Category Archives: Eropa

Oxford Inggris, Kota Pelajar Yang Menarik

“Oxford, diantara keanggunan dan ketenanganmu aku menemukan keindahan”

Apa sih menariknya Oxford?  Beberapa waktu lalu saya mengunjungi Oxford Inggris dan menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di benak saya.

Oxford merupakan kota pelajar paling terkenal di Inggris yang berjarak sekitar 200 kilometer dari pusat kota London. Kita bisa naik kereta atau bus untuk menjangkau kota ini. Saya naik kereta dari salah satu stasiun di London dengan membeli  tiket di pounding machine. Perlu waktu sekitar 1.5 jam hingga sampai di kota tua Oxford yang cantik.

Saya memiliki waktu 12 jam untuk berkeliling sebelum kembali ke London sore harinya. Di stasiun Oxford tersedia paket tour yang akan mengantarkan kita keliling kota Oxford, tetapi saya lebih suka berkeliling sendiri. Apa saja yang bisa kita kunjungi dan lakukan di Oxford? Berikut rekomendasi buat kamu yang ingin berkunjung ke Oxford Inggris.

       JALAN-JALAN KELILING KAMPUS UNIVERSITAS OXFORD
Universitas Oxford merupakan perguruan tinggi berbahasa Inggris tertua di dunia. Menurut data, universitas ini sudah didirikan sejak abad ke 11, namun karena kelemahan dokumentasi sejarah, sehingga tidak diketahui kapan tepatnya universitas ini didirikan.  
Keluar stasiun saya berjalan kaki mengelilingi areal kampus.  Kota ini benar-benar cantik, tenang dan nyaman. Bangunan-bangunan tua bergaya Victoria menjulang di setiap sudut kota dan terawat dengan baik. Berjalan di areal kampus ini, saya seperti memasuki kehidupan berabad-abad yang lalu.  Banyak turis baik sendiri maupun berkelompok bersama tour guide hilir mudik mengelilingi kota.  Ada 38 college di Oxford dan college yang bisa dikunjungi seperti Exeter College yang didirikan pada tahun 1314 dan Hertford College yang didirikan pada tahun 1282. Mengelilingi kota Oxford bersama mahasiswa yang jalan kaki maupun bersepeda sangat berkesan. Seolah-olah saya juga kuliah di kampus berbahasa Inggris tertua di dunia ini.
   MENGUNJUNGI CHRIST CHURCH KATEDRAL
Kesuksesan novel Harry Potter juga diikuti kesuksesan film-film-nya. Para penggemar film Harry Potter pasti tidak asing dengan The Great Hall, tempat Harry Potter dan sahabat-sahabatnya pertama kali menghadapi topi seleksi untuk masuk ke asrama Gryffindor, Slytherin, Ravenclaw atau Hufflepuff. Di hall ini pula, biasanya para siswa sekolah sihir Hogward berkumpul untuk makan malam, menerima paket dari keluarga masing-masing, tempat Dumbledor menyampaikan pengumuman-pengumuman penting dengan menyalakan lilin-lilin terbang di atas langit-langit ruangan.  Satu tempat yang menjadi inspirasi The Great Hall adalah Dining Hall yang berada di Chrish Church katedral, Universitas Oxford.
Chrish Church adalah satu-satunya gereja yang tergabung di dalam lingkungan kampus Universitas Oxford. Setelah menjadi lokasi syuting pembuatan film Harry Potter, pengunjung gereja itu meningkat drastis. Tujuan utama mereka adalah The Dining Hall yang menjadi inspirasi The Great Hall yang ada di film Harry Potter. Pengunjung dari berbagai manca negara ingin melihat secara langsung lokasi pengambilan gambar film Harry Potter.  Ketika saya tiba di depan gereja, antrian sudah mengular panjang. Lima belas menit antre, tiba giliran saya membeli tiket dan melewati pemeriksaan security. Saya kemudian dipersilakan masuk ke areal gereja.
Areal Chrish Church sangat luas dan saya memilih untuk langsung ke Dining Hall.  Pengunjung tampak terpesona melewati bagian-bagian bangunan kuno Victoria yang megah dan cantik. Setelah menaiki tangga, sampailah saya di depan The Dining Hall. Karena antrean banyak, petugas mengatur jumlah orang yang masuk ke dalam The Dining Hall. Dan tibalah giliran saya memasuki Dining Hall.
Arus pengunjung perlahan memasuki Dining Hall sambil terus memotret setiap sisi Dining Hall. Ruangan ini benar-benar mirip dengan The Great Hall di film Harry Potter.  Tata letak meja panjang dan kursi, peralatan makan dan foto-foto yang terpasang di dinding. Bahkan pada bagian depan tempat para guru dan kelapa sekolah Hogward juga memiliki kesamaan.  Sambil berjalan memutar, para pengunjung yang kebanyakan penggemar Harry Potter mengabadikan moment kunjungan mereka seolah mereka benar-benar berada dalam situasi malam malam di sekolah sihir Hogward.
Tak hanya The Dining Hall yang menjadi inspirasi film Harry Potter, beberapa tempat di areal Chrish Church juga menjadi lokasi syuting film Harry Potter. Setelah keluar dari The Dining Hall, saya menuju lapangan luas yang menjadi tempat latihan Quidditch Harry Potter dan teman-temannya. Di tempat ini juga pertama kalinya Harry Potter belajar naik sapu terbang dan terbang mengelilingi menara-menara kastil Hogward. Saya membayangkan terbang menggunakan sapu terbang melihat kota Oxford yang cantik dari ketinggian.
3    MENIKMATI MUSIK JALANAN YANG MENARIK
Ketika saya sampai di pusat kota tua, tampak jajaran pertokoan, restoran dan kafe-kafe. Banyak orang berkerumun di pinggir jalan menikmati sajian musik yang dimainkan sekelompok anak muda. Permainan musiknya menarik dan terlihat profesional. Banyak orang berhenti dan menikmati sampai selesai sebelum kemudian memberikan uang di kotak wadah alat musik yang terbuka di depan grup musik itu. Banyak band mendunia yang didirikan di Oxford seperti Radiohead dan Thom Yorke.
Nah, jika kamu berkunjung ke Oxford jangan lewatkan sajian musik jalanan yang menarik dan memberi energi ini. 
4     MENIKMATI TEH DAN KUE DI KAFE
Jalan-jalan keliling kota tanpa ojek pasti bikin gempor buat kaki Indonesia. Makanya saya menyempatkan diri mampir ke salah satu kafe untuk minum teh dan kue sambil melihat lalu lalang orang.  Ada satu kafe kecil yang menyajikan kue-kue ringan dan minuman hangat dengan harga murah. Kafe itu letaknya sedikit tersembunyi tapi orang lokal menunjukkannya pada kami.  Ada banyak kafe cantik di setiap sisi kota Oxford, kamu bisa mencobanya sambil menikmati kecantikan kota tua Oxford.
MENGUNJUNGI BODLEIAN LIBRARY


Jika kamu penggemar buku, maka tempat ini tak akan kamu lewatkan. Bodleian library merupakan perpustakaan tertua di Eropa dan terbesar kedua di Inggris. Perpustakaan ini menjadi sangat terkenal di seluruh dunia karena beberapa ruangannya digunakan sebagai tempat pengambilan gambar film Harry Potter. Nah, tertarik berkunjung ke Inggris? Jangan lupa mampir di kota cantik Oxford, saya jamin kamu nggak akan kecewa.

 

5 Hal Seru Yang Harus Dilakukan Penggemar Sepak Bola Saat Berkunjung Ke Inggris

Photo by : Icha

  
Jangan bilang kamu penggemar sepak bola kalau saat berkunjung ke Inggris tidak melakukan 5 hal seru ini. Inggris merupakan negara yang disebut sebagai tempat lahirnya sepak bola.  Berawal dari permainan pelepas penat sehabis kerja oleh kaum urban semasa revolusi industri, warga urban Inggris menjadikan sepak bola sebagai ajang bertemu komunitas dan bersenang-senang. Maka tidak heran jika budaya menonton sepak bola bagi warga Inggris sudah terbentuk sejak lama. Bahkan Inggris memiliki klub sepak bola tertua sekaligus paling banyak di dunia. Nah, apa aja sih hal seru yang bisa kamu lakukan di Inggris sebagai penggemar sepak bola? Nih, saya bagiin contekannya sebelum kamu berangkat ke Inggris.

      MENGUNJUNGI KOTA MANCHESTER
Photo by : Icha
Terletak di barat laut Inggris, Manchester merupakan kota metropolitan yang merupakan asal dua klub sepak bola utama di Eropa yaitu Manchester United dan Manchester City.  Selain menggunakan pesawat, kamu bisa naik bus atau kereta dari Victoria Stasiun London ke kota Manchester ini. Di kota ini kamu, para penggemar sepak bola bisa mengunjungi National Football museum dan Old Trafford Stadium.

National Football museum dibangun untuk melestarikan koleksi milik asosiasi sepak bola.  Koleksi yang terdapat dalam museum ini berasal dari FIFA Book Collection, Football League, Football Asosiation, FIFA Museum dan National Football collection. Museum ini buka setiap hari mulai pukul 10 pagi hingga jam 5 sore.

Old Trafford Stadium terletak 4 km dari pusat kota Manchester. Stadium ini merupakan stadium terbesar kedua di Inggris yang sekaligus menjadi markas besar Manchester United sejak didirikan pada tahun 1910.  Stadium ini dibagi menjadi 4 stand yaitu Sir Alex Fergusson Stand, Sir Bobby Charlton stand, East stand dan West Stand.  

2    MENGIKUTI STADIUM TOUR

Jika kamu punya klub favorit, maka kamu harus mengikuti stadium tour untuk mengenal lebih jauh klub favorit kamu.  Selain Old Tranfford stadium di Manchester, di London ada beberapa stadium tour lain seperti Emirates Stadium- Arsenal FC, Stamford Brigde – Chelsea FC dan White Hard Lane – Tottemham Hotspur FC.
 

