CARLOS FIGUEIREDO : Keliling Dunia Bersama PITUFO

“Jika kamu tidak menemukan teman untuk memulai perjalanan, maka kamu akan menemukan teman dalam perjalanan”. Itu kata-kata yang tepat untuk menggambarkan persahabatan saya dengan Carlos. “Departures’ salah satu program adventure-nya National Geografic membuat kami berteman sekaligus mendorong saya memulai melakukan perjalanan beberapa tahun silam. Tak hanya tips-tips traveling dan tempat-tempat rekomendasi yang saya dapatkan dari Carlos, tapi juga banyak hal positip. Salah satu yang saya kagumi adalah cara dia memandang orang lain tanpa membeda-bedakan apapun latar belakangnya. Sharing kali ini saya ingin membagi cerita perjalanan Carlos.

Hey Carlos! Tell us a bit about yourself!

Well, my name is Carlos Figueiredo and I have Africa in my heart, because I was born in Angola in June 1964 and lived there for my first 11 years. At that age I came to Portugal with my parents and I live in a small town called Fátima, in the Centre of the country. I studied Law at the University but did not continued…I should have studied design or architecture, but I didn’t. So, has you know, at the present time, I work in a beautiful store where I sell art and decoration items. Sometimes I do design projects…just sometimes. I’m very curious about everything and I love to learn about our planet, about the Universe. I’m a traveler…every time I can, inside and outside of Portugal. I love our planet and all the species in it and I try hard to protect them (planet and animals). My daily life is as green as possible. I like Art (films included!), History, Astronomy, Geography and Biology. I like interior design and gardening. I’m becoming a minimalist, so I try to surround myself only by things and people who means something for me (like you, my dear friend!).

What countries does your family have its roots in, and how did that shape your love for travel?

All my family roots are, as far as I know, Portuguese. I don’t know if we have Nordic or Roman or Arab roots, because they lived in this territory before Portugal was a country. I feel I have something Arab in my soul. My mother’s family moved to Angola in the late 19th century, so my Great- Grand Mother, my Grand Mother and my Mother were born in Africa. The fact that we lived in Africa marked our way of being and living. We used to travel a lot in Angola, so that kind of living shaped, for sure, my love for travel.

How many countries have you visited? What are your top 3 favourite countries and why?

I visited 33 countries until now. Not counting Angola and Portugal. It’s very difficult to choose 3, but Morocco, Egypt and India are among my favorite. Angola and Portugal are very special for many reasons.

Your favorite cuisine out of all of your travels? Why?

My favorite cuisine is Indian, for all that spicy flavor. I have to say that African cuisine is very spicy too and I grew eating it as well as Portuguese food while I lived in Angola.

I love to see you travelling with Pitufo, looks sweet. Pitufo means SMURF in Spanish, right? When did you meet Pitufo? Did you buy it or someone gave you as a gift?

Yes, Pitufo is Smurf in Spanish. In 2012, my travel friend Victor rescued Pitufo from a fair and offered me that wonderful blue friend. We took him to Jordan that year and, from there, Pitufo became a travel companion in all my trips, even inside Portugal.

Do people also love Pitufo? Where did he stays during the trip?

First he was an undercover or clandestine traveler, always hidden. He only came out of the backpack for pictures. Now, even he travels inside a backpack, sometimes comes out and everybody sees him. He used to fly in the suitcase, down in the plane’s luggage hold, but from 2015 he travels near me in the plane…inside my backpack. Sometimes he comes out for pictures near the window! People loves Pitufo and always smile when they see him.

What will visiting every country in the world mean to you personally?

It means knowledge. I don’t travel to say that I’ve been there. I travel to know, to learn as much as possible about every people who lives in this planet, about their History, about the other animal and plant species with which these peoples share their land.

Can you tell me any particularly crazy or scary stories from your travels so far?

Fortunately, no scary stories. Well, just one, precisely with Pitufo! When we came from Dubai, the suitcase where he traveled in, stayed in Istanbul, where we stopped in our way home. I thought I had lost him, poor little one, alone in Turkey! But, that night, someone came from the Lisbon airport to deliver that suitcase at my home…what a joy!!!!! Pitufo was smiling and happy. He had caught the next plane to Lisbon, all by his own. He was proud of himself. So, from that day on, he always travels with me inside the plane passenger’s cabin. I have other stories, very interesting moments, that I can tell you another time.

