All posts by Admin2

WISATA PEMAKAMAN

Entah sejak kapan tepatnya, saya suka berwisata ke pemakaman, apalagi jika pemakaman itu unik. Ada beberapa pemakaman yang pernah saya kunjungi dengan tujuan wisata maupun karena survey untuk pekerjaan saya menulis naskah. Menurut saya mengunjungi pemakaman tertentu selain magis juga banyak pembelajaran tentang hidup. Dari pemakaman yang unik kita bisa mempelajari tradisi daerah yang kita kunjungi. Ini sangat menarik. Berikut beberapa pemakaman yang pernah saya kunjungi.

1. GOA LONDA, TANA TORAJA

Tahun 2010 saya mengambil cuti dari pekerjaan saya sebaga karyawan di sebuah televisi dan pergi mengunjungi Tana Toraja dengan tujuan ke pemakaman Goa Londa. Goa Londa terletak di perbukitan dan sepanjang menyusuri goa akan menemukan jasad-jasad yang di semayamkan di liang-liang goa.  Di pintu goa terdapat deretan patung yang dinamakan Tau-Tau yang melambangkan jenazah yang ada di dalam goa. Di sisi lainnya tampak peti-peti janazah yang dinamakan Erong. Menyusuri Goa Londa semakin ke dalam semakin gelap dan lembab. Jika beruntung kita akan menemukan jenazah yang baru saja disemayamkan. Beruntung apa malah menakutkan? Hehe. Saya menemukan satu jenazah yang masih baru dan yang lainnya sudah menjadi tulang belulang maupun tengkorak.

2. BAYI KAMBIRA, TANA TORAJA

Pemakaman unik lainnya yang saya kunjungi di Tana Toraja adalah pemakaman bayi Kambira di pohon Tarra. Terletak di tengah rerimbunan pohon-pohon, pemakaman bayi di pohon ini memiliki pintu-pintu kecil yang terbuat dari daun ijuk. Proses pemakamanpun cukup unik. Pohon Tarra dilubangi dengan diameter seukuran bayi kemudian jenazah diletakkan di dalamnya lalu lubang ditutup menggunakan ijuk. Mereka percaya bayi yang dikuburkan akan kembali ke rahim ibunya.

3. TRUNYAN, BALI

Tahun 2014 tanpa sengaja saya mengunjungi pemakaman unik Trunyan di Bali. Gara-garanya dari Ubud ke Kintamani naik motor dan kecapekan. Saya merasa nggak ada gunanya kalau hanya berdiri di ketinggian Kintamani lihat pemandangan. Maka saat teman menawarkan mengunjungi Trunyan dengan menyisir jalur sisi perbukitan di pinggir danau Batur saya langsung setuju. Jadi nyisir lewat jalur darat, baru kemudian nyebrang ke pemakaman hanya sekitar 10 menit pakai perahu penduduk lokal. Di Desa Trunyan, mayat tidak dibakar melalui ritual Ngaben seperti umumnya masyarakat di Pulau Bali. Di sini mayat  diletakkan ditempat terbuka di dalam Ancak Saji (anyaman bambu segitiga sama kaki yang berfungsi untuk melindungi jenazah dari serangan binatang buas. Posisinya berjejer berpakaian lengkap dan hanya kelihatan bagian mukanya saja dari celah Ancak Saji. Lagi-lagi saya beruntung atau menakutkan (?) ketika saya berkunjung, ada jenazah baru di Ancak Saji tersebut. Pemakaman ini dinaungi Pohon Taru Menyan yang sudah berusia ratusan tahun. Menurut penduduk lokal pohon berbau wangi inilah yang menetralisir bau jenazah sehingga tidak berbau sama sekali.

4. PEMAKAMAN JEPANG

Wisata saya ke pemakaman berlanjut ketika saya mengunjungi Jepang tahun 2015.  Teman saya, seorang host couchsurfing mengajak saya dan teman-teman berwisata non turistik, salah satunya ke pemakaman. Awalnya mau mengunjungi rumah seorang penulis terkenal pada masanya yang sudah dijadikan museum, tetapi karena kesorean kami diajak ke pemakaman. Pemakaman di Jepang sangat mahal sehingga menurut teman saya kematian jadi menakutkan.

Pemakaman pada umumnya dilakukan dalam tradisi gabungan Shinto dan Buddha, jenazah dikremasi lalu abunya dimasukkan ke pot abu. Dalam satu nisan ada banyak nama yang merupakan satu garis keturunan. Saya mengunjungi pemakaman ini menjelang maghrib, gara-gara kesorean ke museum itu, dan sepertinya teman saya tidak takut sama sekali malah senang menjelaskan ini itu. Ada yang pengen wisata ke pemakaman juga? Hehe. Berdekatan dengan kematian dan pemakaman kadang-kadang memberikan sudut pandang lain soal hidup yang telah dijalani. Coba saja, hehe.

MENIKMATI MALAM DI THE BUND SHANGHAI

Ketika saya traveling ke Shanghai seorang teman yang sedang mengambil S2 di Shanghai menyarankan saya tinggal di kawasan The Bund. Apa sih, The Bund? Ternyata The Bund itu pusat kota Shanghai yang menjadi tujuan para turis.  Sebuah dermaga panjang di tepi Sungai Huangpu. Saya memesan penginapan yang letaknya hanya sekitar 1 km dari The Bund jadi bisa berjalan kaki ke The Bund kapan saja. Karena banyaknya tempat yang saya kunjungi saya baru bisa ke The Bund malam hari.

Dan, wow! Pada malam hari kawasan The Bund ini berkilau! Deretan gedung tinggi dan bangunan kuno berarsitek Eropa klasik memancarkan lampu-lampu keemasan. Saya juga bisa melihat kapal dengan lampu warna-warni yang melintasi Sungai Huangpu. Tak hanya itu, di tempat ini ada menara yang sangat terkenal di seluruh dunia yaitu Oriental Pearl Tower.

Pada malam hari kawasan ini hidup dan penuh energi. Saya duduk di tepi Sungai Huangpu ini hingga tengah malam bersama teman. Nah, saya bagikan foto-fotonya kali ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

10 KERETA BAWAH TANAH INI LAYAK DICOBA SAAT TRAVELING

Pejalan tanpa menggunakan paket tour pasti memerlukan transportasi umum untuk menjelajah. Selain lebih murah, menggunakan transportasi umum merupakan cara singkat untuk mempelajari budaya dan gaya hidup tempat baru. Saya dan teman-teman selalu menggunakan transportasi umum karena jelas lebih irit dan sebisa mungkin menghindari naik taksi. Alasannya tentu saja bangkrut kalau naik taksi kemana-mana. Berikut ini kereta bawah tanah yang pernah saya jajal di beberapa negara untuk menjelajahi sebagian kecil dari negara itu.

1. LONDON UNDERGROUND

 

Spring 2017, saya tiba di London pukul 2 dini hari waktu setempat setelah belasan jam terbang dari Jakarta. Negeri yang saya lihat dari buku-buku yang saya baca ini ingin saya kunjungi sejak saya kecil. Tetapi London sangat mahal untuk pejalan seperti saya, jadi saya harus menghemat salah satunya dengan naik transportasi umum ke berbagai tujuan. Begitu memasuki stasiun underground, saya langsung berbelok ke minimarket yang ada di pojokan stasiun untuk membeli kartu Oyster. Dengan kartu Oyster saya bisa menjelajah London menggunakan kereta bawah tanah/Tube/London Underground, tram, bus, London Overgound, TfL Rail, River Bus dan National Rail service. Dengan kartu Oyster di tangan saya menuju penginapan yang sudah saya pesan melalui internet. Karena nyasar-nyasar lebih dulu maka saya tiba di penginapan yang berada di kawasan Westminster sekitar pukul 7 pagi.

 

Dibangun ratusan tahun lalu, kereta bawah tanah London merupakan kereta bawah tanah pertama di dunia. Bahkan London Underground ini sudah beroperasi sejak tahun 1863, pada saat kereta api masih mengandalkan tenaga uap. Lalu pada tahun 1890 dimulai penggunaan kereta listrik. London Underground atau The Tube merupakan transportasi umum yang sangat diminati karena tidak macet dan lebih cepat. Saya menggunakan The Tube ini kemana-mana saat di London karena penginapan saya dekat dengan stasiun dan memang lebih mudah dijangkau.

Stasiun-stasiun Underground di London kebanyakan sudah tua namun terjaga dengan baik. Justru menurut saya jadi eksotis dan sangat menarik. Bayangkan stasiun-stasiun dengan desain tua ini sudah berumur ratusan tahun dan jadi saksi bisu sejarah yang bergerak di sana. Tetapi pada stasiun-stasiun tertentu tampak lebih modern. Untuk pecinta bola tentu tidak akan melewatkan stasiun-stasiun yang mengabadikan club bola kesayangan. Kalau saya paling suka dengan Baker Street stasiun. Karena di sana saya bisa bertemu dengan Sherlock Holmes. Pagi hingga malam kereta bawah tanah ini selalu ramai apalagi pada jam-jam sibuk. Pintunya bergerak sangat cepat jadi harus benar-benar hati-hati. Saya sempat terhantam pintu dan jatuh ke dalam kereta karena hampir kejepit pada suatu malam pulang dari keliling London. Memiliki 11 jalur yang bisa dipelajari dengan mudah, London Underground ini menjadi pilihan terbaik untuk sarana transportasi saat menjelajah London.

2. JAPAN SUBWAY

 

 

Spring tahun yang lain, saya traveling ke Jepang. Di Osaka dan Tokyo transportasi paling mudah yang bisa saya gunakan yaitu Subway atau kereta bawah tanah. Kartu yang saya gunakan adalah Pasmo yang bisa dibeli di mesin-mesin tiket stasiun Subway. Cara menggunakan mesin ini tidak jauh berbeda dengan cara membeli tiket di mesin MRT Jakarta. Hanya saja untuk membeli tiket Pasmo atau Suica kita harus membeli di mesin yang ada tulisannya Suica atau Pasmo. Sistemnya juga sama, membeli kartu kemudian mengisi saldo untuk ditap pada setiap perjalanan. Cara lebih detail soal kartu, jalur menggunakan Subway di Osaka dan Tokyo bisa kalian temukan di banyak website, saya tidak akan membahasnya di sini.

Jepang adalah negara pertama di Asia yang memiliki kereta bawah tanah. Tokyo Subway dibuka pada tahun 1927 dan menjadi kereta bawah tanah tercepat dan paling tepat waktu di dunia. Kereta akan datang di setiap stasiun dengan rentang waktu 2-3 menit saja. Subway di Tokyo mengangkut lebih dari 8,7 juta penumpang setiap harinya, karena itu jika menjelajah Tokyo sebaiknya jangan pada jam-jam sibuk. Saya punya pengalaman menarik saat pertama naik Subway di Tokyo. Karena banyak yang memakai baju atau jaket hitam saya bingung mencari teman saya yang naik ke Subway jalur kiri atau kanan. Saya naik ke kiri dan teman saya ternyata naik yang kanan. Akhirnya saya terpaksa turun dan balik lagi setelah nyasar-nyasar.

Subway di Tokyo menghubungkan banyak tempat wisata terkenal yang bisa dikunjungi turis. Mulai dari Kuil Sensoji (Asakusa), zebra Cross (Shibuya), Kabukicho (Shinjuku), Pasar Tsukiji (Tsukiji), Kabuki-za (Higashi-ginza) dan Menara Tokyo (Kamiyacho). Memiliki 9 Jalur utama yang masing-masingnya memiliki kode warna dan huruf yang berbeda, kereta pertama mulai dari jam 5 Pagi, dan kereta terakhir di pukul 12 malam.

3. HONGKONG MTR

 

Pertama kali traveling ke luar negeri Hongkong adalah tujuan pertama saya. Alasannya waktu itu karena ada tiket promo dan saya baru saja resign dari pekerjaan saya sebagai orang kantoran. Jadi di Hongkong ini merupakan pengalaman pertama saya menjelajah kota menggunakan kereta bawah tanah. Kereta bawah tanahnya Hongkong disebut MTR atau Mass Transit Railway. Pernah dinobatkan sebagai jaringan kereta bawah tanah terbaik di dunia, saya tidak sabar untuk mencobanya.