Karena waktu yang terbatas, saya hanya sempat mengunjungi salah satu stadium yaitu Emirates Stadium-Arsenal FC.  Untuk mencapai stadium yang terletak di London utara ini tidak terlalu sulit.  Kita bisa naik tube dan turun di stasiun Arsenal. Dari stasiun Arsenal kita tinggal mengikuti petunjuk menuju arah stasiun. Stadium kebanggaan The Gooners ini diresmikan tahun 2006 dengan kapasitas sekitar enam puluh ribu penonton.  Ada tiga paket tour yang ditawarkan oleh Emirates Stadium, yaitu Paket Museum seharga 8 poundsterling,  Legends Tour seharga 40 poundsterling dan Self-Guided Tour seharga 20 poundsterling.  Dengan Self-Guided Tour kamu diberikan virtual guide yang bisa didengarkan sambil mengelilingi stadion. Sementara Legends tour kamu akan diantar langsung oleh Legenda Arsenal seperti Lee Dixon keliling stadion. Tempat yang kita jelajahi selama tour adalah Changing Room yang terbagi menjadi dua yaitu untuk Arsenal dan tim lawan dan Director’s Box tempat para petinggi Arsenal dan tamu VIP bisa menonton pertandingan dengan pemandangan terbaik.

3    MENONTON PERTANDINGAN SEPAK BOLA DI STADION
Kalau kamu suka menonton pertandingan sepak bola di stadion maka menonton sepak bola  di stadion Inggris tidak boleh kamu lewatkan.  Konon, atmosfer terbaik menonton pertandingan sepak bola ada di Inggris. Setidaknya saya merasakannya sejak turun dari tube dan ikut arus penonton bola yang memenuhi stasiun. Mereka bergerak teratur menuju Emirates Stadium mengenakan slayer, penutup kepala dan kaos klub kebanggaan mereka sambil meneriakkan yel-yel atau bernyanyi.

Suasana di dalam stadion sangat meriah karena hampir seluruh kursi penonton terisi penuh. Kamu akan merasakan gegap gempita penonton bola di Inggris bersorak, menyanyi mendukung klub kesayangan mereka hingga usai pertandingan.  Masyarakat Inggris sudah mencintai sepakbola cukup lama, sehingga budaya menonton yang sportif, saling menghargai dan teratur sudah menjadi kebiasaan mereka.  Menonton bola menjadi budaya yang menggembirakan dan menular pada pengunjung seperti saya. Kalau kamu ke Inggris, jangan dilewatkan kesempatan menonton sepak bola live.

4.     BELANJA PERNIK-PERNIK SEPAKBOLA
Photo by : Icha
Kamu pasti tak akan pulang ke Indonesia tanpa kenang-kenangan dari klub kesayangan kamu. Nah, kamu bisa belanja pernak-pernik sepakbola sebagai buah tangan di The Armoury, Stadium Megastore dan Lilywhites.

The Armoury terletak di dekat Emirates Studium dan menjual berbagai pernik-pernik sepakbola klub Arsenal.  Jika kamu penggemar klub Arsenal, kamu bisa mendapatkan cinderamata dan pernik-perniknya disini.

Terletak di Stamford Bridge, Stadium Megastore menjual berbagai pernak-pernik klub Chelsea. Jika kamu penggemar klub Chelsea maka kamu bisa berbelanja segala perlengkapan sepak bola dan cinderamata di sini.

Sedangkan Lilywhites merupakan departemen store yang menjual perlengkapan olahraga. Disini kamu bisa mendapatkan segala perlengkapan sepak bola dari berbagai klub di Inggris.

5     MENYERAP ENERGI SUPPORTIF PERTANDINGAN SEPAKBOLA.
Selain mengunjungi tempat-tempat seru dan belanja pernak-pernik bola, ada hal yang patut kita serap dari perjalanan ini yaitu supportivitas pemain pertandingan dan penonton pertandingan. Jika kamu bukan calon pemain sepakbola setidaknya kita bisa mencontoh bagaimana masyarakat Inggris menonton bola dengan tertib, aman dan supportive.  Memang kebiasaan menonton sepak bola bagi masyarakat Inggris sudah terbentuk sejak sangat lama, tetapi tidak ada buruknya kita mengambil hal yang baik dari mereka. Menonton pertandingan sepakbola adalah kegembiraan berkumpul dengan banyak orang yang penuh semangat.  Kalah atau menang dalam sebuah pertandingan harus bisa diterima dengan besar hati dan gembira. Jangan sampai merusak apa yang menjadi tempat kita semua bisa berkumpul dan bergembira.

Sepakat?  Kalau YA, bulatkan mimpimu dan dapatkan kesempatan pergi ke Inggris mengunjungi tempat-tempat yang saya rekomendasikan.

London : Kota Multikultural Yang Mencuri Hati

Berawal dari membaca buku-buku Lima Sekawan-nya Enid Blyton, Harry Potter-nya JK.Rowling dan Sherlock Holmes-nya Arthur Conan Doyle, saya berjuang keras mewujudkan mimpi saya pergi ke Inggris. Dalam tujuh hari, London berhasil membuat saya jatuh cinta.  Penduduk London yang multikultural tampak tidak kaget dengan perbedaan.  Apapun warna kulitmu, apapun bajumu, apapun keyakinan-mu, asal kamu tidak menyalahi aturan, kamu bisa menikmati London dengan aman. Setidaknya begitu yang saya rasakan setiap saya menyusuri jalanan kota London.  Bahkan beberapa kali saya menemukan anak-anak muda yang siap menolong mengangkat koper saya di tangga kereta bawah tanah karena saya tak kuat membawanya.

Apa saja sih yang bisa dilakukan di Inggris? Ini pengalaman yang saya lakukan di Inggris sampai hati saya tercuri, siapa tahu kamu akan mengalami hal yang sama.

1   
1      1. MENGUNJUNGI SETTING CERITA HARRY POTTER DAN SHERLOCK HOLMES


Sebagai penggemar Harry Potter dan Sherlock Holmes, saya mengunjungi lokasi keduanya.  Setting cerita Harry Potter yang ada di London yaitu King’s Cross stasiun. Di tempat ini banyak penggemar Harry Potter mencari peron 9 ¾ dimana Harry Potter mengawali perjalanannya ke Hogward School dengan naik kereta. Stasiun King’s Croos menjadi sangat terkenal dikunjungi penggemar Harry Potter dari seluruh dunia.  Di stasiun ini pula ada toko yang menjual souvenir Harry Potter.

Sementara setting cerita Sherlock Holmes ada di Baker Street.  Dari pintu stasiun Baker Street saya menemukan patung Sherlock Holmes yang dikerubungi para fans. Dari stasiun ini saya berjalan lurus dan menemukan museum Sherlock Holmes serta rumah yang ditempati Sherlock Holmes yang terkenal dengan pintunya yang bertuliskan Baker Street 221.

 
2. MELIHAT PERGANTIAN PENJAGA ISTANA BUCKINGHAM

Istana Buckingham merupakan satu bucket list yang berhasil saya kunjungi.  Di tempat ini saya bisa menyaksikan pergantian penjaga istana yang berlangsung pada jam 11 siang. Atraksi ini menjadi tujuan turis dari seluruh dunia, sehingga jika ingin mendapat posisi yang bagus harus datang pagi-pagi. Para pengunjung berdesakan bahkan sampai naik ke atas pagar untuk melihat pasukan penjaga istana yang berbaris memutar di areal depan istana.

Tepat jam 11 siang upacara pergantian penjaga dimulai.  Pasukan penjaga melakukan parade diiringi marching band berjalan memasuki halaman istana menggantikan pasukan sebelumnya. Total waktu pergantian penjaga ini bisa berlangsung selama 45 menit.  Para turis dari berbagai negara dengan sabar menunggu hingga pergantian penjaga ini selesai dengan sempurna.

3   3. BELANJA DI PRIMARK DAN CAMDEN MARKET

Orang Indonesia terkenal dengan hobby belanjanya.  Primark yang ada di Oxford street menjadi pilihan tepat untuk belanja fashion, kosmetik, tas, sepatu,  aksesories wanita dan pria dengan harga murah. Jangan kuatir dengan kualitasnya meskipun harganya murah, kualitas barang-barang di Primark sangat bagus. Saya membeli sepatu seharga Rp. 150.000, sangat nyaman dipakai. Untuk kamu yang suka belanja fashion murah dengan kualitas bagus, Primark tempatnya.

Tempat lain untuk berbelanja adalah Camden Market.  Tapi di tempat ini khusus untuk belanja souvenir.  Lapak souvenir berjajar rapi di tempat ini, kita tinggal memilih mana yang diinginkan, mulai dari gantungan kunci, tempelan kulkas dan pernik-pernik souvenir Inggris dengan harga murah. Tak hanya souvenir, di tempat ini juga banyak penjual makanan pinggir jalan yang enak dan murah.

4   4. MENYEBERANGI  LONDON TOWER BRIDGE DENGAN JALAN KAKI

London Tower Bridge adalah jembatan yang membentang di atas Sungai Thames. Sebenarnya bisa naik bus untuk melewati jembatan ini, tapi menyusuri tepi jembatan sambil berjalan kaki sambil menikmati pemandangan di sekeliling sungai Thames sangat menyenangkan. 
 

Saya mengunjungi London Tower Bridge saat gerimis turun. Suasana pagi masih sepi dan orang-orang lebih suka berteduh daripada hujan-hujanan seperti saya. Tak hanya menyeberangi jembatan, tetapi saya juga turun ke bawah dan membeli segelas kacang almond hangat.  Banyak burung merpati di sekitar sini, kita bisa duduk menikmati pemandangan sungai Thames ditemani burung merpati.

