Category Archives: Brunei Darussalam

BRUNEI DARUSSALAM : NO SMOKING, NO TIPPING! (PART 2)

“Peace cannot be kept by force ; it can only be achieved by understanding, ~ Albert Einstein.

Hari kedua di Brunei Darussalam, saya merencanakan untuk mengunjungi beberapa tempat turistik seperti Regalia Museum dan Masjid Omar Ali Saefuddin.  Karena menunggu bus lewatnya sangat lama, maka saya memesan taksi online (DART) yang beroperasi seperti GRAB atau GOCAR kalau di Indonesia. Selain angkutan umum sangat jarang, kebanyakan warga menggunakan mobil untuk transportasi. Sepuluh menit kemudian, sebuah mobil kancil dengan pengemudi muda menjemput saya.  Begitu mobil melaju di jalanan menuju Regalia Museum, pengemudi muda ini banyak mengajak saya ngobrol, mulai dari menunjukkan tempat yang menarik dikunjungi di Brunei, sampai obrolan tentang Jakarta.  Hanya memerlukan waktu sekitar 20 menit untuk sampai Regalia Museum dan pengemudi muda itu menolak kembalian ongkos taksi online yang sengaja saya tinggalkan untuknya. Ia mengembalikan tepat sesuai angka sen terkecil.  Sikap ini mendadak membuat saya nyaman berada di negera kecil ini.  Tidak hanya no tipping, negeri ini juga no smoking. Sejak tahun 2012  merokok tidak diperbolehkan di negera ini. Jika tertangkap polisi harus membayar denda yang cukup besar.  Brunei merupakan satu negara bebas rokok terluas di dunia.  Tidak ada smoking room dimanapun bahkan dikamar mandi dipasang signboard “no smoking”.  Di areal luar-pun dilarang merokok dengan alasan, semua orang berhak atas udara yang bersih, jadi jangan sampai tercemar oleh asap rokok orang lain.

Regalia Museum

 

Regalia Museum berada tepat di tengah kota Brunei Darussalam dan berisi koleksi tribute to Sultan. Berisi koleksi foto-foto Sultan dari masa kecil hingga dewasa, kunjungan-kunjungan berbagai negara ke Brunei Darussalam dan cinderamata dari berbagai negara. Pengunjung hanya boleh memotret di luar ruangan koleksi, sementara di bagian dalam hanya diperbolehkan melihat-lihat. Saya menemukan banyak cinderamata dari Indonesia terpajang di koleksi bagian dalam berjejeran dengan cinderamata dari berbagai negara lain.

Areal dalam Regalia Museum

 

Udara di luar sangat panas menjelang waktu dhuhur saat saya berjalan ke arah  belakang museum sekitar 100 meter tempat masjid Omar Ali Saefuddin berdiri.  Dengan gaya arsitektur Mughal Islam dan Italia, masjid ini selesai dibangun pada tahun 1958.  Nama Omar Ali Saefuddin diambil dari nama Sultan Brunei ke-28. Di sekitar masjid ini terdapat laguna atau kolam buatan di tepi sungai di Kampong Ayer serta replika Perahu Mahligai Kerajaan milik Sultan Bolkiah yang memerintah pada abad ke -16. Kubah masjid Omar Ali Saefuddin dilapisi emas murni dengan tinggi bangunan 52 meter sehingga dapat dipandang dari berbagai tempat di Brunei Darussalam.

Bagian dalam Masjid Omar Ali Saefuddin

 

Saya menghabiskan waktu hingga waktu taraweh di masjid Omar Ali Saefuddin ini. Selain mengambil foto juga ngobrol dengan pekerja migran dari Indonesia, Bangladesh dan India. Bahkan saya berbuka puasa di pelataran masjid dengan mereka dengan makanan yang disalurkan penduduk lokal ke masjid. “Saya dulu bekerja rumah tangga, tapi sekarang sudah punya usaha sendiri, jualan jamu,” kata pekerja dari Indonesia yang sudah di Brunei selama 18 tahun, bahkan satu anaknya sudah sekolah di sana. “Setahun saya pulang ke Jawa dua kali, “tambahnya. Banyak saudara kita bekerja di Brunei, bahkan saya selalu menemukan orang-orang Jawa di semua restoran tempat saya makan, rata-rata mereka sudah bekerja minimal 4 tahun dan akan kembali lagi.  Taraweh di Brunei 23 rakaat, tetapi beberapa jamaah yang memilih 8 rakaat menunggu di luar untuk kemudian bergabung lagi saat witir.  Di luar masjid saat taraweh juga tersedia banyak makanan gratis yang bisa diambil para jamaah atau siapa saja yang sedang berada di masjid.  Malam itu karena sudah lelah, saya memutuskan segera kembali ke hotel dan melanjutkan explore esok harinya.