Saya suka mengoleksi kartu transportasi setiap pulang dari traveling dan kartu Octopus untuk naik MTR di Hongkong ini merupakan koleksi saya yang pertama. Seperti jalur kereta bawah tanah lainnya, kartu single trip bisa dibeli di mesin-mesin tiket di setiap stasiun kereta. Tetapi saya memilih Octopus agar memudahkan perjalanan tinggal mengisi saldo dan bisa saya koleksi kartunya. Memiliki 11 jalur, para turis biasanya akan banyak menggunakan 5 jalur saja yaitu Tung Chung Line, Disneyland Line, Island Line, Tsuen Wan Line dan Airport Express Line yang menghubungkan banyak tempat wisata populer. Kereta bawah tanah Hongkong ini mulai beroperasi pada tahun 1979 dan menjadi transportasi populer yang mengangkut 5 juta perjalanan setiap harinya.

Saya paling suka saat naik MTR di Hongkong saat melewati terowongan bawah laut ke Central. Saya membayangkan bagaimana mengerjakan terowongan bawah laut yang kemudian bisa dilewati kereta bawah tanah. Setiap melewati terowongan saya gemetaran, takut mendadak terowongan akan pecah dan kereta amblas ke dalam lautan. Pengalaman pertama naik kereta bawah tanah di Hongkong ini sangat berkesan buat saya meskipun saya sering nyasar karena kesulitan membawa peta. Yang jelas MTR Hongkong akan menjadi pilihan untuk menjelajah Hongkong dengan mudah.

4. CHINA SUBWAY

 

Banyak pilihan transportasi di China mulai dari bus, subway, atau taksi. Ketika saya traveling ke China saya terpaksa menggunakan tiga-tiganya sesuai kebutuhan karena tingkat nyasarnya yang sangat tinggi di China. Saat menuju The Great Wall gerbang Mutianyu yang lokasinya sekitar 70 km dari kota Beijing, saya diturunkan bus di lokasi antah berantah dan terpaksa saya naik taksi borongan. Untungnya ada penduduk lokal yang kebetulan bisa bahasa Inggris untuk menawarkan harga taksi ke sopir lokal itu. Beberapa tempat wisata populer di Beijing bisa dijangkau dengan menggunakan subway meskipun belum semuanya dan harus nyambung menggunakan bus atau jalan kaki. Tak hanya di Beijing, saya juga menggunakan subway ketika di Xi’an dari bandara ke pusat kota Xi’an. Sementara untuk keliling di dalam kota Xi’an lebih mudah menggunakan bus.

Beijing subway dibuka tahun 1969 dan merupakan sistem angkutan cepat dan tertua di Tiongkok daratan. Kemudian berkembang setelah tahun 2002 dan memiliki 15 jalur. Untuk tiket saya membeli tiket single trip setiap perjalanan di China karena tidak semua perjalanan saya menggunakan subway.

5. KOREA SELATAN SUBWAY

 

 

Subway di Korea Selatan menjadi moda transportasi favorit karena mudah dan cepat. Saya menggunakan subway ke berbagai tujuan karena hampir semua tempat wisata populer terkoneksi dengan subway dan terintregasi dengan angkutan lain seperti bus ke luar kota. Kebetulan penginapan saya di dekat Hongdae stasiun sehingga memang menggunakan subway adalah pilihan paling mudah. Jika teman-teman ke Seoul saya sarankan menginap di sekitaran Hongdae stasiun tepatnya dekat Hongik University karena tempat di sekitar itu sangat strategis baik untuk kemudahan mencari makanan maupun subway.

Subway di Korea Selatan dibuka pada tahun 1974, memiliki 18 jalur yang melayani Seoul Metropolitan Area. Kita bisa menggunakan tiket T-Money untuk naik subway dan membeli sesuatu di minimarket. Stasiun-stasiun Korea Selatan tampak modern dan ramai dengan gerai-gerai jualan mulai dari makanan, baju sampai mirip mall. Saya punya pengalaman menarik waktu naik subway di Korea Selatan. Hari pertama saya sudah keluar kota naik bus, namun sambungan sampai penginapan menggunakan subway. Nyaris jam 12 malam dan subway sudah kosong. Hanya ada satu orang cowok sedang mabuk di ujung gerbong. Waktu saya turun di Hongdae stasiun, ternyata banyak orang mabuk juga di jalanan dekat penginapan. Saya baru tahu sebaiknya tidak keluar terlalu malam karena kalau ketemu orang mabuk bisa jadi bahaya. Subway sangat rekomended untuk menjelajah Korea asal tidak tengah malam seperti saya.

6. PARIS METRO

 

Saya menginap di dekat stasiun metro selama traveling ke Paris. Jadi begitu turun dari bus setelah perjalanan 8 jam dari London saya langsung mencari stasiun metro menuju penginapan. Tiket dapat dibeli di setiap loket stasiun secara manual maupun otomatis. Jika membeli di mesin tiket, maka kita harus menggunakan kartu kredit. Ada banyak pilihan tiket. Ada yang satuan, ada yang membeli per-10 biji sehingga lebih murah. Bentuk tiketnya juga kecil dan lucu. Saya suka melewati gerbang tiket dan memasukkan tiket kecil itu ke dalam gerbang kemudian tiket akan keluar di ujung. Tetapi saat membeli tiket di mesin menggunakan kartu kredit harus hati-hati. Banyak mesin yang dipasangi scam sehingga nomor kartu kredit kita dicuri. Saya sempat kena juga.

Menjelajahi Paris menggunakan metro atau kereta bawah tanah adalah pilihan yang tepat. Metro ini terkoneksi dengan banyak tempat wisata populer di Paris. Tinggal mempelajari peta maka sampailah tempat yang kita tuju. Tetapi saya kurang suka suasana bawah tanah metro di Paris. Menurut saya agak menakutkan. Stasiun-stasiunnya sudah tua dan kusam, maklum metro di Paris dibuka pada tahun 1920. Setiap memasuki bawah tanah, saya merasa memasuki tempat yang penuh tantangan. Bukan hanya tangganya yang tanpa escalator dan super tinggi, tetapi mata orang lokal yang menatap curiga tanpa senyum membuat nyali saya ciut. Tapi jangan salah, meski begitu banyak juga yang ringan tangan menolong. Saat saya kesusahan mengangkat koper, seorang cowok sigap membawakan koper saya sampai tangga paling atas dan melambaikan tangan sambil tersenyum. Metro di Paris sangat unik menurut saya, bukan hanya stasiun dan metronya namun juga orang-orangnya. Jika anda berkesempatan traveling ke sana harus dicoba.

7. MOSCOW METRO

 

Metro Moscow ini salah satu tempat favorit saya. Bukan hanya sekedar moda transportasi yang memudahkan untuk menjelajah Moscow tetapi stasiun-stasiunnya merupakan mahakarya seni yang luar biasa. Anda bisa membaca tulisan saya khusus tentang metro Moscow di artikel yang lain di blog ini. Setiap tempat wisata populer di Moscow juga terkoneksi dengan metro sehingga memudahkan untuk menjangkau tempat-tempat yang ingin dikunjungi. Tiket bisa dibeli di stasiun melalui mesin tiket atau loket dengan mudah. Jika anda tidak memahami bahasa Rusia, pilih loket yang petugasnya bisa berbahasa Inggris, terdapat tulisan di loketnya.

Metro Moscow ini dibuka pada tahun 1935 sebagai jaringan kereta api bawah tanah pertama di Uni Soviet. Hingga saat ini metro Moscow memiliki 12 jalur dengan rata-rata penumpang harian sebesar 7 juta orang. Menurut saya metro Moscow merupakan metro tercantik di dunia dengan arsitektur yang sangat menawan di masing-masing stasiun. Tak hanya itu jalur metro ini juga menyimpan sejarah. Salah satu stasiun pada masa perang dunia II digunakan sebagai pos komando dan tempat perlindungan dari bom-bom Jerman. Jadi, menyusuri jalur metro Moscow ini nyaris seperti memasuki museum dengan bangunan yang sangat indah.

8. BANGKOK MRT

 

Saya menjajal Bangkok MRT hanya satu kali jalan saat menuju stasiun Thailand Cultural center untuk menonton pertunjukan Siam Niramit. Karena bersamaan dengan waktu jam pulang kantor, MTR-nya sangat penuh dan tidak nyaman. Saya sampai harus berdiri berdesakan dengan teman saya agar bisa masuk ke dalam MRT.

MRT Bangkok dibuka tahun 2004 dengan desain stasiun-stasiun yang modern mirip dengan di Jepang atau Jakarta. Pembelian tiket bisa dilakukan di mesin-mesin tiket stasiun secara mandiri. Di stasiun ini juga berjejer restoran dan minimarket. Saya tidak memiliki banyak pengalaman menjelajah Bangkok menggunakan MRT karena selain perjalanan saya ke pertunjukan Siam Niramit, saya lebih banyak jalan kaki di pusat kota.

9. SINGAPORE MRT

 

Menjelajah Singapore paling mudah tentu saja menggunakan MRT. Dibuka pada tahun 1987, MRT Singapore merupakan angkutan cepat tertua kedua di Asia Tenggara. MRT di Singapore memiliki lima jalur yang menghubungkan lebih dari 100 stasiun. Peta dan rutenya bisa anda temukan di internet dengan mudah dan anda pelajari sebelum menjelajah Singapore. MRT di Singapore sangat penting karena merupakan angkutan utama di sana.

Saya selalu memilih penginapan dekat dengan stasiun sehingga memudahkan saya untuk ke berbagai tempat. Begitu juga ketika pertama kali ke Singapore. Tiket MRT bisa kita dapatkan dengan mudah melalui mesin tiket. Sementara untuk Singapore EZ-Link Card bisa anda beli melalui layanan travel online. Jangan lupa jam operasional MRT Singapore mulai jam 5.30 pagi hingga 23.30 malam. Anda bisa menjelajah Singapore hingga tengah malam tanpa perlu takut tidak mendapatkan angkutan untuk kembali ke penginapan.

10. JAKARTA MRT

 

Jika London Underground dibuka ratusan tahun yang lalu, Jakarta memiliki MRT sejak tahun lalu, 2019. Dengan pembukaan jalur Bundaran HI – Lebak Bulus dengan desain MRT Jakarta mirip dengan Subway di Jepang. Stasiun-stasiunnya tampak simple dan modern. Beberapa stasiun memiliki escalator yang cukup dalam tetapi saya suka menggunakan MRT Jakarta ini jika tujuan perjalanan saya ke sekitaran Lebak Bulus. Karena sangat memudahkan dan tidak macet. Tiket bisa dibeli melalui loket atau mesin tiket. Meskipun sangat terlambat, tetapi bisa memiliki MRT membuat Jakarta layak disetarakan dengan beberapa negara maju lainnya. Semoga jalur-jalur lainnya segera dibuka.

SERIAL “13 REASONS WHY” DAN DEPRESI DI SEKITAR KITA

Seorang gadis tiba-tiba bunuh diri dan meninggalkan pesan berupa kaset kepada teman-teman di sekelilingnya. Hannah Baker, begitu nama gadis itu, tidak menunjukkan bahwa dia seorang yang menderita penyakit mental apapun. Hannah seorang gadis yang cantik, terlihat ceria dan berusaha bergaul dengan siapa saja. Tetapi diam-diam dia menyimpan kekecewaan yang dalam terhadap lingkungannya ; teman-teman sekolahnya yang saling membully dan tidak tulus, guru-gurunya yang tidak tanggap terhadap masalah-masalah anak didiknya dan orang tuanya yang egois. Kaset yang ditinggalkan itu membuka rahasia penyebab ia bunuh diri mulai dari orang-orang terdekatnya yang dia anggap tidak peduli pada perasaannya hingga puncak dari segalanya ia diperkosa teman sekolahnya pada suatu malam dan mendorongnya untuk mengakhiri hidupnya. Tanpa kaset-kaset itu, tidak ada seorangpun yang tahu penyebab Hannah bunuh diri.

