Category Archives: Inspirations

NOVIANA RACHMAWATI : MENYELAM KE TUMPUKAN SAMPAH BANTARGEBANG

Tumpukan sampah setinggi 40 meter menyambut saya di pintu masuk Tempat Penampungan Sampah Terpadu (TPST) Sumur Batu, Bantargebang. Matahari bersinar garang, aroma busuk menusuk penciuman bersamaan dengan ribuan lalat yang beterbangan dan air hitam yang mengalir dari sampah di jalanan tanah yang licin. Truk-truk terus berdatangan mengangkut sampah dari seluruh penjuru Bekasi dan Jakarta. Para pemulung, pria dan wanita, mengenakan baju panjang, sepatu boot plastik, penutup kepala dan keranjang yang terlilit di punggungnya berkerumun mendekati truk-truk yang menumpahkan sampah. Tangan mereka memegang tongkat bercapit untuk memunguti sampah. Wajahnya menghitam, tetapi semangatnya mengais rezeki tidak pernah padam.

“Saya baru enam bulan bekerja di sini. Covid membuat saya semakin susah mendapatkan pekerjaan. Jadi buruh pabrik susah diterima, sementara jadi sopir angkot semakin banyak saingan,” kata Usman, 35 tahun, duduk istirahat di balai-balai bambu bersama anak laki-lakinya yang berusia 12 tahun.

Anak laki-laki Usman tidak tinggal di Bantargebang. Ia hanya membantunya memulung saat liburan sekolah. Dua lelaki tua lainnya, Sulaiman dan Markoni yang usianya berkisar 50 tahun bergabung ikut mengobrol.  Menurut Sulaiman, di TPST Bantargebang nasibnya lebih pasti. Asal rajin mengambil sampah pasti setiap hari bisa makan. Sulaiman berasal dari Bekasi dan sudah 10 tahun bekerja sebagai pemulung di Bantargebang. Seluruh keluarganya dibawa tinggal di rumah bedeng.

Bagi Sulaiman, Bantargebang menjadi tempat paling tepat untuk mengais rezeki karena ia tidak memiliki ijazah. Ia sudah nyaman tinggal di Bantargebang dan tidak ingin pindah ke tempat lain. Sementara Markoni yang berasal dari Padang juga sudah 10 tahun lebih tinggal di rumah bedeng. Meski terlintas keinginan untuk kembali ke kampung halaman, tetapi sampah lebih menjanjikan.

Pertemuan itu membawa saya ke rumah bedeng di belakang mereka. Di sana ada gubug kecil dari kayu beratap terpal. Empat ibu-ibu sedang mengobrol sambil menunggu anak-anaknya belajar di saung sebelahnya.  Itulah awal pertemuan saya dengan Rumah Baca Umi (RUMI) yang digawangi oleh seorang wanita muda penuh semangat Noviana Rachmawati.

RUMI hanya berbentuk saung kecil dari bambu. Bangunan terbuka yang berdiri rapuh dan sederhana itu tepat berada di sisi jalan gunungan sampah.  Poster kain bertuliskan RUMI terpasang di sisi depan saung dan berkibar-kibar tertiup angin. Ada satu papan tulis besar yang berdiri miring di ujung lengkap dengan spidol. Sekitar 30 hingga 40 anak dengan kisaran usia taman kanak-kanak hingga kelas 2 SMP duduk melingkar di dalam saung.  Mereka tampak sehat, ceria dan antusias menyimak Noviana Rachmawati mengajar.

“Saung ini memang terlalu dekat dengan tumpukan sampah, tapi saya lebih suka jemput bola ke sini biar memudahkan anak-anak,” kata Novi disela kegiatan mengajarnya.

Noviana Rachmawati adalah anak sulung dari empat bersaudara yang lahir di Solo, 36 tahun yang lalu. Ia bekerja pada salah satu Universitas di Jakarta dan sedang menyelesaikan studi jenjang S2. Pada tahun 2020,  saat pandemi Covid-19 melanda, Novi melakukan penelitian kegiatan belajar mengajar di daerah Bantargebang. Dari sanalah Novi bertemu anak-anak pemulung Bantargebang. Anak-anak yang seharusnya belajar dan bermain, tetapi harus membantu orang tuanya mencari nafkah. Novi berinisiatif mendirikan Rumah Baca untuk membantu anak-anak.

Setelah mengajukan izin ke pihak terkait dan ditolak dengan alasan lokasi itu akan digunakan untuk perluasan penampungan sampah, Novi tidak putus asa. Ia mengumpulkan warga setempat untuk berdiskusi. Mereka kemudian sepakat bersama-sama kembali mengajukan izin.

Setelah izin diterbitkan oleh pihak terkait, Novi harus memikirkan biaya untuk saung. Ia mengumpulkan teman-temannya dan meminta bantuan ke semua grup yang ia ikuti untuk berdonasi.  Novi juga merogoh koceknya sendiri untuk tambahan biaya yang dibutuhkan agar saung itu bisa berdiri. Dengan segala upaya itu, akhirnya pada 16 November 2020, RUMI berhasil didirikan.

***

Pada 6 September 2019, aktor Hollywood yang juga aktivis lingkungan, Leonardo Dicaprio, mengunggah foto penampungan sampah Bantargebang di akun resmi instagramnya. Dalam foto karya Adam Dean tersebut tampak seorang pemulung sedang memungut sampah di Bantargebang dengan pemandangan sekelilingnya hamparan sampah.

Unggahan ini menimbulkan reaksi netizen Indonesia yang kebanyakan merasa malu bahwa orang Indonesia sangat gemar menggunakan barang-barang yang terbuat dari plastik dan sulit mengubah kebiasaan itu sehingga menimbulkan masalah sampah yang tidak berkesudahan. Tidak hanya gemar menggunakan sampah plastik, namun juga tidak mau memisahkan sampah dari rumah saat membuangnya sehingga terjadi percampuran sampah organik dan non organik yang sulit diorganisir.

TPST Bantargebang sudah beroperasi selama 36 tahun. Dibuka tahun 1986, TPST terbesar di Indonesia bahkan di dunia menurut versi National Geografi ini, memiliki luas total 110.3 hektar. Secara administratif, wilayah TPST Bantargebang terletak di Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat yaitu kelurahan Ciketing Udik, Sumur Batu dan Cikiwul. Namun status tanah dimiliki oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Setiap hari jumlah sampah yang masuk ke TPST Bantargebang sekitar 7000-7500 ton dari DKI Jakarta.

Pembuangan sampah ibukota ini sebenarnya sudah mencapai titik kritis. Minimnya lahan sehingga sampah harus ditumpuk menyerupai piramida.  Tinggi gunungan sampah sudah mencapai 40 meter dari maksimal yang diijinkan, 50 meter.  Bahkan dari lima zona, empat diantaranya sudah mencapai batas maksimal.

Kehidupan warga yang tinggal dalam radius hingga lima kilometer dari TPST Bantargebang juga terancam. Bau busuk menyengat dan air sumur yang sudah tercemar air lindi sampah. Air lindi sampah terbentuk dari air hujan yang terjebak dalam tumpukan sampah. Ini sangat berbahaya dan beracun karena mengandung konsentrasi senyawa organik maupun anorganik yang tinggi.

Di sinilah anak-anak pemulung Bantargebang tumbuh. Sebagian dari mereka memang terlahir di tempat penampungan sampah itu, dan sebagian yang lain mengikuti orang tuanya dari berbagai tempat di Indonesia menjadi pemulung.  Ada yang datang dari Sumatera, Jawa Timur, Jawa Barat atau daerah yang dekat dengan Bantargebang seperti Bekasi dan Karawang.

Mereka tinggal di rumah-rumah bedeng sewaan bersama orang tuanya yang menggantungkan hidup pada truk-truk sampah yang datang dari berbagai penjuru Jakarta dan Bekasi. Sebagian dari anak-anak ini bekerja membantu orang tuanya memulung atau yang umurnya lebih kecil mengikuti kemanapun orang tuanya memulung sampah sambil bermain di tumpukan sampah. Mereka tidak bisa membaca, menulis dan berhitung meski sebagian usianya telah setara dengan kelas 5 Sekolah Dasar.

“Saya sedih melihat dunia yang begini maju dengan teknologi tetapi masih ada anak-anak yang tidak bisa membaca dan menulis. Jadi tujuan jangka pendek saya hanya ingin mengajari mereka membaca, menulis dan berhitung, “ kata Novi sambil membagikan alat tulis menulis kepada anak-anak.

