Tag Archives: sharing

RANI AULIA : SOLO TRAVELER YANG MERDEKA

Sejak beberapa tahun terakhir ini, saya mengagumi traveler wanita yang satu ini. Saya belum pernah bertemu dengannya secara darat, tetapi saya mengikuti perjalanannya keliling dunia melalui sosial media. Pada 2016, Rani Aulia memulai perjalanan solo travelingnya selama 333 hari mengunjungi 22 negara  diantaranya Eropa, Kanada, Norway, Maroko, Turky, Iran, Georgia, India dan ratusan kota di dalamnya.  Mengaku sebagai sosok yang takut ketinggian, takut air, takut naik motor dan takut pada ulat bulu, wanita yang akrab di sapa Teh Rani ini sempat tidak percaya mampu bertahan solo traveler selama setahun. Perjalanan itu kemudian mengawali perjalanan-perjalanan menakjubkan lainnya seperti yang terbaru solo traveling menjelajah Afrika dalam 3 bulan.

Jika melihat dari sosial medianya, gaya perjalanan Teh Rani sangat membumi dan merdeka. Menyusuri berbagai negara dengan gembira, berbaur dengan warga lokal dan berusaha mengenali kehidupan orang-orang lokal.  Saya kemudian mengirimkan email untuk ngobrol-ngobrol dengan Teh Rani dan mengajaknya berbagi di SHARING seribulangkah.com/. Berikut ini obrolan saya dengan Teh Rani, semoga saja menginspirasi teman-teman yang ingin solo traveling juga seperti Teh Rani.

Hai Teh Rani, apa kabar? Saat ini sedang traveling di negeri mana? Ceritakan dong sedikit tentang diri Teh Rani. Ada nggak pengaruh keluarga yang membuat Teh Rani suka traveling?

Halo… kabar baikk… saat ini kebetulan lagi di Indonesia, lagi liburan… Halo halo nama saya Rani asal dari Bandung, saya seneng traveling ga ada pengaruh dari siapa-siapa ya.. dari dulu emang seneng jalan-jalan muter-muter kayak gangsing.

Saya mengikuti perjalanan Teh Rani sejak masih kerja sampai travel around the world.  Ada nggak proses ragu-ragu saat memutuskan keluar dari pekerjaan lalu traveling ?

Perasaan ragu jelas ada ya, itu salah satu keputusan besar yang saya buat, biasanya saya resign untuk pindah kerja ke tempat lain tapi waktu itu saya resign untuk memburu mimpi saya nyoba traveling menyusuri dunia dalam waktu yang lama. Galaunya lamaaaa banget, karena sejujurnya saya udah nyaman dengan pekerjaan saya, teman-teman yang cocok banget, tapi emang desire untuk traveling dalam waktu lama tinggi banget, karena saya kesel cuman bisa traveling 10 hari mana ijinnya cutinya repot lagi, tiap pengen traveling dilema karena cuti, jadinya ya dengan bersimbah air mata saya lapor pak boss mau resign..

Apa sih Teh yang perlu dipersiapkan sebagai cewek untuk menjadi solo traveler seperti Teh Rani? Bagaimana reaksi keluarga saat Teh Rani berpamitan untuk solo traveling? Lalu apa kendalanya di perjalanan dan bagaimana mengatasinya?

Siapin niat dan mental aja dulu, kadang saya bingung sama pertanyaan begini hahhahaha karena sejujurnya tidak ada yang saya siapkan, saya ini penakut banget, naek motor aja saya takut, dibonceng orang saya takut hahahahhah tapi mungkin tiap orang racikannya beda ya.. ada yang emang berani di sisi ini ada yang berani di sisi itu, ada yang belajar motor itu easy peasy tapi buat saya belajar motor itu menggerikan. Tapi sebetulnya kalau udah ada niat kita pasti bisa, apapun itu yang kita hadapi di jalanan kita pasti bisa menghadapinya, karena emang insting survival itu pada dasarnya ada di racikan masing-masing manusia. Reaksi keluarga, shock haha waktu itu saya bawa kabarnya pas mama lagi di opname di rumah sakit lagi, biasanya kalo mama lagi di sakit gitu bawaanya mellow gitu.. taulah jadinya ngobrol kemana-mana, waktu itu mama sama kakak saya lagi serius ngajak ngobrol, nanya kapan saya punya niatan menikah hahahahahha tapi sama saya malah dijatuhin bomb, mau resign trus pergi traveling selama setahun, mama shock berat, kakak saya nyoba menerima dan beliau memberi pengertian ke mama. Kendalanya  banyaklaah.. tapi yang utama sih masalah pasport, pasport kita lemah banget kemana-mana butuh visa, jadinya opsi untuk long trip gitu jadi terbatas. Mengatasinya ya cari rute yang free visa atau bisa e-visa atau voa. Kendala lainnya mungkin karena saya itu orangnya clumsy dan pelupa lupa ini itu yang akhirnya banyak drama, istilahnya you name it lah gara-gara kecerobohan saya, rasanya semua pernah yang belum itu ilang pasport (amiiiit amiiittt jabang bayiiii.. jangan sampai yaaa), bahkan saya pernah jatuh ketimpa tangga ketimpa anak tangga lagi. Key bca diblokir trus dompet ilang terus ketinggalan pesawat tanpa uang yang tersisa. Bayangkan.. kemping di bandara Casablanca selama seminggu sampe akhirnya berhasil keluar bandara.

