Category Archives: DESTINATIONS

Bangkok, The Venice Of The East’

“The world is a book and those who do not travel read only one page.” – Augustine of Hippo

 

Seorang teman dari Canada mengatakan, “no city like Bangkok.” Saya rasa kekaguman teman saya itu ada benarnya. Bangkok merupakan sebuah kota yang lengkap dengan keindahan budaya masa lalu dan antusiasme penuh akan hal-hal baru. Tidak hanya lokasi-lokasi wisata bernilai budaya warisan masa lalu yang unik dan menarik, tetapi Bangkok juga menyediakan kemodernan yang terus berkembang. Bangkok mampu menjadi pusat regional yang dapat menyaingi Singapura dan Hongkong. Tak hanya itu, Bangkok yang murah juga menjadi surga para backpacker dan destinasi favorit teratas di Asia bagi wisatawan dunia. Khaosan Road merupakan kawasan backpacker terkenal di Bangkok.

 

Selain destinasi-destinasi wisata Bangkok yang menarik, belanja selalu menjadi tujuan beberapa wisatawan Indonesia mengunjungi Bangkok. Saya mencoba melakukan hal yang sedikit berbeda untuk menikmati Bangkok. Diantaranya dengan menyusuri sungai Chao Phraya, menonton pertunjukan Siam Niramit, menengok harian Bangkok Post dan menonton Bioskop di Bangkok. Tertarik menjadikan Bangkok sebagai destinasi anda berikutnya? Simak perjalanan saya kali ini sebelum anda melakukan perjalanan ke negeri Gajah Putih itu.

SUNGAI CHAO PHRAYA ‘THE VENICE OF THE EAST’

 

Menyusuri sungai Chao Phraya merupakan salah satu cara yang saya pilih untuk menikmati Bangkok. Banyak wisatawan asing juga memilih menikmati Bangkok dengan cara menyusuri sungai ini. Chao Phraya adalah sungai terpanjang dan terpenting di Thailand yang membelah Bangkok dari utara hingga selatan.  Memiliki panjang 372 kilometer yang mengalir dari utara Thailand menuju ke Teluk Thailand (Teluk Siam) di selatan. Hulu sungai Chao Phraya ini berada di Sungai Ping.

 

Memiliki air berwarna coklat namun bersih dari sampah, sungai Chao Phraya tampak selalu ramai dari siang hingga malam. Selain kapal pengangkut barang yang hilir mudik, kita bisa melihat kapal-kapal wisatawan menyusuri setiap tepian sungai Chao Phraya. Di setiap dermaga pemberhentian banyak ditawarkan paket wisata menyusuri sungai Chao Phraya dengan berbagai harga dan penawaran wisata yang menarik. Saya memulai perjalanan dari salah satu dermaga pemberhentian dan membeli tiket single trip seharga 40 THB yang akan mengantarkan saya hingga ke akhir perjalanan. Awalnya ingin membeli tiket trip seharga 150 THB agar bisa naik turun boat seharian, tetapi karena waktu yang sempit dan saya harus menuju tempat lain saya memilih single trip ini. Dan meski saya hanya membeli tiket single trip ternyata cukup menyenangkan. 


Sepanjang perjalanan saya bisa menikmati Bangkok dari sungai Chao Phraya. Ada pos-pos pemberhentian menarik di sepanjang perjalanan yang merupakan lokasi  wisata terkenal di Thailand seperti : Grand Palace yang berada di area Rattanakosin, Wat Arun , Wat Pho atau patung buddha sedang istirahat dan Chinatown. Kita juga bisa menikmati gedung pencakar langit yang menjulang dari sepanjang sungai Chao Phraya. Bangkok tampak lengkap dinikmati dari perjalanan menyusuri sungai ini, kota dengan warisan masa lalu yang kaya dan kemodern-an masa kini yang penuh semangat. Tak heran jika dengan wisata sungai Chao Phraya ini Bangkok juga dikenal dengan sebutan The Venice of the East.

KUIL, MADAME TUSSAUDS dan TEMPAT MENARIK LAINNYA

 

Selain kemodernan yang terus berkembang pesat, Bangkok memiliki warisan budaya yang sangat banyak dan tak ternilai harganya. Ada sekitar 400 kuil yang tersebar di Bangkok. Beberapa yang terkenal adalah ; Grand Palace dan Wat Phra Kaeo yang merupakan istana raja. Grand Palace buka mulai pukul 8.30 sampai 3.30 sore. Mengunjungi Grand Palace harus mengenakan pakaian yang sopan dan bersepatu. Jangan tergoda bujukan sopir tuk-tuk yang mengatakan bahwa Grand Palace buka pukul 1 siang karena mereka akan mengajak anda berkeliling kota dengan menarik biaya mahal sehingga anda terlambat mengunjungi Grand Palace.

 

Kuil terkenal lain yang saya kunjungi adalah Wat Pho, terletak di dekat Grand Palace, kuil ini dibangun 1688 sebagai tempat Reclining Buddha. Terdapat patung berlapis emas yang panjangnya 46 meter dan tingginya 15 meter dengan mata dan kaki yang dilapisi kerang mutiara. Untuk memasuki tempat ini juga diharapkan mengenakan pakaian yang sopan dan pantas. Wat Pho buka jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Lalu saya melanjutkan perjalanan dengan mengunjungi Wat Arun (Temple of Dawn) yang terletak di tepi sungai Chao Phraya. Wat Arun memantulkan cahaya yang indah karena dilapisi porselen.

 

 

Tempat menarik lain yang bisa dikunjungi adalah Erawan Shrine yang merupakan patung pemujaan Dewa empat muka yang sakti. Banyak  wisatawan manca negara ke sini untuk bersembahyang. Selain kuil, kita bisa juga mengunjungi Jim Thompson House yang sangat terkenal dengan koleksi sutra Thai-nya. 


Dan jangan lupa mengunjungi Madame Tussauds (museum patung lilin orang-orang terkenal) yang berlokasi di Siam Square (Siam Discovery) karena di tempat ini kita bisa menemukan Bapak Proklamator kita Soekarno diabadikan dalam patung lilin bersama para pemimpin dunia hebat yang lain. Melihat patung lilin beliau berada di antara deretan patung lilin pemimpin hebat dunia rasanya sangat membanggakan sebagai bangsa Indonesia.

MENONTON SIAM NIRAMIT, THAI BOXING dan BIOSKOP

 

Mungkin bagi sebagian wisatawan menonton bioskop bukanlah sesuatu yang ingin dilakukan di negeri asing karena berpikir bahwa di Indonesia-pun kita bisa menonton bioskop. Tapi saya justru ingin melakukannya karena sensasinya pasti berbeda. Menonton ‘Breaking Dawn’ dengan subtittle bahasa Thailand yang tentu saja tidak saya mengerti saja sudah asyik, apalagi ikut berdiri mendengarkan semua penonton menyanyikan lagu kebangsaan Thailand sebelum pertunjukan dimulai menjadi sesuatu yang sangat berbeda.

 

Tak hanya menonton bioskop, pertunjukan yang membuat saya terkagum-kagum adalah SIAM NIRAMIT, Journey to the Enchanted Kingdom of Siam. Pertunjukan yang kental nuansa budaya Thailand ini menceritakan kerajaan-kerajaan di Thailand sekaligus kehidupan masyarakat Thailand. Semua budaya Thailand yang eksotis ditampilkan dalam pertunjukan spektakuler yang berdurasi dua jam ini. Gedung pertunjukan yang megah dengan teknik panggung yang luar biasa ini juga merupakan gedung pertunjukan terbesar di dunia dan masuk dalam Guinness World Record. Tak hanya tempat pertunjukannya yang luar biasa, para penari, teknik panggung, lighting, kostum dan cerita yang disuguhkan sangat menarik sehingga tidak membosankan. Penonton pertunjukkan juga dilibatkan langsung dalam pertunjukan dengan diajak maju berpentas di depan atau penari tiba-tiba muncul di tengah penonton. Selama dua jam tak henti tepuk tangan penonton dari berbagai bangsa terus bergemuruh mengagumi pertunjukan ini. Sayang kami dilarang memotret di dalam gedung pertunjukan.
 
Dan jika anda penggemar pertunjukan lain yang berupa tantangan maka anda tak boleh mengabaikan Thai Boxing. Di  MBK, salah satu mall besar di Bangkok pertandingan Thai Boxing diadakan setiap Rabu mulai pukul 6 petang. Nah, tertarik menikmati Bangkok? Anda bisa memilih cara anda sendiri yang berbeda dan lebih menarik. Selamat jalan-jalan!
 
(Published : Sekar Magazine)

Pontianak, Kota Katulistiwa

“Not all those who wander are lost” – JRR. Tolkien

 Tengah hari saat matahari tepat di atas kepala saya mendarat di Bandara Supadio, Pontianak. Matahari sangat terik dan udara begitu panas melebihi Jakarta. Tetapi udara yang panas tak mengurangi semangat saya untuk menjelajahi kota ini.  Setiap tempat selalu menawarkan pesona dan pembelajaran yang berbeda bagi  penjelajah, juga kota yang satu ini.  Bukankah setiap tempat di Indonesia selalu punya sisi unik dan menarik? Banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi di Kota Khatulistiwa ini mulai dari wisata alam, sejarah, budaya dan kuliner. Ayo, kita susuri kota ini dan kita temukan sisi menariknya! 

