 abad yang lalu. Meskipun telah berumur lebih dari 1000 tahun dan menjadi salah satu warisan sejarah Tiongkok, masjid ini terjaga dengan baik keasliannya. Sekilas bangunan masjid ini tampak menyerupai kelenteng dengan halaman dan pavilion-pavilion. Namun saat aku melihat lebih cermat tampak kaligrafi Al-Quran di setiap bangunan. Taman dan kolam yang berada di halaman masjid tampak unik dan kuno. 

Gapura Masjid Agung Xian

 
Duduk di halaman sambil memandang ke arah masjid, aku termenung. Pada masanya, pedagang-pedagang dari Arab dan Persia yang melawati jalur sutra menyebarkan Islam ke kota ini.  Sebagian dari mereka menikah dengan suku Hui yang mendiami wilayah ini dan Islam kemudian berkembang di sini. Rentang waktu seribu tahun kemudian, aku duduk di halaman masjid ini dan memiliki iman yang sama dengan mereka.  Pendar cahaya masih menyala di masjid tua ini dan menerangi perjalanan orang-orang yang mencari.  

Jama’ah sholat jumat keluar dari masjid. Mereka mengenakan baju koko dan kopyah, sebagian besar sudah berusia lanjut dan tampak ramah. Salah satu orang menghampiri kami dan bicara dengan bahasa yang tidak kami pahami. Lagi-lagi aku menyesal karena tidak bisa bahasa Mandarin atau Arab sehingga tidak bisa berkomunikasi dengan para jama’ah.

“Malaysia?” tanyanya.

Aku menggeleng dan segera paham bahwa beliau ingin tahu kami dari negara mana. “Indonesia,” jawabku.

“Ahhh, Indonesi. Soekarno…ha?”


Aku mengangguk-angguk senang. Bapak berkopyah putih itu mengeluarkan  uang kertas Indonesia dari berbagai zaman dan menunjukkan pada kami. Wow! Rupanya beliau mengoleksi uang kertas Indonesia. Beliau menunjuk-nunjuk uang kertas itu sambil menggunakan bahasa isyarat bahwa beliau pernah ke Indonesia.  

Bapak baik hati yang terkesan dengan Presiden RI Pertama

 
Setelah menemani keliling masjid sebentar, bapak itu mengantarkan kami ke tempat sholat wanita. Aku berpikir kami akan sholat di dalam komplek masjid tetapi ternyata tempat sholat wanita ada di bagian lain. Beliau mengantar kami ke sebuah rumah di dalam gang tidak jauh dari masjid yang dijadikan tempat sholat wanita.  Tampak seorang wanita berjilbab menyambut kami dengan bahasa mandarin. Bapak itu kemudian berpamitan pada kami.

“Hurry up!” seorang gadis berjilbab yang fasih berbahasa Inggris menjelaskan pada kami bahwa tempat ini akan segera tutup dan wanita berjilbab yang menjaga masjid itu akan segera pulang. Gadis manis itu ternyata berasal dari Malaysia.

 
 Gadis itu memberi tahu kami tempat meletakkan sendal dan membantu kami membuka keran air wudhu. Setelah berwudhu kami segera naik ke lantai atas. Meskipun seperti rumah yang difungsikan sebagai tempat sholat, tetapi bersih dan nyaman. Seperti di Indonesia, tersedia mukena bersih dan sajadah. Beberapa Al-qur’an juga tampak berjajar di rak mungil sudut ruangan.

Allahhu akbar!

 
Bersujud di tempat asing yang jauh dari tanah air membuat mataku memanas. Buliran air mata membasahi pipiku. Allah memberi kesempatan aku ke tempat ini, bertemu dengan saudara seiman di negeri lain agar aku tetap istiqomah di jalan-Nya.  Kami memang berbeda warna kulit dan bahasa. Tapi iman kami sama. Tersenyum, tertawa, menangis dan mencintai dengan cara yang sama. Cahaya Allah terang benderang, menerangi hati yang gelap dalam pencarian. 

Wanita berjilbab yang menunggu kami di bawah tersenyum begitu kami menuruni undakan selesai shalat. Ia mengunci pintu begitu kami keluar dari mushala itu. Aku dan teman-teman mengikuti langkahnya menyusuri gang. Wanita itu dengan bahasa isyarat menawari kami mampir, tetapi karena hari mulai gelap kami memutuskan untuk kembali ke hostel.

“Xie…xie…terima kasih,” kataku.

Di persimpangan jalan setelah saling berpelukan kami mengucap salam dan berpisah.