Saya mengikuti perjalanan Teh Rani setahun ke berbagai tempat dengan biaya minim dan menurut saya itu sangat menarik. Bagaimana mengatur bujet perjalanan dengan biaya seperti itu?  Bagaimana jika terjadi sesuatu di perjalanan, apakah Teh Rani mempersiapkan second plan misalnya tabungan lain untuk mencover perjalanan?

Sebetulnya ga ada istilah mengatur budget saking minimnya budget saya, uang perhari saya hanya cukup untuk biaya transportasi ama makan aja, saya selalu nyari tumpangan tidur makan-pun ga pernah ke restaurant paling cuman roti sama telor saja, dengan budget yang saya punya, beneran ga ada pilihan. Saya ga punya tabungan lain untuk mencover perjalanan, ya intinya sih harus hati-hati supaya meminimalisir kejadian-kejadian yang tidak diinginkan yang berujung saya harus mengeluarkan dana lebih. Walaupun ada asuransi perjalanan tetap hati-hati.

Saat ini sudah berapa negara yang Teh Rani kunjungi dan negara mana yang menurut Teh Rani paling berkesan sehingga ingin kembali dan kembali lagi?

Berapa negara ya.. udah lupa, udah ga pernah ngitung lagi hahhahaha.. yang berkesan banyak, tapi Switzerland, Norwegia itu 2 negara langganan, yang setiap tahun saya pasti kembali kesana untuk menikmati alamnya. India Jepang atau Korea itu lebih ke karena saya ada ikatan aja, ntah itu untuk maen snowboarding atau untuk meditasi.

Menurut Teh menarik mana traveling di Indonesia atau di luar negeri? Apa sih kemudahan dan kesulitan masing-masing itu.

Kalo saya bilang sama menariknya karena mau sok nasionalis, artinya saya bohong hahahha, tbh traveling ke luar lebih menarik, berada di tempat dimana saya tidak bisa bahasa mereka tidak familiar dengan keadaaanya itu lebih menarik aja. Kemudahan traveling di Indonesia itu saya familiar dengan bahasanya jadi gampang bertanya kalo nyasar sedangkan di luar harus keluar sedikit energi untuk bertanya karena bahasa yang berbeda, kesulitan traveling di Indonesia itu mungkin transportasi ya, ujung ke ujung belum terkoneksi dengan bagus, sebetulnya di luar juga sama ada banyak yang masih dibawah Indonesia, transportasinya banyak yang masih berantakan, secara saya seneng buat eksplore negara2 yang emang kurang familiar bagi para turis-turis karena aksesnya susah.

Saya melihat dari sosmed Teh Rani banyak menjalin persahabatan saat traveling dan itu sangat menyentuh. Bagaimana menjalin persahabatan melalui perjalanan karena tentu mereka memiliki karakter yang berbeda dari masing-masing negara. Orang mana yang menurut Teh paling mudah menjalin persahabatan?