ISTANA KADRIAH

Kota Pontianak  mulanya di bangun di tengah persimpangan Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Landak, yang dikenal dengan nama Kampung Dalam Bugis.  Istana Kadriah merupakan cikal bakal lahirnya Kota Pontianak.  Dibangun  pada tahun 1771 M dan baru selesai tahun 1778 M.  Sultan pertama yang memerintah kesultanan Pontianak adalah Sayyid Syarif Abdurahhman Alkadri. Dalam perkembangannya, istana ini telah mengalami beberapa kali renovasi hingga seperti yang kita lihat sekarang. Sultan ke -6, yaitu Sultan Syarif Muhammad Alkadri tercacat sebagai salah satu Sultan yang merenovasi istana ini secara besar-besaran.



Istana Kadriah terletak di Kampung Beting, Kelurahan Dalam Bugis, tidak jauh dari pusat Kota Pontianak.  Lokasi ini dapat dijangkau menggunakan jalur darat maupun jalur sungai.  Melalui jalur darat kita bisa melewati jembatan  Sungai Kapuas sedangkan jalur sungai bisa menggunakan sampan atau speed boat dari pelabuhan Senghie.
Memasuki halaman istana kita masih bisa merasakan sisa kemegahan Istana Kadriah pada masanya. Halaman yang luas dan ditumbuhi rumput terasa lapang ketika dipandang, dibagian depan tampak meriam kuno buatan Portugis. Menginjakkan kaki di anjungan istana, kita bisa melihat tempat peristirahatan Sultan. Dari tempat ini konon, Sultan beristirahat sambil melihat pemandangan Sungai Kapuas dan Sungai Landak yang indah. Di pintu utama terdapat hiasan ornamen bulan dan bintang. Warna kuning mendominasi ruang ketika memasuki balairung. Di balairung ini pengunjung bisa melihat foto-foto Sultan dan keluarganya, lampu kesultanan pada masanya, lampu hias, kipas angin, kaca seribu wajah juga singgahsana Sultan dan Permaisuri. Kami diijinkan foto di depan singgahsana tetapi tidak boleh duduk diatasnya.

Selain balairung di sisi kiri dan kanan terdapat 6 kamar tidur, salah satunya adalah kamar tidur Sultan lengkap dengan tempat tidur Sultan yang juga bernuansa kuning, sementara kamar yang lainnya dulu merupakan kamar mandi dan ruang makan. Di bagian belakang terdapat satu ruangan besar yang berisi benda-benda warisan Kesultanan Pontianak seperti pakaian Sultan dan Permaisurinya, foto-foto, senjata dan arca.  Pengunjung tidak dipungut biaya saat mengunjungi istana ini, namuan seorang ibu yang mengaku sebagai  cucu  kesekian sultan mengingatkan pada pengunjung untuk menaruh uang sumbangan di kotak.   Istana Kadriah merupakan salah satu peninggalan yang sangat bernilai, semoga terus dilakukan perawatan dengan baik sehingga peninggalan bersejarah ini tidak rusak dimakan waktu.

MASJID  JAMI’ PONTIANAK


Selain Istana Kadriah, masjid Jami’ Pontianak yang juga dikenal dengan nama Masjid Sultan Syarif Abdurrahman ini merupakan bangunan bersejarah sebagai tonggak berdirinya kota Pontianak. Lokasi masjid ini satu kawasan dengan Istana Kadriah, tidak jauh dari pusat kota Pontianak dan bisa ditempuh melalui jalur darat maupun sungai.

Masjid Sulatn Syarif Abdurrahman adalah masjid tertua dan terbesar di kota Pontianak. Masjid dengan undakan berasitektur Jawa dengan mahkota berasitektur Eropa ini mayoritas kontruksi bangunan terbuat dari kayu belian. Pagar, lantai, dinding, menara dan bedug besar semuanya terbuat dari kayu belian. Tonggak utama masjid yang terdiri dari 6 buah juga terbuat dari kayu belian dan diperkirakan sudah berusia 170 tahun. Masjid ini berbentuk panggung dan memiliki kolong di bawah lantainya, berada tepat di atas sungai Kapuas.  Seperti pada Istana Kadriah, pengunjung tidak dipungut biaya saat mengujungi tempat bersejarah itu.

TUGU KHATULISTIWA
Keistimewaan Pontianak adalah salat satu kota di dunia yang tepat dilintasi garis khatulistiwa. Karena itu ibu kota Kalimantan Barat ini mendapat julukan Kota Khatulistiwa. Sebagai keistimewaan sekaligus mengukuhkan julukan itu, dibangunlah sebuah tugu yang letaknya persis di pinggir Sungai Kapuas.

Tugu Khatulistiwa atau Equator Monument berada di Jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara, Propinsi Kalimantan Barat. Lokasinya berada sekitar 3 km dari pusat Kota Pontianak, ke arah kota Mempawah. Tugu ini menjadi salah satu ikon wisata Kota Pontianak dan selalu dikunjungi masyarakat, khususnya wisatawan yang datang ke Kota Pontianak.
Pada bulan Maret dan September, Tugu Khatulistiwa  sangat istimewa karena pada tengah hari ketika matahari mencapai titik kulminasi dan tidak menciptakan bayangan. Selain melihat bayangan yang hilang pada bulan itu juga ada  festival dan atraksi budaya untuk wisatawan.

MAKANAN & OLEH-OLEH KHAS PONTIANAK
Mengunjungi Pontianak belum lengkap kalau belum berwisata kuliner. Saya mencicipi makanan khas Pontianak salah satunya adalah bubur pedas, kuliner yang diklaim sebagai makanan khas dari Sambas.  Saya mengira bahwa bubur ini akan terasa sangat pedas sesuai namanya, tapi ternyata saya salah. Bubur ini bercita rasa gurih dan segar dengan berbagai aroma sayuran.  Bubur pedas terbuat dari beras yang disangrai bersama kelapa parut, setelah ditumbuk dan berasnya pecah baru dimasak dalam air mendidih dan ditambahkan tetelan daging. Setelah itu dibubuhi aneka sayuran. Sayur yang paling umum digunakan adalah, kangkung, kacang panjang, pakis, umbi merah dan daun kesum. Daun kesum inilah yang membuat bubur beraroma beda dan bercita rasa unik. Pelengkap nikmat makan bubur pedas adalah ikan teri goreng, kacang tanah goreng, sambal, jeruk sambal dan kecap manis.  

Selain makanan khas Pontianak yang saya coba, kita juga bisa membeli oleh-oleh khas Pontianak di jalan Pattimura seperti air minum lidah buaya, jeruk Pontianak, keripik keladi, lempok durian, dodol buah dan manisan.  Tak hanya makanan, Pontianak juga memiliki souvenir-souvenir unik seperti kaos bertuliskan Khatulistiwa atau Pontianak, gantungan kunci Bornoe, hiasan dinding dari ukiran Dayak serta kain-kain khas Pontianak.  Kota Khatulistiwa ini menawarkan berbagai hal yang menarik untuk dikunjungi. Tertarik untuk berkunjung?  Jangan ditunda lagi!

Seoul


ROMANTISME DRAMA ASIA

“There are no foreign lands. It is the traveler only who is foreign.” – Robert Louis Stevenson


Sejak lama negeri ini disebut sebagai negeri ginseng, lalu negeri K-Pop atau negeri K-Drama. Tetapi, saya memiliki panggilan sendiri setelah mengunjunginya. Negeri romantis. Bagaimana tidak? Menyusuri jalanan kota Seoul mata saya terperangkap oleh pemandangan yang bernuansa cinta di mana-mana. Manis dan romantis. Pasangan-pasangan remaja yang berjalan bergandengan serta mengenakan baju yang sama, berfoto mesra dengan tangan terkait membentuk gambar hati, kafe-kafe unik bernuansa cinta bahkan kue bergambar hati. Saya seperti sedang menyaksikan drama series Korea yang romantis sehingga saya enggan meninggalkannya. Korea Selatan memiliki banyak tempat menarik untuk dikunjungi. Tertarik? Simak perjalanan saya menyusuri kota Seoul.

GYEONGBOKGUNG PALACE dan NAMSAN HANOK VILLAGE.
Di tengah-tengah nuansa modern Seoul yang semarak, kita bisa menemukan peninggalan budaya yang bernilai tinggi dan terjaga kelestariannya. Saya mengunjungi salah satu istana tertua yaitu Gyeongbokgung Palace. Istana ini dibangun pada tahun 1394 pada masa dinasti Joseon dan merupakan istana terbesar di Seoul. Seluruh bangunan tampak terawat dengan baik dan terjaga sehingga tidak tampak bahwa bangunan ini telah berumur ratusan tahun. 

 Tak hanya istana tertua yang menarik perhatian saya. Hal klasik lain yang berada ditengah kota dan menyatu dengan kemodernan adalah Namsan Hanok Village. Namsan Hanok Village merupakan perkampungan hanok (rumah tradisional Korea). Berada di lahan seluas 8000 m2, Namsan Hanok Village merupakan replika rumah-rumah Korea kuno yang menarik. Lokasi ini terbagi menjadi beberapa bagian yaitu : perkampungan hanok, taman kuno Korea dan tempat pameran kebudayaan Korea. 

 GWANGHWAMUN SQUARE dan CHEONGGYECHEON STREAM

Saya mengunjungi kedua tempat ini sore hari dan saya rasa memang waktu yang tepat. Langit merona merah dan air mancur berwarna-warni di depan patung Admiral Yi Sun-shin mulai menyala dan saya kembali melihat pasangan-pasangan romantis berkejaran di antara air mancur. Gwanghwamun square merupakan pusat kota Seoul dan berlokasi di sepanjang depan Gwanghwamun Gate. Di sini terdapat patung Admiral Yi Sun-shin seorang laksamana yang berhasil menaklukkan perahu-perahu Jepang pada zaman Perang Myeongryang dan patung raksasa King Sejong, raja yang menciptakan Hangeul atau bahasa Korea. Di rute bawah tanah kita bisa melihat pameran-pameran foto sejarah King Sejong dan area pameran foto-foto renovasi Gwanghwamun square.

