Paris : Kota Cinta, Kota Seni – 1

December 10, 2017
8 mins


 “Paris is the only city in the world where starving to death is still considered an art ”  – Carlos Rutz Zafon (Spanish Novelist)

Pagi masih lengang saat Flixbus yang saya tumpangi 8 jam dari London victoria couch stasiun tiba di salah satu terminal bus di Paris. Kaki masih terasa ngilu duduk semalaman setelah sebelumnya menyeret koper sambil lari-lari di trotoar London karena takut ketinggalan bus.  Tapi akhirnya sampai juga saya di kota cinta Paris. Apakah benar banyak cinta di sini? 

Bus berhenti di terminal terbuka Porte Maillot yang berada tepat di depan stasiun metro. Saya dan dua orang teman segera menyeret koper memasuki stasiun. Bangunan stasiun tampak modern tetapi masih sepi. Hanya ada security mondar-mandir di dekat pintu masuk. Kami mencari petunjuk arah menuju stasiun metro yang ternyata ada di lantai bawah tanah.  Begitu memasuki pintu stasiun metro, saya mulai menangkap suasana yang muram dan berbeda dengan bagian depan stasiun yang modern. Bagian bawah tanah itu tampak tua dan kusam, penjaga loket sedikit galak dan orang-orang yang berjejer antri tiket saling melirik seolah menaruh kecurigaan. Karena belum mempelajari kartu transportasi yang akan kami gunakan, kami membeli tiket sekali jalan ke arah hostel yang terletak di Gare Du Nord. Dengan tiket berukuran kecil dan mesin tua yang unik, saya kesulitan masuk stasiun. Ternyata tiket mungil itu harus dimasukan dan akan muncul di depan setelah palang terbuka. Begitu keluar, akan terdapat tanda garis kecil di tiket pertanda telah dipakai. Setelah melewati mesin tiket kami bingung harus masuk ke stasiun yang mana karena tidak menemukan petunjuk.  Sembarangan kami mengikuti arus orang memasuki salah satu lorong stasiun.
 

Lorong-lorong stasiun itu muram dan horor. Orang-orang dengan lirikan yang seperti curiga hilir mudik tanpa aura wajah ramah. Tidak ada eskalator sehingga kami harus mengangkat koper naik turun tangga setan yang tingginya amit-amit. Agak berharap ada cowok ganteng yang tiba-tiba tersenyum dan membawakan koper kami melewati tangga seperti di London, tapi di Paris kami kurang beruntung. Setelah muter-muter di lorong dan bolak-balik motret jalur metro yang terpampang di tembok stasiun akhirnya kami menemukan jalan menuju hostel.  Dengan dua kali pemberhentian metro, sampailah kami di stasiun Gare Du Nord. 

Gare Du Nord besar dan modern. Pintu keluarnya pun susah ditemukan karena petunjuknya agak memusingkan. Tetapi sekali lagi, saya menemukan wajah-wajah curiga memandang kami sehingga kami menjadi waspada.  Sepanjang keluar stasiun saya menekap tas dan money belt erat-erat.  Sudahlah pergi ke Eropa dengan cara irit mendekati kere kalau sampai kenapa-napa, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.  Banyak gelandangan di pintu depan stasiun dan saya bergegas menghampiri polisi untuk menanyakan lokasi hostel. Polisi tidak yakin lokasinya hanya memberi tahu bahwa jalan yang saya cari ada di sepanjang jalan ini. Saya memutuskan berjalan ke arah kiri dan insting saya benar, Christoper Hostel ada di ujung jalan setelah melewati kedai-kedai makanan halal. Saya membayangkan bisa makan lebih leluasa di sini.

Christoper Hostel luas dan memiliki banyak kamar dormitory. Saya memilih female dormitory dan sekamar dengan cewek Brazil, cewek Afrika dan satu lagi emak-emak dari London.  Terlalu capek setelah perjalanan semalam naik bus dari London dan ketakutan banyak copet di jalan, kami memutuskan untuk tidur di hostel sambil menyusun strategi menjelajah besok harinya. Kami hanya keluar di sekitaran hostel untuk mencari makan sore hingga malam. Itupun masih ada acara nyasar segala. Jadi kapan kami tidak nyasar?