Istana Nurul Iman, tempat kediaman Sultan

 

Hari berikutnya saya masih menggunakan DART untuk ekplore Brunei, dan kali ini dijemput dengan mobil Fortuner. Pengemudinya pendiam, sehingga saya tidak banyak ngobrol. Tujuan saya banyak sebenarnya, namun ternyata hampir semua lokasi tidak sama dengan bayangan saya. Kebanyakan lokasi yang saya kunjungi sepi sehingga saya seperti orang aneh jalan-jalan tidak jelas menyusuri lokasi wisata itu.  Pertama mengunjungi Istana Nurul Iman yang sepi dan hanya bisa melihat di depan pagarnya. Kedua saya mengunjungi pasar Kiangeh yang juga hanya ada beberapa penjual sayur. Lalu saya melanjutkan perjalanan ke Kampong Ayer. Ini agak lebih menarik ketimbang dua tempat sebelumnya.

Kampong Ayer

 

Kampong Ayer (kampung air) merupakan kawasan pemukiman yang secara historis merupakan pemukiman penting di Brunei. Pemukiman yang dibangun di atas sungai Brunei memiliki fasilitas yang lengkap, mulai dari sekolah, kantor polisi, kolam renang, hingga museum.  Satu bagian tampak dengan bangunan lebih tua sementara bagian lain sudah menggunakan beton dan sangat bagus. Saya hanya sempat menyusuri beberapa bagian karena ingin berkeliling menggunakan perahu.  Selama beberapa abad Kampong Ayer menjadi pusat ekonomi dan sosial yang penting di Brunei hingga awal imperialisme Inggris di Brunei.  Dari Kampong Ayer ini, saya memutuskan menyewa perahu untuk menyusuri sungai hingga ke pasar Gadong.  Jadi perjalanan saya tidak hanya menjelajah daratan namun juga melalui sungai.

Kampung Ayer

 

Sore menjelang buka puasa, saya mengunjungi pasar Gadong untuk berbuka puasa di sini bersama warga lokal yang antri belanja di pasar Gadong dan sebagian buka puasa di sini. Tulisan tentang Pasar Gadong, nanti akan saya tuliskan tersendiri.  Seminggu di Brunei Darussalam meninggalkan kenangan yang menarik buat saya. Negeri yang sepi namun tenang ini ramah dan nyaman untuk dikunjungi.  Saya memang tak mendapatkan tempat wisata sesuai impian saya, tetapi keramahan penduduknya dan ketenangan negara ini mempesona.

 

 

BRUNEI DARUSSALAM : RAMADHAN DI NEGERI SULTAN (PART 1)

“Ramadhan does not come to change our schedules. It comes to change our hearts.”

Masjid Omar Ali Saefuddien

Saya percaya perjalanan itu berkaitan dengan takdir. Begitu juga perjalanan saya ke Brunei Darussalam ramadhan ini. Selama 9 tahun menjalani hobby backpacker, Brunei tidak sedikitpun terlintas dalam kepala saya untuk dikunjungi karena saya selalu mencari tempat-tempat yang etnik dan eksotis. Tapi nyatanya saya malah mendapat tiket gratis return ke Brunei Darussalam. Dan berangkatlah saya ke negara terkaya kelima di dunia dari 182 negara yang memiliki ladang minyak bumi dan gas alam  versi Forbes ini.

 

Dengan penerbangan pagi dari Kualalumpur, di gate ruang tunggu keberangkatan saya bertemu seorang bapak-bapak dari Malang yang bekerja di salah satu bengkel di Brunei Darussalam selama tiga tahun terakhir setelah sebelumnya bekerja di Malaysia. Banyak orang Indonesia bekerja di sini, entah itu di rumah tangga atapun mereka memiliki usaha sendiri. Di restaurant samping hotel tempat saya menginap, waitresnya juga gadis dari Madiun, Jawa Timur.  Maka tidak mengherankan kalau saya sering mendengar percakapan bahasa Jawa di beberapa tempat.