Setelah menyusuri beberapa tempat yang menawarkan hal-hal klasik di kota Seoul, saya ingin mengistirahatkan kaki yang letih. Hanya perlu waktu sekitar sepuluh menit menyeberang jalan dari Gwanghwamun square untuk menuju Chenggyecheon stream. Saya mengunjungi tempat itu saat weekend dan ramai oleh pameran serta pertunjukan musik.  Chenggyecheon stream sebenarnya sungai kecil yang jernih membelah kota Seoul.  Sebuah suasana pedesaan yang dibawa ke tengah perkotaan yang besar dan modern. Kebersihan sungai ini sangat terjaga dan tidak saya tidak melihat sedikitpun sampah. Bahkan batu-batu di sungai ini tidak berlumut. Banyak pengunjung yang duduk-duduk di sepanjang sungai ini sambil mencelupkan kaki atau melompati batu-batu di tengah sungai ke arah seberang. Saya membuka sepatu dan mencelupkan kaki di sungai ini sambil menikmati es krim yang saya beli di sebuah minimarket. Sungguh senja yang mempesona!

MAKANAN KHAS KOREA SELATAN

Makanan khas Korea yang terkenal dan saya coba diantaranya adalah :  kimchi, bulgogi, bibimbap dan dakgalbi.  

Bulgogi adalah masakan daging asal Korea. Daging yang digunakan antara lain daging sirloin atau daging sapi yang bagus. Bumbu Bulgogi adalah campuran kecap asin dan gula ditambah bumbu lain bergantung pada resep asal di Korea.
Bibimbap atau Bibimbab adalah makanan Korea berupa semangkuk nasi putih dengan lauk di atasnya berupa sayur-sayuran, daging sapi, telur dan sambal gochujang. Sebelum dimakan, nasi dan lauk diaduk menjadi satu.
Kimchi adalah makanan tradisional Korea, salah satu jenis asinan sayur hasil fermentasi yang diberi bumbu pedas. Setelah digarami dan dicuci, sayuran dicampur dengan bumbu yang dibuat dari udang krill, kecap ikan, bawang putih, jahe dan bubuk cabai merah. Sayuran yang paling umum dibuat kimchi adalah sawi putih dan lobak. Kimchi selalu dihidangkan di waktu makan sebagai salah satu jenis banchan yang paling umum. Kimchi juga digunakan sebagai bumbu sewaktu memasak sup kimchi, nasi goreng kimchi dan berbagai masakan lain.
Dakgalbi merupakan satu dari beberapa makanan populer yang terbuat dari potongan ayam berbentuk dadu yang direndam dalam pasta cabai. Cara memasaknya ditumis dengan campuran kubis, ubi jalar, daun bawang, bawang bombay dan kue beras.

NAMI ISLAND dan GEMBOK CINTA

Penggemar K-drama pasti tidak asing dengan drama series Winter Sonata, Boys Before Flowers, Full House, Princess Hours, Coffee Prince. Atau drama series klasik Hwang Yin Ji, Daejanggeum (Jewel in the palace) dan The Great Queen Seondeok. Sebagian turis datang karena terpikat lokasi-lokasi drama yang menarik seperti lokasi Winter Sonata di Pulau Nami atau lokasi Daejanggeum di Pulau Jeju. Saya menyempatkan diri mengunjungi Nami Island yang terletak 63 km dari Seoul. Nami Island adalah lokasi shooting drama Winter Sonata yang terkenal. 

Memasuki kawasan Nami Island, saya langsung disergap suasana yang sejuk, teduh dan romantis. Patung dan poster pemeran drama Winter Sonata menjadi incaran para wisatawan untuk berfoto. Saya sendiri lebih menyukai pohon-pohon yang berjajar rindang di beberapa tempat juga kafe-kafe yang bangunannya sangat unik.  Saya membayangkan tempat ini lebih indah pada musim gugur tiba. Daun-daun kekuningan dan berguguran. Area seluas 480.000 m2 ini juga bisa dikelilingi dengan mengendarai sepeda. Terdapat tempat penyewaan sepeda bagi wisatawan yang ingin bersepeda. 

Tempat romantis lain yang saya kunjungi adalah lokasi Gembok Cinta di NSeoul Tower yang berada di Gunung Namsan. Lokasi Nseoul Tower dan tempat parkir bus lumayan jauh dengan jalanan yang mendaki. Dengan sedikit perjuangan saya akhirnya bisa mendaki sampai Nseoul Tower dan melihat dari dekat lokasi Gembok Cinta yang terkenal itu. Pasangan-pasangan yang sedang jatuh cinta menaruh nama mereka di gembok warna-warni itu dan menguncinya dengan harapan cinta mereka akan abadi selamanya.

TEMPAT BELANJA

Tak hanya peninggalan tradisional yang dipertahankan dan menjadi tempat wisata menarik, kebanyakan wanita ke Korea untuk belanja. Disana tersedia berbagai merk kosmetik seperti Etude, Skinfood, Missha yang bisa didapatkan dengan murah dibanding ketika membeli di Jakarta. 
 

 
Counter kosmetik bisa ditemukan hampir dimana saja. Selain kosmetik, para wanita bisa memuaskan diri dengan membeli pakaian dengan harga miring dan kualitas bagus made in Korea di Dongdaemun market atau souvenir-souvenir lucu di Namdaeum atau Insa-dong. Jika sebelumnya saya bukan tipe yang suka belanja dan kosmetik, tetapi Korea Selatan membuat saya belanja dan menyukai kosmetik. Bagaimana dengan anda? Tertarik menghabiskan liburan di sana?

(pernah dimuat majalah Sekar)

Ujunggenteng, Indonesia

PANTAI & JALAN TANPA UJUNG YANG MISTIS

“Travel is more than the seeing of sights; it is a change that goes on, deep and permanent, in the ideas of living.” – Miriam Beard”
 

 

Bagi saya pantai ini biasa saja, tidak memiliki keistimewaan yang membuat saya langsung jatuh cinta. Memiliki pasir coklat dan bentuk pantai yang memanjang, tak banyak yang bisa dinikmati saat senja. Tapi benarkah begitu? Saya tetap yakin kalau setiap tempat itu memiliki detail keistimewaan tersendiri yang mungkin belum saya temukan saat pandangan pertama.  

Maka saya akan berburu keistimewaan itu sampai menemukannya. Dari air terjun ratu yang menjulang, lalu kawasan air terjun yang membentuk semacam ceruk, dari kejauhan tempat ini nyaris seperti Tanah Lot, tapi memang begitu orang-orang menyebutnya karena mirip sekali, mencoba makanan khas tepi pantai  dan nongkrong malam-malam bersama tukang ojek di sebuah warung makan. Tapi saya tetap belum menemukannya dan saya belum putus asa.


Esoknya, sebelum benar-benar give up, saya menyusuri jalanan desa pinggir pantai yang panjang tak berujung (atau mungkin ujungnya ada di desa lain, saya melakukan perjalanan dan kembali sebelum sampai ujung). Nah, di jalan desa tepi pantai inilah saya menemukannya. Selain anak-anak kecil yang berlarian bahagia meminta saya memotretnya, nenek-nenek tua yang sibuk bekerja di depan rumah, mbak-mbak yang berjalan menggendong bakul dan hewan-hewan ternak yang merumput. Saya menemukan sebuah jalan, sepi, lengang dan tidak terlihat ujungnya. Saat saya menapaki jalan ini, saya seolah menuju perjalanan hidup saya yang tidak saya ketahui. Dan inilah keistimewaan tempat ini bagi saya karena saya kemudian merasa sendu di tempat ini. Seperti pejalan yang menyadari bahwa suatu ketika saya akan menapaki jalan ini sendirian, menuju Cinta segala Cinta. Tinggal menunggu waktu itu datang! Saya yakin, saat waktu saya tiba, saya akan menyusuri jalan itu sendirian…. suatu saat nanti!

Teluk Kiluan, Indonesia

KEINDAHAN TERSEMBUNYI

“A wise traveler never despises his own country.” – Carlo Goldoni

Indonesia menyimpan banyak keindahan alam yang tersembunyi dan kadang sulit dijangkau karena transportasi yang sulit dan kondisi jalan yang belum memadai. Salah satu keindahan tersembunyi itu adalah Teluk Kiluan yang berada di Lampung Selatan.

Dalam perjalanan yang memakan waktu semalaman dari Jakarta itu awalnya saya sudah hopeless karena kondisi jalan yang luar bisa susah, rusak dan nyaris bisa dibilang mengerikan. Dalam hati saya sudah mengancam, kalau sampai teluk tidak menemukan “something different” mungkin saya akan sangat kecewa. Apalagi kami membawa mobil yang salah untuk menaiki pegunungan dan jalanan tusak itu sehingga sekujur tubuh rasanya rontok semua.

Pagi hari kami memasuki Teluk Kiluan dan saya belum bisa melihat kecantikannya. Tetapi saat kami makan sarapan, saya mulai merasakannya. Makanan laut yang luar biasa enak itu mulai membuat saya tertarik, apalagi saat siang hari kami naik sampan ke tengah lautan. Wow! Dan penjelajahan dimulai.

