All posts by Admin2

Menyusuri 5 Sungai Romantis Di Eropa


“Be still like a mountain and flow like a great river” – Lao Tzu

Hidup di Jakarta belasan tahun, membuat saya terbiasa memunggungi sungai yang mengalir di tengah kota.  Sampah yang menggunung memenuhi sungai, rupa air yang menghitam dan aroma tak sedap membuat siapapun enggan berdekatan dengan sungai. Meskipun tahun-tahun terakhir kepedulian atas perbaikan sungai di Jakarta meningkat namun butuh kerja keras dan waktu yang lama untuk bisa menghadapkan kembali wajah kita ke sungai. Tetapi itu di Jakarta yang sungainya telah rusak oleh arogansi manusia. Berbeda dengan sungai-sungai di negara maju yang justru menjadi lokasi wisata, tempat warga melepas penat bahkan menjadi peninggalan bersejarah. Ketika saya mengunjungi beberapa negara di Eropa, saya memiliki kesempatan menyusuri 5 sungai romantis yang membelah kota-kota itu dan menjadi tempat wisata yang romantis.
1.     SUNGAI SEINE PARIS
Setelah berjalan kaki menyusuri kota Paris yang cantik seharian, menjelang senja saya memutuskan untuk turun ke tepi sungai Seine.  Sungai ini membelah kota Paris bagian utara dan selatan.  Tidak hanya sebagai jalur lalu lintas komersial, sungai ini juga menjadi tujuan wisata yang sangat menarik.  Sungai Seine juga menjadi ikon kota Paris selain menara Eiffel.  Sungai sepanjang 776 kilometer ini memiliki puluhan jembatan yang bertengger di atasnya menghubungkan Paris bagian utara dan selatan. 
Saya berjalan kaki menyusuri tepi sungai Seine dan bertemu banyak orang yang duduk menikmati pemandangan sambil bercengkerama. Wisata menyusuri sungai ini bisa menggunakan cruise yang akan melewati hampir semua ikon-ikon wisata di Paris seperti menara Eiffel, gereja Notredame, Jardin Tino Rossi dan museum terbuka Musee de la Sculpture en Plein Air.  Ada bermacam operator cruise di Paris seperti Batobos, Bateux Parisiens dan Vandettes du Pont Neuf.  Masing-masing bisa dipilih sesuai waktu yang kita miliki dan kemampuan kantong. Ada tur biasa hanya keliling melihat wisata melalui sungai Seine, tur makan malam hingga tur private. Saya memilih tur biasa menggunakan Vandettes du Pont Neuf dengan harga 14 Euro atau sekitar Rp. 200.000.  Tiket bisa dibeli langsung di dermaga atau online. Saya membeli langsung di dermaga. 
Tepat menjelang matahari terbenam cruise memulai perjalanan menyusuri sungai Seine. Saya memilih duduk di bagian atas kapal yang terbuka agar lebih leluasa mengambil foto. Seorang wanita Asia berambut panjang yang cantik memandu perjalanan kami.  Sepanjang perjalanan menyusuri sungai, saya melihat banyak orang duduk-duduk di tepi sungai atau berjalan menyusuri sepanjang sungai. Mereka menikmati senja dan menunggu malam tiba.  Matahari bersinar keemasan ketika kami berada di kawasan menara Eiffel. Udara musim semi terasa dingin di tubuh tropis saya sehingga saya perlu merapatkan jaket. Jika anda ingin menyusuri sungai Seine ketika berlibur ke Paris pada musim semi, saya sarankan waktu sunset karena romantisnya kota Paris dan sungai Seine akan berpadu menciptakan keindahannya.
2.    SUNGAI THAMES INGGRIS
Sungai Thames membelah kota Inggris dan mengalir di sepanjang selatan Inggris menuju laut.  Mengalir sepanjang 346 kilometer, sungai pendek ini berfungsi sebagai penyedia protein ikan bagi penduduk sekitar dan sebagai pensuplai air serta menjadi sarana transportasi. 
Tetapi sebelum menjadi sungai paling bersih di dunia, menurut data pada tahun 1957, sungai ini pernah disebutkan sebagai sungai mati karena limbah sampah dan kotoran manusia. Sungai menjadi polusi dan kadar oksigennya sangat rendah. Kemudian pemerintah Inggris bekerja keras untuk mengatasi masalah polusi di sungai Thames. Berbagai proyek konservasi dan perbaikan sitem dilakukan. Pada tahun 1970 semua kerja keras itu menampakkan hasilnya hingga saat ini sungai Thames menjadi sungai bersih yang menjadi lokasi wisata turis dari berbagai belahan dunia.
Seperti di Paris, kita juga bisa menyusuri sungai Thames menggunakan cruise.  Saya tidak sempat mencobanya, tetapi menurut informasi yang saya terima ada beberapa operator cruise yang bisa dipilih dengan harga mulai dari 15 poundsterling atau sekitar Rp. 270.000.  Di sepanjang sungai ini juga terdapat wisata terkenal seperti Big Ben, London Eye, House of Parliament, Games of The XXX Olympiade dan Shakespeare’s Globe.  Selain menyusuri sungai Thames menggunakan cruise, kita juga bisa menikmati pemandangan sepanjang sungai dengan duduk di kafe-kafe sepanjang tepi sungai sambil menikmati suasana romantis. 
3.     SUNGAI DANUBE BUDAPEST
Sungai Danube merupakan sungai panjang yang bersumber dari Jerman hingga Laut Hitam di Rumania.  Ada 10 negara yang dilewati sungai ini mulai dari Austria, Bulgaria, Kroasia, Jerman, Hungaria, Moldavia, Slowakia, Rumania, Ukraina dan Serbia. Saya menikmati tepian sungai ini di kota Budapest, Hungaria. 
Sungai Danube membagi Budapest menjadi dua bagian yaitu kota Buda dan kota Pest.  Kota Pest terletak di dataran sebelah timur, merupakan pusat kota yang memiliki banyak pusat perbelanjaan dan kafe-kafe sementara kota Buda terletak di sebelah barat dengan kontur berbukit-bukit. Keduanya dihubungkan oleh 9 jembatan, salah satunya jembatan Chain yang terkenal dan menjadi tujuan wisata. Saya menikmati tepian sungai Danube pada sore hari tepat saat matahari hendak tenggelam. 
Seperti di sungai negara Eropa lain yang menjadi tempat wisata, ada beberapa operator cruise yang melayani wisatawan untuk menyusuri sepanjang sungai Danube.  Tetapi saya lebih memilih menikmati tepian sungai Danube dengan berjalan kaki.  Banyak lokasi wisata terkenal Budapest yang bisa kita nikmati di sepanjang tepian sungai Danube seperti gedung Parlemen Budapest, memorial sepatu besi, kastil Buda yang bersinar ditimpa cahaya lampu dari kejauhan, serta jembatan Chain.  Jam menunjukkan pukul 10 malam saat saya meneruskan perjalanan menyusuri tepian sungai Danube. Masih banyak orang-orang duduk di pinggiran sungai sambil ngobrol dan menikmati suasana malam. Tepian sungai ini tak kalah romantis dengan sungai Thames dan Seine.
4.     SUNGAI VITAVA PRAHA
Praha tak hanya terkenal sebagai kota tua yang cantik dan eksotis, tetapi juga memiliki sungai panjang yang diatasnya bertengger 18 jembatan, salah satunya adalah jembatan Charles yang sangat terkenal.  Saya menikmati sungai Vitava dari atas jembatan Charles hingga turun ke sisi jembatan untuk mencelupkan kaki sambil menggoda bebek-bebek yang berenang. 
Banyak tempat wisata yang bisa kita nikmati sambil menyusuri sungai Vitava seperti Kastil Praha, Charles Bridge, Vysehard dan Dancing House menggunakan kapal Cruise. Seperti di negara lain, ada berbagai operator cruise yang bisa dipilih sesuai kemampuan kantong kita dan waktu yang kita miliki.  Saya tidak menyusuri sungai Vitava menggunakan cruise tapi hanya berjalan sebentar di sepanjang tepian sungai.   
Matahari musim semi terasa menyengat saat saya kembali naik ke atas jembatan meninggalkan orang-orang yang duduk bersama orang-orang yang dicintainya sambil memandangi lanskap kota yang indah di kejauhan.
5.    KANAL-KANAL DI KOTA AMSTERDAM BELANDA
Mengunjungi Amsterdam tanpa menikmati kanal-kanalnya akan terasa hambar. Begitu kata seorang sahabat saya. Kanal-kanal itu memang telah menjadi simbol kota bahkan memiliki nilai sejarah yang tinggi yang juga merupakan salah satu daftar warisan dunia Unesco. Saat saya mengunjungi Amsterdam, sebenarnya tidak memiliki banyak waktu untuk menyusuri kanal-kanalnya, tetapi karena terjebak di tengah kota Amsterdam akibat suporter bola yang memenuhi kota, saya terpaksa menyusuri sepanjang sisi kanal untuk mencari jalan pulang. 
Setiap kanal memiliki keindahan dan keunikannya sendiri. Beberapa kanal yang terkenal dan banyak dikunjungi wisawatan diantaranya adalah kanal yang menyajikan sudut pemandangan menarik berupa 15 jembatan. Untuk melihatnya kita harus berdiri di sisi jalan yang bernomor ganjil.  Lalu Golden Bend yang memiliki pemandangan bangunan-bangunan megah di Amsterdam.   
Saya suka menikmati kanal-kanal ini dengan berdiri di atas jembatan sambil melihat para wisatawan berperahu sepanjang kanal. Di atas jembatan juga banyak sepeda terparkir dan bunga-bunga dalam pot yang menambah romantisnya pemandangan. 
Menikmati sungai-sungai di negara maju membuat saya memiliki harapan besar.  Sebelum umur saya habis, semoga Jakarta juga memiliki sungai-sungai yang menjadi tempat menarik untuk berwisata dan melepas penat sebelum matahari terbenam.   ***


Vienna : Dari Jejak Film Before Sunrise Sampai Rumah Mozart


“You can never replace anyone because everyone is made up of such beautiful specific details.”  Celine – Before Sunrise”


Jika anda penggemar  film BEFORE SUNRISE produksi tahun 1995 oleh Richard Linklater, anda pasti terkenang romantisnya kota Vienna, Austria. Dalam film itu dikisahkan Jesse dan Celine berkenalan di kereta dalam perjalanan mereka dari Budapest. Jesse kemudian meminta Celine untuk menemaninya sehari saja keliling Vienna sebelum esok harinya ia kembali ke Amerika. Akhirnya Celine-pun setuju menemani Jesse menghabiskan waktu sehari semalam di Vienna.  Film yang diperankan Ethan Hawk dan Julie Delpy ini menjadi salah satu road movie yang sangat menarik karena dialog-dialognya yang kuat dan setting lokasinya yang indah. Meskipun saya tidak bersama Ethan Hawk menyusuri Vienna, tetapi saya senang melihat sedikit jejak-jejak romantis film Before Sunrise di sana.
 
Setelah penerbangan satu jam dari Geneva, saya tiba di Vienna jam 2 sore. Saya berencana menginap dua malam di Vienna tetapi kenyataannya saya hanya bisa menikmati Vienna sehari semalam persis seperti Jesse dan Celine dalam film Before Sunrise karena hari pertama saya datang terlalu capek untuk menjelajah Vienna dan saya memutuskan tidur di penginapan.  Dari bandara Vienna, kami naik metro dan turun di stasiun Kliebergasse. 
 Saya menginap di rumah warga lokal Vienna yang saya pesan melalui situs online. Sebenarnya saya hanya menyewa satu kamar, tetapi pemiliknya sedang traveling sehingga kami boleh memakai keseluruhan rumah.  Dan mulailah penjelajahan saya di Vienna dimulai dari rumah warga lokal yang saya tempati. Pemiliknya bernama Aurora, seorang ibu yang memiliki satu putri sekitar 10 tahun. Aurora memiliki usaha katering dan apartemennya berada agak jauh dari pusat kota.  Dari jendela dapur apartemen Aurora saya bisa melihat senja keemasan menyelimuti kota Vienna. 
 
Esok harinya, saya baru keluar untuk menjelajahi kota Vienna. Dengan naik metro sekali dari stasiun Kliebergasse sampailah kami di kawasan kota tua Dom. Vienna sangat cantik dan artistik.  Tak hanya dikenal sebagai kota musik, Vienna atau Wina, Austria ini juga dikenal dengan beragam museum dan istana yang masih berdiri megah hingga saat ini.  Tidak banyak lokasi wisata yang ingin saya kunjungi di Vienna karena waktunya sangat singkat, maka saya memutuskan untuk menyusuri jalan dan mampir di lokasi wisata yang kebetulan satu arah kemana saya berjalan.  Tempat pertama yang saya lewati adalah Sthepans Dom.

Sthepans Dom atau Katedral St. Stephan merupakan gereja bergaya Gothik yang berada di pusat kota Vienna.  Gereja ini memiliki genting yang warna-warni dan menara yang cantik. Dikontruksikan selama 65 tahun dari 1368-1433, gereja tua ini menjadi saksi sejarah di Vienna. Sayangnya beberapa bagian luar sedang direnovasi ketika saya ada di sana, sehingga sedikit semrawut. Banyak wisatawan masuk ke dalam gereja, namun saya memilih jalan memutar ke belakang gereja dan menemukan jalan menuju Mozarthaus.

Memasuki jalan sempit Domgasse tidak ada bangunan yang terlihat istimewa.  Semua bangunan tampak mirip, hanya ada satu pintu dengan papan nama Mozarthaus Vienna. Tempat ini merupakan bekas apartemen yang dijadikan tempat tinggal Wolfgang Amadeus Mozart tahun 1784-1787. Apartemen ini memiliki enam lantai, tetapi Mozart menempati lantai satu. Di rumah ini pula, Mozart menulis opera terkenal “Marriage of Figaro” sehingga apartemen ini juga sering disebut sebagai Figarohaus atau rumah Figaro.  Komponis agung ini meninggalkan jejak yang masih terus dicari dari generasi ke generasi  hingga tigaratus tahun lebih setelah meninggalnya. 
Setelah mengunjungi Mozarthaus, saya melanjutkan perjalanan menyusuri gang-gang sempit tapi artistik mencari Kleines Cafe yang menjadi salah satu lokasi film Before Sunrise. Terletak di Franziskanerplatz, cafe ini kecil dan sederhana. Ruangan dalam hanya ada 4 meja dan selebihnya meja bar. Sementara di tenda luar tampak lebih banyak meja. Begitu memasuki kafe, seorang lelaki tua yang ramah memakai celemek, menyambut kami dan mempersilakan kami memilih meja di dalam. Kami mencoba secangkir kopi dan kue yang lumayan enak.  Hampir satu jam kami duduk di Kleines Cafe menikmati kopi dan melihat pengunjung cafe berganti-ganti. 
Hari menjelang sore ketika kami meninggalkan Kleines Cafe menuju Karntner Strasse, satu pusat perbelanjaan yang menjadi tempat para turis berbelanja oleh-oleh dan mencicipi coklat khas Vienna. Tidak banyak yang bisa saya lihat di Vienna dan saya juga tidak seperti Celine yang menemukan Jesse. Tetapi saya bersyukur bisa sampai di ibukota musik dunia yang cantik ini.

