October 16, 2019
7 mins

Hari pertama di Saint Petersburg, sore hari setelah istirahat kami percaya diri hendak mengunjungi tempat-tempat wisata terdekat dengan jalan kaki mengikuti Google map. Tapi dalam suhu 9 derajat dan tangan yang kebas kedinginan mendadak sulit memencet-mencet tombol ponsel. Sebagai pembaca map yang buruk akhirnya kami mengikuti kata hati. Dan nyasarlah kami ke lapangan yang luas dengan beberapa cowok sedang party. Mereka tak memedulikan orang asing yang nyasar lewat dekatnya, lalu kami melihat lampu-lampu di kejauhan. Kami meyakini di sekitar lampu-lampu yang berpendar itu jalan besar, maka bergegaslah kami ke sana. Sekitar 1.5 km, kami menemukan jalanan dengan mobil-mobil melaju kencang seperti jalan tol tapi kami juga melihat beberapa orang bisa menyeberang jalan meskipun sepertinya resikonya sangat besar. Tidak berani menyeberang dengan resiko ketabrak, kami mencari penyeberangan.

Tetapi hampir 1 km berjalan tak juga menemukan penyeberangan. Sekeliling kami tidak ada manusia lain yang jalan kaki, hanya ada mobil-mobil yang melaju kencang. Harapan kami hanya satu, berjalan lagi untuk menemukan penyeberangan. Dan benar, setelah 1 km berjalan lagi, tepat di depan gedung pengadilan ada penyeberangan ke samping sungai Neva. Tetapi begitu sampai pinggiran sungai Neva, kita masih tidak tahu harus berjalan kemana untuk mencari makan malam. Mall-mall dengan gemerlap lampu tampak sangat jauh, mustahil kami jalan kaki ke sana. Akhirnya kamipun menyerah dan memesan taksi online yang kemudian mengantar kami ke mall Galeria. Drivernya seorang muslim Tajikistan dengan bahasa Inggris sedikit tapi cukup kami pahami. Dan begitulah selalu saja nyasar itu meninggalkan kesan lucu karena ternyata, mall Galeria ini posisinya ada di belakang tempat penginapan kami! Ya ampun! Baiklah, kalau tidak nyasar, kami pasti tidak tahu kalau penginapan kami dekat mall.

Setelah nyasar akhirnya nemu tempat penyeberangan

Kedinginan, kelaparan belum makan nasi sejak kemarin, saya menemukan restoran Vietnam yang menjual nasi dan Tom Yam seafood. Ketika sedang menunggu pesanan, masuk dua cowok ngobrol berbahasa Indonesia. Kami langsung saling paham kalau sebangsa, ternyata mereka mahasiswa Indonesia yang kuliah S2 di Saint Petersburg. “Kalau mbak pengen nanya-nanya saya di depan,” katanya sambil senyum. Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan, begitu selesai makan, langsung menuju meja mereka. Dan hampir satu jam dapat petuah bagaimana menghabiskan waktu di Saint Petersburg menggunakan metro tanpa nyasar, tempat-tempat menarik yang harus kami kunjungi, termasuk jalur terdekat ke masjid Soekarno yang ingin saya kunjungi esok harinya.

Ketemu mahasiswa Indonesia yang baik hati

Mengunjungi Masjid Soekarno atau Blue Mosque atau Saint Petersburg Mosque memang salah satu tujuan saya saat di Saint Petersburg Rusia.  Saya sangat tertarik sekaligus penasaran dengan teman-teman traveler yang selalu menyebut Masjid Soekarno di Saint Petersburg itu. Bagaimana masjid di Rusia ini sangat terkenal dengan sebutan Masjid Soekarno? Apa sejarah yang melatarinya?  Apakah benar ada hubungannya dengan Presiden Soekarno pada masa pemerintahannya dahulu? Well, saya bisa membaca dari berita, tetapi saya ingin melihat masjid itu dengan mata saya sendiri.