  5. MENCICIPI FISH AND CHIPS, COSTA DAN PRET A MANGER

Mengunjungi London tanpa mencicipi makanan khasnya sangatlah rugi. Fish and Chips merupakan kuliner khas Inggris yang sangat terkenal. Saya menemukan makanan ini hampir di semua tempat di London.  Seperti namanya Fish and Chips terbuat dari ikan yang digoreng dengan tepung dan kentang goreng yang disajikan dengan saos sesuai pilihan. 

Sementara Costa adalah kopi yang terkenal di Inggris. Meskipun bukan penggemar kopi, saya merasa wajib mencobanya. Costa kopi shop berada di banyak tempat dan mudah ditemukan. Rasa kopinya ringan dan enak.  Selain Costa, restoran Pret A Manger juga menyajikan kopi. Tetapi Pret A Manger lebih terkenal sebagai restoran sandwich. Pret A Manger juga mudah ditemukan di banyak tempat di London.

Paris : Kota Cinta, Kota Seni – 2


Tengah hari, saya tiba di Arc de Triomphe. Sebagai tujuan turis, tempat ini sudah pasti sangat ramai. Bahkan untuk memotret dengan angle yang tepat saja susah. Saya tidak masuk ke dalam lorong untuk menyusuri bagian bawa Arc de Triomphe karena lebih tertarik untuk menjelajahi jalanan kota Paris.  
Kota Paris bisa dijelajahi dengan jalan kaki. Kita hanya perlu memanfaatkan google map sambil menyusuri trotoar unik abad pertengahan yang menghubungkan tempat-tempat wisata terkenal.  Dari Arc de Triomphe saya berjalan lurus melewati pusat perbelanjaan mewah dan restoran-restoran besar lalu mampir di Paris in Jerman untuk membelikan pesanan teman. Meskipun saya suka berjalan kaki, tetapi menjelajahi Paris dengan kondisi perut tidak terisi nasi membuat kaki saya mudah kram. Ketika menemukan penjual burger dan minuman di sisi jalan, saya langsung membelinya. Tiba-tiba ada orang Indonesia bergabung dengan saya. Seorang ibu dan anaknya yang melakukan perjalanan backpacker juga dari Bali sembari mengunjungi kerabatnya di Belanda. 
Meskipun tidak masuk ke dalamnya, saya menyempatkan mampir di areal Universitas Sorborne dan melihat lalu lalang mahasiwa.  Baru menjelang sore saya sampai di Museum Lovre.  Museum ini benar-benar luar biasa, bahkan dari penampakan luarnya saja sangat mempesona. Saya tidak memasuki museum dan hanya mengambil fotonya dari luar karena benar-benar sudah kecapekan. Saya memutuskan berjalan ke arah taman dan duduk lama di sana sambil melihat lalu lalang orang lewat. Setelah cukup istirahat saya berjalan lagi keluar areal Museum Lovre dan menyisir sepanjang sisi sungai Seine. Tempat ini menjadi tempat favoritku selama beberapa hari di Paris karena sangat romantis, tenang dan nyeni. Apalagi kalau dikunjungi saat matahari kemerahan menjelang tenggelam.
Saya membeli tiket cruise yang murah untuk menyisir sepanjang sisi sungai Seine dan saya menuliskannya di artikel sebelumnya tentang sungai di Eropa. Baru ketika langit gelap, saya kembali berjalan kaki menyusuri trotoar dengan lampu-lampu yang telah menyala. Paris malam hari semakin cemerlang dan unik.  Hanya saja untuk memasuki stasiun metro pada malam hari sangat menakutkan buat saya. Penumpang di dalam metro itu seperti saling memandang curiga dengan wajah yang letih. Setelah luntang-luntung mencari stasiun yang terdapat mesin pembelian tiket, akhirnya kami menemukannya juga. Hampir jam 11 malam saya tiba di hostel.
Tujuan utama saya ke Paris sebenarnya untuk mengunjungi Grande Mosque dan toko buku Shakespeare and Company. Grande Mosque memiliki sejarah unik pada masa perang dunia 2. Pernah menjadi tempat persembunyian Yahudi Eropa dari kejaran Nazi Jerman. Sementara toko buku Shakespeare and Company sudah pasti menjadi tempat wajib kunjung bagi orang yang suka menulis dan membaca. Toko buku ini merupakan tempat favorit Hemingway dan beberapa pengarang terkenal lainnya. ( saya akan menuliskan artikel tersendiri tentang toko buku dan masjid ini di tulisan selanjutnya).

Paris sangat menarik tentu saja karena kekayaan seni yang luar biasa. Saya menyukai kota ini kecuali tingkat kriminalitas yang mengkuatirkan. Saya tidak nyaman jalan karena harus terus-terusan memegangi tas, dompet dan menyimpan semua barang berharga di money belt sampai setiap foto perut saya melendung karena money belt. Benar-benar menyebalkan. Tetapi dari yang menyebalkan dan menyenangkan justru jika ada kesempatan lagi, saya ingin kembali ke Paris. Belum banyak yang saya lihat. Semoga saya bisa kembali.

Paris : Kota Cinta, Kota Seni – 1


 “Paris is the only city in the world where starving to death is still considered an art ”  – Carlos Rutz Zafon (Spanish Novelist)

Pagi masih lengang saat Flixbus yang saya tumpangi 8 jam dari London victoria couch stasiun tiba di salah satu terminal bus di Paris. Kaki masih terasa ngilu duduk semalaman setelah sebelumnya menyeret koper sambil lari-lari di trotoar London karena takut ketinggalan bus.  Tapi akhirnya sampai juga saya di kota cinta Paris. Apakah benar banyak cinta di sini? 

Bus berhenti di terminal terbuka Porte Maillot yang berada tepat di depan stasiun metro. Saya dan dua orang teman segera menyeret koper memasuki stasiun. Bangunan stasiun tampak modern tetapi masih sepi. Hanya ada security mondar-mandir di dekat pintu masuk. Kami mencari petunjuk arah menuju stasiun metro yang ternyata ada di lantai bawah tanah.  Begitu memasuki pintu stasiun metro, saya mulai menangkap suasana yang muram dan berbeda dengan bagian depan stasiun yang modern. Bagian bawah tanah itu tampak tua dan kusam, penjaga loket sedikit galak dan orang-orang yang berjejer antri tiket saling melirik seolah menaruh kecurigaan. Karena belum mempelajari kartu transportasi yang akan kami gunakan, kami membeli tiket sekali jalan ke arah hostel yang terletak di Gare Du Nord. Dengan tiket berukuran kecil dan mesin tua yang unik, saya kesulitan masuk stasiun. Ternyata tiket mungil itu harus dimasukan dan akan muncul di depan setelah palang terbuka. Begitu keluar, akan terdapat tanda garis kecil di tiket pertanda telah dipakai. Setelah melewati mesin tiket kami bingung harus masuk ke stasiun yang mana karena tidak menemukan petunjuk.  Sembarangan kami mengikuti arus orang memasuki salah satu lorong stasiun.
 

Lorong-lorong stasiun itu muram dan horor. Orang-orang dengan lirikan yang seperti curiga hilir mudik tanpa aura wajah ramah. Tidak ada eskalator sehingga kami harus mengangkat koper naik turun tangga setan yang tingginya amit-amit. Agak berharap ada cowok ganteng yang tiba-tiba tersenyum dan membawakan koper kami melewati tangga seperti di London, tapi di Paris kami kurang beruntung. Setelah muter-muter di lorong dan bolak-balik motret jalur metro yang terpampang di tembok stasiun akhirnya kami menemukan jalan menuju hostel.  Dengan dua kali pemberhentian metro, sampailah kami di stasiun Gare Du Nord. 

Gare Du Nord besar dan modern. Pintu keluarnya pun susah ditemukan karena petunjuknya agak memusingkan. Tetapi sekali lagi, saya menemukan wajah-wajah curiga memandang kami sehingga kami menjadi waspada.  Sepanjang keluar stasiun saya menekap tas dan money belt erat-erat.  Sudahlah pergi ke Eropa dengan cara irit mendekati kere kalau sampai kenapa-napa, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.  Banyak gelandangan di pintu depan stasiun dan saya bergegas menghampiri polisi untuk menanyakan lokasi hostel. Polisi tidak yakin lokasinya hanya memberi tahu bahwa jalan yang saya cari ada di sepanjang jalan ini. Saya memutuskan berjalan ke arah kiri dan insting saya benar, Christoper Hostel ada di ujung jalan setelah melewati kedai-kedai makanan halal. Saya membayangkan bisa makan lebih leluasa di sini.

Christoper Hostel luas dan memiliki banyak kamar dormitory. Saya memilih female dormitory dan sekamar dengan cewek Brazil, cewek Afrika dan satu lagi emak-emak dari London.  Terlalu capek setelah perjalanan semalam naik bus dari London dan ketakutan banyak copet di jalan, kami memutuskan untuk tidur di hostel sambil menyusun strategi menjelajah besok harinya. Kami hanya keluar di sekitaran hostel untuk mencari makan sore hingga malam. Itupun masih ada acara nyasar segala. Jadi kapan kami tidak nyasar?

Esoknya kami jalan kaki menuju Sacre-Coeur yang terletak di bukit Montmartre. Menurut cewek Brazil itu tidak jauh dari hostel kami, tapi ketika kami jalan ke sana ternyata kaki sampai kram juga. Apalagi jalan menuju ke sana mendaki dan kami belum sarapan nasi beberapa hari. Sacre-Coeur merupakan gereja dengan kubah putih. Dari pelataran bagian atas kita bisa melihat pemandangan sebagian wilayah Montmartre.  Gereja ini didirikan pada tahun 1875 dan baru selesai dibangun pada tahun 1914.  Ada seorang lelaki tua yang memainkan biola dengan indah di pelataran atas Sacre-Coeur dan saya lebih suka menikmati permainan lelaki tua ini daripada jalan mengelilingi Sacre-Coeur.  
 

