Category Archives: DESTINATIONS

Inggris : Pengalaman Lengkap Menjadi Harry


“Mimpi-mimpi manusia serupa sihir saat berani mewujudkannya.”

Selama dua puluh tahun terakhir, Harry Potter hidup di benak penggemarnya.  Penyihir fiksi hasil imajinasi JK. Rowling ini berhasil menyihir seluruh dunia. Sejak buku pertama terbit  “Harry Potter and the Philosopher’s Stone” tahun 1997, enam buku berikutnya selalu ditunggu penggemarnya. Buku serial Harry Potter itu meledak di pasaran dengan penjualan 450 juta kopi dan di terjemahkan ke 73 bahasa di seluruh dunia. Tak hanya Harry Potter yang memikat para penggemar tetapi juga kedua sahabatnya, Ron Weasley dan Hermione Granger.  Petualangan mereka juga diabadikan dalam film. Tak hanya itu, setelah buku dan filmnya selesai, jejak-jejak sihir Harry Potter dan kedua sahabatnya masih diburu untuk dikunjungi sebagai tempat wisata.  Sebagai salah satu penggemarnya, saya melakukan perjalanan ke Inggris khusus untuk menyusuri jejak sihir Harry Potter. Anda penggemar Harry Potter juga? Jika ya, pastikan mengikuti perjalanan saya menyusuri jejak sihirnya.
THE ELEPHANT HOUSE EDINBURG
Sebelum kita menemukan jejak sihirnya, ada baiknya kita mencari tempat kelahiran Harry Potter. Menjelang jam makan siang, saya sudah berdiri antre di depan The Elephant House, salah satu kafe di jantung kota Edinburg-Skotlandia, Inggris, yang diklaim sebagai tempat kelahiran Harry Potter.  Pada bagian depan kafe terpampang tulisan “The Birthplace of Harry Potter”.  Menurut informasi, JK. Rowling menulis dua buku serial Harry Potter, The Chamber of Secrets dan The Prisoner of Azkaban di kafe ini. Tak heran banyak turis manca negara yang penasaran melihat tempat ini.
The Elephant House
Setelah mengantre lima belas menit, saya memasuki bagian dalam kafe. Kafe ini tampak sederhana namun artistik.  Meja dan tempat duduknya tampak sudah tua namun terawat dengan baik. Saya melewati dinding yang menampilkan kliping berita kesuksesan JK.Rowling dan mendapatkan tempat duduk tepat di sebelah meja JK. Rowling menulis novelnya dengan menghadap kastil Edinburg.  Sebenarnya saya ingin duduk di tempat itu, tetapi waktu saya datang meja itu sudah dipesan. Selama saya berada di kafe, saya perhatikan meja itu nyaris seperti meja keramat. Tidak pernah kosong dan terus menerus dalam kondisi dipesan. Para pemesan bergilir datang menempati meja itu, mengerjakan sesuatu sambil memandang kastil Edinburg di kejauhan. Mungkin mereka berharap akan mendapatkan inspirasi yang dapat mengubah hidupnya seperti inspirasi yang didapatkan JK. Rowling.  
Meja JK Rowling di The Elephant House
 
The Elephant House yang berlokasi di 21 George IV Bridge, Edinburg EH1 1EN, Inggris ini pertama kali dibuka pada tahun 1995 dengan menyajikan menu breakfast, lunch dan dinner.  Selain itu mereka juga menyediakan teh, kopi, wine, bir dan beberapa macam kue. Kafe ini buka setiap hari, tetapi saya sarankan anda tidak datang pada waktu jam makan siang, karena akan mendapati antrean yang cukup panjang baik turis lokal maunpun mancanegara. 
Kliping kesuksesan JK. Rowling
 
Saya mencoba kopi dan kue yang direkomendasikan oleh pelayan kafe tetapi rasanya tidak begitu istimewa.  Tidak hanya JK. Rowling yang menulis novel di kafe ini, tetapi penulis terkenal lain seperti Ian Ranking penulis novel Rebus dan Alexander McCall-Smith penulis The No.1 Ladies Detective Agency juga menulis novelnya di kafe ini.  Penulis-penulis terkenal ini telah menjadikan The Elephant House sebagai sumber inspirasi yang banyak dikunjungi para turis lokal maupun mancanegara.
VICTORIA STREET DAN THE BALMORAL HOTEL EDINBURG
Setelah perceraiannya tahun 1993, JK. Rowling pindah ke Edinburg, Skotlandia. Pada masa sulit inilah JK. Rowling mengawali menulis bab awal serial Harry Potter. Tak mengherankan jika banyak tempat di Edinburg yang menjadi inspirasi ceritanya.  Salah satunya adalah Victoria street yang menjadi inspirasi Diagon Alley, sebuah pusat pertokoan tempat Harry Potter berbelanja berbagai macam peralatan sihir. Victoria street tidak jauh dari The Elephant House dan terletak di persimpangan depan gedung National Library of Skotlandia.
Salah satu toko inspirasi untuk Diagon Alley
 
Saya berbelok ke arah kanan dari jalan utama dan mulai menyusuri Victoria street. Tampak gedung-gedung kuno yang eksotis menjulang dan bagian depan toko yang berwarna-warni. Saya membayangkan tiba di sini menggunakan bubuk floo, salah satu alat transportasi di dunia sihir dan tersesat ke kawasan kumuh di belakang Diagon Aley seperti Harry Potter saat pergi belanja bersama keluarga Ron Wesley.  Ada satu toko yang menjual peralatan Harry Potter dengan tata ruang yang unik seperti di film Harry Potter. Saya memasuki toko dan menemukan berbagai peralatan Harry Potter seperti tongkat sihir, kartu pos, sal, peralatan tulis, globe dan benda-benda unik lainnya. Saya juga menemukan kotak di bawah tangga yang menjadi kamar Harry Potter.
Tak hanya Victoria street yang menjadi jejak sihir Harry Potter di Edinburg, tetapi The Balmoral Hotel juga menjadi jejak penting yang sering dikunjungi para penggemar Harry Potter. Di kamar suite nomor 552 Hotel Balmoral, JK. Rowling menyelesaikan buku terakhir Harry Potter The Deathly Hallows.  Sejak salah satu tayangan dokumenter menampilkan tempat kamar 552 Hotel Balmoral sebagai tempat JK. Rowling menyelesaikan serial Harry Potter para penggemar mulai antre memesan kamar yang harganya fantastis itu. Salah satu informasi menyebutkan harga kamar itu 1000 pounsterling per malam.  Kamar itupun kemudian diberi nama Rowling Suite.
CHRISH CHURCH  KATEDRAL UNIVERSITAS OXFORD
Kesuksesan novel Harry Potter juga diikuti kesuksesan film-film-nya. Para penggemar film Harry Potter pasti tidak asing dengan The Great Hall, tempat Harry Potter dan sahabat-sahabatnya pertama kali menghadapi topi seleksi untuk masuk ke asrama Gryffindor, Slytherin, Ravenclaw atau Hufflepuff. Di hall ini pula, biasanya para siswa sekolah sihir Hogward berkumpul untuk makan malam, menerima paket dari keluarga masing-masing, tempat Dumbledor menyampaikan pengumuman-pengumuman penting dengan menyalakan lilin-lilin terbang di atas langit-langit ruangan.  Satu tempat yang menjadi inspirasi The Great Hall adalah Dining Hall yang berada di Chrish Church katedral, Universitas Oxford.
 

Halaman dalam Chrish Church

Universitas Oxford merupakan perguruan tinggi berbahasa Inggris tertua di dunia. Menurut data, universitas ini sudah didirikan sejak abad ke 11, namun karena kelemahan dokumentasi sejarah, tidak diketahui kapan tepatnya universitas ini didirikan.  Suhu menunjukkan angka 10 derajat saat saya melangkah keluar stasiun. Jaket tipis yang saya kenakan tidak dapat melindungi tubuh tropis saya yang menggigil. Tetapi udara dingin itu tidak menghalangi keinginan saya yang besar menyusuri Oxford.
Dining Hall
Di dalam stasiun ada counter yang menawarkan beberapa paket tour  keliling Oxford. Tapi saya memilih berjalan kaki menyusuri kota tanpa menggunakan paket tour. Bangunan-bangunan kuno bergaya Victoria yang unik dan megah sangat menarik untuk diabadikan dalam kamera.  Saya berjalan mengikuti arus mahasiswa yang hilir mudik ke kampus dan beberapa rombongan studi tour dari berbagai manca negara. Meski ada bus dan mobil di jalanan, tetapi sebagain besar orang memilih menggunakan sepeda.  Setelah melewati kawasan yang ramai dengan pertokoan dan menikmati band jalanan, saya menemukan peta yang terpampang di pinggir jalan.  Saya mengecek peta dan Chrish Church katedral masih sekitar dua ratus meter dari tempat saya berdiri.
Chrish Church adalah satu-satunya gereja yang tergabung di dalam lingkungan kampus Universitas Oxford. Setelah menjadi lokasi syuting pembuatan film Harry Potter, pengunjung gereja itu meningkat drastis. Tujuan utama mereka adalah The Dining Hall yang menjadi inspirasi The Great Hall yang ada di film Harry Potter. Pengunjung dari berbagai manca negara ingin melihat secara langsung lokasi pengambilan gambar film Harry Potter.  Ketika saya tiba di depan gereja, antrian sudah mengular panjang. Lima belas menit antre, tiba giliran saya membeli tiket dan melewati pemeriksaan security. Saya kemudian dipersilakan masuk ke areal gereja.
 

Mahasiswa yang berseragam seperti Harry Potter

Areal Chrish Church sangat luas dan saya memilih untuk langsung ke Dining Hall.  Pengunjung tampak terpesona melewati bagian-bagian bangunan kuno Victoria yang megah dan cantik. Setelah menaiki tangga, sampailah saya di depan The Dining Hall. Karena antrean banyak, petugas mengatur jumlah orang yang masuk ke dalam The Dining Hall. Dan tibalah giliran saya memasuki Dining Hall.
Arus pengunjung perlahan memasuki Dining Hall sambil terus memotret setiap sisi Dining Hall. Ruangan ini benar-benar mirip dengan The Great Hall di film Harry Potter.  Tata letak meja panjang dan kursi, peralatan makan dan foto-foto yang terpasang di dinding. Bahkan pada bagian depan tempat para guru dan kelapa sekolah Hogward juga memiliki kesamaan.  Sambil berjalan memutar, para pengunjung yang kebanyakan penggemar Harry Potter mengabadikan moment kunjungan mereka seolah mereka benar-benar berada dalam situasi malam malam di sekolah sihir Hogward.
Tak hanya The Dining Hall yang menjadi inspirasi film Harry Potter, beberapa tempat di areal Chrish Church juga menjadi lokasi syuting film Harry Potter. Setelah keluar dari The Dining Hall, saya menuju lapangan luas yang menjadi tempat latihan Quidditch Harry Potter dan teman-temannya. Di tempat ini juga pertama kalinya Harry Potter belajar naik sapu terbang dan terbang mengelilingi menara-menara kastil Hogward. Saya membayangkan terbang menggunakan sapu terbang melihat kota Oxford yang cantik dari ketinggian.
STASIUN KING’S CROSS
Jika anda penggemar Harry Potter maka anda pasti mengenal stasiun King’s Cross. Pasalnya di stasiun ini pertama kalinya Harry berangkat ke sekolah sihir Hogward dengan menembus dinding platform 9 ¾.  Ketika memasuki stasiun ini, bangunan kuno bergaya Victoria yang artistik dan megah menyambut saya. Saya merasa benar-benar berada di stasiun tempat Harry Potter berangkat ke sekolah Hogward.
Platform 9 3/4
Saya memasuki stasiun dan mencari lokasi platform 9 ¾.  Kegiatan di dalam stasiun berjalan seperti biasa. Warga lokal pengguna kereta tampaknya sudah terbiasa dengan orang asing yang mencari-cari lokasi Harry Potter menembus dinding sehingga mereka tidak mengacuhkannya.  Baru ketika saya melangkah ke bagian stasiun lebih jauh, saya menemukan kerumunan orang yang mengantre di depan platform 9 ¾. Mereka bukan hendak menembus dinding, tetapi menunggu giliran berfoto dengan keranjang Harry Potter, si Hedwig burung hantu Harry Potter, sal dan berbagai aksesories khas Harry Potter lainnya. Seorang pemandu mengarahkan gaya para penggemar ini dan seorang teman siap memotretnya.
Di samping platform 9 ¾ tampak toko aksesories peralatan Harry Potter mulai dari tongkat sihir, sapu terbang, permen khas Harry Potter dengan berbagai rasa yang unik, burung hantu Harry Potter, sweater, souvenir dan berbagai macam alat tulis dengan gambar khas Harry Potter.  Tampak pengunjung dari berbagai negara berjubel untuk belanja aksesories Harry Potter di toko ini.
WARNER BROSS THE MAKING OF HARRY POTTER
Tidak lengkap rasanya jika kita tidak mengunjungi Warner Bross, studio tempat pembuatan film Harry Potter.  Untuk mendapatkan tiketnya cukup sulit, bahkan dua bulan sebelum berangkat saya hanya mendapatkan satu slot kosong pada bulan itu, sementara tanggal lainnya sudah di pesan. Melalui website resmi Warner Bross, saya memesan tiket masuk tanpa audio dengan harga 37 pounsterling. Harga akan bertambah jika kita menggunakan audio. Mereka juga menyediakan paket tiket dengan jemputan pulang pergi menggunakan bus dari pusat kota London dengan harga yang lebih mahal. 
Warner Bross Studio
Dari stasiun Victoria London, saya naik kereta ke Euston. Keluar dari Euston saya berjalan ke stasiun Pancrass dan naik kereta lagi ke Walford Juction. Dari Walford Juction inilah, bus khusus akan menjemput kami menuju Warner Bross studio. Dengan membayar 3 pounsterling untuk perjalanan pulang pergi, saya naik bus bergambar Harry Potter ini menuju studio Warner Bross. Di dalam bus terdapat video yang menjelaskan tentang seluk beluk Warner Bross sebagai tempat syuting Harry Potter.  Lima belas menit kemudian, bus tiba di depan studio. Tampak konter tiket dan mesin tiket di sisi sebelah kanan. Saya harus menukarkan tiket terlebih dahulu untuk bisa masuk ke dalam studio.
Kamar Harry Potter dibawah tangga rumah Prive Drive terpampang di dekat pintu masuk studio, lengkap dengan tempat tidur mungil. Dan begitu masuk ke dalam studio, kami disambut poster-poster film Harry Potter dan seorang pemandu yang akan mengantar kami keliling studio. Setiap kelompok dibatasi jumlah pengunjungnya sehingga tidak berdesakan. Kami dibawa ke depan sebuah layar dimana tiga pemain utama, Daniel Radcliffe, Emma Watson dan Ruppert Grint menyapa kami dan menceritakan pengalamannya syuting bertahun-tahun di studio itu. Mereka bertiga kemudian mempersilakan kami masuk ke dalam dan otomatis layar tempat ketiga pemain utama itu berubah menjadi pintu besar yang terbuka lebar. Pemandu studio mempersilakan kami masuk melalui pintu itu.
The Great Hall! Teriak pemandu saat pintu terbuka. Pengunjung menjerit senang dan memasuki The Great Hall dengan teratur.  Ruangan ini merupakan replika The Dining Hall di Chrish Church Oxford University.  Keluar dari Great Hall kami mengikuti petunjuk untuk berbelok ke kiri ke bagian kreatif pembuatan film. Tampak foto-foto para kreator terpampang. Mulai dari sutradara, penulis skenario, produser, penata gambar dan bagian-bagian penting lain dalam pembuatan film Harry Potter. Tidak jauh dari situ tampak rancangan kostum yang dikenakan para pemain, make up, makanan palsu bahkan lilin yang bisa beterbangan saat malam malam di Great Hall. 
Hogward Express
Saya terkagum-kagum melihat studio itu.  Semua lokasi dalam film dibuat dengan detail dan tampak seperti yang sebenarnya. Tangga berjalan, lukisan Nyonya Gemuk, kantor Dumbledore, ruang kelas ramuan Severus Snape, labu-labu di depan rumah Hagrid sampai hutan tempat para laba-laba tinggal  Tombol sihir technologi tampak di beberapa tempat nyaris seperti sihir sungguhan. Ketika saya memencet tombol, otomatis perangkat songket di rumah Ron Wesley akan menjahit sendiri. Begitu juga ketika saya menggerakkan tangan di depan sebuah sensor, maka setrika di rumah Ron Wesley akan bergerak menyetrika baju sendiri. Bahkan laba-laba di tengah hutan buatan itu akan muncul ketika kita menekan tombol yang kemudian disusul suara-suara hutan yang menakutkan.
 Pengunjung yang ingin berfoto sambil terbang menggunakan sapu Harry Potter juga bisa mencoba efek dengan hanya duduk di atas sapu terbang dan sedikit meliuk-liukkan badan. Tampak di layar mereka seperti terbang mengelilingi kota menggunakan sapu terbang. Di tempat yang lain tampak couching cara berduel menggunakan tongkat sihir. Dengan panduan video, pengunjung bisa mengikuti gerakan-gerakan duel ala penyihir.
Kamar Harry Potter dibawah tangga rumah Bibi Petunia
Pada bagian studio yang lain, kami disuguhi rancangan gambar-gambar lokasi syuting yang terpampang di dinding. Tak jauh dari sini tampak maket-maket lokasi syuting mulai dari kantor Dumbledore, rumah Ron Wesley, ruang asrama putra, maket kastil Hogward dan banyak maket lokasi syuting lainnya. Semua rancangan itu sudah pasti melibatkan arsitektur.  Tak kalah menarik adalah replika stasiun King’s Cross dan kereta api Hogward Express yang mengantar Harry menuju sekolah sihir. Kereta ini selalu diliputi asap dan tampak benar-benar hidup seperti yang ada di film. Pengunjung bisa masuk ke dalam kompartemen meskipun kereta ini tidak berjalan. Di bagian belakang tampak kompartemen Harry, Hermione dan Ron dilengkapi dengan patung mereka tengah duduk di dalam kereta.  Sebelum mengakhiri tour kami melewati kantin yang menjual Butterbeer, minuman yang sangat terkenal di serial Harry Potter. Tak jauh dari situ tampak perumahan Privet Drive, Knight Bus dan jembatan di depan kastil Hogward.
Mengunjungi lokasi syuting Harry Potter ini membuat saya benar-benar tersihir. Bukan hanya karena JK. Rowling telah menulis  cerita fiksi yang luar biasa, tetapi saya mengagumi profesionalisme kerja sebuah team produksi film untuk menghasilkan karya yang dahsyat.  Anda ingin tersihir seperti saya? Persiapkan liburan Anda menyusuri jejak sihir Harry Potter. ***
(artikel ini dimuat Jawa Pos 16/09/2017 di rubrik Traveling dan Ucweb)

Beijing : Cahaya Diantara Warna Merah

“Focus on the journey not the destination.”