Esoknya kami jalan kaki menuju Sacre-Coeur yang terletak di bukit Montmartre. Menurut cewek Brazil itu tidak jauh dari hostel kami, tapi ketika kami jalan ke sana ternyata kaki sampai kram juga. Apalagi jalan menuju ke sana mendaki dan kami belum sarapan nasi beberapa hari. Sacre-Coeur merupakan gereja dengan kubah putih. Dari pelataran bagian atas kita bisa melihat pemandangan sebagian wilayah Montmartre.  Gereja ini didirikan pada tahun 1875 dan baru selesai dibangun pada tahun 1914.  Ada seorang lelaki tua yang memainkan biola dengan indah di pelataran atas Sacre-Coeur dan saya lebih suka menikmati permainan lelaki tua ini daripada jalan mengelilingi Sacre-Coeur.  
 

Hujan mulai turun ketika kami menuruni bukit dan melewati penjual souvenir yang berjajar di bawah bukit.  Kami memutuskan masuk ke sebuah tempat makan halal yang ada di seberang jalan. Meskipun setiap berjalan harus sangat waspada pada kemungkinan copet supercanggih yang mengintai dompet kami, tetapi hal yang menyenangkan di sekitar Gare Du Nord adalah banyak makanan halal. Karena hujan tak kunjung berhenti, kami kembali ke hostel untuk tidur siang. Ini adalah penjelajahan paling malas yang pernah terjadi dalam misi kami! Bukan apa-apa sih, lebih karena hujan dan kami agak takut dengan suasana Paris.
 

Baru sekitar pukul 2 sore kami kembali keluar hostel. Entah kenapa setiap memasuki stasiun sudah horor saja bawaannya. Apalagi untuk membeli tiket harus menggunakan credit card sehingga kami tidak bisa memperkecil kemungkinan kena scam. Dan benar saja, credit card saya kena scam (digandakan scammer setelah saya masukkan mesin untuk membeli tiket metro). Untung pihak bank segera menghubungi saya dan secepatnya credit card saya di block.  Duh, Paris, dimana cinta itu? Dan, saya mulai mengeluh.

Setelah muter-muter nyasar dan saku jaket temen saya digerayangi copet di metro sampailah kami di stasiun tujuan. Tidak ada barang hilang tetapi seorang ibu baik hati mengejar teman saya dan mengingatkan agar tidak menyimpan sesuatu di saku jaket. Banyak orang baik di mana saja, bahkan munculnya seringkali tidak bisa kita duga.

Begitu keluar stasiun, mata saya disergap bangunan-bangunan tua yang sangat artistik dan memancarkan aura seni. Sejauh mata memandang, bangunan-bangunan itu seperti kehidupan dari masa lampau yang tak pernah bergerak ke masa modern. Saya lebih suka menyebut Paris sebagai kota seni daripada kota cinta, karena setiap sudutnya memancarkan aura dan aroma seni.  Kami menyusuri sepanjang sisi jalan hingga sampai di menara Eiffel. 

Menara Eiffel seperti dugaan saya, sudah pasti ramai pengunjung dari berbagai negara. Saya sebenarnya tidak terlalu excited dengan menara Eiffel karena dalam kepala saya hanya besi yang didirikan membelah kota. Dan sampai hari ini juga tidak paham kenapa orang-orang selalu membuat definisi yang berkaitan dengan cinta di depan menara besi ini. Tetapi well, sudah sampai Paris, maka saya harus mengabadikannya dalam kamera. Siapa tahu sampai akhir hayat saya tidak bisa mengunjungi Paris. Jadi tidak ada salahnya saya mengunjungi menara Eiffel meskipun saya tidak tersentuh dengan berbagai cerita cinta di depan menara besi ini. Hanya sekitar 30 menit di tempat itu, saya kemudian melanjutkan perjalanan ke Museum Lovre dan Arc de Triomphe.  (bersambung ke tulisan ke -2 )
Avatar
Writer, Traveller and Dreamer

Leave a Reply

  • (not be published)