All posts by Admin2

Pantai Cantik Di Dekat Jakarta

Gaya hidup Jakarta yang serba macet, bising dan terburu-buru membuat sebagian orang mudah dilanda stress hingga depresi. Jika anda penyuka pantai, ada beberapa pantai cantik yang dekat dengan Jakarta yang bisa anda kunjungi bersama keluarga untuk melepaskan penat, tidak membutuhkan waktu lama dan anggaran-pun tidak akan membengkak. Pantai apa saja itu? Simak pengalaman perjalanan saya menyusuri pantai cantik yang tidak jauh dari Jakarta.

 

1.                PULAU HARAPAN

Pulau harapan terletak di gugusan pulau seribu, berjarak 2 jam menggunakan speedboat dari Marina Ancol, atau 3 jam jika anda menggunakan kapal ekonomi dari Kaliadem. Pulau ini merupakan pulau berpenduduk, jadi anda bisa menyewa rumah penduduk untuk menginap.  Fasilitas homestay cukup nyaman, bahkan pemilik rumah akan memasakkan makanan untuk anda termasuk dalam biaya menginap. Tetapi jika anda tidak mau repot, lebih baik anda memesan paket trip dari Jakarta, sehingga sampai Pulau Harapan tinggal menikmati liburan. 

Memiliki pantai yang berpasir putih, taman bermain, warung makan, deretan kios souvenir dan dermaga untuk menjemput dan mengantar penumpang kapal, Pulau Harapan juga menjadi pintu untuk para wisatawan menjelajahi pulau-pulau kecil di sekitarnya.  Dengan menyewa kapal anda bisa island hoping ke beberapa pulau cantik seperti Pulau Bulat, Pulau Bira dan Pulau Kalampunian Besar.  Semua pulau kecil itu memiliki pantai yang cantik, berpasir putih dan masih perawan. Tak hanya menikmati pantai, anda juga bisa snorkeling untuk menikmati terumbu karang indah yang ada di bawah laut.  Malamnya, anda bisa menikmati ikan bakar yang lezat di depan homestay anda.  Pulau Harapan bisa dikunjungi dengan waktu singkat 2 hingga 3 hari. Anda bisa melakukannya saat weekend bersama keluarga.

2.               
                    PULAU PAHAWANG

Beberapa tahun terakhir, Pulau Pahawang naik daun dan banyak dikunjungi wisatawan. Terletak di Lampung, anda memerlukan waktu sekitar 12 jam perjalanan darat dan laut dari Jakarta untuk sampai Pulau Pahawang.  Tetapi jika anda menggunakan pesawat waktu bisa dipangkas lebih pendek.  Dari Pelabuhan Ketapang, anda bisa menyewa kapal untuk island hoping menikmati pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Pahawang yang tak kalah cantiknya. Saya justru lebih jatuh cinta pada pulau-pulau kecil yang jarang dikunjungi seperti Pulau Balak, Pulau Kelagian, Taman Nemo Pulau Pahawang, Pulau Kelagian Lunik dan Tanjung Putus.  Pantainya berpasir putih lembut dan airnya jernih.  Anda bisa snorkeling dan berendam di pantai sepuas-puasnya. 

Banyak homestay dan beberapa resort disediakan di Pulau Pahawang. Penginapan homestay sebagian besar digunakan pengunjung open trip sementara resort biasanya dipilih pengunjung yang membutuhkan suasana tenang bersama teman atau keluarga. Saya menginap di sebuah resort di Tanjung Putus tepat di depan pantai dengan harga yang terjangkau sudah termasuk biaya makan. Ada beberapa pilihan harga resort yang bisa kita sesuaikan dengan dana yang kita miliki.  Saya sarankan anda memilih paket trip yang tepat yang memberi keleluasaan anda memilih tempat menginap, menyediakan makan sehingga anda tidak kesulitan lagi mencari makan serta memberikan pilihan island hoping yang menarik sehingga perjalanan anda aman dan nyaman. Pulau Pahawang dan pulau-pulau kecil yang masih perawan di sekitarnya menjadi pilihan menarik untuk mengisi weekend gateway anda dan keluarga.

3.                 PULAU BELITUNG

Sejak novel dan film Laskar Pelangi meledak di pasaran, pulau ini menjadi sangat terkenal. Seringkali kita berpikir pulau ini jauh tetapi kenyataannya hanya membutuhkan waktu 50 menit menggunakan pesawat dari Jakarta.  Anda hanya memerlukan waktu 3 sampai 4 hari untuk mengunjungi Belitung dan akan menikmati panorama alam yang luar biasa indahnya. 

Memiliki infrastruktur yang bagus dan lengkap, serta panorama laut yang membiru, pasir putih dan batu-batu granit yang menjulang membuat Belitung sangat istimewa. Anda bisa mengunjungi Pantai Tanjung Kelayang yang menjadi pelabuhan kapal untuk memulai island hoping menuju pulau-pulau kecil cantik seperti Pulau Burung, Pula Lengkuas dan Pulau Batu Berlayar. Semua pulau ini memiliki pantai berpasir putih dan bebatuan granit yang unik.  Tak hanya menyusuri pantai, anda juga bisa snorkeling untuk menikmati keindahan bawah laut.   Jika anda memiliki cukup waktu, Pantai Penyabong dan Pantai Teluk Gembira di Belitung Selatan tak kalah menarik. Lebih perawan dibanding pantai-pantai yang lain, pantai di Belitung Selatan ini layak untuk dikunjungi. Nah, tertarik mengisi weekend anda untuk mengunjungi pantai?  Saya yakin dengan mengunjungi pantai-pantai itu anda akan kembali semangat menjalani rutinitas sehari-hari. ***

Bertemu Tarsius Di Belitung

Belitung selain memiliki panorama alam yang luar biasa indah perpaduan pasir putih yang lembut, batu granit yang menjulang di berbagai pulau dan air laut yang membiru ternyata menyimpan kekayaan fauna langka yang menarik untuk dikunjungi. Apakah primata langka itu? Ia adalah Tarsius, monyet kecil berukuran sekitar 15 centimeter dengan berat 1 kilogram yang terdapat di hutan Batu Mentas, Kecamatan Badau, Belitung Barat, sekitar 40 menit berkendara dari pusat kota Tanjungpandan. 

 

Hanya ada tiga tempat di Indonesia yang menjadi habitat Tarsius, yaitu Sulawesi Utara, Kalimantan dan Belitung.  Tarsius jenis spectrum mendiami Cagar Alam Gunung Tangkoko, Sulawesi Utara dan Tarsius bancanus saltator yang mendiami hutan Batu Mentas Belitung. Menurut informasi Tarsius Tangkoko berukuran lebih kecil dari Tarsius Batu Mentas dan hidup berkelompok pada lubang-lubang pohon. Sedangkan Tarsius Batu Mentas cenderung hidup di bawah kanopi daun dan hidup berpindah-pindah dengan menandai teritorinya menggunakan air seninya.

 

 

MONYET HANTU YANG SETIA

 

Warga Belitung menyebut Tarsius bancanus saltator ini sebagai pelilean atau monyet hantu.  Pelilean hidup nocturnal atau aktif di malam hari.  Karena hidup di malam hari, maka ia akan tidur pada siang hari.  Tarsius termasuk karnivora.  Bentuk matanya besar dan pada malam hari menjadi sangat awas. Ia dengan mudah menemukan mangsanya seperti kecoa, burung, jangkrik dan kelelawar yang kemudian menjadi makanannya.  Tarsius juga mampu memutar kepalanya 180 derajat sehingga dengan matanya yang lebar pada malam hari akan sangat mengejutkan saat bertemu dengannya. Karena aktif pada malam hari, saat saya berkunjung ke Batu Mentas siang hari, Tarsius ini hanya diam di balik kanopi pohon sembunyi dari pengunjung.

 

Tarsius merupakan primata langka terkecil di dunia yang termasuk dalam kelas mamalia dari famili Tarsiidae.  Ia melakukan semua aktivitas hidupnya di pohon mulai dari makan, minum, tidur bahkan saat melahirkan sekalipun. Berbeda dengan monyet yang suka bergelayutan di atas pohon, Tarsius dengan tulangnya yang bisa memanjang lebih suka melompat-lompat dari pohon satu ke pohon yang lain.  Ia tidak bisa berada di atas tanah, dan ketika terpaksa di atas tanah maka ia akan terus melompat-lompat.