 

Tiananmen square

Matahari  baru menggeliat bangun saat aku menaiki eskalator stasiun Qianmen. Sinarnya hangat menerpa tubuhku yang semalam kedinginan menginap di bangku-bangku tidak nyaman bandara Beijing. Warga lokal berjalan tergesa-gesa memasuki stasiun, hendak berangkat beraktivitas. Sebagian wisatawan menyeret kopernya tertatih-tatih dengan wajah yang letih. 

Pendestrian Tiananmen saat malam

Penginapanku di kawasan backpacker tidak jauh dari stasiun Qianmen.  Lokasinya sangat strategis karena berdekatan dengan stasiun dan Tiananmen Square. Area Qianmen membuatku langsung jatuh cinta. Bangunan-bangunan tradisional Tiongkok masih berdiri kokoh dijadikan hostel, toko souvenir, restoran-restoran dan juga tempat tinggal. Motor listrik berseliweran tetapi tidak membuat gaduh kecuali sedang mengklakson. Aku seolah sedang berada di lokasi film-film kungfu China yang aku tonton. Tempat menginapku pun bangunannya tradisional dan unik.

“Kita istirahat saja dulu beberapa jam sebelum menjelajah sekitaran Qianmen,” kata temanku.

 
Aku menyetujuinya. Tujuh jam perjalanan Jakarta-Beijing sangat meletihkan karena kami bermalam di bandara yang dingin. Sebelum menikmati jalanan kota Beijing, aku merebahkan tubuhku di pembaringan hostel. Tak sampai sepuluh menit aku terlelap.

***

Penjaga Tiananmen square

“Here we are! Tiananmen square!” teriak temanku girang.

Tiananmen square adalah alun-alun besar dengan lebar sekitar 500 meter dan panjang 880 meter yang merupakan pusat kota Beijing yang sangat terkenal. Ada empat pintu masuk utama Tiananmen square yaitu melalui utara, selatan, barat dan timur.  Alun-alun ini terbuka hingga tengah malam dengan pemeriksaan keamanan di setiap pintu masuk bagi pengunjung.

“Ri, minggir Ri, ada barisan mau lewat!” temanku mendorongku menepi.

Tampak sekelompok tentara berbaris melintasi alun-alun, sementara sebagian tentara yang lain berjaga di setiap sudut alun-alun. Ada beberapa tempat bersejarah yang bisa kita lihat di sini seperti Museum Nasional China, Makam Mao Zedong, Balai Agung Rakyat dan Monumen Pahlawan Rakyat. Pada pagi dan sore hari juga ada upacara pengibaran dan penurunan bendera. Tak hanya tempat bersejarah, di alun-alun ini juga ada penjual makanan dan minuman. Kami membeli minuman sebelum menyeberang jalan bawah tanah menuju Forbidden City.

“Jangan terlalu banyak minum,” cegah temanku ketika aku membuka botol minuman.

 
Bagi sebagian orang yang biasa tinggal di tempat bertoilet bersih, maka menggunakan toilet-toilet umum di Beijing sebaiknya dihindari. Lebih baik menggunakan toilet di hotel sebelum berangkat dan setelah pulang dari jalan-jalan. Karena akan membuat sedikit trauma dengan kondisinya yang jorok bahkan sebagian orang tidak menutup pintu toilet saat buang air.

“Sssttt! Lihat tuh kebanyakan anak kecil celananya bolong,” celetuk temanku lagi.

 
Dan begitu aku menoleh, tampak ibu dari anak itu membiarkan anaknya buang air di mana saja tanpa menggunakan air untuk membersihkannya. Dengan kondisi toilet yang horor ini, membuat aku dan teman-teman mengurangi jatah minum sehingga hampir dehidrasi.  

Forbidden City

Forbidden city atau Kota Terlarang merupakan komplek istana seluas 720.000 m2, yang dibangun sejak 1406 hingga tahun 1420.  Ada sekitar 800 bangunan dan 8000 ruangan. Warna merah, emas dan ukiran khas China mendominasi bangunan yang berdiri megah dan kokoh itu. Pada masa pemerintahan dua dinasti terakhir di China yaitu Dinasti Ming hingga Qing, sekitar 500 tahun, komplek istana ini tertutup untuk umum sehingga di sebut Kota Terlarang. Pada tahun 1987, Unesco menetapkan komplek ini sebagai situs warisan dunia. Meskipun tidak lagi ditempati kaum bangsawan, tetapi tempat ini terjaga dengan baik dan menjadi tujuan wisata yang sangat populer di Beijing. Untuk mengelilinginya diperlukan waktu tiga jam dari pintu masuk gerbang selatan di dekat Tiananmen square dan pintu keluar bagian utara. Aku memutuskan tidak berjalan sampai ujung karena kaki sudah mulai kram belum sempat istirahat panjang sejak perjalanan dari Jakarta. Belum lagi dehidrasi yang mulai mengintai tubuhku. 

Wangfujing street

Hari menjelang malam ketika aku menyusuri Wangfujing street mencari makanan halal tetapi malah tersesat masuk pasar dan membeli makanan halal yang sangat mahal. Setelah menyesal kehilangan banyak Yuan untuk seporsi makanan yang sangat tidak enak, kami kembali ke hostel melewati Qianmen street yang semarak. Pendestrian ini sangat menyenangkan untuk berjalan-jalan. Pertokoan, kafe-kafe bahkan pasar yang berjualan souvenir bisa kami temukan di salah satu gangnya. Kakiku mulai kram lagi dan aku memutuskan kembali ke hostel untuk istirahat.

***

Pagi baru saja dimulai saat kami tiba di stasiun subway Dongzhimen. Orang-orang lokal Tiongkok berjalan tergesa mengejar subway menuju tempat kerja, mengantri panjang di depan  pintu kereta dan berebut lebih dulu menaiki eskalator. Kami memilih exit B kemudian mencari terminal bus Dongzhimen yang terletak sekitar 100 meter dari pintu keluar subway.


Menurut informasi, ada beberapa bus yang bisa membawa kami ke  The Great Wall gerbang Mutianyu antara lain bus nomor 980, 915, 915 express, 916 dan 916 express. Seorang wanita petugas terminal berseragam biru dengan bahasa Inggris yang lumayan lancar menyarankan kami naik bus nomor 916 express yang melewati jalan tol sehingga lebih cepat dan turun di halte wilayah Huairou.  Karena tidak memiliki Beijing Transportation Card kami dikenakan biaya CNY 15, sedangkan pemegang kartu dikenakan biaya CNY 12 untuk perjalanan bus dari terminal Dongzhimen hingga wilayah Huairou. 

Bersama warga lokal Tiongkok yang sedang menjalankan aktivitas hariannya dan bercengkerama ramai di bus dengan teman-temannya, kami menikmati perjalanan menuju distrik Huairou, sekitar 70 kilometer dari kota Beijing tempat gerbang Mutianyu, The Great Wall berada. 

The great wall

 
The Great Wall atau Tembok Besar Tiongkok merupakan sejarah penting bagi negeri Tiongkok. Tembok yang dibangun ratusan tahun silam pada masa Dinasti Ming ini memiliki panjang sekitar 8851 kilometer dan pada tahun 1987 bangunan ini masuk sebagai salah satu situs warisan dunia Unesco. Ada empat gerbang untuk memasuki Tembok Besar Tiongkok yaitu melalui gerbang Badaling, Mutianyu, Jinshaling dan Simatai.  Gerbang Badaling merupakan gerbang yang paling populer dikunjungi turis karena jaraknya paling dekat dari kota Beijing, memiliki tanjakan yang relatif mudah dilewati dan mudah dijangkau dengan transportasi umum. Gerbang Badaling telah banyak direstorasi dan selalu ramai pengunjung. Sementara gerbang Jinshaling dan Simatai merupakan gerbang yang letaknya paling jauh dari kota Beijing dan memiliki tanjakan yang sulit dilalui. Gerbang Jinshaling dan Simatai lebih cocok untuk mereka yang memiliki stamina kuat dan penggemar hiking. 

Here we are! My dream come true!

Setelah mempertimbangkan berbagai hal, kami kemudian memilih memasuki Tembok Besar Tiongkok melalui gerbang Mutianyu. Selain tidak terlalu ramai pengunjung, gerbang Mutianyu lebih otentik dan bisa dijangkau menggunakan transportasi umum. 

Hampir jam 10 pagi saat penumpang lokal yang duduk di sebalah temanku  dengan menggunakan bahasa isyarat menyarankan agar kami turun di salah satu halte Huairao. Dari halte tersebut kami masih harus menyewa mobil untuk sampai gerbang Mutianyu. Tetapi begitu kami turun dari bis, kami dikerubungi empat sopir taksi yang gayanya setengah memaksa kami untuk naik taksinya. Temanku mencoba bertanya dengan bahasa Inggris tapi tak satupun mereka paham bahasa Inggris. Mendadak kami takut karena salah satu dari mereka kasar dan memaksa.

“Kita cari minimarket dulu aja yuk,” kata temanku menarik lenganku.

 
Aku berjalan menghindar dari empat sopir taksi itu, tetapi mereka malah mengikuti kami. Kami jadi bingung dan ketakutan. Tiba-tiba ada seorang cewek lokal yang cantik dan memerhatikan kami. Ia hendak naik ke boncengan motor yang dikendarai wanita paruh baya sepertinya ibunya.

“May i help you?” tanyanya dengan bahasa Inggris yang fasih dan jelas di dengarkan.

Yesss!!! Dunia seketika menjadi terang mendengar cewek cantik itu bisa berbahasa Inggris. Kami segera mengemukakan masalah kami. Cewek itu menjelaskan bahwa untuk sampai gerbang Mutianyu memang harus menyewa mobil mereka. Dan ia menawar harga pulang pergi ke sopir-sopir taksi itu dengan harga terendah yang ia ketahui sebagai orang lokal. Salah satu sopir yang umurnya paling tua dan wajahnya baik bersedia mengantar kami. Aku dan temanku mengucapkan terima kasih tak terhingga pada cewek cantik yang sudah menolong kami itu. Sayang sekali, aku tidak menanyakan siapa namanya dan bertukar kontak.
Gerbang Mutianyu
 

Satu jam kemudian, kami sudah sampai di gerbang Mutianyu. Suasana tidak terlalu ramai dan udara sangat sejuk. Kami membeli tiket cable car untuk naik ke tembok besar dan turunnya menggunakan kereta luncur atau toboggan dengan biaya CNY 100. Tetapi begitu antri cable car aku mulai merasa takut. Bagaimana tidak? Cable car yang aku pilih ternyata tanpa dinding kaca sama sekali. Begitu giliran kita masuk cable car, kita harus berdiri di tempat dan terdorong dengan keras masuk ke dalam cable car. Petugas kemudian mengunci kami dan cable car berjalan ke atas tanpa sekat apapun.

“Bagaimana kalau tiba-tiba ada angin kencang nabrak kita?” tanya temanku sambil tertawa saat cable car mencapai puncak tertinggi.
Cable car terbuka

Ia tahu aku sangat ketakutan. Sebagai penderita phobia ketinggian dan claustrophobia, aku ingin mengurangi ketakutanku pada ketinggian setiap kali traveling dengan mencoba hal-hal yang menantang. Tetapi keringat dingin mengaliri pelipisku. Temanku mengalihkan ketakutanku dengan mengajak melihat pemandangan di kejauhan.  Dari ketinggian, tembok besar itu terlihat meliuk-liuk bagaikan ular naga yang sedang tidur. 

Begitu aku mulai menikmati naik cable car ternyata sudah harus turun. Petugas di bawah meneriaki kami agar kami melompat karena lintasannya sangat cepat dan susul menyusul. Begitu pintu terbuka kami melompat keluar. Dan hufff! Aku oleng hampir jatuh. Untung temanku memegangi tanganku. 

Kami segera mencari pintu masuk tembok besar dan mulai mendaki. Benar seperti yang pernah aku baca, tembok besar China gerbang Mutianyu terlihat lebih otentik. Tidak banyak pengunjung sehingga lebih tenang dan tidak  berdesakan saat mendakinya.  Masih banyak pepohonan sehingga tembok raksasa ini seolah meliuk-liuk di tengah hutan.  

The great wall

 
Tembok besar gerbang Mutianyu menggunakan batu granit dengan tinggi 8 meter dan lebar 5 meter. Terdapat menara suar yang pada masanya digunakan untuk menyampaikan pesan militer dengan cara membuat sinyal asap di siang hari dan api pada malam hari. Tembok besar menjadi salah satu bagian penting dari sejarah arsitek China yaitu untuk membatasi wilayah perkotaan dan perumahan, batas kepemilikan lahan, penanda perbatasan dan jalur komunikasi untuk menyampaikan pesan.

“Bagaimana kalau kita istirahat satu jam di sini?” ajakku pada teman-teman.

 

Mereka menyetujuinya, lagipula kami menyewa mobil selama empat jam pulang pergi. Kami segera mencari tempat duduk yang nyaman, lalu membuka bekal makanan dari hostel yang aslinya makanan dari Jakarta. Puding jelly, roti dan beberapa botol minuman. 

Turun dari tembok besar kami sudah membeli tiket tobbogan atau kereta luncur. Hanya di gerbang Mutianyu yang dilengkapi kereta luncur untuk kembali ke pintu masuk. Awalnya aku membayangkan kami akan naik kereta luncur bersamaan dan kenyataannya naik sendiri-sendiri. Tanganku langsung berkeringat dingin. Aku ingin berbalik dan membeli cable car saja, tetapi haruskah aku membuang-buang uang? Aku menyeka keringat dingin dan mulai antri di dekat papan luncur. 

Kereta luncur tobbogan sejenis kereta beroda untuk diduduki dan dilengkapi dengan rem. Kereta dapat meluncur sampai 60 km/jam menempuh jarak sejauh 1.6 km diatas lintasan stainless steal. Begitu naik ke atas kereta luncur aku berusaha menyesuikan diri meskipun masih ketakutan. Naik motor saja aku tidak bisa bagaimana naik kereta luncur di atas ketinggian ini?  

