August 08, 2019
3 mins

Hampir waktu makan malam saat mobil yang saya sewa seharian untuk keliling Medan melintasi jalanan berbukit dan udara sejuk (dingin) menyerbu kulit saya melalui jendela mobil yang saya buka sedikit. Bapak sopir yang sudah berusia 65 tahun tetapi masih gesit mengatakan kami tiba di kota Berastagi ; kota dengan pemandangan alam yang indah dan udaranya sejuk. Sayangnya saya tiba di sini sudah malam, sehingga hanya melihat sedikit pemandangan indah itu. Tetapi sepanjang perjalanan saya melihat perkebunan jeruk, hamparan bunga matahari dan sayur-sayuran. Berastagi yang berhawa sejuk dan terletak di perbukitan ini memang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani buah, sayuran dan bunga.

“Kita mampir dulu di pasar Berastagi,” kata Pak Sopir. “Kalau sampai sini tidak mampir pasar Berastagi nanti akan rugi,” lanjutnya. Saya menurut saja saat mobil berjuang melewati kemacetan yang panjang. Pasar Berastagi tidak jauh dari Tuju Perjuangan Berastagi yang menjadi gapura memasuki kota Berastagi. “Apa pasar masih buka malam hari seperti ini?” tanyaku. Sopir mengangguk dan berbelok mencari tempat parkir.

Pasar seluas 1 hektar ini tampak rapi. Lampu-lampu menyala menerangi penjual dan pembeli yang masih ramai saat malam tiba. Saya memasuki pasar dari arah samping dan tergoda melihat toko souvenir khas Medan. Berbagai macam souvenir ada di sini mulai dari tempelan kulkas, dompet kecil, gantungan kunci, kain khas Batak, t’shirt bersablon tempat wisata Medan dan banyak jenisnya lagi. Setelah membeli beberapa tempelan kulkas saya memasuki pasar. Deretan buah segar mulai dari jeruk, terong Belanda, markisa, sayuran dan bunga berjejer rapi. Saya kemudian berkeliling melihat buah-buahan yang menggoda itu.

Lalu saya berhenti di satu lapak yang dijaga gadis muda. Senyumnya mengembang saat saya melihat jeruk dan markisa yang dia jual. “Beli Kak, masih segar,” katanya. Saya sengaja berlama-lama memilih jeruk agar bisa ngobrol dengan pembelinya. Namanya Adelita, berjualan buah meneruskan pekerjaan orangtuanya yang petani buah-buahan. Dia tidak melanjutkan kuliah karena ingin membantu orangtuanya bekerja. Dan sepertinya dia juga menyukai pekerjaannya itu. Saya menawar harga jeruk perkilo yang dia ajukan dan dia menyetujuinya. Senyumnya mengembang saat menimbang jeruk dan memasukkan ke dalam tas plastik. “Saya boleh memotret kamu?” tanyaku. “Boleh, siapa tahu bisa masuk televisi,” jawabnya sambil tertawa lebar. Semangatmu semanis jeruk Medan yang kamu jual, Adelita.  Semoga kita bisa bertemu lagi.

 

Avatar
Writer, Traveller and Dreamer

Leave a Reply

  • (not be published)