KELILING ASIA MEMBURU CAHAYA

“Be in this world as though you were a stranger or a wayfarer” – Hadith

Bumi Allah itu luas dan perjalanan membuatku menyadari betapa kecilnya manusia. Kita singgah sejenak di bumi yang luas ini sebelum melanjutkan perjalanan yang lebih panjang lagi. Perjalanan juga mengajariku cara pandang yang luas dari berbagai sisi tentang suatu masalah, bertemu dengan orang yang berbeda-beda dan memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa Islam itu lembut, bersahabat dan tidak menakutkan. Aku mencintai perjalanan karena perjalanan mengajari banyak hal positip tentang kehidupan.
Awalnya saya tidak tertarik menulis buku perjalanan karena sudah terlalu banyak orang menuliskannya. Kalaupun menulis ingin mengambil sudut pandang yang berbeda, tetapi saya belum tahu sudut pandang yang mana. Tetapi seorang teman memaksa saya menulis. “Untuk apa melakukan perjalanan kalau tidak menjadi kenangan?” Begitu katanya. Dan salah satu kenangan bagi penulis adalah menuliskannya dalam sebuah buku. Memang saya sudah menuliskan artikel-artikel tentang perjalanan itu di berbagai majalah, tetapi belum mengumpulkan dalam sebuah buku. Teman saya terus memaksa, “Buku ini akan menjadi jejak kebaikan.” Katanya lagi. Akhirnya saya luluh.

 

 

Akhir 2016 ketika saya mengalami hal buruk dalam pekerjaan saya mulai menulis buku ini untuk menghibur diri. Menulis sambil mengingat-ingat senangnya di perjalanan membuat depresi saya berkurang. Saya belum berpikir ada penerbit yang akan menerbitkannya. Selain menulis ulang, saya juga mengumpulkan artikel-artikel yang sudah dimuat majalah dan saya ubah fokusnya. Saya ingin menulis tentang hal-hal baik yang saya temui di perjalanan. Hal baik selalu related dengan cahaya, maka saya menyebutkan “Memburu Cahaya” kebaikan di tempat-tempat yang saya lewati.
Sebulan menulis ulang dan mengubah fokus, saya kemudian mengirimkan ke penerbit. Seminggu kemudian penerbit GRASINDO (Kelompok Gramedia) menghubungi saya ingin menerbitkannya tepat pada bulan Maret untuk moment hari Kartini. Dan begitulah setelah editing dan pemilihan foto koleksi yang saya miliki, buku ini terbit. Tidak banyak masalah dan halangan untuk proses penerbitannya. Editor juga sangat menolong memperbaiki naskah saya.
“KELILING ASIA MEMBURU CAHAYA” adalah buku nonfiksi saya yang pertama tentang perjalanan. Sebelumnya saya menerbitkan buku novel dan kumpulan cerpen. Ternyata menulis nonfiksi itu menarik karena semua sumber dari fakta. Benar-benar seperti membuka kenangan baik kemudian menuliskannya. Saya menyukainya. Buku ini hanya sebagai jejak saya setelah mengunjungi beberapa negara Asia dan semoga bisa berbagi kebaikan dengan para pembaca.

 

Untuk yang belum baca, silakan ke toko buku. Masih ada di toko buku dan silakan membelinya, biar penulis bisa melakukan perjalanan yang lain dan menuliskannya. Sampai jumpa di toko buku!

AHA Moment SKYSCANNER Indonesia : INSPIRASI HIDUP DARI BENUA EROPA


“Kamu kira, kalau sudah memakai pakaian Eropa, bersama orang Eropa, bisa sedikit bicara Belanda lantas jadi Eropa? Tetap saja, monyet!” – Pramudya Ananta Toer dalam  BUMI MANUSIA.

 

Menara Eiffel

Pada masanya,  sebagai bangsa yang dijajah ratusan tahun, bepergian ke Eropa itu mustahil. Hanya orang-orang tertentu yang bisa melakukannya. Bukan hanya karena biayanya yang besar, tetapi juga mental sebagai bangsa terjajah yang hanya berani meletakkan sebagian cita-cita dalam khayalan. Tetapi masa itu telah lewat. Hari ini, bepergian ke Eropa menjadi lebih mudah. Tiket pesawat promo dengan harga sesuai kantong bisa dengan mudah kita pesan melalui mesin pencari Skyscanner Indonesia. Informasi perjalanan murah ke Eropa juga bisa kita temukan di berbagai group traveller. Para pejalan dengan senang hati akan berbagi pengalaman mereka menjelajahi Eropa sekaligus tips-tips mendapatkan harga transportasi dan penginapan yang murah. Dan… voilaaa! Para pemimpipun bisa mewujudkan cita-citanya. Saya termasuk salah satu pemimpi itu!

BERJUANG MEWUJUDKAN MIMPI
Sejak kecil saya suka membaca buku-buku dengan setting Eropa dan berharap kelak bisa bepergian ke Eropa. Tetapi saya dilahirkan di keluarga yang biasa-biasa saja, jangankan pergi ke Eropa, pergi ke kota sebelah saja membutuhkan waktu setahun untuk menabung. Bukan hanya itu, saya juga sakit-sakitan. Tetapi setelah saya bekerja dan tinggal di Jakarta, saya memberanikan diri untuk bermimpi. Bukanlah Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi kita?   Tentu saja, kita juga harus berjuang untuk mewujudkannya.

Saya di depan Gedung PBB Geneva, Swiss

Saya mengurus semua persiapan ke Eropa  sendirian tanpa agen perjalanan. Mulai dari menabung jauh-jauh bulan, mengejar tiket promo, mengurus dua visa Eropa (UK dan Scengen), memesan bus dan kereta sambungan antar negara tiga bulan sebelumnya agar mendapat promo, mencari penginapan murah dan mempelajari jalan menuju lokasi yang akan saya tuju. Tidak semuanya mulus, pada pertengahan tahun pekerjaan saya bermasalah dan uang yang saya cadangkan untuk biaya ke Eropa tidak dibayarkan. 

Perjalanan mengajarkan banyak hal

Pada saat itu saya sudah pasrah. Mungkin Tuhan belum mengizinkan saya pergi sejauh itu. Saya mulai mempersiapkan mental jika tidak berhasil berangkat dan melepaskan semua biaya yang sudah saya bayarkan sebagian di depan. Saya juga menjadi lebih dekat dengan Tuhan untuk memohon, meminta sekaligus memberi kekuatan jika perjalanan ini gagal. Saya sadar sesadar-sadarnya perjalanan juga serupa takdir, hanya akan terjadi jika Tuhan berkehendak.  Pada puncak keikhlasan saya, ternyata pertolongan itu datang. Ada satu kerjaan yang mencairkan uangnya sehingga saya bisa berangkat ke Eropa. And then…. my dream comes true!

EROPA, MY DREAM COMES TRUE!
Tuhan benar-benar memeluk mimpi saya. Pada bulan Mei 2017, saya berhasil keliling Eropa dalam satu bulan, mengunjungi 7 negara 8 kota besar mulai dari London, Edinburg, Paris, Geneva, Vienna, Budapest, Praha dan Amsterdam.    

Saya di Museum Louvre
 Memulai perjalanan panjang dengan menjelajah Inggris saya menemukan banyak hal menarik di negara ini. London sangat multikultural, menghargai perbedaan dan terbuka pada ras yang berbeda-beda. Mereka hidup berdampingan dengan baik dan tidak mudah terkejut dengan sesuatu yang berbeda dengan diri mereka. Saya juga menemukan banyak muslimah berjilbab di jalan dan melakukan kegiatan mereka dengan aman. Saya mengunjungi hampir semua lokasi wisata terkenal seperti Big Ben, London Eye, Buckingham Palace, Trafalgar Square, London Brigde, Sherlock Holmes Museum, Camden Market, Oxford city dan Harry Potter Tour.  Tak hanya itu saya juga menyempatkan diri pergi ke Edinburg Skotlandia meski hanya sehari.  
London Big Ben

Paris merupakan kota yang luar biasa kaya dengan benda-benda seni bernilai tinggi sekaligus rawan dunia kriminalitas. Orang-orangnya tak seramah di Inggris tetapi kotanya luar biasa cantik dan klasik. Saya mengunjungi lokasi wisata mainstream seperti Menara Eiffel, Montmartre, Sungai Seine, Arch de Triomphe, Museum Louvre dan lain sebagainya.  Melanjutkan perjalanan ke Geneva saya hanya memiliki satu tujuan yaitu mengunjungi gedung PBB. Geneva sangat mahal sehingga saya hanya berani mengunjunginya dalam sehari sebelum kemudian melanjutkan perjalanan ke Vienna, Budapest, Praha dan Amsterdam. Saya jatuh cinta pada Budapest yang menurut saya salah satu kota tercantik di Eropa sekaligus murah untuk ukuran Eropa. 
Budapest yang cantik

Selama keliling Eropa, saya memilih menginap di rumah warga lokal sehingga saya tahu bagaimana mereka menjalani hari-harinya. Dari sanalah inspirasi tentang kehidupan Eropa kemudian saya lihat dan saya pelajari. Saya melihat bagaimana mereka mengorganisir hal-hal kecil sehari-hari dengan detail, saya melihat bagaimana mereka berjuang keras untuk membiayai hidup mereka di kota yang mahal. Tak hanya tempat wisata yang apik, Eropa juga menyuguhkan manusia-manusia yang menarik.

INSPIRASI DARI MEREKA
Eropa mengajarkan saya banyak hal positip. Hal-hal kecil yang dilakukan warganya membuat saya terinspirasi dan mengadopsi sikap-sikap itu ketika kembali ke Indonesia.  Misalkan saja ; saya terinspirasi ketika para pengunjung kafe dan restoran membereskan bekas makan minumnya sendiri dan menaruhnya ke tempat sampah. Saya terinspirasi bagaimana mereka disiplin di jalan dan membuang sampah pada tempatnya. Saya terinspirasi bagaimana mereka menjaga peninggalan bersejarah yang berumur ratusan tahun dan dikagumi wisatawan dari segala penjuru dunia. Saya terinspirasi bagaimana mereka menghargai privacy orang lain dan tidak sibuk kepo atau nyinyir pada hal yang bukan urusan mereka. Saya terinspirasi bagaimana mereka mandiri, mengerjakan banyak hal sendiri, selalu bersemangat dan tidak bergantung pada orang lain. Saya terinspirasi bagaimana sebagian dari  mereka memperlakukan saya yang berjilbab dengan baik, berbeda dengan berita-berita tentang kebencian di media. 

Rumah warga lokal di Praha

Dan saya….sebagai bangsa yang pernah terjajah lama oleh Eropa sadar, mereka manusia yang sama dengan kita. Memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tidak perlu merasa inferior karena perbedaan warna kulit karena pada dasarnya kita semua sama-sama MANUSIA.

Crepes terkenal di Paris

Setelah berhasil mewujudkan satu mimpi besar saya ini, saya merasa menjadi orang yang berbeda. Saya tahu bagaimana caranya bermimpi, berjuang mewujudkannya  kemudian mengikhlaskan apapun yang diputuskan oleh Tuhan tentang sebuah hasil. Saya mulai bisa menikmati proses memperjuangkan sesuatu pada mimpi-mimpi saya yang lain. Setiap kali saya teringat kebiasaan disiplin dan mandiri orang-orang Eropa, saya juga menjadi terpacu dan malu saat sedang tidak bersemangat. Setiap melihat orang-orang usil di tempat wisata, saya tergerak untuk mengingatkan agar mereka menjaga peninggalan besar yang dimiliki bangsa ini. Tidak hanya melihat tempat-tempat baru yang menakjubkan, perjalanan juga mengajarkan saya tentang kehidupan yang mendalam. 


Memandang Budapest Dari Tepi Sungai Danube

“Wherever you go, go with all your heart…”

Kalau Anda pernah menonton film The Grand Budapest Hotel, Anda tentu mengenal Budapest yang merupakan ibukota Hungaria ini. Terletak di Eropa Tengah, negara ini berbatasan dengan Austria di sebelah barat, Ukraina dan Rumania di timur, serta Serbia dan Croatia di sebelah selatan. Kota cantik yang merupakan pintu masuk menuju Eropa Timur ini, memiliki sejumlah situs warisan dunia Unesco yang menjadi daya tarik wisatawan dari seluruh penjuru dunia.  
Sungai Danube membagi Budapest menjadi dua bagian yaitu kota Buda dan kota Pest.  Kota Pest terletak di dataran sebelah timur, merupakan pusat kota yang memiliki banyak pusat perbelanjaan dan kafe-kafe sementara kota Buda terletak di sebelah barat dengan kontur berbukit-bukit. Keduanya dihubungkan oleh 9 jembatan, salah satunya jembatan Chain yang terkenal dan menjadi tujuan wisata.
Sungai Danube
Meskipun sudah berkembang menjadi kota metropolis, Budapest masih mempertahankan peninggalan-peninggalan bersejarah yang mereka miliki dan merawatnya dengan baik. Bangunan-bangunan kuno, museum, dan memorial membuat Budapest sangat menarik menjadi tujuan wisata. Lokasi-lokasi wisata di Budapest sebagian besar bisa kita jangkau dengan berjalan kaki. Tetapi jika ingin lebih cepat kita bisa menggunakan tram atau bus dengan membeli paket tiket sesuai lama kita tinggal di Budapest melalui mesin-mesin tiket yang ada di halte. Tiket ini bisa kita gunakan untuk naik berbagai moda transportasi di Budapest kecuali taksi. Saya membeli paket dua hari dan mulai menjelajah Budapest pada senja hari.
GEDUNG PARLEMEN BUDAPEST
Gedung Parlemen
 Gedung yang dibangun selama 100 tahun dari tahun 1880 sampai 1902 ini terletak di tepi sungai Danube dengan bagian depan menghadap tepat ke sungai Danube di kota Pest. Gedung parlemen Budapest merupakan gedung tertua dan tertinggi di kota Budapest sekaligus gedung terbesar kedua di Eropa setelah House of Parliament di London. Di gedung ini juga tersimpan mahkota suci milik raja-raja Hungaria. 
Sunset di Gedung Parlemen
  Saya mengunjungi areal gedung ini pada waktu senja, saat lampu gedung mulai menyala dan langit di sisi barat kemerahan hendak tenggelam. Kecantikan gedung ini berpendar ditimpa cahaya lampu sekaligus misterius karena sebagian sisi yang lain gelap ditinggalkan cahaya matahari. Bahkan siluet pengendara kuda yang menjulang tinggi di depan gedung parlemen seolah hidup dan berdiri tegak menjaga parlemen dari bahaya yang datang.  Jika ingin menikmati eksotisme gedung ini dari sisi luar, maka saya sarankan anda mengunjunginya pada waktu senja. Percayalah, anda tidak akan kecewa.
MEMORIAL SEPATU BESI 
Memorial Sepatu Besi
 Setelah puas mengabadikan gedung parlemen Budapest yang semakin cemerlang saat malam, saya melanjutkan perjalanan ke sisi sungai Danube. Banyak orang-orang berjalan di sisi sungai Danube menikmati malam. Beberapa kapal wisata juga masih melintasi sungai Danube mengantar para turis yang sibuk mengabadikan gemerlap malam Budapest.
Ada banyak hal menarik yang bisa kita nikmati di tepi sungai Danube. Salah satunya adalah memorial sepatu besi. Sebenarnya waktu yang tepat untuk berkunjung ke memorial ini siang atau senja hari sebelum matahari tenggelam. Tetapi saya terlanjur menghabiskan senja di gedung parlemen sehingga kemalaman menyeberang ke sini. Saya menyeberang jalan kemudian berjalan ke arah kiri dari gedung parlemen. Tampak patung sepatu yang terbuat dari besi berjajar di tepi sungai Danube. Ketika saya melihat lebih dekat, ada setangkai bunga mawar merah segar terselip di salah satu sepatu.  Sepertinya peziarah menaruh bunga mawar merah itu sebagai penghormatan kepada korban yang meninggal di tepi sungai ini.
Sepatu Besi di tepi Sungai Danube
  Sepatu besi tanpa pemilik di tepi sungai Danube ini merupakan peringatan atas peristiwa menyedihkan yang terjadi pada perang dunia ke 2.  Pada waktu itu orang-orang Yahudi dikumpulkan di tepi sungai Danube lalu disuruh melepas sepatunya. Satu persatu mereka ditembak lalu dihanyutkan ke sungai Danube.  Saya melihat beberapa turis tampak berdoa di depan memorial ini.  Di antara keindahan kota Budapest dan gemerlap lampu yang menimpa sungai Danube, kesedihan itu menguar dari memorial sepatu besi ini.
 