Penjual di kawasan the great wall

 Dan benar saja! Sepertinya aku membuat orang-orang di belakangku kesal karena aku bergerak lambat. Aku berusaha menikmati perjalanan menerabas hutan menggunakan kereta luncurku meskipun tanganku berkeringat dingin dan tubuhku gemetar. Orang-orang di belakangku tidak bisa ngebut dan memanjakan adrenalin mereka. Aku tidak peduli meskipun mereka marah, lebih baik aku pelan daripada jatuh ke bawah. Sampai di bawah tanganku dingin dan aku menangis. Ini sangat menyenangkan sayangnya aku ketakutan.

“Lunch! Lunch! Cheap! Cheap!” kata bapak sopir yang mencegat kami di depan restoran. 
Kami menggeleng. Sebenarnya lapar, tetapi tidak yakin makan ditempat yang tidak halal dan sama sekali tidak tahu jenis makanannya karena semua menu berbahasa China. Kami kemudian kembali ke tempat parkir.
“Take a picture, please?” temanku ingin foto bersama di parkiran dengan background lintasan tobbogan di kejauhan.

Bapak sopir segera beraksi mengambil foto kami. Tetapi begitu berada di mobil dan kami memeriksa hasil fotonya, semua foto adalah kaki kami! Ok, good pictures!

***

Belum terlalu sore ketika kami tiba kembali di terminal bus Dhongzhimen. Hampir seharian tidak makan kami memutuskan untuk langsung ke masjid Niujie. Menurut informasi, di sekitar masjid Niujie banyak makanan halal. Tetapi  dari terminal bus Dhongzhimen kami tidak menemukan nomor bus ke distrik Xuanwu. Kami harus naik subway kemudian menggantinya dengan bus kota. Baiklah, karena sudah sangat lapar kami buru-buru masuk ke dalam stasiun subway dan mencari line menuju distrik Xuanwu.Tiga puluh menit kemudian setelah naik subway dan berganti bus kami sampai di distrik Xuanwu. Sepanjang jalan sekitar masjid tampak pertokoan dan restoran halal. Kami memilih salah satu restoran yang ada di paling ujung. Awalnya kebingungan mencari tempat masuknya, tetapi pelayan restoran menunjukkan kami pintu masuk. Di dalam restoran tampak luas dan nyaman. Kami memilih tempat di pojok agar bisa mengamati lalu lalang orang yang masuk ke dalam restoran. 

Pelayan tidak bisa bahasa Inggris, sehingga kami hanya menunjuk menu yang kami inginkan. Nasi, sate domba, kuah sup dan teh hangat. Pengunjung restoran kebanyakan warga lokal. Aku melihat gadis mengenakan jilbab sedang makan di salah satu meja dan tersenyum kepadaku. Aku membalas senyumnya seraya mengangguk. 

Tak lama makanan datang dan kami menyantapnya dengan lahap. Ternyata makanan yang kami pesan kurang untuk berempat. Aku masih kelaparan, tetapi mau pesan lagi kuatir keburu sore ke masjid. Berharap pulang dari masjid bisa makan lagi di tempat ini.

Dari restoran tempat kami makan, masjid Niujie ada di seberang jalan. Kami menyeberang dan menyusuri sepanjang jalan Niujie. Tampak sebuah masjid berarsitektur campuran China dan Arab yang berdiri megah di depan kami. Begitu memasuki gerbang seorang lelaki tua beruban dengan wajah ramah menyapa kami.

“Assalamu’alaikum. Are you from Malaysia?” tanyanya.

“Wa’alaikumsalam. I am from Indonesia,” jawabku.

Wajahnya tampak sumringah. “Oh, Indonesi… come…come…” lelaki tua berambut putih itu mengantarkan kami ke pintu masuk.

 
Sebenarnya masjid sudah tutup bagi wisatawan, tetapi karena kami muslim dan datang dari jauh kami diperbolehkan masuk. Masjid Niujie juga bisa dikunjungi non muslim tetapi harus menggunakan pakaian sopan dan tidak diperkenankan masuk ke tempat ibadah. Aku dan teman-teman masuk lewat samping dan mulai berkeliling. 

Masjid Niujie

  
Masjid Niujie merupakan masjid tertua di Beijing yang dibangun pada 996 pada masa Dinasti Liao (916-1125). Masjid ini menjadi titik awal masuknya Islam di dataran Tiongkok. Populasi muslim terbesar Beijing tinggal di sekitar masjid membentang dari utara ke selatan.

“Tempat sholat perempuan di sebelah sana,” kata temanku menunjuk papan petunjuk.
Tempat sholat perempuan Masjid Niujie

Aku melihat-lihat berkeliling lebih dulu. Beberapa jamaah dan pengunjung tampak duduk di halaman masjid. Sebagian ngobrol, sebagian lagi melamun. Aku jadi ingin duduk melamun memandangi masjid yang unik dan indah ini. Maka aku pun mengambil tempat duduk di halaman berdekatan dengan jama’ah wanita yang sudah tua. Beliau tersenyum melihat aku menghampirinya. Sayang kami tidak bisa saling menyapa karena keterbatasan bahasa. 

Bagian areal dalam masjid

 
Luas kompleks masjid mencakup 6000 meter persegi terdiri dari ruang sholat utama, tempat wudhu, menara dengan paviliun, ruang sholat perempuan dan juga ruang pameran. Karena kami sejak siang belum menunaikan sholat, maka kami segera ke tempat sholat perempuan. Tetapi pintu tempat sholat perempuan terkunci dan tidak ada seorangpun yang bisa kami tanyai. Mungkin karena sebentar lagi malam. Setelah puas berkeliling, kami segera keluar halaman masjid. 

Pintu menara masjid dan saya

 Dari jalan Niujie masjid tua itu berdiri megah. Sudah melewati banyak perjalanan hidup yang berat dan ia masih berdiri kokoh di sana. Warna merah menghiasi setiap sudut Tiongkok. Dan aku melihat cahaya terpancar dari masjid tua Niujie. Menerangi langkahku untuk terus melanjutkan perjalanan.

***

(artikel ini ada dalam buku saya “Keliling Asia Memburu Cahaya” terbitan Grasindo, masih beredar di seluruh toko buku Indonesia)

Xi’an : Cahaya 1000 Tahun

“He who returns from a journey is not the same as he who left.” – Chinese proverb

Kota Xian dari ketinggian tembok kota

Mendengar kata Xi’an, kepala para pejalan akan dijejali bayangan kejayaan Tiongkok masa lampau.  Di ibukota Tiongkok kuno ini terdapat terracotta warrior ; koleksi ribuan patung prajurit penjaga makam yang dibuat pada masa dinasti Qin, tembok kuno yang mengelilingi kota Xi’an, Bell Tower dan Giant Wild Goose Pagoda sebagai bukti kejayaan Tiongkok pada masa lampau. 

Eksotis.  Aura itu menyergap mataku, begitu bus yang kutumpangi memasuki kota Xi’an.  Saat bus melewati jalan menikung di ketinggian, aku terdorong dan oleng ke samping hingga seorang lelaki lokal yang duduk di sebelahku tertawa. Aku membalasnya dengan senyum dan membuang pandang ke jendela kaca bus. “Sian… Sian…” lelaki itu menyentuh lenganku sambil menunjuk-nunjuk tembok yang mengelilingi kota di kejauhan.

Tembok kota Xian

Aku mengajaknya bicara dalam bahasa Inggris tetapi lelaki itu tertawa sambil menggeleng-geleng. Lagi-lagi ia menunjuk tembok tinggi yang mengelilingi kota Xi’an di kejauhan. Aku hanya bisa menangkap isyarat bahwa kami telah memasuki kota Xi’an dengan tanda tembok yang menjulang mengelilingi kota.  Lelaki di sebelahku ini tampak sangat bangga dengan kota tempat ia tinggal. Sayangnya aku tidak bisa bahasa Mandarin sehingga kami hanya berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat tubuh. Tetapi seperti kebanyakan lelaki lokal yang aku temui selama menyusuri dataran Tiongkok, mereka kocak dan siap membantu. 

Matahari tepat di atas kepala saat bus memasuki gerbang tembok kota Xi’an lalu melambat mengikuti arus lalu lintas yang padat.  Bus berbelok ke samping Longhai Hotel. Di samping hotel yang tampak seperti terminal kecil itulah bus airport ini berhenti dan menurunkan penumpangnya.  Lelaki lokal di sampingku melambaikan tangan lalu meninggalkan aku turun dari bus lebih dulu. 

Mencari alamat hostel tempatku menginap di Xi’an ternyata tak semudah dugaan. Memasuki dunia tanpa google sekaligus sebagai fakir wifi aku hanya mengandalkan catatan petunjuk dalam notesku. Dari Xi’an Railway Stasiun mengambil line 2 turun di Bei Da Jie. Tetapi mencari stasiun kereta bawah tanah yang tidak jauh dari tempat kita berdiripun ternyata tidak mudah.  Tidak ada petunjuk Bahasa Inggris dan tubuh yang letih membuat pikiran susah fokus.  Setelah berjalan memutar dan salah arah, akhirnya aku menemukan pintu masuk stasiun yang ternyata tidak jauh dari lokasiku mondar-mandir. Aku menyeret travel bag menuruni tangga stasiun subway dan membeli tiket subway. Setelah mengambil line 2, tiga puluh menit kemudian aku berhasil turun di Bei Da Jie. 

Stasiun Bei Da Jie

Perjalananku semakin lambat karena sejak pagi belum makan. Mencari alamat hostel yang seharusnya mudah sesuai petunjuk tidak juga segera kutemukan. Keluar dari stasiun subway aku menyeret travel bag dengan kepala pusing dan perut keroncongan. Sepertinya harus mencari tempat makan sebelum pingsan di jalan. Tapi di mana? Aku menyadari kesalahan keduaku ; tidak survey lokasi makan halal di sekitar stasiun subway. Sedangkan kesalahan pertamaku adalah ; tidak belajar bahasa mandarin sedikitpun.Baiklah, mungkin sebaiknya melanjutkan perjalanan. Aku berharap menemukan tempat makan halal di perjalanan menuju hostel.

Sesuai petunjuk, dari arah jalan besar aku harus belok ke kanan. Tampak deretan pohon besar yang menaungi sisi jalan sehingga suasana menjadi sejuk dan teduh.  Beberapa sopir angkutan sejenis bajaj ngetem menunggu penumpang. Melihat aku lewat di depannya, mereka menawarkan diri dengan ramah untuk mengantarku. Aku menggeleng dan menolak dengan halus. Tanpa sengaja mataku tertumbuk pada deretan kedai makan di seberang jalan yang hampir semuanya terdapat plang halal di bagian pintu. Aku bersorak kegirangan dan memutuskan menyeberang jalan memasuki salah satu kedai makan itu.  

Kedai makan yang kumasuki ternyata belum buka. Areal kedai tampak kotor dan sedang dibersihkan. Sebagian karyawan wanita mengenakan jilbab menyapu halaman kedai dan sebagian yang lain sedang  sibuk memasak. Sementara karyawan laki-laki yang mengenakan kopyah putih sibuk merapikan bangku-bangku kedai. Aku berniat untuk pindah ke kedai lain, tetapi kedai yang lain juga masih tutup. Sepertinya kedai-kedai ini hanya buka di malam hari.  

Rumah makan muslim yang pemiliknya baik hati memberi kami makanan

 Seorang perempuan tua, mengenakan jilbab warna merah jambu tersenyum ramah menghampiriku. Dan mulailah ia menggunakan bahasa mandarin untuk berkomunikasi. Aku menggeleng-geleng bingung. Tetapi nenek ramah ini seperti memahami kebingunganku. Ia membawakan sepiring roti dan semangkok mie kuah lalu dengan isyarat bahasa tubuh seolah bicara, “kamu mau makan ini?” Lalu aku mengangguk yakin. Seorang wanita berjilbab yang lain membawakan aku segelas air putih sambil mempersilakan aku makan. “Xie…xie.. terima kasih,” hanya itu bahasa mandarin yang paling aku pahami. 

Semangkok mie kuah di depanku masih panas, sementara roti bakpao berwarna pandan menggoda untuk segera kulahap. Aku masih mengira-ngira bagaimana aturan makan roti dan mie kuah di depanku ketika nenek ramah itu mengajariku cara makan roti dan mie kuah. Ia memakan roti terlebih dahulu kemudian mie atau mencampurkan roti ke dalam mie. Tetapi bisa juga sesuai selera.
  
Meski tidak sesuai dengan lidah Indonesiaku, roti dan mie kuah ini lumayan sebagai pengganjal perut. Porsinya terlalu banyak untukku tetapi aku berusaha menghabiskannya. Aku belum tahu budaya setempat tentang makan, tetapi karena pemilik warung ini muslim, aku yakin tidak akan suka melihat orang makan tanpa menghabiskannya.

“Saya akan membayar. Berapa semuanya?” aku nekat bertanya dalam bahasa Indonesia sambil mengeluarkan dompet.

 
Seorang lelaki bertubuh pendek mengenakan kopyah yang sedari tadi sibuk membantu membereskan bangku-bangku kedai menghampiriku dan menggeleng-geleng sambil membuat isyarat tangan tidak usah membayar. Hah!? Tidak usah membayar? Jangan dong, aku sudah makan masa tidak membayar? Aku memaksa memberikan uangku, tetapi lelaki yang ternyata pemilik kedai itu tetap menolak. Ia membuat isyarat menengadahkan tangan ke langit seolah berdoa lalu menangkupkan kedua tangannya di dada sambil tersenyum. Melihat ketulusan di wajahnya, aku tidak memaksa memberikan uangku lagi. 



Keharuan menyeruak di dadaku saat berpamitan dengan pemilik kedai, nenek yang ramah dan semua karyawannya. Menerima kebaikan di tempat asing selalu membuat dadaku bergetar.  Aku merasakan persaudaran muslim yang kuat di tanah ini, bukan karena semata ketulusannya memberi musafir seperti aku makanan gratis, tetapi keramahannya menerima sebagai saudara.

“Xie…xie…” aku agak bergetar mengucapkannya.
Lohas Hostel

 
Perjalanan mencari alamat hostel mungkin masih melelahkan, tetapi semangatku membara karena kebaikan dari pemilik kedai. Aku kembali menyeret travel bag meninggalkan kedai. Berapa gang lagi yang harus kulewati untuk menemukan alamat hostel itu? Tetapi baru lima langkah mataku tertumbuk pada plang hostel yang kucari. Ternyata hostel yang kucari hanya berjarak sekitar duapuluh langkah dari kedai makan itu.  
Pelajaran yang aku dapat hari ini, jangan coba-coba mencari sesuatu dalam keadaan lapar! Sudah pasti mata akan kabur dan otak susah bekerja sehingga plang hostel yang tidak jauh dari pandanganpun menjadi kabur.  Beruntung pemilik kedai yang baik hati itu menyelamatkan aku. Dengan tawa miris, aku bergegas menuju hostel itu.

***

Lohas hostel tempatku menginap cukup nyaman. Meskipun resepsionis berwajah tampan yang menyambut kami bicara bahasa Inggris terbata-bata, tetapi sangat ramah dan penolong. Dari jendela kamar di lantai tiga, aku melihat jalanan riuh oleh lalu lalang motor listrik dan orang berjalan kaki. Sebagian besar mereka mengenakan jilbab dan kopyah. 

Aku terseret masa lalu, membayangkan saat Islam memasuki kota ini. 
Islam memasuki kota Xi’an diperkirakan pada abad ke 7 melalui jalur sutra pedagang Arab dan Persia. Suku Hui yang mendiami kota Xi’an menjadi salah satu etnis terbesar yang memeluk agama Islam.  Muslim Tiongkok tidak selalu melewati masa yang mudah. Pada masa revolusi kebudayaan China dibawah Mao Zedong menjadi teror bagi kamu muslim. Tetapi setelah Mao Zedong mangkat, muslim Tiongkok bisa kembali hidup damai dan membangun masjid-masjid. Menurut informasi yang aku baca ada 10 masjid di kota Xi’an saat ini, salah satunya The Great Mosque atau masjid agung Xi’an yang merupakan masjid tertua di Tiongkok.

Ya, The Great Mosque! Itulah tujuan perjalananku. Aku tak sabar untuk mencari masjid tertua di Tiongkok ini dan merasakan pendar-pendar cahayanya.

***

 

Usai shalat ashar di hostel, aku mengikuti arus orang yang berjalan kaki menuju muslim quarter.  Menurut informasi resepsionis hostel, The Great Mosque tidak jauh dari muslim quarter. Aku berniat sholat maghrib di sana. Sepanjang jalan menuju muslim quarter tampak ramai turis Asia lalu lalang. Penduduk lokal laki-laki mengenakan kopyah, sementara para wanita lokal mengenakan jilbab. Sebagian hilir mudik dengan motor listrik dengan klakson yang mengagetkan pejalan kaki dan sebagian yang lain berjualan di tokonya masing-masing. Semakin mendekati gerbang muslim quarter semakin ramai. 