Kadang kalo gitu itu semacam takdir aja gitu, kita berada di frekuensi yang cocok sehingga kita cocok aja, saya di host sama seorang wanita di Tromso dan sekarang dia jadi teman baik saya, mungkin pemikiran frekuensi kami sama sehingga kami cocok, dan karena itu saya akhirnya mendapatkan kesempatan eksplor Norwegia utara secara gratis, diajak roadtrip sampe ke perbatasan Rusia. Tromso itu kota yang sangat mahal tapi saya selalu bisa kembali kapan saja tanpa harus membayar penginapan, yang ada temen saya itu merasa senang karena saya menyempatkan diri untuk mengunjungi dia di Artic Circle. Terus pernah ketemu tiga orang traveler dari Polandia di Gergeti Triniry church di Kazbegi pas winter, kita cuman sapa-sapaan yang berakhir janjian dinner bareng dan sekarang mereka jadi teman baik saya, beberapa kali kami bertemu lagi dan beberapa kali saya sempatkan untuk mampir ke Warsaw bertemu mereka. Kalo seperti pas traveling di Afrika ya saya berusaha untuk menyapa orang lokalnya dan berinteraksi dengan mereka karena berkomunikasi dengan orang lokal itu hal yang sangat menarik buat saya, mengetahui keseharian mereka, cerita mereka, hal-hal itu merupakan hal yang menarik dan itu juga sebagai bahan cerita saya nanti saat pulang.

Teh Rani juga kemudian bikin paket trip. Bagaimana syaratnya bisa bergabung dalam paket trip Teh Rani?

Ga ada syaratnya sih. Tinggal cepet-cepetan daftar aja. Syaratnya harus tau siapa saya, harus tau model traveling saya gimana biar nanti ga kaget begitu join ama tripnya. Kemana aja? Negara2 yang punya view bagus macam New Zealand, Iceland, Canada, India, atau less tourist macam Mongolia, Georgia. Itulah kenapa kadang saya suka nanya “tau saya ga? tau gimana cara saya traveling ga?” soalnya kalo tau, saya yakin yang manja-manja udah menjauh duluan hehehe.

Masih ada nggak negara yang dicita-citakan tetapi belum dikunjungi? Kenapa belum bisa ke sana?

Ga ada hahahahhahha.. semua negara yg ingin saya liat sudah saya liat, sisanya ya mungkin negara-negara lain yang punya jajaran pegunungan yang belum saya liat. Kalo cita2 sih saya pengen ke Kutub Utara or Selatan, itu tuh negara bukan sih?

Teh Rani juga pecinta K-Pop ya, group apa sih yang paling Teh Rani sukai dan kalau nggak salah perjalanan ke konser-konser K-Pop menjadi perjalanan yang dinikmati secara pribadi. Ada nggak nanti akan dinikmati rame-rame sama paket tripnya?

Saya bukan pecinta K-Pop saya pecinta BTS hahahahahha.. mengikuti world tour BTS itu betul-betul perjalanan yang seru. Sabtu – Minggu nonton konser, Senin – Jumat traveling  atau eksplor kotanya. Ga ada bedanya dengan Backpacking biasa, tinggal di penginapan murah di outskirt city sehingga jadi tantangan saat pulang konser yang notabene diatas jam 10 malam, ya pada intinya nonton konser tapi dengan dibarengi oleh skill backpacking yang mumpuni itu sangat menguntungkan sehingga budget yang dikeluarkan itu ga terlalu besar. Saat orang lain habis puluhan juta untuk sekali nonton konser, dengan jumlah yang sama saya bisa pergi 6 kali konser di 3 kota berbeda.  Trus lagi mengikuti world itu sangat menarik karena saya berpindah-pindah tepat, jadi biar ga hanya konser aja biar lebih berfaedah ya sambil traveling, Sabtu Minggu saya jingkrak2 sisanya saya pake buat discover kota yang saya datangi. Wah enggak deh, nonton konser itu Me-Time.. kalo barengan oke, tapi kalau harus ngurus orang lain enggak deh, soalnya dapat tiket konser BTS itu susah dan kalau momentnya dihancurkan orang lain bisa-bisa saya menyesal seumur hidup hahaha

Kalau disuruh memilih, lebih suka investasi pada pengalaman perjalanan atau investasi barang-barang? Kenapa?

Investasi pengalaman donk, karena menyenangkan aja. Menceritakan pengalaman kita ke orang lain itu menyenangkan sekali. Membahagiakan sekali. Storytelling itu hal yang paling membahagiakan buat saya.

Setelah keliling dunia nanti, ada nggak cita-cita lain yang pengen Teh Rani capai? Apakah masih berhubungan dengan traveling?

Ga ada, saya punya keinginan apa-apa. Cuman pengen menjalani hari demi hari rileks, jauh dari prahara dan tetap bahagia.