CENTRAL MARKET HALL
Pasar indoor terbesar di Budapest
 Esoknya, sebelum matahari tinggi saya menyusuri jalanan kota Pest menuju Central Market Hall.  Pasar indoor terbesar di Budapest yang menjadi salah satu tujuan wisata populer para turis. Terletak di dekat jembatan Liberty dan Fovam square, lokasi Central Market Hall tepat di ujung areal perbelanjaan Vaciutca. Pasar ini sudah berdiri sejak tahun 1897, namun sempat rusak dan ditutup selama perang dunia. Baru tahun 1990 restorasi selesai dilakukan kemudian dibuka kembali.
Ketika saya memasuki gerbang besar Central Market Hall, saya disergap pemandangan sebuah pasar yang luas, bersih dan etnik. Memiliki bangunan seluas 10.000 meter persegi, pasar ini terdiri dari tiga lantai.  Lantai dasar menjual sayuran, buah-buahan, sosis, daging dan berbagai bumbu dapur.  Sebagian besar kios menjual paprika, baik yang sudah diolah maupun yang masih segar. 
Wine di Central Market Hall

Saya naik ke lantai dua dan menemukan banyak penjual souvenir , baju serta taplak meja khas Hungaria.  Ketika berjalan memutar, saya menemukan penjual makanan khas Hungaria yang ramai dikerumuni para wisatawan. Pasar ini buka mulai jam 7 pagi, dilengkapi dengan ATM, toilet dan wifi.  Tempatnya yang luas, bersih dan penataannya yang menarik membuat pengunjung betah berlama-lama di pasar ini.
KOMPLEKS ISTANA BUDA
Kompleks istana Buda
 Esok harinya saya melanjutkan perjalanan menjelajah bukit Buda. Untuk sampai di bukit Buda yang terletak di seberang sungai Danube, saya naik bus dua kali dari hotel dan diturunkan di kompleks istana Buda.  Matahari bulan Mei bersinar terik dan suasana sangat ramai. Banyak turis berombongan maupun sendiri mengunjungi kompleks istana itu.
Di kompleks istana Buda ini terdapat beberapa objek wisata terkenal, yaitu Trinity Square, Fishermen’s Bastion, Royal Palace, Mathias Church dan The Labyrinth. Saya mulai menjelajah dengan memasuki areal Fishermen’s Bastion. Ada pintu berbayar untuk naik ke menara Fishermen’s Bastion, tetapi saya naik lewat sisi lain yang gratis yaitu di pelataran restoran puncak menara. Memang sedikit berdesakan karena banyak pengunjung memilih yang gratis. Dari tempat itu saya bisa melihat keindahan kota Budapest dari ketinggian. Tampak gedung parlemen Budapest yang menjulang di kejauhan, jembatan yang menghubungkan kota Buda dan Pest serta pemandangan menakjubkan kota di bawah naungan langit biru. 
Menara Fishermens Bastion
Puas melihat panorama Budapest dari ketinggian, saya memutari sisi luar Mathias Church. Menurut catatan sejarah, pada masa penaklukan Turki, gereja ini pernah berubah fungsi menjadi masjid.  Mathias Church berusia lebih dari 700 tahun dan menjadi tempat penobatan raja. Bahkan pernikahan raja juga pernah berlangsung di gereja ini.  Gereja ini sangat cantik dikelilingi menara Fishermen’s Bastion.  Matahari menyengat di atas kepala, ketika saya beralih ke sisi lain yaitu halaman Royal Palace.
Saya tidak memasuki bagian dalam Royal Palace karena waktu yang tidak memungkinkan dan hanya menikmatinya dari luar.  Bangunan kuno ini sudah berubah fungsi menjadi  Budapest History Museum, Hungarian National Gallery dan Hungarian National Library dan menempati lokasi yang berbeda. Menyusuri tempat ini, saya seperti berada di masa lampau saat istana Buda masih berdiri megah. 
Funicular
 
Untuk turun ke bagian bawah bukit saya bisa naik funicular, tetapi saya lebih suka berjalan kaki menyusuri hutan kecil melalui undak-undakan yang rapi dan bersih. Sepanjang menuruni undakan, kami bisa mengambil foto pemandangan kota Pest yang indah. Saya sempat duduk lama di hutan kecil itu menikmati kesejukan yang ditularkan pohon-pohon rindang di dalam hutan. Matahari masih menyengat ketika kami sampai bawah bukit dan berdiri di tepi jalan memandangi bukit Buda yang telah kami susuri.
JEMBATAN CHAIN dan St. STEPHEN BASILICA
Jembatan Chain
 Puas memandangi bukit Buda dari bawah saya ingin menyusuri jembatan untuk sampai kota Pest meskipun sebenarnya bisa naik bus. Tetapi menyusuri jembatan tua ini rasanya lebih menyenangkan daripada naik bus. Jembatan Chain menjadi satu tempat wisata yang ramai dikunjungi turis karena merupakan jembatan batu pertama yang menghubungkan kota Pest dan bukit Buda. Menurut catatan, jembatan yang masih berdiri kokoh ini diresmikan pada tahun 1849.  Sudah sangat tua ya! 
Di gerbang depan masuk jembatan, tampak patung singa yang duduk dengan garang menatap kota. Beberapa turis mengabadikan fotonya bersama patung singa itu. Dari tengah jembatan, tampak pemandangan kota Pest di kejauhan tertimpa terik matahari. Saya terus berjalan menyusuri jembatan hingga tiba diujungnya. Setelah menyeberang jalan sampailah kami di kota Pest dan disergap pemandangan kafe-kafe dan restoran. Saya berbelok ke kiri memasuki keramaian turis yang hilir-mudik memasuki restoran dan kafe lalu berjalan lurus ke arah St. Stephen Basilica.
Jembatan Chain dari ketinggian
St. Stephen Basilica merupakan gereja terbesar di Budapest. Menurut catatan sejarah dibutuhkan waktu 50 tahun untuk membangun gereja ini. Di dalam gereja ini terdapat mumi raja pertama Hungaria, St. Stephen I yang menyebarkan agama Kristen di negara tersebut. Saya sebenarnya ingin memasuki gereja tetapi antrian sangat panjang dan saya sudah kelelahan sehingga saya hanya bisa menikmati bangunan gereja indah ini dari luar.  Halaman gereja ini sangat ramai warga lokal maupun turis, apalagi sekelilingnya sebagain besar kafe dan restoran. Saya membeli es krim dan menikmatinya sambil duduk di sisi kiri gereja memandangi lalu lalang orang lewat.
 
Budapest yang eksotis menawan mata dan hati saya. Jika anda penggemar sejarah dan bangunan-bangunan tua yang indah, negeri ini layak anda kunjungi saat liburan. Saya yakin, anda tidak akan kecewa. ***

Pesona 5 Kota Di Eropa Dari Ketinggian

“Don’t be afraid of your fears. They’re not there to scare you. They’re there to let you know that something is worth it”  ~ anonymous

Praha dari menara Jembatan Charles

Orang-orang barat berjalan ke timur untuk mengecap spiritual, sementara orang-orang timur berjalan ke barat untuk melihat kemajuan peradaban, begitu kata seorang penulis dalam salah satu buku perjalanannya. Pesona peradaban barat yang maju sekaligus kepiawaian mereka menjaga peninggalan-peninggalan kuno yang tak ternilai harganya memang membuat orang-orang timur takjub. Sebuah negeri yang modern sekaligus eksotis dalam pandangan mata. 

Seorang teman mengajak saya menikmati Eropa dengan cara yang berbeda.  Selama ini wisatawan menikmati Eropa dari dataran ; mengunjungi peninggalan-peninggalan bersejarah, menikmati sungai yang mengalir jernih atau belanja barang-barang bermerk.  Tetapi ada cara lain yang mengesankan yaitu mencari tempat-tempat yang tinggi di berbagai negara Eropa untuk memandang panorama keseluruhan kota.  Kita bisa melihat landmark kota, gedung-gedung dan jalanan yang begitu kecil bagaikan miniatur.  Awalnya ini agak menakutkan bagi saya, tapi kemudian saya menikmatinya.

1.                 CALTON HILL di EDINBURG SKOTLANDIA
Pemandangan Edinburg dari Calton Hill

Pertama kali menginjakkan kaki di Edinburg, saya langsung jatuh cinta. Sebagai pecinta hal-hal yang berbau kuno, Edinburg sangat menarik bagi saya. Kotanya klasik dan eksotis. Saya merasa hidup dimasa lalu ketika menyusuri setiap sudut kota.  Ada tujuh bukit yang bisa digunakan untuk menikmati kota Edinburg dari ketinggian dan saya memilih Calton Hill. 

Calton Hill terletak di pusat kota berdekatan dengan Princess Street tempat saya menginap yang menjadi pusat jalan-jalan para turis mancanegara. Setelah berjalan kaki sekitar 30 menit sampailah saya di pintu masuk Calton Hill.  Untuk masuk ke Calton Hill kita tidak dipungut biaya dan kita bisa memilih dua jalan yaitu melalui anak tangga atau jalan memutari bukit. Jalan memutar ini juga aman digunakan oleh pemakai kursi roda, sedangkan saya memutuskan untuk naik melalui anak tangga. 

Sesampainya diatas, saya disergap pemandangan beberapa bangunan indah. Tidak hanya bisa menikmati Edinburg dari ketinggian, di Calton Hill ini kita juga bisa menikmati beberapa objek wisata seperti National Museum yang dibangun untuk mengenang para pahlawan Skotlandia pada perang melawan Napoleon, Dugal Stewart Monument yang berbentuk seperti sangkar burung untuk mengenang filosof Skotlandia Dugal Stewart dan Nelson Monument yang dibangun untuk mengenang Admiral Lord Nelson yang gugur pada perang Trafalgar. 

Selain objek wisata tersebut,  Calton Hill menjadi tempat yang menyenangkan untuk duduk melamun sambil memandang keseluruhan kota Edinburg dari ketinggian. Tampak Scott Monument dan bangunan-bangunan kuno yang indah menjulang di berbagai sudut kota Edinburg.  Disisi lain tampak di kejauhan bukit-bukit yang kekuningan menjelang musim panas tiba. Para turis duduk di hamparan rumput bahkan sebagian tidur-tiduran di bawah pohon sambil menikmati angin yang berhembus sepoi.  Lonceng gereja berdentang di kejauhan, seolah mengabarkan waktu terus berjalan dan saya tidak bisa lama-lama di tempat ini. Tetapi saya justru berbaring di rerumputan memandangi langit biru dan tak ingin beranjak.

2.                 FISHERMEN’S BASTION di BUDAPEST
Pemandangan Budapest dari Fishermen’s Bastion

Budapest merupakan kota cantik yang terletak di Eropa Tengah berbatasan dengan Austria di sebelah barat, Ukraina dan Rumania di timur, serta Serbia dan Croatia di sebelah selatan. Budapest memiliki sejumlah tempat wisata populer yang menjadi daya tarik wisatawan dari seluruh penjuru dunia seperti  Buda Castle, St. Stephen Basilica, jembatan Chain, Geller Hill dan pemandian air panas. Untuk melihat Budapest dari ketinggian saya bisa memilih antara Geller Hill dan Fishermen’s Bastion. Saya lebih memilih Fishermen’s Bastion karena di sekelilingnya terdapat banyak tempat wisata menarik. 

Terletak di kompleks istana Buda, Fishermen’s Bastion memiliki tujuh menara yang menggambarkan tujuh suku Magyar, suku asli Hungaria. Menara pengintai yang dituju banyak wisatawan ini merupakan tempat terbaik untuk melihat panorama tercantik Budapest dari ketinggian. Ada pintu berbayar untuk naik ke menara, tetapi ada juga pintu gratis meskipun sedikit berdesakan dan sempit. Saya memilih pintu gratis karena matahari sangat panas dan tidak ingin berlama-lama di menara. 

Begitu naik ke menara dan mendapatkan tempat kosong untuk melihat kota Budapest dari ketinggian ternyata saya ingin berlama-lama meskipun matahari sangat terik. Tampak di kejauhan gedung parlemen, jembatan Chain dan bangunan-bangunan kuno yang menjulang cantik. Keseluruhan kota tampak ditata rapi sekaligus indah oleh tangan-tangan masa lalu. Saya mengabadikan panorama luar biasa ini sampai lupa bahwa harus bergantian dengan pengunjung yang lain. Seseorang menowel lengan saya dan saya bergeser untuk menepi. Beberapa rombongan kemudian datang dan lokasi itu menjadi berdesakan. Saya memutuskan untuk turun dari menara. Budapest yang cantik dilihat dari ketinggian semakin mempesona.

