Category Archives: Eropa

Pesona 5 Kota Di Eropa Dari Ketinggian

“Don’t be afraid of your fears. They’re not there to scare you. They’re there to let you know that something is worth it”  ~ anonymous

Praha dari menara Jembatan Charles

Orang-orang barat berjalan ke timur untuk mengecap spiritual, sementara orang-orang timur berjalan ke barat untuk melihat kemajuan peradaban, begitu kata seorang penulis dalam salah satu buku perjalanannya. Pesona peradaban barat yang maju sekaligus kepiawaian mereka menjaga peninggalan-peninggalan kuno yang tak ternilai harganya memang membuat orang-orang timur takjub. Sebuah negeri yang modern sekaligus eksotis dalam pandangan mata. 

Seorang teman mengajak saya menikmati Eropa dengan cara yang berbeda.  Selama ini wisatawan menikmati Eropa dari dataran ; mengunjungi peninggalan-peninggalan bersejarah, menikmati sungai yang mengalir jernih atau belanja barang-barang bermerk.  Tetapi ada cara lain yang mengesankan yaitu mencari tempat-tempat yang tinggi di berbagai negara Eropa untuk memandang panorama keseluruhan kota.  Kita bisa melihat landmark kota, gedung-gedung dan jalanan yang begitu kecil bagaikan miniatur.  Awalnya ini agak menakutkan bagi saya, tapi kemudian saya menikmatinya.

1.                 CALTON HILL di EDINBURG SKOTLANDIA
Pemandangan Edinburg dari Calton Hill

Pertama kali menginjakkan kaki di Edinburg, saya langsung jatuh cinta. Sebagai pecinta hal-hal yang berbau kuno, Edinburg sangat menarik bagi saya. Kotanya klasik dan eksotis. Saya merasa hidup dimasa lalu ketika menyusuri setiap sudut kota.  Ada tujuh bukit yang bisa digunakan untuk menikmati kota Edinburg dari ketinggian dan saya memilih Calton Hill. 

Calton Hill terletak di pusat kota berdekatan dengan Princess Street tempat saya menginap yang menjadi pusat jalan-jalan para turis mancanegara. Setelah berjalan kaki sekitar 30 menit sampailah saya di pintu masuk Calton Hill.  Untuk masuk ke Calton Hill kita tidak dipungut biaya dan kita bisa memilih dua jalan yaitu melalui anak tangga atau jalan memutari bukit. Jalan memutar ini juga aman digunakan oleh pemakai kursi roda, sedangkan saya memutuskan untuk naik melalui anak tangga. 

Sesampainya diatas, saya disergap pemandangan beberapa bangunan indah. Tidak hanya bisa menikmati Edinburg dari ketinggian, di Calton Hill ini kita juga bisa menikmati beberapa objek wisata seperti National Museum yang dibangun untuk mengenang para pahlawan Skotlandia pada perang melawan Napoleon, Dugal Stewart Monument yang berbentuk seperti sangkar burung untuk mengenang filosof Skotlandia Dugal Stewart dan Nelson Monument yang dibangun untuk mengenang Admiral Lord Nelson yang gugur pada perang Trafalgar. 

Selain objek wisata tersebut,  Calton Hill menjadi tempat yang menyenangkan untuk duduk melamun sambil memandang keseluruhan kota Edinburg dari ketinggian. Tampak Scott Monument dan bangunan-bangunan kuno yang indah menjulang di berbagai sudut kota Edinburg.  Disisi lain tampak di kejauhan bukit-bukit yang kekuningan menjelang musim panas tiba. Para turis duduk di hamparan rumput bahkan sebagian tidur-tiduran di bawah pohon sambil menikmati angin yang berhembus sepoi.  Lonceng gereja berdentang di kejauhan, seolah mengabarkan waktu terus berjalan dan saya tidak bisa lama-lama di tempat ini. Tetapi saya justru berbaring di rerumputan memandangi langit biru dan tak ingin beranjak.