  Kami menuju tengah lautan lepas yang menghitam, dan diam-diam saya sangat ketakutan. Ini pertama kalinya saya bersampan ke tengah lautan lepas dengan perahu kecil. Oh my God! Sementara saya tidak bisa berenang, jadi saya memutuskan untuk berdoa dan pasrah pada takdir. Rencana ke tengah lautan ini adalah untuk melihat lumba-lumba di habitat yang sesungguhnya. Menuju garis horison di tengah lautan rasanya sangat jauh tapi saya mulai terbiasa dan tenang. Setelah menunggu beberapa saat, kawanan lumba-lumba itupun muncul dan berseliweran di dekat perahu kami. Hilang sudah ketakutanku dan berganti dengan kegirangan.

 Tak hanya melihat lumba-lumba di lautan, saya bisa menyisir beberapa pulau kecil di sekitar Teluk Kiluan yang tak kalah cantiknya seperti pulau Kepala, batu Candi dan banyak lagi. Memang susah untuk menjangkau tempat ini tetapi dalam hati saya berpikir bahwa pulau-pulau cantik di Indonesia memang sebaiknya tetap tak terjangkau agar tidak kotor dan rusak. Semakin banyak pengunjung akan semakin banyak sampah dan jejak-jejak perusak. Dan rasanya kesulitan perjalanan sepadan dengan apa yang kita lihat di tempat tersembunyi ini. So? Tetaplah tersembunyi pulau-pulau yang cantik di Indonesia…

Saigon, Vietnam

PARIS IN THE ORIENT

When you travel, remember that a foreign country is not designed to make you comfortable. It is designed to make its own people comfortable.” – Clifton Fadiman

Saigon

 

Perjalanan saya ke Saigon sangat singkat , tetapi lumayan mengesankan. Kadang-kadang saat kita terburu-buru mengunjungi suatu tempat justru ingin memaksimalkan segala sesuatunya dan seluruh waktu tidak ada yang terbuang. Begitu juga saat saya melakukan perjalanan ke Saigon.


Pedagang Keliling

Museum Perang

 

Restoran halal Saigon

 

Penjual Kartu ucapan

Saigon sekarang lebih dikenal dengan Ho Chi Minh City (HCMC). Pernah berganti nama sampai beberapa kali. HCMC dulunya merupakan kampung nelayan Prey Nokor yang dihuni oleh Khmer dan berada di bawah kekuasaaan Kerajaan Khmer atau Kamboja. Awal abad ke 17 dengan seizin Raja Kamboja, pengungsi dari Vietnam mulai berpindah ke Prey Nokor. Para pengungsi kemudian menamakannya Saigon. Dinas ti Nguyen yang memerintah Vietnam pada abad ke 17 akhirnya mengoneksasi Saigon lalu memberi nama Gia Dinh. Nama Saigon baru resmi dipakai ketika penjajah Prancis menaklukkan Vietnam tahun 1960-an. 

Kantor Pos Saigon

 

 

Cu Chi Tunnel

 

singkong ala Cu Chi Tunnel

 

 

Masjid satu-satunya di Saigon

Penjajah Prancis kemudian membangun gedung-gedung megah. Saigon disulap menjadi kota cantik hingga mendapat julukan “Paris in The Orient”. Saigon juga dijadikan ibukota Cochinchina, sebutan bagi jajahan Prancis di Indochina. Selain menjadi pusat pemerintahan, Saigon juga menjadi pusat perdagangan penting di Delta Sungai Mekong. Setelah Saigon jatuh di bawah pemerintahan komunis Vietnam Utara, nama kota itu diganti menjadi Ho Chi Minh City, sebagai bentuk penghormatan terhadap Ho Chi Minh, pemimpin tertinggi Vietnam kala itu. Sampai sekarang HCMC dipakai sebagai nama resmi, namun sebutan Saigon tetap lazim digunakan dalam suasana tidak resmi.

Puppet Show

 

Saigon malam hari

 

video clip

 

menunggu pesanan mie

 

pelukis kartu

Menikmati kota Saigon seperti mengenang Indonesia di tahun 80-an dengan model bangunan, jalanan dan kendaraan yang mereka gunakan. Bahkan saat saya melihat televisi dengan video-video clip yang nyaris seperti jaman Tomy J Pissa, menyanyi di tengah jalan dengan angin memburaikan rambut sang penyanyi. Dramatis dan oldist.  Jalanan dipenuhi dengan motor yang menyemut dan menyulitkan ketika menyeberang. Saya lebih banyak menggunakan taksi dan paket tour ketimbang melakukan perjalanan sendiri karena tranfortasi umum sedikit susah. Tapi tak menyurutkan niat saya untuk menikmati kota ini. Bukankah setiap tempat selalu menawarkan hal yang menarik? 

bergaya di depan kantor pos
jajanan pinggir jalan

 

 

Patung menimang anak

 

Notre Dame Catedral

 

hiasan bunga mai di jalanan

Berbagai tawaran lokasi wisata bisa kita kunjungi di sana dan saya menyempatkan diri mengunjungi museum perang, Cu Chi Tunnel, menyusuri pusat kota, shalat di satu-satunya masjid di negeri Komunis ini, nonton the puppet show dan belanja di Ben Thanh Market sebelum kembali ke Indonesia. Perjalanan singkat ini memang kurang membekas bagi saya, tapi saya menemukan magnet yang kuat saat menemukan bunga Mai di meja kafe. Saya membayangkan seseorang meninggalkan bunga itu untuk saya, bunga keabadian. Dan saat saya kembali ke Indonesia, bunga Mai itu sudah menjadi satu cerita pendek yang dimuat di majalah Femina.

So? Setiap perjalanan selalu memberikan sesuatu yang berharga. Dan saya selalu membuktikan itu dengan memaknai setiap perjalanan.













Karimunjawa, Indonesia

THE REAL PARADISE

“You cannot discover new oceans unless you leave sight of the shore” – Fortune Cookie

sunset di Karimunjawa

Awalnya saya hanya ingin meredakan letih ketika berkunjung ke Pulau yang berada di Jawa Tengah ini, tetapi setelah saya sampai di sana, saya jatuh cinta. Tidak hanya letih karena rutinitas yang lenyap tapi benar-benar menjadi “sweet escaped” buat saya. Apalagi saya mendapatkan beberapa teman yang menyenangkan selama di sana juga penduduk yang ramah dan siap membantu.

Ferry dari Pelabuhan Tanjung Mas Semarang
Teman baru, Antoine and Camila

Welcome!
Jajaran rumah apung

Setelah menempuh perjalanan 3 jam dari pelabuhan Tanjung Mas Semarang, saya memasuki pintu gerbang Pulau Karimunjawa. Cuaca panas menyambut saya tetapi tak mengurangi semangat saya menjelajah daerah ini. Menggunakan mobil bak terbuka saya menuju penginapan apung yang saya pesan. Karena terletak di atas laut, maka kami harus naik perahu lagi menuju penginapan. Dan, wow! Saya langsung ‘bahagia’ mendapatkan sebuah kamar dengan pintu persis menghadap laut. It’s beautiful view! I like it!

anak-anak hiu

perahu snorkeling

pulau kecil sekitar  wisma

Hutan Mangrove

Banyak hal bisa kita lakukan di Pulau Karimunjawa, mostly wisata bahari seperti menyelam, snorkeling dengan spot yang luar biasa cantik, mengunjungi pembiakan ikan hiu bahkan berenang bersama hiu-hiu yang masih kanak-kanak, mengelilingi pulau dengan berjalan kaki menikmati pasirnya yang putih bersih, menjelajahi daratan melihat hutan bakau dan jangan lupa mencicipi masakan seafood yang luar biasa lezat.

I love Karimunjawa!
Antoine and Camila
ladang mutiara


pelabuhan

Seminggu berada di Pulau ini membuat saya enggan untuk pulang. Meskipun baju bersih saya sudah habis dan kulit saya sudah menghitam tapi saya masih enggan packing. Tidur siang menghadap laut, mendengarkan ombak kecil menghantam karang dan suara perahu motor membelah lautan membuat saya merasa sangat dekat dengan pencipta alam ini. Tapi, saya harus kembali ke Jakarta untuk kembali ke kehidupan yang sesungguhnya. Tapi saya janji akan kembali suatu hari untuk cinta saya pada pulau ini!