 

Selain menjadi habitat Tarsius, Batu Mentas juga menjadi tempat penangkaran Tarsius. Ketika saya berkunjung, ada dua Tarsius di tempat percontohan.  Menurut penjaga, kedua Tarsius itu sedang dijodohkan. Tarsius merupakan hewan yang setia pada pasangannya dan tidak mudah dijodohkan. Biasanya Tarsius hanya akan berkembang biak dengan satu pasangan.  Tetapi di Batu Mentas ini seekor Tarsius berhasil mendapatkan bayi dari pasangan yang lain.  Prestasi ini akan memberikan harapan untuk menjaga kelestarian Tarsius di masa depan.

 

 

WISATA PETUALANGAN DAN KEBUN LADA

 

Mengunjungi Batu Mentas Belitung tidak hanya akan bertemu primata langka Tarsius, tetapi juga banyak paket wisata petualangan menarik yang ditawarkan.  Mulai dari hiking menuju air terjun, river tubing, flying fox,  mandi di air sungai yang jernih hingga berkemah di areal Batu Mentas yang masih alami. Di tempat ini juga ada beberapa bungalow yang disewakan jika kita ingin menikmati suasana hutan yang tenang. 

 

Fasilitas untuk pengunjung di Batu Mentas juga cukup baik. Di areal depan sungai tampak tempat ibadah, toilet serta tempat ganti pakaian setelah bermain di sungai dan warung kecil yang menyediakan makanan untuk para pengunjung yang kelaparan. Tepat di depan sungai ada areal untuk duduk sambil menikmati pemandangan sungai yang jernih dan tenang.  Perlengkapan petualangan juga disediakan dengan lengkap untuk para pengunjung yang ingin bertualang sambil menyusuri sungai.  Tak hanya itu, tempat ini juga bersih dari sampah.

 

Selain wisata petualangan yang menarik,  Belitung merupakan salah satu tempat penghasil lada putih terbesar di Indonesia. Sepanjang jalan menuju Batu Mentas kita akan melihat perkebunan lada penduduk yang rimbun. Menurut informasi, jika kita berkunjung pada bulan Juli- Agustus, kita bisa menyaksikan para petani lada memanen lada di kebun mereka. Tak hanya lada, kita juga menemukan perkebunan nanas di sepanjang jalan menuju Batu Mentas.  Kebanyakan warga Belitung mencampurkan nanas dalam masakan mereka sehingga menimbulkan rasa asam manis yang menyegarkan. Jika anda berkunjung ke Belitung, kawasan wisata Batu Mentas ini jangan anda lewatkan karena kekayaan flora dan faunanya yang unik sangat menarik untuk dikunjungi. ***

 

Oxford Inggris, Kota Pelajar Yang Menarik

“Oxford, diantara keanggunan dan ketenanganmu aku menemukan keindahan”

Apa sih menariknya Oxford?  Beberapa waktu lalu saya mengunjungi Oxford Inggris dan menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di benak saya.

Oxford merupakan kota pelajar paling terkenal di Inggris yang berjarak sekitar 200 kilometer dari pusat kota London. Kita bisa naik kereta atau bus untuk menjangkau kota ini. Saya naik kereta dari salah satu stasiun di London dengan membeli  tiket di pounding machine. Perlu waktu sekitar 1.5 jam hingga sampai di kota tua Oxford yang cantik.

Saya memiliki waktu 12 jam untuk berkeliling sebelum kembali ke London sore harinya. Di stasiun Oxford tersedia paket tour yang akan mengantarkan kita keliling kota Oxford, tetapi saya lebih suka berkeliling sendiri. Apa saja yang bisa kita kunjungi dan lakukan di Oxford? Berikut rekomendasi buat kamu yang ingin berkunjung ke Oxford Inggris.

       JALAN-JALAN KELILING KAMPUS UNIVERSITAS OXFORD
Universitas Oxford merupakan perguruan tinggi berbahasa Inggris tertua di dunia. Menurut data, universitas ini sudah didirikan sejak abad ke 11, namun karena kelemahan dokumentasi sejarah, sehingga tidak diketahui kapan tepatnya universitas ini didirikan.  
Keluar stasiun saya berjalan kaki mengelilingi areal kampus.  Kota ini benar-benar cantik, tenang dan nyaman. Bangunan-bangunan tua bergaya Victoria menjulang di setiap sudut kota dan terawat dengan baik. Berjalan di areal kampus ini, saya seperti memasuki kehidupan berabad-abad yang lalu.  Banyak turis baik sendiri maupun berkelompok bersama tour guide hilir mudik mengelilingi kota.  Ada 38 college di Oxford dan college yang bisa dikunjungi seperti Exeter College yang didirikan pada tahun 1314 dan Hertford College yang didirikan pada tahun 1282. Mengelilingi kota Oxford bersama mahasiswa yang jalan kaki maupun bersepeda sangat berkesan. Seolah-olah saya juga kuliah di kampus berbahasa Inggris tertua di dunia ini.
   MENGUNJUNGI CHRIST CHURCH KATEDRAL
Kesuksesan novel Harry Potter juga diikuti kesuksesan film-film-nya. Para penggemar film Harry Potter pasti tidak asing dengan The Great Hall, tempat Harry Potter dan sahabat-sahabatnya pertama kali menghadapi topi seleksi untuk masuk ke asrama Gryffindor, Slytherin, Ravenclaw atau Hufflepuff. Di hall ini pula, biasanya para siswa sekolah sihir Hogward berkumpul untuk makan malam, menerima paket dari keluarga masing-masing, tempat Dumbledor menyampaikan pengumuman-pengumuman penting dengan menyalakan lilin-lilin terbang di atas langit-langit ruangan.  Satu tempat yang menjadi inspirasi The Great Hall adalah Dining Hall yang berada di Chrish Church katedral, Universitas Oxford.
Chrish Church adalah satu-satunya gereja yang tergabung di dalam lingkungan kampus Universitas Oxford. Setelah menjadi lokasi syuting pembuatan film Harry Potter, pengunjung gereja itu meningkat drastis. Tujuan utama mereka adalah The Dining Hall yang menjadi inspirasi The Great Hall yang ada di film Harry Potter. Pengunjung dari berbagai manca negara ingin melihat secara langsung lokasi pengambilan gambar film Harry Potter.  Ketika saya tiba di depan gereja, antrian sudah mengular panjang. Lima belas menit antre, tiba giliran saya membeli tiket dan melewati pemeriksaan security. Saya kemudian dipersilakan masuk ke areal gereja.
Areal Chrish Church sangat luas dan saya memilih untuk langsung ke Dining Hall.  Pengunjung tampak terpesona melewati bagian-bagian bangunan kuno Victoria yang megah dan cantik. Setelah menaiki tangga, sampailah saya di depan The Dining Hall. Karena antrean banyak, petugas mengatur jumlah orang yang masuk ke dalam The Dining Hall. Dan tibalah giliran saya memasuki Dining Hall.
Arus pengunjung perlahan memasuki Dining Hall sambil terus memotret setiap sisi Dining Hall. Ruangan ini benar-benar mirip dengan The Great Hall di film Harry Potter.  Tata letak meja panjang dan kursi, peralatan makan dan foto-foto yang terpasang di dinding. Bahkan pada bagian depan tempat para guru dan kelapa sekolah Hogward juga memiliki kesamaan.  Sambil berjalan memutar, para pengunjung yang kebanyakan penggemar Harry Potter mengabadikan moment kunjungan mereka seolah mereka benar-benar berada dalam situasi malam malam di sekolah sihir Hogward.
Tak hanya The Dining Hall yang menjadi inspirasi film Harry Potter, beberapa tempat di areal Chrish Church juga menjadi lokasi syuting film Harry Potter. Setelah keluar dari The Dining Hall, saya menuju lapangan luas yang menjadi tempat latihan Quidditch Harry Potter dan teman-temannya. Di tempat ini juga pertama kalinya Harry Potter belajar naik sapu terbang dan terbang mengelilingi menara-menara kastil Hogward. Saya membayangkan terbang menggunakan sapu terbang melihat kota Oxford yang cantik dari ketinggian.
3    MENIKMATI MUSIK JALANAN YANG MENARIK
Ketika saya sampai di pusat kota tua, tampak jajaran pertokoan, restoran dan kafe-kafe. Banyak orang berkerumun di pinggir jalan menikmati sajian musik yang dimainkan sekelompok anak muda. Permainan musiknya menarik dan terlihat profesional. Banyak orang berhenti dan menikmati sampai selesai sebelum kemudian memberikan uang di kotak wadah alat musik yang terbuka di depan grup musik itu. Banyak band mendunia yang didirikan di Oxford seperti Radiohead dan Thom Yorke.
Nah, jika kamu berkunjung ke Oxford jangan lewatkan sajian musik jalanan yang menarik dan memberi energi ini. 
4     MENIKMATI TEH DAN KUE DI KAFE
Jalan-jalan keliling kota tanpa ojek pasti bikin gempor buat kaki Indonesia. Makanya saya menyempatkan diri mampir ke salah satu kafe untuk minum teh dan kue sambil melihat lalu lalang orang.  Ada satu kafe kecil yang menyajikan kue-kue ringan dan minuman hangat dengan harga murah. Kafe itu letaknya sedikit tersembunyi tapi orang lokal menunjukkannya pada kami.  Ada banyak kafe cantik di setiap sisi kota Oxford, kamu bisa mencobanya sambil menikmati kecantikan kota tua Oxford.
MENGUNJUNGI BODLEIAN LIBRARY