3.                 MENARA JEMBATAN CHARLES  di PRAHA
Pemandangan sisi lain Praha dari Jembatan Charles
Jika anda menyukai kota yang indah, kuno dan seperti diselimuti misteri, Praha , Republik Ceko adalah tempat yang tepat untuk anda kunjungi.  Banyak tempat wisata menarik di kota ini diantaranya Kastil Praha, Jam Astronomi dan Jembatan Charles. Seperti tujuan saya sebelumnya, saya ingin melihat Praha dari ketinggian. Ada dua tempat yang ingin saya kunjungi untuk melihat Praha dari ketinggian yang pertama adalah menara jembatan Charles.
Jembatan Charles merupakan salah satu jembatan terkenal di Praha yang menjadi tujuan wisata populer para turis.  Jembatan bersejarah ini menghubungkan dua distrik bersejarah di Praha yaitu Old Town dan Lesser Town. Tetapi tujuan saya adalah menaranya. Ada dua menara untuk menjaga akses masuk ke dalam jembatan, satu sisi berada di Old Town dan sisi lainnya di Lesser Town.
Saya berbelok kiri untuk memasuki pintu masuk menara yang kecil. Tidak banyak turis naik ke menara ini karena lokasinya sempit dan berada di ketinggian. Sebagian besar turis lebih suka berjalan menyusuri jembatan Charles.  Tangga naik ke atas menara melingkar dan cukup tinggi sehingga beberapa kali saya berhenti kelelahan. Untuk masuk ke menara paling atas saya harus membeli tiket. Setelah mendapatkan tiket seorang petugas tanpa seragam mempersilakan kami naik ke lantai paling atas.
Selain memperlihatkan beberapa benda bersejarah terkait dengan jembatan Charles dan sejarah pembangunan jembatan Charles, saya naik ke lantai paling atas yaitu atap jembatan. Atap jembatan ini terbuat dari kayu, dan terdapat tempat untuk melihat pemandangan Praha di kejauhan. Dari beberapa sisi atap, saya bisa melihat orang-orang lalu lalang menyeberangi jembatan Charles, kota tua di kejauhan dan gereja di bagian lain. Menara jembatan Charles menyajikan pemandangan yang menarik dan sayang untuk dilewatkan.
4.                 SKY GARDEN di LONDON
Pemandangan London dari Sky Garden
Banyak hal bisa dilakukan di London seperti mengunjungi museum, berjalan kaki sepanjang tepi sungai Thames, mengunjungi pasar lokal dan tentu saja tempat-tempat wisata yang sangat terkenal seperti Buckingham Palace, Tower Bridge, Tower of London dan The Shard.  Tetapi saya masih melanjutkan untuk mencari tempat tinggi untuk melihat keseluruhan kota dari ketinggian. Maka saya memutuskan untuk mengunjungi Sky Garden.
Sky Garden terletak di Gedung Walkie Talkie. Bangunan ini disebut Walkie Talkie karena bentuknya mirip dengan walkie talkie. Untuk naik ke Sky Garden kita hanya perlu mendaftar di situsnya kemudian mendapat tiket untuk naik ke atas. Dengan membawa bukti pendaftaran, kita harus datang sesuai waktu yang ditentukan. Untuk pengunjung dari negara lain harus mempersiapkan passport untuk verifikasi data. Setelah pemeriksaan security, saya kemudian memasuki lift dan naik ke Sky Garden.
Di lantai paling atas gedung Walkie Talkie ini terdapat taman indoor yang cantik yaitu Sky Garden.  Beberapa restoran dan kafe juga ada di taman ini.  Kita bisa melihat pemandangan kota London melalui kaca bening yang melingkupi Sky Garden ini. Tak hanya itu di dalam Sky Garden kita juga bisa berjalan-jalan ke bagian atas melalui tangga di mana banyak orang-orang duduk menikmati suasana sambil memandang panorama kota London.
5.       DANCING HOUSE di PRAHA
Pemandangan Praha dari The Dancing House. Foto by : Dita Anggrawati
Selain melalui menara Jembatan Charles, saya ingin menikmati panorama kota Praha dari tempat lain yaitu Dancing House atau Rumah Menari.  Bangunan ini dulu digunakan sebagai kantor namun sekarang berubah fungsi menjadi hotel.
Bangunan ini  disebut Dancing House atau Rumah Menari karena bentuknya yang melengkung seperti tubuh seseorang yang sedang menari. Gedung ini dibangun pada tahun 1994 dan selesai tahun 1996 dengan nama awal Fred and Ginger yang berasal dari dua nama penari terkenal.
Tujuan saya ke Dancing House bukan hanya untuk melihat arsitektur kontemporernya yang menarik melengkapi gereja dan bangunan tua di Praha, tetapi juga ingin melihat Praha dari atas Dancing House. Kita bisa naik ke bagian paling atas Dancing House dan menikmati pemandangan kota Praha dari ketinggian tetapi harus membeli minuman atau makanan di kafe yang terdapat di lantai paling atas itu.  Jika tidak membeli minuman atau makanan maka kita tidak diperbolehkan masuk.
Dari tempat terbuka melengkung yang dibatasi kaca di lantai paling atas Dancing House kita bisa menikmati kastil Praha dan pemandangan kota Praha yang indah. Memang sedikit berebut untuk mendapatkan lokasi foto yang bagus karena tempatnya yang sempit, tetapi pemandangan yang kita lihat dari tempat ini tidak mengecewakan. Sambil menikmati minuman dingin dan bercengkerama dengan sahabat, para pengunjung bersantai di tempat ini menunggu matahari tenggelam. Kota Praha seperti menciut dalam renggaman tanpa mengurangi keindahannya. ***

Inggris : Pengalaman Lengkap Menjadi Harry


“Mimpi-mimpi manusia serupa sihir saat berani mewujudkannya.”

Selama dua puluh tahun terakhir, Harry Potter hidup di benak penggemarnya.  Penyihir fiksi hasil imajinasi JK. Rowling ini berhasil menyihir seluruh dunia. Sejak buku pertama terbit  “Harry Potter and the Philosopher’s Stone” tahun 1997, enam buku berikutnya selalu ditunggu penggemarnya. Buku serial Harry Potter itu meledak di pasaran dengan penjualan 450 juta kopi dan di terjemahkan ke 73 bahasa di seluruh dunia. Tak hanya Harry Potter yang memikat para penggemar tetapi juga kedua sahabatnya, Ron Weasley dan Hermione Granger.  Petualangan mereka juga diabadikan dalam film. Tak hanya itu, setelah buku dan filmnya selesai, jejak-jejak sihir Harry Potter dan kedua sahabatnya masih diburu untuk dikunjungi sebagai tempat wisata.  Sebagai salah satu penggemarnya, saya melakukan perjalanan ke Inggris khusus untuk menyusuri jejak sihir Harry Potter. Anda penggemar Harry Potter juga? Jika ya, pastikan mengikuti perjalanan saya menyusuri jejak sihirnya.
THE ELEPHANT HOUSE EDINBURG
Sebelum kita menemukan jejak sihirnya, ada baiknya kita mencari tempat kelahiran Harry Potter. Menjelang jam makan siang, saya sudah berdiri antre di depan The Elephant House, salah satu kafe di jantung kota Edinburg-Skotlandia, Inggris, yang diklaim sebagai tempat kelahiran Harry Potter.  Pada bagian depan kafe terpampang tulisan “The Birthplace of Harry Potter”.  Menurut informasi, JK. Rowling menulis dua buku serial Harry Potter, The Chamber of Secrets dan The Prisoner of Azkaban di kafe ini. Tak heran banyak turis manca negara yang penasaran melihat tempat ini.
The Elephant House
Setelah mengantre lima belas menit, saya memasuki bagian dalam kafe. Kafe ini tampak sederhana namun artistik.  Meja dan tempat duduknya tampak sudah tua namun terawat dengan baik. Saya melewati dinding yang menampilkan kliping berita kesuksesan JK.Rowling dan mendapatkan tempat duduk tepat di sebelah meja JK. Rowling menulis novelnya dengan menghadap kastil Edinburg.  Sebenarnya saya ingin duduk di tempat itu, tetapi waktu saya datang meja itu sudah dipesan. Selama saya berada di kafe, saya perhatikan meja itu nyaris seperti meja keramat. Tidak pernah kosong dan terus menerus dalam kondisi dipesan. Para pemesan bergilir datang menempati meja itu, mengerjakan sesuatu sambil memandang kastil Edinburg di kejauhan. Mungkin mereka berharap akan mendapatkan inspirasi yang dapat mengubah hidupnya seperti inspirasi yang didapatkan JK. Rowling.  
Meja JK Rowling di The Elephant House
 
The Elephant House yang berlokasi di 21 George IV Bridge, Edinburg EH1 1EN, Inggris ini pertama kali dibuka pada tahun 1995 dengan menyajikan menu breakfast, lunch dan dinner.  Selain itu mereka juga menyediakan teh, kopi, wine, bir dan beberapa macam kue. Kafe ini buka setiap hari, tetapi saya sarankan anda tidak datang pada waktu jam makan siang, karena akan mendapati antrean yang cukup panjang baik turis lokal maunpun mancanegara. 
Kliping kesuksesan JK. Rowling
 
Saya mencoba kopi dan kue yang direkomendasikan oleh pelayan kafe tetapi rasanya tidak begitu istimewa.  Tidak hanya JK. Rowling yang menulis novel di kafe ini, tetapi penulis terkenal lain seperti Ian Ranking penulis novel Rebus dan Alexander McCall-Smith penulis The No.1 Ladies Detective Agency juga menulis novelnya di kafe ini.  Penulis-penulis terkenal ini telah menjadikan The Elephant House sebagai sumber inspirasi yang banyak dikunjungi para turis lokal maupun mancanegara.
VICTORIA STREET DAN THE BALMORAL HOTEL EDINBURG
Setelah perceraiannya tahun 1993, JK. Rowling pindah ke Edinburg, Skotlandia. Pada masa sulit inilah JK. Rowling mengawali menulis bab awal serial Harry Potter. Tak mengherankan jika banyak tempat di Edinburg yang menjadi inspirasi ceritanya.  Salah satunya adalah Victoria street yang menjadi inspirasi Diagon Alley, sebuah pusat pertokoan tempat Harry Potter berbelanja berbagai macam peralatan sihir. Victoria street tidak jauh dari The Elephant House dan terletak di persimpangan depan gedung National Library of Skotlandia.
Salah satu toko inspirasi untuk Diagon Alley
 
Saya berbelok ke arah kanan dari jalan utama dan mulai menyusuri Victoria street. Tampak gedung-gedung kuno yang eksotis menjulang dan bagian depan toko yang berwarna-warni. Saya membayangkan tiba di sini menggunakan bubuk floo, salah satu alat transportasi di dunia sihir dan tersesat ke kawasan kumuh di belakang Diagon Aley seperti Harry Potter saat pergi belanja bersama keluarga Ron Wesley.  Ada satu toko yang menjual peralatan Harry Potter dengan tata ruang yang unik seperti di film Harry Potter. Saya memasuki toko dan menemukan berbagai peralatan Harry Potter seperti tongkat sihir, kartu pos, sal, peralatan tulis, globe dan benda-benda unik lainnya. Saya juga menemukan kotak di bawah tangga yang menjadi kamar Harry Potter.
Tak hanya Victoria street yang menjadi jejak sihir Harry Potter di Edinburg, tetapi The Balmoral Hotel juga menjadi jejak penting yang sering dikunjungi para penggemar Harry Potter. Di kamar suite nomor 552 Hotel Balmoral, JK. Rowling menyelesaikan buku terakhir Harry Potter The Deathly Hallows.  Sejak salah satu tayangan dokumenter menampilkan tempat kamar 552 Hotel Balmoral sebagai tempat JK. Rowling menyelesaikan serial Harry Potter para penggemar mulai antre memesan kamar yang harganya fantastis itu. Salah satu informasi menyebutkan harga kamar itu 1000 pounsterling per malam.  Kamar itupun kemudian diberi nama Rowling Suite.
CHRISH CHURCH  KATEDRAL UNIVERSITAS OXFORD
Kesuksesan novel Harry Potter juga diikuti kesuksesan film-film-nya. Para penggemar film Harry Potter pasti tidak asing dengan The Great Hall, tempat Harry Potter dan sahabat-sahabatnya pertama kali menghadapi topi seleksi untuk masuk ke asrama Gryffindor, Slytherin, Ravenclaw atau Hufflepuff. Di hall ini pula, biasanya para siswa sekolah sihir Hogward berkumpul untuk makan malam, menerima paket dari keluarga masing-masing, tempat Dumbledor menyampaikan pengumuman-pengumuman penting dengan menyalakan lilin-lilin terbang di atas langit-langit ruangan.  Satu tempat yang menjadi inspirasi The Great Hall adalah Dining Hall yang berada di Chrish Church katedral, Universitas Oxford.
 

Halaman dalam Chrish Church

Universitas Oxford merupakan perguruan tinggi berbahasa Inggris tertua di dunia. Menurut data, universitas ini sudah didirikan sejak abad ke 11, namun karena kelemahan dokumentasi sejarah, tidak diketahui kapan tepatnya universitas ini didirikan.  Suhu menunjukkan angka 10 derajat saat saya melangkah keluar stasiun. Jaket tipis yang saya kenakan tidak dapat melindungi tubuh tropis saya yang menggigil. Tetapi udara dingin itu tidak menghalangi keinginan saya yang besar menyusuri Oxford.
Dining Hall
Di dalam stasiun ada counter yang menawarkan beberapa paket tour  keliling Oxford. Tapi saya memilih berjalan kaki menyusuri kota tanpa menggunakan paket tour. Bangunan-bangunan kuno bergaya Victoria yang unik dan megah sangat menarik untuk diabadikan dalam kamera.  Saya berjalan mengikuti arus mahasiswa yang hilir mudik ke kampus dan beberapa rombongan studi tour dari berbagai manca negara. Meski ada bus dan mobil di jalanan, tetapi sebagain besar orang memilih menggunakan sepeda.  Setelah melewati kawasan yang ramai dengan pertokoan dan menikmati band jalanan, saya menemukan peta yang terpampang di pinggir jalan.  Saya mengecek peta dan Chrish Church katedral masih sekitar dua ratus meter dari tempat saya berdiri.
Chrish Church adalah satu-satunya gereja yang tergabung di dalam lingkungan kampus Universitas Oxford. Setelah menjadi lokasi syuting pembuatan film Harry Potter, pengunjung gereja itu meningkat drastis. Tujuan utama mereka adalah The Dining Hall yang menjadi inspirasi The Great Hall yang ada di film Harry Potter. Pengunjung dari berbagai manca negara ingin melihat secara langsung lokasi pengambilan gambar film Harry Potter.  Ketika saya tiba di depan gereja, antrian sudah mengular panjang. Lima belas menit antre, tiba giliran saya membeli tiket dan melewati pemeriksaan security. Saya kemudian dipersilakan masuk ke areal gereja.
 