Kasih semangat dan tips dong Teh buat traveler cewek yang masih takut melakukan perjalanan sendirian seperti saya ini.

Kamu kuat! Kamu bisa! Salah satu yang paling menyenangkan buat saya saat traveling adalah saat saya menemukan kalo saya itu bisa, saya lebih kuat dari yang saya pikirkan.

Terima kasih Teh Rani!

(Semua foto diambil dari facebook Rani Aulia)

 

HARRY FEAR: THE BRITISH JOURNALIST WHO WILL INSPIRE YOU!

Harry Fear is best known for his unique live video streaming coverage of the Gaza – Israel conflict in 2012 on RT news channel (formerly Russia Today) which is pioneering the use of wartime video streaming.  He covered several of France’s recent terrorist incidents; the historic closure of the Calais ‘Jungle’ camp; anti-migrant violence and the rise of the far-right in Europe; the Greek Debt Crisis; and Turkey’s ongoing crackdown on dissent. Harry is also a keen public speaker and has spoken to audiences on five continents. He has delivered three TEDx talks (Challenging Realities, the Mainstream Media and You; The Globalised Heart; and Passionate, Political, Personal Development) – (source www.harryfear.co.uk)

Harry Fear is a passionate journalist and proficient behind the camera. He filmed a documentary film, A Matter of Hope, about HIV/AIDS in South Africa (2010), Gaza Still Alive (2019) and currently working on a ‘mini documentary’ for a startup educational NGO called Africa Innovate in Malawi. Getting in touch with Harry was easier than expected. He is a good friend who is humble and very pleasant. We talked about many issues and  I have decided to share our nice conversation here.

Assalamu’alaikum wr.wb.  Can you tell me a bit about yourself?

Wasalam! I’m a 30-year-old British journalist and filmmaker, best for my wartime coverage of Palestine and my political and social reporting from the UK. I’ve been lucky to travel to a large number of countries and have been privileged to have witnessed or reporter on all types of extraordinary and historic events – two Israel–Gaza wars, the (so called) European refugee crisis, the aftermath of terrorist attacks and various socioeconomic and political stories.

Your documentary about Palestine a couple of years ago was viral, and the world could see what’s happened there in Gaza, Palestine. What  motivates to filming about Palestine? And how did you get a chance to cover stories about Palestine?

It was a blessing that the work I was doing back then to raise awareness about the horror of war in Gaza was seen by so many people. I’m very grateful that I was able to have some positive effect in exposing the unacceptable truth that is so often suppressed. I first visited Palestine as an eyewitness citizen journalist when I was 22 years old. With the help of Palestinian friends and local hospitality, I simply used by self-developing skills in media to report what was happening. The chance was open to anyone as the Egypt–Gaza border in particular largely reopened in 2012 as Egypt’s Morsi was then in power.

Does this documenting about Palestinian encourage you to convert to Islam?

The Palestinians faith in life (steadfastness [AR: “sumud”]) and their psychospiritual resilience definitely informed my inspiration of Islam. But I was more touched by experiences in the UK that led me to practically find Islam. However, it was, indeed, of political context my finding Islam – given rampant Islamophobia in the UK and the very real political attack vectors with their sights on Islam, Muslims and Muslimness.

I follow your social media and see your post. Is your post on social media the same as your daily life? Is there any difficulty you have faced to learn about Islam? How do you handle it?

Well, let’s raise a red flag. Social media doesn’t indicate anyone’s piety or faithfulness. I do admit, though, that I love to use Instagram as a place where I can be spiritually and religiously fully expressive. I save that for Instagram and have a quite different audience there to the other social media platforms. Being consistency (that is, avoiding hypocrisy) is something we all struggle with and I’m not going to pretend that I don’t face that also (!). As for troubles I’ve faced with Islam, they are many; and too many to go into here. But above all, Islam is amorphous and means different things to different people. Some things like the 5 daily prayers are more static and less contentious, but most else is quite various and even controversial. Finding one’s own authentic and integrated Islam is thus quite difficult if one wants to be authentic and not adopt a particular sub-culture or sub-ideology of Islam. I can say it took me years to find and realise what ‘my Islam’ was going to be. As for how I handle social media and my faith: the main thing I do is try to avoid posting photographs of myself as I’ve come to see that modesty is extremely important and the spiritual, social and psychological harms that come from the excesses of ego and vanity in the social media space are enormous and cancerous. I’ve come to prefer to keep photos of myself to a minimum thus.