Jika kamu penggemar buku, maka tempat ini tak akan kamu lewatkan. Bodleian library merupakan perpustakaan tertua di Eropa dan terbesar kedua di Inggris. Perpustakaan ini menjadi sangat terkenal di seluruh dunia karena beberapa ruangannya digunakan sebagai tempat pengambilan gambar film Harry Potter. Nah, tertarik berkunjung ke Inggris? Jangan lupa mampir di kota cantik Oxford, saya jamin kamu nggak akan kecewa.

 

5 Hal Seru Yang Harus Dilakukan Penggemar Sepak Bola Saat Berkunjung Ke Inggris

Photo by : Icha

  
Jangan bilang kamu penggemar sepak bola kalau saat berkunjung ke Inggris tidak melakukan 5 hal seru ini. Inggris merupakan negara yang disebut sebagai tempat lahirnya sepak bola.  Berawal dari permainan pelepas penat sehabis kerja oleh kaum urban semasa revolusi industri, warga urban Inggris menjadikan sepak bola sebagai ajang bertemu komunitas dan bersenang-senang. Maka tidak heran jika budaya menonton sepak bola bagi warga Inggris sudah terbentuk sejak lama. Bahkan Inggris memiliki klub sepak bola tertua sekaligus paling banyak di dunia. Nah, apa aja sih hal seru yang bisa kamu lakukan di Inggris sebagai penggemar sepak bola? Nih, saya bagiin contekannya sebelum kamu berangkat ke Inggris.

      MENGUNJUNGI KOTA MANCHESTER
Photo by : Icha
Terletak di barat laut Inggris, Manchester merupakan kota metropolitan yang merupakan asal dua klub sepak bola utama di Eropa yaitu Manchester United dan Manchester City.  Selain menggunakan pesawat, kamu bisa naik bus atau kereta dari Victoria Stasiun London ke kota Manchester ini. Di kota ini kamu, para penggemar sepak bola bisa mengunjungi National Football museum dan Old Trafford Stadium.

National Football museum dibangun untuk melestarikan koleksi milik asosiasi sepak bola.  Koleksi yang terdapat dalam museum ini berasal dari FIFA Book Collection, Football League, Football Asosiation, FIFA Museum dan National Football collection. Museum ini buka setiap hari mulai pukul 10 pagi hingga jam 5 sore.

Old Trafford Stadium terletak 4 km dari pusat kota Manchester. Stadium ini merupakan stadium terbesar kedua di Inggris yang sekaligus menjadi markas besar Manchester United sejak didirikan pada tahun 1910.  Stadium ini dibagi menjadi 4 stand yaitu Sir Alex Fergusson Stand, Sir Bobby Charlton stand, East stand dan West Stand.  

2    MENGIKUTI STADIUM TOUR

Jika kamu punya klub favorit, maka kamu harus mengikuti stadium tour untuk mengenal lebih jauh klub favorit kamu.  Selain Old Tranfford stadium di Manchester, di London ada beberapa stadium tour lain seperti Emirates Stadium- Arsenal FC, Stamford Brigde – Chelsea FC dan White Hard Lane – Tottemham Hotspur FC.
 

Karena waktu yang terbatas, saya hanya sempat mengunjungi salah satu stadium yaitu Emirates Stadium-Arsenal FC.  Untuk mencapai stadium yang terletak di London utara ini tidak terlalu sulit.  Kita bisa naik tube dan turun di stasiun Arsenal. Dari stasiun Arsenal kita tinggal mengikuti petunjuk menuju arah stasiun. Stadium kebanggaan The Gooners ini diresmikan tahun 2006 dengan kapasitas sekitar enam puluh ribu penonton.  Ada tiga paket tour yang ditawarkan oleh Emirates Stadium, yaitu Paket Museum seharga 8 poundsterling,  Legends Tour seharga 40 poundsterling dan Self-Guided Tour seharga 20 poundsterling.  Dengan Self-Guided Tour kamu diberikan virtual guide yang bisa didengarkan sambil mengelilingi stadion. Sementara Legends tour kamu akan diantar langsung oleh Legenda Arsenal seperti Lee Dixon keliling stadion. Tempat yang kita jelajahi selama tour adalah Changing Room yang terbagi menjadi dua yaitu untuk Arsenal dan tim lawan dan Director’s Box tempat para petinggi Arsenal dan tamu VIP bisa menonton pertandingan dengan pemandangan terbaik.

3    MENONTON PERTANDINGAN SEPAK BOLA DI STADION
Kalau kamu suka menonton pertandingan sepak bola di stadion maka menonton sepak bola  di stadion Inggris tidak boleh kamu lewatkan.  Konon, atmosfer terbaik menonton pertandingan sepak bola ada di Inggris. Setidaknya saya merasakannya sejak turun dari tube dan ikut arus penonton bola yang memenuhi stasiun. Mereka bergerak teratur menuju Emirates Stadium mengenakan slayer, penutup kepala dan kaos klub kebanggaan mereka sambil meneriakkan yel-yel atau bernyanyi.

Suasana di dalam stadion sangat meriah karena hampir seluruh kursi penonton terisi penuh. Kamu akan merasakan gegap gempita penonton bola di Inggris bersorak, menyanyi mendukung klub kesayangan mereka hingga usai pertandingan.  Masyarakat Inggris sudah mencintai sepakbola cukup lama, sehingga budaya menonton yang sportif, saling menghargai dan teratur sudah menjadi kebiasaan mereka.  Menonton bola menjadi budaya yang menggembirakan dan menular pada pengunjung seperti saya. Kalau kamu ke Inggris, jangan dilewatkan kesempatan menonton sepak bola live.

4.     BELANJA PERNIK-PERNIK SEPAKBOLA
Photo by : Icha
Kamu pasti tak akan pulang ke Indonesia tanpa kenang-kenangan dari klub kesayangan kamu. Nah, kamu bisa belanja pernak-pernik sepakbola sebagai buah tangan di The Armoury, Stadium Megastore dan Lilywhites.

The Armoury terletak di dekat Emirates Studium dan menjual berbagai pernik-pernik sepakbola klub Arsenal.  Jika kamu penggemar klub Arsenal, kamu bisa mendapatkan cinderamata dan pernik-perniknya disini.

Terletak di Stamford Bridge, Stadium Megastore menjual berbagai pernak-pernik klub Chelsea. Jika kamu penggemar klub Chelsea maka kamu bisa berbelanja segala perlengkapan sepak bola dan cinderamata di sini.

Sedangkan Lilywhites merupakan departemen store yang menjual perlengkapan olahraga. Disini kamu bisa mendapatkan segala perlengkapan sepak bola dari berbagai klub di Inggris.