I saw your mom on instagram. So beautiful. She likes travel too?

Thank you. She would like a lot, but now she’s afraid to fly! She traveled by plane before, when we came from Angola, but now she refuses to get in a plane. When she was young, she and her parents, used to travel by ship between Africa and Portugal. But we already traveled together here in Portugal. She loves Pitufo!

The last question, will you visit Indonesia?

For sure I will visit your wonderful country. So many things and places to visit, so many things to learn about!  Meet you there…or here in Portugal! Why not? Thank you to include me in your project!

 

note : all pictures taken from Carlos Figueiredo dan Pitufo the traveler instagram (@figueiredo64 and @pitufothetraveler)

.

 

ANDREAS TRIJAYA : “Selalu Ada Kisah Dari Setiap Perjalanan”

Bekerja sebagai presenter dan reporter salah satu stasiun televisi swasta  membuat sahabat saya satu ini sering bertugas ke berbagai tempat. Dia juga seorang backpacker yang sudah mengunjungi banyak negara di Asia.  Saya menyimak kisah perjalanannya yang menarik melalui akun instagramnya @andreastj. Banyak hal inspiratif yang saya dapat darinya dan menggerakkan saya untuk menyerap hal-hal baik. Sikapnya yang positip, tenang dan sabar dalam berbagai kondisi membuat orang di sekelilingnya tertular aura positip. Dia tak banyak berubah selama 9 tahun saya mengenalnya. Sharing kali ini saya ingin ngobrol dengan sahabat saya Andreas Trijaya tentang kisah perjalanannya.

Hai Andre! Cerita sedikit dong kegiatan kamu sehari-hari saat ini.

Hai! Saat ini saya Associate Producer di salah satu stasiun TV Swasta, kegiatan saya sehari-hari nggak jauh dari koordinasi dengan tim liputan, edit naskah dan mendampingi proses editing video. Ada kalanya juga turun ke lapangan untuk liputan, tapi udah agak jarang. Sebagai netizen, sehari-hari ya scrolling sosmed, posting instastory sampah dan liat2 flash sale di marketplace.

Sejak kapan sih suka traveling? Ada nggak hal yang bikin Andre suka traveling waktu kecil dulu?

 

Waktu kecil sebenernya jarang traveling karena saya bukan dari keluarga berkelebihan. Semua serba cukup-cukup aja, jadi nggak ada dana lebih untuk traveling. Kalau pun pergi keluar kota, biasanya mengunjungi saudara yang paling jauh pun cuma ke Malang. Waktu SMA dan masa kuliah saya nggak pernah traveling, jadi setelah bekerja dan punya penghasilan sendiri, saya baru coba-coba traveling.
Tahun 2013 saya mulai coba-coba traveling dengan dua teman dekat sejak SMA, ke Malang karena waktu itu ada tiket murah Jakarta-Surabaya PP hanya 400ribu. Perjalanan Surabaya-Malang kami tempuh menggunakan mobil “taksi” dari bandara Juanda. Kami satu mobil dengan sepasang suami istri. Dalam perjalanan, si bapak yang pernah bekerja di Vietnam bercerita pada kami soal negara itu. Kami pun bertekad suatu saat bakal ke Vietnam juga (yang akhirnya kesampaian tahun 2016 sewaktu trip 3 negara Vietnam – Kamboja – Thailand). Tahun 2015, kami mulai “latihan” traveling ke luar negeri ke Malaysia dan Singapura. Dari situlah, setiap tahun kami berusaha traveling bareng keluar negeri. Sekaligus jadi titik awal saya untuk menyelesaikan trip ASEAN sebelum usia 30 tahun (meski kenyataannya meleset juga).

Andre sudah mengunjungi banyak negara dan pelosok Indonesia. Semua itu karena pekerjaan kamu sebagai reporter atau murni sebagai backpacker?