2.                 FISHERMEN’S BASTION di BUDAPEST
Pemandangan Budapest dari Fishermen’s Bastion

Budapest merupakan kota cantik yang terletak di Eropa Tengah berbatasan dengan Austria di sebelah barat, Ukraina dan Rumania di timur, serta Serbia dan Croatia di sebelah selatan. Budapest memiliki sejumlah tempat wisata populer yang menjadi daya tarik wisatawan dari seluruh penjuru dunia seperti  Buda Castle, St. Stephen Basilica, jembatan Chain, Geller Hill dan pemandian air panas. Untuk melihat Budapest dari ketinggian saya bisa memilih antara Geller Hill dan Fishermen’s Bastion. Saya lebih memilih Fishermen’s Bastion karena di sekelilingnya terdapat banyak tempat wisata menarik. 

Terletak di kompleks istana Buda, Fishermen’s Bastion memiliki tujuh menara yang menggambarkan tujuh suku Magyar, suku asli Hungaria. Menara pengintai yang dituju banyak wisatawan ini merupakan tempat terbaik untuk melihat panorama tercantik Budapest dari ketinggian. Ada pintu berbayar untuk naik ke menara, tetapi ada juga pintu gratis meskipun sedikit berdesakan dan sempit. Saya memilih pintu gratis karena matahari sangat panas dan tidak ingin berlama-lama di menara. 

Begitu naik ke menara dan mendapatkan tempat kosong untuk melihat kota Budapest dari ketinggian ternyata saya ingin berlama-lama meskipun matahari sangat terik. Tampak di kejauhan gedung parlemen, jembatan Chain dan bangunan-bangunan kuno yang menjulang cantik. Keseluruhan kota tampak ditata rapi sekaligus indah oleh tangan-tangan masa lalu. Saya mengabadikan panorama luar biasa ini sampai lupa bahwa harus bergantian dengan pengunjung yang lain. Seseorang menowel lengan saya dan saya bergeser untuk menepi. Beberapa rombongan kemudian datang dan lokasi itu menjadi berdesakan. Saya memutuskan untuk turun dari menara. Budapest yang cantik dilihat dari ketinggian semakin mempesona.