Hujan mulai turun ketika kami menuruni bukit dan melewati penjual souvenir yang berjajar di bawah bukit.  Kami memutuskan masuk ke sebuah tempat makan halal yang ada di seberang jalan. Meskipun setiap berjalan harus sangat waspada pada kemungkinan copet supercanggih yang mengintai dompet kami, tetapi hal yang menyenangkan di sekitar Gare Du Nord adalah banyak makanan halal. Karena hujan tak kunjung berhenti, kami kembali ke hostel untuk tidur siang. Ini adalah penjelajahan paling malas yang pernah terjadi dalam misi kami! Bukan apa-apa sih, lebih karena hujan dan kami agak takut dengan suasana Paris.
 

Baru sekitar pukul 2 sore kami kembali keluar hostel. Entah kenapa setiap memasuki stasiun sudah horor saja bawaannya. Apalagi untuk membeli tiket harus menggunakan credit card sehingga kami tidak bisa memperkecil kemungkinan kena scam. Dan benar saja, credit card saya kena scam (digandakan scammer setelah saya masukkan mesin untuk membeli tiket metro). Untung pihak bank segera menghubungi saya dan secepatnya credit card saya di block.  Duh, Paris, dimana cinta itu? Dan, saya mulai mengeluh.

Setelah muter-muter nyasar dan saku jaket temen saya digerayangi copet di metro sampailah kami di stasiun tujuan. Tidak ada barang hilang tetapi seorang ibu baik hati mengejar teman saya dan mengingatkan agar tidak menyimpan sesuatu di saku jaket. Banyak orang baik di mana saja, bahkan munculnya seringkali tidak bisa kita duga.

Begitu keluar stasiun, mata saya disergap bangunan-bangunan tua yang sangat artistik dan memancarkan aura seni. Sejauh mata memandang, bangunan-bangunan itu seperti kehidupan dari masa lampau yang tak pernah bergerak ke masa modern. Saya lebih suka menyebut Paris sebagai kota seni daripada kota cinta, karena setiap sudutnya memancarkan aura dan aroma seni.  Kami menyusuri sepanjang sisi jalan hingga sampai di menara Eiffel. 

Menara Eiffel seperti dugaan saya, sudah pasti ramai pengunjung dari berbagai negara. Saya sebenarnya tidak terlalu excited dengan menara Eiffel karena dalam kepala saya hanya besi yang didirikan membelah kota. Dan sampai hari ini juga tidak paham kenapa orang-orang selalu membuat definisi yang berkaitan dengan cinta di depan menara besi ini. Tetapi well, sudah sampai Paris, maka saya harus mengabadikannya dalam kamera. Siapa tahu sampai akhir hayat saya tidak bisa mengunjungi Paris. Jadi tidak ada salahnya saya mengunjungi menara Eiffel meskipun saya tidak tersentuh dengan berbagai cerita cinta di depan menara besi ini. Hanya sekitar 30 menit di tempat itu, saya kemudian melanjutkan perjalanan ke Museum Lovre dan Arc de Triomphe.  (bersambung ke tulisan ke -2 )

Mengunjungi Kantor PBB Di Geneva, Swiss


“I truly believe the only way we can create global peace is through not only educating our minds, but our hearts and our souls.” – Malala Yousafzai

Tepat pukul 2 sore, kereta yang saya tumpangi selama 7 jam dari Gare De Lyon, Paris tiba di stasiun Geneva, Swiss.  Pemandangan alam yang menakjubkan di luar jendela kereta sepanjang perjalanan membuat kepenatan saya menguap berganti semangat menjelajahi kota baru. Ini negara ke tiga yang saya kunjungi dalam perjalanan saya keliling Eropa setelah Inggris dan Perancis.  Selesai melewati pemeriksaan di pintu keluar, kami tiba di lobby stasiun.  Bingung menentukan arah menuju hostel, kami keluar stasiun dan berjalan menuju jalan besar. Ternyata salah, kami nyasar! Seorang wanita lokal menunjukkan arah kemana kami harus berjalan menuju hostel. Ternyata jalan itu ada di seberang stasiun. Terpaksa kami masuk lagi ke stasiun dan mengambil jalan sebaliknya.
 

Setelah menyeret koper sekitar 2 kilometer, sampailah kami di hostel. Terletak di depan salah satu kantor polisi, Hostel Geneva tampak tua dan halamannya kotor. Tapi ketika kami memasukinya, bayangan horor di benak saya segera menguap. Bagian dalam hostel memiliki desain modern dan warna-warni yang cukup menarik. Kami memilihnya karena ini satu-satunya hostel paling murah yang sesuai bujet kantong kami. Kamar kami terletak di lantai 4 tanpa lift.  Kami menggotong koper dan ngos-ngosan masuk ke dalam kamar. Ada 12 bed khusus female di kamar itu dan kami langsung merebahkan tubuh untuk istirahat sejenak. Satu orang cewek Tiongkok sudah berada di dalam kamar, tidur mendengkur.

Jika kita tinggal di Hostel, kita akan mendapat kartu transportasi gratis untuk naik berbagai moda transportasi di Geneva. Ini sangat menguntungkan karena One Day Pass untuk transportasi saja harganya sekitar 26 CHF atau sekitar Rp. 350.000.  Menjelang sore kami kelaparan dan mencari tempat makan halal. Agak susah menemukannya, tetapi di seberang jalan ada restoran Turki dan kami masuk ke sana. Dengan harga sepiring makanan sekitar Rp. 400.000, kami hanya memesan satu piring dan memakannya bersama-sama. Selebihnya untuk mengganjal perut kami membeli pisang dan kue-kue yang lebih murah di supermarket.  Swiss memang terkenal mahal dan bagi kami baru memasuki negara ini beberapa jam sudah langsung jatuh miskin.

THE GENEVA WATER FOUNTAIN & OLD TOWN

Tujuan utama kami ke Geneva sebenarnya untuk mengunjungi kantor PBB, tetapi karena sudah terlalu sore kami memutuskan untuk menyusuri tepi Danau Geneva. Di danau ini ada The Geneva Water Fountain atau Jet d’eau de Geneve.  Air mancur dengan kecepatan 200 km/jam ini sangat terkenal dan menjadi salah satu tujuan wisawatan. Pada hari Senin- Kamis dibuka pada jam 10 pagi sampai matahari terbenam. Sementara pada Sabtu- Minggu dibuka pda jam 10 pagi sampi 10.30 malam.  Banyak orang berjalan menyusuri sepanjang sisi danau, jogging atau duduk bersantai di depan danau. Di ujung Danau tampak kerumunan orang-orang berpesta minuman sepulang kerja. Saya meluangkan waktu sejenak duduk menikmati suasana di tepi danau sambil memandangi bebek-bebek liar yang berenang. 

Menjelang matahari terbenam kami berjalan menuju kota tua. Sebenarnya kaki sudah gempor, tetapi karena rasa ingin tahu yang besar kami terus menyusuri jalan sepanjang sisi kota. Tampak bangunan-bangunan tua yang megah berdiri gagah dan masih terawat dengan baik.  Orang-orang bercengkerama di kafe-kafe tetapi sebagian toko sudah mulai tutup. Jam menunjukkan pukul 8 malam ketika kami tersesat diantara bangunan tua untuk mencari makan malam. Meskipun langit masih terang, suasananya seperti di Indonesia tengah malam. Bahkan ketika kami menemukan Mc Donald dan memutuskan makan disana, suasana benar-benar telah sepi. Tepat pukul 9 malam kami kembali ke hotel menggunakan tram.

THE PALAIS DES NATIONS

Banyak organisasi internasional yang berkantor di Geneva, salah satunya PBB. Sebagai markas besar kedua setelah markas besar di New York yang mengurusi bidang politik dan pertahanan, kantor PBB di Geneva mengurusi bidang sosial dan kemanusiaan. Untuk sampai Palais Des Nations kami naik tram sekali dari hostel. Orang lokal Geneva sangat ramah dan murah senyum. Ketika saya ngantuk dan tertidur di tram, seorang ibu membangunkan saya dan mengatakan bahwa tram telah sampai tujuan terakhir di halte Nations. Turun dari tram saya melihat monumen Broken Chair atau kursi patah di areal luas di seberang pintu masuk kantor PBB. Monumen kursi patah itu sebagai simbol perlawanan terhadap penggunakan ranjau darat pada masa Perang Dunia I dan II yang memakan banyak korban.  Tepat di halaman depan tampak bendera-bendera negara anggota PBB, salah satunya Indonesia. Tetapi pintu masuk pengunjung ternyata bukan melalui pintu depan ini, sehingga kami harus berjalan melingkar untuk menemukan pintu masuk lainnya sekitar 500 meter dari pintu depan.

Untuk masuk ke dalam gedung PBB, kami harus mengikuti tour resmi yang diselenggarakan UN dengan membeli tiket seharga 12 CHF atau sekitar Rp. 160.000.  Hanya ada dua tour setiap hari yaitu jam 10 -12 siang dan jam 14 – 16 sore. Kami menunggu jadwal pembelian tiket jam 14 dibuka dengan duduk lesehan di depan gedung. Banyak remaja-remaja tour group dari berbagai negara menunggu antrian. Dan tepat pukul 2 sore pintu dibuka dan kami masuk satu persatu. Setelah pemeriksaan keamanan, passport dan pembelian tiket di bagian depan, kami mendapatkan name tag yang tertulis nama kami dan diantar guide menuju gedung yang lain. Di lobby gedung ini kami menunggu lagi peserta lain berkumpul untuk kemudian dipandu seorang guide yang akan mengantar kami berkeliling.