5     MENYERAP ENERGI SUPPORTIF PERTANDINGAN SEPAKBOLA.
Selain mengunjungi tempat-tempat seru dan belanja pernak-pernik bola, ada hal yang patut kita serap dari perjalanan ini yaitu supportivitas pemain pertandingan dan penonton pertandingan. Jika kamu bukan calon pemain sepakbola setidaknya kita bisa mencontoh bagaimana masyarakat Inggris menonton bola dengan tertib, aman dan supportive.  Memang kebiasaan menonton sepak bola bagi masyarakat Inggris sudah terbentuk sejak sangat lama, tetapi tidak ada buruknya kita mengambil hal yang baik dari mereka. Menonton pertandingan sepakbola adalah kegembiraan berkumpul dengan banyak orang yang penuh semangat.  Kalah atau menang dalam sebuah pertandingan harus bisa diterima dengan besar hati dan gembira. Jangan sampai merusak apa yang menjadi tempat kita semua bisa berkumpul dan bergembira.

Sepakat?  Kalau YA, bulatkan mimpimu dan dapatkan kesempatan pergi ke Inggris mengunjungi tempat-tempat yang saya rekomendasikan.

London : Kota Multikultural Yang Mencuri Hati

Berawal dari membaca buku-buku Lima Sekawan-nya Enid Blyton, Harry Potter-nya JK.Rowling dan Sherlock Holmes-nya Arthur Conan Doyle, saya berjuang keras mewujudkan mimpi saya pergi ke Inggris. Dalam tujuh hari, London berhasil membuat saya jatuh cinta.  Penduduk London yang multikultural tampak tidak kaget dengan perbedaan.  Apapun warna kulitmu, apapun bajumu, apapun keyakinan-mu, asal kamu tidak menyalahi aturan, kamu bisa menikmati London dengan aman. Setidaknya begitu yang saya rasakan setiap saya menyusuri jalanan kota London.  Bahkan beberapa kali saya menemukan anak-anak muda yang siap menolong mengangkat koper saya di tangga kereta bawah tanah karena saya tak kuat membawanya.

Apa saja sih yang bisa dilakukan di Inggris? Ini pengalaman yang saya lakukan di Inggris sampai hati saya tercuri, siapa tahu kamu akan mengalami hal yang sama.

1   
1      1. MENGUNJUNGI SETTING CERITA HARRY POTTER DAN SHERLOCK HOLMES


Sebagai penggemar Harry Potter dan Sherlock Holmes, saya mengunjungi lokasi keduanya.  Setting cerita Harry Potter yang ada di London yaitu King’s Cross stasiun. Di tempat ini banyak penggemar Harry Potter mencari peron 9 ¾ dimana Harry Potter mengawali perjalanannya ke Hogward School dengan naik kereta. Stasiun King’s Croos menjadi sangat terkenal dikunjungi penggemar Harry Potter dari seluruh dunia.  Di stasiun ini pula ada toko yang menjual souvenir Harry Potter.

Sementara setting cerita Sherlock Holmes ada di Baker Street.  Dari pintu stasiun Baker Street saya menemukan patung Sherlock Holmes yang dikerubungi para fans. Dari stasiun ini saya berjalan lurus dan menemukan museum Sherlock Holmes serta rumah yang ditempati Sherlock Holmes yang terkenal dengan pintunya yang bertuliskan Baker Street 221.

 
2. MELIHAT PERGANTIAN PENJAGA ISTANA BUCKINGHAM

Istana Buckingham merupakan satu bucket list yang berhasil saya kunjungi.  Di tempat ini saya bisa menyaksikan pergantian penjaga istana yang berlangsung pada jam 11 siang. Atraksi ini menjadi tujuan turis dari seluruh dunia, sehingga jika ingin mendapat posisi yang bagus harus datang pagi-pagi. Para pengunjung berdesakan bahkan sampai naik ke atas pagar untuk melihat pasukan penjaga istana yang berbaris memutar di areal depan istana.

Tepat jam 11 siang upacara pergantian penjaga dimulai.  Pasukan penjaga melakukan parade diiringi marching band berjalan memasuki halaman istana menggantikan pasukan sebelumnya. Total waktu pergantian penjaga ini bisa berlangsung selama 45 menit.  Para turis dari berbagai negara dengan sabar menunggu hingga pergantian penjaga ini selesai dengan sempurna.

3   3. BELANJA DI PRIMARK DAN CAMDEN MARKET

Orang Indonesia terkenal dengan hobby belanjanya.  Primark yang ada di Oxford street menjadi pilihan tepat untuk belanja fashion, kosmetik, tas, sepatu,  aksesories wanita dan pria dengan harga murah. Jangan kuatir dengan kualitasnya meskipun harganya murah, kualitas barang-barang di Primark sangat bagus. Saya membeli sepatu seharga Rp. 150.000, sangat nyaman dipakai. Untuk kamu yang suka belanja fashion murah dengan kualitas bagus, Primark tempatnya.

Tempat lain untuk berbelanja adalah Camden Market.  Tapi di tempat ini khusus untuk belanja souvenir.  Lapak souvenir berjajar rapi di tempat ini, kita tinggal memilih mana yang diinginkan, mulai dari gantungan kunci, tempelan kulkas dan pernik-pernik souvenir Inggris dengan harga murah. Tak hanya souvenir, di tempat ini juga banyak penjual makanan pinggir jalan yang enak dan murah.

4   4. MENYEBERANGI  LONDON TOWER BRIDGE DENGAN JALAN KAKI

London Tower Bridge adalah jembatan yang membentang di atas Sungai Thames. Sebenarnya bisa naik bus untuk melewati jembatan ini, tapi menyusuri tepi jembatan sambil berjalan kaki sambil menikmati pemandangan di sekeliling sungai Thames sangat menyenangkan. 
 

Saya mengunjungi London Tower Bridge saat gerimis turun. Suasana pagi masih sepi dan orang-orang lebih suka berteduh daripada hujan-hujanan seperti saya. Tak hanya menyeberangi jembatan, tetapi saya juga turun ke bawah dan membeli segelas kacang almond hangat.  Banyak burung merpati di sekitar sini, kita bisa duduk menikmati pemandangan sungai Thames ditemani burung merpati.

  5. MENCICIPI FISH AND CHIPS, COSTA DAN PRET A MANGER

Mengunjungi London tanpa mencicipi makanan khasnya sangatlah rugi. Fish and Chips merupakan kuliner khas Inggris yang sangat terkenal. Saya menemukan makanan ini hampir di semua tempat di London.  Seperti namanya Fish and Chips terbuat dari ikan yang digoreng dengan tepung dan kentang goreng yang disajikan dengan saos sesuai pilihan. 

Sementara Costa adalah kopi yang terkenal di Inggris. Meskipun bukan penggemar kopi, saya merasa wajib mencobanya. Costa kopi shop berada di banyak tempat dan mudah ditemukan. Rasa kopinya ringan dan enak.  Selain Costa, restoran Pret A Manger juga menyajikan kopi. Tetapi Pret A Manger lebih terkenal sebagai restoran sandwich. Pret A Manger juga mudah ditemukan di banyak tempat di London.

Tips Keliling Eropa Murah


Setiap mendengar kata Eropa yang terbayang di kepala kita pasti satu kata, “MAHAL!”. Memang benar Eropa mahal apalagi untuk pengguna mata uang rupiah. Di Eropa, mata uang rupiah seakan tiada harganya. Lantas bagaimana mewujudkan mimpi keliling Eropa dengan “acuan” kata mahal itu? Apakah kita perlu menunggu sampai kaya raya baru bisa keliling Eropa? Saya sih, nggak mau menunggu sampai kaya dulu baru keliling Eropa.  Takutnya saat menjadi kaya ternyata tidak sehat atau buruknya tidak punya umur lagi. So, banyak cara menuju Roma, banyak cara menuju Eropa! Itu bener banget! Jadi gimana dong caranya? Ini cara saya, mungkin akan beda dengan cara Anda, karena itu tadi, banyak jalan menuju Eropa! 
 

 

Saya keliling Eropa satu bulan secara backpacker bersama beberapa teman. Semua persiapan mulai dari tiket, penginapan, rute perjalanan, makanan dan semua hal yang menyangkut kebutuhan traveling kami urus sendiri. Saya sih suka melakukan semuanya karena jadi belajar banyak hal dan tidak bergantung pada penyedia paket perjalanan. Satupun kami tidak menggunakan jasa agen atau paket perjalanan. Dengan cara itu kami bisa irit lebih dari setengah harga paket yang ditawarkan oleh travel tour.  Saya keliling London, Skotlandia, Paris, Geneva, Vienna, Praha, Amsterdam dengan biaya Rp. 29 juta selama satu bulan. Kalau menggunakan paket perjalanan minimal biaya pasti dua kali lipat. Iya dong, kita kan perlu membayar biaya penyelenggara paket tour. Iya kan?