3.                 MENARA JEMBATAN CHARLES  di PRAHA
Pemandangan sisi lain Praha dari Jembatan Charles
Jika anda menyukai kota yang indah, kuno dan seperti diselimuti misteri, Praha , Republik Ceko adalah tempat yang tepat untuk anda kunjungi.  Banyak tempat wisata menarik di kota ini diantaranya Kastil Praha, Jam Astronomi dan Jembatan Charles. Seperti tujuan saya sebelumnya, saya ingin melihat Praha dari ketinggian. Ada dua tempat yang ingin saya kunjungi untuk melihat Praha dari ketinggian yang pertama adalah menara jembatan Charles.
Jembatan Charles merupakan salah satu jembatan terkenal di Praha yang menjadi tujuan wisata populer para turis.  Jembatan bersejarah ini menghubungkan dua distrik bersejarah di Praha yaitu Old Town dan Lesser Town. Tetapi tujuan saya adalah menaranya. Ada dua menara untuk menjaga akses masuk ke dalam jembatan, satu sisi berada di Old Town dan sisi lainnya di Lesser Town.
Saya berbelok kiri untuk memasuki pintu masuk menara yang kecil. Tidak banyak turis naik ke menara ini karena lokasinya sempit dan berada di ketinggian. Sebagian besar turis lebih suka berjalan menyusuri jembatan Charles.  Tangga naik ke atas menara melingkar dan cukup tinggi sehingga beberapa kali saya berhenti kelelahan. Untuk masuk ke menara paling atas saya harus membeli tiket. Setelah mendapatkan tiket seorang petugas tanpa seragam mempersilakan kami naik ke lantai paling atas.
Selain memperlihatkan beberapa benda bersejarah terkait dengan jembatan Charles dan sejarah pembangunan jembatan Charles, saya naik ke lantai paling atas yaitu atap jembatan. Atap jembatan ini terbuat dari kayu, dan terdapat tempat untuk melihat pemandangan Praha di kejauhan. Dari beberapa sisi atap, saya bisa melihat orang-orang lalu lalang menyeberangi jembatan Charles, kota tua di kejauhan dan gereja di bagian lain. Menara jembatan Charles menyajikan pemandangan yang menarik dan sayang untuk dilewatkan.
4.                 SKY GARDEN di LONDON
Pemandangan London dari Sky Garden
Banyak hal bisa dilakukan di London seperti mengunjungi museum, berjalan kaki sepanjang tepi sungai Thames, mengunjungi pasar lokal dan tentu saja tempat-tempat wisata yang sangat terkenal seperti Buckingham Palace, Tower Bridge, Tower of London dan The Shard.  Tetapi saya masih melanjutkan untuk mencari tempat tinggi untuk melihat keseluruhan kota dari ketinggian. Maka saya memutuskan untuk mengunjungi Sky Garden.
Sky Garden terletak di Gedung Walkie Talkie. Bangunan ini disebut Walkie Talkie karena bentuknya mirip dengan walkie talkie. Untuk naik ke Sky Garden kita hanya perlu mendaftar di situsnya kemudian mendapat tiket untuk naik ke atas. Dengan membawa bukti pendaftaran, kita harus datang sesuai waktu yang ditentukan. Untuk pengunjung dari negara lain harus mempersiapkan passport untuk verifikasi data. Setelah pemeriksaan security, saya kemudian memasuki lift dan naik ke Sky Garden.
Di lantai paling atas gedung Walkie Talkie ini terdapat taman indoor yang cantik yaitu Sky Garden.  Beberapa restoran dan kafe juga ada di taman ini.  Kita bisa melihat pemandangan kota London melalui kaca bening yang melingkupi Sky Garden ini. Tak hanya itu di dalam Sky Garden kita juga bisa berjalan-jalan ke bagian atas melalui tangga di mana banyak orang-orang duduk menikmati suasana sambil memandang panorama kota London.
5.       DANCING HOUSE di PRAHA
Pemandangan Praha dari The Dancing House. Foto by : Dita Anggrawati
Selain melalui menara Jembatan Charles, saya ingin menikmati panorama kota Praha dari tempat lain yaitu Dancing House atau Rumah Menari.  Bangunan ini dulu digunakan sebagai kantor namun sekarang berubah fungsi menjadi hotel.
Bangunan ini  disebut Dancing House atau Rumah Menari karena bentuknya yang melengkung seperti tubuh seseorang yang sedang menari. Gedung ini dibangun pada tahun 1994 dan selesai tahun 1996 dengan nama awal Fred and Ginger yang berasal dari dua nama penari terkenal.
Tujuan saya ke Dancing House bukan hanya untuk melihat arsitektur kontemporernya yang menarik melengkapi gereja dan bangunan tua di Praha, tetapi juga ingin melihat Praha dari atas Dancing House. Kita bisa naik ke bagian paling atas Dancing House dan menikmati pemandangan kota Praha dari ketinggian tetapi harus membeli minuman atau makanan di kafe yang terdapat di lantai paling atas itu.  Jika tidak membeli minuman atau makanan maka kita tidak diperbolehkan masuk.
Dari tempat terbuka melengkung yang dibatasi kaca di lantai paling atas Dancing House kita bisa menikmati kastil Praha dan pemandangan kota Praha yang indah. Memang sedikit berebut untuk mendapatkan lokasi foto yang bagus karena tempatnya yang sempit, tetapi pemandangan yang kita lihat dari tempat ini tidak mengecewakan. Sambil menikmati minuman dingin dan bercengkerama dengan sahabat, para pengunjung bersantai di tempat ini menunggu matahari tenggelam. Kota Praha seperti menciut dalam renggaman tanpa mengurangi keindahannya. ***

Inggris : Pengalaman Lengkap Menjadi Harry


“Mimpi-mimpi manusia serupa sihir saat berani mewujudkannya.”