Untuk trip ke 9 negara ASEAN selain Indonesia, saya solo backpacker dan bareng teman. Tapi  ada juga saya ke Malaysia, Singapura, Thailand dan Timor Leste karena pekerjaan. Untuk Indonesia, mostly karena pekerjaan dan  saya sudah mengunjungi 25 provinsi.

Gimana sih Ndre mengatur perjalanan biar jatuhnya murah tapi tetap nyaman?

Murah mahal itu sebetulnya relatif ya. Tapi paling tidak, selama bepergian saya mendapat harga tiket lebih murah daripada biasanya. Untuk mendapat tiket murah, biasanya saya menunggu musim promo, mayoritas sih dari AirAsia. Biasanya dari pembelian sampai keberangkatan, paling tidak ada rentang waktu 6 bulan sampai setahun. Rentang waktu itulah saya pakai untuk cicilan tiket, menabung untuk biaya traveling dan mencari alternatif akomodasi. Soal nyaman, tidak semua orang bisa bepergian tanpa bagasi pesawat. Untungnya, saya selalu bisa menakar barang bawaan sehingga cukup di kabin pesawat yang maksimal hanya 7-10kg. Biasanya, saya membawa baju atau barang yang kira-kira bisa dibuang saja, sehingga tidak menambah beban saat kepulangan (karena digantikan dengan sedikit oleh-oleh). Penginapan yang nyaman dan murah juga penting. Saya bukan tipe orang yang bisa menginap di dormitory, jadi sebisa mungkin saya mencari kamar yang murah dan terjangkau transportasi publik.

Dari semua negara yang sudah Andre kunjungi, negara mana yang paling Andre suka? Kenapa?

Entah kenapa saya suka Kuala Lumpur. Suasananya nggak beda jauh dengan Jakarta, tapi biaya makan cukup murah dan akses transportasi publik mudah dijangkau. Selain itu, banyak street food yang enak-enak.

Asyik mana sih solo trip sama pergi rame-rame? Kalau lagi solo trip gimana caranya Andre ngambil moment dari foto-foto itu sendirian di tengah keramaian?

Saya fleksibel kok, dua duanya asik. Mau pergi sendiri atau bersama teman bisa bikin saya nyaman. Hanya saja, kalau pergi bersama teman ada kalanya harus meredam ego. Semua harus disepakati bersama. Soal foto, sejak 2013 saya sudah mencoba jadi turis mandiri. Berbekal tripod, kamera ponsel dan remote bluetooth. Kalau lagi ramai ya cuek aja, kan nggak kenal ini. Paling diliatin aja.

Ada nggak yang Andre cari dari setiap perjalanan?

Nggak ada yang saya cari sih, cuma pingin liat tempat-tempat yang berbeda dari Indonesia aja. Tapi dalam setiap perjalanan, selalu ada kisah untuk diceritakan. Cara hidup dan keyakinan yang berbeda dengan Indonesia, membuat kita bisa lebih berempati dan menghargai perbedaan.

Setelah mengunjungi negara-negara Asean, Tiongkok, Jepang, Korea, Jordan dan Jerusalem destinasi selanjutnya kemana? Kenapa ingin ke negara tersebut?

Rencananya mau ke Taiwan, pengen lihat Ing Te-nya Meteor Garden. Hehehe.. Saya nggak pernah menargetkan tahun ini harus ke sini atau ke sana. Kalau ada tiket murah, ya itu saya beli. Setelah beli, baru cari tau apa yang istemewa dan unik dari negara tersebut. Kebetulan saya sudah ke China, Jepang dan Korea. Yah itung-itung nambah list negara di Asia Timur (walaupun Taiwan termasuk negara yang nggak diakui PBB).

Gimana cara Andre menanggapi orang-orang nyinyir kayak misalnya “traveling itu cuma buang-buang uang mending dibeliin rumah atau mobil, traveling itu kerjaan orang yang melarikan diri dari hal-hal menyedihkan.”

Sama seperti orang nggak paham dengan kegemaran traveling, saya juga nggak paham kenapa orang mencari kebahagiaan dengan berumah tangga. Hahaha.. Jadi ya udah diemin aja, karena standar kebahagiaan orang kan beda-beda. Tapi karena “terlihat” sering traveling, kadang teman-teman saya malah suka nanya gimana caranya dapat tiket murah.