Setelah menjelaskan sepintas sejarah gedung PBB di Geneva, guide yang humoris itu membawa kami memasuki ruangan demi ruangan.  Ruangan pertama adalah salah satu ruang konferensi dari 34 ruangan lain yang serupa di dalam gedung ini. Ruangan ini berkapasitas hingga 700 orang yang dilengkapi berbagai fasilitas konferensi kelas dunia. Mereka juga menyediakan terjemahan audio maupun visual ke dalam berbagai bahasa. 
Ruangan kedua yang kami kunjungi adalah Assembly Hall yang terletak di gedung A lantai 3.  Ruangan ini salah satu ruangan tertua yang menampung hampir 2000 peserta konferensi.  Ruangan ini merupakan ruangan penting dan mengadakan pertemuan di bulan September sampai Desember untuk membahas anggaran PBB, membentuk beberapa anak organisasi PBB dan memilih anggota tidak permanen Dewan Keamanan.

Ruangan ketiga yang kami kunjungi adalah The Human Right and Alliance of Civilizations Room yang digunakan oleh United Nations Human Rights Council. Ruangan ini sangat menarik karena memiliki langit-langit yang dilukis yang merupakan karya seni kontemporer seorang perupa Spanyol Miquel Barcelo. Lukisan warna-warni ini menggambarkan keanekaragaman budaya di dunia yang meskipun berbeda tetap menyuarakan keseteraan hak asasi manusia di seluruh dunia.

Tidak banyak ruangan yang bisa kami masuki karena sebagain besar ruangan itu sedang dipergunakan untuk konferensi.   
Sebelum mengakhiri tour, saya menyempatkan diri membeli kartu pos UN yang ada di lobby gedung dan melihat-lihat souvenir UN yang harganya mahal sehingga saya memutuskan tidak membeli satupun.  Hari menjelang sore saat kami menyusuri taman depan UN dan meninggalkan areal Palais Des Nations. Tampak di seberang jalan markas Palang Merah Internasional berdiri gagah. 
 

Geneva memang kota yang mahal, namun juga sangat menarik. Selain di sana menjadi markas besar berbagai organisasi dunia, penduduk lokal juga ramah dan penolong. Ketika meninggalkan Geneva pada pagi harinya untuk melanjutkan perjalanan ke Austria, saya mengingat peristiwa akbar pada masa lalu. Presiden pertama kita, Ir. Soekarno pernah memutuskan pergi dari organisasi supremasi dunia PBB ini. Presiden Soekarno bersama Presiden India (Jawaharlal Nehru), Presiden Mesir (Gamal Abdel Nasser), Presiden Pakistan (Mohammad Ali Jinnah), Birma (U Nu) dan Presiden Yogoslavia ( Josip Broz Tito) mengadakan Konferensi Asia Afrika yang menghasilkan Gerakan Non Blok. Gerakan ini membuat negara-negara Asia Afrika memperoleh kemerdekaan hingga menjadi anggota PBB.  Saat ini masih banyak tragedi kemanusiaan di luar sana yang belum terselesaikan dan membuat hati kita teriris setiap membaca berita.
Semoga kemegahan gedung PBB yang saya lihat tidak hanya berdiri angkuh tetapi juga mampu menyelesaikan setiap konflik, mencegah terjadinya perang dan bisa menjalankan fungsinya secara adil sehingga benar-benar mampu mewujudkan perdamaian dunia.

 

Edinburgh Skotlandia : Kota Eksotis Para Penemu


“Jadilah seorang filsuf. Tapi, diantara semua filosofimu, tetaplah menjadi manusia.” – David Hume (filsuf Skotlandia, salah satu figur penting dalam filosofi barat dan Pencerahan Skotlandia)

Pagi berkabut ketika saya keluar dari terminal bus Edinburgh dan berjalan menuju Princess street. Perjalanan 8 jam menggunakan bus dari Victoria stasiun London ke Edinburgh terasa sangat melelahkan untuk tubuh tropis saya yang harus berjuang melawan hipotermia.  Suhu menunjukkan angka 9 derajat celsius dan angin dingin menampar-nampar tubuh saya yang terus menggigil. Sembari merapatkan jaket, saya menyeret kaki dan koper menyusuri sisi jalan yang masih sepi.  Tram sudah beroperasi dan beberapa warga lokal sudah mulai beraktivitas. Bahkan ada yang jogging di udara sedingin ini.  Entah terbuat dari apa kulit tubuh mereka sehingga tahan dingin.

Memandangi kota sambil menyusuri trotoar, saya seperti memasuki negeri dongeng dalam film-film Disney atau buku-buku klasik. Sejauh mata memandang tampak bangunan-bangunan masa lampau yang masih berdiri megah dan luar biasa eksotis. Seketika penderitaan saya karena dingin menghilang, berganti kegembiraan yang meluap. Ini kota yang sejak kecil saya impikan untuk saya kunjungi. Dan, Tuhan memberikan jalan pada impian saya. Di kejauhan kastil Edinburgh menyembul penuh pesona dari atas bukit seolah melambaikan tangan agar saya segera mengunjunginya. Tetapi  saya harus ke hotel lebih dulu untuk menghangatkan badan dan mengisi energi sebelum menjelajah Edinburgh.

Saya menginap tepat di jantung kota tua Edinburgh. Di salah satu hostel murah yang menyediakan kamar dormitori berisi delapan tempat tidur dalam satu kamar. Memasuki pintu Hight street hostel yang terletak di salah satu bangunan kuno, saya seperti memasuki masa lampau. Ruangan kamarnya yang luas tampak normal dan modern, tetapi dekorasinya klasik dan sangat Skotlandia. 

Buku-buku kuno yang sudah menguning tergeletak di rak samping ruang tunggu, sebuah patung masa lalu duduk di jendela seolah mengamati kami yang datang dari belahan dunia yang jauh.Seorang resepsionis tampan menerima kami dengan ramah dan mempersilakan kami istirahat sambil menunggu jam check in. Hostel ini juga menyediakan dapur yang bisa kita pakai untuk memasak secara bebas. Gula pasir, kopi dan teh disediakan gratis. Lalu mulailah kami memasak menu andalan yaitu mie instant.  Untuk orang Indonesia (khususnya saya) yang melakukan perjalanan ke Britania Raya dengan cara ngirit, mie instant cukup (harus cukup) untuk mengisi energi sebelum penjelajahan karena makan besar hanya akan terjadi sekali dalam sehari sesuai rincian bujet yang minim.

Usai membersihkan badan dan sarapan mie instant, saya memulai penjelajahan. Royal Mile adalah tempat pertama yang kami lewati. Lokasi ini panjangnya satu mil dan merupakan jalan raya utama di kota tua Edinburgh yang banyak dikunjungi turis. Saya menemukan beberapa patung pesohor yang menjadi figur penting pada masa pencerahan Skotlandia. Di kiri-kanan jalan, banyak pertokoan, hotel, museum, restoran, kafe bahkan tempat pembuatan rok (baju tradisional Skotlandia).  Menurut seorang teman, di Royal Mile juga sering ada atraksi seni yang menarik, tetapi sayangnya saya tidak menemukannya siang itu.   
Saya malah berbelok ke Royal Mile market, satu pasar kecil yang menjual berbagai macam suvenir khas Skotlandia. Di pasar ini juga kami menemukan pusat informasi dan peta petunjuk untuk menjelajahi kota tua Edinburgh. “Jangan kuatir, semua lokasi wisata di kota tua Edinburgh bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Semuanya cantik, anda tak akan kecewa,” kata petugas informasi sambil menunjuk peta.  Tapi saya tidak yakin dengan kaki Indonesia saya dalam suhu 9 derajat sementara kaki Skotlandia dia bisa jogging di pagi hari yang beku.  Tetapi layak untuk dicoba. Sebagai penulis, tujuan saya yang pertama adalah  Writer’s Museum.
Edinburgh Skotlandia pada abad keemasannya melahirkan banyak figur-figur penting yang berpengaruh di dunia.  Seperti diantaranya David Hume ; seorang filsup, ekonom dan sejarawan. Adam Smith ; Bapak Kapitalisme yang menjadi pelopor ilmu ekonomi modern. James Watt ; penemu dan pengembang mesin uap yang menjadi dasar tercetusnya Revolusi industri.
   

Tak hanya itu, kota eksotis ini juga melahirkan penulis-penulis hebat seperti : Walter Scott, Robert Louis Stevenson, Arthur Conan Doyle dengan Sherlock Holmes-nya dan penulis generasi baru seperti Ian Rankin. Bahkan meski tidak terlahir di Skotlandia, JK Rowling menuliskan karya fenomenalnya Harry Potter di kafe-kafe Edinburgh. 

Setelah menyeberang jalan dan memasuki gang sempit sampailah saya di gedung Lady Stairs. Writer’s Museum menempati gedung Lady Stair dan merupakan museum tiga penulis Skotlandia yaitu Robert Burns, Sir Walter Scoot dan Robert Louis Stevenson. Tetapi sayangnya ketika saya berkunjung museum itu sedang tutup dan baru akan buka lagi pada bulan Oktober.  Maka untuk sedikit merasakan energi kreatif para penulis hebat itu saya hanya bisa berdiri di depan pintu tertutup Writer’s Museum sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat lain.

Matahari bersinar cerah, tetapi udara dingin yang menggigit membuat saya semakin menggigil. Saya memutuskan masuk ke Museum Nasional Skotlandia untuk menghangatkan badan sekaligus melihat koleksi di dalamnya. Penemuan-penemuan pada masa abad keemasan Edinburgh terpajang di museum ini. Lokasi museum ini sangat luas sehingga butuh waktu lama untuk mengelilinginya dan saya sudah kelaparan. 

