Bali : Berkeliling Danau Batur, Mengunjungi Kuburan TRUNYAN

February 16, 2015
7 mins



“Wherever you go, go with all your heart” – Confusius

 

Tengkorak di kuburan Trunyan


Apa yang ingin anda kunjungi di Bali?  Pantai, gunung, menikmati tradisi yang eksotis, duduk bersantai di kafe sambil ngobrol bersama teman, atau memanjakan diri di spa? Kalau semua itu sudah anda lakukan di Bali, coba hal lain yang lebih menantang dan berpetualang. Saya jamin, liburan anda pasti lebih seru! Apakah sesuatu yang lebih menantang dan berpetualang itu? Berkeliling Danau Batur menggunakan sepeda motor dan mengunjungi kuburan Trunyan. Mau coba? Ada baiknya anda menyimak perjalanan saya beberapa waktu lalu mengelilingi danau Batur dan mengunjungi kuburan Trunyan.

DANAU BATUR YANG CANTIK
 

Danau Batur

 

Danau Batur merupakan danau terbesar di Bali, terletak di kecamatan Kintamani Bangli, 65 kilometer dari Denpasar. Danau Batur merupakan danau terbesar di Bali yang juga telah ditetapkan sebagai Global Geofark Network atau taman Bumi oleh Unesco. Artinya kawasan danau Batur menjadi taman bumi pertama pertama yang ditetapkan secara resmi oleh Unesco.

Danau Batur

Untuk mencapai tempat ini, anda bisa menyewa mobil dari kawasan Kuta dengan biaya kisaran 400-500 ribu perhari atau menyewa sepeda motor dengan biaya sekitar 50 ribu perhari. Jika perjalanan lancar hanya membutuhkan waktu dua jam dari Denpasar, namun terkadang jalur menuju Kintamani sangat padat sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama. Saya lebih suka menggunakan sepeda motor karena petualangan akan terasa lebih seru.

Asyiknya bersepeda motor mengelilingi Danau Batur

Beberapa waktu lalu, citra buruk melekat pada wisata danau Batur sehingga wisatawan enggan menikmati danau Batur lebih dekat karena pengemudi seringkali menghentikan perahu di tengah danau dan akan melanjutkan perjalanan jika wisatawan mau membayar sejumlah uang yang diminta pengemudi. Tetapi kondisi sekarang sudah semakin membaik. Meskipun awalnya saya agak ragu, tetapi saya memutuskan untuk menikmati danau Batur lebih dekat.

 

Jalan curam di sekeliling danau Batur

Pemandangan danau Batur dari Kintamani tampak mempesona. Gunung Batur yang menjulang menaungi danau Batur dibawahnya. Wisatawan bisa menikmati pemandangan indah ini sambil duduk bersantai di areal public yang tersedia sambil menikmati makanan kecil. Tetapi saya tidak puas hanya menikmati danau Batur dari ketinggian Kintamani. Saya bersama beberapa teman memutuskan untuk membawa motor turun mendekati danau.  Menyusuri jalanan menurun yang berkelok-kelok, pemandangan danau Batur semakin mempesona dari dekat. Beberapa orang menawari kami menyeberang ke desa Trunyan dengan biaya 800 ribu per kapal, tetapi saya masih ragu untuk menyeberang mengingat kisah-kisah buruk yang pernah saya baca di media. 
 

Memancing di tepi danau

 

Saat kami istirahat di pinggir danau dan menikmati pemandangan tiba-tiba seorang lelaki mendekati kami dan menawarkan perahu untuk menyeberang ke desa Trunyan dengan harga murah. Hanya 400 ribu perkapal! Benarkah? Saya mulai tergoda karena memang sejak lama saya ingin menyeberang ke desa Trunyan. Seorang teman asli Bali kemudian menawar harga itu dan lelaki itu memberi kami harga baru 300 ribu perkapal! Wah, murah sekali! Sayang sekali kalau sudah sampai di sini tapi tidak mampir ke kuburan Trunyan, kan? Saya memutuskan mengambil tawaran itu. Dan kami dikasih aba-aba untuk mengikuti motor lelaki kekar itu.