 

 

 

Nah, apa saja sih yang mesti disiapkan untuk perjalanan murah ala saya ini?  Oke, saya akan share di sini, mungkin bisa berguna buat teman-teman yang ingin keliling Eropa dengan cara murah.

 

 

 

1.   TIKET PROMO

 

Mencari tiket promo ini penting bahkan menjadi kunci murahnya perjalanan. Kita bisa mendapatkan tiket promo dengan mencegatnya melalui informasi group-group traveling.  Rajin-rajinlah mengecek group traveling yang selalu berbagi informasi tiket promo karena mereka selalu share seluk beluk tiket promo. Jangan kuatir tidak kebagian, tiket promo ini pada tahun-tahun terakhir banyak sekali dan mudah di dapatkan. Pesawat-pesawat full bujet dengan pelayanan yang bagus seperti Qatar, Etihad dan Emirates juga berlomba mengadakan promo. Bahkan Garuda meski harganya masih mahal buat kantong saya juga promo. Saya sendiri mendapatkan tiket Etihad multicity promo dengan pembelian setahun sebelum keberangkatan di harga Rp. 5,6 juta return dengan rincian perjalanan Jakarta- London kemudian kembali dari Amsterdam – Jakarta.

 

 

 

2. TIKET SAMBUNGAN ANTAR NEGARA

 

Bus merupakan transportasi murah sambungan antar negara. Tetapi ada kalanya kereta dan pesawat juga murah. Tiket promo sambungan antar negara biasanya untuk pembelian tiga bulan sebelum keberangkatan. Saya mencegatnya dengan menggunakan aplikasi GOEURO di android, FLIXBUS dan STUDENT AGENCY. Dengan selalu mengecek aplikasi itu kita akan tahu saat harga termurah muncul. Saya membeli tiket sambungan dengan harga yang lumayan murah. Misalnya London-Skotlandia menggunakan bus mendapat harga Rp.60 ribu, busnya bagus dan nyaman. Skotlandia-London menggunakan pesawat Ryan Air dengan harga Rp.200 ribu. Dan sambungan lain menggunakan kereta seperti Paris-Geneva yang kami beli dengan harga lebih murah dari harga normal. Sebelum berangkat ke Eropa, kami sudah membeli semua tiket sambungan antar negara dengan harga promo. Memang paling murah menggunakan bus, tetapi ada kalanya pesawat lebih murah dari bus jika harga promo. Hanya saja menggunakan pesawat untuk sambungan antar negara itu ribet karena proses check in sementara menggunakan kereta atau bus tinggal masuk dan duduk menunggu berangkat. Saya menyarankan jika anda punya banyak waktu lebih baik menggunakan bus atau kereta daripada pesawat.

 

 

 

3 3.PENGINAPAN

 

Penginapan di Eropa kebanyakan mahal, tetapi tetap bisa kita diakali. Pembelian harus jauh-jauh hari sebelum keberangkatan karena mendekati tanggal berangkat semakin mahal. Banyak pilihan penginapan yang bisa dipakai para backpacker. Tidak hanya hostel tetapi bisa airbnb. Menggunakan airbnb tentu lebih irit jika bersama banyak orang karena harganya akan dibagi. Tetapi kelemahan airbnb, kebanyakan jauh dari pusat kota sehingga perlu biaya transportasi lagi. Sementara hostel dengan tipe dormitory bisa menjadi pilihan murah dengan lokasi lebih strategis.  Sekali lagi, mencari informasi tentang penginapan yang direkomendasikan teman-teman traveler sangat dianjurkan, sehingga tidak salah pilih.

 

 

 

4 5. MAKANAN

 

Untuk sarapan kami membawa makanan instant dari Indonesia seperti indomie, energen dan biskuit. Kami biasanya makan sehari dua kali dan jika porsinya besar, kami bisa makan berbagi. Porsi makanan di Eropa itu besar sehingga kita bisa berbagi berdua atau bahkan bertiga. Karena saya tinggal di airbnb, saya memasak sendiri dengan membeli bahan masakan di minimarket.

 

 

 

5 6. INFORMASI NEGARA YANG KITA KUNJUNGI

 

Sebelum berangkat kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya melalui berita, artikel, grup traveler dan bertanya langsung ke mereka yang tinggal disana. Informasi ini sangat berharga agar kita bisa tahu apa yang mesti kita pilih dan kita lakukan selama perjalanan. Saya hampir semua informasi di negara yang saya lewati saya catat dalam buku kecil. Mulai dari mata uang, penukaran uang yang aman, tempat wisata, makanan, penginapan, kebiasaan orang setempat hingga tempat-tempat yang tidak banyak dikunjungi turis. Jangan lupa kartu transportasi yang akan kita gunakan di negara yang kita kunjungi jika kemungkinan bisa mendapatkan kartu yang lebih murah dari harga normal.

 

 

 

 

Masih banyak sebenarnya tips untuk mengirit perjalanan ke Eropa, yang saya tuliskan diatas hanya yang besar-besar, ohya, yang terpenting juga tidak banyak belanja. Saya sih tidak suka belanja sambil traveling jadi saya juga irit disini. Paling banter hanya membeli tempelan kulkas untuk kenang-kenangan. So…. sebenarnya ke Eropa nggak harus nunggu kaya kalau kita tahu jalan lain menuju Eropa. Let’s go! 

 

Paris : Kota Cinta, Kota Seni – 2


Tengah hari, saya tiba di Arc de Triomphe. Sebagai tujuan turis, tempat ini sudah pasti sangat ramai. Bahkan untuk memotret dengan angle yang tepat saja susah. Saya tidak masuk ke dalam lorong untuk menyusuri bagian bawa Arc de Triomphe karena lebih tertarik untuk menjelajahi jalanan kota Paris.  
Kota Paris bisa dijelajahi dengan jalan kaki. Kita hanya perlu memanfaatkan google map sambil menyusuri trotoar unik abad pertengahan yang menghubungkan tempat-tempat wisata terkenal.  Dari Arc de Triomphe saya berjalan lurus melewati pusat perbelanjaan mewah dan restoran-restoran besar lalu mampir di Paris in Jerman untuk membelikan pesanan teman. Meskipun saya suka berjalan kaki, tetapi menjelajahi Paris dengan kondisi perut tidak terisi nasi membuat kaki saya mudah kram. Ketika menemukan penjual burger dan minuman di sisi jalan, saya langsung membelinya. Tiba-tiba ada orang Indonesia bergabung dengan saya. Seorang ibu dan anaknya yang melakukan perjalanan backpacker juga dari Bali sembari mengunjungi kerabatnya di Belanda. 
Meskipun tidak masuk ke dalamnya, saya menyempatkan mampir di areal Universitas Sorborne dan melihat lalu lalang mahasiwa.  Baru menjelang sore saya sampai di Museum Lovre.  Museum ini benar-benar luar biasa, bahkan dari penampakan luarnya saja sangat mempesona. Saya tidak memasuki museum dan hanya mengambil fotonya dari luar karena benar-benar sudah kecapekan. Saya memutuskan berjalan ke arah taman dan duduk lama di sana sambil melihat lalu lalang orang lewat. Setelah cukup istirahat saya berjalan lagi keluar areal Museum Lovre dan menyisir sepanjang sisi sungai Seine. Tempat ini menjadi tempat favoritku selama beberapa hari di Paris karena sangat romantis, tenang dan nyeni. Apalagi kalau dikunjungi saat matahari kemerahan menjelang tenggelam.
Saya membeli tiket cruise yang murah untuk menyisir sepanjang sisi sungai Seine dan saya menuliskannya di artikel sebelumnya tentang sungai di Eropa. Baru ketika langit gelap, saya kembali berjalan kaki menyusuri trotoar dengan lampu-lampu yang telah menyala. Paris malam hari semakin cemerlang dan unik.  Hanya saja untuk memasuki stasiun metro pada malam hari sangat menakutkan buat saya. Penumpang di dalam metro itu seperti saling memandang curiga dengan wajah yang letih. Setelah luntang-luntung mencari stasiun yang terdapat mesin pembelian tiket, akhirnya kami menemukannya juga. Hampir jam 11 malam saya tiba di hostel.
Tujuan utama saya ke Paris sebenarnya untuk mengunjungi Grande Mosque dan toko buku Shakespeare and Company. Grande Mosque memiliki sejarah unik pada masa perang dunia 2. Pernah menjadi tempat persembunyian Yahudi Eropa dari kejaran Nazi Jerman. Sementara toko buku Shakespeare and Company sudah pasti menjadi tempat wajib kunjung bagi orang yang suka menulis dan membaca. Toko buku ini merupakan tempat favorit Hemingway dan beberapa pengarang terkenal lainnya. ( saya akan menuliskan artikel tersendiri tentang toko buku dan masjid ini di tulisan selanjutnya).

