October 09, 2019
5 mins

“Jangan menilai buku dari covernya, jangan menilai orang Rusia dari film Hollywood.”

Malam sebelum berangkat traveling ke Rusia, saya menonton film “The Way Back” garapan Peter Weir tahun 2010 yang bercerita tentang Janusz seorang yang didakwa mata-mata atas saksi istrinya sendiri lalu ditahan di kamp Siberia yang tidak manusiawi. Tentara Rusia memperlakukan dia dengan sadis hingga Janusz berhasil melarikan diri melewati banyak rintangan alam dan selamat sampai di India.  Usai menonton film saya masih berdebar, apa benar orang-orang Rusia begitu tidak menyenangkan seperti film-film Hollywood yang saya tonton? Seorang teman yang sedang solo traveling ke Mongolia lalu memasuki Rusia melalui Irkutsk lewat pesan online bilang kalau mereka memang tidak ramah, jadi mesti mempersiapkan diri menghadapi hal yang sangat berbeda dari traveling sebelumnya. Oh, baiklah!

Setelah 13 jam penerbangan Jakarta-Moscow, transit di Bangkok semalam,  tepat jam 10 malam berikutnya sampailah saya di Demodedovo International Airport Moscow. Ada dua bandar udara internasional lainnya di Moscow selain Demodedovo yaitu Vnukovo dan Sheremetyevo. Begitu keluar dari lobby bandara saya disergap suhu 7 derajat celcius. Tangan rasanya kebas saat memesan taksi online Yandex karena sudah tidak sanggup naik metro menuju penginapan. Yandex sangat mudah digunakan seperti grab, uber atau gocar di Indonesia, kita juga bisa menggunakan nomor Indonesia tanpa perlu memiliki nomor lokal.  Pembayaran bisa cash ataupun kartu kredit. titik penjemputan yang dipilihpun tepat ditempat kita berada, jadi tidak usah menggeser-geser titik. Lima menit kemudian Yandex yang saya pesan datang lalu mengantarkan ke penginapan. Satu jam lebih diselingi macet, menjelang tengah malam saya tiba di depan alamat yang saya tuju. Sopir yang tidak bisa bahasa Inggris hanya menunjuk bangunan di depan saya, lalu saya menyeret koper ke sana.

Dan mulailah drama itu! Bangunan itu memiliki akses untuk masuk, sementara saya tidak punya akses dan tidak bisa menelepon pemilik penginapan karena tidak memiliki nomor lokal. Tidak yakin bahwa pintu masuknya yang memiliki akses itu, saya segera berjalan ke samping memasuki pintu lain yang kebetulan terbuka. Tiba-tiba seorang cowok Rusia pulang belanja dan bilang bahwa alamat yang saya tuju bukan di situ. Dia tersenyum ramah dan bersedia mengantar ke alamat yang benar. Akhirnya cowok itu mengantar ke pintu samping kanan hingga masuklah saya ke sebuah tempat seperti kost-kost-an. Tampak beberapa anak muda sedang duduk sambil belajar. Tempat itupun ternyata bukan alamat yang saya tuju.  Sepertinya ini memang benar-benar kost-kostan. Ya ampun! Saya benar-benar tersesat!

Dua cowok di rumah seperti kost-kost-an itu berbaik hati mengantar kami ke alamat yang mereka yakini benar. Dia tidak bisa berbahasa Inggris tapi masih bisa menggunakan bahasa isyarat yang saya pahami. Ternyata balik lagi, alamatnya ada di pintu yang ada aksesnya itu dan si cowok memiliki akses untuk masuk. Dini hari, saya berhasil istirahat di penginapan yang saya pesan atas bantuan cowok-cowok baik itu. Tak hanya itu di jalanan seorang ibu yang pernah ke Bali juga berusaha menolong kami yang tersesat, hanya saja memang jarang yang bisa bahasa Inggris. Bahkan ada yang berbaik hati mengangkat koper kami saat kami kesulitan membawanya.

Esok malamnya saat saya nongkrong di kafe dekat stasiun menunggu perjalanan malam ke Sank Petersburg, dua orang bapak-bapak Rusia mengajak kami ngobrol. Ternyata mereka pernah keliling Indonesia dan meski menggunakan Inggris terbata-bata tampak mereka berusaha ramah. Kami sempat bertanya, “apa benar orang Rusia susah tersenyum? Dia justru tersenyum tipis, “tidak semua begitu. Mungkin yang susah tersenyum beban hidupnya berat, tapi saat liburan di luar Rusia mereka akan mudah tersenyum.”  Sebagian mereka memang terlihat judes, tapi jangan tertipu dengan muka judes karena mereka ringan tangan mengangkatkan koper kami keluar dari kompartemen kereta.

Kesan pertama saya terhadap orang Rusia baik dan melegakan. Ternyata benar, jangan menilai sesuatu dari kabar-kabar yang dihembuskan orang lain, mending lihat sendiri kenyataannya. Oke, ini hanya kesan pertama saya sebagai turis. Bisa jadi orang lain akan mengalami hal yang berbeda, atau mereka yang tinggal lama di Rusia tentu lebih tahu secara mendalam. Saya masih akan menulis terus tentang Rusia, jadi jangan pindah chanel dulu! 🙂 Oya, foto yang saya tampilkan mungkin tidak tepat mengikuti tulisan, tetapi menggambarkan bagaimana orang Rusia yang saya temui. Tunggu tulisan saya selanjutnya! 🙂

 

 

 

Avatar
Writer, Traveller and Dreamer

Leave a Reply

  • (not be published)