Macau


NEGERI SERIBU LORONG

“The world is my home, and every man in it my brother”-James Michener

 
 
Seorang teman berkata kepada saya;  jika ingin menikmati perpaduan budaya Eropa dan Cina di suatu negeri maka pergilah ke Macau. Hm, sepertinya menarik. Saya bisa menikmati dua budaya sekaligus, Eropa dan Cina. Apalagi negara ini bebas Visa, maka dengan gembira saya memutuskan untuk pergi. Sebagai koloni Eropa tertua di Cina sejak abad 16, pengaruh Portugis sangat kental di negara ini. Arsitektur gedung khas Eropa, bangunan bergaya Art Deco, tempat-tempat bersejarah, nama jalan hingga makanan, hampir semuanya beraroma Portugis. Pemerintah Portugal menyerahkan kedaulatan Macau terhadap Republik Rakyat Cina pada tahun 1999.  Dan Macau kini merupakan sebuah Daerah Administratif khusus Cina, yang artinya meskipun Macau merupakan bagian dari Republik Rakyat Cina tetapi Macau memiliki system pemerintahan dan pendapatan yang berdiri sendiri. Selain budaya Cina dan Eropa yang mencolok, Macau juga terkenal dengan Casino. Sehingga Macau sering disebut sebagai Las Vegas-nya Asia. Melalui tulisan ini, anda akan saya ajak menyusuri lorong-lorong Makau, salah satu negara kaya di Asia.
KOTA SERIBU LORONG
Menggunakan penerbangan direct flight Jakarta-Macau, saya tiba di Bandara International Macau pukul 16. 30 waktu Macau, dengan perbedaan waktu lebih cepat satu jam dengan Jakarta. Setelah menyelesaikan urusan imigrasi saya segera menuju tourism desk di dekat pintu keluar bandara.  Meski dengan komunikasi yang sedikit tersendat karena bahasa Inggrisnya yang tidak familiar di telinga saya, saya berhasil mendapatkan informasi bus yang akan membawa saya ke dalam kota.
Transfortasi di Macau sangat bagus. Selain menyediakan shuttle bus gratis dari Airport dan Ferry Terminal menuju hotel-hotel berbintang tempat Casino yang bisa dinaiki siapa saja, juga terdapat public bus yang bisa diakses dengan mudah dari setiap halte dengan ongkos yang murah. Awalnya saya memilih untuk menunggu shuttle bus gratis menuju Grand Lisboa (Casino terbesar di Macau) tetapi karena terlalu malam shuttle bus yang menuju Grand Lisboa sudah tidak beroperasi. Akhirnya saya memutuskan untuk naik public bus menuju ke dalam kota dengan membayar 5 HKD atau sekitar Rp.6000. Selain Hongkong dollar, mata uang yang berlaku di Macau adalah Patacas (MOP). Tetapi karena setelah keluar dari Macau, mata uang Patacas tidak bisa digunakan lagi, saya lebih memilih menyimpan Hongkong dollar.
Macau adalah negeri kecil yang terletak sekitar 65 km sebelah barat Hongkong dan hanya memiliki tiga pulau kecil yaitu Macau Peninsula, Taipa dan Coloane. Saya merasa takjub begitu bus berjalan menuju kota. Selain bus yang bersih dan nyaman, saya terpesona oleh lampu-lampu yang berpendar di sepanjang jalan. Lampu-lampu itu ditata sedemikian rupa sehingga menghasilkan cahaya yang indah. Gemerlap hotel-hotel berbintang dan Casino terlihat gemerlap. Negeri kecil yang cantik, teratur dan bersih. Begitu kesan pertama saya begitu bus berhenti di pusat kota, tepat di terminal bus Grand Lisboa.
Turun dari bus saya segera menyiapkan gambar hotel dan nama hotel yang tertulis dalam bahasa Canton. Menurut informasi yang saya dapatkan dari beberapa teman yang berkunjung ke Macau, dengan menunjukkan gambar tempat yang ingin dituju dan nama jalan dalam bahasa Canton akan mempermudah saya. Dan benar saja, begitu saja tunjukkan gambar hotel dan jalan yang sedang saya cari, seorang gadis langsung menunjukkan tangannya, “there!”. Saya segera menyusuri jalan itu dan menemukan banyak lorong. Nama jalan di Macau selalu dimulai dengan nama Travessa, Avenida, Estrada dan Rua. Avenida dan Estrada adalah jalan utama yang biasanya terdiri dari dua arah. Rua adalah jalan lebih kecil yang biasanya satu arah dan Travessa adalah lorong yang hanya bisa dilalui motor, pejalan kaki, sepeda atau becak Macau. Saya menemukan banyak sekali lorong-lorong ini sehingga saya menyebutnya sebagai kota seribu lorong. Hotel kecil yang saya pesan berada di Avenida de D.Joao dan saya memutuskan untuk beristirahat di hotel kecil yang nyaman itu sebelum melanjutkan perjalanan menyusuri lorong-lorong kota Macau esok harinya.
EGG TART, MARGARET’S CAFÉ NATA dan PASTERIA KOI
Dengan mematuhi itinerary perjalanan yang saya rancang, saya bersiap keliling Macau hari itu. Saya ingin memulainya dengan sarapan di Margaret’s Café Nata yang berada tidak jauh dari tempat saya menginap. Tidak sabar rasanya mencicipi Portuguese egg tart dan menu-menu lain di Margaret’s Café Nata yang sangat terkenal itu. Tetapi, begitu saya berbelok ke arah Café’s Nata tampak sepi. Apakah Café ini sudah tidak berjualan lagi? Saya penasaran dan menghampiri tempat itu. Saya mendapatkan informasi bahwa Margaret’s Café Nata tutup pada hari Rabu. Dengan kecewa saya meninggalkan tempat itu dan berjalan menyusuri sepanjang trotoar ke arah Senado Square. Toko-toko disepanjang trotoar yang saya lewati masih tutup, tetapi para pekerja sudah mengantri untuk masuk kerja. Pagi terasa baru menggeliat ketika saya memasuki area Senado Square.
Senado Square adalah sebuah area yang terdiri dari deretan gedung-gedung tua bersejarah, pusat perbelanjaan, toko-toko yang menyediakan souvenir khas Macau dan juga makanan khas Macau. Pada waktu malam, Senado Square tampak sangat indah dalam pendar cahaya lampu yang berwarna kuning keemasan. Jalan vaping blok berkilau seperti lukisan. Di salah satu sudut tampak taman kecil dan pohon-pohon yang rimbun sehingga orang-orang bisa berteduh dibawahnya dengan nyaman. Saya juga banyak menemukan tempat-tempat public yang nyaman dan pendestrian yang aman di beberapa lorong dan sudut kota.

Di pojok Senado square saya melihat toko kue Koi Kei Pastelaria. Toko kue ini sangat terkenal di Macau. Saya memasuki toko kue ini dan menemukan berbagai jenis makanan khas Macau seperti permen kacang, almond cake, kue semprong khas Macau, Chinese cake, dendeng daging babi dan sapi juga egg tart. Banyak turis membeli oleh-oleh makanan khas Macau di toko ini. Saya sendiri memutuskan membeli Portuguese egg tart setelah gagal makan egg tart di Margaret’s Café Nata. Kue ini masih hangat ketika saya membawanya ke taman pojok Senado square. Sambil duduk di bawah pohon rindang, mengamati lalu lalang orang sambil  menikmati Portugues egg tart. Kue mungil berbahan dasar telur, tepung, susu dan mentega ini memang lezat. Pantas saja sangat terkenal.
BANGUNAN BERSEJARAH
Setelah menikmati Portuguese egg tart yang lezat, saya memutuskan untuk mengunjungi beberapa tempat wisata.  Berjalan sekitar sepuluh menit dari Senado square, saya menemukan reruntuhan gereja St. Paul yang merupakan symbol pariwisata Macau. Meskipun saya berkunjung bukan pada hari libur, tetapi banyak sekali turis-turis yang mengunjungi tempat ini.
Hanya halaman depan berbatu dan tangga besar yang tersisa dari Gereja St. Paul. Gereja ini dibangun pada tahun 1602 di samping Jesuit College of St. Paul’s, universitas Barat pertama di Asia dimana para misionaris belajar tentang China sebelum bertugas di Ming Court di Beijing sebagai ahli astronomi dan ahli matematika. Di tahun 1835, kebakaran melanda universitas dan gereja tersebut, meninggalkan hanya halaman depan yang dramatik itu dengan empat baris tiang, lengkap dengan ukiran dan patung. Arsitektur Gereja St. Paul yang unik mengingatkan pada gaya Renaissance Eropa dan arsitektur Asia dalam sebuah campuran mempesona dari unsur China dan Barat. 
 
Di dekat Ruins of St. Paul’s terdapat Museum of Sacred Art and Crypt. Museum ini memajang lukisan, patung dan benda religi lainnya dari gereja-gereja di Macau sementara di pemakaman sejajar museum pengunjung dapat memperhatikan relik-relik dari para martir Jepang dan Vietnam. Masuk ke dalam bangunan museum saya menemukan area luas di ketinggian. Sisi-sisinya dibentengi tembok tinggi dan terdapat beberapa meriam.
Tempat yang bernama Benteng Gunung ini merupakan benteng barat pertama di China. Benteng Gunung dari abad ke-17 menempati puncak bukit di semenanjung Macau dan merupakan salah satu benteng Barat terkuno di China. Sekitar 300 tahun yang lalu, saat puncak kejayaan Dinasti Ming dan sebelum Ruins of St. Paul’s dilahap api, Benteng Gunung menjaga kota. Di tahun 1998, Museum Macau dengan tiga lantai dibangun di dalam benteng tersebut dan sekarang menjadi tempat tujuan wisata utama.  Di kaki bukit sebelah timur dari Monte Fort Anda akan menemukan Koridor Benteng, menempati tanah di tengah Museum Macau dan zona pejalan kaki St. Lazarus. Monte Fort terletak dekat pintu masuk kota dan tempat yang terkenal untuk acara seperti ‘20th Macau International Music Festival’.
Usai mengunjungi Ruins of St.Paul, museum dan Benteng Gunung, saya melanjutkan perjalanan ke A Ma Temple.  Dibutuhkan waktu sekitar sepuluh menit naik public bus dari Senado square.  Kuil A-Ma adalah tempat kaum Portugis mendarat pertama kali di Macau. Kuil ini menjadi titik awal dari perjalanan bersejarah.  Kuil tersebut terdiri atas koridor untuk berdoa, paviliun dan halaman yang dibangun di bukit berbatu dan disambungkan dengan jalan yang berputar melewati gerbang-gerbang bulan dan taman-taman mini. Pada pintu masuk terdapat sebuah batu besar dimana sebuah sampan pelayaran tradisional diletakkan lebih dari 400 tahun yang lalu. Di batu yang lain terdapat  ukiran karakter-karakter merah yang sedang meminta restu dari para dewa. Legenda China mengatakan bahwa dengan menyentuh puncak dari gerbang bulan yang berada di atas bukit akan membawa keberuntungan baik dalam hal percintaan. Di seberang kuil terdapat Museum Kelautan, menampilkan banyak aspek sejarah kelautan Portugis dan China meliputi periode mulai dari abad ke-15 sampai abad ke-17. Beberapa restoran Portugis yang terkenal berlokasi tak jauh dari sana. Bangunan-bangunan bersejarah ini menunjukkan kebersamaan budaya timur dan barat.
Sore harinya, saya menyempatkan diri mengunjungi satu-satunya masjid di Macau.  Dengan berbekal peta saya mencari Mesquita de Macau. Masjid ini terletak di dekat Macau Ferry terminal. Setelah memutari reservoir dan kawasan tepi laut yang sepi lalu jalan setapak yang sedikit menanjak, saya menemukan gerbang masjid yang bernama resmi Mesquita E Cemetario de Macau. Pintu gerbang terbuka ketika saya memasuki halaman masjid yang sangat sepi ini. Tiba-tiba seorang nenek-nenek menyerukan salam dan menyapa saya menggunakan bahasa isyarat. Nenek yang masih terlihat cantik meski sudah berusia 89 tahun ini bernama Aisha dan menetap di halaman samping masjid. Ia memperingatkan saya agar tidak tidur di masjid.
Jendela-jendela masjid yang lebar tampak terbuka dan seorang wanita yang tidak mau disebut namanya tampak duduk termenung memandangi makam di sisi kanan masjid. Matanya sembab dan merah. Setelah berkenalan, wanita dari Indonesia yang bekerja sebagai TKW di Macau ini sedang menunggu temannya yang hendak dimakamkan sore ini. Seorang tenaga kerja wanita asal Indonesia sudah tidak memiliki visa dan meninggal di Macau. Sebuah pertemuan yang dramatis di tengah gemerlapnya Macau. Ketika kembali ke Ferry terminal, wanita ini mengantar saya dan kami bertemu banyak tenaga kerja wanita sedang istirahat di trotoar sepanjang reservoir.
 