Selama dua puluh tahun terakhir, Harry Potter hidup di benak penggemarnya.  Penyihir fiksi hasil imajinasi JK. Rowling ini berhasil menyihir seluruh dunia. Sejak buku pertama terbit  “Harry Potter and the Philosopher’s Stone” tahun 1997, enam buku berikutnya selalu ditunggu penggemarnya. Buku serial Harry Potter itu meledak di pasaran dengan penjualan 450 juta kopi dan di terjemahkan ke 73 bahasa di seluruh dunia. Tak hanya Harry Potter yang memikat para penggemar tetapi juga kedua sahabatnya, Ron Weasley dan Hermione Granger.  Petualangan mereka juga diabadikan dalam film. Tak hanya itu, setelah buku dan filmnya selesai, jejak-jejak sihir Harry Potter dan kedua sahabatnya masih diburu untuk dikunjungi sebagai tempat wisata.  Sebagai salah satu penggemarnya, saya melakukan perjalanan ke Inggris khusus untuk menyusuri jejak sihir Harry Potter. Anda penggemar Harry Potter juga? Jika ya, pastikan mengikuti perjalanan saya menyusuri jejak sihirnya.
THE ELEPHANT HOUSE EDINBURG
Sebelum kita menemukan jejak sihirnya, ada baiknya kita mencari tempat kelahiran Harry Potter. Menjelang jam makan siang, saya sudah berdiri antre di depan The Elephant House, salah satu kafe di jantung kota Edinburg-Skotlandia, Inggris, yang diklaim sebagai tempat kelahiran Harry Potter.  Pada bagian depan kafe terpampang tulisan “The Birthplace of Harry Potter”.  Menurut informasi, JK. Rowling menulis dua buku serial Harry Potter, The Chamber of Secrets dan The Prisoner of Azkaban di kafe ini. Tak heran banyak turis manca negara yang penasaran melihat tempat ini.
The Elephant House
Setelah mengantre lima belas menit, saya memasuki bagian dalam kafe. Kafe ini tampak sederhana namun artistik.  Meja dan tempat duduknya tampak sudah tua namun terawat dengan baik. Saya melewati dinding yang menampilkan kliping berita kesuksesan JK.Rowling dan mendapatkan tempat duduk tepat di sebelah meja JK. Rowling menulis novelnya dengan menghadap kastil Edinburg.  Sebenarnya saya ingin duduk di tempat itu, tetapi waktu saya datang meja itu sudah dipesan. Selama saya berada di kafe, saya perhatikan meja itu nyaris seperti meja keramat. Tidak pernah kosong dan terus menerus dalam kondisi dipesan. Para pemesan bergilir datang menempati meja itu, mengerjakan sesuatu sambil memandang kastil Edinburg di kejauhan. Mungkin mereka berharap akan mendapatkan inspirasi yang dapat mengubah hidupnya seperti inspirasi yang didapatkan JK. Rowling.  
Meja JK Rowling di The Elephant House
 
The Elephant House yang berlokasi di 21 George IV Bridge, Edinburg EH1 1EN, Inggris ini pertama kali dibuka pada tahun 1995 dengan menyajikan menu breakfast, lunch dan dinner.  Selain itu mereka juga menyediakan teh, kopi, wine, bir dan beberapa macam kue. Kafe ini buka setiap hari, tetapi saya sarankan anda tidak datang pada waktu jam makan siang, karena akan mendapati antrean yang cukup panjang baik turis lokal maunpun mancanegara. 
Kliping kesuksesan JK. Rowling
 