Mahasiswa yang berseragam seperti Harry Potter

Areal Chrish Church sangat luas dan saya memilih untuk langsung ke Dining Hall.  Pengunjung tampak terpesona melewati bagian-bagian bangunan kuno Victoria yang megah dan cantik. Setelah menaiki tangga, sampailah saya di depan The Dining Hall. Karena antrean banyak, petugas mengatur jumlah orang yang masuk ke dalam The Dining Hall. Dan tibalah giliran saya memasuki Dining Hall.
Arus pengunjung perlahan memasuki Dining Hall sambil terus memotret setiap sisi Dining Hall. Ruangan ini benar-benar mirip dengan The Great Hall di film Harry Potter.  Tata letak meja panjang dan kursi, peralatan makan dan foto-foto yang terpasang di dinding. Bahkan pada bagian depan tempat para guru dan kelapa sekolah Hogward juga memiliki kesamaan.  Sambil berjalan memutar, para pengunjung yang kebanyakan penggemar Harry Potter mengabadikan moment kunjungan mereka seolah mereka benar-benar berada dalam situasi malam malam di sekolah sihir Hogward.
Tak hanya The Dining Hall yang menjadi inspirasi film Harry Potter, beberapa tempat di areal Chrish Church juga menjadi lokasi syuting film Harry Potter. Setelah keluar dari The Dining Hall, saya menuju lapangan luas yang menjadi tempat latihan Quidditch Harry Potter dan teman-temannya. Di tempat ini juga pertama kalinya Harry Potter belajar naik sapu terbang dan terbang mengelilingi menara-menara kastil Hogward. Saya membayangkan terbang menggunakan sapu terbang melihat kota Oxford yang cantik dari ketinggian.
STASIUN KING’S CROSS
Jika anda penggemar Harry Potter maka anda pasti mengenal stasiun King’s Cross. Pasalnya di stasiun ini pertama kalinya Harry berangkat ke sekolah sihir Hogward dengan menembus dinding platform 9 ¾.  Ketika memasuki stasiun ini, bangunan kuno bergaya Victoria yang artistik dan megah menyambut saya. Saya merasa benar-benar berada di stasiun tempat Harry Potter berangkat ke sekolah Hogward.
Platform 9 3/4
Saya memasuki stasiun dan mencari lokasi platform 9 ¾.  Kegiatan di dalam stasiun berjalan seperti biasa. Warga lokal pengguna kereta tampaknya sudah terbiasa dengan orang asing yang mencari-cari lokasi Harry Potter menembus dinding sehingga mereka tidak mengacuhkannya.  Baru ketika saya melangkah ke bagian stasiun lebih jauh, saya menemukan kerumunan orang yang mengantre di depan platform 9 ¾. Mereka bukan hendak menembus dinding, tetapi menunggu giliran berfoto dengan keranjang Harry Potter, si Hedwig burung hantu Harry Potter, sal dan berbagai aksesories khas Harry Potter lainnya. Seorang pemandu mengarahkan gaya para penggemar ini dan seorang teman siap memotretnya.
Di samping platform 9 ¾ tampak toko aksesories peralatan Harry Potter mulai dari tongkat sihir, sapu terbang, permen khas Harry Potter dengan berbagai rasa yang unik, burung hantu Harry Potter, sweater, souvenir dan berbagai macam alat tulis dengan gambar khas Harry Potter.  Tampak pengunjung dari berbagai negara berjubel untuk belanja aksesories Harry Potter di toko ini.
WARNER BROSS THE MAKING OF HARRY POTTER
Tidak lengkap rasanya jika kita tidak mengunjungi Warner Bross, studio tempat pembuatan film Harry Potter.  Untuk mendapatkan tiketnya cukup sulit, bahkan dua bulan sebelum berangkat saya hanya mendapatkan satu slot kosong pada bulan itu, sementara tanggal lainnya sudah di pesan. Melalui website resmi Warner Bross, saya memesan tiket masuk tanpa audio dengan harga 37 pounsterling. Harga akan bertambah jika kita menggunakan audio. Mereka juga menyediakan paket tiket dengan jemputan pulang pergi menggunakan bus dari pusat kota London dengan harga yang lebih mahal. 
Warner Bross Studio
Dari stasiun Victoria London, saya naik kereta ke Euston. Keluar dari Euston saya berjalan ke stasiun Pancrass dan naik kereta lagi ke Walford Juction. Dari Walford Juction inilah, bus khusus akan menjemput kami menuju Warner Bross studio. Dengan membayar 3 pounsterling untuk perjalanan pulang pergi, saya naik bus bergambar Harry Potter ini menuju studio Warner Bross. Di dalam bus terdapat video yang menjelaskan tentang seluk beluk Warner Bross sebagai tempat syuting Harry Potter.  Lima belas menit kemudian, bus tiba di depan studio. Tampak konter tiket dan mesin tiket di sisi sebelah kanan. Saya harus menukarkan tiket terlebih dahulu untuk bisa masuk ke dalam studio.
Kamar Harry Potter dibawah tangga rumah Prive Drive terpampang di dekat pintu masuk studio, lengkap dengan tempat tidur mungil. Dan begitu masuk ke dalam studio, kami disambut poster-poster film Harry Potter dan seorang pemandu yang akan mengantar kami keliling studio. Setiap kelompok dibatasi jumlah pengunjungnya sehingga tidak berdesakan. Kami dibawa ke depan sebuah layar dimana tiga pemain utama, Daniel Radcliffe, Emma Watson dan Ruppert Grint menyapa kami dan menceritakan pengalamannya syuting bertahun-tahun di studio itu. Mereka bertiga kemudian mempersilakan kami masuk ke dalam dan otomatis layar tempat ketiga pemain utama itu berubah menjadi pintu besar yang terbuka lebar. Pemandu studio mempersilakan kami masuk melalui pintu itu.
The Great Hall! Teriak pemandu saat pintu terbuka. Pengunjung menjerit senang dan memasuki The Great Hall dengan teratur.  Ruangan ini merupakan replika The Dining Hall di Chrish Church Oxford University.  Keluar dari Great Hall kami mengikuti petunjuk untuk berbelok ke kiri ke bagian kreatif pembuatan film. Tampak foto-foto para kreator terpampang. Mulai dari sutradara, penulis skenario, produser, penata gambar dan bagian-bagian penting lain dalam pembuatan film Harry Potter. Tidak jauh dari situ tampak rancangan kostum yang dikenakan para pemain, make up, makanan palsu bahkan lilin yang bisa beterbangan saat malam malam di Great Hall. 
Hogward Express
Saya terkagum-kagum melihat studio itu.  Semua lokasi dalam film dibuat dengan detail dan tampak seperti yang sebenarnya. Tangga berjalan, lukisan Nyonya Gemuk, kantor Dumbledore, ruang kelas ramuan Severus Snape, labu-labu di depan rumah Hagrid sampai hutan tempat para laba-laba tinggal  Tombol sihir technologi tampak di beberapa tempat nyaris seperti sihir sungguhan. Ketika saya memencet tombol, otomatis perangkat songket di rumah Ron Wesley akan menjahit sendiri. Begitu juga ketika saya menggerakkan tangan di depan sebuah sensor, maka setrika di rumah Ron Wesley akan bergerak menyetrika baju sendiri. Bahkan laba-laba di tengah hutan buatan itu akan muncul ketika kita menekan tombol yang kemudian disusul suara-suara hutan yang menakutkan.
 Pengunjung yang ingin berfoto sambil terbang menggunakan sapu Harry Potter juga bisa mencoba efek dengan hanya duduk di atas sapu terbang dan sedikit meliuk-liukkan badan. Tampak di layar mereka seperti terbang mengelilingi kota menggunakan sapu terbang. Di tempat yang lain tampak couching cara berduel menggunakan tongkat sihir. Dengan panduan video, pengunjung bisa mengikuti gerakan-gerakan duel ala penyihir.
Kamar Harry Potter dibawah tangga rumah Bibi Petunia
Pada bagian studio yang lain, kami disuguhi rancangan gambar-gambar lokasi syuting yang terpampang di dinding. Tak jauh dari sini tampak maket-maket lokasi syuting mulai dari kantor Dumbledore, rumah Ron Wesley, ruang asrama putra, maket kastil Hogward dan banyak maket lokasi syuting lainnya. Semua rancangan itu sudah pasti melibatkan arsitektur.  Tak kalah menarik adalah replika stasiun King’s Cross dan kereta api Hogward Express yang mengantar Harry menuju sekolah sihir. Kereta ini selalu diliputi asap dan tampak benar-benar hidup seperti yang ada di film. Pengunjung bisa masuk ke dalam kompartemen meskipun kereta ini tidak berjalan. Di bagian belakang tampak kompartemen Harry, Hermione dan Ron dilengkapi dengan patung mereka tengah duduk di dalam kereta.  Sebelum mengakhiri tour kami melewati kantin yang menjual Butterbeer, minuman yang sangat terkenal di serial Harry Potter. Tak jauh dari situ tampak perumahan Privet Drive, Knight Bus dan jembatan di depan kastil Hogward.
Mengunjungi lokasi syuting Harry Potter ini membuat saya benar-benar tersihir. Bukan hanya karena JK. Rowling telah menulis  cerita fiksi yang luar biasa, tetapi saya mengagumi profesionalisme kerja sebuah team produksi film untuk menghasilkan karya yang dahsyat.  Anda ingin tersihir seperti saya? Persiapkan liburan Anda menyusuri jejak sihir Harry Potter. ***
(artikel ini dimuat Jawa Pos 16/09/2017 di rubrik Traveling dan Ucweb)

Bermimpi Keliling Dunia & Mewujudkannya


“Mimpi tanpa tekad untuk mewujudkannya hanya akan menjadi khayalan tidak berguna.”

 

 

Saya di Emirates Stadium Inggris

 

 Sejak kecil saya suka bermimpi. Salah satu mimpi saya adalah keliling dunia melihat lokasi-lokasi dalam buku cerita yang saya baca. Tapi itu sepertinya mustahil. Bagaimana tidak? Keliling dunia itu sudah pasti memerlukan uang yang tidak sedikit. Dalam bayangan masa kecil saya, itu tidak akan mungkin terjadi. Saya hanyalah putri satu keluarga dengan tingkat ekonomi rendah dan tinggal di desa pesisir terpencil dengan akses ke kota terdekat saja susah. Tidak hanya itu, saya juga sakit-sakitan. Diam-diam, saya melupakan mimpi saya.
Saya di museum Louvre Paris
 Tetapi jangan main-main dengan mimpi. Ternyata saat kita belum benar-benar melupakannya, dia tumbuh dalam kepala kita dan mencari jalannya. Di Jakarta, saya bertemu teman-teman yang juga “pemimpi gila” untuk bisa melihat dunia dalam segala keterbatasannya. Dan dari sanalah semua bermula. Dengan keterbatasan biaya dan gaya perjalanan berbiaya minim (tapi tetap aman untuk perempuan) saya mengunjungi 7 negara di Asia Tenggara. Setelahnya saya menulis beberapa artikel dan buku mengenai perjalanan itu. Tak hanya sampai disitu, ternyata mimpi melihat dunia semakin menjadi-jadi, semakin jauh dan semakin jauh. Pada saat banyak masalah, hiburan kami adalah membaca diskusi di group traveler, nonton program jalan-jalan di discovery chanel dan membuat itinerary perjalanan. Semua itu kami lakukan dengan suka cita meskipun kami tidak tahu kapan akan pergi ke tempat tersebut.
Saya di depan kantor PBB Geneva, Swiss
 

 

Hingga suatu malam, saya menemukan promo tiket ke Eropa dengan full board airline yaitu Etihad dan Qatar seharga Rp. 5.5 juta return multicity. Setelah beberapa kali cek dan ricek saya memberitahu teman-teman “pemimpi gila” itu dan membeli tiket multicity, Jakarta-London dan Amsterdam-Jakarta untuk perjalanan tahun berikutnya. Selesai membeli tiket saya bengong. Buat yang sering pergi ke Eropa mungkin perasaan saya ini lebay. Tapi buat orang biasa kayak saya ini agak menakutkan. Benarkah mau pergi sejauh itu? Ya Allah, Eropa kan mahal! Uang dari mana? Bahkan saat itu belum memiliki biaya sama sekali. Tetapi teman-teman bilang, “kita punya waktu setahun untuk mempersiapkannya.” Oke! Bismillah saja!
Saya di Praha
   

 

Maka dalam waktu setahun kami semua berusaha keras menabung, khususnya saya banting tulang dan ngirit habis-habisan demi mewujudkan mimpi itu. Saya bahkan tidak berani memberitahu keluarga dan teman dekat sekalipun tentang mimpi itu. Saya hanya akan memberitahu ketika semuanya sudah jelas bisa berangkat. Kami merencanakan akan mengunjungi tujuh negara dan delapan kota yaitu : Inggris (London dan Edinburg/Skotlandia), Paris, Geneva Swiss, Austria Vienna, Budapest, Praha dan Amsterdam dalam satu bulan.  Dan mulailah kami berburu informasi, tiket promo bus atau kereta untuk sambungan antar negara hingga hunting hostel dan penginapan murah tapi aman. Kami membeli tiket bis dan kereta tiga bulan sebelum keberangkatan melalui web GOEURO dan STUDENT AGENCY dengan harga promo 50% hingga 25%. Sedangkan hostel dan Airbnb kami pesan mendekati keberangkatan karena menunggu approval visa.

 

Saya di museum Mozart Vienna Austria
Tidak seru kalau sebuah perjalanan tidak diawali dengan drama. Dan persoalan visa ini benar-benar drama abis-abisan. Kami membutuhkan dua visa untuk keliling Inggris dan Eropa, satu visa UK dan satu lagi visa scengen. Semua persyaratan dan pengajuan visa kami lakukan secara mandiri. Isian formulir visa UK yang ada di website itu nyaris seperti wawancara kerja yang njlimetnya parah sehingga saya harus simulasi melakukan pengisian di lembar kertas sebelum mengisi di websitenya. Tetapi bagusnya, waktu kami mengisi formulir visa UK, ada pilihan formulir baru yang lebih sederhana. Dan kami memilih formulir baru itu. Begitu bikin janji temu pengajuan berkas melalui website, ternyata full booking hingga dua minggu berikutnya dan kami mendapatkan tanggal yang mepet keberangkatan. Sementara visa scengenpun belum kami urus. Kami mulai panik karena petugas bilang, paling cepat visa akan keluar 14 hari, tetapi tidak pasti karena sedang ramai dan bahkan bisa sebulan. Saya lemas. Bagaimana ini? Semua tiket sambungan antar negara sudah dipesan. Tetapi kemudian saya pasrahkan saja, kalau takdirnya berangkat juga pasti bisa berangkat. Akhirnya berkas kami masukkan semua dan kami menunggu dengan cemas.
Saya di tepi sunga Danube Budapest
 

 

Sembilan hari kemudian seorang teman saya mendapatkan email pemberitahuan dari VFS UK bahwa visa kami sudah dapat diambil. Waktu mengambil visa saya dan teman-teman gemetaran parah. Belum pernah sepanik ini mengurus visa. Tetapi alhamdulillah visa kami berlima semuanya lolos. Tinggal mengurus visa scengen. Begitu membuat janji temu dengan VFS Belanda, janji temu semuanya sudah full booking sampai tanggal 4 bulan depan. Kembali kami panik karena kami akan berangkat tanggal 4. Akhirnya kami memakai fasilitas premium longue untuk janji temu, dengan biaya lebih mahal untuk bisa mendapatkan janji temu dan memasukkan berkas lebih awal.  Dengan premium longue-pun kami baru bisa mendapatkan janji temu seminggu kemudian dengan asumsi visa akan selesai tepat tanggal 4.
Saya di Belanda
 Begitu bertemu dengan petugas untuk memasukkan berkas visa scengen, petugas bilang bahwa kemungkinan visa akan jadi lewat tanggal waktu berangkat karena kondisinya benar-benar sedang ramai. Kami bingung, karena kalau lewat tanggal berangkat kami harus membeli tiket baru dan menghanguskan semua tiket sambungan antar negara karena itinerarynya bergeser. Pilihannya hanya dua, memasukkan berkas dengan resiko membeli tiket baru atau tidak memasukkan berkas dengan resiko gagal mengunjungi enam negara lainnya yang menggunakan visa scengen. Setelah diskusi dan mikir, akhirnya kami memutuskan untuk memasukkan berkas dan mengambil resiko pertama. Saya malah berpikir kalau ini gagal, mungkin memang belum waktunya pergi ke sana.
Saya di Edinburg Skotlandia
 

 

Dan… kami semua pasrah dalam doa. Agak lebay, tapi begitulah kenyataannya. Saya bahkan sudah ikhlas kalau memang tidak jadi berangkat. Tetapi tujuh hari kemudian, (beberapa hari sebelum kami berangkat), visa scengen sudah jadi dan bisa diambil. Saya yang cengeng menangis haru.  Akhirnya kami bisa berangkat melihat dunia lebih jauh lagi!  Kemudian saya percaya, semua hal berawal dari mimpi. Tetapi mimpi tanpa tekad untuk mewujudkannya akan menjadi khayalan tidak berguna. *

Beijing : Cahaya Diantara Warna Merah

“Focus on the journey not the destination.”