Desa Trunyan

Kami naik turun bukit di pinggiran danau Batur mengikuti lelaki itu. Pemandangan di sepanjang perjalanan menakjubkan. Hingga kami memasuki batas desa Trunyan, lelaki itu tak juga berhenti. Kami mulai curiga dan was-was kira-kira kami akan dibawa kemana? Apakah karena hanya membayar 300 ribu maka kami dibawa ke perkampungan paling dekat untuk menyeberang ke kuburan Trunyan? Tapi saya justru menikmati perjalanan mengelilingi danau Batur dengan mengendarai motor. Hingga motor lelaki itu melewati pura di pinggir danau Batur dan berhenti di perkampungan paling dekat dengan kuburan Trunyan. Dua orang wisatawan dari Jakarta juga sedang menunggu di sana.

Tak lama perahu dengan tenaga kayuh manusia datang menjemput kami dan kami semakin yakin bahwa kuburan Trunyan tinggal dekat saja. Benar, hanya 15 menit kami naik perahu sudah sampai ke kuburan Trunyan.

KUBURAN TRUNYAN

Welcome to Kuburan Trunyan

 

Desa Trunyan terkenal dengan pemakamannya yang unik. Tidak seperti masyarakat Bali lainnya yang melakukan ngaben untuk jenazah, tetapi warga desa Trunyan meletakkan jenazah di satu area berundak di bawah pohon Taru Menyan. Pohon  besar yang menjulurkan akar-akarnya ini menguarkan bau wangi sehingga mayat yang diletakkan dibawahnya tidak berbau.

Pohon Taru Menyan

Untuk mencapai kuburan Trunyan, pengunjung bisa melalui akses jalur darat sekitar 45 menit dari jalur Panelokan seperti yang saya lakukan lalu dilanjutkan bersampan sekitar 15 menit, atau menyewa boat di dermaga Kedisan yang memerlukan waktu sekitar 45 menit menyeberangi danau Batur. Memasuki areal kuburan, kita akan melihat pemandangan yang mengerikan. Tengkorak yang berjejer di atas undakan, mayat-mayat yang berbaring di ancak saji (kurungan bambu berbentuk segitiga sama kaki), koin-koin bertebaran, baju-baju jenazah yang dibawakan oleh keluarganya sebagian terkubur di tanah dan tulang belulang yang berserakan di atas tanah. Saya beruntung karena ada jenazah yang baru di tempatkan di salah satu ancak saji dan kondisinya masih utuh. Wisatawan bebas mengambil foto di area ini bahkan menyentuh tengkorak-tengkorak yang berjejer di undakan.

Jenazah dalam ancak saji dan barang yang dibawakan dari rumah
Tidak semua jenazah dikuburkan di pekuburan Trunyan. Mereka yang dikuburkan di bawah pohon Taru Menyan adalah mereka yang meninggal secara wajar. Sedangkan mereka yang meninggal karena kecelakaan, dibunuh dan bunuh diri akan dikuburkan di lokasi berbeda yang bernama Sema Bantas. Sedangkan jenazah anak-anak dan bujangan dikuburkan di Sema Muda.
Ancak saji (kurungan bambu berbentuk segitiga sama kaki) hanya berjumlah 11. Jika ada yang meninggal maka salah satu jenazah yang sudah menjadi tulang akan digeser untuk diisi dengan jenazah baru. Di depan ancak saji terdapat foto jenazah, piring, baju, perhiasan, sapu tangan milik jenazah. Kuburan Trunyan ini melengkapi kekayaan wisata Kintamani, Danau Batur yang indah sekaligus menyimpan tradisi yang unik.  Jangan sampai anda lewatkan saat berkunjung ke Bali.

 

Avatar
Writer, Traveller and Dreamer

16 Responses for this article

  1. Avatar
    on
    Mar 3rd, 2015

    Wuiih..nyali mbak Tari besar juga, dateng ke kuburan Trunyan…Ngeri banget pastinya. Jempol dua dah buat oleh-oleh kali ini dari Bali. Thank ya..Beberapa tahun lalu aku pernah mengunjungi bukit Kintamani dan hanya memandang danau Batur dari kejauhan. Memang kurang menantang kalalu menikmati danau Batur dari Kintamani. Tapi gimana lagi saat itu aku banreng rombongan, jadi ya mesti ikut jadwal rombongan, hiks…