***

Saya di depan pintu masuk menuju tembok kota Xian
 

Sejuk air wudhu masih terasa di wajahku saat aku masuk ke kedai mie di pinggir jalan. Kedai kecil yang bersih dan terdapat tulisan halal di pintu masuknya itu tampak hangat dan nyaman. Beberapa orang lokal dan turis duduk menikmati semangkok mie sambil berbincang. Tampak di ujung meja, seorang kakek-kakek sedang asyik berbincang dengan cucu laki-lakinya yang baru berumur sepuluh tahun. Sesekali tampak sang kakek menyuapkan mie ke mulut cucunya. Aku memilih duduk di pojok untuk bisa mengamati keseluruhan pengunjung kedai.

“Eat? Eat?” seorang remaja laki-laki mengenakan celana jeans dan kaos serta kopyah putih menghampiriku dengan malu-malu. Wajahnya imut-imut dan kedua pipinya tampak kemerahan.

“Speak english?” tanyaku yang disambut gelengan kepala sambil tertawa kecil. Dia melanjutkan bicara dalam bahasa mandarin dan aku giliran yang tidak paham.

Seperti  kemarin, kami memesan makanan dengan cara menunjuk makanan di meja seorang pembeli. Ia memahami apa yang kami maksud sambil tersenyum malu-malu lalu pergi meracik mie kami.

“Negeri ini hebat ya, memiliki banyak peninggalan masa lalu yang luar biasa,” kata temanku sambil menerima minuman botol berwarna kuning yang dipesannya. Baru tiga hari di Xi’an kami jatuh cinta pada minuman ini.

 
Temanku benar, banyak warisan budaya masa lalu yang hebat di negeri ini. Tadi pagi sebelum ke masjid agung Xi’an kami mengunjungi teraccota wariors. Sebuah museum yang berisi kumpulan koleksi dari 8000 lebih patung berbetuk prajurit dan kuda dengan ukuran asli yang terletak di dekat makam Kaisar pertama dinasti Qin, Qin Shi Huang. Patung-patung itu dibuat sekitar 210-209 SM untuk mengawal patung Kaisar pertama China, Qin Shi Huang.

“Selain budaya masa lalu yang hebat bertahan sampai ribuan tahun, aku yakin juga karena peninggalan itu dijaga dengan baik,” tambah seorang teman yang lain.“Benar sekali! Banyak tempat memiliki peninggalan masa lalu yang hebat,  sayangnya tidak semua bisa menjaganya dengan baik,” aku menyimpulkan.Mie pesanan kami datang. Aku menelan ludah melihat mie hangat mengepul di hadapanku. Kami segera menikmati mie khas Xian dengan lahap.

***

Malam merambat pelan saat aku dan teman-teman menyusuri jalanan kota Xi’an.  Tampak tembok kota Xi’an berdiri kokoh dan megah di depan sana. Lentera berwarna merah menyala di atas tembok. Aku berhenti dan menatap kejauhan. Kota ini menyimpan kemasyuran masa lalu yang luar biasa. Museum tentara teraccota yang mengagumkan, Bell Tower, tembok tua yang berdiri kokoh mengelilingi kota dan tujuan utamaku ke sini ; The Great Mosque yang sudah berumur 1000 tahun lebih. Semua kejayaan masa lalu itu terjaga dengan baik seolah membawa pengunjungnya menembus waktu kembali ke masa lampau. Aku kembali berjalan menyusuri kota. Lentera merah di atas tembok kota masih menyala.  Berkedip-kedip di kejauhan. Tetapi ada cahaya lain yang menyusup ke dadaku.

1000 tahun cahaya dari masjid agung Xi’an.

***
(artikel ini ada dalam buku saya “Keliling Asia, Memburu Cahaya” yang tersedia di seluruh toko buku Gramedia dan toko buku online)

Cambodia, Siem Reap : Berburu Matahari Di Angkor Archaelogical Park

“Sebagian orang lebih mudah jatuh cinta pada masa lalu daripada masa kini “
 

Mengunjungi Siem Reap, Kamboja, kita diajak kembali ke masa lalu yang eksotis. Kota yang tenang, kendaraan yang hanya didominasi tuk-tuk (becak motor), penduduk lokal yang ramah dan murah senyum serta kondisi jalanan yang jauh dari kemacetan. Kamboja membawa para pelancong untuk sejenak melupakan kepelikan dunia modern dan mengagumi keindahan masa lalu melalui arsitektur candi-candi Hindu-Budha yang indah dan megah.  Tertarik kembali ke masa lalu? 