Muslim quarter

Tiba di persimpangan jalan, tampak gerbang muslim quarter dengan jajaran toko-toko yang ramai pengunjung. Aku memasuki gerbang dan terpesona dengan banyaknya jajanan halal yang berderet di sepanjang sisi jalan. Para turis membeli makanan eceran dan langsung memakannya sambil jalan-jalan menyusuri sepanjang muslim quarter.  Para penjual berteriak-teriak menjajakan dagangannya. Aku merasakan aura yang hangat, dekat dan bersahabat. Melihat minuman berwarna kemerahan yang menggoda aku membeli satu. Minuman yang aku kira teh itu ternyata terbuat dari sari buah-buahan. Rasanya agak asam  tapi enak sekali diminum sore-sore.  

Jajanan di muslim quarter


 Sebagian besar makanan di sepanjang muslim quarter halal. Hampir setiap tempat berjualan makanan memasang plang halal atau halal coret merah yang artinya tidak halal.  Selama aku menyusuri dataran Tiongkok, Xi’an memiliki tempat makanan halal paling banyak. Berbagai makanan dan minuman lokal yang unik dan menggoda selera dijual di sepanjang jalan ini seperti satai domba, gurita goreng, buah-buahan dan berbagai minuman. Roti berisi daging sepertinya menjadi favorit para turis karena antreannya mengular panjang. Tak hanya makanan, sepanjang muslim quarter juga banyak toko yang berjualan souvenir, rempah-rempah, kain khas Tiongkok dan baju. 

Penjual kue di muslim quarter

Aku dan teman-teman terlalu gembira menyusuri muslim quarter  sampai lupa waktu maghrib telah lewat. Aku menemukan plang petunjuk arah ke masjid dan mengikuti jalan itu. Tetapi jalan kecil itu malah membawa kami masuk ke pemukiman penduduk lokal dengan gang kecil yang gelap. Tetapi ada seseorang yang berbaik hati menunjukkan kami arah masjid. Kami segera berbalik arah mengikuti petunjuk itu. 

Tiba di gerbang masjid ternyata sudah tutup. Kami tidak menemukan jalan lain untuk masuk ke dalam masjid. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke muslim quarter.  Perut mulai keroncongan dan kami masuk ke sebuah kedai makan yang khusus menjual dumpling. Karena penjual tidak bisa berbahasa Inggris, kami menunjuk mangkok pembeli untuk memberi tahu makanan  yang kami pesan. Beberapa saat kemudian penjual mengangguk-angguk dan meracik pesanan kami. 

Aku mengedarkan pandangan mengelilingi ruangan di dalam kedai. Banyak wanita-wanita lokal mengenakan jilbab dengan gaya khas mereka. Kulit mereka putih bersih dengan wajah yang kemerahan. Saat menunduk, mereka tampak seperti orang yang tersipu malu. Mataku bertubrukan dengan seorang wanita yang juga sedang memandangku. Kami saling tersenyum dan mengangguk. Seandainya aku bisa berbahasa mandarin, aku sudah menghampiri mejanya dan mengajaknya ngobrol.  Sayangnya kami hanya bisa saling memandang dan tersenyum. 

Dumping Xian

 Selain dumpling, aku memesan satai domba satu tusuk seharga 10 Yuan. Menurut informasi, satai domba ini makanan favorit di muslim quarter selain roti isi daging. Ketika satai itu datang aku terpana melihat tusukan besar dari besi dan keratan daging yang besar-besar. Keluargaku terbiasa makan segala sesuatu dalam bentuk yang kecil, tetapi melihat sate ini malah tertantang untuk menggigitnya. Aku membayangkan kalau ibuku tahu hal ini, beliau akan marah. Bagi ibu, kesopanan juga termasuk  makan dalam potongan kecil-kecil sehingga makanan lebih rapi saat dikunyah. Tetapi begitu aku menggigit sate domba itu, rasanya tidak rugi kalau harus menabrak norma yang diajarkan ibuku. Karena sate domba ini sangat enak. Dagingnya empuk dan bumbu jintannya terasa gurih di mulut. Sebelum pesanan dumpling datang, aku sudah menghabiskan satu tusuk sate itu.

“Kenapa mereka selalu menggunakan bumbu jinten, sih?” tanya temanku yang tidak suka makan jintan.

“Coba tanyakan ke penjualnya,” jawabku.
Sate domba yang empuk!

 
Lalu terjadilah pembicaraan yang aneh lagi. Karena kebanyakan warga lokal tidak bisa berbahasa Inggris, temanku menggunakan bahasa Indonesia, sementara pelayan menggunakan bahasa Mandarin. Hasilnya kami  tidak menemukan jawaban kenapa hampir semua makanan menggunakan bumbu jinten dan rempah. Justru dari artikel perjalanan di internet aku mendapat jawaban. Seperti Islam yang masuk melalui pedagang Arab dan Persia, kuliner mereka pun banyak dipengaruhi kuliner Arab yang banyak menggunakan jinten dan rempah. 

Hampir pukul 10 malam saat kami selesai makan dumpling dan berpamitan pada pemilik kedai. Semakin malam jalanan sepanjang muslim quarter semakin ramai. Para penjual meneriakkan makanannya dan turis-turis menikmati jajanan dengan gembira. Mataku tinggal 5 watt, tetapi aku dan teman-teman malah tersesat menjauh dari arah pulang ke hostel. Tidak menemukan orang yang bisa berbahasa Inggris sehingga kami semakin susah menemukan jalan pulang. Menjelang jam 12 malam kami baru sampai hostel. Bukankah perjalanan tanpa pengalaman tersesat tidak akan seru?

Maka bersyukurlah bila kau tersesat dalam perjalanan.

***

The great mosque Xi’an
Masjid agung Xi’an. The great mosque!

Di sinilah kemudian aku berdiri esok harinya. The great mosque merupakan masjid tertua di Tiongkok. Lokasi masjid agung Xi’an berada di sekitar muslim quarter tidak jauh dari hostel tempatku menginap. Hari itu hari jum’at dan jama’ah sedang menunaikan sholat  jum’at di dalam masjid. Tidak hanya sebagai tempat ibadah umat muslim di kota Xi’an, The great mosque juga mengijinkan turis non muslim melihat-lihat areal masjid tapi tidak diperbolehkan ke bagian dalam masjid. 

Jamaah sholat Jum’at di Masjid Agung Xian

Saat melihat berkeliling, aku menemukan catatan pada bagian interior masjid yang menyebutkan bahwa masjid ini didirikan pada tahun 742 masehi atau 13 abad yang lalu. Meskipun telah berumur lebih dari 1000 tahun dan menjadi salah satu warisan sejarah Tiongkok, masjid ini terjaga dengan baik keasliannya. Sekilas bangunan masjid ini tampak menyerupai kelenteng dengan halaman dan pavilion-pavilion. Namun saat aku melihat lebih cermat tampak kaligrafi Al-Quran di setiap bangunan. Taman dan kolam yang berada di halaman masjid tampak unik dan kuno. 

Gapura Masjid Agung Xian

 
Duduk di halaman sambil memandang ke arah masjid, aku termenung. Pada masanya, pedagang-pedagang dari Arab dan Persia yang melawati jalur sutra menyebarkan Islam ke kota ini.  Sebagian dari mereka menikah dengan suku Hui yang mendiami wilayah ini dan Islam kemudian berkembang di sini. Rentang waktu seribu tahun kemudian, aku duduk di halaman masjid ini dan memiliki iman yang sama dengan mereka.  Pendar cahaya masih menyala di masjid tua ini dan menerangi perjalanan orang-orang yang mencari.  

Jama’ah sholat jumat keluar dari masjid. Mereka mengenakan baju koko dan kopyah, sebagian besar sudah berusia lanjut dan tampak ramah. Salah satu orang menghampiri kami dan bicara dengan bahasa yang tidak kami pahami. Lagi-lagi aku menyesal karena tidak bisa bahasa Mandarin atau Arab sehingga tidak bisa berkomunikasi dengan para jama’ah.

“Malaysia?” tanyanya.

Aku menggeleng dan segera paham bahwa beliau ingin tahu kami dari negara mana. “Indonesia,” jawabku.

“Ahhh, Indonesi. Soekarno…ha?”


Aku mengangguk-angguk senang. Bapak berkopyah putih itu mengeluarkan  uang kertas Indonesia dari berbagai zaman dan menunjukkan pada kami. Wow! Rupanya beliau mengoleksi uang kertas Indonesia. Beliau menunjuk-nunjuk uang kertas itu sambil menggunakan bahasa isyarat bahwa beliau pernah ke Indonesia.  

Bapak baik hati yang terkesan dengan Presiden RI Pertama

 
Setelah menemani keliling masjid sebentar, bapak itu mengantarkan kami ke tempat sholat wanita. Aku berpikir kami akan sholat di dalam komplek masjid tetapi ternyata tempat sholat wanita ada di bagian lain. Beliau mengantar kami ke sebuah rumah di dalam gang tidak jauh dari masjid yang dijadikan tempat sholat wanita.  Tampak seorang wanita berjilbab menyambut kami dengan bahasa mandarin. Bapak itu kemudian berpamitan pada kami.

“Hurry up!” seorang gadis berjilbab yang fasih berbahasa Inggris menjelaskan pada kami bahwa tempat ini akan segera tutup dan wanita berjilbab yang menjaga masjid itu akan segera pulang. Gadis manis itu ternyata berasal dari Malaysia.

 
 Gadis itu memberi tahu kami tempat meletakkan sendal dan membantu kami membuka keran air wudhu. Setelah berwudhu kami segera naik ke lantai atas. Meskipun seperti rumah yang difungsikan sebagai tempat sholat, tetapi bersih dan nyaman. Seperti di Indonesia, tersedia mukena bersih dan sajadah. Beberapa Al-qur’an juga tampak berjajar di rak mungil sudut ruangan.

Allahhu akbar!

 
Bersujud di tempat asing yang jauh dari tanah air membuat mataku memanas. Buliran air mata membasahi pipiku. Allah memberi kesempatan aku ke tempat ini, bertemu dengan saudara seiman di negeri lain agar aku tetap istiqomah di jalan-Nya.  Kami memang berbeda warna kulit dan bahasa. Tapi iman kami sama. Tersenyum, tertawa, menangis dan mencintai dengan cara yang sama. Cahaya Allah terang benderang, menerangi hati yang gelap dalam pencarian. 

Wanita berjilbab yang menunggu kami di bawah tersenyum begitu kami menuruni undakan selesai shalat. Ia mengunci pintu begitu kami keluar dari mushala itu. Aku dan teman-teman mengikuti langkahnya menyusuri gang. Wanita itu dengan bahasa isyarat menawari kami mampir, tetapi karena hari mulai gelap kami memutuskan untuk kembali ke hostel.

“Xie…xie…terima kasih,” kataku.

Di persimpangan jalan setelah saling berpelukan kami mengucap salam dan berpisah.

***

Saya di depan pintu masuk menuju tembok kota Xian
 

Sejuk air wudhu masih terasa di wajahku saat aku masuk ke kedai mie di pinggir jalan. Kedai kecil yang bersih dan terdapat tulisan halal di pintu masuknya itu tampak hangat dan nyaman. Beberapa orang lokal dan turis duduk menikmati semangkok mie sambil berbincang. Tampak di ujung meja, seorang kakek-kakek sedang asyik berbincang dengan cucu laki-lakinya yang baru berumur sepuluh tahun. Sesekali tampak sang kakek menyuapkan mie ke mulut cucunya. Aku memilih duduk di pojok untuk bisa mengamati keseluruhan pengunjung kedai.

“Eat? Eat?” seorang remaja laki-laki mengenakan celana jeans dan kaos serta kopyah putih menghampiriku dengan malu-malu. Wajahnya imut-imut dan kedua pipinya tampak kemerahan.

“Speak english?” tanyaku yang disambut gelengan kepala sambil tertawa kecil. Dia melanjutkan bicara dalam bahasa mandarin dan aku giliran yang tidak paham.

Seperti  kemarin, kami memesan makanan dengan cara menunjuk makanan di meja seorang pembeli. Ia memahami apa yang kami maksud sambil tersenyum malu-malu lalu pergi meracik mie kami.

“Negeri ini hebat ya, memiliki banyak peninggalan masa lalu yang luar biasa,” kata temanku sambil menerima minuman botol berwarna kuning yang dipesannya. Baru tiga hari di Xi’an kami jatuh cinta pada minuman ini.

 
Temanku benar, banyak warisan budaya masa lalu yang hebat di negeri ini. Tadi pagi sebelum ke masjid agung Xi’an kami mengunjungi teraccota wariors. Sebuah museum yang berisi kumpulan koleksi dari 8000 lebih patung berbetuk prajurit dan kuda dengan ukuran asli yang terletak di dekat makam Kaisar pertama dinasti Qin, Qin Shi Huang. Patung-patung itu dibuat sekitar 210-209 SM untuk mengawal patung Kaisar pertama China, Qin Shi Huang.

“Selain budaya masa lalu yang hebat bertahan sampai ribuan tahun, aku yakin juga karena peninggalan itu dijaga dengan baik,” tambah seorang teman yang lain.“Benar sekali! Banyak tempat memiliki peninggalan masa lalu yang hebat,  sayangnya tidak semua bisa menjaganya dengan baik,” aku menyimpulkan.Mie pesanan kami datang. Aku menelan ludah melihat mie hangat mengepul di hadapanku. Kami segera menikmati mie khas Xian dengan lahap.

***

Malam merambat pelan saat aku dan teman-teman menyusuri jalanan kota Xi’an.  Tampak tembok kota Xi’an berdiri kokoh dan megah di depan sana. Lentera berwarna merah menyala di atas tembok. Aku berhenti dan menatap kejauhan. Kota ini menyimpan kemasyuran masa lalu yang luar biasa. Museum tentara teraccota yang mengagumkan, Bell Tower, tembok tua yang berdiri kokoh mengelilingi kota dan tujuan utamaku ke sini ; The Great Mosque yang sudah berumur 1000 tahun lebih. Semua kejayaan masa lalu itu terjaga dengan baik seolah membawa pengunjungnya menembus waktu kembali ke masa lampau. Aku kembali berjalan menyusuri kota. Lentera merah di atas tembok kota masih menyala.  Berkedip-kedip di kejauhan. Tetapi ada cahaya lain yang menyusup ke dadaku.

1000 tahun cahaya dari masjid agung Xi’an.

***
(artikel ini ada dalam buku saya “Keliling Asia, Memburu Cahaya” yang tersedia di seluruh toko buku Gramedia dan toko buku online)

Cambodia, Siem Reap : Berburu Matahari Di Angkor Archaelogical Park

“Sebagian orang lebih mudah jatuh cinta pada masa lalu daripada masa kini “
 

Mengunjungi Siem Reap, Kamboja, kita diajak kembali ke masa lalu yang eksotis. Kota yang tenang, kendaraan yang hanya didominasi tuk-tuk (becak motor), penduduk lokal yang ramah dan murah senyum serta kondisi jalanan yang jauh dari kemacetan. Kamboja membawa para pelancong untuk sejenak melupakan kepelikan dunia modern dan mengagumi keindahan masa lalu melalui arsitektur candi-candi Hindu-Budha yang indah dan megah.  Tertarik kembali ke masa lalu? 

ANGKOR NATIONAL MUSEUM

Saya memasuki Siem Reap setelah menempuh perjalanan 6 jam menggunakan bus pagi dari Phnom Penh. Dengan membayar biaya 9$ atau sekitar Rp. 121.000 (kurs rupiah Agustus 2015) saya mendapatkan bus biasa yang banyak ditumpangi orang lokal. Bus berhenti empat kali di rest area untuk makan dan ke toilet. Meskipun fasilitas yang disediakan bus hanya AC, tetapi cukup nyaman untuk melakukan perjalanan 6 jam. Tepat jam 3 sore saya tiba di Siem Reap. Jemputan tuk-tuk gratis dari hotel sudah menunggu saat saya turun dari bus.  Debu jalanan Siem Reap menyerbu saya saat tuk-tuk melaju menuju hotel. Tetapi jangan khawatir dengan debu, sopir tuk-tuk yang baik segera mencarikan masker untuk melindungi wajah dari debu jalanan. 

Menyebut kota Siem Reap kita akan selalu dihubungkan dengan kompleks Angkor Wat.  Angkor sendiri berarti kota suci atau ibu kota. Sementara Khmer adalah komunitas etnik terbanyak pada masa Kamboja kuno maupun modern.  Angkor merupakan ibukota kerajaan Khmer di Kamboja pada era abad 9 hingga 12 Masehi.  Saya menyempatkan diri mengunjungi Angkor National Museum dengan tiket masuk USD 12 sebelum mengunjungi kompleks Angkor Wat esok paginya. 