 

Tiananmen square

Matahari  baru menggeliat bangun saat aku menaiki eskalator stasiun Qianmen. Sinarnya hangat menerpa tubuhku yang semalam kedinginan menginap di bangku-bangku tidak nyaman bandara Beijing. Warga lokal berjalan tergesa-gesa memasuki stasiun, hendak berangkat beraktivitas. Sebagian wisatawan menyeret kopernya tertatih-tatih dengan wajah yang letih. 

Pendestrian Tiananmen saat malam

Penginapanku di kawasan backpacker tidak jauh dari stasiun Qianmen.  Lokasinya sangat strategis karena berdekatan dengan stasiun dan Tiananmen Square. Area Qianmen membuatku langsung jatuh cinta. Bangunan-bangunan tradisional Tiongkok masih berdiri kokoh dijadikan hostel, toko souvenir, restoran-restoran dan juga tempat tinggal. Motor listrik berseliweran tetapi tidak membuat gaduh kecuali sedang mengklakson. Aku seolah sedang berada di lokasi film-film kungfu China yang aku tonton. Tempat menginapku pun bangunannya tradisional dan unik.

“Kita istirahat saja dulu beberapa jam sebelum menjelajah sekitaran Qianmen,” kata temanku.

 
Aku menyetujuinya. Tujuh jam perjalanan Jakarta-Beijing sangat meletihkan karena kami bermalam di bandara yang dingin. Sebelum menikmati jalanan kota Beijing, aku merebahkan tubuhku di pembaringan hostel. Tak sampai sepuluh menit aku terlelap.

***

Penjaga Tiananmen square

“Here we are! Tiananmen square!” teriak temanku girang.

Tiananmen square adalah alun-alun besar dengan lebar sekitar 500 meter dan panjang 880 meter yang merupakan pusat kota Beijing yang sangat terkenal. Ada empat pintu masuk utama Tiananmen square yaitu melalui utara, selatan, barat dan timur.  Alun-alun ini terbuka hingga tengah malam dengan pemeriksaan keamanan di setiap pintu masuk bagi pengunjung.

“Ri, minggir Ri, ada barisan mau lewat!” temanku mendorongku menepi.

Tampak sekelompok tentara berbaris melintasi alun-alun, sementara sebagian tentara yang lain berjaga di setiap sudut alun-alun. Ada beberapa tempat bersejarah yang bisa kita lihat di sini seperti Museum Nasional China, Makam Mao Zedong, Balai Agung Rakyat dan Monumen Pahlawan Rakyat. Pada pagi dan sore hari juga ada upacara pengibaran dan penurunan bendera. Tak hanya tempat bersejarah, di alun-alun ini juga ada penjual makanan dan minuman. Kami membeli minuman sebelum menyeberang jalan bawah tanah menuju Forbidden City.

“Jangan terlalu banyak minum,” cegah temanku ketika aku membuka botol minuman.

 
Bagi sebagian orang yang biasa tinggal di tempat bertoilet bersih, maka menggunakan toilet-toilet umum di Beijing sebaiknya dihindari. Lebih baik menggunakan toilet di hotel sebelum berangkat dan setelah pulang dari jalan-jalan. Karena akan membuat sedikit trauma dengan kondisinya yang jorok bahkan sebagian orang tidak menutup pintu toilet saat buang air.

“Sssttt! Lihat tuh kebanyakan anak kecil celananya bolong,” celetuk temanku lagi.

 
Dan begitu aku menoleh, tampak ibu dari anak itu membiarkan anaknya buang air di mana saja tanpa menggunakan air untuk membersihkannya. Dengan kondisi toilet yang horor ini, membuat aku dan teman-teman mengurangi jatah minum sehingga hampir dehidrasi.  

Forbidden City

Forbidden city atau Kota Terlarang merupakan komplek istana seluas 720.000 m2, yang dibangun sejak 1406 hingga tahun 1420.  Ada sekitar 800 bangunan dan 8000 ruangan. Warna merah, emas dan ukiran khas China mendominasi bangunan yang berdiri megah dan kokoh itu. Pada masa pemerintahan dua dinasti terakhir di China yaitu Dinasti Ming hingga Qing, sekitar 500 tahun, komplek istana ini tertutup untuk umum sehingga di sebut Kota Terlarang. Pada tahun 1987, Unesco menetapkan komplek ini sebagai situs warisan dunia. Meskipun tidak lagi ditempati kaum bangsawan, tetapi tempat ini terjaga dengan baik dan menjadi tujuan wisata yang sangat populer di Beijing. Untuk mengelilinginya diperlukan waktu tiga jam dari pintu masuk gerbang selatan di dekat Tiananmen square dan pintu keluar bagian utara. Aku memutuskan tidak berjalan sampai ujung karena kaki sudah mulai kram belum sempat istirahat panjang sejak perjalanan dari Jakarta. Belum lagi dehidrasi yang mulai mengintai tubuhku. 

Wangfujing street

Hari menjelang malam ketika aku menyusuri Wangfujing street mencari makanan halal tetapi malah tersesat masuk pasar dan membeli makanan halal yang sangat mahal. Setelah menyesal kehilangan banyak Yuan untuk seporsi makanan yang sangat tidak enak, kami kembali ke hostel melewati Qianmen street yang semarak. Pendestrian ini sangat menyenangkan untuk berjalan-jalan. Pertokoan, kafe-kafe bahkan pasar yang berjualan souvenir bisa kami temukan di salah satu gangnya. Kakiku mulai kram lagi dan aku memutuskan kembali ke hostel untuk istirahat.

***

Pagi baru saja dimulai saat kami tiba di stasiun subway Dongzhimen. Orang-orang lokal Tiongkok berjalan tergesa mengejar subway menuju tempat kerja, mengantri panjang di depan  pintu kereta dan berebut lebih dulu menaiki eskalator. Kami memilih exit B kemudian mencari terminal bus Dongzhimen yang terletak sekitar 100 meter dari pintu keluar subway.


Menurut informasi, ada beberapa bus yang bisa membawa kami ke  The Great Wall gerbang Mutianyu antara lain bus nomor 980, 915, 915 express, 916 dan 916 express. Seorang wanita petugas terminal berseragam biru dengan bahasa Inggris yang lumayan lancar menyarankan kami naik bus nomor 916 express yang melewati jalan tol sehingga lebih cepat dan turun di halte wilayah Huairou.  Karena tidak memiliki Beijing Transportation Card kami dikenakan biaya CNY 15, sedangkan pemegang kartu dikenakan biaya CNY 12 untuk perjalanan bus dari terminal Dongzhimen hingga wilayah Huairou. 

Bersama warga lokal Tiongkok yang sedang menjalankan aktivitas hariannya dan bercengkerama ramai di bus dengan teman-temannya, kami menikmati perjalanan menuju distrik Huairou, sekitar 70 kilometer dari kota Beijing tempat gerbang Mutianyu, The Great Wall berada. 

The great wall

 
The Great Wall atau Tembok Besar Tiongkok merupakan sejarah penting bagi negeri Tiongkok. Tembok yang dibangun ratusan tahun silam pada masa Dinasti Ming ini memiliki panjang sekitar 8851 kilometer dan pada tahun 1987 bangunan ini masuk sebagai salah satu situs warisan dunia Unesco. Ada empat gerbang untuk memasuki Tembok Besar Tiongkok yaitu melalui gerbang Badaling, Mutianyu, Jinshaling dan Simatai.  Gerbang Badaling merupakan gerbang yang paling populer dikunjungi turis karena jaraknya paling dekat dari kota Beijing, memiliki tanjakan yang relatif mudah dilewati dan mudah dijangkau dengan transportasi umum. Gerbang Badaling telah banyak direstorasi dan selalu ramai pengunjung. Sementara gerbang Jinshaling dan Simatai merupakan gerbang yang letaknya paling jauh dari kota Beijing dan memiliki tanjakan yang sulit dilalui. Gerbang Jinshaling dan Simatai lebih cocok untuk mereka yang memiliki stamina kuat dan penggemar hiking. 

Here we are! My dream come true!

Setelah mempertimbangkan berbagai hal, kami kemudian memilih memasuki Tembok Besar Tiongkok melalui gerbang Mutianyu. Selain tidak terlalu ramai pengunjung, gerbang Mutianyu lebih otentik dan bisa dijangkau menggunakan transportasi umum. 

Hampir jam 10 pagi saat penumpang lokal yang duduk di sebalah temanku  dengan menggunakan bahasa isyarat menyarankan agar kami turun di salah satu halte Huairao. Dari halte tersebut kami masih harus menyewa mobil untuk sampai gerbang Mutianyu. Tetapi begitu kami turun dari bis, kami dikerubungi empat sopir taksi yang gayanya setengah memaksa kami untuk naik taksinya. Temanku mencoba bertanya dengan bahasa Inggris tapi tak satupun mereka paham bahasa Inggris. Mendadak kami takut karena salah satu dari mereka kasar dan memaksa.

“Kita cari minimarket dulu aja yuk,” kata temanku menarik lenganku.

 
Aku berjalan menghindar dari empat sopir taksi itu, tetapi mereka malah mengikuti kami. Kami jadi bingung dan ketakutan. Tiba-tiba ada seorang cewek lokal yang cantik dan memerhatikan kami. Ia hendak naik ke boncengan motor yang dikendarai wanita paruh baya sepertinya ibunya.

“May i help you?” tanyanya dengan bahasa Inggris yang fasih dan jelas di dengarkan.

Yesss!!! Dunia seketika menjadi terang mendengar cewek cantik itu bisa berbahasa Inggris. Kami segera mengemukakan masalah kami. Cewek itu menjelaskan bahwa untuk sampai gerbang Mutianyu memang harus menyewa mobil mereka. Dan ia menawar harga pulang pergi ke sopir-sopir taksi itu dengan harga terendah yang ia ketahui sebagai orang lokal. Salah satu sopir yang umurnya paling tua dan wajahnya baik bersedia mengantar kami. Aku dan temanku mengucapkan terima kasih tak terhingga pada cewek cantik yang sudah menolong kami itu. Sayang sekali, aku tidak menanyakan siapa namanya dan bertukar kontak.
Gerbang Mutianyu
 

Satu jam kemudian, kami sudah sampai di gerbang Mutianyu. Suasana tidak terlalu ramai dan udara sangat sejuk. Kami membeli tiket cable car untuk naik ke tembok besar dan turunnya menggunakan kereta luncur atau toboggan dengan biaya CNY 100. Tetapi begitu antri cable car aku mulai merasa takut. Bagaimana tidak? Cable car yang aku pilih ternyata tanpa dinding kaca sama sekali. Begitu giliran kita masuk cable car, kita harus berdiri di tempat dan terdorong dengan keras masuk ke dalam cable car. Petugas kemudian mengunci kami dan cable car berjalan ke atas tanpa sekat apapun.

“Bagaimana kalau tiba-tiba ada angin kencang nabrak kita?” tanya temanku sambil tertawa saat cable car mencapai puncak tertinggi.
Cable car terbuka

Ia tahu aku sangat ketakutan. Sebagai penderita phobia ketinggian dan claustrophobia, aku ingin mengurangi ketakutanku pada ketinggian setiap kali traveling dengan mencoba hal-hal yang menantang. Tetapi keringat dingin mengaliri pelipisku. Temanku mengalihkan ketakutanku dengan mengajak melihat pemandangan di kejauhan.  Dari ketinggian, tembok besar itu terlihat meliuk-liuk bagaikan ular naga yang sedang tidur. 

Begitu aku mulai menikmati naik cable car ternyata sudah harus turun. Petugas di bawah meneriaki kami agar kami melompat karena lintasannya sangat cepat dan susul menyusul. Begitu pintu terbuka kami melompat keluar. Dan hufff! Aku oleng hampir jatuh. Untung temanku memegangi tanganku. 

Kami segera mencari pintu masuk tembok besar dan mulai mendaki. Benar seperti yang pernah aku baca, tembok besar China gerbang Mutianyu terlihat lebih otentik. Tidak banyak pengunjung sehingga lebih tenang dan tidak  berdesakan saat mendakinya.  Masih banyak pepohonan sehingga tembok raksasa ini seolah meliuk-liuk di tengah hutan.  

The great wall

 
Tembok besar gerbang Mutianyu menggunakan batu granit dengan tinggi 8 meter dan lebar 5 meter. Terdapat menara suar yang pada masanya digunakan untuk menyampaikan pesan militer dengan cara membuat sinyal asap di siang hari dan api pada malam hari. Tembok besar menjadi salah satu bagian penting dari sejarah arsitek China yaitu untuk membatasi wilayah perkotaan dan perumahan, batas kepemilikan lahan, penanda perbatasan dan jalur komunikasi untuk menyampaikan pesan.

“Bagaimana kalau kita istirahat satu jam di sini?” ajakku pada teman-teman.

 

Mereka menyetujuinya, lagipula kami menyewa mobil selama empat jam pulang pergi. Kami segera mencari tempat duduk yang nyaman, lalu membuka bekal makanan dari hostel yang aslinya makanan dari Jakarta. Puding jelly, roti dan beberapa botol minuman. 

Turun dari tembok besar kami sudah membeli tiket tobbogan atau kereta luncur. Hanya di gerbang Mutianyu yang dilengkapi kereta luncur untuk kembali ke pintu masuk. Awalnya aku membayangkan kami akan naik kereta luncur bersamaan dan kenyataannya naik sendiri-sendiri. Tanganku langsung berkeringat dingin. Aku ingin berbalik dan membeli cable car saja, tetapi haruskah aku membuang-buang uang? Aku menyeka keringat dingin dan mulai antri di dekat papan luncur. 

Kereta luncur tobbogan sejenis kereta beroda untuk diduduki dan dilengkapi dengan rem. Kereta dapat meluncur sampai 60 km/jam menempuh jarak sejauh 1.6 km diatas lintasan stainless steal. Begitu naik ke atas kereta luncur aku berusaha menyesuikan diri meskipun masih ketakutan. Naik motor saja aku tidak bisa bagaimana naik kereta luncur di atas ketinggian ini?  

Penjual di kawasan the great wall

 Dan benar saja! Sepertinya aku membuat orang-orang di belakangku kesal karena aku bergerak lambat. Aku berusaha menikmati perjalanan menerabas hutan menggunakan kereta luncurku meskipun tanganku berkeringat dingin dan tubuhku gemetar. Orang-orang di belakangku tidak bisa ngebut dan memanjakan adrenalin mereka. Aku tidak peduli meskipun mereka marah, lebih baik aku pelan daripada jatuh ke bawah. Sampai di bawah tanganku dingin dan aku menangis. Ini sangat menyenangkan sayangnya aku ketakutan.

“Lunch! Lunch! Cheap! Cheap!” kata bapak sopir yang mencegat kami di depan restoran. 
Kami menggeleng. Sebenarnya lapar, tetapi tidak yakin makan ditempat yang tidak halal dan sama sekali tidak tahu jenis makanannya karena semua menu berbahasa China. Kami kemudian kembali ke tempat parkir.
“Take a picture, please?” temanku ingin foto bersama di parkiran dengan background lintasan tobbogan di kejauhan.