Paris sangat menarik tentu saja karena kekayaan seni yang luar biasa. Saya menyukai kota ini kecuali tingkat kriminalitas yang mengkuatirkan. Saya tidak nyaman jalan karena harus terus-terusan memegangi tas, dompet dan menyimpan semua barang berharga di money belt sampai setiap foto perut saya melendung karena money belt. Benar-benar menyebalkan. Tetapi dari yang menyebalkan dan menyenangkan justru jika ada kesempatan lagi, saya ingin kembali ke Paris. Belum banyak yang saya lihat. Semoga saya bisa kembali.

Paris : Kota Cinta, Kota Seni – 1


 “Paris is the only city in the world where starving to death is still considered an art ”  – Carlos Rutz Zafon (Spanish Novelist)

Pagi masih lengang saat Flixbus yang saya tumpangi 8 jam dari London victoria couch stasiun tiba di salah satu terminal bus di Paris. Kaki masih terasa ngilu duduk semalaman setelah sebelumnya menyeret koper sambil lari-lari di trotoar London karena takut ketinggalan bus.  Tapi akhirnya sampai juga saya di kota cinta Paris. Apakah benar banyak cinta di sini? 

Bus berhenti di terminal terbuka Porte Maillot yang berada tepat di depan stasiun metro. Saya dan dua orang teman segera menyeret koper memasuki stasiun. Bangunan stasiun tampak modern tetapi masih sepi. Hanya ada security mondar-mandir di dekat pintu masuk. Kami mencari petunjuk arah menuju stasiun metro yang ternyata ada di lantai bawah tanah.  Begitu memasuki pintu stasiun metro, saya mulai menangkap suasana yang muram dan berbeda dengan bagian depan stasiun yang modern. Bagian bawah tanah itu tampak tua dan kusam, penjaga loket sedikit galak dan orang-orang yang berjejer antri tiket saling melirik seolah menaruh kecurigaan. Karena belum mempelajari kartu transportasi yang akan kami gunakan, kami membeli tiket sekali jalan ke arah hostel yang terletak di Gare Du Nord. Dengan tiket berukuran kecil dan mesin tua yang unik, saya kesulitan masuk stasiun. Ternyata tiket mungil itu harus dimasukan dan akan muncul di depan setelah palang terbuka. Begitu keluar, akan terdapat tanda garis kecil di tiket pertanda telah dipakai. Setelah melewati mesin tiket kami bingung harus masuk ke stasiun yang mana karena tidak menemukan petunjuk.  Sembarangan kami mengikuti arus orang memasuki salah satu lorong stasiun.
 

Lorong-lorong stasiun itu muram dan horor. Orang-orang dengan lirikan yang seperti curiga hilir mudik tanpa aura wajah ramah. Tidak ada eskalator sehingga kami harus mengangkat koper naik turun tangga setan yang tingginya amit-amit. Agak berharap ada cowok ganteng yang tiba-tiba tersenyum dan membawakan koper kami melewati tangga seperti di London, tapi di Paris kami kurang beruntung. Setelah muter-muter di lorong dan bolak-balik motret jalur metro yang terpampang di tembok stasiun akhirnya kami menemukan jalan menuju hostel.  Dengan dua kali pemberhentian metro, sampailah kami di stasiun Gare Du Nord. 

Gare Du Nord besar dan modern. Pintu keluarnya pun susah ditemukan karena petunjuknya agak memusingkan. Tetapi sekali lagi, saya menemukan wajah-wajah curiga memandang kami sehingga kami menjadi waspada.  Sepanjang keluar stasiun saya menekap tas dan money belt erat-erat.  Sudahlah pergi ke Eropa dengan cara irit mendekati kere kalau sampai kenapa-napa, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.  Banyak gelandangan di pintu depan stasiun dan saya bergegas menghampiri polisi untuk menanyakan lokasi hostel. Polisi tidak yakin lokasinya hanya memberi tahu bahwa jalan yang saya cari ada di sepanjang jalan ini. Saya memutuskan berjalan ke arah kiri dan insting saya benar, Christoper Hostel ada di ujung jalan setelah melewati kedai-kedai makanan halal. Saya membayangkan bisa makan lebih leluasa di sini.

Christoper Hostel luas dan memiliki banyak kamar dormitory. Saya memilih female dormitory dan sekamar dengan cewek Brazil, cewek Afrika dan satu lagi emak-emak dari London.  Terlalu capek setelah perjalanan semalam naik bus dari London dan ketakutan banyak copet di jalan, kami memutuskan untuk tidur di hostel sambil menyusun strategi menjelajah besok harinya. Kami hanya keluar di sekitaran hostel untuk mencari makan sore hingga malam. Itupun masih ada acara nyasar segala. Jadi kapan kami tidak nyasar?

Esoknya kami jalan kaki menuju Sacre-Coeur yang terletak di bukit Montmartre. Menurut cewek Brazil itu tidak jauh dari hostel kami, tapi ketika kami jalan ke sana ternyata kaki sampai kram juga. Apalagi jalan menuju ke sana mendaki dan kami belum sarapan nasi beberapa hari. Sacre-Coeur merupakan gereja dengan kubah putih. Dari pelataran bagian atas kita bisa melihat pemandangan sebagian wilayah Montmartre.  Gereja ini didirikan pada tahun 1875 dan baru selesai dibangun pada tahun 1914.  Ada seorang lelaki tua yang memainkan biola dengan indah di pelataran atas Sacre-Coeur dan saya lebih suka menikmati permainan lelaki tua ini daripada jalan mengelilingi Sacre-Coeur.  
 

Hujan mulai turun ketika kami menuruni bukit dan melewati penjual souvenir yang berjajar di bawah bukit.  Kami memutuskan masuk ke sebuah tempat makan halal yang ada di seberang jalan. Meskipun setiap berjalan harus sangat waspada pada kemungkinan copet supercanggih yang mengintai dompet kami, tetapi hal yang menyenangkan di sekitar Gare Du Nord adalah banyak makanan halal. Karena hujan tak kunjung berhenti, kami kembali ke hostel untuk tidur siang. Ini adalah penjelajahan paling malas yang pernah terjadi dalam misi kami! Bukan apa-apa sih, lebih karena hujan dan kami agak takut dengan suasana Paris.
 

Baru sekitar pukul 2 sore kami kembali keluar hostel. Entah kenapa setiap memasuki stasiun sudah horor saja bawaannya. Apalagi untuk membeli tiket harus menggunakan credit card sehingga kami tidak bisa memperkecil kemungkinan kena scam. Dan benar saja, credit card saya kena scam (digandakan scammer setelah saya masukkan mesin untuk membeli tiket metro). Untung pihak bank segera menghubungi saya dan secepatnya credit card saya di block.  Duh, Paris, dimana cinta itu? Dan, saya mulai mengeluh.

Setelah muter-muter nyasar dan saku jaket temen saya digerayangi copet di metro sampailah kami di stasiun tujuan. Tidak ada barang hilang tetapi seorang ibu baik hati mengejar teman saya dan mengingatkan agar tidak menyimpan sesuatu di saku jaket. Banyak orang baik di mana saja, bahkan munculnya seringkali tidak bisa kita duga.

Begitu keluar stasiun, mata saya disergap bangunan-bangunan tua yang sangat artistik dan memancarkan aura seni. Sejauh mata memandang, bangunan-bangunan itu seperti kehidupan dari masa lampau yang tak pernah bergerak ke masa modern. Saya lebih suka menyebut Paris sebagai kota seni daripada kota cinta, karena setiap sudutnya memancarkan aura dan aroma seni.  Kami menyusuri sepanjang sisi jalan hingga sampai di menara Eiffel. 