Andre tuh selalu kelihatan positip, sabar dan tenang. Gimana sih bisa konsisten bersikap kayak gitu?

Saya nggak selalu positip juga sih. Ada kalanya berpikiran negatif buat jaga-jaga kemungkinan terburuk. Kalaupun ada kejadian yang nggak menyenangkan saya coba merespon dengan berpikir begini, “mungkin memang jalannya harus begini.” Saya berada di posisi sekarang juga efek dari mencoba berpikiran positip di masa lalu. Misalnya, saya dulu nggak keterima di PTN dan akhirnya kuliah di PTS. Awalnya sedih, tapi kalau saya nggak kuliah disitu, mungkin saya nggak akan bekerja di media yang bisa membawa saya keliling Indonesia. Soal sabar, saya menganggap nggak ada gunanya marah-marah. Kalau semua bisa diselesaikan dengan kepala dingin, kenapa harus buang-buang energi untuk adu mulut atau baku hantam?

Oke deh Ndre, buat mereka yang ingin traveling tapi masih berangan-angan, Andre punya saran nggak?

Kaya jargonnya Tokopedia, mulai aja dulu. Kalau untuk traveling keluar negeri, bisa coba dari yang dekat-dekat dulu. Teman-teman saya suka bertanya, soal kendala bahasa. Perbedaan bahasa ternyata juga jadi salah satu alasan orang takut traveling. Padahal jaman sudah canggih, ada google maps dan google translate. Kalaupun nggak cukup, ada bahasa universal yaitu bahasa tubuh. Nggak perlu malu, karena hakekatnya bahasa hanyalah sarana untuk berkomunikasi. Kalau bahasa tubuh jadi sarana komunikasi yang efektif, kenapa enggak?

 

Note :  All pictures are taken from Andreas Trijaya Instagram.

 

 

 

HORAS MENJUAH-JUAH!

Menjelajahi sebagian Sumatera Utara sebenarnya tidak ada dalam rencana saya. Tapi karena tujuan utama saya ke Aceh gagal, akhirnya saya memutuskan keliling Sumatera Utara. Tidak banyak yang saya lihat karena saya hanya punya waktu sehari dari pagi sampai malam, tetapi lumayanlah. Dengan mobil sewaan dan seorang sopir sepuh yang lihai menyetir saya berangkat pukul 9 pagi mengelilingi Sumatera Utara.

 

Tujuan pertama saya Danau Toba karena cukup jauh, sekitar 5 jam perjalanan dari tempat saya menginap di kota Medan. Tempat ini sudah pasti sangat touristik, tapi ini salah satu tempat yang ada dalam mimpi saya untuk dikunjungi. Saya mengenal Danau Toba dari buku bacaan dongeng yang dibelikan Ibu waktu saya kecil. Ada banyak kisah tentang Danau Toba di buku itu membuat saya bermimpi untuk mengunjunginya kelak. Meski tidak sengaja, akhirnya saya berhasil mewujudkan mimpi itu.

Mobil melintasi hutan sepanjang perjalanan menuju Danau Toba dan mampir membeli Lemang, makanan khas Medan yang dijual di pinggir jalan. Lemang menyerupai lemper kalau di Jawa, enaknya dimakan saat hangat. Sepertiga perjalanan kemudian, mobil mampir di Vihara Avolakitesvara yang terletak di Jalan Pusuk Buhit, Pematang Siantar. Vihara yang menjadi salah satu destinasi wisata lintas agama ini terletak di ketinggian dengan pemandangan yang indah dan terdapat patung Dewi Kwan Im yang tingginya mencapai 22,8 meter.  Menurut Pak Sopir, tempat ini ramai dikunjungi wisatawan pada weekend dan sore hari. Saya tiba di Vihara tepat jam 11 siang sehingga panasnya luar biasa. Saya hanya singgah 30 menit mengambil foto lalu melanjutkan perjalanan karena tidak kuat dengan panasnya.