 Angkor National Museum merupakan salah satu museum yang menceritakan sejarah Khmer secara informatif.  Dengan mengunjungi Angkor National Museum diharapkan kita bisa memahami keseluruhan situs yang ada di kawasan kompleks Angkor Wat secara menyeluruh.  Ruangan pertama yang saya masuki adalah Briefing Hall, suatu ruang teater dimana pengunjung disuguhi penjelasan tentang museum. Setelah menonton film singkat di Briefing Hall, saya mengunjungi galeri selanjutnya.

Angkor National Museum memiliki 7 galeri dan 1 galeri ekslusif. Galeri pertama yaitu Galeri of 1000 Budha Images yang berisi koleksi patung Budha dari berbagai zaman. Sebagian besar memperlihatkan Buddha bermeditasi dengan dinaungi naga. Galeri kedua yaitu galeri A: Khmer Civilization. Galeri dengan tagline ‘the Origin of Khmer Empire’ ini menceritakan masa kerajaan Khmer dengan pembagian periode sejak zaman pre-Angkorian, Angkorian dan post-Angkorian. 
 Galeri ketiga adalah Gallery B: Religion and Beliefs. Sesuai namanya, galeri dengan tagline ‘the Reflection of Khmer’s Beliefs’ ini menjelaskan agama dan kepercayaan masyarakat Khmer yang berpengaruh pada semua aspek kehidupan mereka, lengkap dengan legenda dan cerita rakyat yang memotivasi peradaban Angkor selama berabad-abad. Galeri keempat, Gallery C: the Great Khmer Kings yang berisi empat raja paling terkenal dalam sejarah Khmer dijabarkan secara mendalam. Mereka adalah Raja Jayawarman II yang menyatukan dua kerajaan Chenla, Raja Yasowarman I yang mendirikan Angkor sebagai ibukota kerajaan, Raja Suryawarman II yang membangun Angkor Wat sekitar tahun 1116-1145, dan Raja Jayawarman II yang membangun Angkor Thom pada periode 1181-1201. Galeri kelima, Gallery D: Angkor Wat. Di galeri yang mengusung tagline ‘the Heaven on Earth’ ini pengunjung akan disuguhi film singkat mengenai Angkor Wat, mulai dari sejarah, konsep spiritual, dan teknik arsitektur serta konstruksi Angkor Wat. 

Galeri keenam, Gallery E: Angkor Thom. Galeri ini berisi penjelasan pembangunan dan perluasan Angkor Thom. Tagline ‘the Pantheons of Spirit’ mungkin dipilih untuk menggambarkan bahwa Angkor Thom merupakan suatu mahakarya peradaban Khmer yang sudah mengenal teknik rekayasa engineering untuk kepentingan umum pada masanya. Galeri ketujuh adalah Gallery F: Story from Stones. ‘the Evidence of the Past’ tagline galeri ini mencoba memperlihatkan bahwa peradaban besar Angkor memang nyata pernah ada dari seluruh prasasti yang dikumpulkan di seantero Angkor. Galeri kedelapan, Gallery G: Ancient Costume. Disini kita bisa melihat busana, cara berpakaian, perhiasan, dan berbagai aksesoris penunjang pada setiap masa peradaban Khmer yang ditampilkan oleh dewa, dewi, dan Apasara dengan berbagai gaya dan ornament. Seperti pada peradaban lain di dunia, peradaban Khmer pun membedakan status bermasyarakat dari keindahan dan kerumitan perhiasan dan aksesoris yang dikenakan. 

Angkor National Museum sangat menarik dan informatif. Dengan pencahayaan yang artistik, pengunjung tidak akan bosan mempelajari sejarah besar yang ada di dalamnya. Mengunjungi Angkor National Museum sangat direkomendasikan sebelum berkeliling Angkor Archaelogical Park. Di samping penjelasan tertulis yang sempurna, disediakan pula audio tour guide yang bisa disewa dengan USD 3 dan tersedia dalam 7 pilihan bahasa yaitu Inggris, Jerman, Jepang, Korea, China, Thailand dan Perancis. Tetapi sayangnya pengunjung tidak diperbolehkan mengambil gambar bagian dalam museum. Pengunjung hanya diperbolehkan mengambil gambar di luar museum.
ANGKOR ARCHAELOGICAL PARK
Memasuki kawasan Angkor archaelogical park kita membayar 20$ untuk kunjungan sehari, 40$ untuk kunjungan 3 hari dan 60$ untuk kunjungan seminggu.  Hari berkunjung tidak harus sesuai tanggal pembelian tiket, tetapi ada masa berlaku dari tiket tersebut. Saya membeli tiket 40$ untuk kunjungan tiga hari. Terdapat photo diri pengunjung dalam tiket, tanda lubang jumlah hari berkunjung dan pemeriksaan tiket di pintu masuk setiap candi sehingga memperkecil kemungkinan pengunjung masuk tanpa tiket. 

Angkor archaelogical park memiliki banyak candi yang fotogenik dan eksotik untuk dikunjungi wisatawan. Angkot Wat merupakan candi paling terkenal yang dibangun pada awal abad ke 12 hingga pertengahan abad ke 12 pada masa pemerintahan Suryavarman II, periode Hindu. Terdiri dari tiga tingkatan candi, Angkot Wat memiliki lima mahkota lotus  dengan tower yang berdiri setinggi 65 meter.  Pengunjung dapat menaiki tower untuk melihat keseluruhan candi dari ketinggian.

  

Selain Angkot Wat yang sangat terkenal, candi yang paling banyak dikunjungi adalah Ta Prohm atau lebih dikenal sebagai candi Tomb Raider karena pernah digunakan sebagai lokasi syuting film Tomb Raider dengan bintang Angelina Jolie sebagai Lara Croft.  Keunikan Ta Prohm adalah akar-akar pohon besar yang berusia ratusan tahun menjalar diatas bangunan-bangunan candi. Tidak hanya itu, batang-batang pohon yang ada di Ta Prohm tampak berkilau saat tertimpa sinar matahari.  Candi lain yang tidak kalah menarik adalah Bayon. Candi yang dibangun pada masa pemerintahan Jayavarman VII ini merupakan candi Budha dengan 216 wajah. Setiap bangunan memiliki wajah yang berbeda-beda. Bagian dalam candi sendiri sangat besar dan memiliki banyak ruangan.

Jika kita tidak menyukai sesuatu yang terlalu mainstream dan touristik, jangan kuatir. Masih banyak candi eksotis yang bisa kita kunjungi seperti Angkor Thom,  Terrace of the Elephants, Preah Khan, Preah Neak Poan, Srah Srang yang merupakan tempat pemandian raja pada masa lalu dan candi-candi kecil lainnya yang tak kalah menarik.  Menghabiskan waktu di Angkor archaelogical park membuat kita diseret kembali ke masa lalu saat kerajaan Angkor ini berdiri dengan megahnya.
BERBURU MATAHARI

Selain wisata candi, para pemburu matahari akan dipuaskan dengan pemandangan sunset dan sunrise yang indah di Angkor archaelogical park ini. Pagi masih berkabut saat saya bersama ratusan orang berburu sunrise di kompleks Angkor Wat.  Berpuluh tuk-tuk yang mengantar wisatawan menuju Angkor Wat melaju seolah tak mau kehilangan kesempatan berburu matahari pagi. Angin sejuk dari kawasan hutan Angkor membelai wajah-wajah yang antusias. Begitu saya memasuki kawasan Angkor Wat untuk melihat sunrise, para pengunjung sudah berjubel memenuhi area depan kolam. Di depan kolam itulah pantulan sunrise dengan siluet Angkor Wat yang berdiri megah siap ditangkap ratusan kamera dari berbagai belahan dunia.

 Cahaya merah mulai menyebar di langit timur dan memantul di kolam depan Angkor Wat saat jarum jam menunjukkan pukul 6 pagi. Pengunjung terdiam menyaksikan matahari yang bangkit dari tidurnya dan menciptakan siluet yang menawan. Hanya terdengar jeklikan kamera untuk mengabadikan moment spesial itu. Perpaduan bangunan kuno yang eksotis dan kebesaran Tuhan bisa kita lihat dalam sunset Angkot Wat ini.

 

Tak hanya berburu sunrise yang mempesona di kawasan Angkor Wat, para pengunjung juga bisa menikmati sunset di Phnom Bakheng.  Candi ini dibangun di atas bukit Bakheng pada masa pemerintahan Jayavarman V, periode Hindu sekitar awal akhir abad 10 hingga awal abad 11.  Untuk mencapai candi ini memerlukan waktu sekitar 30 menit naik ke atas bukit. Dari atas Phnom Bakheng kita bisa menikmati pemandangan Angkor Wat dan danau Tonle Sap dari kejauhan, kota Siem Reap dari ketinggian. Tak hanya itu, kita juga bisa mengendarai gajah menyusuri bukit dengan membayar USD 20$. 

 

Karena lokasi Phnom Bakheng sedang diperbaharui, maka pengunjung yang menaiki candi untuk melihat sunset dibatasi hanya 300 orang.  Jika sudah mencapai kuota 300 orang, maka kita akan menunggu mereka yang turun untuk bisa naik ke atas candi. Pengunjung yang ingin menikmati sunset di lokasi Phnom Bakheng ini sangat banyak, maka disarankan datang lebih awal karena pada pukul 17.30, pintu naik ke atas bukit sudah ditutup. 

Tak kalah menawan dengan sunrise di Angkor Wat, sunset di Phnom Bakheng menciptakan pemandangan yang luar biasa. Matahari keemasan tenggelam di tengah kota Siem Reap dengan siluet candi yang eksotis membuat pengunjung merasa damai menikmati hari yang tersisa.  Rasanya ingin lebih lama berdiam di ketinggian sambil menikmati langit yang sebentar lagi bertabur bintang, namun saya harus segera turun. Petugas sebentar lagi akan mengusir para pengunjung untuk meninggalkan candi. Bukit sudah gelap dan binatang hutan mulai bersuara saat saya turun menyusuri bukit meninggalkan Phnom Bakheng.
OLD MARKET, NIGHT MARKET dan PUB STREET
Anda ingin berburu oleh-oleh atau menikmati kehidupan malam di Siem Reap? Di sini tempatnya. Old market berdekatan dengan pub street dan night market. Pada siang hari, wisatawan bisa berbelanja berbagai macam souvenir dan hasil kerajinan tangan Kamboja sementara malam harinya, night market dan pub street akan ramai dikunjungi orang untuk belanja, makan malam dan menikmati kehidupan malam.  Di sekitar tempat ini juga banyak kita temukan guesthouse, bar dan restoran dengan harga yang terjangkau.

Berbagai jenis souvenir khas kamboja dan oleh-oleh khas Kamboja dijual di area Old Market dengan harga yang bisa ditawar seperti Krama, kain khas Kamboja bermotif kotak-kotak atau garis-garis dan berbagai souvenir. Harga souvenir di Old Market lebih murah daripada jika anda belanja di night market. 

MAKANAN KHAS KAMBOJA
Tidak lengkap rasanya jika kita berkunjung ke suatu kota tanpa menikmati makanan khas mereka. Begitu juga makanan khas Kamboja yang nikmat. Saya mencoba beberapa makanan khas atau bisa disebut lauk pauk yang dimakan bersamaan dengan nasi. Restoran yang saya kunjungi merekomendasikan saya mencoba Amok, Cem Cemerik dan Lok Lak.  Amok terbuat dari ikan yang dipepes, sementara Cem Cemerik terbuat dari seafood dan Lok Lak dari daging bumbu kari. Ada satu menu yang sangat terkenal di salah satu restoran muslim yaitu Beef Climbing Mountain. Menu ini banyak diburu para pandatang muslim karena penasaran. Hampir mirip dengan Lok Lak, Beef Climbing Mountain terbuat dari daging yang dimasak dengan sayuran. Nama unik ini berasal dari pemilik restoran Malaysia untuk mengundang pengunjung datang ke restoran.

Mengunjungi Kamboja seolah kembali ke masa lalu yang eksotis, agung dan megah. Jika anda menyukai hal-hal yang beraroma masa lalu dan wisata sejarah, Kamboja adalah tempat yang tepat. Tunggu apa lagi? Let’s go!

“Takayama Jepang” Nuansa Samurai Di Kota 9 To 5


“Travel brings power and love back into your life.”  – Rumi
Kota Takayama
Jika anda memasuki kota Takayama setelah mengunjungi Tokyo yang glamour, sibuk dan sangat ramai, maka Takayama akan menjadi dunia yang sangat berbeda. Tapi di sanalah serunya kota ini!
Berangkat Sekolah
PERJALANAN MENUJU TAKAYAMA
Setelah mengunjungi Osaka, Tokyo dan Kyoto, saya bersama dua orang teman dari Indonesia memutuskan mampir ke kota kecil Takayama sebelum kembali ke tanah air. Kami memesan tiket bus melalui internet dan bus akan melewati halte tepat jam 8 pagi esok harinya. Pemesanan bus di internet sudah termasuk paket hostel dan paket wisata ke Shirakawa go. 
Bus yang membawa kami ke Takayama
Jepang terkenal dengan kediplinannya, maka jangan sampai datang di halte lewat semenit saja dari jam 8 pagi. Pagi-pagi buta kami sudah packing dan naik turun subway agar sampai di halte sebelum jam delapan. Kami membayangkan akan banyak penumpang yang bersama kami menuju Takayama. Tetapi tepat jam 8 pagi, sebuah bus tingkat tanpa penumpang berhenti di halte.  Apa benar ini bus yang kami pesan? Kenapa kosong? Sopir bus turun dan menyapa kami dalam bahasa Jepang. Teman saya menunjukkan tiketnya dan ternyata benar, bus tingkat ini bus yang akan membawa kami  ke Takayama. Sopir bus mengatakan penumpangnya hanya empat dan kami dipersilakan memilih tempat duduk di mana saja.  Kami memilih duduk di tingkat atas, sementara satu penumpang lagi di bawah. 
Perjalanan Menuju Takayama
Perjalanan dari Kyoto menuju Takayama memerlukan waktu empat jam. Sepanjang perjalanan, saya sengaja tidak tidur karena sayang melewatkan pemandangan yang kami lalui. Setelah melewati kota-kota kecil, jalan tol panjang yang menembus pegunungan, dan istirahat di rest area selama setengah jam, tepat jam 12 siang kemudian kami memasuki kota kecil Takayama. 
Menurut wikipedia, Takayama adalah sebuah kota benteng yang berada di Prefektur Gifu. Pegunungan mengelilingi Takayama sehingga suasana asri dan sejuk akan menyelimuti kota ini. Itulah bayangan saya. Tetapi Takayama sangat berbeda dengan bayangan saya.  Takayama sangat panas di bulan Mei. Bahkan Kyoto jauh lebih sejuk dibanding Takayama. Tidak hanya panas, Takayama juga sepi. Tidak banyak orang muda melintas di jalanan, kami hanya menemukan para manula beraktivitas. Saya mulai ragu, apa yang akan saya temukan di kota kecil ini?
Memasuki Kota Takayama
Udara yang sangat panas membuat kami kelelahan dan memutuskan istirahat sebentar di hostel sebelum menjelajah Takayama. Seorang teman dari Belgium mengatakan Takayama akan habis dijelajahi dalam satu jam dan kota kecil ini sangat cantik. Tetapi kota ini hanya terlihat aktif mulai jam 9 pagi hingga jam 5 sore. Benarkah? Kami mulai penasaran akan menemukan sesuatu yang cantik di sini. Maka, saat matahari tak lagi garang, bersama satu orang teman baru dari Malaysia, kami mulai menjelajah Takayama.
NUANSA SAMURAI dan KOTA NINE TO FIVE
Kota Takayama yang cantik dan tenang
Meski matahari sudah tidak garang, tetapi udara masih panas saat kami mulai menyusuri kota kecil Takayama. Ada beberapa pilihan menjelajahi kota ini yaitu dengan naik sepeda atau bus dari stasiun. Tapi kami lebih suka jalan kaki agar bisa memotret apa saja yang kami lalui. 
Nuansa Samurai Takayama

 