Saya mencoba kopi dan kue yang direkomendasikan oleh pelayan kafe tetapi rasanya tidak begitu istimewa.  Tidak hanya JK. Rowling yang menulis novel di kafe ini, tetapi penulis terkenal lain seperti Ian Ranking penulis novel Rebus dan Alexander McCall-Smith penulis The No.1 Ladies Detective Agency juga menulis novelnya di kafe ini.  Penulis-penulis terkenal ini telah menjadikan The Elephant House sebagai sumber inspirasi yang banyak dikunjungi para turis lokal maupun mancanegara.
VICTORIA STREET DAN THE BALMORAL HOTEL EDINBURG
Setelah perceraiannya tahun 1993, JK. Rowling pindah ke Edinburg, Skotlandia. Pada masa sulit inilah JK. Rowling mengawali menulis bab awal serial Harry Potter. Tak mengherankan jika banyak tempat di Edinburg yang menjadi inspirasi ceritanya.  Salah satunya adalah Victoria street yang menjadi inspirasi Diagon Alley, sebuah pusat pertokoan tempat Harry Potter berbelanja berbagai macam peralatan sihir. Victoria street tidak jauh dari The Elephant House dan terletak di persimpangan depan gedung National Library of Skotlandia.
Salah satu toko inspirasi untuk Diagon Alley
 
Saya berbelok ke arah kanan dari jalan utama dan mulai menyusuri Victoria street. Tampak gedung-gedung kuno yang eksotis menjulang dan bagian depan toko yang berwarna-warni. Saya membayangkan tiba di sini menggunakan bubuk floo, salah satu alat transportasi di dunia sihir dan tersesat ke kawasan kumuh di belakang Diagon Aley seperti Harry Potter saat pergi belanja bersama keluarga Ron Wesley.  Ada satu toko yang menjual peralatan Harry Potter dengan tata ruang yang unik seperti di film Harry Potter. Saya memasuki toko dan menemukan berbagai peralatan Harry Potter seperti tongkat sihir, kartu pos, sal, peralatan tulis, globe dan benda-benda unik lainnya. Saya juga menemukan kotak di bawah tangga yang menjadi kamar Harry Potter.
Tak hanya Victoria street yang menjadi jejak sihir Harry Potter di Edinburg, tetapi The Balmoral Hotel juga menjadi jejak penting yang sering dikunjungi para penggemar Harry Potter. Di kamar suite nomor 552 Hotel Balmoral, JK. Rowling menyelesaikan buku terakhir Harry Potter The Deathly Hallows.  Sejak salah satu tayangan dokumenter menampilkan tempat kamar 552 Hotel Balmoral sebagai tempat JK. Rowling menyelesaikan serial Harry Potter para penggemar mulai antre memesan kamar yang harganya fantastis itu. Salah satu informasi menyebutkan harga kamar itu 1000 pounsterling per malam.  Kamar itupun kemudian diberi nama Rowling Suite.
CHRISH CHURCH  KATEDRAL UNIVERSITAS OXFORD
Kesuksesan novel Harry Potter juga diikuti kesuksesan film-film-nya. Para penggemar film Harry Potter pasti tidak asing dengan The Great Hall, tempat Harry Potter dan sahabat-sahabatnya pertama kali menghadapi topi seleksi untuk masuk ke asrama Gryffindor, Slytherin, Ravenclaw atau Hufflepuff. Di hall ini pula, biasanya para siswa sekolah sihir Hogward berkumpul untuk makan malam, menerima paket dari keluarga masing-masing, tempat Dumbledor menyampaikan pengumuman-pengumuman penting dengan menyalakan lilin-lilin terbang di atas langit-langit ruangan.  Satu tempat yang menjadi inspirasi The Great Hall adalah Dining Hall yang berada di Chrish Church katedral, Universitas Oxford.
 