Orang-orang seperti Hannah banyak di sekeliling kita. Apalagi sebagian besar lingkungan kita menganggap remeh orang-orang yang sakit secara batin. Sebagian dari kita hanya peduli saat orang lain sakit secara fisik. Padahal sakit secara batin itu efeknya sangat besar dan bisa menimbulkan sakit-sakit fisik. Saya jadi ingat dalam satu wawancara televisi seorang cowok yang menderita depresi begitu lama mengalami kecelakaan. Kesan pertama yang dia terima dari orang-orang di sekelilingnya saat ia mengalami depresi banyak orang menertawakannya dan tidak memercayainya, sementara saat ia mengalami kecelakaan banyak yang menjenguk dan peduli. Ya, sebagian kita memang masih begitu, menganggap depresi adalah bentuk tidak kompetennya seseorang menghadapi terpaan badai hidup, tidak becusnya orang tersebut melihat sisi terang dari apa yang dia hadapi, merespon sesuatu terlalu dramatis dan berlebihan hingga ada pula yang membandingkan dengan orang lain yang kemungkinan penderitaannya lebih parah namun sanggup melewati itu.

“Tidak ada segala sesuatu yang berjalan sesuai maumu,” kata seorang teman suatu ketika saat saya menceritakan bahwa saya mengalami depresi. Saya juga pernah mengalami depresi meski levelnya tidak berat. Trauma masa kecil, rentetan pengkhianatan yang pahit dan tekanan hidup yang berat membuat saya jatuh ke liang depresi. Ada satu masa saya tidak bisa makan dalam seminggu dan hanya bisa minum air. Ada satu masa saya terbangun pagi hari dengan kondisi yang letih luar biasa. Ada satu masa dimana saya berkubang dalam kesedihan yang dalam tanpa sebab. Ada satu masa dimana saya tidak bisa menangis untuk mengekpresikan kepedihan yang dalam. Efeknya secara fisik kemana-mana, sakit lambung, paru-paru, ginjal bahkan tidak bisa berjalan. Tapi semua itu sudah berlalu. Sejak saya menemukan diri saya sendiri dan hidup membebaskan diri sesuai kata hati, saya perlahan sembuh. Itu butuh perjuangan bertahun-tahun, bahkan bantuan psikolog untuk menunjukkan petanya kemana saya akan berjalan. Sungguh pengalaman yang luar biasa. Dengan semua itu saya tidak pernah meremehkan siapapun yang datang pada saya dan mengaku depresi. Saya selalu menyediakan dua telinga untuk mendengar mereka tanpa memvonis apapun. Karena saya tahu rasanya, saya tahu penderitaannya.

Bukan hanya dalam sebuah serial, banyak contoh di dunia nyata yang bisa kita lihat secara gamblang. Robin Williams, actor komedi yang periang dan selalu tampil menghibur dalam film-filmnya itu memutuskan bunuh diri karena depresi akut, halusinasi dan penyakit degenerative. Tetapi beberapa berita mengatakan ia memutuskan butuh diri karena merasa tidak lucu lagi. Dalam kacamata orang lain yang tidak peka pasti akan bilang “masa hanya karena tidak lucu lantas bunuh diri?” Lalu kita lupa melihat masalah dari sudut pandangnya. Kita sibuk membandingkannya dengan orang lain yang mungkin kelihatan lebih menderita tetapi sanggup melewati segalanya. Hey, kamu orang-orang yang suka meremehkan depresi dan penderitaan batin orang lain! Kita paham semua manusia memiliki masalahnya masing-masing. Tapi ingat setiap manusia memiliki proses yang berbeda menghadapi masalah. Kita tidak bisa menggeneralisir semua manusia sama sehingga kita jatuh pada penghakiman bahwa “kamu nggak kompeten, kamu cemen dan kamu memalukan!” Bisa jadi orang yang memutuskan mengakhiri hidupnya ini sudah begitu lama bertarung menghadapi depresi, berjuang melawan tekanan-tekanan sampai kemudian ia merasa tidak mampu lagi. Atau bisa jadi orang itu telah datang padamu memohon kedua telingamu mendengarkan penderitaannya tetapi kamu justru memvonisnya tidak kompeten menghadapi hidup. Dan kamu menjadi salah satu teman Hannah Baker yang menyebabkan ia bunuh diri. Mau jadi orang seperti itu?

Mungkin sekaranglah waktunya kita memulai untuk peka terhadap sakit batin orang lain di sekeliling kita. Jika memiliki kedua telinga untuk mendengar, dengarkan mereka. Jika bisa membantu, bantulah mereka menemui psikolog atau psikiater. Jangan memvonis mereka saat mereka berkubang dalam depresi. Kita tidak pernah tahu, kata-kata kita yang bagian mana yang begitu menyakitkan sehingga justru memperburuk kondisinya. Kalau kita tidak punya hal yang baik untuk diberikan lebih baik diam. Jangan sampai kita mendorong ia melakukan hal yang lebih buruk dalam hidupnya. Mari kita mulai peduli pada orang-orang di sekeliling kita dan tidak menggeneralisir mereka. Setiap orang melewati proses yang berbeda dalam garis perjalanan hidupnya. Ingat itu!

*feature pic by ngopulse.org

PENULIS ‘JADUL’ DI ERA DIGITAL

Suatu siang saat membuka-buka laman berita online saya membaca kalimat ini : “Kita memerlukan 4000 tahun untuk berpindah dari penggunaan besi menjadi industri. Lalu kita hanya memerlukan 40 tahun untuk berpindah ke tahap computer. Namun ke depannya kita hanya memerlukan 4 tahun untuk menjadikan dunia ini berbeda dari sebelumnya. Hingga pada akhirnya setiap hari kita akan melihat teknologi yang berbeda.” Saya menyadari bahwa saat ini saya berada pada dunia di mana setiap hari melihat perkembangan teknologi yang sangat pesat dan berbeda untuk semua bidang kehidupan, termasuk di dalamnya bidang tulis menulis yang saya tekuni.

Saya suka menulis sejak sekolah dasar ketika buku harian dengan gembok di pinggirnya sangat ngetrend. Ibu membelikan buku harian itu agar saya bisa menuliskan pikiran-pikiran saya karena saya sangat pemalu untuk bicara. Ibu juga memberikan saya banyak bacaan agar saya bisa melihat dunia luar dari tempat tinggal kami yang terpencil di pegunungan. Lalu saya mulai menulis di media koran dan majalah ketika duduk di bangku SMA. Pada masanya dimuat di koran atau majalah merupakan suatu kebanggaan tersendiri karena dua atau tiga gelintir orang yang suka membaca di kampung itu akan menangis tersedu-sedu saat membaca cerita kita yang mengharu biru. Kadang mereka datang ke rumah untuk memeluk kita karena sedih setelah membaca ceritanya. Lucu memang, tapi itu sungguh pernah terjadi pada masa lalu.

Memasuki masa kuliah saya berhenti menulis. Hanya dua cerpen yang terbit di majalah selama empat tahun. Setelah kuliah saya bekerja di dunia computer dan selama empat tahun juga tidak menulis. Tetapi selama bekerja itu saya mulai punya keinginan kembali menulis. Tahun 2004 saya memutuskan berhenti sebagai karyawan perusahaan computer dan menjadi full writer dengan mendisiplinkan diri menulis setiap hari. Mulai tahun itu banyak tulisan saya terbit di media cetak baik berupa cerpen, cerita bersambung maupun cerita anak. Media-media yang pernah memuat tulisan saya waktu itu diantaranya adalah Majalah Femina, Majalah Paras, Majalah Annida, Koran Suara Pembaruan, Koran Republika, Majalah Sabili, Majalah Ummi, Majalah Noor, Koran Jawa Pos, Koran Kompas rubrik Kompas Anak dan entah majalah apalagi saya lupa. Tidak hanya dimuat dimedia cetak, tetapi saya juga menerbitkan sejumlah buku novel remaja, cerita anak dan kumpulan cerpen.  Seingat saya produktivitas saya menulis luar biasa. Mungkin karena saya membutuhkan uang dari menulis atau memang saya sedang semangat-semangatnya.

Pada masa itu menulis masih mengikuti alur lama. Penulis semedi menuliskan kisahnya – memberikan ke redaktur atau editor – kemudian kalau sesuai akan dimuat atau dicetak sebagai buku – penulis menerima honor/royalty. Tidak ada tugas penulis mempromosikan karyanya karena semua tugas promo ada dipundak marketing penerbitan atau majalah.  Maka pada masa itu banyak karya yang lebih terkenal dibanding pribadi penulisnya. Bahkan penulisnya terkesan misterius dan susah ditemukan. Saya suka berada dibalik layar seperti itu dan tidak diketahui banyak orang. Hingga tahun 2008 saya masuk ke industri televisi yang bergelut dengan ratusan naskah televisi di tempat saya bekerja, saya masih nyaman berada di balik layar menuliskan naskah, mempersiapkan syuting, mengikuti proses casting pemain untuk menyesuaikan dengan karakter naskah hingga menonton previewnya di ruangan tertutup dan diam-diam bertepuk tangan saat tontonan itu sukses. Tugas marketing sudah ada yang menjalankan sendiri, saya focus menulis dan mengedit naskah-naskah scenario itu.

Tetapi kini zaman mulai berubah total. Persis seperti kalimat yang saya temukan di laman berita online tentang teknologi di awal tulisan ini, saat ini saya berada di zaman yang setiap hari terjadi perubahan teknologi secara cepat. Nyaris saat saya berkedip hal-hal baru selalu muncul. Penulis juga tidak cukup bersembunyi di balik layar, semedi dan tepuk tangan diam-diam menikmati kesuksesannya. Dan ini masalah bagi saya! Beberapa masalah yang saya hadapi di era digital ini dan cara saya mencoba menyelesaikannya adalah :

  1. Penulis Sebagai Marketing.

Di era digital ini, penulis harus muncul mempromosikan sendiri karya-karyanya secara massive agar laku dijual. Sudah bukan zamannya penulis sembunyi dan bersikap misterius membiarkan karyanya berjalan sendiri menuju pembaca. Dengan tingkat daya baca yang rendah, penerbit harus berjuang lebih keras untuk menjual buku. Bagus jika penulis memiliki akun social media yang aktif dengan banyak followers. Beban marketing kemudian juga berpindah ke pundak penulis. Sudah bukan zamannya penulis bersikap misterius dan bersembunyi. Ini masalah besar buat saya. Saya tipikal orang yang sangat tidak suka menampakkan diri berlebihan. Saya tidak suka menjadi pusat perhatian dan berhadapan dengan banyak orang yang langsung melihat muka saya. Bahkan saya tidak suka bicara secara langsung di telepon karena saya butuh memproses informasi yang masuk sebelum menjawabnya. Saya lebih suka berkomunikasi melalui pesan sehingga saya punya waktu untuk berpikir.  Dalam kondisi yang sangat terbuka dan langsung, saya merasa tertekan dan tidak bisa berpikir.  Ini sangat berat bagi saya, tetapi saya mencoba tetap mempromosikan karya saya melalui tulisan, membuat blog, mengunggah status di social media dan berinteraksi langsung dengan teman-teman melalui komentar-komentar. Setidaknya muka saya tetap tidak muncul secara langsung dan saya masih memiliki ruang untuk berpikir sebelum bereaksi.

  1. Mengikuti Selera Pasar.

Sebenarnya tidak hanya di era digital penulis mengikuti selera pasar, tetapi pada masa lalu penulis masih memiliki banyak ruang untuk bergerak mengikuti seleranya sendiri. Bahkan dari selera asli para penulis di masa lalu itu muncul trend-trend baru. Saat ini apa yang diinginkan pasar akan diburu mati-matian sehingga kebanyakan orang bergerak ke arah sana untuk menjadi yang diburu. Ini juga masalah buat saya karena saya paling tidak suka selera kebanyakan. Kalau semua orang sudah membuat satu resep biasanya saya melihatnya saja sudah kenyang dan ingin membuat hal lain. Tetapi kenyataannya sesuatu yang melawan selera pasar memang agak susah dijual. Masalah ini saya hadapi dengan mempelajari selera pasar dan mengaplikasikan apa yang saya sukai ke dalamnya. Mungkin masih bergerak ke arah pasar sedikit, tetapi elemen-elemennya masih sesuatu yang saya sukai. Misalnya cerita remaja tetapi dengan muatan masalah yang lebih berat bukan hanya percintaan.

  1. Melawan Instant

Era digital menyuguhkan segala sesuatu yang berbau instant. Menulis di platform digital sangat berbeda dengan menulis pada masa lalu. Menulis di platform digital kita bisa mencicil novel yang kita tulis lalu menguploadnya untuk dibaca banyak orang. Kelebihannya, penulis jadi tertantang untuk cepat menyelesaikan tulisan itu. Sementara kekurangannya penulis tidak memiliki banyak waktu untuk mengendapkan karyanya dan merenungkan karyanya sebelum benar-benar diunggah. Saya menyiasati ini dengan gaya lama yaitu menulis sampai selesai, melakukan pengendapan dan menguploadnya setelah benar-benar siap. Proses ini akan melawan hal-hal instant yang disuguhkan era digital.