Anak-anak RUMI sekolah di saung setiap hari, mulai Senin hingga Jum’at pada jam 8 hingga 10 pagi. Mereka punya waktu belajar satu hingga dua jam per hari sebelum membantu orang tuanya. Sedangkan sore hari mereka bisa memilih untuk sekolah mengaji pada jam 3 sore, namun itu tidak wajib. Setelah mengaji mereka bisa bermain, membantu orang tua atau istirahat.

Pada akhir pekan anak-anak mendapatkan jadwal belajar bersama para pengajar relawan yang datang ke RUMI seperti membuat hiasan, melukis dan berbagi pengetahuan yang berguna. Para relawan ini datang dari berbagai kalangan dan disiplin ilmu mulai dari mahasiswa hingga pekerja kantoran.

Pada awal berdirinya Rumi, Novi mengurus semuanya sendiri. Ia mengajar sebelum bekerja di kantor. Kemudian ada dua temannya yang membantu mengajar yaitu Nijma dan Anggit.  Nijma mengajar membaca, menulis dan berhitung pada pagi hari, sementara Anggit mengajar mengaji pada sore hari. Bantuan Nijma dan Anggit ini tak ternilai harganya bagi Novi yang kemudian bisa fokus mengurus hal-hal lainnya dan mengajar pada akhir pekan.

Tujuan Novi mendirikan RUMI tidak muluk-muluk. Ia hanya ingin anak-anak bisa membaca, menulis dan berhitung agar ke depannya memiliki kehidupan yang lebih baik. Sementara tujuan jangka panjangnya, anak-anak di RUMI bisa mengikuti kejar paket dan mendapatkan legalitas ijazah yang mungkin bisa dipakai untuk mengubah hidup mereka.

Legalitas ini memang tidak mudah bagi anak-anak pemulung Bantargebang karena banyak dari mereka yang lahir tanpa akta kelahiran, orang tuanya tidak memiliki KTP dan mereka juga tidak tahu bagaimana mendapatkan dokumen-dokumen itu. Bahkan bagi sebagian yang memiliki legalitas berupa KTP dan akta kelahiran juga masih menghadapi rintangan karena mereka lebih suka anak-anaknya bekerja membantu orangtuanya daripada mengejar ijazah.  Novi menyebutkan ada anak yang pintar tetapi tidak punya semua legalitas dokumen yang dibutuhkan, dan itu sangat disayangkan.

“Saya tidak mau anak-anak terjebak hidup di sini, tidak bisa keluar kemana-mana, tidak punya bekal pengatahuan apapun, lalu mereka dimanfaatkan orang lain dengan menjadi pemulung seumur hidup mereka,” kata Novi.

Semangat yang dimiliki Novi juga saya lihat di mata anak-anak pemulung Bantargebang. Dengan datang ke RUMI setiap hari untuk mengikuti proses belajar mengajar, artinya mereka memiliki kemauan kuat untuk mengubah hidupnya.   Motivasi dari orang seperti Novi memang sangat dibutuhkan. Mereka harus diyakinkan bahwa mereka punya kemampuan untuk mengubah dirinya sendiri.

Tidak hanya pada anak-anak, Novi juga memiliki peran penting untuk melakukan edukasi kepada orang tua mereka. Pada awal pendirian RUMI, orang tua anak-anak ini curiga dan khawatir kalau anak-anak mereka akan diajari hal-hal yang tidak benar. Namun, Novi menekankan bahwa saung tempat belajar anak-anak ini berbentuk terbuka dan bisa dilihat dari luar saat proses belajar mengajar. Jika ada materi yang menyimpang dan tidak sesuai, Novi siap bertanggungjawab.

Novi juga memberikan edukasi kepada ibu-ibu yang menunggu di dekat saung saat anak-anaknya belajar. Novi mengingatkan tentang pekerjaan rumah untuk anak-anak mereka. Jika ibu-ibu tidak bisa membantu anaknya mengerjakan pekerjaan rumah, setidaknya anaknya diingatkan untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Awalnya memang tidak mudah, namun dengan berjalaannya waktu, semua jadi terkondisikan lebih baik. Ibu-ibu secara otomatis mengingatkan anaknya untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan mereka lebih paham bagaimana membantu anak-anaknya untuk belajar.

Masalah krusial yang dihadapi Novi adalah tidak memiliki donatur. Banyak teman-temannya yang membantu kegiatan ini, tetapi seringkali Novi bersama Nijma dan Anggit merogoh koceknya sendiri untuk kebutuhan anak-anak seperti fotokopi materi pelajaran. Jika di sekolah formal anak-anak mendapatkan materi pelajaran dan fasilitas, tetapi anak-anak pemulung Bantargebang bergantung pada sumbangan buku. Dari sumbangan buku-buku itu, Novi membuat sendiri materi ajar untuk anak-anak pemulung Bantargebang dengan merangkum seluruh pelajaran Sekolah Dasar selama satu tahun menjadi 30 halaman kemudian difotokopi dan dibagikan.

Selain belajar membaca, menulis dan berhitung, Novi juga mengajari anak-anak RUMI membuat kerajinan tangan seperti totebag yang hasilnya bisa dijual. Hal ini dilakukan bukan semata untuk mendapatkan uang, tetapi juga untuk memberi pengetahuan kepada anak-anak bahwa ada pekerjaan lain selain memulung yang bisa memberikan penghasilan. Sebagian uang penghasilan dari kerajinan ini disimpan untuk biaya ujian kejar paket.

Banyak suka duka yang dialami Novi dalam menggawangi RUMI. Saat anak-anak baru datang bergabung, Novi sangat gembira.  Tapi beberapa saat kemudian ada anak-anak yang tidak kembali lagi ke RUMI. Itu yang membuat Novi merasa sedih. Biasanya mereka dibawa pulang kampung oleh orang tuanya. Sehingga anak itu otomatis akan berhenti belajar sebelum mengikuti ujian kejar paket. Tetapi, Novi selalu menekankan kepada anak-anak agar tidak berhenti belajar di manapun mereka. Segala keterbatasan yang mereka hadapi tidak boleh menjadi penghalang.

***

“Saya ingin jadi dokter! Saya ingin jadi polisi! Saya ingin jadi guru!” teriak anak-anak RUMI saat ditanya cita-cita mereka saat besar nanti.

Seperti anak-anak yang lain, mereka juga berhak memiliki cita-cita. Meski mereka tinggal di rumah bedeng dan berkutat dengan sampah dari pagi sampai malam, mereka juga manusia yang ingin mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Novi berusaha mendorong mereka untuk berani mewujudkan cita-cita itu.

Pada masa lalu kita mengenal RA. Kartini, Dewi Sartika dan Rohana Kudus yang sangat berjasa di dunia pendidikan Indonesia. Sementara di luar sana kita mengenal Malala Yousafzai, seorang remaja Pakistan yang menginspirasi anak-anak perempuan untuk memperjuangkan pendidikan mereka. Malala menjadi sorotan dunia ketika ditembak kepalanya oleh Taliban saat ia berusia 15 tahun. Lalu ada Mary McLeod Bethune, yang dikenal sebagai “The First Lady of The Struggle” karena kegigihannya memperjuangkan masyarakat Afrika-Amerika agar bisa memiliki penghasilan sendiri yang lebih baik melalui pendidikan.

Novi mungkin tidak tampak heroik seperti mereka, tetapi cita-citanya agar anak-anak pemulung Bantergebang bisa menulis, membaca dan berhitung akan berdampak besar jika terus dilakukan. Masa depan terletak di tangan anak-anak ini, tetapi bagaimana jika mereka tidak bisa membaca, menulis dan berhitung? Betapa menyedihkan melihat anak-anak yang lahir di zaman technologi namun buta huruf, sungguh ironis. Seolah mereka terbuang dari peradaban yang membentuk diri mereka sendiri.  Apakah harapan Novi untuk sedikit mengubah kehidupan mereka menjadi lebih baik itu akan terwujud?

“Beberapa bulan lalu saung tempat anak-anak belajar digusur untuk perluasan tempat penampungan sampah. Itu memang sudah diprediksi akan terjadi karena lokasi yang kami tempati memang sudah diperingatkan akan digusur, tapi tetap saja saya sangat sedih,” kata Novi menghela napas.

Anak-anak tidak memiliki saung lagi tetapi mereka kemudian belajar di mana saja. Sebelum pelajaran dimulai biasanya salah satu dari mereka mencari tempat yang tidak ada tahi ayamnya lalu menghamparkan alas duduk di sana. Mereka berpindah-pindah tempat yang memungkinkan untuk belajar. Tetapi kegiatan belajar mengajar masih terus berjalan dengan semangat yang sama.

“Hari ini kita tamasya!” seru Novi sambil menggandeng beberapa anak mendekati saya.