Being a journalist and filmmaker must make your travel around the world to filming about a lot of things. How many countries have you visited? What’s your favorite country and why? Do you want to get back to that country?

Over the last decade in media, I’ve been privileged enough to travel a lot. I’ve just visited Malawi for the first time. I’ve visited about 33 countries. My favourite country is easily Egypt. I find the people the most warm, friendly, honest and down to earth. Those are qualities that I find life affirming to feel and convect. I also found Canada very positive. Sweden, too. Malaysian food is the best in the world for taste. I’d love to visit Tunisia and Lebanon next. For the last two years, I’ve carbon offset all of my flights, which is a duty (and privilege) I feel strongly about.

It is difficult now to trust the media. A lot of times journalists write news not based on the facts or even framing with specific purposes. What is your opinion about it?

Well, news should be based on facts. If it is based on falsehoods or distorted facts, it’s what’s been come to be called ‘fake news’.There is a lot of opinion, though, these days – op-eds and analysis pieces –, which should be marked as opinion (rather than news) according to best practices. But, it’s, indeed, true that politicians are less and less adequately challenged on the falsehoods and distortions they present, which has led to a diminishing of journalism and a weakening of citizens’ trust in their media. Framing is everything, indeed. Framing is how a story’s pillars are formed, which informs (no pun intended) what facts are chosen and what ‘moral of the story’ is thus given. But it’s important to illuminate that agenda is also important. Agenda is the real power that we often don’t think of. The journalists bosses are somehow the TV/press outlets’ editors, who decide which countries or policies or people or stories are covered at all. If you can exclude certain stories from people’s vision, how you frame a story becomes strongly subsidiary. These days stories are often chosen, framed and produced around intentions of what’s “normative” (i.e. mainstream), “commercially viable” (i.e. able to grab people’s attention), “professional” (i.e. based on conventional corporate wisdoms). The titular quote comes to mind: “you can’t be neutral on a moving train”. The normative, commercially viable and professional media therefore are small-C conservative of certain power structures and prejudices. This explains why media coverage very much shapes our perception of events as well as our ability to reimagine reality. I recommend a great book “How to Re-imagine the World: A Pocket Guide for Practical Visionaries”. What’s needed is sustained (crowd-funded) alternative media that shows up (and indirectly trolls) the corporate media and its literally insane coverage.

I watched your new documentary “Gaza Still Alive” which is in my opinion, is so inspiring. What do you want to say through this documentary?

‘Gaza: Still Alive’ was a passion project more than a year in development from conception to release. It is the culmination of my war and security reporting in Gaza and following of the geopolitical dynamics of the Israel–Palestine conflict. It uncovers the often overlooked subterranean scars of the Israel-Palestine injustice on Palestinian civilians; civilians who are often wilfully dehumanised by the corporate mainstream media. The film seeks to sensitively humanise and sensibilise the audience to Palestinians deep invisible psychological suffering as a result of successive Israel regimes’ oppression. I chose the mental health angle for various reasons, including because it’s under-reported and because it facilitates a more empathic viewership as audiences are asked to imagine the mental health landscape of interviewed characters. The Palestinian people are almost uniquely brutalised by the world’s great powers. The scars are somehow unimaginable and unbearable; and yet in the film Palestinians teach us resilience and strength in the face of evil. But further, the film also explores the physical and mental health cost of this apparently superhuman ability to survive in the face of all efforts to crush them.

Do you have any plans to make a similar documentary? Perhaps about the kids from war victims in Yemen, Syria, Rohingya?

Trust me, making one in-depth film about war trauma is quite enough to research and direct. It’s not really cheery stuff. And a lot of the dynamics and analyses are sadly transferable between conflict zones.

You are very determined to fight for truth and justice in documentary works and social media posts. What made you take the position to continue to fight for the truth?

I guess I’m just a really angry person.I’m kidding. That’s a hard question to answer, though. I suppose I’m just drawn to speaking up and exposing what I think is important to expose like a moth to a flame. I don’t feel unique in this. I think it’s partly driven by my personality and character type and lived experiences.

Do you have any plans to go to Indonesia someday?

I’ve not got plans to travel to Indonesia. I was invited to speak in Indonesia in 2012/13 after the November 2012 7-day war, but due to local political considerations at that time the country was skipped over expected immigration complications.