  1. Media Yang Rumit & Generasi Yang Beda

Untuk penulis jadul seperti saya media digital kadang-kadang menyulitkan. Saya perlu menyesuaikan diri beberapa lama untuk mempelajari menu-menu yang ada disana. Entah menu upload, menu hapus, dan banyak lagi. Tentu tidak mudah bagi mereka yang gaptek untuk memasuki era ini karena jangankan terlibat didalamnya, masuk ke platformnya saja seringkali tidak paham. Tak hanya itu generasi pengguna platform ini jelas generasi baru yang sangat berbeda. Selera mereka seringkali membuat saya menghela napas karena saya tidak memahaminya. Tetapi saya mencoba untuk menyesuikan diri dengan generasi ini, tetapi menulis hal-hal yang saya sukai dan sesekali membumbuhi dengan hal-hal yang terjadi pada generasi mereka. Untuk platform kebetulan saya suka ngoprek jadi meski membutuhkan waktu untuk memasukinya masih tidak terlalu bermasalah.

  1. Royalti Sesuai Viewers

Sebenarnya ini mirip dengan royalty yang sesuai dengan jumlah buku yang terjual. Hanya saja karena sesuai viewers maka selera pasar akan sangat mengendalikan penghasilan seorang penulis di era digital. Karya-karya dengan viewers banyak sudah pasti memiliki penghasilan lebih meskipun mungkin karya itu biasa-biasa saja. Sementara karya-karya yang sepi viewers tentu penghasilannya sedikit. Namun pada masa lalu, penulis buku masih mendapatkan DP dari bukunya dengan jumlah yang lumayan, apapun isi bukunya. Sementara pada masa digital semua hal diserahkan pada selera pasar.  Untuk masalah yang satu ini, ya.. bagaimana ya? Karena saya tidak mau menyerah begitu saja mengikuti selera pasar secara mentah-mentah, maka saya berusaha rajin mengiklankan link karya saya di platform digital ke social media.

Yeah, era digital bagi penulis jadul benar-benar melelahkan. Tetapi jangan menyerah wahai penulis jadul, mau tidak mau zaman memang pasti berubah dan kita harus pandai-pandai menyesuaikan diri kecuali cepat mati tergilas. Tetap semangat berkarya untuk saya sendiri khususnya dan teman-teman penulis jadul yang masih berjuang menyesuaikan diri. Semangat!

YOUTUBE CHANNELS SERIBULANGKAH

Akhirnya saya membuat YOUTUBE CHANNELS juga untuk SERIBULANGKAH karena memiliki banyak video dan foto perjalanan yang bisa teman-teman ikuti secara visual. Detail cerita perjalanan di blog ini, tetapi jika ingin mengikuti diary SERIBULANGKAH secara visual bisa di YOUTUBE. Teman-teman subscribe dong….. Terima kasih.

Akan banyak video-video di sana. Berikut linknya…

6 KEJADIAN HOROR SAAT TRAVELING

Sebelum berangkat traveling kita biasanya  excited sama hal-hal menyenangkan ala-ala liburan.  Kalau saya selalu tidak sabar untuk bertemu hal-hal baru yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Entah itu sebuah kota, bangunan, orang-orangnya dan yang paling menarik tentu budayanya. Saya juga sangat suka menjalin pertemanan dengan orang-orang baru yang saya temui di perjalanan. Rasanya kebahagiaan saya meledak saat bisa berkomunikasi dengan mereka dan berbagi tawa dengan mereka. Tetapi ternyata nggak semuanya seperti imajinasi sebelum berangkat. Banyak kejadian horror mulai dari hantu sampai orang-orang di perjalanan yang membuat perjalanan menjadi lebih dramatis. Apa aja sih, yang pernah saya alami? Ini beberapa kisah horror yang pernah saya alami saat traveling.

  1. GADIS KECIL BERKEPANG SATU

Veliky Novgorod adalah kota tua yang menjadi cikal bakalnya Rusia. Di sana banyak bangunan-bangunan tua bersejarah ataupun gedung-gedung apartemen yang bangunannya memang sudah sangat tua. Nah, saya menginap di salah satu apartemen yang berada di bangunan tua itu bertetangga dengan seorang wanita tua yang tinggal bersama kucingnya. Saya lihat banyak wanita-wanita tua yang hidup sendirian di apartemen bersama kucingnya.  Pemilik apartemen seorang wanita paruh baya yang tidak bisa berbahasa Inggris tetapi untungnya kami bisa saling memahami menggunakan bahasa isyarat dan kertas print bukti sewa apartemen. Si pemilik langsung pergi begitu saya menyelesaikan pembayaran.

Begitu mendorong pintu gedung tua ini, saya disergap suasana muram dan sepi. Saya merasa ada yang mengamati dari sudut-sudutnya. Cat dinding yang kelabu dan debu yang menempel di setiap sisinya membuat pemandangan menjadi menyeramkan. Apartemen yang saya sewa ada di lantai 4 tanpa lift jadi saya harus mengusung koper saya melalui tangga tua yang sudah rompal pinggirannya. Saya menyesal membawa koper bukan ransel seperti biasanya. Begitu sampai di lantai 4 dan membuka apartemen yang saya sewa, entah kenapa saya merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Itu tadi, saya merasa ada yang mengawasi diam-diam. Tetapi sudah malam dan lelah maka saya mengabaikan itu.

Apartemen ini lumayan luas, ada empat tempat tidur meski dua antaranya sofa bed,  balkon, satu kamar mandi, satu dapur beserta semua perlengkapannya dan gudang kecil yang ada di dekat kamar tidur dalam. Gudang ini kosong, hanya ada cantolan baju saja dan perlengkapan jas hujan.  Saya menyewa apartemen ini bersama beberapa teman, dan memilih kamar dalam yang dekat dengan gudang.  Usai membersihkan diri, saya membaringkan tubuh karena kecapekan sementara beberapa teman mencari makan malam. Saya menitip makanan ke mereka dan memanaskan air di dapur untuk membuat minuman hangat. Suhu sekitar 13 derajat celcius, tidak terlalu dingin meskipun untuk orang tropis seperti saya tetap saja menggigil. Begitu mereka pulang saya langsung makan malam dan tidur lebih dulu.

Ketika membaringkan tubuh di dipan bersprei putih itu, saya masih merasa ada sesuatu yang mengawasi saya diam-diam. Saya jadi tidak nyaman tidur di samping gudang kecil itu. Tetapi saya mengabaikannya dan mencoba berdoa. Di luar terdengar ramai sekali suara orang sedang pesta, mungkin di sebelah apartemen ini bar atau tempat nongkrong-nongkrong. Sementara teman-teman masih ribut makan malam dan memilih-milih foto di handphone mereka. Saya terlalu capek sehingga terlelap lebih dahulu.

Tiba-tiba saya melihat gadis kecil berusia sekitar 13 tahun, berperawakan ramping, rambutnya yang pirang dikepang satu, mengenakan baju atasan warna broken white dengan kerah bundar dipadu dengan rok pendek kain planel kotak-kotak merah, tampak rapi dan manis dimasukkan dengan sabuk. Gadis kecil ini keluar dari gudang di samping saya sambil tersenyum manis. Ia mengulurkan tangannya mengajak saya salaman lalu mengucapkan sesuatu dalam bahasa Rusia, saya seperti memahami bahwa itu ucapan selamat datang. Saya bangkit dari tempat tidur dan menyalami gadis itu dengan senang. “Terima kasih,” jawabku. “Saya akan tinggal di sini beberapa hari.” Lalu, setelah bersalaman cukup lama, saya ingin melepaskan tanganku. Mendadak tangan gadis itu terasa sangat dingin, dan ia tidak mau melepaskan tanganku. Ia menarik tanganku dengan kuat sampai aku jatuh terperosok ke dalam gudang kecil itu. Gadis itupun tertawa cekikikan melihatku jatuh, tawanya sangat menakutkan.

Saya berteriak-teriak ketakutan dalam mimpi yang membuat teman-teman yang belum tidur lari ke arahku dan membangunkanku. Saya bangun dengan ketakutan lalu menoleh ke gudang di sebelah saya. Tetap saja saya merasa ada yang mengawasi dari sana, akhirnya sepanjang malam saya menyalakan lampu padahal saya tidak bisa tidur menggunakan lampu. Kejadian itu membuat kami semua waspada dan tidak membiarkan salah satu dari kami sendirian. Tetapi meski kejadian selanjutnya teman yang lain justru melihat secara nyata penampakannya, saya tidak diganggu lagi. Mungkin itu ucapan selamat datang dan saya tidak diganggu lagi.

  1. SIAPA YANG MEMANGGIL NAMAKU?

Siem Reap Kamboja terkenal dengan eksotisme masa lalunya yang berupa candi-candi tua. Tetapi di sana juga banyak hotel-hotel dengan bangunan yang sudah tua. Saya memesan hotel itu dari aplikasi karena harganya miring dan mendapatkan sarapan yang berlimpah berupa prasmanan. Tetapi ternyata hotel ini banyak yang menunggu tanpa bisa dilihat oleh mata tamu-tamunya.

Halaman hotel ini teduh sekaligus gelap karena banyak tumbuhan. Kamar saya ada di lantai dua. Begitu memasuki kamar saya sudah disambut dengan lukisan wanita berbaju tradisional warna putih dengan rambut lurus panjang berponi dan mata menatap ke siapa saja di depan lukisan. Mata gadis dalam lukisan itu seperti hidup. Sangat menganggu dan menakutkan. Tetapi saya mengabaikan semua perasaan tidak enak itu dan berusaha untuk istirahat. Sangat melelahkan perjalnaan naik bus umum dari Phnom Penh selama delapan jam. Saya langsung tidur setelah membersihkan badan dan mengganti baju.

Tiga jam tidur, waktu saya terbangun tiba-tiba lantai di kamar itu banjir. Baju-baju yang saya letakkan di lantai karena kecapekan untuk memasukkan ke dalam ransel basah semua. Anehnya basahnya hanya di samping tempat tidur saya. Saya mengecek apakah ada kebocoran dari kamar mandi atau AC ternyata tidak ada, lagipula AC ada di sisi yang lain. Tetapi saat melaporkan kondisi ini ke resepsionis mereka bilang kemungkinan AC-nya rusak. Baik, saya bisa menerima, memang mungkin saja AC-nya rusak meski saya melihatnya baik-baik saja. Saya hanya merasa ada yang tidak beres. Dan benar saja, setelahnya teman saya bermimpi seseorang memasuki kamar melalui jendela dan memaksa untuk masuk. Teman saya sampai teriak-teriak karena ketakutan. Akhirnya kami-pun pindah ke kamar lain bersama beberapa teman lain.

Di kamar lain ini lebih luas dan terang suasananya. Ada 4 bed besar sehingga kami bisa berbagi. Tetapi  saya merasa tidak nyaman memasuki kamar mandi entah kenapa. Karena banyak teman, malam itu saya bisa tidur dengan nyaman. Baru kemudian terjadilah hal menakutkan itu. Seorang teman ke kamar mandi sekitar dini hari, teman-teman yang lainnya termasuk saya masih tidur. Tiba-tiba teman yang baru keluar dari kamar mandi membangunkan saya dan bertanya, “kamu barusan nggedor-nggedor pintu kamar mandi dan manggil aku?” Saya bingung karena semua yang ada di kamar sedang tidur. “Nggak tuh, aku lagi tidur, yang lain juga tidur.” Temen saya mulai panik. “Jadi siapa yang barusan manggil-manggil aku?” Teman saya langsung masuk ke selimutnya dan menutup mukanya dengan selimut, sayapun melakukan hal yang sama. Untung esok harinya kami kembali ke Jakarta, jadi tidak terulang lagi kejadian yang lain.