Seorang anak laki-laki berusia 6 tahun, bernama Izan menarik-narik tangan saya untuk mengikuti langkah mereka menyusuri sepanjang sisi gunung sampah. Jalanan becek dan aliran air menghitam. Izan terus menuntun tangan saya diikuti Novi dan anak-anak yang lain. Mereka berlari-lari kecil sambil menyanyi. Melompat ke atas bak sampah, naik ke atas tumpukan-tumpukan sampah sambil salto, menggantungkan tangan ke pinggiran bak sampah sambil menggoyang-goyangkan kakinya sementara teman yang lain menarik celananya sampai telanjang. Tawa mereka berderai penuh kegembiraan.

“Mereka paling senang mengajak orang luar jalan-jalan ke tempat mereka bermain,” kata Novi tersenyum.

Saya kuwalahan mengikuti mereka mendaki gunung sampah. Beberapa kali Izan mengulurkan tangan untuk menolong saya naik ke bukit yang lebih tinggi. Sejauh mata memandang hanya ada tumpukan sampah yang membusuk, para pemulung yang sibuk memunguti plastik dan truk-truk yang terus berdatangan. Saat truk datang, para pemulung berlari menyambut rezeki yang ditumpahkan dari atas truk dan berebut memunguti barang-barang yang bisa dijual.

“Dulu, ada yang meninggal tertimbun sampah yang ditumpahkan dari truk,” kata Izan setelah menyelamatkan kaki saya yang terjeblos sampah basah.

Saya tertegun memandangi Izan. Ia menceritakan hal tragis itu seperti hal biasa. Tidak ada yang menakutkan. Mungkin mereka tidak memahami betapa bahaya tempat bermain mereka dan tempat orang tuanya bekerja. Tetapi kenyataan memang berkata sebaliknya. Bisa jadi mereka telah kebal. Mereka terlihat sehat, ceria dan bersemangat bermain di tengah sampah rumah tangga, pasar, kantor, banjir, jalanan, bahkan sampah medis yang berbahaya saat covid-19 melanda.

Saya terus naik mengikuti langkah anak-anak itu. Di puncak gunung sampah terdapat tenda-tenda kecil yang dibangun para pemulung sebagai pelindung saat mereka bekerja. Seorang ibu tua berjaket abu-abu duduk berteduh di salah satu tenda kecil bersama teman-temannya. Saya bergabung dengan ibu tua itu dan membiarkan anak-anak berlarian di antara sampah.

Saya memandang wajah ibu tua yang menghitam dan tampak kontras dengan kain penutup kepala warna merah muda yang ia kenakan. Senyum lebarnya mengembang menampakkan giginya yang telah habis dimakan usia dan keadaan. Tetapi saya memang melihat harapan di matanya, juga rumah yang enggan ia tinggalkan.

Lamat-lamat saya seolah mendengar suara Fiersa Besari menyanyikan lagu  Alam Bukan Tempat Sampah. “Laut bukan tempat sampah, gunung bukan tempat sampah, alam bukan tempat sampah, jadikan bumi lebih indah…”

Tetapi bagi sebagian orang sampah adalah rumah dan harapan. Harapan yang disematkan oleh Novi pada anak-anak pemulung Bantargebang untuk mengubah hidupnya menjadi lebih baik dengan terus belajar membaca, menulis dan berhitung meski saung tempat mereka belajar telah lenyap. ***

 

RANI AULIA : SOLO TRAVELER YANG MERDEKA

Sejak beberapa tahun terakhir ini, saya mengagumi traveler wanita yang satu ini. Saya belum pernah bertemu dengannya secara darat, tetapi saya mengikuti perjalanannya keliling dunia melalui sosial media. Pada 2016, Rani Aulia memulai perjalanan solo travelingnya selama 333 hari mengunjungi 22 negara  diantaranya Eropa, Kanada, Norway, Maroko, Turky, Iran, Georgia, India dan ratusan kota di dalamnya.  Mengaku sebagai sosok yang takut ketinggian, takut air, takut naik motor dan takut pada ulat bulu, wanita yang akrab di sapa Teh Rani ini sempat tidak percaya mampu bertahan solo traveler selama setahun. Perjalanan itu kemudian mengawali perjalanan-perjalanan menakjubkan lainnya seperti yang terbaru solo traveling menjelajah Afrika dalam 3 bulan.

Jika melihat dari sosial medianya, gaya perjalanan Teh Rani sangat membumi dan merdeka. Menyusuri berbagai negara dengan gembira, berbaur dengan warga lokal dan berusaha mengenali kehidupan orang-orang lokal.  Saya kemudian mengirimkan email untuk ngobrol-ngobrol dengan Teh Rani dan mengajaknya berbagi di SHARING seribulangkah.com/. Berikut ini obrolan saya dengan Teh Rani, semoga saja menginspirasi teman-teman yang ingin solo traveling juga seperti Teh Rani.

Hai Teh Rani, apa kabar? Saat ini sedang traveling di negeri mana? Ceritakan dong sedikit tentang diri Teh Rani. Ada nggak pengaruh keluarga yang membuat Teh Rani suka traveling?

Halo… kabar baikk… saat ini kebetulan lagi di Indonesia, lagi liburan… Halo halo nama saya Rani asal dari Bandung, saya seneng traveling ga ada pengaruh dari siapa-siapa ya.. dari dulu emang seneng jalan-jalan muter-muter kayak gangsing.

Saya mengikuti perjalanan Teh Rani sejak masih kerja sampai travel around the world.  Ada nggak proses ragu-ragu saat memutuskan keluar dari pekerjaan lalu traveling ?

Perasaan ragu jelas ada ya, itu salah satu keputusan besar yang saya buat, biasanya saya resign untuk pindah kerja ke tempat lain tapi waktu itu saya resign untuk memburu mimpi saya nyoba traveling menyusuri dunia dalam waktu yang lama. Galaunya lamaaaa banget, karena sejujurnya saya udah nyaman dengan pekerjaan saya, teman-teman yang cocok banget, tapi emang desire untuk traveling dalam waktu lama tinggi banget, karena saya kesel cuman bisa traveling 10 hari mana ijinnya cutinya repot lagi, tiap pengen traveling dilema karena cuti, jadinya ya dengan bersimbah air mata saya lapor pak boss mau resign..

Apa sih Teh yang perlu dipersiapkan sebagai cewek untuk menjadi solo traveler seperti Teh Rani? Bagaimana reaksi keluarga saat Teh Rani berpamitan untuk solo traveling? Lalu apa kendalanya di perjalanan dan bagaimana mengatasinya?

Siapin niat dan mental aja dulu, kadang saya bingung sama pertanyaan begini hahhahaha karena sejujurnya tidak ada yang saya siapkan, saya ini penakut banget, naek motor aja saya takut, dibonceng orang saya takut hahahahhah tapi mungkin tiap orang racikannya beda ya.. ada yang emang berani di sisi ini ada yang berani di sisi itu, ada yang belajar motor itu easy peasy tapi buat saya belajar motor itu menggerikan. Tapi sebetulnya kalau udah ada niat kita pasti bisa, apapun itu yang kita hadapi di jalanan kita pasti bisa menghadapinya, karena emang insting survival itu pada dasarnya ada di racikan masing-masing manusia. Reaksi keluarga, shock haha waktu itu saya bawa kabarnya pas mama lagi di opname di rumah sakit lagi, biasanya kalo mama lagi di sakit gitu bawaanya mellow gitu.. taulah jadinya ngobrol kemana-mana, waktu itu mama sama kakak saya lagi serius ngajak ngobrol, nanya kapan saya punya niatan menikah hahahahahha tapi sama saya malah dijatuhin bomb, mau resign trus pergi traveling selama setahun, mama shock berat, kakak saya nyoba menerima dan beliau memberi pengertian ke mama. Kendalanya  banyaklaah.. tapi yang utama sih masalah pasport, pasport kita lemah banget kemana-mana butuh visa, jadinya opsi untuk long trip gitu jadi terbatas. Mengatasinya ya cari rute yang free visa atau bisa e-visa atau voa. Kendala lainnya mungkin karena saya itu orangnya clumsy dan pelupa lupa ini itu yang akhirnya banyak drama, istilahnya you name it lah gara-gara kecerobohan saya, rasanya semua pernah yang belum itu ilang pasport (amiiiit amiiittt jabang bayiiii.. jangan sampai yaaa), bahkan saya pernah jatuh ketimpa tangga ketimpa anak tangga lagi. Key bca diblokir trus dompet ilang terus ketinggalan pesawat tanpa uang yang tersisa. Bayangkan.. kemping di bandara Casablanca selama seminggu sampe akhirnya berhasil keluar bandara.