Stasiun metro Gorkovskaya

Jam 9 pagi saat matahari belum mengurangi gigil kedinginan saya, dengan mengenakan jaket tebal saya menuju metro stasiun Mayakovskaya. Temen-temen mahasiswa Indonesia semalam bilang, saya sebaiknya naik metro line 3 dari stasiun Mayakovskaya kemudian turun di Gostiny Dvor ganti metro line 2 dari Nevsky Prospekt kemudian turun di stasiun Gorkovskaya. Petunjuk yang dikatakan temen-temen mahasiswa ini sama dengan yang ditunjukkan Google Map. Ternyata sangat mudah. Begitu exit dari stasiun Gorkovskaya, saya bisa melihat kubah biru masjid Soekarno menjulang tidak jauh dari pintu stasiun. Sayapun menyeberang jalan dan hanya butuh berjalan lima menit untuk sampai pintu gerbang masjid Soekarno.

Masjid Soekarno dari seberang jalan

Masjid tampak sepi, tetapi ada beberapa wisatawan bersama tour guide sedang mengunjungi masjid. Saya segera masuk ke dalam dan diarahkan penjaga masjid ke bagian perempuan. Karena belum waktunya sholat wajib dan saya juga sedang tidak sholat, maka saya memutuskan untuk duduk menikmati keindahan bangunan di dalam masjid ini. Berada di dalam masjid Soekarno saya jadi teringat masjid lain yang hampir mirip bangunannya yaitu Tokyo Camii. Di dalam masjid tidak diperkenankan memotret, tetapi penjaganya mengijinkan saya mengambil satu foto. Lalu apa hubungannya masjid ini dengan Soekarno Presiden RI yang pertama sehingga sering disebut dengan nama Masjid Soekarno?

Terletak di pusat kota Saint Petersburg yang dulunya bernama Leningrad tak jauh dari sungai Neva dan Benteng Peter & Paul, masjid ini menjadi pusat komunitas muslim Saint Petersburg. Masjid yang didirikan pada tahun 1910 dengan gaya arsitektur Turki ini sebenarnya memiliki nama asli Jamul Muslimin.  Pada masa itu masjid Jamul Muslimin merupakan masjid terbesar di Eropa dengan jamaah sekitar 8000. Namun pada era komunisme selama Uni Soviet berkuasa, semua tempat ibadah ditutup dan tidak boleh digunakan sehingga masjid Jamul Muslimin dialih fungsikan sebagai gudang penyimpanan barang.

Menurut sejarah, pada tahun 1956 saat hubungan Indonesia-Rusia sangat harmonis dan Presiden Soekarno menerima undangan Pemimpin Uni Soviet Nikita Khrushchev untuk kunjungan kenegaraan ke Rusia beliau melihat kubah biru itu dan meyakininya bahwa itu masjid. Soekarno kemudian meminta Nikita Khrushchev untuk memfungsikan kembali masjid itu dan permintaan itu disetujui. Sejak itu Blue Mosque kembali difungsikan sebagai tempat ibadah muslim hingga saat ini sehingga sering disebut sebagai masjid Soekarno.

 

Di samping masjid Soekarno ini ada kedai makanan halal yang kebabnya sangat enak. Temen-temen traveler muslim bisa menikmati berbagai kudapan lezat dan halal dengan harga yang terjangkau. Saya membeli roti isi ayam, kebab dan minuman untuk bekal menyusuri Saint Petersburg setelah itu karena kuatir tidak menemukan makanan halal lagi. Penjualnya muslim dan sangat ramah. Beliau mengijinkan saya mengambil banyak foto dan video di kedainya.

Kehidupan muslim di sekitar masjid Soekarno tampak biasa saja. Tidak ada hal-hal mencolok atau berbeda saya rasakan di sini, bahkan orang-orang juga tidak terlalu kaget melihat wanita berjilbab di jalanan. Dari Blue Mosque saya akan menceritakan tempat lain lagi. Tunggu kelanjutan perjalanan saya di Rusia ya!

 

 

Avatar
Writer, Traveller and Dreamer

Leave a Reply

  • (not be published)