  1. WANITA BERBAJU PUTIH BERMUKA MENGERIKAN

Suatu hari di tahun 2010, saya masih bekerja kantoran dan sangat jenuh. Saya mengambil cuti dengan alasan ingin istirahat tetapi malah saya gunakan kesempatan ini untuk traveling ke Sulawesi Selatan. Ini kejadian paling mengerikan yang pernah saya alami. Apalagi itu pertama kalinya saya traveling. Masih belum pengalaman dan hanya berbekal nekat saja.  Melalui internet saya memesan hotel yang bagus dan murah menurut saya. Saya ingin merasakan suasana tinggal di hotel yang bangunannya seperti rumah adat mereka. Tetapi begitu sampai lokasi hati saya langsung ciut seciut-ciutnya.  Gimana enggak? Hotel itu besar sekali dan tamunya sangat jarang. Mungkin karena memang bukan waktunya liburan atau mungkin lokasinya jauh dari pusat kota jadi susah dijangkau kendaraan. Saya dan teman saya menghuni satu kamar di sebuah gedung yang tidak ada orang sama sekali. Begitu masuk kamar saya sudah ngeri sendiri karena bakal kesepian. Tetapi kejadian mengerikan itu bukan di kamar yang ini meskipun tanda-tandanya sudah berasa.

Esoknya saya pindah ke kamar lain yang lebih besar nyaris seperti pavilion. Berbentuk panggung saya harus naik tangga kayu untuk sampai pintunya. Begitu membuka pintu mulai terasa hal-hal yang tidak enak itu. Lampunya yang temaram dan perabotan yang tua. Males banget lihatnya. Sama sekali bukan hal romantik tetapi malah mengerikan. Begitu ke kamar mandi, saya ragu mau masuk karena kamar mandi itu luas sekali. Ada tiga ruangan besar mulai dari bathup, pancuran, toilet hingga kaca besar-besar untuk berhias. Saya ketakutan waktu mandi karena merasa ada yang memerhatikannya. Bagaimana kalau mendadak sesuatu muncul di bathup atau di kaca? Saya akhirnya membuka pintu kamar mandi dan meminta temen saya menemani di samping pintu. Oke, kegiatan mandi berlangsung aman. Saya menghela napas lega.

Tetapi malamnya sekitar jam 11 malam saat saya sedang menerima telepon tiba-tiba teman saya yang sudah tidur teriak-teriak keras. Ia berlari ke pembaringan saya sambil ketakutan dan menangis. Ada apa sih? Itu, itu! Katanya sambil menunjuk-nunjuk sesuatu di depannya. Ada apaan? Aku nggak ngelihat apapun. Saya mengambil minum untuk teman saya dan menenangkannya.  Dia masih menangis. “Kamu tadi bangunin aku, tapi pas aku bangun aku lihat kamu pake baju putih panjang, rambut panjang dan wajahmu nakutin,” katanya terus menangis. Saya memang merasa ada yang mengawasi sejak datang di kamar ini, akhirnya semalaman kami tidak tidur. Semua lampu saya nyalakan dan suara murotal dari handphone membelah malam. Untung hanya semalam di kamar itu. Pagi hari belum waktunya check out saya sudah buru-buru keluar dari kamar dan meninggalkan hotel itu.

  1. WAJAH DI CERMIN MUSEUM

Saya menyukai museum, karena dari museum saya belajar banyak hal tentang masa lalu. Nah, siang itu sepulang mengantar teman di daerah Jawa Barat, saya mampir ke salah satu museum yang sangat terkenal di tempat itu. Tidak usah saya sebut nama museumnya ketimbang jadi takut ke sana.  Sebuah museum dengan bangunan rumah kuno yang cantik dan halaman yang luas sangat asri. Ketika saya berkunjung tidak ada pengunjung lain karena sudah sore. Seorang penjaga mengantarkan saya masuk tetapi saya sudah merasakan ketidaknyamanan saat memasuki lorong menuju ruang utama. Penjaga menjelaskan barang peninggalan ini itu dan saya nyelonong masuk ke salah satu ruangan yang di dalamnya penuh barang masih asli dari masanya. Wah, menarik nih, saya kemudian mengeluarkan kamera digital saya.

Di ruangan itu ada satu cermin berbentuk lonjong berdiri, satu lemari lawas dengan pintu geser dan satu meja. Semua benda di kamar ini asli dari masanya. Saya mengambil beberapa foto benda di kamar itu dari berbagai sisi termasuk sisi dalam lemari. Namun saya tidak mengambil foto cermin dari arah depan saya. Saya memotret cermin itu dari samping sehingga saya tidak akan nampak di foto. Menjelang petang setelah menjelajahi halaman, saya pulang. Perjalanan pulang ke Jakarta lama dan macet, maka saya mengisi waktu dengan mengecek foto-foto di kamera. Betapa kagetnya saya saat melihat foto-foto itu banyak penampakan di sana. Ada sosok laki-laki bule mengenakan kacamata bulat sedang melongok dari dalam lemari, ada orang-orang yang duduk di meja dan yang paling mengerikan adalah saya muncul tepat di tengah kaca dengan wajah yang mengerikan. Tubuh dan pakaiannya saya, tetapi wajahnya meleleh. Saya benar-benar ketakutan melihat foto-foto itu. Saya sempat menunjukkan kepada kakak saya, tetapi karena terasa mengerikan saya mendelete semua foto-foto itu.

 

  1. KETUKAN DI DINDING HOTEL

 

Kisah yang ini dalam satu perjalanan liburan sama keluarga ke Bali. Kami memesan dua kamar, satu kamar saya dan yang lain kamar kakak saya. Kamar kami bersebelahan. Sampai di hotel saya tidak merasakan hal-hal yang aneh, apalagi bangunannya terlihat baru dan tidak menampakan suasana yang menakutkan. Saya langsung istirahat dan tertidur hingga jam 11 malam. Tiba-tiba kakak saya yang di kamar sebelah menelepon saya dengan marah-marah. “Nggak usah becanda, saya mau istirahat.” Lalu telepon ditutup. Becanda apa ya? Saya bingung, soalnya saya sedang tidur. Saya biarkan saja kakak saya, tiba-tiba dia mengetuk pintu. Saat saya membuka pintu kakak saya ngamuk karena katanya saya menganggu dia tidur. Menganggu apa sih? “Kamu ngetuk-ngetuk dinding berisik sekali.” Astaga aku tidur, masa ngetuk-ngetuk dinding. Coba cek kamar sebelah. Kamipun pergi ke kamar sebelah yang ternyata tidak ada tamu alias kosong.

Kakak saya mulai agak takut, tapi dia bukan tipe penakut. Dia balik lagi ke kamarnya dan tidur lagi. Tidak lama dia balik lagi ke kamar saya. Karena televisi mendadak nyala sangat keras sampai dia merasa terganggu, lalu televisi itu juga mati sendiri. Ia menyalakan murotal di handphone tetapi kemudian mati sendiri. Baiklah, kakak yang yang tidak penakut ini akhirnya menyerah dan tidur di kamar saya. Luar biasa memang penganggu iseng ini, saya menajamkan pendengaran ke kamar kakak, tetapi tidak mendengar suara apapun.

 

  1. WANITA BERAMBUT BOB DI DEPAN PIANO

Sewaktu di Moscow Rusia saya juga menginap di salah satu apartemen yang terletak di gedung tua. Setelah nyaris satu jam mencari alamatnya dengan menyeret koper ke sana kemari, akhirnya saya menemukan alamatnya, itupun dengan bantuan orang lokal. Mencari alamat di Rusia sangat sulit, karena meskipun nomor yang tertera sama, gedungnya bisa jadi beda.

Apartemen ini ada di lantai 4 tanpa lift dengan kondisi sedang direnovasi. Gedungnya jelas sudah sangat tua, itu terlihat dari bangunan lama yang masih tertinggal. Saya mengangkut koper saya naik ke lantai 4 dengan terseok-seok. Luar biasa, saya benar-benar kapok membawa koper ke Eropa. Beneran nih, mending ransel! Seorang wanita setengah tua mengantar kami ke apartemen dan dia tidak bisa berbahasa Inggris. Orangnya ramah dan baik, sayangnya kami susah berkomunikasi. Jadi semua hal hanya terjadi dalam bahasa isyarat.

Memiliki dua kamar yang besar, satu berdekatan dengan jendela ke jalanan besar di Moscow dan satu lagi ada pianonya. Saya memilih kamar yang ada jendela ke jalan besar. Di sisi lain ada dapur dengan ruang makan kecil dan kamar mandi yang auranya sungguh menakutkan. Kamar mandi itu bercat hijau dengan penerangan yang temaram, kalau lagi mandi dan lampu mati sudahlah, aku nggak tau lagi kondisinya kayak apa. Saya dan teman-teman agak takut memasuki kamar mandi. Tetapi ternyata kemunculan hal menakutkan itu bukan di kamar mandi melainkan di depan piano. Saat malam-malam saya ke kamar mandi, saya mendengar piano di kamar sebelah berbunyi lirih, saya pikir teman saya membunyikannya, ternyata seorang wanita berambut bob sedang duduk di depan piano. Entah siapa dia karena tidak ada teman saya yang berambut bob. Saya segera kabur ke kamar saya dan sembunyi dalam selimut. Suara piano itu lama kelamaan menghilang dan saya tertidur.

 

MY BOOKS & MOVIES

Webseries, 2019

Ini adalah jejak perjalanan saya dalam dunia tulis menulis. Saya jatuh cinta pada tulisan dan ingin terus menulis sampai akhir hayat saya….

 

Webseries, 2019
Serial Ramadhan, 2019

Movie First Media, 2015
Movie 2019
SitKom NetTV, 2016
Short Movie TransTV, 2010
Webseries, 2019
Serial Remaja TransTV, 2010
Travel Diary 2017, Penerbit Grasindo
Novel Anak 2009, Penebit Mitra Bocah Muslim
Novel 2010, Penerbit Lingkar Pena Publishing House
Cerita Anak 2009, Penerbit Mizan
Kumpulan Cerpen 2004, Penerbit Mizan
Novel 2006, Penerbit Mizan
Kumpulan Cerpen 2006, Penerbit Mizan

 

Novel 2003, Penerbit Gema Insani Press

 

RAMADHAN, KENANGAN, PANDEMI DAN ISOLASI

“Mengko bengi budhal ning mesjid sakdurunge isya’ yo….(nanti malam berangkat ke masjid sebelum isya’ ya…” suara teman masa kecil saya itu masih terdengar hingga saat ini. Waktu itu umur saya 8 tahun dan baru saja pindah dari kota kabupaten ke pegunungan, sebuah desa terpencil rumah nenek saya berada. Di desa yang belum ada listrik, belum ada aspal dan bertelanjang kaki saat ke sekolah itu, saya memang agak sulit menyesuaikan diri. Apalagi saya memang tipikal introvert. Tetapi teman-teman masa kecil saya bisa menerima saya dan membolehkan saya ikut main bersama. Main boneka, masak-masakan, gobak sodor, badminton dan ‘klacen’ (mandi) dan bermain di sungai waktu siang hari yang panas.  ‘Klacen’ ini yang biasanya menyulut amarah ibu sehingga saya dihukum. Saya dilarang mandi dan main di sungai karena takut mendadak banjir dan terbawa arus. Tetapi saya sering menyelinap pergi ke sungai saat Ibu tidur siang. Paling-paling waktu pulang sore harinya saya dijewer.

Ramadhan selalu menjadi moment istimewa di masa kecil saya. Bersama teman satu geng, kami mendirikan gubuk kecil di belakang rumah teman saya dan main masak-masakan. Tetapi kali ini main masak-masakannya dengan perlengkapan masak memasak sungguhan, beras sungguhan, daun singkong sungguhan, bubur kacang ijo sungguhan dan dimakannya juga sungguhan meski rasanya terkadang aneh tak terkira. Satu geng kecil itu semuanya puasa, meski ada juga yang hanya sampai beduk dhuhur seperti saya, tetapi setidaknya kami buka puasa bersama di gubuk dengan penerangan lampu minyak dan nyamuk yang luar biasa banyaknya ikut-ikutan buka puasa. Setelah buka puasa dengan menu super aneh itu, kami pulang menyiapkan diri untuk sholat tarawih. Begitu adzan isya’ kami bersama-sama ke masjid dengan penerangan daun kelapa kering yang diikat lalu dibakar ujungnya. Sampai masjid biasanya badan kami apek bau asap tetapi tidak mengurangi kegembiraan kami untuk terus cekikikan menggoda teman-teman yang sholat tarawih.