Last but not least, what is your favorite quote that may inspire our readers?

Touching on my comments before ego, modesty and personal development, I love this translated line of poetry from poet Abyd, who according to Islamic theology was quoted by our Prophet Mohammed (ﷺ). “Everything other than God is vanity.”

Thank you so much, Harry! Wassalam.

(all pictures are taken from Harry Fear’s Instagram and Facebook @harryfear)

WIN RUHDI BATHIN : “KOPI GAYO DAN TEMPAT SINGGAH TRAVELER MANCA NEGARA”

Ngobrol tentang Kopi Gayo dan dataran tinggi Gayo dengan Bang Win (begitu saya memanggil beliau) selalu mendatangkan banyak inspirasi di kepala saya untuk menuliskan banyak hal. Tak hanya soal kopi Gayo, tetapi Bang Win juga menyediakan tempat singgah untuk para traveler di rumahnya.  Saya sebagai traveler amatir semakin tertarik untuk mengajaknya berbagi cerita di SHARING kali ini.  Ada banyak hal bisa didapatkan dari cerita-cerita Bang Win, semoga pembaca juga mendapatkan inspirasi dari obrolan kami.

Salam Bang, apa kabar keluarga dan Tanah Gayo? Apakah sekarang masih musim panen kopi? Apa saja kesibukan abang saat ini?

Alhamdulillah, segala puji hanya untuk dan bagi Allah. Keluarga sehat dengan Rahmat Allah. Semoga syukur tak henti dalam senang dan sedih. Sekarang sedang panen kopi. Bermula di bulan September lalu hingga tirus di bulan April tahun depan. Kesibukan saya seperti biasa rutinitas dengan pekerjaan yang saya banggakan lalu antar jemput dua anak perempuan saya. Dua anak saya lainnya sekolah di luar daerah. Selain itu, pagi ke kafe hingga tengah hari, melayani penikmat kopi gayo sambil bercerita ngalor ngidul isu terkini di daerah bersama pelanggan. Juga menyiapkan kopi untuk kafe, pelanggan di luar daerah dan luar negeri.

Bang Win selain wartawan dan fotografer juga petani kopi dari hulu sampai hilir (menanam kopi sendiri, mengolah sendiri dan memiliki kafe sendiri yaitu WRB kafe). Ceritakan dong Bang suka dukanya menjadi petani kopi dari hulu ke hilir.

Sukanya menjadi petani adalah kita bisa mengawal kopi. Dari tanam hingga panen. Petani adalah pekerja keras dan Insya Allah hadiahnya adalah sehat. Kita bisa mengolah semua variant kopi Gayo yang diminati pelanggan. Seperti kopi madu/ honey, natural, semi washed, full washed, Luwak dan lain sebagainya. Dukanya tentu saja repot, saya mengerjakan sendiri kopinya, sementara kalau ada permintaan lebih, saya mengambil dari kawan kawan saya yang saya tahu betul prosesnya.

Tanoh Gayo merupakan salah satu penghasil kopi terbaik di dunia, apakah kopi Gayo menjadi motivasi Bang Win menyediakan tempat singgah bagi traveler manca negara?

Kopi Gayo sudah dikenal dunia sejak era Belanda. Belanda sudah menanam Arabica sejak 1908. Kemudian mengekspor-nya lewat VOC bersama kentang dan teh.
Jadi, kopi Gayo sudah banyak dikenal khususnya di Eropa.  Kebetulan saya ikut Sosial Media Couch Surfing (CS) yang menyediakan tempat bagi traveler untuk tinggal, menginap dan mengenal budaya setempat . Para traveler yang singgah di rumah saya menyatakan sangat menyukai kopi Gayo. Tak hanya kopinya tetapu juga alam Gayo yang cantik dan masyarakatnya yang ramah dan bersahabat.

Tempat singgah bagi traveler yang datang ke rumah saya hanyalah tempat biasa kami makan bersama keluarga yang disebut dapur. Ukurannya sekitar 2 x 3 meter dan ada di kampung. Tetapi dari tempat ini saya mendapatkan banyak kisah menarik dari para traveler dunia. Ada tamu dari Afrika Selatan yang bangga bisa mencicipi kopi termahal dunia, yakni kopi Luwak. Sangking senangnya, tamu Afrika Ini telpon kerabatnya di Afrika dan mengatakan sedang minum kopi luwak di Gayo. Lain lagi cerita Stass dari Rusia. Saking sukanya dengan kopi Gayo,Stass mengirim kopi Gayo untuk keluarganya di Rusia. Biaya kirimnya hampir satu juta. “Saya ingin keluarga saya juga merasakan kopi luar biasa ini,” kata Stass.