Menara Eiffel seperti dugaan saya, sudah pasti ramai pengunjung dari berbagai negara. Saya sebenarnya tidak terlalu excited dengan menara Eiffel karena dalam kepala saya hanya besi yang didirikan membelah kota. Dan sampai hari ini juga tidak paham kenapa orang-orang selalu membuat definisi yang berkaitan dengan cinta di depan menara besi ini. Tetapi well, sudah sampai Paris, maka saya harus mengabadikannya dalam kamera. Siapa tahu sampai akhir hayat saya tidak bisa mengunjungi Paris. Jadi tidak ada salahnya saya mengunjungi menara Eiffel meskipun saya tidak tersentuh dengan berbagai cerita cinta di depan menara besi ini. Hanya sekitar 30 menit di tempat itu, saya kemudian melanjutkan perjalanan ke Museum Lovre dan Arc de Triomphe.  (bersambung ke tulisan ke -2 )

Mengunjungi Kantor PBB Di Geneva, Swiss


“I truly believe the only way we can create global peace is through not only educating our minds, but our hearts and our souls.” – Malala Yousafzai

Tepat pukul 2 sore, kereta yang saya tumpangi selama 7 jam dari Gare De Lyon, Paris tiba di stasiun Geneva, Swiss.  Pemandangan alam yang menakjubkan di luar jendela kereta sepanjang perjalanan membuat kepenatan saya menguap berganti semangat menjelajahi kota baru. Ini negara ke tiga yang saya kunjungi dalam perjalanan saya keliling Eropa setelah Inggris dan Perancis.  Selesai melewati pemeriksaan di pintu keluar, kami tiba di lobby stasiun.  Bingung menentukan arah menuju hostel, kami keluar stasiun dan berjalan menuju jalan besar. Ternyata salah, kami nyasar! Seorang wanita lokal menunjukkan arah kemana kami harus berjalan menuju hostel. Ternyata jalan itu ada di seberang stasiun. Terpaksa kami masuk lagi ke stasiun dan mengambil jalan sebaliknya.
 

Setelah menyeret koper sekitar 2 kilometer, sampailah kami di hostel. Terletak di depan salah satu kantor polisi, Hostel Geneva tampak tua dan halamannya kotor. Tapi ketika kami memasukinya, bayangan horor di benak saya segera menguap. Bagian dalam hostel memiliki desain modern dan warna-warni yang cukup menarik. Kami memilihnya karena ini satu-satunya hostel paling murah yang sesuai bujet kantong kami. Kamar kami terletak di lantai 4 tanpa lift.  Kami menggotong koper dan ngos-ngosan masuk ke dalam kamar. Ada 12 bed khusus female di kamar itu dan kami langsung merebahkan tubuh untuk istirahat sejenak. Satu orang cewek Tiongkok sudah berada di dalam kamar, tidur mendengkur.

Jika kita tinggal di Hostel, kita akan mendapat kartu transportasi gratis untuk naik berbagai moda transportasi di Geneva. Ini sangat menguntungkan karena One Day Pass untuk transportasi saja harganya sekitar 26 CHF atau sekitar Rp. 350.000.  Menjelang sore kami kelaparan dan mencari tempat makan halal. Agak susah menemukannya, tetapi di seberang jalan ada restoran Turki dan kami masuk ke sana. Dengan harga sepiring makanan sekitar Rp. 400.000, kami hanya memesan satu piring dan memakannya bersama-sama. Selebihnya untuk mengganjal perut kami membeli pisang dan kue-kue yang lebih murah di supermarket.  Swiss memang terkenal mahal dan bagi kami baru memasuki negara ini beberapa jam sudah langsung jatuh miskin.

THE GENEVA WATER FOUNTAIN & OLD TOWN

Tujuan utama kami ke Geneva sebenarnya untuk mengunjungi kantor PBB, tetapi karena sudah terlalu sore kami memutuskan untuk menyusuri tepi Danau Geneva. Di danau ini ada The Geneva Water Fountain atau Jet d’eau de Geneve.  Air mancur dengan kecepatan 200 km/jam ini sangat terkenal dan menjadi salah satu tujuan wisawatan. Pada hari Senin- Kamis dibuka pada jam 10 pagi sampai matahari terbenam. Sementara pada Sabtu- Minggu dibuka pda jam 10 pagi sampi 10.30 malam.  Banyak orang berjalan menyusuri sepanjang sisi danau, jogging atau duduk bersantai di depan danau. Di ujung Danau tampak kerumunan orang-orang berpesta minuman sepulang kerja. Saya meluangkan waktu sejenak duduk menikmati suasana di tepi danau sambil memandangi bebek-bebek liar yang berenang. 

Menjelang matahari terbenam kami berjalan menuju kota tua. Sebenarnya kaki sudah gempor, tetapi karena rasa ingin tahu yang besar kami terus menyusuri jalan sepanjang sisi kota. Tampak bangunan-bangunan tua yang megah berdiri gagah dan masih terawat dengan baik.  Orang-orang bercengkerama di kafe-kafe tetapi sebagian toko sudah mulai tutup. Jam menunjukkan pukul 8 malam ketika kami tersesat diantara bangunan tua untuk mencari makan malam. Meskipun langit masih terang, suasananya seperti di Indonesia tengah malam. Bahkan ketika kami menemukan Mc Donald dan memutuskan makan disana, suasana benar-benar telah sepi. Tepat pukul 9 malam kami kembali ke hotel menggunakan tram.

THE PALAIS DES NATIONS

Banyak organisasi internasional yang berkantor di Geneva, salah satunya PBB. Sebagai markas besar kedua setelah markas besar di New York yang mengurusi bidang politik dan pertahanan, kantor PBB di Geneva mengurusi bidang sosial dan kemanusiaan. Untuk sampai Palais Des Nations kami naik tram sekali dari hostel. Orang lokal Geneva sangat ramah dan murah senyum. Ketika saya ngantuk dan tertidur di tram, seorang ibu membangunkan saya dan mengatakan bahwa tram telah sampai tujuan terakhir di halte Nations. Turun dari tram saya melihat monumen Broken Chair atau kursi patah di areal luas di seberang pintu masuk kantor PBB. Monumen kursi patah itu sebagai simbol perlawanan terhadap penggunakan ranjau darat pada masa Perang Dunia I dan II yang memakan banyak korban.  Tepat di halaman depan tampak bendera-bendera negara anggota PBB, salah satunya Indonesia. Tetapi pintu masuk pengunjung ternyata bukan melalui pintu depan ini, sehingga kami harus berjalan melingkar untuk menemukan pintu masuk lainnya sekitar 500 meter dari pintu depan.

Untuk masuk ke dalam gedung PBB, kami harus mengikuti tour resmi yang diselenggarakan UN dengan membeli tiket seharga 12 CHF atau sekitar Rp. 160.000.  Hanya ada dua tour setiap hari yaitu jam 10 -12 siang dan jam 14 – 16 sore. Kami menunggu jadwal pembelian tiket jam 14 dibuka dengan duduk lesehan di depan gedung. Banyak remaja-remaja tour group dari berbagai negara menunggu antrian. Dan tepat pukul 2 sore pintu dibuka dan kami masuk satu persatu. Setelah pemeriksaan keamanan, passport dan pembelian tiket di bagian depan, kami mendapatkan name tag yang tertulis nama kami dan diantar guide menuju gedung yang lain. Di lobby gedung ini kami menunggu lagi peserta lain berkumpul untuk kemudian dipandu seorang guide yang akan mengantar kami berkeliling.

Setelah menjelaskan sepintas sejarah gedung PBB di Geneva, guide yang humoris itu membawa kami memasuki ruangan demi ruangan.  Ruangan pertama adalah salah satu ruang konferensi dari 34 ruangan lain yang serupa di dalam gedung ini. Ruangan ini berkapasitas hingga 700 orang yang dilengkapi berbagai fasilitas konferensi kelas dunia. Mereka juga menyediakan terjemahan audio maupun visual ke dalam berbagai bahasa. 
Ruangan kedua yang kami kunjungi adalah Assembly Hall yang terletak di gedung A lantai 3.  Ruangan ini salah satu ruangan tertua yang menampung hampir 2000 peserta konferensi.  Ruangan ini merupakan ruangan penting dan mengadakan pertemuan di bulan September sampai Desember untuk membahas anggaran PBB, membentuk beberapa anak organisasi PBB dan memilih anggota tidak permanen Dewan Keamanan.