Bapak sopir segera beraksi mengambil foto kami. Tetapi begitu berada di mobil dan kami memeriksa hasil fotonya, semua foto adalah kaki kami! Ok, good pictures!

***

Belum terlalu sore ketika kami tiba kembali di terminal bus Dhongzhimen. Hampir seharian tidak makan kami memutuskan untuk langsung ke masjid Niujie. Menurut informasi, di sekitar masjid Niujie banyak makanan halal. Tetapi  dari terminal bus Dhongzhimen kami tidak menemukan nomor bus ke distrik Xuanwu. Kami harus naik subway kemudian menggantinya dengan bus kota. Baiklah, karena sudah sangat lapar kami buru-buru masuk ke dalam stasiun subway dan mencari line menuju distrik Xuanwu.Tiga puluh menit kemudian setelah naik subway dan berganti bus kami sampai di distrik Xuanwu. Sepanjang jalan sekitar masjid tampak pertokoan dan restoran halal. Kami memilih salah satu restoran yang ada di paling ujung. Awalnya kebingungan mencari tempat masuknya, tetapi pelayan restoran menunjukkan kami pintu masuk. Di dalam restoran tampak luas dan nyaman. Kami memilih tempat di pojok agar bisa mengamati lalu lalang orang yang masuk ke dalam restoran. 

Pelayan tidak bisa bahasa Inggris, sehingga kami hanya menunjuk menu yang kami inginkan. Nasi, sate domba, kuah sup dan teh hangat. Pengunjung restoran kebanyakan warga lokal. Aku melihat gadis mengenakan jilbab sedang makan di salah satu meja dan tersenyum kepadaku. Aku membalas senyumnya seraya mengangguk. 

Tak lama makanan datang dan kami menyantapnya dengan lahap. Ternyata makanan yang kami pesan kurang untuk berempat. Aku masih kelaparan, tetapi mau pesan lagi kuatir keburu sore ke masjid. Berharap pulang dari masjid bisa makan lagi di tempat ini.

Dari restoran tempat kami makan, masjid Niujie ada di seberang jalan. Kami menyeberang dan menyusuri sepanjang jalan Niujie. Tampak sebuah masjid berarsitektur campuran China dan Arab yang berdiri megah di depan kami. Begitu memasuki gerbang seorang lelaki tua beruban dengan wajah ramah menyapa kami.

“Assalamu’alaikum. Are you from Malaysia?” tanyanya.

“Wa’alaikumsalam. I am from Indonesia,” jawabku.

Wajahnya tampak sumringah. “Oh, Indonesi… come…come…” lelaki tua berambut putih itu mengantarkan kami ke pintu masuk.

 
Sebenarnya masjid sudah tutup bagi wisatawan, tetapi karena kami muslim dan datang dari jauh kami diperbolehkan masuk. Masjid Niujie juga bisa dikunjungi non muslim tetapi harus menggunakan pakaian sopan dan tidak diperkenankan masuk ke tempat ibadah. Aku dan teman-teman masuk lewat samping dan mulai berkeliling. 

Masjid Niujie

  
Masjid Niujie merupakan masjid tertua di Beijing yang dibangun pada 996 pada masa Dinasti Liao (916-1125). Masjid ini menjadi titik awal masuknya Islam di dataran Tiongkok. Populasi muslim terbesar Beijing tinggal di sekitar masjid membentang dari utara ke selatan.

“Tempat sholat perempuan di sebelah sana,” kata temanku menunjuk papan petunjuk.
Tempat sholat perempuan Masjid Niujie

Aku melihat-lihat berkeliling lebih dulu. Beberapa jamaah dan pengunjung tampak duduk di halaman masjid. Sebagian ngobrol, sebagian lagi melamun. Aku jadi ingin duduk melamun memandangi masjid yang unik dan indah ini. Maka aku pun mengambil tempat duduk di halaman berdekatan dengan jama’ah wanita yang sudah tua. Beliau tersenyum melihat aku menghampirinya. Sayang kami tidak bisa saling menyapa karena keterbatasan bahasa. 

Bagian areal dalam masjid

 
Luas kompleks masjid mencakup 6000 meter persegi terdiri dari ruang sholat utama, tempat wudhu, menara dengan paviliun, ruang sholat perempuan dan juga ruang pameran. Karena kami sejak siang belum menunaikan sholat, maka kami segera ke tempat sholat perempuan. Tetapi pintu tempat sholat perempuan terkunci dan tidak ada seorangpun yang bisa kami tanyai. Mungkin karena sebentar lagi malam. Setelah puas berkeliling, kami segera keluar halaman masjid. 

Pintu menara masjid dan saya

 Dari jalan Niujie masjid tua itu berdiri megah. Sudah melewati banyak perjalanan hidup yang berat dan ia masih berdiri kokoh di sana. Warna merah menghiasi setiap sudut Tiongkok. Dan aku melihat cahaya terpancar dari masjid tua Niujie. Menerangi langkahku untuk terus melanjutkan perjalanan.

***

(artikel ini ada dalam buku saya “Keliling Asia Memburu Cahaya” terbitan Grasindo, masih beredar di seluruh toko buku Indonesia)

Xi’an : Cahaya 1000 Tahun

“He who returns from a journey is not the same as he who left.” – Chinese proverb

Kota Xian dari ketinggian tembok kota

Mendengar kata Xi’an, kepala para pejalan akan dijejali bayangan kejayaan Tiongkok masa lampau.  Di ibukota Tiongkok kuno ini terdapat terracotta warrior ; koleksi ribuan patung prajurit penjaga makam yang dibuat pada masa dinasti Qin, tembok kuno yang mengelilingi kota Xi’an, Bell Tower dan Giant Wild Goose Pagoda sebagai bukti kejayaan Tiongkok pada masa lampau. 

Eksotis.  Aura itu menyergap mataku, begitu bus yang kutumpangi memasuki kota Xi’an.  Saat bus melewati jalan menikung di ketinggian, aku terdorong dan oleng ke samping hingga seorang lelaki lokal yang duduk di sebelahku tertawa. Aku membalasnya dengan senyum dan membuang pandang ke jendela kaca bus. “Sian… Sian…” lelaki itu menyentuh lenganku sambil menunjuk-nunjuk tembok yang mengelilingi kota di kejauhan.

Tembok kota Xian

Aku mengajaknya bicara dalam bahasa Inggris tetapi lelaki itu tertawa sambil menggeleng-geleng. Lagi-lagi ia menunjuk tembok tinggi yang mengelilingi kota Xi’an di kejauhan. Aku hanya bisa menangkap isyarat bahwa kami telah memasuki kota Xi’an dengan tanda tembok yang menjulang mengelilingi kota.  Lelaki di sebelahku ini tampak sangat bangga dengan kota tempat ia tinggal. Sayangnya aku tidak bisa bahasa Mandarin sehingga kami hanya berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat tubuh. Tetapi seperti kebanyakan lelaki lokal yang aku temui selama menyusuri dataran Tiongkok, mereka kocak dan siap membantu. 

Matahari tepat di atas kepala saat bus memasuki gerbang tembok kota Xi’an lalu melambat mengikuti arus lalu lintas yang padat.  Bus berbelok ke samping Longhai Hotel. Di samping hotel yang tampak seperti terminal kecil itulah bus airport ini berhenti dan menurunkan penumpangnya.  Lelaki lokal di sampingku melambaikan tangan lalu meninggalkan aku turun dari bus lebih dulu. 

Mencari alamat hostel tempatku menginap di Xi’an ternyata tak semudah dugaan. Memasuki dunia tanpa google sekaligus sebagai fakir wifi aku hanya mengandalkan catatan petunjuk dalam notesku. Dari Xi’an Railway Stasiun mengambil line 2 turun di Bei Da Jie. Tetapi mencari stasiun kereta bawah tanah yang tidak jauh dari tempat kita berdiripun ternyata tidak mudah.  Tidak ada petunjuk Bahasa Inggris dan tubuh yang letih membuat pikiran susah fokus.  Setelah berjalan memutar dan salah arah, akhirnya aku menemukan pintu masuk stasiun yang ternyata tidak jauh dari lokasiku mondar-mandir. Aku menyeret travel bag menuruni tangga stasiun subway dan membeli tiket subway. Setelah mengambil line 2, tiga puluh menit kemudian aku berhasil turun di Bei Da Jie. 

Stasiun Bei Da Jie

Perjalananku semakin lambat karena sejak pagi belum makan. Mencari alamat hostel yang seharusnya mudah sesuai petunjuk tidak juga segera kutemukan. Keluar dari stasiun subway aku menyeret travel bag dengan kepala pusing dan perut keroncongan. Sepertinya harus mencari tempat makan sebelum pingsan di jalan. Tapi di mana? Aku menyadari kesalahan keduaku ; tidak survey lokasi makan halal di sekitar stasiun subway. Sedangkan kesalahan pertamaku adalah ; tidak belajar bahasa mandarin sedikitpun.Baiklah, mungkin sebaiknya melanjutkan perjalanan. Aku berharap menemukan tempat makan halal di perjalanan menuju hostel.

Sesuai petunjuk, dari arah jalan besar aku harus belok ke kanan. Tampak deretan pohon besar yang menaungi sisi jalan sehingga suasana menjadi sejuk dan teduh.  Beberapa sopir angkutan sejenis bajaj ngetem menunggu penumpang. Melihat aku lewat di depannya, mereka menawarkan diri dengan ramah untuk mengantarku. Aku menggeleng dan menolak dengan halus. Tanpa sengaja mataku tertumbuk pada deretan kedai makan di seberang jalan yang hampir semuanya terdapat plang halal di bagian pintu. Aku bersorak kegirangan dan memutuskan menyeberang jalan memasuki salah satu kedai makan itu.  

Kedai makan yang kumasuki ternyata belum buka. Areal kedai tampak kotor dan sedang dibersihkan. Sebagian karyawan wanita mengenakan jilbab menyapu halaman kedai dan sebagian yang lain sedang  sibuk memasak. Sementara karyawan laki-laki yang mengenakan kopyah putih sibuk merapikan bangku-bangku kedai. Aku berniat untuk pindah ke kedai lain, tetapi kedai yang lain juga masih tutup. Sepertinya kedai-kedai ini hanya buka di malam hari.  

Rumah makan muslim yang pemiliknya baik hati memberi kami makanan

 Seorang perempuan tua, mengenakan jilbab warna merah jambu tersenyum ramah menghampiriku. Dan mulailah ia menggunakan bahasa mandarin untuk berkomunikasi. Aku menggeleng-geleng bingung. Tetapi nenek ramah ini seperti memahami kebingunganku. Ia membawakan sepiring roti dan semangkok mie kuah lalu dengan isyarat bahasa tubuh seolah bicara, “kamu mau makan ini?” Lalu aku mengangguk yakin. Seorang wanita berjilbab yang lain membawakan aku segelas air putih sambil mempersilakan aku makan. “Xie…xie.. terima kasih,” hanya itu bahasa mandarin yang paling aku pahami. 

Semangkok mie kuah di depanku masih panas, sementara roti bakpao berwarna pandan menggoda untuk segera kulahap. Aku masih mengira-ngira bagaimana aturan makan roti dan mie kuah di depanku ketika nenek ramah itu mengajariku cara makan roti dan mie kuah. Ia memakan roti terlebih dahulu kemudian mie atau mencampurkan roti ke dalam mie. Tetapi bisa juga sesuai selera.
  
Meski tidak sesuai dengan lidah Indonesiaku, roti dan mie kuah ini lumayan sebagai pengganjal perut. Porsinya terlalu banyak untukku tetapi aku berusaha menghabiskannya. Aku belum tahu budaya setempat tentang makan, tetapi karena pemilik warung ini muslim, aku yakin tidak akan suka melihat orang makan tanpa menghabiskannya.

“Saya akan membayar. Berapa semuanya?” aku nekat bertanya dalam bahasa Indonesia sambil mengeluarkan dompet.

 
Seorang lelaki bertubuh pendek mengenakan kopyah yang sedari tadi sibuk membantu membereskan bangku-bangku kedai menghampiriku dan menggeleng-geleng sambil membuat isyarat tangan tidak usah membayar. Hah!? Tidak usah membayar? Jangan dong, aku sudah makan masa tidak membayar? Aku memaksa memberikan uangku, tetapi lelaki yang ternyata pemilik kedai itu tetap menolak. Ia membuat isyarat menengadahkan tangan ke langit seolah berdoa lalu menangkupkan kedua tangannya di dada sambil tersenyum. Melihat ketulusan di wajahnya, aku tidak memaksa memberikan uangku lagi. 



Keharuan menyeruak di dadaku saat berpamitan dengan pemilik kedai, nenek yang ramah dan semua karyawannya. Menerima kebaikan di tempat asing selalu membuat dadaku bergetar.  Aku merasakan persaudaran muslim yang kuat di tanah ini, bukan karena semata ketulusannya memberi musafir seperti aku makanan gratis, tetapi keramahannya menerima sebagai saudara.

“Xie…xie…” aku agak bergetar mengucapkannya.
Lohas Hostel

 
Perjalanan mencari alamat hostel mungkin masih melelahkan, tetapi semangatku membara karena kebaikan dari pemilik kedai. Aku kembali menyeret travel bag meninggalkan kedai. Berapa gang lagi yang harus kulewati untuk menemukan alamat hostel itu? Tetapi baru lima langkah mataku tertumbuk pada plang hostel yang kucari. Ternyata hostel yang kucari hanya berjarak sekitar duapuluh langkah dari kedai makan itu.  
Pelajaran yang aku dapat hari ini, jangan coba-coba mencari sesuatu dalam keadaan lapar! Sudah pasti mata akan kabur dan otak susah bekerja sehingga plang hostel yang tidak jauh dari pandanganpun menjadi kabur.  Beruntung pemilik kedai yang baik hati itu menyelamatkan aku. Dengan tawa miris, aku bergegas menuju hostel itu.

***

Lohas hostel tempatku menginap cukup nyaman. Meskipun resepsionis berwajah tampan yang menyambut kami bicara bahasa Inggris terbata-bata, tetapi sangat ramah dan penolong. Dari jendela kamar di lantai tiga, aku melihat jalanan riuh oleh lalu lalang motor listrik dan orang berjalan kaki. Sebagian besar mereka mengenakan jilbab dan kopyah. 

Aku terseret masa lalu, membayangkan saat Islam memasuki kota ini. 
Islam memasuki kota Xi’an diperkirakan pada abad ke 7 melalui jalur sutra pedagang Arab dan Persia. Suku Hui yang mendiami kota Xi’an menjadi salah satu etnis terbesar yang memeluk agama Islam.  Muslim Tiongkok tidak selalu melewati masa yang mudah. Pada masa revolusi kebudayaan China dibawah Mao Zedong menjadi teror bagi kamu muslim. Tetapi setelah Mao Zedong mangkat, muslim Tiongkok bisa kembali hidup damai dan membangun masjid-masjid. Menurut informasi yang aku baca ada 10 masjid di kota Xi’an saat ini, salah satunya The Great Mosque atau masjid agung Xi’an yang merupakan masjid tertua di Tiongkok.

Ya, The Great Mosque! Itulah tujuan perjalananku. Aku tak sabar untuk mencari masjid tertua di Tiongkok ini dan merasakan pendar-pendar cahayanya.