Saya mengikuti perjalanan Teh Rani setahun ke berbagai tempat dengan biaya minim dan menurut saya itu sangat menarik. Bagaimana mengatur bujet perjalanan dengan biaya seperti itu?  Bagaimana jika terjadi sesuatu di perjalanan, apakah Teh Rani mempersiapkan second plan misalnya tabungan lain untuk mencover perjalanan?

Sebetulnya ga ada istilah mengatur budget saking minimnya budget saya, uang perhari saya hanya cukup untuk biaya transportasi ama makan aja, saya selalu nyari tumpangan tidur makan-pun ga pernah ke restaurant paling cuman roti sama telor saja, dengan budget yang saya punya, beneran ga ada pilihan. Saya ga punya tabungan lain untuk mencover perjalanan, ya intinya sih harus hati-hati supaya meminimalisir kejadian-kejadian yang tidak diinginkan yang berujung saya harus mengeluarkan dana lebih. Walaupun ada asuransi perjalanan tetap hati-hati.

Saat ini sudah berapa negara yang Teh Rani kunjungi dan negara mana yang menurut Teh Rani paling berkesan sehingga ingin kembali dan kembali lagi?

Berapa negara ya.. udah lupa, udah ga pernah ngitung lagi hahhahaha.. yang berkesan banyak, tapi Switzerland, Norwegia itu 2 negara langganan, yang setiap tahun saya pasti kembali kesana untuk menikmati alamnya. India Jepang atau Korea itu lebih ke karena saya ada ikatan aja, ntah itu untuk maen snowboarding atau untuk meditasi.

Menurut Teh menarik mana traveling di Indonesia atau di luar negeri? Apa sih kemudahan dan kesulitan masing-masing itu.

Kalo saya bilang sama menariknya karena mau sok nasionalis, artinya saya bohong hahahha, tbh traveling ke luar lebih menarik, berada di tempat dimana saya tidak bisa bahasa mereka tidak familiar dengan keadaaanya itu lebih menarik aja. Kemudahan traveling di Indonesia itu saya familiar dengan bahasanya jadi gampang bertanya kalo nyasar sedangkan di luar harus keluar sedikit energi untuk bertanya karena bahasa yang berbeda, kesulitan traveling di Indonesia itu mungkin transportasi ya, ujung ke ujung belum terkoneksi dengan bagus, sebetulnya di luar juga sama ada banyak yang masih dibawah Indonesia, transportasinya banyak yang masih berantakan, secara saya seneng buat eksplore negara2 yang emang kurang familiar bagi para turis-turis karena aksesnya susah.

Saya melihat dari sosmed Teh Rani banyak menjalin persahabatan saat traveling dan itu sangat menyentuh. Bagaimana menjalin persahabatan melalui perjalanan karena tentu mereka memiliki karakter yang berbeda dari masing-masing negara. Orang mana yang menurut Teh paling mudah menjalin persahabatan?

Kadang kalo gitu itu semacam takdir aja gitu, kita berada di frekuensi yang cocok sehingga kita cocok aja, saya di host sama seorang wanita di Tromso dan sekarang dia jadi teman baik saya, mungkin pemikiran frekuensi kami sama sehingga kami cocok, dan karena itu saya akhirnya mendapatkan kesempatan eksplor Norwegia utara secara gratis, diajak roadtrip sampe ke perbatasan Rusia. Tromso itu kota yang sangat mahal tapi saya selalu bisa kembali kapan saja tanpa harus membayar penginapan, yang ada temen saya itu merasa senang karena saya menyempatkan diri untuk mengunjungi dia di Artic Circle. Terus pernah ketemu tiga orang traveler dari Polandia di Gergeti Triniry church di Kazbegi pas winter, kita cuman sapa-sapaan yang berakhir janjian dinner bareng dan sekarang mereka jadi teman baik saya, beberapa kali kami bertemu lagi dan beberapa kali saya sempatkan untuk mampir ke Warsaw bertemu mereka. Kalo seperti pas traveling di Afrika ya saya berusaha untuk menyapa orang lokalnya dan berinteraksi dengan mereka karena berkomunikasi dengan orang lokal itu hal yang sangat menarik buat saya, mengetahui keseharian mereka, cerita mereka, hal-hal itu merupakan hal yang menarik dan itu juga sebagai bahan cerita saya nanti saat pulang.

Teh Rani juga kemudian bikin paket trip. Bagaimana syaratnya bisa bergabung dalam paket trip Teh Rani?

Ga ada syaratnya sih. Tinggal cepet-cepetan daftar aja. Syaratnya harus tau siapa saya, harus tau model traveling saya gimana biar nanti ga kaget begitu join ama tripnya. Kemana aja? Negara2 yang punya view bagus macam New Zealand, Iceland, Canada, India, atau less tourist macam Mongolia, Georgia. Itulah kenapa kadang saya suka nanya “tau saya ga? tau gimana cara saya traveling ga?” soalnya kalo tau, saya yakin yang manja-manja udah menjauh duluan hehehe.

Masih ada nggak negara yang dicita-citakan tetapi belum dikunjungi? Kenapa belum bisa ke sana?

Ga ada hahahahhahha.. semua negara yg ingin saya liat sudah saya liat, sisanya ya mungkin negara-negara lain yang punya jajaran pegunungan yang belum saya liat. Kalo cita2 sih saya pengen ke Kutub Utara or Selatan, itu tuh negara bukan sih?

Teh Rani juga pecinta K-Pop ya, group apa sih yang paling Teh Rani sukai dan kalau nggak salah perjalanan ke konser-konser K-Pop menjadi perjalanan yang dinikmati secara pribadi. Ada nggak nanti akan dinikmati rame-rame sama paket tripnya?

Saya bukan pecinta K-Pop saya pecinta BTS hahahahahha.. mengikuti world tour BTS itu betul-betul perjalanan yang seru. Sabtu – Minggu nonton konser, Senin – Jumat traveling  atau eksplor kotanya. Ga ada bedanya dengan Backpacking biasa, tinggal di penginapan murah di outskirt city sehingga jadi tantangan saat pulang konser yang notabene diatas jam 10 malam, ya pada intinya nonton konser tapi dengan dibarengi oleh skill backpacking yang mumpuni itu sangat menguntungkan sehingga budget yang dikeluarkan itu ga terlalu besar. Saat orang lain habis puluhan juta untuk sekali nonton konser, dengan jumlah yang sama saya bisa pergi 6 kali konser di 3 kota berbeda.  Trus lagi mengikuti world itu sangat menarik karena saya berpindah-pindah tepat, jadi biar ga hanya konser aja biar lebih berfaedah ya sambil traveling, Sabtu Minggu saya jingkrak2 sisanya saya pake buat discover kota yang saya datangi. Wah enggak deh, nonton konser itu Me-Time.. kalo barengan oke, tapi kalau harus ngurus orang lain enggak deh, soalnya dapat tiket konser BTS itu susah dan kalau momentnya dihancurkan orang lain bisa-bisa saya menyesal seumur hidup hahaha

Kalau disuruh memilih, lebih suka investasi pada pengalaman perjalanan atau investasi barang-barang? Kenapa?

Investasi pengalaman donk, karena menyenangkan aja. Menceritakan pengalaman kita ke orang lain itu menyenangkan sekali. Membahagiakan sekali. Storytelling itu hal yang paling membahagiakan buat saya.

Setelah keliling dunia nanti, ada nggak cita-cita lain yang pengen Teh Rani capai? Apakah masih berhubungan dengan traveling?

Ga ada, saya punya keinginan apa-apa. Cuman pengen menjalani hari demi hari rileks, jauh dari prahara dan tetap bahagia.

Kasih semangat dan tips dong Teh buat traveler cewek yang masih takut melakukan perjalanan sendirian seperti saya ini.

Kamu kuat! Kamu bisa! Salah satu yang paling menyenangkan buat saya saat traveling adalah saat saya menemukan kalo saya itu bisa, saya lebih kuat dari yang saya pikirkan.

Terima kasih Teh Rani!

(Semua foto diambil dari facebook Rani Aulia)

 

HARRY FEAR: THE BRITISH JOURNALIST WHO WILL INSPIRE YOU!