Halaman dalam Chrish Church

Universitas Oxford merupakan perguruan tinggi berbahasa Inggris tertua di dunia. Menurut data, universitas ini sudah didirikan sejak abad ke 11, namun karena kelemahan dokumentasi sejarah, tidak diketahui kapan tepatnya universitas ini didirikan.  Suhu menunjukkan angka 10 derajat saat saya melangkah keluar stasiun. Jaket tipis yang saya kenakan tidak dapat melindungi tubuh tropis saya yang menggigil. Tetapi udara dingin itu tidak menghalangi keinginan saya yang besar menyusuri Oxford.
Dining Hall
Di dalam stasiun ada counter yang menawarkan beberapa paket tour  keliling Oxford. Tapi saya memilih berjalan kaki menyusuri kota tanpa menggunakan paket tour. Bangunan-bangunan kuno bergaya Victoria yang unik dan megah sangat menarik untuk diabadikan dalam kamera.  Saya berjalan mengikuti arus mahasiswa yang hilir mudik ke kampus dan beberapa rombongan studi tour dari berbagai manca negara. Meski ada bus dan mobil di jalanan, tetapi sebagain besar orang memilih menggunakan sepeda.  Setelah melewati kawasan yang ramai dengan pertokoan dan menikmati band jalanan, saya menemukan peta yang terpampang di pinggir jalan.  Saya mengecek peta dan Chrish Church katedral masih sekitar dua ratus meter dari tempat saya berdiri.
Chrish Church adalah satu-satunya gereja yang tergabung di dalam lingkungan kampus Universitas Oxford. Setelah menjadi lokasi syuting pembuatan film Harry Potter, pengunjung gereja itu meningkat drastis. Tujuan utama mereka adalah The Dining Hall yang menjadi inspirasi The Great Hall yang ada di film Harry Potter. Pengunjung dari berbagai manca negara ingin melihat secara langsung lokasi pengambilan gambar film Harry Potter.  Ketika saya tiba di depan gereja, antrian sudah mengular panjang. Lima belas menit antre, tiba giliran saya membeli tiket dan melewati pemeriksaan security. Saya kemudian dipersilakan masuk ke areal gereja.
 