***

 

Usai shalat ashar di hostel, aku mengikuti arus orang yang berjalan kaki menuju muslim quarter.  Menurut informasi resepsionis hostel, The Great Mosque tidak jauh dari muslim quarter. Aku berniat sholat maghrib di sana. Sepanjang jalan menuju muslim quarter tampak ramai turis Asia lalu lalang. Penduduk lokal laki-laki mengenakan kopyah, sementara para wanita lokal mengenakan jilbab. Sebagian hilir mudik dengan motor listrik dengan klakson yang mengagetkan pejalan kaki dan sebagian yang lain berjualan di tokonya masing-masing. Semakin mendekati gerbang muslim quarter semakin ramai. 

Muslim quarter

Tiba di persimpangan jalan, tampak gerbang muslim quarter dengan jajaran toko-toko yang ramai pengunjung. Aku memasuki gerbang dan terpesona dengan banyaknya jajanan halal yang berderet di sepanjang sisi jalan. Para turis membeli makanan eceran dan langsung memakannya sambil jalan-jalan menyusuri sepanjang muslim quarter.  Para penjual berteriak-teriak menjajakan dagangannya. Aku merasakan aura yang hangat, dekat dan bersahabat. Melihat minuman berwarna kemerahan yang menggoda aku membeli satu. Minuman yang aku kira teh itu ternyata terbuat dari sari buah-buahan. Rasanya agak asam  tapi enak sekali diminum sore-sore.  

Jajanan di muslim quarter


 Sebagian besar makanan di sepanjang muslim quarter halal. Hampir setiap tempat berjualan makanan memasang plang halal atau halal coret merah yang artinya tidak halal.  Selama aku menyusuri dataran Tiongkok, Xi’an memiliki tempat makanan halal paling banyak. Berbagai makanan dan minuman lokal yang unik dan menggoda selera dijual di sepanjang jalan ini seperti satai domba, gurita goreng, buah-buahan dan berbagai minuman. Roti berisi daging sepertinya menjadi favorit para turis karena antreannya mengular panjang. Tak hanya makanan, sepanjang muslim quarter juga banyak toko yang berjualan souvenir, rempah-rempah, kain khas Tiongkok dan baju. 

Penjual kue di muslim quarter

Aku dan teman-teman terlalu gembira menyusuri muslim quarter  sampai lupa waktu maghrib telah lewat. Aku menemukan plang petunjuk arah ke masjid dan mengikuti jalan itu. Tetapi jalan kecil itu malah membawa kami masuk ke pemukiman penduduk lokal dengan gang kecil yang gelap. Tetapi ada seseorang yang berbaik hati menunjukkan kami arah masjid. Kami segera berbalik arah mengikuti petunjuk itu. 

Tiba di gerbang masjid ternyata sudah tutup. Kami tidak menemukan jalan lain untuk masuk ke dalam masjid. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke muslim quarter.  Perut mulai keroncongan dan kami masuk ke sebuah kedai makan yang khusus menjual dumpling. Karena penjual tidak bisa berbahasa Inggris, kami menunjuk mangkok pembeli untuk memberi tahu makanan  yang kami pesan. Beberapa saat kemudian penjual mengangguk-angguk dan meracik pesanan kami. 

Aku mengedarkan pandangan mengelilingi ruangan di dalam kedai. Banyak wanita-wanita lokal mengenakan jilbab dengan gaya khas mereka. Kulit mereka putih bersih dengan wajah yang kemerahan. Saat menunduk, mereka tampak seperti orang yang tersipu malu. Mataku bertubrukan dengan seorang wanita yang juga sedang memandangku. Kami saling tersenyum dan mengangguk. Seandainya aku bisa berbahasa mandarin, aku sudah menghampiri mejanya dan mengajaknya ngobrol.  Sayangnya kami hanya bisa saling memandang dan tersenyum. 

Dumping Xian

 Selain dumpling, aku memesan satai domba satu tusuk seharga 10 Yuan. Menurut informasi, satai domba ini makanan favorit di muslim quarter selain roti isi daging. Ketika satai itu datang aku terpana melihat tusukan besar dari besi dan keratan daging yang besar-besar. Keluargaku terbiasa makan segala sesuatu dalam bentuk yang kecil, tetapi melihat sate ini malah tertantang untuk menggigitnya. Aku membayangkan kalau ibuku tahu hal ini, beliau akan marah. Bagi ibu, kesopanan juga termasuk  makan dalam potongan kecil-kecil sehingga makanan lebih rapi saat dikunyah. Tetapi begitu aku menggigit sate domba itu, rasanya tidak rugi kalau harus menabrak norma yang diajarkan ibuku. Karena sate domba ini sangat enak. Dagingnya empuk dan bumbu jintannya terasa gurih di mulut. Sebelum pesanan dumpling datang, aku sudah menghabiskan satu tusuk sate itu.

“Kenapa mereka selalu menggunakan bumbu jinten, sih?” tanya temanku yang tidak suka makan jintan.

“Coba tanyakan ke penjualnya,” jawabku.
Sate domba yang empuk!

 
Lalu terjadilah pembicaraan yang aneh lagi. Karena kebanyakan warga lokal tidak bisa berbahasa Inggris, temanku menggunakan bahasa Indonesia, sementara pelayan menggunakan bahasa Mandarin. Hasilnya kami  tidak menemukan jawaban kenapa hampir semua makanan menggunakan bumbu jinten dan rempah. Justru dari artikel perjalanan di internet aku mendapat jawaban. Seperti Islam yang masuk melalui pedagang Arab dan Persia, kuliner mereka pun banyak dipengaruhi kuliner Arab yang banyak menggunakan jinten dan rempah. 

Hampir pukul 10 malam saat kami selesai makan dumpling dan berpamitan pada pemilik kedai. Semakin malam jalanan sepanjang muslim quarter semakin ramai. Para penjual meneriakkan makanannya dan turis-turis menikmati jajanan dengan gembira. Mataku tinggal 5 watt, tetapi aku dan teman-teman malah tersesat menjauh dari arah pulang ke hostel. Tidak menemukan orang yang bisa berbahasa Inggris sehingga kami semakin susah menemukan jalan pulang. Menjelang jam 12 malam kami baru sampai hostel. Bukankah perjalanan tanpa pengalaman tersesat tidak akan seru?

Maka bersyukurlah bila kau tersesat dalam perjalanan.

***

The great mosque Xi’an
Masjid agung Xi’an. The great mosque!

Di sinilah kemudian aku berdiri esok harinya. The great mosque merupakan masjid tertua di Tiongkok. Lokasi masjid agung Xi’an berada di sekitar muslim quarter tidak jauh dari hostel tempatku menginap. Hari itu hari jum’at dan jama’ah sedang menunaikan sholat  jum’at di dalam masjid. Tidak hanya sebagai tempat ibadah umat muslim di kota Xi’an, The great mosque juga mengijinkan turis non muslim melihat-lihat areal masjid tapi tidak diperbolehkan ke bagian dalam masjid. 

Jamaah sholat Jum’at di Masjid Agung Xian

Saat melihat berkeliling, aku menemukan catatan pada bagian interior masjid yang menyebutkan bahwa masjid ini didirikan pada tahun 742 masehi atau 13 abad yang lalu. Meskipun telah berumur lebih dari 1000 tahun dan menjadi salah satu warisan sejarah Tiongkok, masjid ini terjaga dengan baik keasliannya. Sekilas bangunan masjid ini tampak menyerupai kelenteng dengan halaman dan pavilion-pavilion. Namun saat aku melihat lebih cermat tampak kaligrafi Al-Quran di setiap bangunan. Taman dan kolam yang berada di halaman masjid tampak unik dan kuno. 

Gapura Masjid Agung Xian

 
Duduk di halaman sambil memandang ke arah masjid, aku termenung. Pada masanya, pedagang-pedagang dari Arab dan Persia yang melawati jalur sutra menyebarkan Islam ke kota ini.  Sebagian dari mereka menikah dengan suku Hui yang mendiami wilayah ini dan Islam kemudian berkembang di sini. Rentang waktu seribu tahun kemudian, aku duduk di halaman masjid ini dan memiliki iman yang sama dengan mereka.  Pendar cahaya masih menyala di masjid tua ini dan menerangi perjalanan orang-orang yang mencari.  

Jama’ah sholat jumat keluar dari masjid. Mereka mengenakan baju koko dan kopyah, sebagian besar sudah berusia lanjut dan tampak ramah. Salah satu orang menghampiri kami dan bicara dengan bahasa yang tidak kami pahami. Lagi-lagi aku menyesal karena tidak bisa bahasa Mandarin atau Arab sehingga tidak bisa berkomunikasi dengan para jama’ah.

“Malaysia?” tanyanya.

Aku menggeleng dan segera paham bahwa beliau ingin tahu kami dari negara mana. “Indonesia,” jawabku.

“Ahhh, Indonesi. Soekarno…ha?”


Aku mengangguk-angguk senang. Bapak berkopyah putih itu mengeluarkan  uang kertas Indonesia dari berbagai zaman dan menunjukkan pada kami. Wow! Rupanya beliau mengoleksi uang kertas Indonesia. Beliau menunjuk-nunjuk uang kertas itu sambil menggunakan bahasa isyarat bahwa beliau pernah ke Indonesia.  

Bapak baik hati yang terkesan dengan Presiden RI Pertama

 
Setelah menemani keliling masjid sebentar, bapak itu mengantarkan kami ke tempat sholat wanita. Aku berpikir kami akan sholat di dalam komplek masjid tetapi ternyata tempat sholat wanita ada di bagian lain. Beliau mengantar kami ke sebuah rumah di dalam gang tidak jauh dari masjid yang dijadikan tempat sholat wanita.  Tampak seorang wanita berjilbab menyambut kami dengan bahasa mandarin. Bapak itu kemudian berpamitan pada kami.

“Hurry up!” seorang gadis berjilbab yang fasih berbahasa Inggris menjelaskan pada kami bahwa tempat ini akan segera tutup dan wanita berjilbab yang menjaga masjid itu akan segera pulang. Gadis manis itu ternyata berasal dari Malaysia.

 
 Gadis itu memberi tahu kami tempat meletakkan sendal dan membantu kami membuka keran air wudhu. Setelah berwudhu kami segera naik ke lantai atas. Meskipun seperti rumah yang difungsikan sebagai tempat sholat, tetapi bersih dan nyaman. Seperti di Indonesia, tersedia mukena bersih dan sajadah. Beberapa Al-qur’an juga tampak berjajar di rak mungil sudut ruangan.

Allahhu akbar!

 
Bersujud di tempat asing yang jauh dari tanah air membuat mataku memanas. Buliran air mata membasahi pipiku. Allah memberi kesempatan aku ke tempat ini, bertemu dengan saudara seiman di negeri lain agar aku tetap istiqomah di jalan-Nya.  Kami memang berbeda warna kulit dan bahasa. Tapi iman kami sama. Tersenyum, tertawa, menangis dan mencintai dengan cara yang sama. Cahaya Allah terang benderang, menerangi hati yang gelap dalam pencarian. 

Wanita berjilbab yang menunggu kami di bawah tersenyum begitu kami menuruni undakan selesai shalat. Ia mengunci pintu begitu kami keluar dari mushala itu. Aku dan teman-teman mengikuti langkahnya menyusuri gang. Wanita itu dengan bahasa isyarat menawari kami mampir, tetapi karena hari mulai gelap kami memutuskan untuk kembali ke hostel.

“Xie…xie…terima kasih,” kataku.

Di persimpangan jalan setelah saling berpelukan kami mengucap salam dan berpisah.

***

Saya di depan pintu masuk menuju tembok kota Xian
 

Sejuk air wudhu masih terasa di wajahku saat aku masuk ke kedai mie di pinggir jalan. Kedai kecil yang bersih dan terdapat tulisan halal di pintu masuknya itu tampak hangat dan nyaman. Beberapa orang lokal dan turis duduk menikmati semangkok mie sambil berbincang. Tampak di ujung meja, seorang kakek-kakek sedang asyik berbincang dengan cucu laki-lakinya yang baru berumur sepuluh tahun. Sesekali tampak sang kakek menyuapkan mie ke mulut cucunya. Aku memilih duduk di pojok untuk bisa mengamati keseluruhan pengunjung kedai.

“Eat? Eat?” seorang remaja laki-laki mengenakan celana jeans dan kaos serta kopyah putih menghampiriku dengan malu-malu. Wajahnya imut-imut dan kedua pipinya tampak kemerahan.

“Speak english?” tanyaku yang disambut gelengan kepala sambil tertawa kecil. Dia melanjutkan bicara dalam bahasa mandarin dan aku giliran yang tidak paham.

Seperti  kemarin, kami memesan makanan dengan cara menunjuk makanan di meja seorang pembeli. Ia memahami apa yang kami maksud sambil tersenyum malu-malu lalu pergi meracik mie kami.

“Negeri ini hebat ya, memiliki banyak peninggalan masa lalu yang luar biasa,” kata temanku sambil menerima minuman botol berwarna kuning yang dipesannya. Baru tiga hari di Xi’an kami jatuh cinta pada minuman ini.

 
Temanku benar, banyak warisan budaya masa lalu yang hebat di negeri ini. Tadi pagi sebelum ke masjid agung Xi’an kami mengunjungi teraccota wariors. Sebuah museum yang berisi kumpulan koleksi dari 8000 lebih patung berbetuk prajurit dan kuda dengan ukuran asli yang terletak di dekat makam Kaisar pertama dinasti Qin, Qin Shi Huang. Patung-patung itu dibuat sekitar 210-209 SM untuk mengawal patung Kaisar pertama China, Qin Shi Huang.

“Selain budaya masa lalu yang hebat bertahan sampai ribuan tahun, aku yakin juga karena peninggalan itu dijaga dengan baik,” tambah seorang teman yang lain.“Benar sekali! Banyak tempat memiliki peninggalan masa lalu yang hebat,  sayangnya tidak semua bisa menjaganya dengan baik,” aku menyimpulkan.Mie pesanan kami datang. Aku menelan ludah melihat mie hangat mengepul di hadapanku. Kami segera menikmati mie khas Xian dengan lahap.

***

Malam merambat pelan saat aku dan teman-teman menyusuri jalanan kota Xi’an.  Tampak tembok kota Xi’an berdiri kokoh dan megah di depan sana. Lentera berwarna merah menyala di atas tembok. Aku berhenti dan menatap kejauhan. Kota ini menyimpan kemasyuran masa lalu yang luar biasa. Museum tentara teraccota yang mengagumkan, Bell Tower, tembok tua yang berdiri kokoh mengelilingi kota dan tujuan utamaku ke sini ; The Great Mosque yang sudah berumur 1000 tahun lebih. Semua kejayaan masa lalu itu terjaga dengan baik seolah membawa pengunjungnya menembus waktu kembali ke masa lampau. Aku kembali berjalan menyusuri kota. Lentera merah di atas tembok kota masih menyala.  Berkedip-kedip di kejauhan. Tetapi ada cahaya lain yang menyusup ke dadaku.

1000 tahun cahaya dari masjid agung Xi’an.

***
(artikel ini ada dalam buku saya “Keliling Asia, Memburu Cahaya” yang tersedia di seluruh toko buku Gramedia dan toko buku online)