ANGKOR NATIONAL MUSEUM

Saya memasuki Siem Reap setelah menempuh perjalanan 6 jam menggunakan bus pagi dari Phnom Penh. Dengan membayar biaya 9$ atau sekitar Rp. 121.000 (kurs rupiah Agustus 2015) saya mendapatkan bus biasa yang banyak ditumpangi orang lokal. Bus berhenti empat kali di rest area untuk makan dan ke toilet. Meskipun fasilitas yang disediakan bus hanya AC, tetapi cukup nyaman untuk melakukan perjalanan 6 jam. Tepat jam 3 sore saya tiba di Siem Reap. Jemputan tuk-tuk gratis dari hotel sudah menunggu saat saya turun dari bus.  Debu jalanan Siem Reap menyerbu saya saat tuk-tuk melaju menuju hotel. Tetapi jangan khawatir dengan debu, sopir tuk-tuk yang baik segera mencarikan masker untuk melindungi wajah dari debu jalanan. 

Menyebut kota Siem Reap kita akan selalu dihubungkan dengan kompleks Angkor Wat.  Angkor sendiri berarti kota suci atau ibu kota. Sementara Khmer adalah komunitas etnik terbanyak pada masa Kamboja kuno maupun modern.  Angkor merupakan ibukota kerajaan Khmer di Kamboja pada era abad 9 hingga 12 Masehi.  Saya menyempatkan diri mengunjungi Angkor National Museum dengan tiket masuk USD 12 sebelum mengunjungi kompleks Angkor Wat esok paginya. 

 Angkor National Museum merupakan salah satu museum yang menceritakan sejarah Khmer secara informatif.  Dengan mengunjungi Angkor National Museum diharapkan kita bisa memahami keseluruhan situs yang ada di kawasan kompleks Angkor Wat secara menyeluruh.  Ruangan pertama yang saya masuki adalah Briefing Hall, suatu ruang teater dimana pengunjung disuguhi penjelasan tentang museum. Setelah menonton film singkat di Briefing Hall, saya mengunjungi galeri selanjutnya.

Angkor National Museum memiliki 7 galeri dan 1 galeri ekslusif. Galeri pertama yaitu Galeri of 1000 Budha Images yang berisi koleksi patung Budha dari berbagai zaman. Sebagian besar memperlihatkan Buddha bermeditasi dengan dinaungi naga. Galeri kedua yaitu galeri A: Khmer Civilization. Galeri dengan tagline ‘the Origin of Khmer Empire’ ini menceritakan masa kerajaan Khmer dengan pembagian periode sejak zaman pre-Angkorian, Angkorian dan post-Angkorian. 
 Galeri ketiga adalah Gallery B: Religion and Beliefs. Sesuai namanya, galeri dengan tagline ‘the Reflection of Khmer’s Beliefs’ ini menjelaskan agama dan kepercayaan masyarakat Khmer yang berpengaruh pada semua aspek kehidupan mereka, lengkap dengan legenda dan cerita rakyat yang memotivasi peradaban Angkor selama berabad-abad. Galeri keempat, Gallery C: the Great Khmer Kings yang berisi empat raja paling terkenal dalam sejarah Khmer dijabarkan secara mendalam. Mereka adalah Raja Jayawarman II yang menyatukan dua kerajaan Chenla, Raja Yasowarman I yang mendirikan Angkor sebagai ibukota kerajaan, Raja Suryawarman II yang membangun Angkor Wat sekitar tahun 1116-1145, dan Raja Jayawarman II yang membangun Angkor Thom pada periode 1181-1201. Galeri kelima, Gallery D: Angkor Wat. Di galeri yang mengusung tagline ‘the Heaven on Earth’ ini pengunjung akan disuguhi film singkat mengenai Angkor Wat, mulai dari sejarah, konsep spiritual, dan teknik arsitektur serta konstruksi Angkor Wat. 

Galeri keenam, Gallery E: Angkor Thom. Galeri ini berisi penjelasan pembangunan dan perluasan Angkor Thom. Tagline ‘the Pantheons of Spirit’ mungkin dipilih untuk menggambarkan bahwa Angkor Thom merupakan suatu mahakarya peradaban Khmer yang sudah mengenal teknik rekayasa engineering untuk kepentingan umum pada masanya. Galeri ketujuh adalah Gallery F: Story from Stones. ‘the Evidence of the Past’ tagline galeri ini mencoba memperlihatkan bahwa peradaban besar Angkor memang nyata pernah ada dari seluruh prasasti yang dikumpulkan di seantero Angkor. Galeri kedelapan, Gallery G: Ancient Costume. Disini kita bisa melihat busana, cara berpakaian, perhiasan, dan berbagai aksesoris penunjang pada setiap masa peradaban Khmer yang ditampilkan oleh dewa, dewi, dan Apasara dengan berbagai gaya dan ornament. Seperti pada peradaban lain di dunia, peradaban Khmer pun membedakan status bermasyarakat dari keindahan dan kerumitan perhiasan dan aksesoris yang dikenakan. 