Harry Fear is best known for his unique live video streaming coverage of the Gaza – Israel conflict in 2012 on RT news channel (formerly Russia Today) which is pioneering the use of wartime video streaming.  He covered several of France’s recent terrorist incidents; the historic closure of the Calais ‘Jungle’ camp; anti-migrant violence and the rise of the far-right in Europe; the Greek Debt Crisis; and Turkey’s ongoing crackdown on dissent. Harry is also a keen public speaker and has spoken to audiences on five continents. He has delivered three TEDx talks (Challenging Realities, the Mainstream Media and You; The Globalised Heart; and Passionate, Political, Personal Development) – (source www.harryfear.co.uk)

Harry Fear is a passionate journalist and proficient behind the camera. He filmed a documentary film, A Matter of Hope, about HIV/AIDS in South Africa (2010), Gaza Still Alive (2019) and currently working on a ‘mini documentary’ for a startup educational NGO called Africa Innovate in Malawi. Getting in touch with Harry was easier than expected. He is a good friend who is humble and very pleasant. We talked about many issues and  I have decided to share our nice conversation here.

Assalamu’alaikum wr.wb.  Can you tell me a bit about yourself?

Wasalam! I’m a 30-year-old British journalist and filmmaker, best for my wartime coverage of Palestine and my political and social reporting from the UK. I’ve been lucky to travel to a large number of countries and have been privileged to have witnessed or reporter on all types of extraordinary and historic events – two Israel–Gaza wars, the (so called) European refugee crisis, the aftermath of terrorist attacks and various socioeconomic and political stories.

Your documentary about Palestine a couple of years ago was viral, and the world could see what’s happened there in Gaza, Palestine. What  motivates to filming about Palestine? And how did you get a chance to cover stories about Palestine?

It was a blessing that the work I was doing back then to raise awareness about the horror of war in Gaza was seen by so many people. I’m very grateful that I was able to have some positive effect in exposing the unacceptable truth that is so often suppressed. I first visited Palestine as an eyewitness citizen journalist when I was 22 years old. With the help of Palestinian friends and local hospitality, I simply used by self-developing skills in media to report what was happening. The chance was open to anyone as the Egypt–Gaza border in particular largely reopened in 2012 as Egypt’s Morsi was then in power.

Does this documenting about Palestinian encourage you to convert to Islam?

The Palestinians faith in life (steadfastness [AR: “sumud”]) and their psychospiritual resilience definitely informed my inspiration of Islam. But I was more touched by experiences in the UK that led me to practically find Islam. However, it was, indeed, of political context my finding Islam – given rampant Islamophobia in the UK and the very real political attack vectors with their sights on Islam, Muslims and Muslimness.

I follow your social media and see your post. Is your post on social media the same as your daily life? Is there any difficulty you have faced to learn about Islam? How do you handle it?

Well, let’s raise a red flag. Social media doesn’t indicate anyone’s piety or faithfulness. I do admit, though, that I love to use Instagram as a place where I can be spiritually and religiously fully expressive. I save that for Instagram and have a quite different audience there to the other social media platforms. Being consistency (that is, avoiding hypocrisy) is something we all struggle with and I’m not going to pretend that I don’t face that also (!). As for troubles I’ve faced with Islam, they are many; and too many to go into here. But above all, Islam is amorphous and means different things to different people. Some things like the 5 daily prayers are more static and less contentious, but most else is quite various and even controversial. Finding one’s own authentic and integrated Islam is thus quite difficult if one wants to be authentic and not adopt a particular sub-culture or sub-ideology of Islam. I can say it took me years to find and realise what ‘my Islam’ was going to be. As for how I handle social media and my faith: the main thing I do is try to avoid posting photographs of myself as I’ve come to see that modesty is extremely important and the spiritual, social and psychological harms that come from the excesses of ego and vanity in the social media space are enormous and cancerous. I’ve come to prefer to keep photos of myself to a minimum thus.

Being a journalist and filmmaker must make your travel around the world to filming about a lot of things. How many countries have you visited? What’s your favorite country and why? Do you want to get back to that country?

Over the last decade in media, I’ve been privileged enough to travel a lot. I’ve just visited Malawi for the first time. I’ve visited about 33 countries. My favourite country is easily Egypt. I find the people the most warm, friendly, honest and down to earth. Those are qualities that I find life affirming to feel and convect. I also found Canada very positive. Sweden, too. Malaysian food is the best in the world for taste. I’d love to visit Tunisia and Lebanon next. For the last two years, I’ve carbon offset all of my flights, which is a duty (and privilege) I feel strongly about.

It is difficult now to trust the media. A lot of times journalists write news not based on the facts or even framing with specific purposes. What is your opinion about it?

Well, news should be based on facts. If it is based on falsehoods or distorted facts, it’s what’s been come to be called ‘fake news’.There is a lot of opinion, though, these days – op-eds and analysis pieces –, which should be marked as opinion (rather than news) according to best practices. But, it’s, indeed, true that politicians are less and less adequately challenged on the falsehoods and distortions they present, which has led to a diminishing of journalism and a weakening of citizens’ trust in their media. Framing is everything, indeed. Framing is how a story’s pillars are formed, which informs (no pun intended) what facts are chosen and what ‘moral of the story’ is thus given. But it’s important to illuminate that agenda is also important. Agenda is the real power that we often don’t think of. The journalists bosses are somehow the TV/press outlets’ editors, who decide which countries or policies or people or stories are covered at all. If you can exclude certain stories from people’s vision, how you frame a story becomes strongly subsidiary. These days stories are often chosen, framed and produced around intentions of what’s “normative” (i.e. mainstream), “commercially viable” (i.e. able to grab people’s attention), “professional” (i.e. based on conventional corporate wisdoms). The titular quote comes to mind: “you can’t be neutral on a moving train”. The normative, commercially viable and professional media therefore are small-C conservative of certain power structures and prejudices. This explains why media coverage very much shapes our perception of events as well as our ability to reimagine reality. I recommend a great book “How to Re-imagine the World: A Pocket Guide for Practical Visionaries”. What’s needed is sustained (crowd-funded) alternative media that shows up (and indirectly trolls) the corporate media and its literally insane coverage.

I watched your new documentary “Gaza Still Alive” which is in my opinion, is so inspiring. What do you want to say through this documentary?

‘Gaza: Still Alive’ was a passion project more than a year in development from conception to release. It is the culmination of my war and security reporting in Gaza and following of the geopolitical dynamics of the Israel–Palestine conflict. It uncovers the often overlooked subterranean scars of the Israel-Palestine injustice on Palestinian civilians; civilians who are often wilfully dehumanised by the corporate mainstream media. The film seeks to sensitively humanise and sensibilise the audience to Palestinians deep invisible psychological suffering as a result of successive Israel regimes’ oppression. I chose the mental health angle for various reasons, including because it’s under-reported and because it facilitates a more empathic viewership as audiences are asked to imagine the mental health landscape of interviewed characters. The Palestinian people are almost uniquely brutalised by the world’s great powers. The scars are somehow unimaginable and unbearable; and yet in the film Palestinians teach us resilience and strength in the face of evil. But further, the film also explores the physical and mental health cost of this apparently superhuman ability to survive in the face of all efforts to crush them.

Do you have any plans to make a similar documentary? Perhaps about the kids from war victims in Yemen, Syria, Rohingya?

Trust me, making one in-depth film about war trauma is quite enough to research and direct. It’s not really cheery stuff. And a lot of the dynamics and analyses are sadly transferable between conflict zones.

You are very determined to fight for truth and justice in documentary works and social media posts. What made you take the position to continue to fight for the truth?

I guess I’m just a really angry person.I’m kidding. That’s a hard question to answer, though. I suppose I’m just drawn to speaking up and exposing what I think is important to expose like a moth to a flame. I don’t feel unique in this. I think it’s partly driven by my personality and character type and lived experiences.

Do you have any plans to go to Indonesia someday?

I’ve not got plans to travel to Indonesia. I was invited to speak in Indonesia in 2012/13 after the November 2012 7-day war, but due to local political considerations at that time the country was skipped over expected immigration complications.

Last but not least, what is your favorite quote that may inspire our readers?

Touching on my comments before ego, modesty and personal development, I love this translated line of poetry from poet Abyd, who according to Islamic theology was quoted by our Prophet Mohammed (ﷺ). “Everything other than God is vanity.”

Thank you so much, Harry! Wassalam.

(all pictures are taken from Harry Fear’s Instagram and Facebook @harryfear)

WIN RUHDI BATHIN : “KOPI GAYO DAN TEMPAT SINGGAH TRAVELER MANCA NEGARA”

Ngobrol tentang Kopi Gayo dan dataran tinggi Gayo dengan Bang Win (begitu saya memanggil beliau) selalu mendatangkan banyak inspirasi di kepala saya untuk menuliskan banyak hal. Tak hanya soal kopi Gayo, tetapi Bang Win juga menyediakan tempat singgah untuk para traveler di rumahnya.  Saya sebagai traveler amatir semakin tertarik untuk mengajaknya berbagi cerita di SHARING kali ini.  Ada banyak hal bisa didapatkan dari cerita-cerita Bang Win, semoga pembaca juga mendapatkan inspirasi dari obrolan kami.