Jepang selalu identik dengan era Samurai. Di kota tua Takayama ini, kami masih bisa merasakan nuansa Samurai itu. Selama periode Edo, Takayama dipertahankan sebagai kota budaya dan dagang. Kami bisa melihat budaya yang masih terus dipertahankan di kota ini, salah satunya saat kami mengunjungi jalan Sannomachi. Di sepanjang jalan ini tampak rumah dan bangunan kuno yang masih dipertahankan bentuknya sejak periode Edo. Hampir seluruh bangunan itu terbuat dari kayu dan pengunjung diperbolehkan masuk untuk melihat-lihat ke dalam bangunan tersebut. Selain dipertahankan sebagai rumah tinggal, bangunan kuno itu juga dipergunakan sebagai toko souvenir, restoran atau tempat penginapan khas Jepang yang disebut ryokan.
Kafe Cantik
Saya menemukan kafé-kafé cantik yang bisa digunakan untuk bersantai menikmati kota tua Takayama, tetapi sayang kafé ini hanya buka sampai jam 5 sore. Dan benar kata teman dari Belgium itu, kota ini hanya aktif mulai jam 9 pagi hingga jam 5 sore. Ketika kami kembali ke hostel jam tujuh malam, suasana sangat sepi. Tidak ada hiburan malam di kota ini.  Menurut saya kota ini memang sangat cocok untuk manula karena ketenangannya. Saya jadi membayangkan kalau saya warga Jepang, saya akan menghabiskan masa tua di kota ini.
Morning Market

Esoknya, di sudut kota Takayama kami menemukan pasar yang buka pada jam 6 pagi. Banyak wisatawan berkunjung ke pasar pagi ini. Pasar ini buka hingga pukul 12 siang dan menjual berbagai barang seperti makanan, sayur mayur, buah-buahan, souvenir hingga alat-alat rumah tangga. Yang paling mengesankan buat saya di sini saat disapa laki laki jangkung  sambil tersenyum ramah,” Assalamu’alaikum.”
Penjual di morning market
SHIRAKAWA GO
Shiroyama Point
Setelah menjelajah kota tua Takayama, esoknya kami mengunjungi Shirakawa go, salah satu situs warisan dunia yang terletak di lembah sungai Shokawa. Daerah ini pada zaman dahulu terisolasi karena lokasinya berada di tengah pegunungan. Tetapi saat ini jalan toll dan highway sudah menghubungkan Shirakawa go dan desa-desa sekitarnya. Jalan menuju Shirakawa go memang melewati pegunungan, tetapi pegunungan itu telah ditembus sehingga tercipta tunnel-tunnel jalan toll menembus pegunungan.  Perjalanan dari Takayama sampai Shirakawa go memerlukan waktu sekitar satu jam.
Ada satu spot terbaik untuk melihat Shirakawa go yaitu dari desa Shiroyama. Dari Shiroyama ini kita bisa melihat keseluruhan pemandangan Shirakawa go yang menawan. Dari kejauhan, pedesaan ini nyaris sama dengan pemandangan pedesaan di film-film klasik Jepang. Asri, sejuk dan cantik. Kami benar-benar tak sabar untuk segera tiba di sana.
Desa Ogimachi
Desa Ogimachi adalah desa terbesar di Shirakawa go. Kami memerlukan waktu sekitar satu jam untuk mengelilingi desa yang cantik ini. Di kelilingi pegunungan yang lebat, rumah-rumah tradisional yang bercirikan atap miring tampak unik dan kokoh. Kontruksi ini juga sangat kuat untuk berlindung pada musim salju. Terdiri dari tiga sampai empat tingkat, rumah-rumah tradisional ini cukup untuk tempat satu keluarga besar. Desa ini benar-benar seperti surga dunia. Airnya yang bening, bunga-bunga yang indah, ikan-ikan yang berkeliaran di saluran air dan udara yang sejuk.  Yang paling menarik bagi saya adalah kulkas alami yang ada di setiap depan rumah. Minuman-minuman di botol ditaruh di ember penuh air dingin. Saat kita mengambil botol minuman itu dinginnya sama seperti saat kita mengambilnya dari kulkas.
Kulkas alami
Wisatawan bisa memasuki rumah-rumah tradisional ini dan minum teh atau sake yang sudah disiapkan oleh penjaga rumah yang ramah. Bahkan kami bisa naik ke bagian rumah paling atas untuk melihat benda-benda kuno yang ada di dalam rumah tersebut. Shirakawa go benar-benar pedesaan yang bertahan dari gempuran modernisasi yang ada di sekelilingnya.
Pemandangan dari dalam rumah tradisional
OLEH-OLEH DARI TAKAYAMA
Kue-kue lucu Takayama
Selain souvenir, kerajinan tangan dan makanan khas Takayama, yang paling terkenal dari Takayama adalah boneka Sarubobo. Boneka ini khas Takayama dan tidak ada di tempat lain di Jepang. Boneka ini memang agak aneh, tidak memiliki pancaindera di wajahnya dan kalau diperhatikan agak menakutkan.  Menurut cerita setempat, boneka ini dibuat seorang nenek untuk cucunya agar mendapatkan kebahagiaan dalam menjalani hidupnya kelak. 
Sarubobo I love you
Menurut travel guide kami, boneka ini dahulu hanya dibuat dalam satu warna saja yaitu warna merah, namun sekarang terdiri dari berbagai warna yang dari masing-masing warna itu memiliki arti sendiri. Misalnya warna merah yang berarti keberuntungan dari pernikahan dan kelahiran. Warna biru yang berarti keberuntungan di tempat kerja, warna pink untuk percintaan, warna hijau untuk kesehatan, warna kuning untuk rezeki yang baik dan warna hitam untuk membuang kesialan. Boneka ini banyak tersedia di toko-toko seluruh Takayama dan menurut saya oleh-oleh paling khas yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. 
Takayama, satu kota di Jepang yang membuat saya ingin kembali ke sana. 🙂

Bali : Berkeliling Danau Batur, Mengunjungi Kuburan TRUNYAN



“Wherever you go, go with all your heart” – Confusius

 

Tengkorak di kuburan Trunyan


Apa yang ingin anda kunjungi di Bali?  Pantai, gunung, menikmati tradisi yang eksotis, duduk bersantai di kafe sambil ngobrol bersama teman, atau memanjakan diri di spa? Kalau semua itu sudah anda lakukan di Bali, coba hal lain yang lebih menantang dan berpetualang. Saya jamin, liburan anda pasti lebih seru! Apakah sesuatu yang lebih menantang dan berpetualang itu? Berkeliling Danau Batur menggunakan sepeda motor dan mengunjungi kuburan Trunyan. Mau coba? Ada baiknya anda menyimak perjalanan saya beberapa waktu lalu mengelilingi danau Batur dan mengunjungi kuburan Trunyan.

DANAU BATUR YANG CANTIK
 

Danau Batur

 

Danau Batur merupakan danau terbesar di Bali, terletak di kecamatan Kintamani Bangli, 65 kilometer dari Denpasar. Danau Batur merupakan danau terbesar di Bali yang juga telah ditetapkan sebagai Global Geofark Network atau taman Bumi oleh Unesco. Artinya kawasan danau Batur menjadi taman bumi pertama pertama yang ditetapkan secara resmi oleh Unesco.

Danau Batur

Untuk mencapai tempat ini, anda bisa menyewa mobil dari kawasan Kuta dengan biaya kisaran 400-500 ribu perhari atau menyewa sepeda motor dengan biaya sekitar 50 ribu perhari. Jika perjalanan lancar hanya membutuhkan waktu dua jam dari Denpasar, namun terkadang jalur menuju Kintamani sangat padat sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama. Saya lebih suka menggunakan sepeda motor karena petualangan akan terasa lebih seru.

Asyiknya bersepeda motor mengelilingi Danau Batur

Beberapa waktu lalu, citra buruk melekat pada wisata danau Batur sehingga wisatawan enggan menikmati danau Batur lebih dekat karena pengemudi seringkali menghentikan perahu di tengah danau dan akan melanjutkan perjalanan jika wisatawan mau membayar sejumlah uang yang diminta pengemudi. Tetapi kondisi sekarang sudah semakin membaik. Meskipun awalnya saya agak ragu, tetapi saya memutuskan untuk menikmati danau Batur lebih dekat.

 

Jalan curam di sekeliling danau Batur

Pemandangan danau Batur dari Kintamani tampak mempesona. Gunung Batur yang menjulang menaungi danau Batur dibawahnya. Wisatawan bisa menikmati pemandangan indah ini sambil duduk bersantai di areal public yang tersedia sambil menikmati makanan kecil. Tetapi saya tidak puas hanya menikmati danau Batur dari ketinggian Kintamani. Saya bersama beberapa teman memutuskan untuk membawa motor turun mendekati danau.  Menyusuri jalanan menurun yang berkelok-kelok, pemandangan danau Batur semakin mempesona dari dekat. Beberapa orang menawari kami menyeberang ke desa Trunyan dengan biaya 800 ribu per kapal, tetapi saya masih ragu untuk menyeberang mengingat kisah-kisah buruk yang pernah saya baca di media. 
 

Memancing di tepi danau

 

Saat kami istirahat di pinggir danau dan menikmati pemandangan tiba-tiba seorang lelaki mendekati kami dan menawarkan perahu untuk menyeberang ke desa Trunyan dengan harga murah. Hanya 400 ribu perkapal! Benarkah? Saya mulai tergoda karena memang sejak lama saya ingin menyeberang ke desa Trunyan. Seorang teman asli Bali kemudian menawar harga itu dan lelaki itu memberi kami harga baru 300 ribu perkapal! Wah, murah sekali! Sayang sekali kalau sudah sampai di sini tapi tidak mampir ke kuburan Trunyan, kan? Saya memutuskan mengambil tawaran itu. Dan kami dikasih aba-aba untuk mengikuti motor lelaki kekar itu.

Desa Trunyan

Kami naik turun bukit di pinggiran danau Batur mengikuti lelaki itu. Pemandangan di sepanjang perjalanan menakjubkan. Hingga kami memasuki batas desa Trunyan, lelaki itu tak juga berhenti. Kami mulai curiga dan was-was kira-kira kami akan dibawa kemana? Apakah karena hanya membayar 300 ribu maka kami dibawa ke perkampungan paling dekat untuk menyeberang ke kuburan Trunyan? Tapi saya justru menikmati perjalanan mengelilingi danau Batur dengan mengendarai motor. Hingga motor lelaki itu melewati pura di pinggir danau Batur dan berhenti di perkampungan paling dekat dengan kuburan Trunyan. Dua orang wisatawan dari Jakarta juga sedang menunggu di sana.

Tak lama perahu dengan tenaga kayuh manusia datang menjemput kami dan kami semakin yakin bahwa kuburan Trunyan tinggal dekat saja. Benar, hanya 15 menit kami naik perahu sudah sampai ke kuburan Trunyan.

KUBURAN TRUNYAN

Welcome to Kuburan Trunyan

 

Desa Trunyan terkenal dengan pemakamannya yang unik. Tidak seperti masyarakat Bali lainnya yang melakukan ngaben untuk jenazah, tetapi warga desa Trunyan meletakkan jenazah di satu area berundak di bawah pohon Taru Menyan. Pohon  besar yang menjulurkan akar-akarnya ini menguarkan bau wangi sehingga mayat yang diletakkan dibawahnya tidak berbau.

Pohon Taru Menyan

Untuk mencapai kuburan Trunyan, pengunjung bisa melalui akses jalur darat sekitar 45 menit dari jalur Panelokan seperti yang saya lakukan lalu dilanjutkan bersampan sekitar 15 menit, atau menyewa boat di dermaga Kedisan yang memerlukan waktu sekitar 45 menit menyeberangi danau Batur. Memasuki areal kuburan, kita akan melihat pemandangan yang mengerikan. Tengkorak yang berjejer di atas undakan, mayat-mayat yang berbaring di ancak saji (kurungan bambu berbentuk segitiga sama kaki), koin-koin bertebaran, baju-baju jenazah yang dibawakan oleh keluarganya sebagian terkubur di tanah dan tulang belulang yang berserakan di atas tanah. Saya beruntung karena ada jenazah yang baru di tempatkan di salah satu ancak saji dan kondisinya masih utuh. Wisatawan bebas mengambil foto di area ini bahkan menyentuh tengkorak-tengkorak yang berjejer di undakan.

Jenazah dalam ancak saji dan barang yang dibawakan dari rumah
Tidak semua jenazah dikuburkan di pekuburan Trunyan. Mereka yang dikuburkan di bawah pohon Taru Menyan adalah mereka yang meninggal secara wajar. Sedangkan mereka yang meninggal karena kecelakaan, dibunuh dan bunuh diri akan dikuburkan di lokasi berbeda yang bernama Sema Bantas. Sedangkan jenazah anak-anak dan bujangan dikuburkan di Sema Muda.
Ancak saji (kurungan bambu berbentuk segitiga sama kaki) hanya berjumlah 11. Jika ada yang meninggal maka salah satu jenazah yang sudah menjadi tulang akan digeser untuk diisi dengan jenazah baru. Di depan ancak saji terdapat foto jenazah, piring, baju, perhiasan, sapu tangan milik jenazah. Kuburan Trunyan ini melengkapi kekayaan wisata Kintamani, Danau Batur yang indah sekaligus menyimpan tradisi yang unik.  Jangan sampai anda lewatkan saat berkunjung ke Bali.

 

Jepang: Keindahan Masa Lalu Dan Masa Kini


“Travel is the only thing you buy, that makes you richer”

Jepang menawarkan ragam wisata yang menarik bagi wisatawan.  Jika anda penggemar hal-hal yang berbau klasik dan eksotis dari masa lalu anda bisa mengunjungi wisata-wisata klasik bernuansa Samurai dari periode Edo yang masih dipertahankan keasliannya. Tetapi jika anda menyukai wisata modern dan futuristik, anda juga bisa mengunjungi tempat-tempat wisata yang menawarkan hal-hal berbau futuristik dan glamour masa kini. Jadi anda ingin mengunjungi yang mana? Jepang memiliki keduanya.

OSAKA

Saat saya mengunjungi Jepang beberapa bulan lalu, saya memutuskan untuk mengambil penerbangan Jakarta- Osaka (Kansai) dan menikmati Osaka beberapa hari sebelum melanjutkan perjalanan ke kota lain menggunakan bus malam. Osaka memiliki tempat-tempat menarik baik yang klasik maupun modern. Saya membeli one day pass (Amazing Osaka Pass) di Kansai Airport sebelum berkeliling Osaka. Kelebihan one day pass (Amazing Osaka Pass) ini, dengan membeli seharga 2300 Yen, kita sudah bisa berkeliling seharian menggunakan bus dengan nomor tertentu dan masuk beberapa tempat wisata tanpa membayar lagi.
Osaka dari ketinggian

Dengan panduan peta Osaka, saya bersama dua teman dari Indonesia siap menjelajah Osaka.  Sepanjang sisi jalan yang saya telusuri, saya menemukan bangunan-bangunan menjulang dan kota yang sangat modern. Orang-orang lalu lalang menggunakan sepeda dan sebagian bersantai di areal public yang luas sambil membaca buku. Kami memasuki stasiun dan mencari jalan terdekat menuju Hep Five Ferris Wheel. 
Hep Five Ferris Wheel
Hep Five Ferris Wheel adalah sebuah bianglala di atas gedung tinggi. Dari puncaknya kita bisa menyaksikan keseluruhan kota Osaka. Saya sebenarnya paranoid terhadap ketinggian, tetapi sayang rasanya melewatkan bianglala ini. Hep Five Ferris Wheel dibangun sejak Desember 1998 setinggi 106 meter dengan waktu putar 15 menit. Memandangi kota Osaka menjelang sore dari ketinggian 106 meter sungguh menakjubkan. Gedung-gedung tinggi menjulang memenuhi langit, seolah menjadi simbol modernisasi. Setelah 15 menit putaran itu selesai, saya turun dari bianglala itu dengan gemetar. Tapi juga takjub karena saya bisa menaklukkan ketakutan saya.
Parit yang mengelilingi Osaka Castle

Tujuan selanjutnya adalah Osaka Castle. Berbeda dengan pemandangan yang saya temukan dari ketinggian  Hep Five Ferris Wheel yang sangat modern, Osaka Castle menawarkan pemandangan negeri dongeng dari masa lalu. Kastel yang memiliki arsitektur khas istana Jepang ini berbentuk seperti piramida dan dikelilingi oleh perairan atau parit besar. Fungsinya sekarang sebagai museum yang menyimpan bukti-bukti sejarah pembangunan kastel Osaka.
Osaka Minami

 Dari Osaka Castel hari sudah menjelang malam. Kami melanjutkan perjalanan ke  Minami untuk naik  Tombori River Cruise.  Setelah semua penumpang naik kapal, kami kemudian menyusuri Minami. Sepanjang pinggir sungai kami melihat  restoran, hotel dan tempat  belanja. Perjalanan hanya memakan waktu sekitar duapuluh menit dengan guide yang  kocak. Yang menarik dari tour singkat Tombori River Cruise ini buat saya adalah sepanjang perjalanan kami  melambaikan tangan ke setiap orang ditepian sungai meskipun kami tidak  kenal. Mereka juga balas melambai dengan suka cita. Menurut saya ini bagian yang paling menarik dari tour ini. Keramahan dari orang-orang yang tidak saling mengenal untuk menyapa dan bertukar senyuman.