Penerbangan dari Kualalumpur ke Brunei Darussalam memerlukan waktu 2 jam. Brunei International Airport tampak kecil, rapi dan efisien. Perjalanan kali ini saya memesan shuttle hotel karena menurut informasi angkutan umum di sini agak susah dan harus menunggu lama. Maklum kebanyakan penduduk Brunei menggunakan mobil pribadi sehingga ( sepertinya) angkutan umum tidak begitu diperlukan.  Tetapi kita bisa menggunakan aplikas taksi online DART yang biayanya lebih murah dari taksi umum. Sopir yang menjemput saya di airport sangat ramah dan berbahasa Melayu yang mudah saya pahami. Baru ngobrol dengan sopir ini saja, saya sudah mendapat feeling saya akan suka perjalanan ini. Dan benar, saya menyukai perjalanan saya.

Brunei Darussalam memang bukan negara tujuan wisata. Tidak banyak yang bisa dilihat di sini. Tetapi jika anda suka bertemu orang-orang baru dari berbagai belahan dunia dan mempelajari karakter-karakter mereka maka anda akan suka berkunjung ke sini.  Kebanyakan orang Brunei ramah, hangat dan suka menolong. Setidaknya itu yang saya rasakan sejak saya datang. Mereka selalu tersenyum, memberi informasi detail tentang negaranya, dan sikapnya hangat. Saya yang memang suka tersenyum saat bertemu orang asing sekalipun jadi merasa nyaman di negara ini karena mereka juga tersenyum balik pada saya.

Terdiri dari 4 distrik yakni Belait, Brunei dan Muara, Temburong dan Tutong, negara kecil ini sangat sepi.  Penduduk asli mengatakan bahwa negara mereka ramai pada hari raya lebaran atau hari jadi Sultan. Saya memilih tinggal di Gadong, kawasan yang menurut informasi paling ramai karena banyak ruko, mall dan restaurant di banding tinggal di kawasan Bandar Seri Begawan yang jam 7 malam sudah sepi. Meskipun begitu untuk orang yang biasa tinggal di kebisingan Jakarta, Gadong inipun masih sepi.  Tetapi kondisi sepi ini tidak menakutkan, justru bagi saya terasa nyaman dan tenang.

Ada beberapa tempat wisata yang bisa anda kunjungi di Brunei Darussalam seperti Kampong Ayer, Masjid Omar Ali, Istana Nurul Iman, Jerudong Park, The Royal Regalia Museums dan Masjid Sultan Hassanal Bolkiah.  Saya baru mengunjungi Regalia Museums dan Masjid Omar Ali Saifuddin pada tulisan part 1 ini karena lebih suka banyak diam di masjid selain udara yang panas dan menghemat energi karena sedang puasa.

Regalia Museums terletak di pusat kota Bandar Seri Begawan dan buka setiap hari mulai pukul 9 pagi hingga pukul 5 sore kecuali pada hari Jum’at yang hanya buka pukul 9 pagi hingga pukul 11.30 siang.  Museum yang berisi tentang sejarah Brunei dan tribute untuk Sultan ini sangat menarik untuk dikunjungi dan gratis. Semua tempat wisata di Brunei tidak menggunakan tiket berbayar untuk memasukinya.

Tidak jauh dari Regalia Museums, hanya dengan berjalan kaki sekitar 10 menit saya menemukan Masjid Omar Ali Saifuddien. Masjid ini dinamai berdasarkan Omar Ali Saifuddien III, Sultan Brunei ke-28. Masjid ini diselesaikan pada tahun 1958 dengan arsitektur Islam modern yang memadukan arsitektur Mughal dengan gaya Italia. Masjid ini dibangun diatas laguna di tepi sungai Brunei di Kampong Ayer dengan menara kubah emas dan dilengkapi dengan taman indah yang mengelilingi masjid. Ada jembatan yang membentang diatas laguna menuju replika perahu kerajaan milik Sultan yang memerintah pada abad ke 16.

Saya merencanakan diam di masjid ini mulai ashar hingga waktu berbuka puasa. Ternyata menjelang berbuka puasa banyak pekerja migran dari India, Bangladesh dan Indonesia berkumpul di sini untuk berbuka puasa bersama. Saya kemudian bergabung dengan mereka berbuka puasa di sini. Banyak yang menyiapkan makanan dan minuman untuk orang-orang yang berbuka di masjid. Dan sayapun kebagian makanan itu. Di tengah para perantau yang mengais rezeki di tanah asing, saya merasakan buka puasa saya begitu berharga.

(to be continued)