Mahasiswa yang berseragam seperti Harry Potter

Areal Chrish Church sangat luas dan saya memilih untuk langsung ke Dining Hall.  Pengunjung tampak terpesona melewati bagian-bagian bangunan kuno Victoria yang megah dan cantik. Setelah menaiki tangga, sampailah saya di depan The Dining Hall. Karena antrean banyak, petugas mengatur jumlah orang yang masuk ke dalam The Dining Hall. Dan tibalah giliran saya memasuki Dining Hall.
Arus pengunjung perlahan memasuki Dining Hall sambil terus memotret setiap sisi Dining Hall. Ruangan ini benar-benar mirip dengan The Great Hall di film Harry Potter.  Tata letak meja panjang dan kursi, peralatan makan dan foto-foto yang terpasang di dinding. Bahkan pada bagian depan tempat para guru dan kelapa sekolah Hogward juga memiliki kesamaan.  Sambil berjalan memutar, para pengunjung yang kebanyakan penggemar Harry Potter mengabadikan moment kunjungan mereka seolah mereka benar-benar berada dalam situasi malam malam di sekolah sihir Hogward.
Tak hanya The Dining Hall yang menjadi inspirasi film Harry Potter, beberapa tempat di areal Chrish Church juga menjadi lokasi syuting film Harry Potter. Setelah keluar dari The Dining Hall, saya menuju lapangan luas yang menjadi tempat latihan Quidditch Harry Potter dan teman-temannya. Di tempat ini juga pertama kalinya Harry Potter belajar naik sapu terbang dan terbang mengelilingi menara-menara kastil Hogward. Saya membayangkan terbang menggunakan sapu terbang melihat kota Oxford yang cantik dari ketinggian.
STASIUN KING’S CROSS
Jika anda penggemar Harry Potter maka anda pasti mengenal stasiun King’s Cross. Pasalnya di stasiun ini pertama kalinya Harry berangkat ke sekolah sihir Hogward dengan menembus dinding platform 9 ¾.  Ketika memasuki stasiun ini, bangunan kuno bergaya Victoria yang artistik dan megah menyambut saya. Saya merasa benar-benar berada di stasiun tempat Harry Potter berangkat ke sekolah Hogward.
Platform 9 3/4
Saya memasuki stasiun dan mencari lokasi platform 9 ¾.  Kegiatan di dalam stasiun berjalan seperti biasa. Warga lokal pengguna kereta tampaknya sudah terbiasa dengan orang asing yang mencari-cari lokasi Harry Potter menembus dinding sehingga mereka tidak mengacuhkannya.  Baru ketika saya melangkah ke bagian stasiun lebih jauh, saya menemukan kerumunan orang yang mengantre di depan platform 9 ¾. Mereka bukan hendak menembus dinding, tetapi menunggu giliran berfoto dengan keranjang Harry Potter, si Hedwig burung hantu Harry Potter, sal dan berbagai aksesories khas Harry Potter lainnya. Seorang pemandu mengarahkan gaya para penggemar ini dan seorang teman siap memotretnya.
Di samping platform 9 ¾ tampak toko aksesories peralatan Harry Potter mulai dari tongkat sihir, sapu terbang, permen khas Harry Potter dengan berbagai rasa yang unik, burung hantu Harry Potter, sweater, souvenir dan berbagai macam alat tulis dengan gambar khas Harry Potter.  Tampak pengunjung dari berbagai negara berjubel untuk belanja aksesories Harry Potter di toko ini.
WARNER BROSS THE MAKING OF HARRY POTTER
Tidak lengkap rasanya jika kita tidak mengunjungi Warner Bross, studio tempat pembuatan film Harry Potter.  Untuk mendapatkan tiketnya cukup sulit, bahkan dua bulan sebelum berangkat saya hanya mendapatkan satu slot kosong pada bulan itu, sementara tanggal lainnya sudah di pesan. Melalui website resmi Warner Bross, saya memesan tiket masuk tanpa audio dengan harga 37 pounsterling. Harga akan bertambah jika kita menggunakan audio. Mereka juga menyediakan paket tiket dengan jemputan pulang pergi menggunakan bus dari pusat kota London dengan harga yang lebih mahal. 
Warner Bross Studio
Dari stasiun Victoria London, saya naik kereta ke Euston. Keluar dari Euston saya berjalan ke stasiun Pancrass dan naik kereta lagi ke Walford Juction. Dari Walford Juction inilah, bus khusus akan menjemput kami menuju Warner Bross studio. Dengan membayar 3 pounsterling untuk perjalanan pulang pergi, saya naik bus bergambar Harry Potter ini menuju studio Warner Bross. Di dalam bus terdapat video yang menjelaskan tentang seluk beluk Warner Bross sebagai tempat syuting Harry Potter.  Lima belas menit kemudian, bus tiba di depan studio. Tampak konter tiket dan mesin tiket di sisi sebelah kanan. Saya harus menukarkan tiket terlebih dahulu untuk bisa masuk ke dalam studio.