Angkor National Museum sangat menarik dan informatif. Dengan pencahayaan yang artistik, pengunjung tidak akan bosan mempelajari sejarah besar yang ada di dalamnya. Mengunjungi Angkor National Museum sangat direkomendasikan sebelum berkeliling Angkor Archaelogical Park. Di samping penjelasan tertulis yang sempurna, disediakan pula audio tour guide yang bisa disewa dengan USD 3 dan tersedia dalam 7 pilihan bahasa yaitu Inggris, Jerman, Jepang, Korea, China, Thailand dan Perancis. Tetapi sayangnya pengunjung tidak diperbolehkan mengambil gambar bagian dalam museum. Pengunjung hanya diperbolehkan mengambil gambar di luar museum.
ANGKOR ARCHAELOGICAL PARK
Memasuki kawasan Angkor archaelogical park kita membayar 20$ untuk kunjungan sehari, 40$ untuk kunjungan 3 hari dan 60$ untuk kunjungan seminggu.  Hari berkunjung tidak harus sesuai tanggal pembelian tiket, tetapi ada masa berlaku dari tiket tersebut. Saya membeli tiket 40$ untuk kunjungan tiga hari. Terdapat photo diri pengunjung dalam tiket, tanda lubang jumlah hari berkunjung dan pemeriksaan tiket di pintu masuk setiap candi sehingga memperkecil kemungkinan pengunjung masuk tanpa tiket. 

Angkor archaelogical park memiliki banyak candi yang fotogenik dan eksotik untuk dikunjungi wisatawan. Angkot Wat merupakan candi paling terkenal yang dibangun pada awal abad ke 12 hingga pertengahan abad ke 12 pada masa pemerintahan Suryavarman II, periode Hindu. Terdiri dari tiga tingkatan candi, Angkot Wat memiliki lima mahkota lotus  dengan tower yang berdiri setinggi 65 meter.  Pengunjung dapat menaiki tower untuk melihat keseluruhan candi dari ketinggian.

  

Selain Angkot Wat yang sangat terkenal, candi yang paling banyak dikunjungi adalah Ta Prohm atau lebih dikenal sebagai candi Tomb Raider karena pernah digunakan sebagai lokasi syuting film Tomb Raider dengan bintang Angelina Jolie sebagai Lara Croft.  Keunikan Ta Prohm adalah akar-akar pohon besar yang berusia ratusan tahun menjalar diatas bangunan-bangunan candi. Tidak hanya itu, batang-batang pohon yang ada di Ta Prohm tampak berkilau saat tertimpa sinar matahari.  Candi lain yang tidak kalah menarik adalah Bayon. Candi yang dibangun pada masa pemerintahan Jayavarman VII ini merupakan candi Budha dengan 216 wajah. Setiap bangunan memiliki wajah yang berbeda-beda. Bagian dalam candi sendiri sangat besar dan memiliki banyak ruangan.

Jika kita tidak menyukai sesuatu yang terlalu mainstream dan touristik, jangan kuatir. Masih banyak candi eksotis yang bisa kita kunjungi seperti Angkor Thom,  Terrace of the Elephants, Preah Khan, Preah Neak Poan, Srah Srang yang merupakan tempat pemandian raja pada masa lalu dan candi-candi kecil lainnya yang tak kalah menarik.  Menghabiskan waktu di Angkor archaelogical park membuat kita diseret kembali ke masa lalu saat kerajaan Angkor ini berdiri dengan megahnya.
BERBURU MATAHARI

Selain wisata candi, para pemburu matahari akan dipuaskan dengan pemandangan sunset dan sunrise yang indah di Angkor archaelogical park ini. Pagi masih berkabut saat saya bersama ratusan orang berburu sunrise di kompleks Angkor Wat.  Berpuluh tuk-tuk yang mengantar wisatawan menuju Angkor Wat melaju seolah tak mau kehilangan kesempatan berburu matahari pagi. Angin sejuk dari kawasan hutan Angkor membelai wajah-wajah yang antusias. Begitu saya memasuki kawasan Angkor Wat untuk melihat sunrise, para pengunjung sudah berjubel memenuhi area depan kolam. Di depan kolam itulah pantulan sunrise dengan siluet Angkor Wat yang berdiri megah siap ditangkap ratusan kamera dari berbagai belahan dunia.