Usai tarawih, kami langsung pulang ke rumah masing-masing. Saya biasanya menunggu sisa bubur kacang ijo dan peyek yang dijual ibu sambil melihat keramaian orang-orang pulang tarawih. Ibu menjual bubur kacang ijo dan peyek setiap ramadhan agar bisa membelikan saya baju lebaran. Sebenarnya ibu memang selalu menyisakan untuk saya, tetapi biasanya saya menunggu ibu selesai berjualan untuk memakannya. Saya suka makan berdua dengan Ibu sebelum tidur.  Melihat ibu makan dalam diam, saya seperti ikut larut dalam pikiran-pikirannya. Kegemaran makan berdua ibu dan menyelami diamnya itu masih saya lakukan hingga saat ini.  Usai makan berdua, kami lalu tidur.  Baru tidur tiga jam, biasanya jalanan depan rumah kami ramai suara orang menabuh berbagai macam alat musik untuk membangunkan sahur. Sebenarnya kalau dipikir-pikir itu bukan membangunkan sahur tapi mengajak ribut tengah malam saking ramainya. Ada banyak group ronda dengan berbagai macam music yang dimainkan. Tapi saya suka sekali melihat pasukan ronda itu lewat. Saya selalu bangun jam 1 malam lalu mengintip pasukan ronda itu lewat jendela nako kamar saya hingga mereka lewat satu persatu dalam kegelapan. Seperti makhluk gaib, mereka berjalan seperti bayang-bayang dan hanya suaranya yang terdengar memekakkan telinga.

Ramadhan kali ini bagi saya juga sama spesialnya dengan ramadhan pada masa kecil saya. Jika orang lain merasa kesepian karena banyak hal-hal yang berbeda saat ramadhan ini, tetapi buat saya kebalikannya. Sudah bertahun-tahun saya menjalani ramadhan sendirian hanya bersama orang-orang di masjid dekat rumah saya, karena keluarga saya saat ramadhan selalu pulang kampung dan saya harus bekerja mengejar deadline tayangan ramadhan hingga menjelang Idul Fitri. Ujungnya saya tidak bisa merayakan ramadhan di kampung karena kehabisan tiket kereta atau pesawat. Jadi tahun-tahun sebelumnya saya lebih banyak menjalani puasa ramadhan sendirian dan Idul Fitri sendirian. Tetapi tahun ini berbeda. Karena tidak ada yang bisa pulang kampung saya jadi ada temannya. Salah satunya bisa mengulangi kegemaran saya makan berdua dengan ibu sambil menyelami pikiran-pikirannya saat beliau terdiam menikmati makanannya.

Hari ini adalah hari ke 17 kami menjalani ramadhan bersama. Juga sudah dua bulan dalam isolasi karena pandemic covid-19. Saya bertugas keluar rumah beberapa hari sekali untuk belanja ke tukang sayur dan minimarket dengan perlengkapan seolah mau perang setiap keluar rumah. Masker, cairan pencuci tangan, kacamata dan perasaan was-was setiap bertemu manusia lain.  Pulang dari belanjapun tidak main-main hebohnya. Saya selalu mencuci tangan dan kaki di depan rumah lalu masuk kamar mandi mengganti pakaian sekalian mandi, mencuci semua barang belanjaan, menyemprot kendaraan dengan desinfektan dan mengelap uang kembalian serta semua kartu yang ada di dompet dengan alcohol. Tinggal di daerah zona merah membuat kami selalu waspada dengan musuh yang tak terlihat itu. Ibu sudah berusia lanjut dan saya punya penyakit bawaaan, jadi kami harus lebih bersiaga. Tetapi alhamdulillah, sampai hari ini kondisi kami baik-baik saja. Memang sudah mulai didera sedikit stress dan stuck karena di rumah saja, tetapi setiap perasaan stress itu datang saya berusaha mengingat orang-orang yang tidak lebih beruntung dari saya sehingga bisa banyak dirumah saja.

Di luar sana banyak orang yang tetap harus bekerja karena mereka pekerja harian, lebih banyak lagi yang di PHK dan tidak bisa makan, dan cerita menyedihkan lainnya. Saya sendiri sudah tidak bekerja sejak pandemic karena semua syuting dihentikan. Saya masih menulis karena memang menulis sudah menjadi bagian hidup saya, tetapi proyek-proyek scenario yang mendatangkan penghasilan semua sudah dihentikan. Saya melihat di timeline social media, penerbit-penerbit juga mengurangi jumlah penerbitan buku mereka bahkan sebagian penulis mengeluhkan royaltinya. Saat-saat ini banyak sekali teman-teman yang kehilangan pekerjaannya. Tetapi dalam kondisi buruk ini, banyak juga hal baik yang tumbuh. Saya melihat solidaritas menyebar dimana-mana, orang-orang saling membantu satu sama lain, mengirim makanan satu sama lain dan peduli dengan penderitaan orang lain. Selalu ada hal baik dalam setiap kejadian. Saya percaya itu.

Saya menemukan satu tulisan bagus di media social yang judulnya “We are not in the same boat,” tentang renungan pandemic ini. Sang penulis yang tidak disebutkan namanya menuliskan tentang perjalanan banyak orang mengarungi badai pandemic. Semua orang mengarungi badai dengan caranya dan penderitaannya masing-masing tetapi tidak dalam satu perahu yang sama.  Ada yang memiliki keberuntungan bisa bekerja dari rumah, tetap digaji dan pandemic ini justru menjadi waktu yang berharga untuk berkumpul dengan keluarganya karena sebelumnya pekerjaan mereka sangat menyita waktu. Ada yang harus bertarung diluar rumah karena pekerja harian untuk menghidupi keluarganya. Ada yang tenggelam dalam kesepian yang menyakitkan karena dia hidup sendirian. Ada yang baru mengenali kebiasaan anak-anaknya karena selama ini hanya diurus oleh orang lain. Dan ada yang kehilangan keluarganya karena pandemic. Banyak hal terjadi pada orang-orang di sekeliling kita bahkan mungkin tanpa bisa kita lihat secara nyata. Bagi saya sendiri, saya menemukan banyak hal dalam diri saya pada masa pandemic ini. Saya menemukan kekuatan diri bertahan dari banyak depresi, saya lebih bisa menghargai waktu saya dengan keluarga saya dan saya mengambil kendali hidup saya sendiri setelah banyak dikendalikan orang lain secara emosional.

Apakah kita semua akan keluar sebagai pemenang setelah pandemic ini selesai? Semoga. Ramadhan dan pandemic ini membuat kita menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. **

10 SUNGAI INI MENYUGUHKAN PANORAMA YANG MENARIK

Perjalanan bagi saya adalah waktu yang tepat untuk kontemplasi. Karena itu juga, saya tidak suka bersama banyak orang. Salah satu tempat yang selalu saya kunjungi selain kota tua adalah sungai.  Sungai menjadi saksi bisu bergulirnya sejarah di negara tersebut dan menjadi tempat yang asyik untuk duduk melamun saat senja. Berikut sungai yang pernah saya kunjungi di beberapa negara.

1. SUNGAI DANUBE BUDAPEST, HUNGARIA

Mengunjungi sungai Danube pada senja hari merupakan ide yang tepat. Saya sampai di Budapest pada malam sebelumnya naik bus dari Vienna Austria. Begitu sampai, saya  kebingungan saat hendak masuk ke gedung tua tempat saya menginap.  Hostel itu berada di lantai 4 gedung tua dengan pintu gerbang yang besar dan berat sampai saya tidak kuat mendorongnya. Seorang cowok lewat dan kasihan melihat saya kesulitan mendorong pintu. Dia membantu saya mendorong pintu dan menyelesaikan drama itu. Tetapi memang banyak drama saat di Budapest. Saya kesulitan mencari kartu transportasi sehingga memutuskan mengikuti google map untuk berjalan kaki sampai sungai. Untung dari hostel ke sungai tidak terlalu jauh. Justru saya menemukan banyak hal menarik sepanjang perjalanan dari hostel ke sungai seperti yang bisa saya kunjungi esok harinya.

Saya tiba di pinggir sungai tepat saat lampu-lampu kota yang berwarna kekuningan mulai menyala tetapi langit masih terang. Lampu yang diatur sedemikian artistik itu membuat bangunan-bangunan tua di sekitar sungai berubah keemasan. Salah satunya adalah gedung Parlemen Budapest yang menjadi tujuan wisata para turis. Beberapa operator cruise yang mengangkut turis tampak bolak balik menyusuri sungai. Mereka menikmati pemandangan senja dan bangunan-bangunan bersejarah di kota Buda dan Pest dari kapal. Sebagian penumpang melambaikan tangan ke arah turis yang duduk menikmati senja di tepi sungai.  Sungai Danube pada senja hari sangat cantik dan romantis.

Sungai Danube merupakan sungai panjang yang bersumber dari Jerman hingga Laut Hitam di Rumania.  Ada 10 negara yang dilewati sungai ini mulai dari Austria, Bulgaria, Kroasia, Jerman, Hungaria, Moldavia, Slowakia, Rumania, Ukraina dan Serbia. Sungai Danube membagi Budapest menjadi dua bagian yaitu kota Buda dan kota Pest.  Kota Pest terletak di dataran sebelah timur, merupakan pusat kota yang memiliki banyak pusat perbelanjaan dan kafe-kafe sementara kota Buda terletak di sebelah barat dengan kontur berbukit-bukit. Keduanya dihubungkan oleh 9 jembatan, salah satunya jembatan Chain yang terkenal dan menjadi tujuan wisata para turis. Dari tempat saya duduk, saya bisa melihat bangunan-bangunan tua cantik di kota Buda yang ada di seberang sungai.

Setelah duduk menikmati suasana Budapest dari pinggir sungai Danube sekitar tiga jam, saya berjalan kaki menyusuri trotoar pinggir sungai ke arah jembatan Chain. Sebelum sampai di jembatan Chain, saya melewati Szechenyi Street. Tampak beberapa orang membawa bunga mawar dan meletakkan bunga mereka di atas sepatu besi yang ada di pinggir sungai.  Tempat itu adalah Shoes on The Danube Promenade, memorial untuk memeringati korban Holocaust, “Mengenang korban yang ditembak ke Sungai Danube oleh milisi Arrow Cross pada 1944-1945”. Instalasi yang terdiri dari 60 pasang sepatu dari besi dan di belakangnya terdapat bangku yang terbuat dari batu sepanjang 1.188 meter dengan tinggi 71 cm ini merupakan saksi salah satu momen terkelam di Budapest selama Perang Dunia II tepatnya pada musim dingin 1944-1945.  Ribuan orang Yahudi pada masa itu diikat bersamaan dan ditembak ditepi sungai. Jasad mereka dilemparkan ke Sungai Danube oleh Arrow Cross Party. Sungai Danube menjadi pemakaman Yahudi paling mengeringkan pada masa itu. Karena sepatu saat itu sangat berharga maka sebelum ditembak mereka dipaksa melepaskan sepatunya dan sepatu itu akan dijual ke pasar gelap oleh para eksekutornya. Memorial ini terbuka untuk dikunjungi para turis, terkadang juga kerabat para korban. Mereka meletakkan bunga, koin dan lilin di sana.

Malam semakin sepi saya melanjutkan perjalanan ke jembatan Chain yang masih ramai. Orang-orang duduk di pinggir sungai sekitar jembatan Chain menikmati malam. Sayapun bergabung untuk duduk di sana. Sungai Danube yang cantik dan romantis namun menyimpan tragedi kelam dari masa lalu ini sayang untuk dilewatkan jika anda ke Budapest.

2.SUNGAI SEINE PARIS, PRANCIS

Sungai Seine memang menjadi tujuan utama saya saat berkunjung ke Paris. Sebagai orang yang suka melamun di pinggir sungai, tempat ini tidak akan saya lewatkan. Sungai Seine tidak hanya menjadi ikon pariwisata di Paris tetapi juga menjadi inspirasi banyak seniman Prancis ; pematung, pelukis, filmmaker bahkan penulis dalam karya-karya mereka. Maka setelah seharian berjalan kaki menyusuri kota Paris yang super eksotis, saya turun ke trotoar tepi sungai Seine. Siapa tahu saya juga mendapatkan inspirasi seperti para seniman itu, meskipun kenyataannya saya malah terkagum-kagum dengan pemandangan sepanjang sungai sehingga tidak mendapatkan inspirasi apapun.

