“Oxford, diantara keanggunan dan ketenanganmu aku menemukan keindahan”
Apa sih menariknya Oxford? Beberapa waktu lalu saya mengunjungi Oxford Inggris dan menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di benak saya.
“Oxford, diantara keanggunan dan ketenanganmu aku menemukan keindahan”
Apa sih menariknya Oxford? Beberapa waktu lalu saya mengunjungi Oxford Inggris dan menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di benak saya.
![]() |
| Photo by : Icha |
![]() |
| Photo by : Icha |
Jika kamu punya klub favorit, maka kamu harus mengikuti stadium tour untuk mengenal lebih jauh klub favorit kamu. Selain Old Tranfford stadium di Manchester, di London ada beberapa stadium tour lain seperti Emirates Stadium- Arsenal FC, Stamford Brigde – Chelsea FC dan White Hard Lane – Tottemham Hotspur FC.
![]() |
| Photo by : Icha |
“Paris is the only city in the world where starving to death is still considered an art ” – Carlos Rutz Zafon (Spanish Novelist)
“I truly believe the only way we can create global peace is through not only educating our minds, but our hearts and our souls.” – Malala Yousafzai
“Jadilah seorang filsuf. Tapi, diantara semua filosofimu, tetaplah menjadi manusia.” – David Hume (filsuf Skotlandia, salah satu figur penting dalam filosofi barat dan Pencerahan Skotlandia)
Memandangi kota sambil menyusuri trotoar, saya seperti memasuki negeri dongeng dalam film-film Disney atau buku-buku klasik. Sejauh mata memandang tampak bangunan-bangunan masa lampau yang masih berdiri megah dan luar biasa eksotis. Seketika penderitaan saya karena dingin menghilang, berganti kegembiraan yang meluap. Ini kota yang sejak kecil saya impikan untuk saya kunjungi. Dan, Tuhan memberikan jalan pada impian saya. Di kejauhan kastil Edinburgh menyembul penuh pesona dari atas bukit seolah melambaikan tangan agar saya segera mengunjunginya. Tetapi saya harus ke hotel lebih dulu untuk menghangatkan badan dan mengisi energi sebelum menjelajah Edinburgh.
Buku-buku kuno yang sudah menguning tergeletak di rak samping ruang tunggu, sebuah patung masa lalu duduk di jendela seolah mengamati kami yang datang dari belahan dunia yang jauh.Seorang resepsionis tampan menerima kami dengan ramah dan mempersilakan kami istirahat sambil menunggu jam check in. Hostel ini juga menyediakan dapur yang bisa kita pakai untuk memasak secara bebas. Gula pasir, kopi dan teh disediakan gratis. Lalu mulailah kami memasak menu andalan yaitu mie instant. Untuk orang Indonesia (khususnya saya) yang melakukan perjalanan ke Britania Raya dengan cara ngirit, mie instant cukup (harus cukup) untuk mengisi energi sebelum penjelajahan karena makan besar hanya akan terjadi sekali dalam sehari sesuai rincian bujet yang minim.
Tak hanya itu, kota eksotis ini juga melahirkan penulis-penulis hebat seperti : Walter Scott, Robert Louis Stevenson, Arthur Conan Doyle dengan Sherlock Holmes-nya dan penulis generasi baru seperti Ian Rankin. Bahkan meski tidak terlahir di Skotlandia, JK Rowling menuliskan karya fenomenalnya Harry Potter di kafe-kafe Edinburgh.
Setelah menyeberang jalan dan memasuki gang sempit sampailah saya di gedung Lady Stairs. Writer’s Museum menempati gedung Lady Stair dan merupakan museum tiga penulis Skotlandia yaitu Robert Burns, Sir Walter Scoot dan Robert Louis Stevenson. Tetapi sayangnya ketika saya berkunjung museum itu sedang tutup dan baru akan buka lagi pada bulan Oktober. Maka untuk sedikit merasakan energi kreatif para penulis hebat itu saya hanya bisa berdiri di depan pintu tertutup Writer’s Museum sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat lain.
Sebelum jam makan siang tiba, saya sudah keluar dari museum dan melewati belokan jalan dengan patung Greyfriars Bobby. Seperti kisah Hachiko di Jepang, Bobby adalah anjing milik seorang polisi bernama John Gray. Saat John Gray meninggal dimakamkan di Greyfriars Kirk. Sejak kepergian tuannya itulah, Bobby duduk menunggui makam tuannya hingga anjing ini meninggal.
Menyeberang jalan dari patung Greyfriars Bobby, saya terdampar di tempat makan Nando’s karena sudah kelaparan. Sebelum mencicipi kopi di The Elephant House tempat JK. Rowling melahirkan Harry Potter, saya ingin makan kentang dan ayam di Nando’s.
Dari atas bukit ini terlihat jelas kontur alam Edinburgh yang berbukit-bukit dan bangunan-bangunan kuno yang mencuat indah. Andai saja memiliki banyak waktu, saya ingin duduk lebih lama di atas bukit ini sambil menikmati sapuan angin dingin dan memandang kejauhan. Tapi saya bukan orang Skotlandia yang bisa jogging di pagi hari yang beku, maka saya memutuskan kembali ke hostel sebelum terkena hipotermia.
Eksotisme Edinburgh bukan hanya berpendar dari penampakan luarnya yang cantik tapi juga kegeniusan otak penghuni kotanya. Malam menjadi luar biasa dingin ketika saya menyeberang jalan menuju hostel. Saya berjanji untuk kembali suatu hari nanti. ***
“Be still like a mountain and flow like a great river” – Lao Tzu
“You can never replace anyone because everyone is made up of such beautiful specific details.” Celine – Before Sunrise”
“Wherever you go, go with all your heart…”
| Sungai Danube |
| Gedung Parlemen |
| Sunset di Gedung Parlemen |
| Memorial Sepatu Besi |
| Sepatu Besi di tepi Sungai Danube |
| Pasar indoor terbesar di Budapest |
| Wine di Central Market Hall |
| Kompleks istana Buda |
| Menara Fishermens Bastion |
| Funicular |
| Jembatan Chain |
| Jembatan Chain dari ketinggian |