KYOTO

Jika anda menyukai eksotisme masa lalu seperti saya, maka Kyoto-lah tempatnya. Kyoto merupakan kota kuno yang kaya dengan sejarah masa lalu yang masih dipertahankan hingga sekarang. Dengan berbekal peta dan kartu tranfortasi pasmo, saya dan teman-teman mulai menjelajah Kyoto. 

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Kiyomizudera Temple. Jalanan menuju kuil yang berada di atas bukit itu memang menanjak tetapi  masih bisa ditempuh segala umur. Kiyomizudera temple dibangun dengan kayu yang tidak lapuk meski umurnya sudah lebih dari seribu tahun dan berada diatas bukit dengan pemandangan yang bagus. Dari dalam kuil kita bisa memandang kota Kyoto di kejauhan. Di sekeliling kuil juga terdapat taman Jepang dan kolam-kolam jernih yang didalamnya terdapat ikan warna-warni. Turun  dari Kiyomizudera Temple kita melewati Higashiyama district yang merupakan tempat jajaran kafe-kafe dan toko cinderamata khas Jepang. Tempat ini sangat ramai, tetapi teratur dan menarik untuk berbelanja.

Tujuan berikutnya adalah Sagano bamboo forest atau hutan bambu Sagano di Arashiyama pinggiran barat Kyoto. Hutan bambu Sagano merupakan situs alam yang menyenangkan sekaligus menenangkan. Kita bisa menikmati hutan bambu Sagano dengan berjalan kaki, naik becak yang ditarik manusia atau naik sepeda. Kami memasuki hutan dengan berjalan kaki. Jalan setapak dalam hutan bambu ini sekitar 200 meter dan jika anda haus selama perjalanan, jangan kuatir, kita bisa membeli minuman botol/kaleng di mesin minuman yang tersedia di sepanjang perjalanan. Tidak hanya hutan bambu, di sekitar Sagano bamboo forest ini juga terdapat kuil  Tenryu yang merupakan kuil Zen terbesar di Jepang. Jika kita terus berkeliling kita juga akan menemukan rumah-rumah tua khas Jepang dan  taman yang indah, dan pemandangan menakjubkan di tepi sungai. Sagano bamboo forest merupakan tempat yang tepat untuk menenangkan diri dan berdekatan dengan alam.

Fushimi Inari Taisha
Menjelang senja kami melanjutkan perjalanan ke Fushimi Inari Taisha. Berbeda dengan kuil lain di Jepang, Fushimi merupakan lorong panjang dengan deretan rapat Torii (dua batang palang sejajar yang disangga dua batang tiang vertikal)  berwarna oranye.   Kuil ini terletak di lereng gunung dan untuk mencapai kuil inti , pengunjung harus mendaki ratusan anak tangga dan jalan setapak yang dinaungi Torii warna oranye yang membentuk koridor indah.  Fushimi Inari merupakan kuil untuk Inari yaitu dewa kesuburan sebagai sumber kesuksesan. Menikmati Fushimi saat senja dan lampu mulai menyala sangat mengesankan. Bangunan dan torii berwarna oranye itu akan menyala tertimpa lampu dan memancarkan aura hangat yang menentramkan.

Buah di Nishiki market
Esoknya kami mengunjungi Nishiki Market dan Gion district. Nishiki Market terletak di jantung pusat perbelanjaan Kyoto. Pasar Nishiki menjual segala jenis makanan yang dikeringkan, buah-buahan, sayuran, seafood segar juga yang sudah diawetkan, serta teh khas Jepang. Pasar Nishiki sangat teratur dan rapi. Tidak hanya untuk belanja, pasar ini juga menjadi tempat yang sangat menarik untuk para wisatawan untuk berwisata kuliner dan membeli oleh-oleh.
Tempat yang paling ingin saya kunjungi di Kyoto adalah Gion distric. Gion merupakan tempat yang sangat terkenal karena kebanyakan Geisha berada di sana. Sebagai pekerja seni mereka bekerja di restoran dan rumah teh yang ada di sekitaran Gion. Tetapi sayang, harusnya saya mengunjungi Gion pada waktu malam hari sehingga bisa bertemu Geisha, karena pada sore hari belum banyak dari mereka yang terlihat. Tidak hanya Geisha yang menjadi daya pikat Gion district, tetapi deretan rumah-rumah kuno yang masih dipertahankan keasliannya dan masih terawat dengan baik sangat menarik untuk dijelajahi. Maka meskipun tidak bisa menikmati teh sambil melihat Geisha mempertunjukkan kemampuan seninya, saya cukup terhibur melihat salah satu dari mereka berjalan menyusuri jalan Hanami-koji di areal Gion.

Distric Gion

TOKYO

Dengan gedung-gedung tinggi yang menjulang ke langit, papan-papan iklan yang artistik dan glamour serta orang-orang yang mengenakan pakaian serba hitam berjalan tergesa-gesa, lengkaplah sudah pemandangan Tokyo sebagai kota modern, masa kini, sibuk dan glamour. Dan kota ini memang cocok untuk wisatawan penggemar tempat-tempat modern dan futuristik.
Toko di Harajuku

Tetapi jangan salah, kita juga bisa menemukan kuil Sensoji atau kuil Asakusa Kannon yang tampak tradisional di tengah semua kemodernan itu. Kuil Sensoji banyak dikunjungi wisatawan dan merupakan kuil tertua di Tokyo. Untuk memasuki kuil Sensoji pengunjung harus memasuki dua gerbang. Selain sebagai tempat ibadah, area Sensoji temple juga sebagai pemujaan arwah. Di jalan sekeliling Sensoji Temple kita bisa menemukan kafe-kafe, restoran dan tempat penjualan  cinderamata. Tempat favorit saya di Asakusa adalah rooftop gedung informasi di seberang kuil Sensoji. Dari tempat itu saya bisa melihat Asakusa dari ketinggian. Benar-benar pemandangan yang indah! Kita bisa melihat Sensoji temple, deretan pertokoan, kafe dan restoran, orang lalu lalang serta Tokyo Skytree di kejauhan.
 

Dari Asakusa kami melanjutkan perjalanan ke Harajuku yang terkenal dengan banyak remaja lalu lalang mengenakan dandanan aneh-aneh. Kami memasuki Takeshita-dori dan mulai menelusuri area itu. Kegiatan yang bisa dilakukan di Harajuku selain melihat penampilan para remaja berdandan aneh adalah berbelanja. Banyak butik-butik yang menjual pakaian ajaib ala Harajuku hingga yang biasa saja. Harga yang mereka tawarkan terjangkau. Bagi penyuka belanja mungkin Harajuku bisa menjadi tempat pilihan untuk berbelanja.

Pemandangan malam Tokyo dari Rainbow Brigge
Setelah menyusuri Harajuku, hari sudah malam. Tetapi kami masih memiliki satu wish list yaitu menyeberangi Rainbow Bridge pada waktu malam hari. Saya masih paranoid terhadap ketinggian, apalagi di bawah jembatan itu laut lepas, tetapi saya tidak mungkin menyia-nyiakan tantangan menarik ini. Begitu memasuki areal jembatan, malam begitu sepi mencekam, angin bertipu kencang, hanya ada satu dua orang lewat dan dibawah sana laut lepas tampak hitam pekat. Jembatan dengan panjang 580 meter ini menghubungkan Shibaura Pier dengan Odaiba. Sepertinya akan romantis kalau menyeberangi jembatan ini waktu sunset sambil melihat pemandangan kota Tokyo di kejauhan, bukan malam hari dengan angin kencang dan suasana mencekam seperti ini. Tetapi toh, pemandangan malam dari Rainbow Bridge cukup mengesankan. Lampu-lampu diatas jembatan dan kapal yang lalu lalang di lautan menyala dikejauhan, menyuguhkan pemandangan malam yang berbeda.

Hachiko Entrance
Esoknya kami menyempatkan diri menengok Hachiko yang ada di depan stasiun Shibuya. Tempat ini sangat ramai dan banyak wisatawan ingin bertemu dengan patung anjing Hachiko. Kesetiaan anjing Hachiko menunggui majikannya pulang hingga bertahun-tahun padahal majikannya telah meninggal membuat para wisatawan terharu dan antri berfoto dengan patungnya. Drama memang selalu memikat manusia, dimanapun mereka berada.

 

Pemakaman Jepang

Beberapa hari menikmati Tokyo yang sangat modern, seorang teman asli Jepang membawa kami berkeliling pinggiran Jepang, untuk melihat hal yang berbeda. Kami dibawa mengelilingi pemakaman Jepang juga kuil-kuil di pinggiran Tokyo yang bersejarah dan masih terawat dengan baik. Jepang membuat saya takjub melihat modernisasi dan tradisional yang bersinergi tanpa harus saling mematikan. Sinergi yang menciptakan keindahan. (end).

Mengingat Desember Di Macau Mosque & Cemetery (2)


Masjid itu memang satu komplek dengan pemakaman muslim. Tampak lengang dan tidak nampak seorangpun di sana. Aku dan Meidy melangkah menuju pelataran belakang masjid yang dekat dengan pemakaman dan menemukan seorang wanita berjilbab hitam panjang sedang menangis. Aku dan Meidy saling pandang lalu memutuskan untuk duduk di samping wanita itu tanpa bicara apapun. Saat dia mengangkat wajahnya, aku bisa mengenali bahwa dia orang Indonesia. Ia tersenyum padaku dan Meidy lalu mengusap air matanya.
Masjid Macau
“Teman saya dari Indonesia sakit dan meninggal.  Dia masuk Macau dengan ilegal. Saya berharap masih bisa dimakamkan di sini,” katanya.
“Sakit apa?”
“Demam tinggi,” jawabnya. “Inilah susahnya kalau ilegal, kalau nggak dapat ijin dimakamkan di sini, kemungkinan dia akan di kremasi.”
Rumah nenek Aisha
Dan ia menangis terisak-isak lagi. Adzan dhuhur berkumandang, tampak beberapa lelaki berwajah Indonesia memasuki masjid dan mbak jilbab hitam bangkit dari duduknya untuk mengambil wudhu. Ia sempat bertanya kami siapa dan berasal dari Indonesia mana. Dalam sekejab kami sudah akrab seperti layaknya saudara. Tak lama kamipun sholat berjamaah.
Aku, nenek Aisha dan si mbak
Usai sholat jama’ah, seorang nenek masuk ke dalam masjid. Si mbak memperkenalkan kami ke nenek yang berwajah chinese ini. Beliau seorang mualaf dan tinggal di rumah mungil dekat masjid sendirian. Nama mualaf nenek ini Aisyah. Karena iman Islamnya, dia rela meninggalkan keluarganya dan hidup sendirian di usianya yang sudah renta. Subhanallah. Si mbak yang sering mengirimi nenek ini makanan setiap ke masjid. Aku jadi berkaca-kaca melihat kondisi nenek, rumahnya dan kekuatan iman Islamnya.
Karena ada titipan salam dari headwriter, aku diantar si mbak menemui imam masjid. Ternyata beliau berasal dari Sumatera. Rasanya lega setelah menyampaikan titipan salam. Kami menunggu ashar sambil menemani si mbak menunggu jenazah temannya. Tetapi sampai adzan ashar berkumandang, jenazaha tak juga datang. Ternyata si teman sudah di kremasi dan tidak bisa dimakamkan di sini. Si mbak menangis lagi, tetapi sambil terus berdoa untuk temannya.
Pemakaman di areal masjid
 Usai ashar kami memutuskan pulang. Karena tidak tahu jalan pulang ke hotel, si mbak berbaik hati mengantarkan kami sampai terminal. Sepanjang perjalanan kaki menuju terminal, si mbak cerita suka dukanya bekerja di negeri yang jauh dari kampung halaman. Tujuh tahun sudah si mbak merantau, bermula dari Hongkong. Ia bekerja untuk membiayai anak-anaknya. Pernah dikejar-kejar polisi karena berjualan asongan. Sampai kemudian dia bekerja di Macau sebagai pembantu rumah tangga. Sementara suaminya menceraikannya. “Hidup memang tidak selalu mudah, tetapi juga tidak sulit jika kita mau mensyukurinya,” katanya.
Sebelum berpisah, kami berpelukan lalu menghilang di keramaian terminal. Aku sendiri lupa nama si mbak dan lupa minta nomor handphonenya. Tetapi aku berharap suatu hari kalau aku ke Macau lagi bisa bertemu dengan Mbak ini. Semoga.

Mengingat Desember di Mesquita e Cemitério de Macau (1)

A good traveler has no fixed plans, and is not intent on arriving.  ~Lao Tzu

“Good Morning from Macau!”  kicauku di twitter pada suatu pagi di bulan Desember 2011 dari salah satu hostel mungil di dekat kawasan kasino Grand Lisboa Macau. Aku main internet sambil meringkuk di selimut.  Sebenarnya suhu cuma sekitar 18 derajat celcius, tapi buat orang tropis sepertiku sudah cukup bikin menggigil dan malas beranjak dari pembaringan.

Beberapa menit kemudian, headwriterku di sinetron series mention. “Tary lagi di Macau? Salam hormat ya untuk imam masjid Macau. Saya pernah singgah di sana beberapa waktu lalu.”  Aku membalas mention itu,”Insya Allah.” Tiba-tiba aku sadar. Waduh! “Salam” itu kan harus disampaikan dan kata “Insya Allah” itu harus diusahakan sampai titik darah penghabisan. Wah, gimana nih? Padahal aku nggak tahu dimana masjid itu! Sisi hatiku yang lain bilang “makanya ri, lain kali jangan segampang itu bilang insya Allah.”  Akhirnya aku memutuskan untuk mengubah beberapa rencana dan memasukkan agenda ke masjid Macau pada sore hari menjelang Ashar.
jalanan Macau malam hari
Setelah resign sebagai karyawan stasiun “Televisi Milik Kita Bersama” pada Agustus 2011 dan mendapati kenyataan hidup yang meleset dari rencana, aku memutuskan untuk melihat dunia di luar sana. Meidy, sepupuku yang baru pulang sekolah di Perancis bersedia menjadi travelmate-ku. Kebetulan dia juga lagi galau dan butuh hal-hal baru untuk penyegaran hidupnya. Karena perjalanan dengan paket wisata sudah pasti mahal, maka kami memutuskan backpacker ke Macau-Hongkong-Singapura dalam 12 hari. Ini pertama kalinya aku keluar negeri!

Dengan panduan buku-buku traveling dan Om Google, aku mengurus sendiri akomodasi dan transfortasi selama perjalanan ke tiga negara itu. Keder juga sih, soalnya pertama kalinya pergi dan semua ngurus sendirian.  Tujuan utamaku pergi hanya ingin melihat dunia yang berbeda dan menemukan hal-hal baru. Tetapi, mention dari headwriter-ku itu membuatku punya tujuan lain. Aku ingin sholat di masjid kota-kota yang aku kunjungi! Dan begitulah seterusnya, mencari masjid kemudian menjadi tujuan utama bagiku ketika mengunjungi tempat-tempat baru.
pendestrian di pinggir waduk
Setelah mengunjungi tempat-tempat wisata populer di Macau, aku dan Meidy naik bis menuju menuju pemberhentian terakhir di dekat pelabuhan. Menurut peta, dari sana bisa berjalan kaki ke arah masjid. Tetapi begitu turun dari bis, kami berada di sebuah perempatan dan tidak tahu harus kemana.  Tak seorangpun yang kami temi bisa berbahasa Inggris sampai akhirnya kami mengikuti insting untuk naik ke pinggiran sebuah waduk besar.  Kami bertanya menggunakan bahasa isyarat  pada orang yang kami temui kemudian dan menunjukkan peta lokasi masjid. Orang itu menunjuk ke kanan lalu ke kanan lagi. Hmm, sepertinya tidak jauh. Kami segera berjalan mengikuti petunjuk orang itu.
Kami berjalan menyusuri pendestrian pinggir waduk yang bersih dan banyak ditanami bunga warna warni. Udara sangat segar dan waduk tampak  tenang di kejauhan. Tempat ini sepertinya juga dipakai olahraga karena banyak alat-alat untuk olahraga. Tetapi setelah kami berjalan sekitar 30 menit, belokan ke masjid itu tak juga kami temukan. Dimana masjid itu? Kami terus berjalan dan bertemu mbak-mbak dan mas-mas dari Indonesia sedang bercengkerama di pinggir waduk sambil menikmati sore hari. Aku dengar mereka ngomong bahasa Jawa. “Kapan kowe mulih? Yak opo se kon iku? Gak main blas wis!” Hehehe. Sepertinya mereka berasal dari tanah kelahiranku.

alat olahraga di pinggir waduk
 Seorang cowok hitam manis yang berpapasan dengan kami senyum-senyum. Apa maksudnya ya? Ia kemudian menghampiri kami dan bertanya, “Dari Malaysia?” Meidy menggeleng. “Kami dari Indonesia.” “Mau ke masjid. Dimana ya?” Cowok itu menunjuk jalan di ujung . Waduhhh! Masih jauh rupanya. Kami kemudian pamit dan melanjutkan perjalanan menuju masjid. Cowok hitam manis itu senyum-senyum sambil melambaikan tangannya. Meidy tertawa geli.