Sungai Seine membelah kota Paris menjadi dua bagian yaitu utara dan Selatan dengan panjang 776 kilometer dan memiliki puluhan jembatan yang bertengger diatasnya. Sebagai sungai terpanjang kedua di Perancis setelah Sungai Loire, pada awalnya Sungai Seine digunakan sebagai sarana transportasi dan pembuangan. Tetapi pada masa kini, sungai Seine menjadi salah satu cagar budaya UNESCO. Tidak hanya sebagai jalur lalu lintas komersial, sungai ini juga menjadi tujuan wisata para turis dari seluruh dunia. Selain Eiffel, sungai Seine merupakan ikon kota Paris. Di sepanjang pinggir sungai banyak turis, orang lokal yang duduk menikmati senja atau olahraga juga mereka yang bekerja di sungai.  Wisata yang ditawarkan adalah menyusuri sungai dengan naik cruise yang akan melewati ikon-ikon wisata di Paris. Jika menyisir dari arah timur menuju arah barat Sungai Seine, akan tampak puluhan situs yang terletak di kanan-kiri lembah Sungai Seine. Di lembah kiri sungai tampak berturut-turut la Grand Bibliotheque, Institut de Paris, Musee d’Orsay, hingga Menara Eiffel. Sementara, di sayap kanan sungai berdiri dengan megah bangunan yang lain dari Bercy, Hotel de Ville, Musee du Louvre, hingga Jardin Trocadero. Ada bermacam operator cruise di Paris seperti Batobos, Bateux Parisiens dan Vandettes du Pont Neuf.  Masing-masing bisa dipilih sesuai fasilitas yang ditawarkan dan kemampuan kantong kita. Ada cruise yang menawarkan tour biasa hanya keliling melihat wisata melalui sungai Seine, ada dinner tour hingga private tour. Saya memilih tour biasa menggunakan Vandettes du Pont Neuf dengan tiket yang bisa dibeli langsung di dermaga atau online di website. Saya memilih membeli langsung di dermaga.

Tepat menjelang matahari terbenam cruise yang saya naiki memulai perjalanan menyusuri sungai Seine. Saya memilih duduk di bagian atas kapal yang terbuka sehingga lebih leluasa mengambil foto. Tidak banyak turis yang naik cruise ini sehingga saya bebas memilih tempat duduk. Seorang wanita Asia berambut panjang dan cantik memandu perjalanan itu.  Matahari bersinar keemasan menerpa menara Eiffel sehigga terlihat sangat cantik dari sungai. Udara musim semi terasa dingin di tubuh tropis saya sehingga saya perlu merapatkan jaket. Jika anda ingin menyusuri sungai Seine ketika berlibur ke Paris, saya sarankan waktu sunset karena romantisnya kota Paris dan sungai Seine akan berpadu menciptakan keindahannya.

3.SUNGAI THAMES, INGGRIS

Menyusuri tepian sungai Thames selalu menjadi satu bundel kegiatan berwisata para turis seluruh dunia yang datang ke London, Inggris. Karena selain sangat populer, di sekitar sungai ini bisa dijumpai banyak ikon kota London seperti Big Ben, London Eye, dan Tower Bridge. Saya hanya memiliki waktu sebentar pada siang hari selepas mengunjungi Big Ben untuk menyusuri tepi sungai ini sehingga tidak sempat melamun lama-lama dan menunggu senja datang. Tetapi waktu sebentar itu saya manfaatkan sebaik-baiknya.

Sungai Thames mengalir di selatan Inggris dan menghubungkan kota London dengan laut sepanjang 356 kilometer.  Selain sebagai penyedia ikan bagi penduduk kota, sungai ini juga menjadi pensuplai air serta sarana transportasi. Meskipun dinobatkan sebagai sungai terbersih di dunia, tetapi pada masa lalu sungai ini pernah menjadi sungai mati karena limbah sampah dan manusia dengan polusi yang sangat tinggi. Kemudian pemerintah Inggris bekerja keras untuk mengatasi masalah polusi itu dengan berbagai proyek konservasi dan perbaikan sitem. Semua kerja keras itu menampakkan hasilnya hingga saat ini sungai Thames menjadi sungai bersih yang menjadi lokasi wisata turis dari berbagai belahan dunia.

Seperti di beberapa negara Eropa lainnya, banyak cara yang bisa dilakukan untuk menikmati sungai Thames mulai dari mengikuti tour cruise dengan berbagai jenis paket yang akan membawa turis ke berbagai ikon wisata seperti London Eye, Tower Bridge, Gedung Parlemen Kerajaan Inggris, Big Ben dan Gereja Katedral St. Paul. Atau bisa juga mampir di salah satu kafe-kafe pinggir sungai dan duduk di sana menikmati lalu lalang orang sambil memesan beberapa makanan kecil. Saya tidak memiliki waktu untuk keduanya sehingga hanya berdiri beberapa menit di pinggiran sungai sambil melihat lalu lalang orang di sekitaran Tower Bridge. Seorang penjual kacang almond tampak ramai dikerubungi turis dan saya ikut bergabung untuk membeli kacang almond dalam berbagai rasa itu. Begitu saya memegang kacang almond, merpati yang beterbangan di situ mendekat. Sayapun menikmati kacang almond bersama beberapa merpati sambil menunggu matahari tidak terlalu panas untuk meninggalkan tempat itu.

4.SUNGAI VLTAVA, PRAHA, REPUBLIK CEKO

Saya tiba di Praha pagi hari setelah nyasar-nyasar mencari apartemen tempat saya menginap yang ternyata jauh dari pusat kota dan ada di ujung blok. Pemilik apartemen itu, Miroslav, seorang cowok gondrong berwajah baik dan penuh senyum datang satu jam setelah saya menunggu dengan kaki kesemutan di depan gedung. Tetapi begitu memasuki apartemen semua rasa lelah itu terobati dengan kegugupan naik lift tua yang cara operasinya masih manual dan ruangan apartemen yang terasa wow sekali. Bagaimana tidak?  Apartemen itu cukup besar dan bagus. Bahkan Miro melengkapinya dengan beberapa bahan makanan gratis di kulkas, peta kota Praha dan konsultasi gratis lokasi-lokasi menarik yang harius saya kunjungi. Saya bebas memasak, mencuci dan melakukan apa saja layaknya di rumah sendiri selama tinggal di Praha. Meskipun lokasinya agak jauh dari tujuan wisata, tetapi berdekatan dengan mall yang disana saya bisa mendapatkan makanan dengan mudah.

Saya lupa menulis kota tua Praha di tulisan saya sebelumnya tentang Old Town padahal Praha adalah kota tua paling eksotis. Memasuki pusat kota Praha saya seperti memasuki  masa lalu. Nyaris semua bangunan tua masih berdiri dengan megahnya menjadi fokus pariwisata. Sebelum duduk di pinggir sungai Vltava, saya memutuskan untuk menjelajahi kota tua Praha dan memulainya dari Charles Bridge. Satu dari puluhan jembatan yang sangat terkenal dan menjadi tujuan utama para turis. Karena masih pagi, Charles Bridge belum ramai sehingga tenang untuk menikmatinya.  Charles Bridge merupakan jembatan bersejarah yang sudah berumur 8 abad dibangun pada masa pemerintahan Raja Charles IV. Jembatan ini membentang di atas sungai Vlatva ini menghubungkan dua kota di Praha yaitu Old Town dan Lesser Town. Sebelum menyeberangi jembatan, saya naik ke menara yang ada di gerbang jembatan untuk melihat kota Praha dari ketinggian. Di menara ini juga ada kisah sejarah masa lalu jembatan Charles.

Sekelompok pemuda memainkan musik di dekat pintu masuk jembatan Charles membuat suasana semakin romantis. Lampu-lampu antik dan patung bergaya Eropa klasik di sisi kiri dan kanan jembatan tampak sangat cantik saat diabadikan dengan kamera dengan latar kota tua. Saya merasakan aura eksotis dan mistis yang bersamaan. Kota ini benar-benar menjerat saya. Apalagi saat turun dari jembatan lalu mampir ke Praha Castle dan masuk ke salah satu library kafe di salah satu bangunan tua. Saya benar-benar terkesima dengan kecantikan kota ini. Endingnya, menjelang sore saya turun ke pinggir sungai Vltava.

Pinggiran sungai Vltava tempat saat menikmati suasana tampak masih natural dan tidak dibangun macam-macam. Ada beberapa bangku tua dan pohon-pohon meranggas di sekelilingnya. Burung-burung beterbangan bebas dan bebek-bebek liar berwarna hijau cantik berenang di sungai. Sungai Vltava merupakan sungai terpanjang di Republik Ceko, 430 km, yang mengalir ke tenggara di sepanjang hutan Bohemia dan kemudian ke utara melintasi Bohemia, melalui Cesky Krumlov, Ceske Budejovice dan Praha. Dari tempat saya duduk, saya bisa melihat jembatan Charles yang melintang dengan patung-patung Baroque yang menghiasinya. Sungai Vltava juga menjadi tempat berkumpul penduduk lokal yang melakukan aktivitas seperti berjualan di pasar loak, melakukan olahraga dan masih banyak lagi. Saya ingin menunggu senja di tepi sungai Vltava, tetapi matahari terbenam baru pukul 10 malam, jadi saya memutuskan meninggalkan pinggir sungai Vltava dan kembali ke apartemen. Untuk anda yang menyukai hal-hal klasik seperti saya, Praha jangan dilewatkan.

5.SUNGAI NEVA, SANK PETERSBURG, RUSIA

Saya tiba di Sank Petersburg setelah semalaman naik kereta dari Moscow. Di kota ini banyak tempat yang saya rencanakan untuk dikunjungi salah satunya sungai Neva. Tetapi saya terdampar di tepi sungai Neva karena nyasar mencari makan malam. Setelah mengunjungi salah satu gereja kuno dan salah belok saat di pertigaan, saya malah tiba di lokasi antah berantah. Berharap menemukan mall tetapi malah tiba di pinggir jalan besar bebas hambatan. Setelah mencari penyeberangan yang ternyata jauh sekali, akhirnya saya tiba di tepi sungai Neva. Pada suhu 9 derajat dan malam yang sangat sepi, sungai Neva mengalir tenang. Hanya ada satu orang lokal sedang memancing saat saya tiba. Sungai Neva melintasi Sank Petersburg dan bermuara di Teluk Finlandia. Meskipun panjangnya hanya 74 km, tetapi sungai Neva merupakan salah satu sungai yang memiliki volume air terbesar di Eropa. Sungai Neva menghubungkan Danau Ladoga yang merupakan danau terbesar di Eropa dengan Laut Baltik.

Menikmati malam yang dingin di tepi sungai Neva pada sisi jalan bebas hambatan terasa sangat privat karena hanya berteman seorang pemancing lokal. Di seberang sungai tampak gedung-gedung megah menjulang dengan lampu yang menyala gemerlapan. Saya berpikir mungkin di sana ada mall dengan foodcourt didalamnya sehingga saya bisa makan malam. Tetapi rasanya sayang melewatkan duduk melamun di pinggir Sungai Neva karena saya khawatir besok tidak memiliki waktu lagi. Maka saya memutuskan untuk turun ke pinggir sungai melalui undakan semen yang tertata rapi dan duduk di salah satu bangku semen yang memang disiapkan untuk orang yang bersantai di sana. Beberapa kapal melintas membawa muatan. Sungai Neva memang selama berabad-abad menjadi sarana transportasi yang penting antara Rusia, Swedia, Finlandia dan Baltik hingga pernah terjadi peperangan di tepi sungai ini. Neva juga menjadi cikal bakal lahirnya kota Sank Petersburg.

Seperti di negara Eropa lainnya, banyak kapal wisata yang lalu lalang menyusuri sungai Neva. Semua tempat wisata di Sank Petersburg seperti Benteng  Peter dan Paul, Istana Musim Dingin, Penunggang Kuda Perunggu, Taman Musim Panas, Biara Alexander Nevsky, Katedral Smolny, Istana Marmer dan banyak lagi bisa dijangkau melalui sungai karena lokasinya dekat dengan sungai. Sehingga kapal wisata yang menyusuri sungai bisa berhenti untuk menurunkan turis di tempat wisata yang ingin mereka kunjungi. Tetapi dari semua tempat wisata itu, bagi saya Sungai Neva menjadi daya tarik tersendiri yang menyimpan sejarah masa lalu.  Jam menunjukkan pukul 9 malam saat saya berjalan terus menyusuri sepanjang sisi sungai Neva namun tidak juga menemukan mal. Akhirnya saya memesan taksi online yang kemudian mengantar saya ke Galeria Mal yang ternyata posisinya ada di sebelah apartemen tempat saya menginap. Untung di Galeria Mal saya bertemu mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang kemudian memberi masukan agar tidak nyaasar-nyasar lagi. Tetapi kesulitan membaca peta itu ada baiknya karena ketemu hal-hal tak terduga yang menyenangkan saat perjalanan.