Salam Bang, apa kabar keluarga dan Tanah Gayo? Apakah sekarang masih musim panen kopi? Apa saja kesibukan abang saat ini?

Alhamdulillah, segala puji hanya untuk dan bagi Allah. Keluarga sehat dengan Rahmat Allah. Semoga syukur tak henti dalam senang dan sedih. Sekarang sedang panen kopi. Bermula di bulan September lalu hingga tirus di bulan April tahun depan. Kesibukan saya seperti biasa rutinitas dengan pekerjaan yang saya banggakan lalu antar jemput dua anak perempuan saya. Dua anak saya lainnya sekolah di luar daerah. Selain itu, pagi ke kafe hingga tengah hari, melayani penikmat kopi gayo sambil bercerita ngalor ngidul isu terkini di daerah bersama pelanggan. Juga menyiapkan kopi untuk kafe, pelanggan di luar daerah dan luar negeri.

Bang Win selain wartawan dan fotografer juga petani kopi dari hulu sampai hilir (menanam kopi sendiri, mengolah sendiri dan memiliki kafe sendiri yaitu WRB kafe). Ceritakan dong Bang suka dukanya menjadi petani kopi dari hulu ke hilir.

Sukanya menjadi petani adalah kita bisa mengawal kopi. Dari tanam hingga panen. Petani adalah pekerja keras dan Insya Allah hadiahnya adalah sehat. Kita bisa mengolah semua variant kopi Gayo yang diminati pelanggan. Seperti kopi madu/ honey, natural, semi washed, full washed, Luwak dan lain sebagainya. Dukanya tentu saja repot, saya mengerjakan sendiri kopinya, sementara kalau ada permintaan lebih, saya mengambil dari kawan kawan saya yang saya tahu betul prosesnya.

Tanoh Gayo merupakan salah satu penghasil kopi terbaik di dunia, apakah kopi Gayo menjadi motivasi Bang Win menyediakan tempat singgah bagi traveler manca negara?

Kopi Gayo sudah dikenal dunia sejak era Belanda. Belanda sudah menanam Arabica sejak 1908. Kemudian mengekspor-nya lewat VOC bersama kentang dan teh.
Jadi, kopi Gayo sudah banyak dikenal khususnya di Eropa.  Kebetulan saya ikut Sosial Media Couch Surfing (CS) yang menyediakan tempat bagi traveler untuk tinggal, menginap dan mengenal budaya setempat . Para traveler yang singgah di rumah saya menyatakan sangat menyukai kopi Gayo. Tak hanya kopinya tetapu juga alam Gayo yang cantik dan masyarakatnya yang ramah dan bersahabat.

Tempat singgah bagi traveler yang datang ke rumah saya hanyalah tempat biasa kami makan bersama keluarga yang disebut dapur. Ukurannya sekitar 2 x 3 meter dan ada di kampung. Tetapi dari tempat ini saya mendapatkan banyak kisah menarik dari para traveler dunia. Ada tamu dari Afrika Selatan yang bangga bisa mencicipi kopi termahal dunia, yakni kopi Luwak. Sangking senangnya, tamu Afrika Ini telpon kerabatnya di Afrika dan mengatakan sedang minum kopi luwak di Gayo. Lain lagi cerita Stass dari Rusia. Saking sukanya dengan kopi Gayo,Stass mengirim kopi Gayo untuk keluarganya di Rusia. Biaya kirimnya hampir satu juta. “Saya ingin keluarga saya juga merasakan kopi luar biasa ini,” kata Stass.

Bagaimana sih awalnya Bang Win tertarik bergabung dengan couchsurfing dan menyediakan tempat bagi traveler?

Awalnya Saya berkenalan dengan dua wisatawan di Takengon. Mereka dari Inggris dan Sumatra Utara, keduanya tergabung di CS. Dari sana saya berpikir, CS ini sosmed ysng menarik dan bisa mendatangkan orang dari seluruh dunia. Kalau saya jadi host di Gayo, orang bisa datang dari seluruh dunia dan menjadi semacam magnet penarik wisatawan. Dari situlah saya kemudian bergabung di CS. Dan ternyata dugaan saya benar, sejak bergabung di CS, puluhan wisman datang ke Gayo dari seluruh dunia.

Traveler dari negara mana saja yang singgah di rumah Bang Win? Bagaimana komentar mereka tentang Tanoh Gayo?

Wisatawan yang datang ke rumah saya dari Ukraina, Rusia, Spanyol, Ecuador, Australia, Afrika Selatan, Inggris. Amerika, Thailland, Polandia, Francis. Switzerland. Afrika Selatan, Belanda, Italia, Jakarta, Jambi dan lain sebagainya. Umumnya para wisman ini sudah tahu kopi Gayo sebagai salah satu kopi terbaik dunia meskipun ada juga yang baru mengenalnya. Bahkan ada bule yang baru tahu pohon kopi, mereka kira kopi itu menjalar. Ada juga yang setelah merasakan kopi Gayo kemudian tertarik untuk berbisnis kopi Gayo di negara mereka.

Tamu asing ini mengakui bahwa Tanoh Gayo sangat indah pemandangannya. Memiliki sejarah panjang sendiri. Termasuk prasejarah Gayo di Mendale dan Ujung Karang. Mereka mengakui keramahan dan kearifan lokal gayo masih sangat murni dan jujur. Berbeda dengan beberapa kawasan wisata lain di Asia, seperti Thailand dan Philipina.

Apa sih suka dukanya menerima tamu dari manca negara? Ada nggak kendala dengan lingkungan saat menerima orang asing di rumah Bang Win dan menemani mereka keliling Tanoh Gayo?

Banyak sukanya sih karena berbagi kisah hidup di negara masing masing tentang budaya, mata pencaharian, agama dan banyak lagi. Kendalanya paling soal bahasa. Bahasa Inggris saya tak begitu fasih tapi saya sih nekat saja. Tidak semua wisman ini juga lancar berbahasa Inggris. Kalau kendala lingkungan tempat tinggal saya, tidak ada. Sebelum menerima tamu asing ini, waktu chatting saya menekankan bahwa di Gayo berlaku Syariat Islam.
Tamu lelaki harus  pisah ruangan tidur dengan perempuan. Kecuali ada surat nikah. Tapi umumnya mereka sudah tahu tentang Islam.

Apakah Bang Win lebih banyak menerima tamu dari manca negara ketimbang wisatawan dari Indonesia?

Saya tidak saja menerima tamu dari luar  negeri saja. Ada juga yang wisatawan dari negara kita sendiri. Dari berbagai kota Indonesia.karena di CS, anggotanya banyak di Indonesia.

Apa sih sebenarnya yang Bang Win dapat dari pertemuan dengan traveler-traveler manca negara ini?

Ini yang paling menarik menurut saya. Setelah makan malam bersama kami  biasanya bercerita tentang banyak hal, mulai dari bagaimana mereka hidup di negara mereka, biaya hidup, sumber penghasilan, pernikahan, agama dan kenapa mereka berwisata keliling dunia juga apa yang mereka dapat dari berkelana keliling dunia.  Hidup di Barat umumnya berbiaya tinggi, mereka setiap hari bekerja keras dari pagi hingga petang. Hidup jadi membosankan karena seperti robot dengan rutinitas. Untuk liburan keliling dunia, mereka bisa menabung bertahun tahun, barulah di musim dingin di negaranya, mereka liburan. 2 hingga 3 bulan bahkan setahun. Saat berlibur ini mereka merasakan kebebasan, kemerdekaan dan interaksi dengan penduduk dunia lainnya. Mereka sangat terkesanbelajar makan menggunakan tangan, sulit awalnya tetapi kemudian bisa melakukannya. Juga bagaimana mengajarkan wisman ini duduk bersila untuk lelaki dan tempoh untuk wanita.

Kami juga berdiskusi tentang Islam dan agama mereka. Sebagai Muslim, kami ingin menunjukkan bahwa Islam itu Rahmat bagi siapa saja. Wajah Islam sesungguhnya yang kami miliki adalah ahlak. Adab dan keramahan serta toleransi dalam praktek. Kami tidak membedakan kewarganegaraan, agama dan budaya asing. Wisatawan asing ini ternyata tahu bahwa Islam itu agama damai. Sehingga mereka tidak pernah takut saat menjadi tamu di rumah warga Muslim di Aceh lagi dan Teroris itu bukan ajaran  Islam.
Bagi kami, Islam itu adalah akhlak. Representasi nyata adalah Rasulullah sebsgai contohnya.