GEMERLAP MALAM dan CASINO
Hari menjelang malam ketika saya menaiki shuttle bus gratis dari Macau Ferry terminal menuju The Venetian Resort; sebuah hotel, casino dan pusat perbelanjaan yang megah. Begitu memasuki halaman The Venetian Resort, tampak pilar-pilar gedung yang kokoh dan mewah. Di dalam gedung tampak deretan Casino yang terdapat penjaga di pintunya. Saya langsung naik ke lantai tiga tempat sungai/kanal buatan lengkap dengan gondola ala Venice. Desain langit-langit gedung yang diwarnai seperti langit sungguhan tampak sangat menawan. Dengan membayar 108 MOP, pengunjung bisa menaiki gondola ini dan mendengarkan suara pengemudinya saat menyanyi dengan merdu.
Casino memang telah menjadi bagian dari kota Macau. Hampir setiap hotel kecil dan besar, resort dan tempat-tempat umum selalu menyediakan kartu-kartu, dadu dan mesin judi. Bahkan jumlah Casino di Macau telah melampaui jumlah Casino di Las Vegas. Pendapatan terbesar negara kaya di Asia ini dari Casino dan pariwisata tempat-tempat bersejarah yang dinobatkan sebagai World Heritage. Saya mengagumi Macau yang bisa menjaga warisan budaya dengan baik namun modernisasi dan teknologi juga terus berkembang. Masih banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi di negeri ini seperti : bungy jumping dan skywalk di Macau Tower, Lotus Flower Plaza (Monumen Bunga Lotus), Macau Fisherman’s Wharf, sebuah theme park di Macau dan The Bubble, sebuah pertunjukan multimedia di City of Dreams.

Lampu-lampu di sepanjang jalan tampak gemerlap ketika saya turun di terminal bus grand Lisboa dan berjalan menuju penginapan. Sisi-sisi jalan dan gedung-gedung tua yang tersorot lampu kekuningan tampak eksotik dan misterius. Saya mengagumi Macau karena keberhasilannya menjaga keseimbangan masa lampau dan masa kini. Sebuah negeri yang lorong-lorongnya membawa kenangan pada setiap traveler yang singgah di sana. (end)

Hongkong

NEW YORK DI ASIA

“One’s destination is never a place, but a new way of seeing things.” – Henry Miller

 Anda menyukai wisata belanja dan keramaian megapolitan? Jika jawabnya ‘ya’, maka anda akan menyukai Hongkong.  Selain surga belanja dan kota trend setter fashion, anda bisa mengunjungi tempat-tempat menarik di sana. Hongkong merupakan wilayah yang dikelilingi ratusan pulau kecil lainnya. Deretan gedung tinggi yang sambung menyambung dengan tepi pelabuhan Victoria hampir mirip dengan kota New York di United States. Hongkong Island merupakan sisi modern dari Hongkong, pusat bisnis dan keuangan berada.  Di tempat ini juga banyak apartemen dan pekerja asing tinggal. Jika New York memiliki Empire State Building maka Hongkong memiliki Bank of China Tower. 
Terdapat beberapa tempat wisata menarik yang bisa di kunjungi di Hongkong Island ini diantaranya : Avenue of Stars (finger print artis-artis Hongkong) yang berada di pinggir pelabuhan di sisi Kowloon, Symphony of Lights (atraksi permainan laser di malam hari (mulai jam 8 malam) yang ditembakkan dari gedung-gedung di sisi Hongkong Island), The Peak dan Madame Taussads di sisi Hongkong Island. Dan anda penyuka belanja bisa mengunjungi Ladies Market di Mongkok, Causeway Bay, Wancai dan Sentral yang merupakan deretan butik-butik dan pusat-pusat perbelanjaan. Yuk, simak perjalanan seru saya di Hongkong dan persiapkan perjalanan anda!
AVENUE OF STARS
Setelah beristirahat sejenak, sore hari saya memutuskan untuk mengunjungi Avenue of Stars yang terletak di pinggir pelabuhan di sisi Kowloon tidak jauh dari hotel tempat saya menginap. Avenue of Stars merupakan finger print artis-artis Hongkong yang ada di sepanjang tepi pelabuhan Victoria. Menyenangkan rasanya berjalan di tepi laut sambil mencari-cari cetak tangan artis idola kita. Ada banyak sekali cetak tangan artis Hongkong seperti Jet Li, Bruce Lee, Andi Lau, Jacky Chen, Michele Yeoh dan lain-lain. Tak jarang beberapa wisatawan menjerit-jerit kegirangan ketika menemukan cetak tangan artis idolanya dan berfoto dengan fose berbaring di atas cetak tangan itu. Selain cetak tangan para artis Hongkong, sepanjang pelabuhan juga terdapat patung-patung para pembuat film seperti sutradara, cameramen dan beberapa peralatan syuting. Ketika kaki mulai letih berjalan, saya bisa menikmati senja dengan duduk memandang laut sambil mengunyah castel fish. Gelap mulai datang dan lampu-lampu gedung pencakar langit itu mulai menyala gemerlapan. Tiba-tiba dari sebuah panggung di areal itu terdengar suara music. Ternyata pentas amal untuk penderita aids. Wah, sepertinya saya bisa menikmati pertunjukan live gratis malam ini. Saya tak menyia-nyiakan kesempatan dan segera menyusup di antara para penonton yang memenuhi halaman pertunjukan. Sayapun  menikmati live show  sambil mengistirahatkan kaki yang letih.
SYMPHONY OF LIGHTS
Tepat pukul 19.30, saya beranjak dari tempat duduk saya dan kembali berjalan menyusuri sepanjang pelabuhan. Ada beberapa tempat terbaik untuk menikmati Symphony of light dan saya memutuskan untuk menikmati dari Tsim Sha Tsui waterfront tidak jauh dari Cloker Tower dan HK Cultural Center. Symphony of lights merupakan pertunjukan lampu dan laser yang berasal dari gedung-gedung dari dua buah yang berhadapan yakni Hongkong Island dan Kowloon Island. Yang mengikuti pertunjukan lampu  dan laser ini sekitar 44 gedung dan mendapatkan penghargaan Guiness world record sebagai “the world’s largest permanent light and sound show “. Permainan lampu dan laser yang diiringi music ini berlangsung sekitar 15 menit dan berlangsung dimulai setiap jam 8 malam kecuali jika sedang badai. Tidak hanya dari  sepanjang Tsim Sha Tsui waterfront hingga Aveneu Stars, kita juga bisa menikmati symphony of lights dari titik lain seperti Golden Bauhinia Square ( Wan Chai). Malam mulai merangkak naik ketika pertunjukan berakhir dan saya kembali ke hotel untuk mempersiapkan penjelajahan esok harinya.
THE PEAK
Pagi berikutnya saya memulai perjalanan dengan naik ferry menuju The Peak Tram Lower Terminus yang berlokasi di Garden Road. Setelah membeli tiket saya antri naik tram kuno yang akan membawa saya naik ke puncak The Peak. Tempat ini sebenarnya hanyalah beberapa bangunan yang terdapat di puncak yang terdiri dari restoran, tempat berjualan souvenir dan taman tempat duduk santai. Dari The Peak inilah kita bisa melihat pemandangan Hongkong secara keseluruhan, gedung-gedung yang menjulang tinggi dan lautan yang membiru. Selain Sky Terrace untuk melihat Hongkong dari ketinggian yang dibatasi kaca ada juga museum lilin di tempat ini. Sangat cocok untuk bersantai sambil menikmati indahnya pemandangan kota Hongkong.
MADAME TUSSAUDS
Di dalam The Peak, tepatnya di lantai 2 terdapat museum patung lilin bernama Madame Tussauds. Tidak sulit menemukan museum ini karena terdapat petunjuk yang jelas dan di depannya ada patung lilin Brucee Lee mengenakan pakaian warna kuning gonjreng. Terdiri dari beberapa zona kita bisa menemukan patung-patung orang terkenal dari bidangnya masing-masing seperti di zona olahraga terdapat David Beckham, Yao Ming dan Tiger Woods, zona para kepala negara terdapat Saddam Husein, Adolf Hitler dan Mahatma Gandhi, zona acak dari bagian terdepan terdapat Nicole Kidman, Brangelina (Brad Pitt & Angelina Jolie), Andy Lau, Edy Murphy, Robert Pattinson, Diana Spencer (Lady Diana), Pelukis Picasso, William Shakespeare, Amitab Bhachan, Marlyn Monroe, Johnny Depp, Pierce Borsnan dan lain-lain serta di zona terakhir yaitu Rock n Roll terdapat The Beattles, Maddona, Lady Gaga, Michael Jackson, Tina Turner, Elvis Presley. Di tempat ini kita akan menemukan kesenangan tersendiri dengan foto-foto karena patung-patung ini benar-benar mirip manusia.
AYO BELANJA!
 Puas berfoto dengan orang-orang terkenal di Madame Tussauds, saya meneruskan perjalanan ke Mongkok untuk berbelanja di pasar malam Ladies Market. Dengan naik MTR turun di Mongkok Station dengan Exit D3, kami sampai di Tung Choi Street tempat para pedagang kaki lima berjajar dan di sebut Ladies Market. Tempat belanja murah ini menjadi tujuan para penggila belanja karena harganya yang lebih miring dari tempat lain. Dan saya menemukan banyak orang Indonesia sedang berbelanja di sini. Walaupun namanya Ladies Market, barang yang dijual disini tidak melulu untuk kaum hawa. Banyak barang-barang untuk para lelaki juga dijual disini.  Sebagian besar barang-barang tidak jauh dengan barang yang dijual di Jakarta karena itu saya mencari yang lebih unik seperti souvenir dan kaos bertuliskan kota-kota di Hongkong. 
Ladies Market hanyalah salah satu dari tempat belanja terkenal di Hongkong, masih banyak tempat lain yang banyak dikunjungi penggila belanja seperti Causeway Bay yang merupakan pusat perbelanjaan paling popular di Hongkong Island dan Citygate Factory outlet yang merupakan shopping mall beberapa outlet seperti Crocs, Esprit Outlet, Benetton Outlet, Girdano, City Chain dan Swatch (toko jam), Armani Exchange, DKNY dan lain-lain.  Mereka menjual barang-barang di factory outlet ini dengan diskon berkisar antara 30% hingga 70%.  Penggila belanja akan dimanjakan dengan barang-barang bermerk dengan harga yang terjangkau. Kelelahan belanja saya kembali ke hotel dan berkemas untuk kembali ke Indonesia. Nah, tunggu apalagi? Ambil cuti anda dan nikmati wisata belanja yang menyenangkan di Hongkong! 
(artikel ini pernah dimuat majalah Sekar)