Kamar Harry Potter dibawah tangga rumah Prive Drive terpampang di dekat pintu masuk studio, lengkap dengan tempat tidur mungil. Dan begitu masuk ke dalam studio, kami disambut poster-poster film Harry Potter dan seorang pemandu yang akan mengantar kami keliling studio. Setiap kelompok dibatasi jumlah pengunjungnya sehingga tidak berdesakan. Kami dibawa ke depan sebuah layar dimana tiga pemain utama, Daniel Radcliffe, Emma Watson dan Ruppert Grint menyapa kami dan menceritakan pengalamannya syuting bertahun-tahun di studio itu. Mereka bertiga kemudian mempersilakan kami masuk ke dalam dan otomatis layar tempat ketiga pemain utama itu berubah menjadi pintu besar yang terbuka lebar. Pemandu studio mempersilakan kami masuk melalui pintu itu.
The Great Hall! Teriak pemandu saat pintu terbuka. Pengunjung menjerit senang dan memasuki The Great Hall dengan teratur.  Ruangan ini merupakan replika The Dining Hall di Chrish Church Oxford University.  Keluar dari Great Hall kami mengikuti petunjuk untuk berbelok ke kiri ke bagian kreatif pembuatan film. Tampak foto-foto para kreator terpampang. Mulai dari sutradara, penulis skenario, produser, penata gambar dan bagian-bagian penting lain dalam pembuatan film Harry Potter. Tidak jauh dari situ tampak rancangan kostum yang dikenakan para pemain, make up, makanan palsu bahkan lilin yang bisa beterbangan saat malam malam di Great Hall. 
Hogward Express
Saya terkagum-kagum melihat studio itu.  Semua lokasi dalam film dibuat dengan detail dan tampak seperti yang sebenarnya. Tangga berjalan, lukisan Nyonya Gemuk, kantor Dumbledore, ruang kelas ramuan Severus Snape, labu-labu di depan rumah Hagrid sampai hutan tempat para laba-laba tinggal  Tombol sihir technologi tampak di beberapa tempat nyaris seperti sihir sungguhan. Ketika saya memencet tombol, otomatis perangkat songket di rumah Ron Wesley akan menjahit sendiri. Begitu juga ketika saya menggerakkan tangan di depan sebuah sensor, maka setrika di rumah Ron Wesley akan bergerak menyetrika baju sendiri. Bahkan laba-laba di tengah hutan buatan itu akan muncul ketika kita menekan tombol yang kemudian disusul suara-suara hutan yang menakutkan.
 Pengunjung yang ingin berfoto sambil terbang menggunakan sapu Harry Potter juga bisa mencoba efek dengan hanya duduk di atas sapu terbang dan sedikit meliuk-liukkan badan. Tampak di layar mereka seperti terbang mengelilingi kota menggunakan sapu terbang. Di tempat yang lain tampak couching cara berduel menggunakan tongkat sihir. Dengan panduan video, pengunjung bisa mengikuti gerakan-gerakan duel ala penyihir.
Kamar Harry Potter dibawah tangga rumah Bibi Petunia
Pada bagian studio yang lain, kami disuguhi rancangan gambar-gambar lokasi syuting yang terpampang di dinding. Tak jauh dari sini tampak maket-maket lokasi syuting mulai dari kantor Dumbledore, rumah Ron Wesley, ruang asrama putra, maket kastil Hogward dan banyak maket lokasi syuting lainnya. Semua rancangan itu sudah pasti melibatkan arsitektur.  Tak kalah menarik adalah replika stasiun King’s Cross dan kereta api Hogward Express yang mengantar Harry menuju sekolah sihir. Kereta ini selalu diliputi asap dan tampak benar-benar hidup seperti yang ada di film. Pengunjung bisa masuk ke dalam kompartemen meskipun kereta ini tidak berjalan. Di bagian belakang tampak kompartemen Harry, Hermione dan Ron dilengkapi dengan patung mereka tengah duduk di dalam kereta.  Sebelum mengakhiri tour kami melewati kantin yang menjual Butterbeer, minuman yang sangat terkenal di serial Harry Potter. Tak jauh dari situ tampak perumahan Privet Drive, Knight Bus dan jembatan di depan kastil Hogward.
Mengunjungi lokasi syuting Harry Potter ini membuat saya benar-benar tersihir. Bukan hanya karena JK. Rowling telah menulis  cerita fiksi yang luar biasa, tetapi saya mengagumi profesionalisme kerja sebuah team produksi film untuk menghasilkan karya yang dahsyat.  Anda ingin tersihir seperti saya? Persiapkan liburan Anda menyusuri jejak sihir Harry Potter. ***
(artikel ini dimuat Jawa Pos 16/09/2017 di rubrik Traveling dan Ucweb)