Menurut Bang Win, apakah ke depan Gayo bisa menjadi pusat kopi dunia yang akan menjadi magnet wisatawan untuk datang ke sana lebih banyak lagi? Misalnya dengan mulai dari adanya sekolah kopi hingga mungkin museum kopi nantinya?

Sebenarnya Gayo sudah menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan manca negara. Banyak wisatawan asing, seperti Korea Selatan , Taiwan dan negara lainnya datang untuk berwisata kopi. Salah satu mereka menyebut tanag sucinya kopi adalah Gayo.

Bagi pengusaha kopi dunia, atau para penikmat kopi, pasti tahu kopi Gayo. Perdagangan kopi Gayo sudah dimulai sejak pra kemerdekaan, era kolonial dan penjajahan Belanda. Kawasan Gayo, Takengon, Bener Meriah dan Gayo Lues adalah kawasan spesial arabica Gayo yaitu Gayo mountain coffee. Bisa dibayangkan, lahan di tiga kabupaten ini diisi pohon kopi, kecuali untuk jalan,rumah, sungai dan kawasan hutan. Ratusan ribu penduduknya menggantungkan hidupnya dari pohon kopi. Nilai perdagangannya satu kabupaten hingga Rp. 4-5 Trilyun setahun. Gayo adalah kawasan terbesar di Asia dengan lahan kopi arabicanya, sekolah sekolah kopi juga tumbuh pesat, khususnya cupping atau uji citarasa kopi yang diberi angka atau skor. Di Universitas Gajah Putih Takengon program studi kopi Gayo juga sudah dibuka tahun ini dan mulai menerima mahasiswa. Museum kopi mungkin masih akan menjadi mimpi dan wacana semata jika melihat lambatnya pihak yang memiliki kebijakan soal ini.

Bang Win sebenarnya suka traveling juga nggak? Kalau iya, ada nggak rencana berkunjung balik ke negeri para traveler yang datang ke rumah Bang Win suatu hari nanti?

Iya, saya sangat suka traveling. Traveling memperkaya khasanah berpikir dan bertindak. Kita jadi kaya rasa. Hal ini berdampak pada ekspektasi kita tentang semua hal. Bagaimana bermanfaat bagi orang lain. Saya sangat ingin ke luar negeri. Mengunjungi teman teman yg pernah datang ke sini.Dan mereka berkata, datanglah ke tempat mereka kapan saja. Any time.Tapi, masih mimpi. Saya hanyalah petani biasa. Pendapatan saya belum mampu membiayai perjalanan ke luar negeri bersama anak dan istri.

Terakhir, kasih masukan dong Bang buat para traveler saat menjejakkan kaki di tanah baru agar mereka bisa lebih berguna buat warga lokal. Terima kasih Bang Win. Salam buat keluarga.

Ketika berkunjung ke tempat baru, orang baru, situasi baru. Satu hal yg berlaku seperti mata uang. Yakni, adab dan kejujuran. Adab akan dikenang orang sebagai budi baik. Selain itu jika Kita tinggal d irumah host,keterampilan memasak, mendongeng, sulap dan keterampilan lainnya sangat membantu membuat kehadiran kita akan dikenang. Juga souvenir kecil  murah dari daerah kita akan menjadi penjalin silaturrahmi.

(Semua foto diambil dari facebook Win Ruhdi Bathin)

CARLOS FIGUEIREDO : Keliling Dunia Bersama PITUFO

“Jika kamu tidak menemukan teman untuk memulai perjalanan, maka kamu akan menemukan teman dalam perjalanan”. Itu kata-kata yang tepat untuk menggambarkan persahabatan saya dengan Carlos. “Departures’ salah satu program adventure-nya National Geografic membuat kami berteman sekaligus mendorong saya memulai melakukan perjalanan beberapa tahun silam. Tak hanya tips-tips traveling dan tempat-tempat rekomendasi yang saya dapatkan dari Carlos, tapi juga banyak hal positip. Salah satu yang saya kagumi adalah cara dia memandang orang lain tanpa membeda-bedakan apapun latar belakangnya. Sharing kali ini saya ingin membagi cerita perjalanan Carlos.

Hey Carlos! Tell us a bit about yourself!

Well, my name is Carlos Figueiredo and I have Africa in my heart, because I was born in Angola in June 1964 and lived there for my first 11 years. At that age I came to Portugal with my parents and I live in a small town called Fátima, in the Centre of the country. I studied Law at the University but did not continued…I should have studied design or architecture, but I didn’t. So, has you know, at the present time, I work in a beautiful store where I sell art and decoration items. Sometimes I do design projects…just sometimes. I’m very curious about everything and I love to learn about our planet, about the Universe. I’m a traveler…every time I can, inside and outside of Portugal. I love our planet and all the species in it and I try hard to protect them (planet and animals). My daily life is as green as possible. I like Art (films included!), History, Astronomy, Geography and Biology. I like interior design and gardening. I’m becoming a minimalist, so I try to surround myself only by things and people who means something for me (like you, my dear friend!).

What countries does your family have its roots in, and how did that shape your love for travel?

All my family roots are, as far as I know, Portuguese. I don’t know if we have Nordic or Roman or Arab roots, because they lived in this territory before Portugal was a country. I feel I have something Arab in my soul. My mother’s family moved to Angola in the late 19th century, so my Great- Grand Mother, my Grand Mother and my Mother were born in Africa. The fact that we lived in Africa marked our way of being and living. We used to travel a lot in Angola, so that kind of living shaped, for sure, my love for travel.

How many countries have you visited? What are your top 3 favourite countries and why?

I visited 33 countries until now. Not counting Angola and Portugal. It’s very difficult to choose 3, but Morocco, Egypt and India are among my favorite. Angola and Portugal are very special for many reasons.

Your favorite cuisine out of all of your travels? Why?

My favorite cuisine is Indian, for all that spicy flavor. I have to say that African cuisine is very spicy too and I grew eating it as well as Portuguese food while I lived in Angola.

I love to see you travelling with Pitufo, looks sweet. Pitufo means SMURF in Spanish, right? When did you meet Pitufo? Did you buy it or someone gave you as a gift?

Yes, Pitufo is Smurf in Spanish. In 2012, my travel friend Victor rescued Pitufo from a fair and offered me that wonderful blue friend. We took him to Jordan that year and, from there, Pitufo became a travel companion in all my trips, even inside Portugal.

Do people also love Pitufo? Where did he stays during the trip?

First he was an undercover or clandestine traveler, always hidden. He only came out of the backpack for pictures. Now, even he travels inside a backpack, sometimes comes out and everybody sees him. He used to fly in the suitcase, down in the plane’s luggage hold, but from 2015 he travels near me in the plane…inside my backpack. Sometimes he comes out for pictures near the window! People loves Pitufo and always smile when they see him.

What will visiting every country in the world mean to you personally?

It means knowledge. I don’t travel to say that I’ve been there. I travel to know, to learn as much as possible about every people who lives in this planet, about their History, about the other animal and plant species with which these peoples share their land.

Can you tell me any particularly crazy or scary stories from your travels so far?

Fortunately, no scary stories. Well, just one, precisely with Pitufo! When we came from Dubai, the suitcase where he traveled in, stayed in Istanbul, where we stopped in our way home. I thought I had lost him, poor little one, alone in Turkey! But, that night, someone came from the Lisbon airport to deliver that suitcase at my home…what a joy!!!!! Pitufo was smiling and happy. He had caught the next plane to Lisbon, all by his own. He was proud of himself. So, from that day on, he always travels with me inside the plane passenger’s cabin. I have other stories, very interesting moments, that I can tell you another time.

I saw your mom on instagram. So beautiful. She likes travel too?

Thank you. She would like a lot, but now she’s afraid to fly! She traveled by plane before, when we came from Angola, but now she refuses to get in a plane. When she was young, she and her parents, used to travel by ship between Africa and Portugal. But we already traveled together here in Portugal. She loves Pitufo!

The last question, will you visit Indonesia?

For sure I will visit your wonderful country. So many things and places to visit, so many things to learn about!  Meet you there…or here in Portugal! Why not? Thank you to include me in your project!

 

note : all pictures taken from Carlos Figueiredo dan Pitufo the traveler instagram (@figueiredo64 and @pitufothetraveler)

.

 

ANDREAS TRIJAYA : “Selalu Ada Kisah Dari Setiap Perjalanan”

Bekerja sebagai presenter dan reporter salah satu stasiun televisi swasta  membuat sahabat saya satu ini sering bertugas ke berbagai tempat. Dia juga seorang backpacker yang sudah mengunjungi banyak negara di Asia.  Saya menyimak kisah perjalanannya yang menarik melalui akun instagramnya @andreastj. Banyak hal inspiratif yang saya dapat darinya dan menggerakkan saya untuk menyerap hal-hal baik. Sikapnya yang positip, tenang dan sabar dalam berbagai kondisi membuat orang di sekelilingnya tertular aura positip. Dia tak banyak berubah selama 9 tahun saya mengenalnya. Sharing kali ini saya ingin ngobrol dengan sahabat saya Andreas Trijaya tentang kisah perjalanannya.