    Reply
  2. Avatar
    on
    Mar 3rd, 2015

    Ehh..Mbak, facebook-e sampean kemana? kok hilang…sampean hapus ta? Tolong kalau ada yang baru di inbox ya. Thank…

    Reply
  3. Avatar
    on
    Mar 30th, 2016

    Andre Bayu Anggara
    7 minutes ago
    Pengalaman saya batu kmrin tgl 26 maret 2016 sangat menyebalkan berkunjung ke desa trunyan. saya kesana beserta istri saya pakai mobil pribadi.Baru mau turun untuk masuk ke desanyanya sudah dihadang 2 pemuda kekar kayak preman memaksa untuk dipandu dg ngototnya. Saya tolak dg nada lirih dg alasan klo tujuan saya ktmu kluarga yg sdh disana. Akhirnya lolos dan di tengah perjalan masih ada lagi yg mnghadang mnghentikan mobil saya.dg alasan sama akhirnya lolos lagi dan sampailah di dermaga. Didermagapun calonya yg ngoyok2 ada 3 org ya ampun sudah saya tolak tetep aja ngoyok scra bergantian. Blum lagi penjual soevenir keliling memaksa untuk dibeli barangnya dg cara ditunggu berjam2 dsblah saya agar kita mngeluarkan uang. Kok gak tertib ya wisata ini, dan akhirnya dri mslh awal sdh kayak gitu saya batalkan untuk pergi ke makam trunyan. Klo wisatanya begini terus,saya yakin ajur……. padhl sgt potensial…

    Reply
  4. Avatar
    on
    Mar 30th, 2016

    Andre Bayu Anggara
    7 minutes ago
    Pengalaman saya batu kmrin tgl 26 maret 2016 sangat menyebalkan berkunjung ke desa trunyan. saya kesana beserta istri saya pakai mobil pribadi.Baru mau turun untuk masuk ke desanyanya sudah dihadang 2 pemuda kekar kayak preman memaksa untuk dipandu dg ngototnya. Saya tolak dg nada lirih dg alasan klo tujuan saya ktmu kluarga yg sdh disana. Akhirnya lolos dan di tengah perjalan masih ada lagi yg mnghadang mnghentikan mobil saya.dg alasan sama akhirnya lolos lagi dan sampailah di dermaga. Didermagapun calonya yg ngoyok2 ada 3 org ya ampun sudah saya tolak tetep aja ngoyok scra bergantian. Blum lagi penjual soevenir keliling memaksa untuk dibeli barangnya dg cara ditunggu berjam2 dsblah saya agar kita mngeluarkan uang. Kok gak tertib ya wisata ini, dan akhirnya dri mslh awal sdh kayak gitu saya batalkan untuk pergi ke makam trunyan. Klo wisatanya begini terus,saya yakin ajur……. padhl sgt potensial…

    Reply
  5. Avatar
    on
    May 22nd, 2016

    Saya baru saja dari ke desa trunyan siang tadi, dan sama juga seperti masnya, kecewa. Saya naik motor tiba-tiba diteriaki dipertigaan arah songan-trunyan. "Oee oee" saya berpikir ini apa kok arogan sekali manggilnya. Ternyata dia nyegat untuk menawarkan ke desa truyan. Saya pikir ini apaan kok caranya nyolot gini mau nawarin guiding, kebetulan saya domisili bali jadi saya tanyakan maksudnya dengan bahasa bali. Akhirnya disuru ngikutin dia samape ke desa. Sampe ke desa, juga mengecewakan saya dan teman saya dikemplang harga 400ribu berdua Ini apaan? Penduduk lokal masak dikasi harga demikian. Sangat mengecewakan sekali oknum-oknumnya

    Reply
  6. Avatar
    on
    May 23rd, 2016

    Sekali2 biar ketemu marinir biar dihajar orang2 yang kayak gitu .. hehe

    Reply
  7. Avatar
    on
    Apr 28th, 2017

    Hari minggu tanggal 23 april 2017, saya bersama rombongan teman jumalh 8 orang… mau naik penyebrangan diminta 1 orang 200rb… padahal kapal biasa… 1.6jt umtuk 8 orang… akhirnya batal pergi kesana.. dan tetap harus membayar orang lokal yg setia membuntuti….
    Tidak jadi ke trunyan… kecewa… orang indonesia saja dihajae habis2an… apalagi wisatawan asing….
    Semoga secepatnya dikelola pemerintah… biar jelaas

    Reply
  8. Avatar
    on
    May 31st, 2017

    wah seru bisa ke trunyan pakai motor. boleh tau ga itu rutenya? 300rb murah banget tuh, ketimbang 200rb/orang, wow banget!!!

    sebagai orang lokal, marilah qt coba sadari. SDA setiap orang berbeda, tapi bedanya memang sangat terkesan pada sektor pariwisata kintamani. jadi coba lihat sisi positifnya.