Tana Toraja, Indonesia

PERJALANAN MERAYAKAN KEMATIAN

“All journeys have secret destinations of which the traveler is unaware.” –  Martin Burber

‘Negeri yang bulat seperti bulan dan matahari’ begitulah gelar untuk wilayah Tana Toraja. Orang Toraja menyebut dirinya to raya yang artinya keturunan para raja atau to riaja yang artinya orang yang berdiam di atas awan (pegunungan). Toraja termasuk salah satu wilayah propinsi Sulawesi Selatan, sekitar 350 kilometer sebelah utara kota Makasar. Toraja bisa dijangkau dengan dua cara menggunakan jalur darat dan udara; menggunakan bus dari Makasar atau pesawat kecil dari Bandara Sultan Hasanudin ke bandara Pongtiku. 

Sejak dua tahun lalu, saya ingin melakukan perjalanan ke Tana Toraja, namun berbagai kesibukan selalu membatalkan rencana itu. Akhirnya saya memutuskan mengambil cuti tahunan saya dan melakukan perjalanan ke Tana Toraja. Saat riset lokasi-lokasi wisata lewat internet dan mencari informasi perjalanan, saya merasakan bahwa perjalanan saya kali ini bukanlah perjalanan biasa.

Warisan kebudayaan megalitik serta gaya hidup Austronesia menjadikan Tana Toraja menarik untuk dikunjungi wisatawan. Pemandangan alam yang indah dan nuansa tradisional Toraja mulai saya rasakan begitu bus yang saya tumpangi memutari kolam buatan di kota Makale. Atap rumah adat Toraja, tongkonan, yang bentuknya seperti perahu tampak indah timbul tenggelam di antara kabut yang menyelimuti kota yang dikelilingi pegunungan ini. Infrasuktur jalan di Toraja yang menghubungkan dua kota utama ; Makale dan Rantepao cukup baik. Dan selama perjalanan ini, saya memutuskan untuk menginap di Rantepao.

PASAR BOLU dan WISATA PEMAKAMAN

Tepat pukul 9 pagi, saya menginjakkan kaki di Rantepao. Beberapa pengendara bentor (becak motor) menawari saya untuk mengantarkan ke hotel. Namun saya memilih naik pete-pete (angkutan umum). Pete-pete di Toraja bukan seperti angkutan umum biasa seperti di kota-kota lain. Kebanyakan pete-pete di Toraja adalah mobil Avanza yang digunakan sebagai angkutan umum dan sangat nyaman.

Setelah beristirahat sejenak dan berganti pakaian, saya tidak sabar untuk menjelajah Toraja. Lewat petugas hotel saya menyewa motor untuk transportasi ke lokasi-lokasi wisata yang ingin saya kunjungi.
Lokasi pertama yang saya kunjungi adalah pasar hewan Bolu, Rantepao. Menurut petugas hotel hari ini adalah hari pasaran dan saya tak boleh melewatkannya. Berdekatan dengan lokasi pasar tradisional, pasar hewan ini tampak unik dengan hamparan tedong (kerbau) dan babi di areal tanah lapang yang luas. Tidak seperti pasar hewan yang biasa saya lihat di tempat lain, para penjual hewan di pasar ini semuanya laki-laki dan sebagian besar mengenakan sarung dipinggangnya. Terjadi sekali seminggu, dan hampir 90% kerbau yang dijual di pasar ini untuk upacara kematian. Tedong Bonga (kerbau belang) adalah kerbau yang sangat mahal dan langka. Harganya bisa mencapai ratusan juta. Saya melihat banyak wisatawan asing di pasar hewan Bolu. Mereka tampak antusias melihat keunikan pasar ini.

Saya lalu meneruskan perjalanan ke goa pemakaman Londa, setengah jam dari Makale ke arah Rantepao. Londa merupakan sebuah pemakaman purbakala yang berada dalam goa. Untuk memasuki goa pemakaman Londa saya menyewa lampu petromak dan diantar Toni, pemuda Toraja yang sejak kecil sudah menjadi pemandu wisata menjelajahi lekuk-lekuk goa Londa. 

Menurut Toni, semua yang dimakamkan di goa Londa adalah dari garis keturunan Tatengkeng. Di bagian depan pemakaman tampak tau-tau (patung dari kayu nangka) yang mirip dengan mayat yang dimakamkan. Tau-tau itu di letakkan di pemakaman setelah melalui ritual tertentu. Menurut Toni, mereka yang patungnya berjajar di balkon pemakaman berasal dari kasta yang tinggi. Beberapa kali tau-tau itu dicuri orang sehingga sempat dibuatkan teralis dan dikunci.
Di depan gua saya juga melihat keranda dengan bentuk yang berbeda-beda. Toni menjelaskan bahwa bentuk keranda yang dipakai untuk mengantarkan jenasah ke pemakaman sesuai dengan status social atau kasta orang yang meninggal. Jenazah yang berkasta tinggi diantar dengan keranda berbentuk tongkonan, sementara jenazah yang berkasta biasa menggunakan keranda bambu. Peletakan jenazah di goa juga sesuai dengan kastanya masing-masing. Kasta tertinggi di letakkan di tempat paling tinggi sementara kasta biasa di tempat yang rendah. Orang Toraja masih mempercayai bahwa setelah meninggal, mereka akan menuju Puyo (surga) dan semakin tinggi mayat diletakkan maka semakin dekat mereka dengan Puyo.

Dengan penerangan lampu petromak saya merangkak memasuki goa. Saya harus berhati-hati agar tidak menyenggol tengkorak-tengkorak berusia ratusan tahun yang berserakan di sekeliling. Untuk menggeser tengkorak itu sedikit saja, harus melalui proses ritual. Di sekeliling tengkorak itu banyak tumpukan baju, gelas plastic aqua dan rokok. Saya pikir ini sampah yang ditinggalkan pengunjung, tapi ternyata saya salah. Tumpukan baju usang, gelas plastic dan rokok itu sengaja di kirimkan keluarga mayat. Orang Toraja berkeyakinan bahwa mereka yang sudah mati juga membutuhkan baju, makanan dan minuman seperti orang yang masih hidup.

Saya terus merangkak memasuki goa dan menemukan peti mati baru. Peti itu masih terlihat bagus dan rangkaian bunga yang melingkari peti belum layu. Menurut Toni, peti itu baru diletakkan tujuh hari lalu. Hingga sampailah saya di depan dua tengkorak yang saling bersisian. Dua tengkorak itu tampak dramatis berada di ruangan goa yang temaram. Menurut Toni, dua tengkorak itu adalah sepasang kekasih yang tidak direstui oleh orang tua mereka. Semacam kisah Romeo Juliet dari Toraja. Hm, ternyata setiap daerah selalu memiliki kisah-kisah yang romantic sekaligus tragis!
               