Hai Andre! Cerita sedikit dong kegiatan kamu sehari-hari saat ini.

Hai! Saat ini saya Associate Producer di salah satu stasiun TV Swasta, kegiatan saya sehari-hari nggak jauh dari koordinasi dengan tim liputan, edit naskah dan mendampingi proses editing video. Ada kalanya juga turun ke lapangan untuk liputan, tapi udah agak jarang. Sebagai netizen, sehari-hari ya scrolling sosmed, posting instastory sampah dan liat2 flash sale di marketplace.

Sejak kapan sih suka traveling? Ada nggak hal yang bikin Andre suka traveling waktu kecil dulu?

 

Waktu kecil sebenernya jarang traveling karena saya bukan dari keluarga berkelebihan. Semua serba cukup-cukup aja, jadi nggak ada dana lebih untuk traveling. Kalau pun pergi keluar kota, biasanya mengunjungi saudara yang paling jauh pun cuma ke Malang. Waktu SMA dan masa kuliah saya nggak pernah traveling, jadi setelah bekerja dan punya penghasilan sendiri, saya baru coba-coba traveling.
Tahun 2013 saya mulai coba-coba traveling dengan dua teman dekat sejak SMA, ke Malang karena waktu itu ada tiket murah Jakarta-Surabaya PP hanya 400ribu. Perjalanan Surabaya-Malang kami tempuh menggunakan mobil “taksi” dari bandara Juanda. Kami satu mobil dengan sepasang suami istri. Dalam perjalanan, si bapak yang pernah bekerja di Vietnam bercerita pada kami soal negara itu. Kami pun bertekad suatu saat bakal ke Vietnam juga (yang akhirnya kesampaian tahun 2016 sewaktu trip 3 negara Vietnam – Kamboja – Thailand). Tahun 2015, kami mulai “latihan” traveling ke luar negeri ke Malaysia dan Singapura. Dari situlah, setiap tahun kami berusaha traveling bareng keluar negeri. Sekaligus jadi titik awal saya untuk menyelesaikan trip ASEAN sebelum usia 30 tahun (meski kenyataannya meleset juga).

Andre sudah mengunjungi banyak negara dan pelosok Indonesia. Semua itu karena pekerjaan kamu sebagai reporter atau murni sebagai backpacker?

Untuk trip ke 9 negara ASEAN selain Indonesia, saya solo backpacker dan bareng teman. Tapi  ada juga saya ke Malaysia, Singapura, Thailand dan Timor Leste karena pekerjaan. Untuk Indonesia, mostly karena pekerjaan dan  saya sudah mengunjungi 25 provinsi.

Gimana sih Ndre mengatur perjalanan biar jatuhnya murah tapi tetap nyaman?

Murah mahal itu sebetulnya relatif ya. Tapi paling tidak, selama bepergian saya mendapat harga tiket lebih murah daripada biasanya. Untuk mendapat tiket murah, biasanya saya menunggu musim promo, mayoritas sih dari AirAsia. Biasanya dari pembelian sampai keberangkatan, paling tidak ada rentang waktu 6 bulan sampai setahun. Rentang waktu itulah saya pakai untuk cicilan tiket, menabung untuk biaya traveling dan mencari alternatif akomodasi. Soal nyaman, tidak semua orang bisa bepergian tanpa bagasi pesawat. Untungnya, saya selalu bisa menakar barang bawaan sehingga cukup di kabin pesawat yang maksimal hanya 7-10kg. Biasanya, saya membawa baju atau barang yang kira-kira bisa dibuang saja, sehingga tidak menambah beban saat kepulangan (karena digantikan dengan sedikit oleh-oleh). Penginapan yang nyaman dan murah juga penting. Saya bukan tipe orang yang bisa menginap di dormitory, jadi sebisa mungkin saya mencari kamar yang murah dan terjangkau transportasi publik.

Dari semua negara yang sudah Andre kunjungi, negara mana yang paling Andre suka? Kenapa?

Entah kenapa saya suka Kuala Lumpur. Suasananya nggak beda jauh dengan Jakarta, tapi biaya makan cukup murah dan akses transportasi publik mudah dijangkau. Selain itu, banyak street food yang enak-enak.

Asyik mana sih solo trip sama pergi rame-rame? Kalau lagi solo trip gimana caranya Andre ngambil moment dari foto-foto itu sendirian di tengah keramaian?

Saya fleksibel kok, dua duanya asik. Mau pergi sendiri atau bersama teman bisa bikin saya nyaman. Hanya saja, kalau pergi bersama teman ada kalanya harus meredam ego. Semua harus disepakati bersama. Soal foto, sejak 2013 saya sudah mencoba jadi turis mandiri. Berbekal tripod, kamera ponsel dan remote bluetooth. Kalau lagi ramai ya cuek aja, kan nggak kenal ini. Paling diliatin aja.

Ada nggak yang Andre cari dari setiap perjalanan?

Nggak ada yang saya cari sih, cuma pingin liat tempat-tempat yang berbeda dari Indonesia aja. Tapi dalam setiap perjalanan, selalu ada kisah untuk diceritakan. Cara hidup dan keyakinan yang berbeda dengan Indonesia, membuat kita bisa lebih berempati dan menghargai perbedaan.

Setelah mengunjungi negara-negara Asean, Tiongkok, Jepang, Korea, Jordan dan Jerusalem destinasi selanjutnya kemana? Kenapa ingin ke negara tersebut?

Rencananya mau ke Taiwan, pengen lihat Ing Te-nya Meteor Garden. Hehehe.. Saya nggak pernah menargetkan tahun ini harus ke sini atau ke sana. Kalau ada tiket murah, ya itu saya beli. Setelah beli, baru cari tau apa yang istemewa dan unik dari negara tersebut. Kebetulan saya sudah ke China, Jepang dan Korea. Yah itung-itung nambah list negara di Asia Timur (walaupun Taiwan termasuk negara yang nggak diakui PBB).

Gimana cara Andre menanggapi orang-orang nyinyir kayak misalnya “traveling itu cuma buang-buang uang mending dibeliin rumah atau mobil, traveling itu kerjaan orang yang melarikan diri dari hal-hal menyedihkan.”

Sama seperti orang nggak paham dengan kegemaran traveling, saya juga nggak paham kenapa orang mencari kebahagiaan dengan berumah tangga. Hahaha.. Jadi ya udah diemin aja, karena standar kebahagiaan orang kan beda-beda. Tapi karena “terlihat” sering traveling, kadang teman-teman saya malah suka nanya gimana caranya dapat tiket murah.

Andre tuh selalu kelihatan positip, sabar dan tenang. Gimana sih bisa konsisten bersikap kayak gitu?

Saya nggak selalu positip juga sih. Ada kalanya berpikiran negatif buat jaga-jaga kemungkinan terburuk. Kalaupun ada kejadian yang nggak menyenangkan saya coba merespon dengan berpikir begini, “mungkin memang jalannya harus begini.” Saya berada di posisi sekarang juga efek dari mencoba berpikiran positip di masa lalu. Misalnya, saya dulu nggak keterima di PTN dan akhirnya kuliah di PTS. Awalnya sedih, tapi kalau saya nggak kuliah disitu, mungkin saya nggak akan bekerja di media yang bisa membawa saya keliling Indonesia. Soal sabar, saya menganggap nggak ada gunanya marah-marah. Kalau semua bisa diselesaikan dengan kepala dingin, kenapa harus buang-buang energi untuk adu mulut atau baku hantam?

Oke deh Ndre, buat mereka yang ingin traveling tapi masih berangan-angan, Andre punya saran nggak?

Kaya jargonnya Tokopedia, mulai aja dulu. Kalau untuk traveling keluar negeri, bisa coba dari yang dekat-dekat dulu. Teman-teman saya suka bertanya, soal kendala bahasa. Perbedaan bahasa ternyata juga jadi salah satu alasan orang takut traveling. Padahal jaman sudah canggih, ada google maps dan google translate. Kalaupun nggak cukup, ada bahasa universal yaitu bahasa tubuh. Nggak perlu malu, karena hakekatnya bahasa hanyalah sarana untuk berkomunikasi. Kalau bahasa tubuh jadi sarana komunikasi yang efektif, kenapa enggak?

 

Note :  All pictures are taken from Andreas Trijaya Instagram.