December 30, 2019
3 mins

“Jangan lupa beliin aku Matryoshka ya, Ci,” pesan ponakan beberapa hari sebelum saya berangkat ke Rusia. Matryoshka merupakan boneka khas Rusia yang di dalamnya terdapat boneka-boneka dengan ukuran lebih kecil. Model-model boneka ini bermacam-macam mulai dari karakter dongeng, pemimpin salah satu negara tertentu sampai gadis petani Rusia. Matryoshka berasal dari kata Matryona yang merupakan nama dari seorang wanita bertubuh gemuk sehingga di dalamnya terdapat banyak boneka lain yang lebih kecil.

Menurut sejarahnya, boneka Matryoskha diperkenalkan pada Pameran Dunia di Paris pada tahun 1900. Seorang pelukis bernama Sergey Malyutin membuat sketsa matryoskha dan meminta bantuan Vasiliy Zvyozdochkin, seorang pengrajin kayu untuk membuat matryoskha. Malyutin kemudian mengecat boneka tersebut menjadi sosok gadis manis yang menggunakan pakaian tradisional Rusia, lengkah dengan kerudungnya dan pernak-pernik khas Rusia lainnya. Sejak di perkenalkan pada pameran di Paris itu, matryoskha kemudian diproduksi besar-besaran di Sergiyev Posad, sebuah wilayah pinggiran Moskow yang hingga saat ini daerah tersebut menjadi pusat kerajinan matryoshka di Rusia.

Sayangnya, saya tidak sempat mengunjungi Sergiyev Posad karena mepetnya waktu backpacking saya di Rusia. Saya hanya mengunjungi Izmailovo market karena menurut informasi banyak menjual boneka matryoskha sekaligus souvenir khas Rusia. Maka, pada hari Jum’at sore, sebelum saya pergi menonton sirkus, saya menyempatkan diri berburu matryoskha di Izmailovo market.  Saya hanya punya waktu 3 jam untuk naik metro, mencari-cari lokasi pasar hingga membeli barang yang saya cari. Apalagi ternyata saat cek di internet, hari Jum’at itu pasarnya libur. Tetapi saya dan teman saya nekat pergi ke Izmailovo market.

 

Izmailovo market terletak di Moskow bagian timur dapat dijangkau dengan metro line 3 dan turun di Partizanskaya Station. Dari stasiun ini bisa jalan kaki sekitar 10 menit menuju Izmailovo market. Di depan Izmailovo market ada Izmailovo kremlin yang di dalamnya terdapat museum juga. Tetapi saya tidak sempat mampir karena kuatir telat nonton sirkus. Jadi setelah makan di mall dekat pasar, saya buru-buru ke pasar yang ternyata sepi. Memang hari Jum’at sebenarnya pasar tutup, tetapi masih ada beberapa kios yang berjualan.

Begitu memasuki pasar, penjual souvenir yang lancar berbahasa Indonesia langsung memanggil saya. Mereka hapal pengunjung dari Indonesia suka belanja sampai mereka bisa berbahasa Indonesia. Deretan souvenir khas Rusia dan boneka Matryoskha berbagai ukuran tampak sangat menarik di beberapa kios. Bahkan pasmina-pasmina buatan Khasmir juga berderet diantara souvenir-souvenir itu. Saya memilih beberapa souvenir dan matryoskha untuk oleh-oleh. Harga di pasar ini cukup miring meskipun kalau dibandingnya dengan souvenir di Arbat Street tidak jauh-jauh juga jika kita tidak bisa menawarnya. Mungkin pada hari lain saat kios-kios di pasar Izmailovo buka semua pasti lebih semarak. Saya hanya mengunjunginya sekilas karena mengejar waktu dengan suhu 8 derajat sehingga sangat kedinginan. Tepat jam 5 sore saya berlari kembali ke stasiun metro untuk mengejar waktu nonton sirkus.  Duh, sayang sekali saya tidak bisa kembali ke pasar itu esok harinya karena sudah kecapekan. Harusnya lebih banyak yang bisa saya ceritakan jika saya bisa kembali. Mungkin lain waktu saya akan kembali. Semoga.

Avatar
Writer, Traveller and Dreamer

Leave a Reply

  • (not be published)