6.SUNGAI VOLKHOV, VELIKY NOVGOROD, RUSIA

Setelah naik bus 4 umum jam dari Sank Petersburg, saya sampai di kota Veliky Novgorod. Kota kecil yang menjadi cikal bakalnya Rusia. Apartemen yang saya sewa berada di dekat Kremlin (Benteng) yang menjadi tujuan wisata sehingga hanya perlu berjalan kaki untuk memasuki Kremlin. Tetapi kota Veliky Novgorod memang kecil dan sebenarnya bisa dikelilingi dengan berjalan kaki untuk mengunjungi kawasan wisatanya. Menikmati sungai pada senja hari sepertinya tidak mungkin dengan suhu bulan November yang sangat dingin, bahkan saat saya tiba di apartemen pukul 5 sore saja sudah tidak berani keluar karena hujan dan dinginnya luar biasa.

Maka saya mengunjungi Sungai Volkhov pada esok harinya. Itupun saat matahari tepat diatas kepala dan saya masih saja menggigil kedinginan. Setelah memasuki Kremlin dan mengunjungi situs-situs bersejarah di dalam Kremlin, saya menyeberangi jembatan yang berada tepat di atas sungai Volkhov. Banyak orang menikmati siang di pinggiran sungai bersama keluarganya dan memberi makan merpati yang beterbangan di sekitar situ. Di ujung jembatan ada kapal yang digunakan sebagai restoran dan bangku-bangku yang bisa digunakan untuk duduk menikmati ponorama sungai.

Sungai Volkhov memiliki panjang 224 km dan menghubungkan Danau Ilmen dan Danau Ladoga. Kota Veliky Novgorod terletak di sepanjang aliran sungai ini. Meskipun hanya kecil tetapi sungai ini memiliki peran yang sangat strategis sebagai transportasi perdagangan pada abad pertengahan.  Sungai Volkhov merupakan satu-satunya sungai yang menembus jauh ke pedalaman Rusia menuju Baltik. Di sekitar sungai ini masih berupa hutan kecil dengan banyak pohon menjulang.  Andai saja suhu dan cuaca bersahabat, sangat menyenangkan duduk-duduk menikmati senja di tepiannya ditemani burung-burung kecil yang jinak bersarang di pohon-pohon rendah. Tetapi meskipun kedinginan, musim gugur sangat cantik karena daun-daun merah beterbangan di sekeliling sungai. Pada senja harinya saat saya pulang dari pasar dan melewati sungai melalui jembatan diatasnya, saya melihat langit kemerahan dan orang-orang duduk di tepi sungai. Tetapi saya tidak sanggup melakukan itu karena udara semakin dingin. Mungkin saya akan kembali ke pinggir sungai Volkhov pada musim panas yang lain, semoga saja saya bisa kembali untuk menikmatinya.

7.SUNGAI CHEONGGYECHEON, SEOUL, KOREA SELATAN

Tempat favorit saya di Seoul, selain Taman Nasional Gunung Seoraksan, rumah-rumah tradisional di Jeonju, yaitu sungai Cheonggyecheon. Selama di Seoul saya mengunjungi sungai ini setiap sore hingga malam hanya untuk duduk menikmati suasana dan memandangi lalu lalang orang sambil mencelupkan kaki ke airnya yang sejuk. Orang-orang mengenal sungai Han sebagai sungai utama di Korea Selatan tetapi sungai Cheonggyecheon ini menjadi tujuan turis yang datang ke Seoul.  Siang sampai malam selalu ramai. Tetapi bagusnya berkunjung senja sampai malam karena tidak panas dan sering ada festival atau atraksi-atraksi gratis di sekitarnya. Saya sempat menonton festival musik gratis di dekat sungai ini waktu berkunjung ke sana.

Sungai Cheonggyecheon memang bukan sungai sebenarnya. Sungai ini adalah sungai buatan yang mengalir di tengah kota, diantara gedung-gedung tinggi. Melalui proses yang panjang akhirnya sungai ini menjadi primadona wisata Seoul. Tak hanya menjadi ruang publik yang menarik untuk berjalan kaki atau duduk menikmati kota, tetapi aliran sungai ini juga menjadi bukti bahwa suasana desa dengan gemericik air dan tumbuh-tumbuhan bisa dihadirkan di tengah gemerlap metropolitan.  Di sekeliling sungai ini juga banyak restoran dan kafe sehingga kita bisa duduk menikmati makanan sambil memandang aliran sungai. Jika malam hari dan kita turun ke bawah, kita bisa menyeberangi sungai melalui batu-batu yang sudah ditata sedemikian rupa. Di ujung sungai tampak patung dengan air mancur dan cekungan besar yang digunakan para turis dan orang lokal untuk melempar koin. Sepertinya itu koin keberuntungan. Saya menyusuri sepanjang sisi sungai dan menemukan beberapa penjual makanan dan pelukis foto.  Di tempat yang lumayan sepi saya duduk dan mencelupkan kaki ke air yang sejuk. Seketika kaki yang pegal karena menjelajah seharian hilang. Apalagi sambil menikmati es krim. Sungai Cheonggyecheon selalu akan menjadi tempat favorit saya ketika kembali ke Seoul.

8. SUNGAI CHAO PHRAYA, BANGKOK, THAILAND

Mengunjungi Bangkok tanpa menyusuri sungai Chao Phraya itu rasanya pasti ada yang kurang karena sungai Chao Phraya mengalir di hampir seluruh kota Thailand. Sungai dengan panjang 372 km ini mengalir dari Bangkok dan bermuara di Teluk Thailand.  Hari terakhir di Bangkok sambil menunggu penerbangan malam, saya berjalan kaki menyusuri trotoar dan sampailah di tepi sungai Chao Phraya. Jadi tidak ada rencana untuk duduk-duduk manis melamun di tepi sungai seperti di kota lain karena waktu perjalanan saya kali itu sangat sempit.  Tapi karena di depan saya ada dermaga maka saya belok saja dan memesan tiket untuk naik boat keliling sungai. Pemandangan tetap cantik meskipun siang bolong dan panas, saya membayangkan pada waktu senja pasti lebih cantik lagi.

Sungai Chao Phraya merupakan pertemuan 4 sungai kecil yaitu sungai Ping, Wang, Nan dan Yom. Selain berfungsi sebagai sarana transportasi yang sangat penting, sungai ini juga berfungsi untuk irigasi dan pasar terapung. Dari sungai ini kita juga bisa melihat ikon wisata Bangkok seperti Wat Arun, Grand Palace, kawasan belanja Asiatique dan hotel-hotel mewah yang berjajar di tepi sungai. Karena memilih tiket paling murah maka saya hanya sekali jalan dan turun pada dermaga berikutnya. Saya benar-benar tidak puas dengan perjalanan ini dan berharap bisa mengulangnya. Karena menurut saya menyurusi Bangkok melalui sungai Chao Phraya adalah cara terbaik untuk mengenali kota ini. Apalagi saya belum mendapatkan sunsetnya. Saya akan kembali suatu saat nanti jika ada kesempatan.

9. SUNGAI MEKONG, PHNOM PENH, KAMBOJA

Terletak di tepi sungai Mekong Phnom Penh memiliki banyak tempat menarik untuk di ekplore salah satunya sungai Mekong itu sendiri yang tepiannya menjadi tempat publik berjalan kaki, duduk menikmati senja dan pedagang asongan berjualan. Sungai ini tepat berada di tengah kota, dekat dengan taman di depan Royal Palace dan deretan restoran serta hotel di sepanjang sisi yang lainnya. Saya menikmati sungai Mekong Phnom Penh pada senja hari tepat sebelum matahari terbenam.  Sedang asyik melamun membayangkan naik kapal menyusuri sungai terpanjang di Asia ini, seorang penjual cemilan Kamboja sebangsa jangkrik, kalajengking, kecoa dan belalang lewat di dekat saya menawarkan dagangannya. Pada masa kecil ketika saya tinggal di desa, tetangga juga banyak makan belalang dan jangkrik tetapi bukan kecoa dan kalajengking. Saya tidak membeli tetapi jika ingin memotret saya harus membeli dulu. Akhirnya saya beringsut ke sisi yang lain berpapasan dengan para biksu yang sedang lewat dan berhenti di dekat penjual balon yang dikerubungi anak-anak.

Dengan panjang 4200 km, sumber aliran sungai Mekong dari dataran tinggi Tibet Cina yang kemudian melintasi Kamboja bagian utara hingga selatan dan melewati Phnom Penh. Sebenarnya selain duduk melihat sungai yang mengalir tenang itu ada cara lain untuk menikmati sungai Mekong yaitu dengan menyewa kapal dan menyusuri sepanjang sungai. Dengan kapal ini wisatawan juga bisa mampir ke ikon-ikon wisata di Phnom Penh. Tetapi selain mahal, saya lebih suka menikmati sungai ini dengan bergabung bersama orang-orang lokal dan pedagang asongan yang sibuk menawarkan dagangannya. Sementara untuk mengunjungi ikon-ikon wisata itu saya menggunakan tuk-tuk. Hampir jam 7 malam ketika saya meninggalkan pinggir sungai Mekong dan berjalan menuju hostel bersama beberapa biksu yang juga berjalan dengan arah yang sama. Setiap kota selalu menarik untuk di ekplore dengan semua kekayaan khasnya, saya menyukai keramaian orang-orang lokal yang menunggu matahari terbenang di pinggir sungai Mekong Phnom Penh.

 10. SUNGAI KAMOGAWA, KYOTO, JEPANG

 Kyoto menyuguhkan wisata klasik yang diburu para pemuja eksotisme seperti saya. Selain bangunan-bangunan tua peninggalan bersejarah dari zaman Edo di Gion district, kuil Kiyomizudera,  Fushimi Inari Taisha, hutan bambu Arashiyama, kuil Nijo, pasar Nishiki juga ada satu sungai yang menarik untuk disusuri tepiannya yaitu sungai Kamogawa.  Setelah menyusuri Gion dan mencari makanan di Pasar Nishiki, saya berjalan terus menyusuri trotoar yang disampingnya banyak restoran dan toko-toko hingga kemudian saya menemukan sungai Kamogawa. Sungai Kamogawa adalah sungai utama yang membelah Kyoto menjadi dua bagian yaitu barat dan timur. Untuk menikmati sungai ini kita bisa berjalan kaki atau bersepeda menyusuri sepanjang sisinya. Saat senja banyak turis dan orang-orang lokal mengenakan pakaian tradisional Jepang Kimono berjalan menyusuri tepian sungai ini sementara sebagaian yang lain duduk di pinggir sungai menikmati senja. Di sepanjang sungai ini juga nampak berjejer rumah-rumah penduduk dengan nuansa khas Kyoto. Karena lokasinya yang masih banyak pohon dan seperti hutan kecil, saat menyusuri sungai Kamogawa, kadang kita akan berjumpa hewan-hewan yang belum pernah kita jumpai sebelumnya.

Sumber air sungai Kamogawa berasal dari gunung Sajikigatake yang berada di sisi utara Kyoto dan mengalir hingga ke Teluk Osaka. Karena berasal dari pegunungan air sungai ini jernih dan lingkungan sekitarnya juga masih natural. Kita bisa menikmati sungai Kamogawa tanpa halangan gedung-gedung tinggi pencakar langit. Bahkan duduk di dekat sungai ini seperti berada di kawasan pegunungan yang sejuk dan asri. Kata seorang teman, pada malam hari sungai ini juga ramai dikunjungi penduduk lokal dan turis. Mereka duduk di sepanjang sungai untuk menikmati malam sambil memandang lampu-lampu dari jembatan yang memantul gemerlapan ke permukaan air.  Sungai yang masih alami ini sangat menarik untuk disusuri saat anda berkunjung ke Kyoto. (*)