Sebelum jam makan siang tiba, saya sudah keluar dari museum dan melewati belokan jalan dengan patung Greyfriars Bobby. Seperti kisah Hachiko di Jepang, Bobby adalah anjing milik seorang polisi bernama John Gray.  Saat John Gray meninggal dimakamkan di Greyfriars Kirk.  Sejak kepergian tuannya itulah, Bobby duduk menunggui makam tuannya hingga anjing ini meninggal. 

Menyeberang jalan dari patung Greyfriars Bobby, saya terdampar di tempat makan Nando’s karena sudah kelaparan. Sebelum mencicipi kopi di The Elephant House tempat JK. Rowling melahirkan Harry Potter, saya ingin makan kentang dan ayam di Nando’s. 

Menjelang sore, saya mendaki Calton Hill untuk melihat Edinburgh dari ketinggian.  Calton Hill terletak di tengah kota Edinburgh tidak jauh dari tempat kami menginap. Tidak hanya pemandangannya yang sangat indah dari ketinggian, di bukit Calton ini juga terdapat beberapa tempat bersejarah yang bisa dikunjungi seperti Monumen Nelson, yang berbentuk seperti teleskop terbalik dan Monumen Nasional untuk memperingati prajurit Skotlandia yang meninggal di Perang Napoleon.  

Dari atas bukit ini terlihat jelas kontur alam Edinburgh yang berbukit-bukit dan bangunan-bangunan kuno yang mencuat indah. Andai saja memiliki banyak waktu, saya ingin duduk lebih lama di atas bukit ini sambil menikmati sapuan angin dingin dan memandang kejauhan. Tapi saya bukan orang Skotlandia yang bisa jogging di pagi hari yang beku, maka saya memutuskan kembali ke hostel sebelum terkena hipotermia.

Lampu-lampu mulai menyala saat saya berjalan kembali ke hostel. Pemandangan kota menjadi kian eksotis dan magis. Saya sampai beberapa kali berhenti dan menghela napas dalam.  Takjub melihat pendar lampu menerpa bangunan-bangunan kuno itu sambil membayangkan para pesohor yang mengubah dunia itu berjalan di sini pada masanya sambil memikirkan temuan-temuannya yang rumit. 

Eksotisme Edinburgh bukan hanya berpendar dari penampakan luarnya yang cantik tapi juga kegeniusan otak penghuni kotanya. Malam menjadi luar biasa dingin ketika saya menyeberang jalan menuju hostel.  Saya berjanji untuk kembali suatu hari nanti. ***

Menyusuri 5 Sungai Romantis Di Eropa


“Be still like a mountain and flow like a great river” – Lao Tzu

Hidup di Jakarta belasan tahun, membuat saya terbiasa memunggungi sungai yang mengalir di tengah kota.  Sampah yang menggunung memenuhi sungai, rupa air yang menghitam dan aroma tak sedap membuat siapapun enggan berdekatan dengan sungai. Meskipun tahun-tahun terakhir kepedulian atas perbaikan sungai di Jakarta meningkat namun butuh kerja keras dan waktu yang lama untuk bisa menghadapkan kembali wajah kita ke sungai. Tetapi itu di Jakarta yang sungainya telah rusak oleh arogansi manusia. Berbeda dengan sungai-sungai di negara maju yang justru menjadi lokasi wisata, tempat warga melepas penat bahkan menjadi peninggalan bersejarah. Ketika saya mengunjungi beberapa negara di Eropa, saya memiliki kesempatan menyusuri 5 sungai romantis yang membelah kota-kota itu dan menjadi tempat wisata yang romantis.
1.     SUNGAI SEINE PARIS
Setelah berjalan kaki menyusuri kota Paris yang cantik seharian, menjelang senja saya memutuskan untuk turun ke tepi sungai Seine.  Sungai ini membelah kota Paris bagian utara dan selatan.  Tidak hanya sebagai jalur lalu lintas komersial, sungai ini juga menjadi tujuan wisata yang sangat menarik.  Sungai Seine juga menjadi ikon kota Paris selain menara Eiffel.  Sungai sepanjang 776 kilometer ini memiliki puluhan jembatan yang bertengger di atasnya menghubungkan Paris bagian utara dan selatan. 
Saya berjalan kaki menyusuri tepi sungai Seine dan bertemu banyak orang yang duduk menikmati pemandangan sambil bercengkerama. Wisata menyusuri sungai ini bisa menggunakan cruise yang akan melewati hampir semua ikon-ikon wisata di Paris seperti menara Eiffel, gereja Notredame, Jardin Tino Rossi dan museum terbuka Musee de la Sculpture en Plein Air.  Ada bermacam operator cruise di Paris seperti Batobos, Bateux Parisiens dan Vandettes du Pont Neuf.  Masing-masing bisa dipilih sesuai waktu yang kita miliki dan kemampuan kantong. Ada tur biasa hanya keliling melihat wisata melalui sungai Seine, tur makan malam hingga tur private. Saya memilih tur biasa menggunakan Vandettes du Pont Neuf dengan harga 14 Euro atau sekitar Rp. 200.000.  Tiket bisa dibeli langsung di dermaga atau online. Saya membeli langsung di dermaga. 
Tepat menjelang matahari terbenam cruise memulai perjalanan menyusuri sungai Seine. Saya memilih duduk di bagian atas kapal yang terbuka agar lebih leluasa mengambil foto. Seorang wanita Asia berambut panjang yang cantik memandu perjalanan kami.  Sepanjang perjalanan menyusuri sungai, saya melihat banyak orang duduk-duduk di tepi sungai atau berjalan menyusuri sepanjang sungai. Mereka menikmati senja dan menunggu malam tiba.  Matahari bersinar keemasan ketika kami berada di kawasan menara Eiffel. Udara musim semi terasa dingin di tubuh tropis saya sehingga saya perlu merapatkan jaket. Jika anda ingin menyusuri sungai Seine ketika berlibur ke Paris pada musim semi, saya sarankan waktu sunset karena romantisnya kota Paris dan sungai Seine akan berpadu menciptakan keindahannya.
2.    SUNGAI THAMES INGGRIS
Sungai Thames membelah kota Inggris dan mengalir di sepanjang selatan Inggris menuju laut.  Mengalir sepanjang 346 kilometer, sungai pendek ini berfungsi sebagai penyedia protein ikan bagi penduduk sekitar dan sebagai pensuplai air serta menjadi sarana transportasi. 
Tetapi sebelum menjadi sungai paling bersih di dunia, menurut data pada tahun 1957, sungai ini pernah disebutkan sebagai sungai mati karena limbah sampah dan kotoran manusia. Sungai menjadi polusi dan kadar oksigennya sangat rendah. Kemudian pemerintah Inggris bekerja keras untuk mengatasi masalah polusi di sungai Thames. Berbagai proyek konservasi dan perbaikan sitem dilakukan. Pada tahun 1970 semua kerja keras itu menampakkan hasilnya hingga saat ini sungai Thames menjadi sungai bersih yang menjadi lokasi wisata turis dari berbagai belahan dunia.
Seperti di Paris, kita juga bisa menyusuri sungai Thames menggunakan cruise.  Saya tidak sempat mencobanya, tetapi menurut informasi yang saya terima ada beberapa operator cruise yang bisa dipilih dengan harga mulai dari 15 poundsterling atau sekitar Rp. 270.000.  Di sepanjang sungai ini juga terdapat wisata terkenal seperti Big Ben, London Eye, House of Parliament, Games of The XXX Olympiade dan Shakespeare’s Globe.  Selain menyusuri sungai Thames menggunakan cruise, kita juga bisa menikmati pemandangan sepanjang sungai dengan duduk di kafe-kafe sepanjang tepi sungai sambil menikmati suasana romantis. 
3.     SUNGAI DANUBE BUDAPEST
Sungai Danube merupakan sungai panjang yang bersumber dari Jerman hingga Laut Hitam di Rumania.  Ada 10 negara yang dilewati sungai ini mulai dari Austria, Bulgaria, Kroasia, Jerman, Hungaria, Moldavia, Slowakia, Rumania, Ukraina dan Serbia. Saya menikmati tepian sungai ini di kota Budapest, Hungaria. 
Sungai Danube membagi Budapest menjadi dua bagian yaitu kota Buda dan kota Pest.  Kota Pest terletak di dataran sebelah timur, merupakan pusat kota yang memiliki banyak pusat perbelanjaan dan kafe-kafe sementara kota Buda terletak di sebelah barat dengan kontur berbukit-bukit. Keduanya dihubungkan oleh 9 jembatan, salah satunya jembatan Chain yang terkenal dan menjadi tujuan wisata. Saya menikmati tepian sungai Danube pada sore hari tepat saat matahari hendak tenggelam. 
Seperti di sungai negara Eropa lain yang menjadi tempat wisata, ada beberapa operator cruise yang melayani wisatawan untuk menyusuri sepanjang sungai Danube.  Tetapi saya lebih memilih menikmati tepian sungai Danube dengan berjalan kaki.  Banyak lokasi wisata terkenal Budapest yang bisa kita nikmati di sepanjang tepian sungai Danube seperti gedung Parlemen Budapest, memorial sepatu besi, kastil Buda yang bersinar ditimpa cahaya lampu dari kejauhan, serta jembatan Chain.  Jam menunjukkan pukul 10 malam saat saya meneruskan perjalanan menyusuri tepian sungai Danube. Masih banyak orang-orang duduk di pinggiran sungai sambil ngobrol dan menikmati suasana malam. Tepian sungai ini tak kalah romantis dengan sungai Thames dan Seine.
4.     SUNGAI VITAVA PRAHA
Praha tak hanya terkenal sebagai kota tua yang cantik dan eksotis, tetapi juga memiliki sungai panjang yang diatasnya bertengger 18 jembatan, salah satunya adalah jembatan Charles yang sangat terkenal.  Saya menikmati sungai Vitava dari atas jembatan Charles hingga turun ke sisi jembatan untuk mencelupkan kaki sambil menggoda bebek-bebek yang berenang. 
Banyak tempat wisata yang bisa kita nikmati sambil menyusuri sungai Vitava seperti Kastil Praha, Charles Bridge, Vysehard dan Dancing House menggunakan kapal Cruise. Seperti di negara lain, ada berbagai operator cruise yang bisa dipilih sesuai kemampuan kantong kita dan waktu yang kita miliki.  Saya tidak menyusuri sungai Vitava menggunakan cruise tapi hanya berjalan sebentar di sepanjang tepian sungai.   
Matahari musim semi terasa menyengat saat saya kembali naik ke atas jembatan meninggalkan orang-orang yang duduk bersama orang-orang yang dicintainya sambil memandangi lanskap kota yang indah di kejauhan.
5.    KANAL-KANAL DI KOTA AMSTERDAM BELANDA
Mengunjungi Amsterdam tanpa menikmati kanal-kanalnya akan terasa hambar. Begitu kata seorang sahabat saya. Kanal-kanal itu memang telah menjadi simbol kota bahkan memiliki nilai sejarah yang tinggi yang juga merupakan salah satu daftar warisan dunia Unesco. Saat saya mengunjungi Amsterdam, sebenarnya tidak memiliki banyak waktu untuk menyusuri kanal-kanalnya, tetapi karena terjebak di tengah kota Amsterdam akibat suporter bola yang memenuhi kota, saya terpaksa menyusuri sepanjang sisi kanal untuk mencari jalan pulang. 
Setiap kanal memiliki keindahan dan keunikannya sendiri. Beberapa kanal yang terkenal dan banyak dikunjungi wisawatan diantaranya adalah kanal yang menyajikan sudut pemandangan menarik berupa 15 jembatan. Untuk melihatnya kita harus berdiri di sisi jalan yang bernomor ganjil.  Lalu Golden Bend yang memiliki pemandangan bangunan-bangunan megah di Amsterdam.   
Saya suka menikmati kanal-kanal ini dengan berdiri di atas jembatan sambil melihat para wisatawan berperahu sepanjang kanal. Di atas jembatan juga banyak sepeda terparkir dan bunga-bunga dalam pot yang menambah romantisnya pemandangan. 
Menikmati sungai-sungai di negara maju membuat saya memiliki harapan besar.  Sebelum umur saya habis, semoga Jakarta juga memiliki sungai-sungai yang menjadi tempat menarik untuk berwisata dan melepas penat sebelum matahari terbenam.   ***