    1 hal lagi, jangan kaget dengan cara itu. mungkin akan lebih sangat parah lagi kalo semua krisis gitu respondnya. jadi qt pandang saja memang begitu kalo orang sana. satu lagi jangan kaget kalo ke besakih, 11-12!! positif thingking aja, kalo diajak berfebat ikutin alurnya jangan sampai ga ada solusi dan ambil tengahnya

    Reply
  9. Avatar
    on
    May 31st, 2017

    wah murah banget, tinggal tambahin 150 bisa bolak balik bali – gili trawangan – bali 🙂

    Reply
  10. Avatar
    on
    May 31st, 2017

    wah murah banget, tinggal tambahin 150 bisa bolak balik bali – gili trawangan – bali 🙂

    Reply
  11. Avatar
    on
    Jul 1st, 2017

    setuju..saya tahun 2011 masih sampai kintamani saja..banyak sekali pejual baju maksa2..tahun depan ada rencana ke bali lg..pengen ke trunyan, tapi sepertinya belum berubah…

    Reply
  12. Avatar
    on
    Jul 13th, 2017

    Saya baru kemaren dari trunyan tanggal 11 juli 2017 dan mendapatkan kejadian yang hampir sama juga.Saya beserta teman saya sebanyak 5 orang pingin berkunjung ke trunyan akan tetapi baru sampe di pertigaan sudah ada yang jegat ngoto buat dia yang mandu. alhasil karena tetap ngotot akhirnya kita ijinkan untuk memandu akan tetapi ke tika pingin nyeberang ke makamnya malah 1 orang dikenain 150 ribu/orang.Kami terkejut dengan harga segitu karena mereka matok harga yang nggak wajar padahal perahu yang digunakan adalah perahu daying tanpa mesin juga. Sebelumnya tanggal 10 juli 2017 kita juga nyewa kapal di teluk benoa buat 1 hari full hanya dikenain 600 ribu dan itu udah bebas buat keliling keliling. Perbandingan antara kapal yang didapatkan tidak sesuai dengan harga yang ditawarkan. Padahal apabila harga yang ditawarkan bersahabat saya yakin wisata ini bisa terus dipopulerkan dan digemari. Dan apabila terus dibiarkan seperti ini saya yakin akan semakin sedikit yang tertarik untuk berkunjung ke daerah ini. Mudah mudahan pemda disana bisa mengambil tindakan yang serius.

    Reply
  13. Avatar
    on
    Jul 21st, 2017

    duh mohon maaf baru baca blog lagi hahahha, masih ada mbak facebook aku sih, ini dua tahun baru dibalas…

    Reply
  14. Avatar
    on
    Jul 21st, 2017

    mohon maaf baru respon komentar-komentarnya, makasih ya sudah mampir ke blog saya, lama mati suri tapi mau saya hidupin lagi. semoga ke depan tempat wisata ini bisa lebih ramah pas dikunjungi…

    Reply
  15. Avatar
    on
    Jul 21st, 2017

    waduh, udah dua tahun berlalu dan keadaan belum berubah ya mas!

    Reply
  16. Avatar
    on
    Jul 21st, 2017

    saya malah merenung sepulang dari sama dua tahun lalu itu mas Arya, mungkin kesenjangan taraf hidup yang begitu jauh, jadi mereka mencari penghasilan dengan begini. btw itu tulisan 2 tahun lalu lho mas, kalo rute motor sih aku ingetnya sampai desa terakhir trunyan. jadi nyebrang ke trunyan hanya lima menit hahahhaa dan bayar segituuu….geli juga sih kalo inget.

    Reply

Leave a Reply

  • (not be published)