Hampir jam 1 siang saat saya tiba di pinggiran Danau Toba dan disarankan makan siang di salah satu warung makan pinggir danau oleh Pak Sopir. Makanannya sebenarnya masakan padang tapi ada juga beberapa makanan khas seperti jus Martabe dan ikan pora-pora goreng. Jus martabe terbuat dari markisa dan terong Belanda yang ditambah dengan potongan lidah buaya. Sementara ikan pora-pora adalah ikan air tawar yang berasal dari Danau Toba.  Saya suka dua makanan ini, sangat suka malahan.

Setelah sholat dhuhur di warung ini, saya jalan ke sekiling Danau Toba, tapi di spot ini tampak kurang menarik. Tidak ada yang bisa saya lihat selain tulisan Selamat Datang di Danau Toba dan panas tengah hari yang menyengat. Mungkin dari Samosir, Danau Toba tampak indah tapi sayangnya saya tidak punya waktu ke Samosir.  Pak Sopir menyarankan saya melanjutkan perjalanan ke air terjun Sipiso-piso dan singgah sebentar di spot lain untuk melihat Danau Toba jika dari spot ini kurang memuaskan. Saya setuju kemudian kami melanjutkan perjalanan.

Spot lain yang lebih menawan untuk melihat Danau Toba itu adalah di depan Rumah Pengasingan Bung Karno di Parapat. Tempat yang dulunya perkebunan milik Belanda ini lebih sejuk dan pemandangannya sangat indah.  Bung Karno pernah diasingkan ke sini selama dua bulan bersama Agus Salim dan Sjahrir.  Saya sebenarnya ingin masuk ke dalam rumah pengasingan Bung Karno ini, tetapi pintunya dikunci dan tidak ada penjaganya, mungkin sedang sholat karena masih waktu dhuhur. Akhirnya saya hanya duduk beberapa saat di depan rumah ini untuk menikmati Danau Toba dari kejauhan lalu melanjutkan perjalanan.

Pak Sopir sebenarnya ingin mengantar saya ke banyak lokasi menarik, tetapi waktunya tidak akan cukup. Akhirnya kami memutuskan ke air terjun SiPiso-Piso kemudian mampir Berastagi. Sepanjang perjalanan menuju SiPiso-Piso, saya minta berhenti beberapa kali karena menemui ladang bunga matahari dan deretan bunga-bunga yang indah. Pak Sopir sangat sabar membiarkan saya foto sepuas-puasnya di spot tersebut. Sampai tiba di air terjun SiPiso-Pisopun saya kesorean.

Air terjun SiPiso-Piso sebenarnya sangat keren. Air terjun itu menyembur dari celah bebatuan tinggi dan pengunjung bisa menikmatinya sepanjang perjalanan menuju dasar air terjun. Perlu waktu sekitar 1 jam berjalan kaki mencapai dasar air terjun, tetapi saya hanya sampai separuhnya karena kuatir keburu malam. Sepanjang berjalan menuju dasar air terjun melalui jalanan berundak rapi yang kiri kanan tampak pemandangan hutan hijau yang menakjubkan. Sayangnya tempat indah ini kurang didukung dengan fasilitas yang memadai. Toilet yang kurang bersih dan sampah yang bercecer dimana-mana. Belum lagi tempat parkir yang kurang rapi dan terkesan sembarangan. Tepat jam 5 sore saya melanjutkan perjalanan.

Berastagi masih jauh, tetapi Pak Sopir sepuh masih semangat mengantarkan saya. Beliau semangat bercerita perbedaan Horas dan Menjuah-Juah. Meskipun keduanya sama-sama sapaan salam, tetapi Horas lebih banyak digunakan oleh suku Batak sementara Menjuah-Juah lebih banyak digunakan suku Karo. Beliau juga menyarankan saya mampir ke pasar buah Berastagi meskipun sudah malam. Katanya sayang kalau sudah sampai sini tidak mampir pasar Buah Berastagi.

Saya hanya melihat Sumatera Utara dalam beberapa jam, tetapi kota ini menarik. Saya belum tahu banyak seperti apa di dalamnya selain hanya cerita-cerita dari Pak Sopir. Semoga lain kali memiliki kesempatan lebih baik untuk ekplore sehingga bisa mengenali lebih dalam. Horas! Menjuah-Juah!