Bagaimana sih awalnya Bang Win tertarik bergabung dengan couchsurfing dan menyediakan tempat bagi traveler?

Awalnya Saya berkenalan dengan dua wisatawan di Takengon. Mereka dari Inggris dan Sumatra Utara, keduanya tergabung di CS. Dari sana saya berpikir, CS ini sosmed ysng menarik dan bisa mendatangkan orang dari seluruh dunia. Kalau saya jadi host di Gayo, orang bisa datang dari seluruh dunia dan menjadi semacam magnet penarik wisatawan. Dari situlah saya kemudian bergabung di CS. Dan ternyata dugaan saya benar, sejak bergabung di CS, puluhan wisman datang ke Gayo dari seluruh dunia.

Traveler dari negara mana saja yang singgah di rumah Bang Win? Bagaimana komentar mereka tentang Tanoh Gayo?

Wisatawan yang datang ke rumah saya dari Ukraina, Rusia, Spanyol, Ecuador, Australia, Afrika Selatan, Inggris. Amerika, Thailland, Polandia, Francis. Switzerland. Afrika Selatan, Belanda, Italia, Jakarta, Jambi dan lain sebagainya. Umumnya para wisman ini sudah tahu kopi Gayo sebagai salah satu kopi terbaik dunia meskipun ada juga yang baru mengenalnya. Bahkan ada bule yang baru tahu pohon kopi, mereka kira kopi itu menjalar. Ada juga yang setelah merasakan kopi Gayo kemudian tertarik untuk berbisnis kopi Gayo di negara mereka.

Tamu asing ini mengakui bahwa Tanoh Gayo sangat indah pemandangannya. Memiliki sejarah panjang sendiri. Termasuk prasejarah Gayo di Mendale dan Ujung Karang. Mereka mengakui keramahan dan kearifan lokal gayo masih sangat murni dan jujur. Berbeda dengan beberapa kawasan wisata lain di Asia, seperti Thailand dan Philipina.

Apa sih suka dukanya menerima tamu dari manca negara? Ada nggak kendala dengan lingkungan saat menerima orang asing di rumah Bang Win dan menemani mereka keliling Tanoh Gayo?

Banyak sukanya sih karena berbagi kisah hidup di negara masing masing tentang budaya, mata pencaharian, agama dan banyak lagi. Kendalanya paling soal bahasa. Bahasa Inggris saya tak begitu fasih tapi saya sih nekat saja. Tidak semua wisman ini juga lancar berbahasa Inggris. Kalau kendala lingkungan tempat tinggal saya, tidak ada. Sebelum menerima tamu asing ini, waktu chatting saya menekankan bahwa di Gayo berlaku Syariat Islam.
Tamu lelaki harus  pisah ruangan tidur dengan perempuan. Kecuali ada surat nikah. Tapi umumnya mereka sudah tahu tentang Islam.

Apakah Bang Win lebih banyak menerima tamu dari manca negara ketimbang wisatawan dari Indonesia?

Saya tidak saja menerima tamu dari luar  negeri saja. Ada juga yang wisatawan dari negara kita sendiri. Dari berbagai kota Indonesia.karena di CS, anggotanya banyak di Indonesia.

Apa sih sebenarnya yang Bang Win dapat dari pertemuan dengan traveler-traveler manca negara ini?

Ini yang paling menarik menurut saya. Setelah makan malam bersama kami  biasanya bercerita tentang banyak hal, mulai dari bagaimana mereka hidup di negara mereka, biaya hidup, sumber penghasilan, pernikahan, agama dan kenapa mereka berwisata keliling dunia juga apa yang mereka dapat dari berkelana keliling dunia.  Hidup di Barat umumnya berbiaya tinggi, mereka setiap hari bekerja keras dari pagi hingga petang. Hidup jadi membosankan karena seperti robot dengan rutinitas. Untuk liburan keliling dunia, mereka bisa menabung bertahun tahun, barulah di musim dingin di negaranya, mereka liburan. 2 hingga 3 bulan bahkan setahun. Saat berlibur ini mereka merasakan kebebasan, kemerdekaan dan interaksi dengan penduduk dunia lainnya. Mereka sangat terkesanbelajar makan menggunakan tangan, sulit awalnya tetapi kemudian bisa melakukannya. Juga bagaimana mengajarkan wisman ini duduk bersila untuk lelaki dan tempoh untuk wanita.