Tujuan selanjutnya adalah Lemo. Pemakaman alam yang dipahat sekitar abad XVI ini merupakan pemakaman leluhur Toraja. Di pemakaman batu Lemo ini ada 75 liang batu kuno dan 40 tau-tau yang tegak berdiri dan 75 lubang batu. Posisi tau-tau di Lemo berbeda dengan tau-tau di Londa. Tau-tau di Lemo mengangkat tangan ke atas dengan mata menatap langit sebagai prestise, status dan peran para bangsawan di Desa Lemo. Di beri nama Lemo karena salah satu model liang batu di sana berbentuk bundar dan berbintik-bintik seperti jeruk. 
    

Tujuan berikutnya adalah To’Doyan, pohon besar yang menjadi tempat pemakaman bayi (anak yang belum tumbuh giginya). Pohon ini secara alamiah memberi akar-akar tunggang yang secara teratur tumbuh membentuk rongga-rongga. Rongga inilah yang digunakan sebagai tempat menyimpan mayat bayi. Namun, pohon ini sekarang tidak lagi digunakan sebagai pemakaman.

            
Pada masa sekarang, beberapa orang Toraja membuat Patane (rumah makam) yang lebih modern untuk tujuh turunan dan meletakkan di pinggir jalan sehingga mudah dijangkau. Rumah makam modern ini terbuat dari beton seperti laiknya bangunan di kota. Dari pemakaman bayi To’Doyan saya singgah di kampung tradisional Kete Kesu. Di kampung tradisional ini saya bisa melihat tongkonan-tongkonan tua yang atapnya terbuat dari bambu dan telah ditumbuhi ilalang. Di sekitar tongkonan tua ini saya juga menemukan beberapa perajin ukir Toraja.
MAKANAN dan OLEH-OLEH KHAS TORAJA.
 Saat makan siang, saya berburu makanan khas Toraja. Sayang kalau saya tidak mencicipi makanan khas Tana Toraja. Meski sebagian besar penduduk Tana Toraja memeluk agama Kristen, tetapi di kota Rantepao kita bisa menemukan rumah makan-rumah makan khusus untuk muslim. 
 

Selain kopi Toraja yang sangat terkenal, Tana Toraja juga memiliki berbagai makanan khas yang unik dan lezat. Salah satu contohnya adalah Papiong. Papiong merupakan lauk pauk untuk pelengkap makan dengan nasi. Dimasak dengan berbagai sayuran di dalam bambu dan memasaknya dengan cara dibakar. Campuran sayuran di dalam Papiong yaitu : daun bawang, serai, bawang putih, telor, merica dan bawang merah.  Biasanya ada beberapa pilihan isi lauknya yaitu : ayam, ikan dan babi. Kalau di Jawa Papiong lebih mirip dengan pepes. Dimakan dengan nasi hangat sangat lezat. 

Makanan khas Toraja yang lain adalah Pamarrasan dan Pangrarang. Pamarrasan berupa lauk pauk daging ayam, babi atau ikan yang sudah dibakar lalu dimasak menggunakan keluwek dan sayur pangi. Sayur pangi adalah kulit keluwek yang sudah di iris tipis-tipis dan dijemur . Keluwek dalam bahasa Toraja adalah Pamarrasan. Sementara Pangrarang adalah sate Toraja. Bedanya dengan sate di tempat lain adalah cara memasaknya. Pangrarang hanya di bakar dengan bumbu garam secukupnya lalu setelah dibakar matang dimakan dengan cabe ulek.  

Untuk oleh-oleh kita bisa membeli deppa tori’, kue khas Toraja dan sirup Markisa yang belum dicampur dengan apapun. Kita juga bisa membawa oleh-oleh berupa ukiran, kain tenun Toraja, cinderamata berupa patung-patung dari kayu nangka juga t’shirt khas Toraja.
PERAYAAN KEMATIAN

Dalam perjalanan, saya melihat sebuah areal luas dengan banyak rumah itu dihiasi kain warna merah, putih dan motif hitam diatas merah. Saya memutuskan berhenti. Pak Indra yang sedang bekerja di situ mengatakan bahwa minggu depan akan diadakan perayaan kematian atau lebih dikenal Rambu Solo’. Areal dengan deretan rumah dari bambu dan kayu ini disebut rante. Saya langsung antusias untuk melihat perayaan itu minggu depan. Tetapi saya tidak mungkin memperpanjang cuti saya. Maka, untuk mengobati kekecewaan, saya mendengar cerita Pak Indra tentang perayaan kematian Rambu Solo’.

Rambu Solo’ merupakan upacara kematian yang sangat meriah dan memakan waktu berhari-hari. Upacara ini biasanya dilaksanakan pada siang hari saat matahari mulai condong ke barat dan biasanya berlangsung dua sampai tiga hari, bahkan untuk kalangan bangsawan bisa sampai dua minggu. Jumlah kerbau dan babi yang dipotongpun berbeda sesuai status social. Jika yang meninggal dunia bangsawan, maka jumlah kerbau yang dipotong lebih banyak dibanding yang bukan bangsawan. Keluarga bangsawan akan menyembelih kerbau antara 24 sampai dengan 100 ekor kerbau. Sedangkan warga golongan menengah diharuskan menyembelih 8 ekor kerbau ditambah dengan 50 ekor babi. Sebelum jumlah itu mencukupi, jenazah tidak boleh dikuburkan di tebing atau di tempat tinggi. Maka, tak jarang jenazah disimpan selama bertahun-tahun di Tongkonan sampai akhirnya keluarga menyiapkan hewan kurban. Namun bagi penganut agama Nasrani dan Islam kini, jenazah dapat dikuburkan dulu di tanah, lalu digali kembali setelah pihak keluarganya siap melaksanakan upacara. 

Prosesi dimulai dengan jenazah dipindahkan dari rumah duka menuju tongkonan pertama (tongkonan tammuon), yaitu tongkonan dimana ia berasal. Di sana dilakukan penyembelihan 1 ekor kerbau sebagai kurban atau dalam bahasa Torajanya Ma’tinggoro Tedong, yaitu cara penyembelihan khas orang Toraja, menebas kerbau dengan parang dengan satu kali tebasan saja. Kerbau yang akan disembelih ditambatkan pada sebuah batu yang diberi nama Simbuang Batu. Setelah itu, kerbau tadi dipotong-potong dan dagingnya dibagi-bagikan kepada mereka yang hadir. Jenazah berada di tongkonan pertama (tongkonan tammuon) hanya sehari, lalu keesokan harinya jenazah akan dipindahkan lagi ke tongkonan yang berada agak ke atas lagi, yaitu tongkonan barebatu, dan di sini pun prosesinya sama dengan di tongkonan yang pertama.

Selanjutnya, jenazah diusung menggunakan duba-duba (keranda khas Toraja). Di depan duba-duba terdapat lamba-lamba (kain merah yang panjang, biasanya terletak di depan keranda jenazah, dan dalam prosesi pengarakan, kain tersebut ditarik oleh para wanita dalam keluarga tersebut. Jenazah tersebut akan disemayamkan di rante, di sana sudah berdiri lantang (rumah sementara yang terbuat dari bambu dan kayu) yang sudah diberi nomor. Lantang itu sendiri berfungsi sebagai tempat tinggal para sanak keluarga yang datang nanti. Sesampainya di rante, jenazah diletakkan di lakkien (menara tempat disemayamkannya jenazah selama prosesi berlangsung). Jenazah dibaringkan di atas lakkien sebelum nantinya akan dikubur. Hiburan yang ditunggu-tunggu dalam perayaan kematian ini adalah ma’pasilaga tedong (adu kerbau). Adu kerbau sangat digemari orang-orang Toraja. Saya jadi teringat kerbau-kerbau di Pasar Bolu yang saya kunjungi pagi tadi.

Matahari mulai turun dan saya mengingat pesan petugas hotel, “lebih baik mbak kembali ke hotel sebelum malam. Karena setelah petang warga Toraja menghentikan kegiatannya dan lebih suka berdiam diri di rumah.” Tetapi baru saja berpamitan dengan Pak Indra perut saya keroncongan. Akhirnya saya berhenti di rumah makan kecil dengan lokasi yang memukau. Berbentuk panggung, pengunjung rumah makan bisa menikmati hamparan sawah dan gunung di kejauhan. Sambil menunggu ayam yang dimasak dalam bambu dan nasi putih hangat, saya menikmati secangkir kopi Toraja.

Dan gerimis mulai turun. Perjalanan hari ini sangat menakjubkan. Diam-diam saya merasakan aura mistis, saya seperti mendengar seseorang melakukan Ma’badong (menyanyikan lagu-lagu untuk mengenang jenazah) di upacara pemakaman Toraja, sementara ibu-ibu bersedu-sedan dan para pria berteriak penuh semangat. Setelah peti jenazah dimasukkan ke dalam liang batu di sisi tebing, maka masa berkabung telah lewat.  Sebuah kematian boleh disertai rasa duka, namun juga harus dirayakan dengan kegembiraan. Karena manusia yang mati itu telah selesai tugasnya di dunia dan tidak lagi merasakan kesusahan. Bentuk penghormatan terhadap kematian dan kearifan falsafah local Toraja yang masih terjaga meski zaman telah digerus modernisasi. 
(artikel ini pernah dimuat majalah Femina)