Vienna : Dari Jejak Film Before Sunrise Sampai Rumah Mozart


“You can never replace anyone because everyone is made up of such beautiful specific details.”  Celine – Before Sunrise”


Jika anda penggemar  film BEFORE SUNRISE produksi tahun 1995 oleh Richard Linklater, anda pasti terkenang romantisnya kota Vienna, Austria. Dalam film itu dikisahkan Jesse dan Celine berkenalan di kereta dalam perjalanan mereka dari Budapest. Jesse kemudian meminta Celine untuk menemaninya sehari saja keliling Vienna sebelum esok harinya ia kembali ke Amerika. Akhirnya Celine-pun setuju menemani Jesse menghabiskan waktu sehari semalam di Vienna.  Film yang diperankan Ethan Hawk dan Julie Delpy ini menjadi salah satu road movie yang sangat menarik karena dialog-dialognya yang kuat dan setting lokasinya yang indah. Meskipun saya tidak bersama Ethan Hawk menyusuri Vienna, tetapi saya senang melihat sedikit jejak-jejak romantis film Before Sunrise di sana.
 
Setelah penerbangan satu jam dari Geneva, saya tiba di Vienna jam 2 sore. Saya berencana menginap dua malam di Vienna tetapi kenyataannya saya hanya bisa menikmati Vienna sehari semalam persis seperti Jesse dan Celine dalam film Before Sunrise karena hari pertama saya datang terlalu capek untuk menjelajah Vienna dan saya memutuskan tidur di penginapan.  Dari bandara Vienna, kami naik metro dan turun di stasiun Kliebergasse. 
 Saya menginap di rumah warga lokal Vienna yang saya pesan melalui situs online. Sebenarnya saya hanya menyewa satu kamar, tetapi pemiliknya sedang traveling sehingga kami boleh memakai keseluruhan rumah.  Dan mulailah penjelajahan saya di Vienna dimulai dari rumah warga lokal yang saya tempati. Pemiliknya bernama Aurora, seorang ibu yang memiliki satu putri sekitar 10 tahun. Aurora memiliki usaha katering dan apartemennya berada agak jauh dari pusat kota.  Dari jendela dapur apartemen Aurora saya bisa melihat senja keemasan menyelimuti kota Vienna. 
 
Esok harinya, saya baru keluar untuk menjelajahi kota Vienna. Dengan naik metro sekali dari stasiun Kliebergasse sampailah kami di kawasan kota tua Dom. Vienna sangat cantik dan artistik.  Tak hanya dikenal sebagai kota musik, Vienna atau Wina, Austria ini juga dikenal dengan beragam museum dan istana yang masih berdiri megah hingga saat ini.  Tidak banyak lokasi wisata yang ingin saya kunjungi di Vienna karena waktunya sangat singkat, maka saya memutuskan untuk menyusuri jalan dan mampir di lokasi wisata yang kebetulan satu arah kemana saya berjalan.  Tempat pertama yang saya lewati adalah Sthepans Dom.

Sthepans Dom atau Katedral St. Stephan merupakan gereja bergaya Gothik yang berada di pusat kota Vienna.  Gereja ini memiliki genting yang warna-warni dan menara yang cantik. Dikontruksikan selama 65 tahun dari 1368-1433, gereja tua ini menjadi saksi sejarah di Vienna. Sayangnya beberapa bagian luar sedang direnovasi ketika saya ada di sana, sehingga sedikit semrawut. Banyak wisatawan masuk ke dalam gereja, namun saya memilih jalan memutar ke belakang gereja dan menemukan jalan menuju Mozarthaus.

Memasuki jalan sempit Domgasse tidak ada bangunan yang terlihat istimewa.  Semua bangunan tampak mirip, hanya ada satu pintu dengan papan nama Mozarthaus Vienna. Tempat ini merupakan bekas apartemen yang dijadikan tempat tinggal Wolfgang Amadeus Mozart tahun 1784-1787. Apartemen ini memiliki enam lantai, tetapi Mozart menempati lantai satu. Di rumah ini pula, Mozart menulis opera terkenal “Marriage of Figaro” sehingga apartemen ini juga sering disebut sebagai Figarohaus atau rumah Figaro.  Komponis agung ini meninggalkan jejak yang masih terus dicari dari generasi ke generasi  hingga tigaratus tahun lebih setelah meninggalnya. 
Setelah mengunjungi Mozarthaus, saya melanjutkan perjalanan menyusuri gang-gang sempit tapi artistik mencari Kleines Cafe yang menjadi salah satu lokasi film Before Sunrise. Terletak di Franziskanerplatz, cafe ini kecil dan sederhana. Ruangan dalam hanya ada 4 meja dan selebihnya meja bar. Sementara di tenda luar tampak lebih banyak meja. Begitu memasuki kafe, seorang lelaki tua yang ramah memakai celemek, menyambut kami dan mempersilakan kami memilih meja di dalam. Kami mencoba secangkir kopi dan kue yang lumayan enak.  Hampir satu jam kami duduk di Kleines Cafe menikmati kopi dan melihat pengunjung cafe berganti-ganti. 
Hari menjelang sore ketika kami meninggalkan Kleines Cafe menuju Karntner Strasse, satu pusat perbelanjaan yang menjadi tempat para turis berbelanja oleh-oleh dan mencicipi coklat khas Vienna. Tidak banyak yang bisa saya lihat di Vienna dan saya juga tidak seperti Celine yang menemukan Jesse. Tetapi saya bersyukur bisa sampai di ibukota musik dunia yang cantik ini.

Memandang Budapest Dari Tepi Sungai Danube

“Wherever you go, go with all your heart…”

