Vienna : Dari Jejak Film Before Sunrise Sampai Rumah Mozart

October 19, 2017
5 mins


“You can never replace anyone because everyone is made up of such beautiful specific details.”  Celine – Before Sunrise”


Jika anda penggemar  film BEFORE SUNRISE produksi tahun 1995 oleh Richard Linklater, anda pasti terkenang romantisnya kota Vienna, Austria. Dalam film itu dikisahkan Jesse dan Celine berkenalan di kereta dalam perjalanan mereka dari Budapest. Jesse kemudian meminta Celine untuk menemaninya sehari saja keliling Vienna sebelum esok harinya ia kembali ke Amerika. Akhirnya Celine-pun setuju menemani Jesse menghabiskan waktu sehari semalam di Vienna.  Film yang diperankan Ethan Hawk dan Julie Delpy ini menjadi salah satu road movie yang sangat menarik karena dialog-dialognya yang kuat dan setting lokasinya yang indah. Meskipun saya tidak bersama Ethan Hawk menyusuri Vienna, tetapi saya senang melihat sedikit jejak-jejak romantis film Before Sunrise di sana.
 
Setelah penerbangan satu jam dari Geneva, saya tiba di Vienna jam 2 sore. Saya berencana menginap dua malam di Vienna tetapi kenyataannya saya hanya bisa menikmati Vienna sehari semalam persis seperti Jesse dan Celine dalam film Before Sunrise karena hari pertama saya datang terlalu capek untuk menjelajah Vienna dan saya memutuskan tidur di penginapan.  Dari bandara Vienna, kami naik metro dan turun di stasiun Kliebergasse. 
 Saya menginap di rumah warga lokal Vienna yang saya pesan melalui situs online. Sebenarnya saya hanya menyewa satu kamar, tetapi pemiliknya sedang traveling sehingga kami boleh memakai keseluruhan rumah.  Dan mulailah penjelajahan saya di Vienna dimulai dari rumah warga lokal yang saya tempati. Pemiliknya bernama Aurora, seorang ibu yang memiliki satu putri sekitar 10 tahun. Aurora memiliki usaha katering dan apartemennya berada agak jauh dari pusat kota.  Dari jendela dapur apartemen Aurora saya bisa melihat senja keemasan menyelimuti kota Vienna. 
 
Esok harinya, saya baru keluar untuk menjelajahi kota Vienna. Dengan naik metro sekali dari stasiun Kliebergasse sampailah kami di kawasan kota tua Dom. Vienna sangat cantik dan artistik.  Tak hanya dikenal sebagai kota musik, Vienna atau Wina, Austria ini juga dikenal dengan beragam museum dan istana yang masih berdiri megah hingga saat ini.  Tidak banyak lokasi wisata yang ingin saya kunjungi di Vienna karena waktunya sangat singkat, maka saya memutuskan untuk menyusuri jalan dan mampir di lokasi wisata yang kebetulan satu arah kemana saya berjalan.  Tempat pertama yang saya lewati adalah Sthepans Dom.

Sthepans Dom atau Katedral St. Stephan merupakan gereja bergaya Gothik yang berada di pusat kota Vienna.  Gereja ini memiliki genting yang warna-warni dan menara yang cantik. Dikontruksikan selama 65 tahun dari 1368-1433, gereja tua ini menjadi saksi sejarah di Vienna. Sayangnya beberapa bagian luar sedang direnovasi ketika saya ada di sana, sehingga sedikit semrawut. Banyak wisatawan masuk ke dalam gereja, namun saya memilih jalan memutar ke belakang gereja dan menemukan jalan menuju Mozarthaus.

Memasuki jalan sempit Domgasse tidak ada bangunan yang terlihat istimewa.  Semua bangunan tampak mirip, hanya ada satu pintu dengan papan nama Mozarthaus Vienna. Tempat ini merupakan bekas apartemen yang dijadikan tempat tinggal Wolfgang Amadeus Mozart tahun 1784-1787. Apartemen ini memiliki enam lantai, tetapi Mozart menempati lantai satu. Di rumah ini pula, Mozart menulis opera terkenal “Marriage of Figaro” sehingga apartemen ini juga sering disebut sebagai Figarohaus atau rumah Figaro.  Komponis agung ini meninggalkan jejak yang masih terus dicari dari generasi ke generasi  hingga tigaratus tahun lebih setelah meninggalnya. 
Setelah mengunjungi Mozarthaus, saya melanjutkan perjalanan menyusuri gang-gang sempit tapi artistik mencari Kleines Cafe yang menjadi salah satu lokasi film Before Sunrise. Terletak di Franziskanerplatz, cafe ini kecil dan sederhana. Ruangan dalam hanya ada 4 meja dan selebihnya meja bar. Sementara di tenda luar tampak lebih banyak meja. Begitu memasuki kafe, seorang lelaki tua yang ramah memakai celemek, menyambut kami dan mempersilakan kami memilih meja di dalam. Kami mencoba secangkir kopi dan kue yang lumayan enak.  Hampir satu jam kami duduk di Kleines Cafe menikmati kopi dan melihat pengunjung cafe berganti-ganti. 
Hari menjelang sore ketika kami meninggalkan Kleines Cafe menuju Karntner Strasse, satu pusat perbelanjaan yang menjadi tempat para turis berbelanja oleh-oleh dan mencicipi coklat khas Vienna. Tidak banyak yang bisa saya lihat di Vienna dan saya juga tidak seperti Celine yang menemukan Jesse. Tetapi saya bersyukur bisa sampai di ibukota musik dunia yang cantik ini.
Avatar
Writer, Traveller and Dreamer

Leave a Reply

  • (not be published)