Kami juga berdiskusi tentang Islam dan agama mereka. Sebagai Muslim, kami ingin menunjukkan bahwa Islam itu Rahmat bagi siapa saja. Wajah Islam sesungguhnya yang kami miliki adalah ahlak. Adab dan keramahan serta toleransi dalam praktek. Kami tidak membedakan kewarganegaraan, agama dan budaya asing. Wisatawan asing ini ternyata tahu bahwa Islam itu agama damai. Sehingga mereka tidak pernah takut saat menjadi tamu di rumah warga Muslim di Aceh lagi dan Teroris itu bukan ajaran  Islam.
Bagi kami, Islam itu adalah akhlak. Representasi nyata adalah Rasulullah sebsgai contohnya.

Menurut Bang Win, apakah ke depan Gayo bisa menjadi pusat kopi dunia yang akan menjadi magnet wisatawan untuk datang ke sana lebih banyak lagi? Misalnya dengan mulai dari adanya sekolah kopi hingga mungkin museum kopi nantinya?

Sebenarnya Gayo sudah menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan manca negara. Banyak wisatawan asing, seperti Korea Selatan , Taiwan dan negara lainnya datang untuk berwisata kopi. Salah satu mereka menyebut tanag sucinya kopi adalah Gayo.

Bagi pengusaha kopi dunia, atau para penikmat kopi, pasti tahu kopi Gayo. Perdagangan kopi Gayo sudah dimulai sejak pra kemerdekaan, era kolonial dan penjajahan Belanda. Kawasan Gayo, Takengon, Bener Meriah dan Gayo Lues adalah kawasan spesial arabica Gayo yaitu Gayo mountain coffee. Bisa dibayangkan, lahan di tiga kabupaten ini diisi pohon kopi, kecuali untuk jalan,rumah, sungai dan kawasan hutan. Ratusan ribu penduduknya menggantungkan hidupnya dari pohon kopi. Nilai perdagangannya satu kabupaten hingga Rp. 4-5 Trilyun setahun. Gayo adalah kawasan terbesar di Asia dengan lahan kopi arabicanya, sekolah sekolah kopi juga tumbuh pesat, khususnya cupping atau uji citarasa kopi yang diberi angka atau skor. Di Universitas Gajah Putih Takengon program studi kopi Gayo juga sudah dibuka tahun ini dan mulai menerima mahasiswa. Museum kopi mungkin masih akan menjadi mimpi dan wacana semata jika melihat lambatnya pihak yang memiliki kebijakan soal ini.

Bang Win sebenarnya suka traveling juga nggak? Kalau iya, ada nggak rencana berkunjung balik ke negeri para traveler yang datang ke rumah Bang Win suatu hari nanti?

Iya, saya sangat suka traveling. Traveling memperkaya khasanah berpikir dan bertindak. Kita jadi kaya rasa. Hal ini berdampak pada ekspektasi kita tentang semua hal. Bagaimana bermanfaat bagi orang lain. Saya sangat ingin ke luar negeri. Mengunjungi teman teman yg pernah datang ke sini.Dan mereka berkata, datanglah ke tempat mereka kapan saja. Any time.Tapi, masih mimpi. Saya hanyalah petani biasa. Pendapatan saya belum mampu membiayai perjalanan ke luar negeri bersama anak dan istri.

Terakhir, kasih masukan dong Bang buat para traveler saat menjejakkan kaki di tanah baru agar mereka bisa lebih berguna buat warga lokal. Terima kasih Bang Win. Salam buat keluarga.

Ketika berkunjung ke tempat baru, orang baru, situasi baru. Satu hal yg berlaku seperti mata uang. Yakni, adab dan kejujuran. Adab akan dikenang orang sebagai budi baik. Selain itu jika Kita tinggal d irumah host,keterampilan memasak, mendongeng, sulap dan keterampilan lainnya sangat membantu membuat kehadiran kita akan dikenang. Juga souvenir kecil  murah dari daerah kita akan menjadi penjalin silaturrahmi.

(Semua foto diambil dari facebook Win Ruhdi Bathin)