Kalau Anda pernah menonton film The Grand Budapest Hotel, Anda tentu mengenal Budapest yang merupakan ibukota Hungaria ini. Terletak di Eropa Tengah, negara ini berbatasan dengan Austria di sebelah barat, Ukraina dan Rumania di timur, serta Serbia dan Croatia di sebelah selatan. Kota cantik yang merupakan pintu masuk menuju Eropa Timur ini, memiliki sejumlah situs warisan dunia Unesco yang menjadi daya tarik wisatawan dari seluruh penjuru dunia.  
Sungai Danube membagi Budapest menjadi dua bagian yaitu kota Buda dan kota Pest.  Kota Pest terletak di dataran sebelah timur, merupakan pusat kota yang memiliki banyak pusat perbelanjaan dan kafe-kafe sementara kota Buda terletak di sebelah barat dengan kontur berbukit-bukit. Keduanya dihubungkan oleh 9 jembatan, salah satunya jembatan Chain yang terkenal dan menjadi tujuan wisata.
Sungai Danube
Meskipun sudah berkembang menjadi kota metropolis, Budapest masih mempertahankan peninggalan-peninggalan bersejarah yang mereka miliki dan merawatnya dengan baik. Bangunan-bangunan kuno, museum, dan memorial membuat Budapest sangat menarik menjadi tujuan wisata. Lokasi-lokasi wisata di Budapest sebagian besar bisa kita jangkau dengan berjalan kaki. Tetapi jika ingin lebih cepat kita bisa menggunakan tram atau bus dengan membeli paket tiket sesuai lama kita tinggal di Budapest melalui mesin-mesin tiket yang ada di halte. Tiket ini bisa kita gunakan untuk naik berbagai moda transportasi di Budapest kecuali taksi. Saya membeli paket dua hari dan mulai menjelajah Budapest pada senja hari.
GEDUNG PARLEMEN BUDAPEST
Gedung Parlemen
 Gedung yang dibangun selama 100 tahun dari tahun 1880 sampai 1902 ini terletak di tepi sungai Danube dengan bagian depan menghadap tepat ke sungai Danube di kota Pest. Gedung parlemen Budapest merupakan gedung tertua dan tertinggi di kota Budapest sekaligus gedung terbesar kedua di Eropa setelah House of Parliament di London. Di gedung ini juga tersimpan mahkota suci milik raja-raja Hungaria. 
Sunset di Gedung Parlemen
  Saya mengunjungi areal gedung ini pada waktu senja, saat lampu gedung mulai menyala dan langit di sisi barat kemerahan hendak tenggelam. Kecantikan gedung ini berpendar ditimpa cahaya lampu sekaligus misterius karena sebagian sisi yang lain gelap ditinggalkan cahaya matahari. Bahkan siluet pengendara kuda yang menjulang tinggi di depan gedung parlemen seolah hidup dan berdiri tegak menjaga parlemen dari bahaya yang datang.  Jika ingin menikmati eksotisme gedung ini dari sisi luar, maka saya sarankan anda mengunjunginya pada waktu senja. Percayalah, anda tidak akan kecewa.
MEMORIAL SEPATU BESI 
Memorial Sepatu Besi
 Setelah puas mengabadikan gedung parlemen Budapest yang semakin cemerlang saat malam, saya melanjutkan perjalanan ke sisi sungai Danube. Banyak orang-orang berjalan di sisi sungai Danube menikmati malam. Beberapa kapal wisata juga masih melintasi sungai Danube mengantar para turis yang sibuk mengabadikan gemerlap malam Budapest.
Ada banyak hal menarik yang bisa kita nikmati di tepi sungai Danube. Salah satunya adalah memorial sepatu besi. Sebenarnya waktu yang tepat untuk berkunjung ke memorial ini siang atau senja hari sebelum matahari tenggelam. Tetapi saya terlanjur menghabiskan senja di gedung parlemen sehingga kemalaman menyeberang ke sini. Saya menyeberang jalan kemudian berjalan ke arah kiri dari gedung parlemen. Tampak patung sepatu yang terbuat dari besi berjajar di tepi sungai Danube. Ketika saya melihat lebih dekat, ada setangkai bunga mawar merah segar terselip di salah satu sepatu.  Sepertinya peziarah menaruh bunga mawar merah itu sebagai penghormatan kepada korban yang meninggal di tepi sungai ini.
Sepatu Besi di tepi Sungai Danube
  Sepatu besi tanpa pemilik di tepi sungai Danube ini merupakan peringatan atas peristiwa menyedihkan yang terjadi pada perang dunia ke 2.  Pada waktu itu orang-orang Yahudi dikumpulkan di tepi sungai Danube lalu disuruh melepas sepatunya. Satu persatu mereka ditembak lalu dihanyutkan ke sungai Danube.  Saya melihat beberapa turis tampak berdoa di depan memorial ini.  Di antara keindahan kota Budapest dan gemerlap lampu yang menimpa sungai Danube, kesedihan itu menguar dari memorial sepatu besi ini.
 
CENTRAL MARKET HALL
Pasar indoor terbesar di Budapest
 Esoknya, sebelum matahari tinggi saya menyusuri jalanan kota Pest menuju Central Market Hall.  Pasar indoor terbesar di Budapest yang menjadi salah satu tujuan wisata populer para turis. Terletak di dekat jembatan Liberty dan Fovam square, lokasi Central Market Hall tepat di ujung areal perbelanjaan Vaciutca. Pasar ini sudah berdiri sejak tahun 1897, namun sempat rusak dan ditutup selama perang dunia. Baru tahun 1990 restorasi selesai dilakukan kemudian dibuka kembali.
Ketika saya memasuki gerbang besar Central Market Hall, saya disergap pemandangan sebuah pasar yang luas, bersih dan etnik. Memiliki bangunan seluas 10.000 meter persegi, pasar ini terdiri dari tiga lantai.  Lantai dasar menjual sayuran, buah-buahan, sosis, daging dan berbagai bumbu dapur.  Sebagian besar kios menjual paprika, baik yang sudah diolah maupun yang masih segar. 
Wine di Central Market Hall

Saya naik ke lantai dua dan menemukan banyak penjual souvenir , baju serta taplak meja khas Hungaria.  Ketika berjalan memutar, saya menemukan penjual makanan khas Hungaria yang ramai dikerumuni para wisatawan. Pasar ini buka mulai jam 7 pagi, dilengkapi dengan ATM, toilet dan wifi.  Tempatnya yang luas, bersih dan penataannya yang menarik membuat pengunjung betah berlama-lama di pasar ini.
KOMPLEKS ISTANA BUDA
Kompleks istana Buda
 Esok harinya saya melanjutkan perjalanan menjelajah bukit Buda. Untuk sampai di bukit Buda yang terletak di seberang sungai Danube, saya naik bus dua kali dari hotel dan diturunkan di kompleks istana Buda.  Matahari bulan Mei bersinar terik dan suasana sangat ramai. Banyak turis berombongan maupun sendiri mengunjungi kompleks istana itu.
Di kompleks istana Buda ini terdapat beberapa objek wisata terkenal, yaitu Trinity Square, Fishermen’s Bastion, Royal Palace, Mathias Church dan The Labyrinth. Saya mulai menjelajah dengan memasuki areal Fishermen’s Bastion. Ada pintu berbayar untuk naik ke menara Fishermen’s Bastion, tetapi saya naik lewat sisi lain yang gratis yaitu di pelataran restoran puncak menara. Memang sedikit berdesakan karena banyak pengunjung memilih yang gratis. Dari tempat itu saya bisa melihat keindahan kota Budapest dari ketinggian. Tampak gedung parlemen Budapest yang menjulang di kejauhan, jembatan yang menghubungkan kota Buda dan Pest serta pemandangan menakjubkan kota di bawah naungan langit biru. 
Menara Fishermens Bastion
Puas melihat panorama Budapest dari ketinggian, saya memutari sisi luar Mathias Church. Menurut catatan sejarah, pada masa penaklukan Turki, gereja ini pernah berubah fungsi menjadi masjid.  Mathias Church berusia lebih dari 700 tahun dan menjadi tempat penobatan raja. Bahkan pernikahan raja juga pernah berlangsung di gereja ini.  Gereja ini sangat cantik dikelilingi menara Fishermen’s Bastion.  Matahari menyengat di atas kepala, ketika saya beralih ke sisi lain yaitu halaman Royal Palace.
Saya tidak memasuki bagian dalam Royal Palace karena waktu yang tidak memungkinkan dan hanya menikmatinya dari luar.  Bangunan kuno ini sudah berubah fungsi menjadi  Budapest History Museum, Hungarian National Gallery dan Hungarian National Library dan menempati lokasi yang berbeda. Menyusuri tempat ini, saya seperti berada di masa lampau saat istana Buda masih berdiri megah. 
Funicular
 
Untuk turun ke bagian bawah bukit saya bisa naik funicular, tetapi saya lebih suka berjalan kaki menyusuri hutan kecil melalui undak-undakan yang rapi dan bersih. Sepanjang menuruni undakan, kami bisa mengambil foto pemandangan kota Pest yang indah. Saya sempat duduk lama di hutan kecil itu menikmati kesejukan yang ditularkan pohon-pohon rindang di dalam hutan. Matahari masih menyengat ketika kami sampai bawah bukit dan berdiri di tepi jalan memandangi bukit Buda yang telah kami susuri.
JEMBATAN CHAIN dan St. STEPHEN BASILICA
Jembatan Chain
 Puas memandangi bukit Buda dari bawah saya ingin menyusuri jembatan untuk sampai kota Pest meskipun sebenarnya bisa naik bus. Tetapi menyusuri jembatan tua ini rasanya lebih menyenangkan daripada naik bus. Jembatan Chain menjadi satu tempat wisata yang ramai dikunjungi turis karena merupakan jembatan batu pertama yang menghubungkan kota Pest dan bukit Buda. Menurut catatan, jembatan yang masih berdiri kokoh ini diresmikan pada tahun 1849.  Sudah sangat tua ya! 
Di gerbang depan masuk jembatan, tampak patung singa yang duduk dengan garang menatap kota. Beberapa turis mengabadikan fotonya bersama patung singa itu. Dari tengah jembatan, tampak pemandangan kota Pest di kejauhan tertimpa terik matahari. Saya terus berjalan menyusuri jembatan hingga tiba diujungnya. Setelah menyeberang jalan sampailah kami di kota Pest dan disergap pemandangan kafe-kafe dan restoran. Saya berbelok ke kiri memasuki keramaian turis yang hilir-mudik memasuki restoran dan kafe lalu berjalan lurus ke arah St. Stephen Basilica.
Jembatan Chain dari ketinggian
St. Stephen Basilica merupakan gereja terbesar di Budapest. Menurut catatan sejarah dibutuhkan waktu 50 tahun untuk membangun gereja ini. Di dalam gereja ini terdapat mumi raja pertama Hungaria, St. Stephen I yang menyebarkan agama Kristen di negara tersebut. Saya sebenarnya ingin memasuki gereja tetapi antrian sangat panjang dan saya sudah kelelahan sehingga saya hanya bisa menikmati bangunan gereja indah ini dari luar.  Halaman gereja ini sangat ramai warga lokal maupun turis, apalagi sekelilingnya sebagain besar kafe dan restoran. Saya membeli es krim dan menikmatinya sambil duduk di sisi kiri gereja memandangi lalu lalang orang lewat.
 
Budapest yang eksotis menawan mata dan hati saya. Jika anda penggemar sejarah dan bangunan-bangunan tua yang indah, negeri ini layak anda kunjungi saat liburan. Saya yakin, anda tidak akan kecewa. ***