 Cahaya merah mulai menyebar di langit timur dan memantul di kolam depan Angkor Wat saat jarum jam menunjukkan pukul 6 pagi. Pengunjung terdiam menyaksikan matahari yang bangkit dari tidurnya dan menciptakan siluet yang menawan. Hanya terdengar jeklikan kamera untuk mengabadikan moment spesial itu. Perpaduan bangunan kuno yang eksotis dan kebesaran Tuhan bisa kita lihat dalam sunset Angkot Wat ini.

 

Tak hanya berburu sunrise yang mempesona di kawasan Angkor Wat, para pengunjung juga bisa menikmati sunset di Phnom Bakheng.  Candi ini dibangun di atas bukit Bakheng pada masa pemerintahan Jayavarman V, periode Hindu sekitar awal akhir abad 10 hingga awal abad 11.  Untuk mencapai candi ini memerlukan waktu sekitar 30 menit naik ke atas bukit. Dari atas Phnom Bakheng kita bisa menikmati pemandangan Angkor Wat dan danau Tonle Sap dari kejauhan, kota Siem Reap dari ketinggian. Tak hanya itu, kita juga bisa mengendarai gajah menyusuri bukit dengan membayar USD 20$. 

 

Karena lokasi Phnom Bakheng sedang diperbaharui, maka pengunjung yang menaiki candi untuk melihat sunset dibatasi hanya 300 orang.  Jika sudah mencapai kuota 300 orang, maka kita akan menunggu mereka yang turun untuk bisa naik ke atas candi. Pengunjung yang ingin menikmati sunset di lokasi Phnom Bakheng ini sangat banyak, maka disarankan datang lebih awal karena pada pukul 17.30, pintu naik ke atas bukit sudah ditutup. 

Tak kalah menawan dengan sunrise di Angkor Wat, sunset di Phnom Bakheng menciptakan pemandangan yang luar biasa. Matahari keemasan tenggelam di tengah kota Siem Reap dengan siluet candi yang eksotis membuat pengunjung merasa damai menikmati hari yang tersisa.  Rasanya ingin lebih lama berdiam di ketinggian sambil menikmati langit yang sebentar lagi bertabur bintang, namun saya harus segera turun. Petugas sebentar lagi akan mengusir para pengunjung untuk meninggalkan candi. Bukit sudah gelap dan binatang hutan mulai bersuara saat saya turun menyusuri bukit meninggalkan Phnom Bakheng.
OLD MARKET, NIGHT MARKET dan PUB STREET
Anda ingin berburu oleh-oleh atau menikmati kehidupan malam di Siem Reap? Di sini tempatnya. Old market berdekatan dengan pub street dan night market. Pada siang hari, wisatawan bisa berbelanja berbagai macam souvenir dan hasil kerajinan tangan Kamboja sementara malam harinya, night market dan pub street akan ramai dikunjungi orang untuk belanja, makan malam dan menikmati kehidupan malam.  Di sekitar tempat ini juga banyak kita temukan guesthouse, bar dan restoran dengan harga yang terjangkau.

Berbagai jenis souvenir khas kamboja dan oleh-oleh khas Kamboja dijual di area Old Market dengan harga yang bisa ditawar seperti Krama, kain khas Kamboja bermotif kotak-kotak atau garis-garis dan berbagai souvenir. Harga souvenir di Old Market lebih murah daripada jika anda belanja di night market. 

MAKANAN KHAS KAMBOJA
Tidak lengkap rasanya jika kita berkunjung ke suatu kota tanpa menikmati makanan khas mereka. Begitu juga makanan khas Kamboja yang nikmat. Saya mencoba beberapa makanan khas atau bisa disebut lauk pauk yang dimakan bersamaan dengan nasi. Restoran yang saya kunjungi merekomendasikan saya mencoba Amok, Cem Cemerik dan Lok Lak.  Amok terbuat dari ikan yang dipepes, sementara Cem Cemerik terbuat dari seafood dan Lok Lak dari daging bumbu kari. Ada satu menu yang sangat terkenal di salah satu restoran muslim yaitu Beef Climbing Mountain. Menu ini banyak diburu para pandatang muslim karena penasaran. Hampir mirip dengan Lok Lak, Beef Climbing Mountain terbuat dari daging yang dimasak dengan sayuran. Nama unik ini berasal dari pemilik restoran Malaysia untuk mengundang pengunjung datang ke restoran.

Mengunjungi Kamboja seolah kembali ke masa lalu yang eksotis, agung dan megah. Jika anda menyukai hal-hal yang beraroma masa lalu dan wisata sejarah, Kamboja adalah tempat yang tepat. Tunggu apa lagi? Let’s go!