Seperti petunjuk cowok itu, kami berbelok ke kanan. Tapi kami menemukan kelenteng. Apa masjid di sini arsitekturnya seperti ini? Tapi nggak ada tulisannya masjid? Kayaknya bukan ini deh! Mungkin masih di depan sana. Aku dan Meidy terus berjalan sampai menemukan rumah (kalau di Indonesia kontrakan kali ya). Meidy terdiam bingung. Mana masjidnya?
2011 belum populer selfie lho padahal! haha
“Mungkin masjidnya di dalam sana. Ngetuk pintu dan nanya orang aja yuk,” kataku. Tapi Meidy terdiam ragu. Aku tidak sabar dan melangkah ke halaman. Meidy mengikutiku. Semua pintu tertutup dan sangat sepi. Meidy berhenti dan mencermati petanya lagi. Aku ikut melihat peta. Tiba-tiba beberapa menit kemudian ada suara-suara napas. Kami menoleh ke arah suara. Bersamaan itu tampak anjing besar berwarna hitam di halaman agak jauh dari kami membuka matanya. Melihat orang asing, anjing itu langsung bangkit dan menyalak. Sorot matanya penuh permusuhan. Lalu, dua anjing besar lainnya datang! Ketiganya sama besarnya dan sama sangarnya!  Waaaaaaa! Ini benar-benar gila! Aku mencoba memasukkan bayangan anjing-anjing lucu, baik dan setia ke dalam otakku. Tapi kenyataannya aku tetap saja ketakutan! Nggak lucu kalau sampai digigit anjing di sini, beneran deh! OMG tolongggg!

Aku dan Meidy berdiri membeku di tengah halaman sementara tiga anjing ganas itu terus menyalak dan seperti hendak menerkam kami. Meidy memegang tanganku erat sampai lecet rasanya, sementara sekujur tubuhku dingin. Aku mulai baca-baca doa. Paling nggak semoga ada manusia muncul dari balik pintu rumah itu. Tapi tidak ada satu manusiapun. Anjing itu terus menyalak dan mendekati kami. Aku menarik lengan Meidy agar berjalan pelan-pelan keluar halaman. Aku dengar Meidy berbisik,”kalau terjadi apa-apa, maafin aku ya.” Aku diam saja dan menarik Meidy berjalan pelan-pelan keluar halaman. Begitu keluar dari halaman, aku memberi aba-aba ke Meidy,”lariiiii!” Dan kami lari tunggang langgang dikejar anjing. Kami tiba di depan gerbang tinggi sebuah bangunan lalu tanpa pikir panjang kami mendorong gerbang  yang tidak terkunci itu. Kami segera menutup gerbang dan sembunyi. Tiga anjing itu berkeliaran di luar gerbang, menyalak-nyalak dan mengendus gerbang. Hampir seperempat jam mereka di sana, baru pergi setelah putus asa tidak menemukan kami. 

waduk yang keren

Begitu situasi aman, aku dan Meidy menghela napas lega. Kami melihat sekeliling lalu membaca tulisan di gerbang. Tampak tulisan arab “Bismillah” kemudian ada huruf china dan di bawahnya (kami nggak tahu artinya apaan) dan ada lagi tulisan, “Macau Mosque and Cemetery” “Mesquita E Cemeterio De Macau.” Kami saling berpandangan lalu berpelukan senang. Alhamdulillah! Akhirnya kita menemukan masjidnya! Tapi kenapa tempat ini sangat sepi? Aku memandang berkeliling dan tidak menemukan siapapun. Ada banyak pohon menjulang tinggi dan daun-daun kering berjatuhan. Beberapa sisi juga tampak kotor dan tua. Tiba-tiba tangan Meidy mencengkeram lenganku kuat-kuat lagi.

“Lihat itu.. lihat itu.. itu kan.. itu kan…” wajah Meidy pias ketakutan. Aku menoleh ke arah telunjuk Meidy dan mendapati barisan nisan diam membeku di sana. Hah!? Ini masjid atau kuburan???
(berlanjut ke bagian 2)

CHIANG MAI- THAILAND, Beautiful Roses from The North

The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes, but in having new eyes.”  – Marcel Proust

Si mawar dari utara. Itulah sebutan untuk Chiang Mai. Setiap membaca atau mendengar sebutan itu, sebagai wanita saya selalu membayangkan sesuatu yang romantis, indah dan dramatis. Dan keinginan saya mengunjungi Chiang Mai-pun semakin besar dari hari ke hari. Maka dalam serangkaian perjalanan ke beberapa kota di Thailand saya meng-agendakan untuk singgah di Chiang Mai selama tiga hari yang kemudian menjadi empat hari karena rasa penasaran saya tentang kota ini.

Chiang Mai merupakan ibukota kerajaan kuno Lanna pada abad 13, asal muasal bangsa Thailand yang kemudian berlanjut ke Sukhotai, ibukota pertama Thailand. Sebagai kota kedua terbesar di Thailand, Chiang Mai memiliki daya tarik tersendiri di banding kota lain di Thailand. Jika Bangkok merupakan kota modern dan surga belanja maka Chiang Mai adalah kota yang tenang, nyaman, sejuk dan ramah. Sangat cocok untuk berlibur rileks dan menenangkan diri. Berjarak sekitar 700 kilometer dari Bangkok dan dapat ditempuh melalui perjalanan udara selama 1 jam 15 menit atau menggunakan perjalanan darat sekitar 10 jam. Chiang Mai terletak di antara pegunungan yang membentuk daerah utara Thailand sehingga memiliki pemandangan yang indah dan udara yang sejuk.

Saya sendiri melakukan perjalanan dengan rute Jakarta – Phuket – Chiang Mai. Jarak tempuh Phuket – Chiang Mai sekitar 1200 kilometer atau 1 jam 45 menit perjalanan udara. Tiba di Chiang Mai sudah jam 9 malam, tetapi begitu menginjakkan kaki di bandara saya malah merasa seperti pulang ke negara saya sendiri. Seorang teman traveler nyeletuk saat saya senyum-senyum sendiri, “hmm, welcome to your second home.” Ya, saya juga merasa aneh merasa begitu nyaman menginjakkan kaki di kota itu. Chiang Mai kota yang tenang, nyaman, tidak mengundang banyak kecurigaan seperti kota lain di Thailand. Saat sopir taksi mengantar saya ke hostel saya bisa memercayainya lebih banyak ketimbang di Bangkok atau di Phuket. Hampir tengah malam ketika saya sampai di hostel dengan gaya yang unik ala tatami di Jepang. Meski letih saya susah tidur karena tidak sabar menunggu menjelajahi Chiang Mai esok harinya.
KOTA KUNO dan SITUS-SITUS BUDAYA


Pagi-pagi, saya dan seorang teman traveler sudah tidak sabar untuk menjelajahi Chiang Mai. Hari itu kami menjadwalkan untuk mengelilingi kota kuno, mencari masjid pada waktu sholat dhuhur serta makanan halal di sekitar masjid untuk makan siang. Dan mulailah perjalanan menyenangkan itu. Dengan berbekal peta kami menyusuri trotoar kota kuno Chiang Mai.
Kota kuno Chiang Mai merupakan wilayah bujur sangkar yang menjadi pusat kota Chiang Mai. Kota kuno ini dikelilingi oleh parit yang luas dan bersih tanpa sampah. Selain lokasi bujur sangkar ini dikelilingi parit juga dibatasi oleh puing-puing tembok kota yang masih berdiri kokoh di beberapa tempat. Untuk melindungi dan mempertahankan kota kuno ini pemerintah Chiang Mai melarang pembangunan gedung pencakar langit dengan jarak tertentu dari kota kuno. Berjalan mengelilingi kota kuno saya seperti merasakan kerajaan Lanna pada masa lalu yang berdiri di area ini.

Di dalam kota yang di kelilingi tembok dan parit ini, saya menemukan banyak sekali wat (candi) indah yang didirikan sejak abad 13 sejak pendiriang kota Chiang Mai oleh Raja Mengrai. Beberapa candi yang saya kunjungi adalah Wat Chedi Luang yang didirikan pada tahun 1941, berada di dalam kota kuno dengan gaya arsitektur Lanna. Lalu Wat Phra Singh, berlokasi di kota kuno dan didirikan pada tahun 1345. Wat ini berasitektur utara Thailand. Wat yang paling terkenal di Chiang Mai adalah Wat Phrathat Doi Suthep yang berada di ketinggian bukit sebelah barat laut kota. Ada sekitar 300 wat di pelosok Chiang Mai yang membuat kota sangat kaya dengan situs-situs bersejarah.


 Setelah memasuki beberapa wat saya meneruskan perjalanan menuju pintu gerbang utama tembok kota di Chiang Mai yang terkenal dengan nama Tha Phae. Banyak sekali wisatawan asing menuju pintu gerbang Tha Phae dan berfoto-foto di sana. Saya semakin penasaran seperti apa melewati gerbang ini. Ketika saya menyeberang dan memasuki gerbang Tha Phae saya seperti melihat dua peradaban yang kontras dan menakjubkan. Di dalam tembok, saya bisa merasakan aura kerajaan Lanna di masa lalu dengan situs-situs bersejarah yang dilindungi dan dilestarikan sementara di luar tembok saya melihat kemodernan seperti restoran, café-café dengan arsitektur modern bertebaran. Seperti mengunjungi dua peradaban di satu kota.
Puas berkeliling kota tua, saya meneruskan perjalanan mencari masjid yang berada tidak jauh dari lokasi kota kuno. Menemukan masjid di kota asing selalu menjadi agenda saya dalam setiap traveling. Setelah berjalan beberapa saat saya menemukan sebuah masjid dengan tempat makan halal di seberang jalan depan masjid. Usai shalat dhuhur saya memutuskan untuk makan siang di tempat makan halal itu. Pemilik tempat makan itu menemani saya makan bahkan menyendokkan makanan ke piring saya dan mengajak mengobrol lama. Menemukan saudara seiman saat traveling selalu saja meneduhkan hati dan selalu ingat pada Allah SWT.
WHITE TEMPLE, GOLDEN TRIANGLE dan LONG NECK KAREN

Hari kedua saya menjadwalkan ikut tour ke Chiang Rai untuk melihat White Temple, Golden Triangle dan Long Neck Karen. Chiang Rai semakin terkenal dengan perpaduan alam yang eksotis dan wisata-wisata petualangannya. Dengan menggunakan mobil ELF yang nyaman saya bersama tujuh wisatawan dari berbagai negara berangkat ke Chiang Rai. Dalam perjalanan, kami sempat mampir ke Hot Spring Chiang Rai dan merebus telur di sumber air panas tersebut sebelum menuju  White Temple.
Setengah jam kemudian, kami sampai di White Temple sebuah wat yang megah dan semuanya serba putih. White Temple atau Wat Ron Kun ini merupakan ide seorang seniman Thailand Chalermchai Kositpipat yang ingin membangun kuil serba putih. Untuk memasuki kuil ini kami melewati semacam jembatan yang dibawahnya terdapat patung-patung berupa tangan dan manusia yang sedang menggapai-gapai ke udara. Kami melepaskan alas kaki saat memasuki wat dan melihat ke dalam kuil. Tampak ikon budaya dan kontemporer di dinding wat seperti gambar superman, kapal luar angkasa, doraemon bahkan Neo Matrix ada di dinding ini. Terlihat unik. Keluar dari kuil kami mengelilingi sisi halaman lain white temple dan melihat bangunan megah keemasan yang ternyata toilet. Saya bertanya-tanya apa sebenarnya pesan yang disampaikan oleh sang seniman melalui bangunan toilet emas ini dan belum menemukan jawabannya. Usai mengelilingi White Temple kami melanjutkan perjalanan ke Golden Triangle.


Golden Triangle merupakan wilayah perbatasan Thailand dengan Laos, Myanmar dan China. Perbatasan ini hanya dipisahkan oleh delta pertemuan sungai Mekong dan sungai Ruak. Golden Triangle ini dahulu merupakan rute perdagangan dan penyeluncupan candu dan sangat identik dengan opium. Tetapi opium di Golden Triangle sekarang tinggal sejarah. Setiap tempat dijaga dengan ketat untuk menindak tegas para pengedar opium baik warga lokal maupun mancanegara. Kami baik boat menyusuri sepanjang sisi sungai dan melihat lebih dekat perbatasan ini.  Tampak sebuah patung Budha keemasan di wilayah Thailand, bangunan Kasino di wilayah Myanmar dan pasar yang ada di wilayah Laos. Untuk memasuki pasar di wilayah Laos ini kami bisa masuk tanpa imigrasi. Pasar ini menjual berbagai souvenir Laos dan beberapa produk seperti tas yang ternyata produk China. Usai makan siang, kami sempat mengunjungi Mae Sai, wilayah Thailand paling utara. Wilayah ini berbatasan langsung dengan Myanmar hanya dengan border sungai dan jalan raya. Sebenarnya kami bisa masuk ke wilayah Myanmar dengan menunjukkan passport melalui perbatasan ini, tetapi kami masih memiliki tujuan lain yaitu Long Neck Karen dan hari sudah menjelang sore. Karena itu kami segera melanjutkan perjalanan.

Sudah senja saat kami tiba di Long Neck Karen, satu-satunya tempat yang menjadi tujuan utama saya mengunjungi Thailand. Long Neck Karen atau suku leher panjang sangat terkenal dan diliput berbagai media karena keunikannya, saya ingin melihat mereka. Memasuki area Long Neck Karen kami langsung melihat pemandangan unik dengan pakaian tradisional mereka dan leher berhias gelang yang tampak sangat berat. Mereka memercayai bahwa semakin panjang lehernya maka semakin cantik. Proses pemakaian gelang tersebut dilakukan pada anak perempuan sejak usia 5 tahun. Tumpukan gelang tersebut akan ditambah setiap dua sampai tiga tahun sekali. Gelang seberat 7 kilogram pada para wanita Karen ini boleh dilepas pada saat-saat tertentu misalnya persalinan, sedang sakit dan ingin muntah atau saat pernikahan. Gelang besi ini baru benar-benar boleh dilepas saat meninggal dunia. Selain mencoba gelang yang berat ini kami sempat menikmati tarian mereka yang lincah dan ceria. Hari sudah malam saat kami kembali ke Chiang Mai.
SUNDAY WALKING MARKET, KULINER dan BELANJA MURAH


Seorang teman menyarankan saya memperpanjang waktu untuk menikmati Sunday Walking Market di Chiang Mai. Saya rasa saran itu sangat tepat. Sunday Walking Market nyaris mirip dengan Malioboro di Yogyakarta tetapi areanya sangat luas. Saya dan seorang teman sampai letih menyusuri area pasar dadakan di hari minggu ini. Tetapi belanja dan menikmati kuliner khas Thailand membuat kami tak memedulikan kaki yang mulai menjerit-jerit minta diistirahatkan. 


Sepanjang area Sunday Walking Market kami menemukan penjual pakaian, souvenir, makanan, pertunjukan seni bahkan tukang pijat. Ramai dan seru! Di sini kita bisa membeli berbagai macam souvenir khas Thailand yang sangat menarik dengan harga yang menarik juga karena setengah dari harga yang ada di Bangkok. Tak hanya souvenir-souvenir lucu, di area ini kami juga menemukan berbagai macam kuliner khas Thailand seperti Pad Thai dan Tom Yam yang berbahan dasar mie dan sea food. Sunday Walking Market ini mengakhiri malam saya di Chiang Mai sebelum esoknya saya melanjutkan perjalanan.
Chiang Mai, kota kuno yang tenang, ramah dan sejuk ini meninggalkan kesan yang spesial bagi saya. Jika anda menyukai tempat berlibur yang tenang dan tentu saja murah, maka Chiang Mai bisa menjadi pilihan menarik. Selamat berlibur!
 Published : Annisa Magazine 2013