Ruangan ketiga yang kami kunjungi adalah The Human Right and Alliance of Civilizations Room yang digunakan oleh United Nations Human Rights Council. Ruangan ini sangat menarik karena memiliki langit-langit yang dilukis yang merupakan karya seni kontemporer seorang perupa Spanyol Miquel Barcelo. Lukisan warna-warni ini menggambarkan keanekaragaman budaya di dunia yang meskipun berbeda tetap menyuarakan keseteraan hak asasi manusia di seluruh dunia.

Tidak banyak ruangan yang bisa kami masuki karena sebagain besar ruangan itu sedang dipergunakan untuk konferensi.   
Sebelum mengakhiri tour, saya menyempatkan diri membeli kartu pos UN yang ada di lobby gedung dan melihat-lihat souvenir UN yang harganya mahal sehingga saya memutuskan tidak membeli satupun.  Hari menjelang sore saat kami menyusuri taman depan UN dan meninggalkan areal Palais Des Nations. Tampak di seberang jalan markas Palang Merah Internasional berdiri gagah. 
 

Geneva memang kota yang mahal, namun juga sangat menarik. Selain di sana menjadi markas besar berbagai organisasi dunia, penduduk lokal juga ramah dan penolong. Ketika meninggalkan Geneva pada pagi harinya untuk melanjutkan perjalanan ke Austria, saya mengingat peristiwa akbar pada masa lalu. Presiden pertama kita, Ir. Soekarno pernah memutuskan pergi dari organisasi supremasi dunia PBB ini. Presiden Soekarno bersama Presiden India (Jawaharlal Nehru), Presiden Mesir (Gamal Abdel Nasser), Presiden Pakistan (Mohammad Ali Jinnah), Birma (U Nu) dan Presiden Yogoslavia ( Josip Broz Tito) mengadakan Konferensi Asia Afrika yang menghasilkan Gerakan Non Blok. Gerakan ini membuat negara-negara Asia Afrika memperoleh kemerdekaan hingga menjadi anggota PBB.  Saat ini masih banyak tragedi kemanusiaan di luar sana yang belum terselesaikan dan membuat hati kita teriris setiap membaca berita.
Semoga kemegahan gedung PBB yang saya lihat tidak hanya berdiri angkuh tetapi juga mampu menyelesaikan setiap konflik, mencegah terjadinya perang dan bisa menjalankan fungsinya secara adil sehingga benar-benar mampu mewujudkan perdamaian dunia.

 

Edinburgh Skotlandia : Kota Eksotis Para Penemu


“Jadilah seorang filsuf. Tapi, diantara semua filosofimu, tetaplah menjadi manusia.” – David Hume (filsuf Skotlandia, salah satu figur penting dalam filosofi barat dan Pencerahan Skotlandia)

Pagi berkabut ketika saya keluar dari terminal bus Edinburgh dan berjalan menuju Princess street. Perjalanan 8 jam menggunakan bus dari Victoria stasiun London ke Edinburgh terasa sangat melelahkan untuk tubuh tropis saya yang harus berjuang melawan hipotermia.  Suhu menunjukkan angka 9 derajat celsius dan angin dingin menampar-nampar tubuh saya yang terus menggigil. Sembari merapatkan jaket, saya menyeret kaki dan koper menyusuri sisi jalan yang masih sepi.  Tram sudah beroperasi dan beberapa warga lokal sudah mulai beraktivitas. Bahkan ada yang jogging di udara sedingin ini.  Entah terbuat dari apa kulit tubuh mereka sehingga tahan dingin.

Memandangi kota sambil menyusuri trotoar, saya seperti memasuki negeri dongeng dalam film-film Disney atau buku-buku klasik. Sejauh mata memandang tampak bangunan-bangunan masa lampau yang masih berdiri megah dan luar biasa eksotis. Seketika penderitaan saya karena dingin menghilang, berganti kegembiraan yang meluap. Ini kota yang sejak kecil saya impikan untuk saya kunjungi. Dan, Tuhan memberikan jalan pada impian saya. Di kejauhan kastil Edinburgh menyembul penuh pesona dari atas bukit seolah melambaikan tangan agar saya segera mengunjunginya. Tetapi  saya harus ke hotel lebih dulu untuk menghangatkan badan dan mengisi energi sebelum menjelajah Edinburgh.

Saya menginap tepat di jantung kota tua Edinburgh. Di salah satu hostel murah yang menyediakan kamar dormitori berisi delapan tempat tidur dalam satu kamar. Memasuki pintu Hight street hostel yang terletak di salah satu bangunan kuno, saya seperti memasuki masa lampau. Ruangan kamarnya yang luas tampak normal dan modern, tetapi dekorasinya klasik dan sangat Skotlandia. 

Buku-buku kuno yang sudah menguning tergeletak di rak samping ruang tunggu, sebuah patung masa lalu duduk di jendela seolah mengamati kami yang datang dari belahan dunia yang jauh.Seorang resepsionis tampan menerima kami dengan ramah dan mempersilakan kami istirahat sambil menunggu jam check in. Hostel ini juga menyediakan dapur yang bisa kita pakai untuk memasak secara bebas. Gula pasir, kopi dan teh disediakan gratis. Lalu mulailah kami memasak menu andalan yaitu mie instant.  Untuk orang Indonesia (khususnya saya) yang melakukan perjalanan ke Britania Raya dengan cara ngirit, mie instant cukup (harus cukup) untuk mengisi energi sebelum penjelajahan karena makan besar hanya akan terjadi sekali dalam sehari sesuai rincian bujet yang minim.

Usai membersihkan badan dan sarapan mie instant, saya memulai penjelajahan. Royal Mile adalah tempat pertama yang kami lewati. Lokasi ini panjangnya satu mil dan merupakan jalan raya utama di kota tua Edinburgh yang banyak dikunjungi turis. Saya menemukan beberapa patung pesohor yang menjadi figur penting pada masa pencerahan Skotlandia. Di kiri-kanan jalan, banyak pertokoan, hotel, museum, restoran, kafe bahkan tempat pembuatan rok (baju tradisional Skotlandia).  Menurut seorang teman, di Royal Mile juga sering ada atraksi seni yang menarik, tetapi sayangnya saya tidak menemukannya siang itu.   
Saya malah berbelok ke Royal Mile market, satu pasar kecil yang menjual berbagai macam suvenir khas Skotlandia. Di pasar ini juga kami menemukan pusat informasi dan peta petunjuk untuk menjelajahi kota tua Edinburgh. “Jangan kuatir, semua lokasi wisata di kota tua Edinburgh bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Semuanya cantik, anda tak akan kecewa,” kata petugas informasi sambil menunjuk peta.  Tapi saya tidak yakin dengan kaki Indonesia saya dalam suhu 9 derajat sementara kaki Skotlandia dia bisa jogging di pagi hari yang beku.  Tetapi layak untuk dicoba. Sebagai penulis, tujuan saya yang pertama adalah  Writer’s Museum.
Edinburgh Skotlandia pada abad keemasannya melahirkan banyak figur-figur penting yang berpengaruh di dunia.  Seperti diantaranya David Hume ; seorang filsup, ekonom dan sejarawan. Adam Smith ; Bapak Kapitalisme yang menjadi pelopor ilmu ekonomi modern. James Watt ; penemu dan pengembang mesin uap yang menjadi dasar tercetusnya Revolusi industri.
   

Tak hanya itu, kota eksotis ini juga melahirkan penulis-penulis hebat seperti : Walter Scott, Robert Louis Stevenson, Arthur Conan Doyle dengan Sherlock Holmes-nya dan penulis generasi baru seperti Ian Rankin. Bahkan meski tidak terlahir di Skotlandia, JK Rowling menuliskan karya fenomenalnya Harry Potter di kafe-kafe Edinburgh. 

Setelah menyeberang jalan dan memasuki gang sempit sampailah saya di gedung Lady Stairs. Writer’s Museum menempati gedung Lady Stair dan merupakan museum tiga penulis Skotlandia yaitu Robert Burns, Sir Walter Scoot dan Robert Louis Stevenson. Tetapi sayangnya ketika saya berkunjung museum itu sedang tutup dan baru akan buka lagi pada bulan Oktober.  Maka untuk sedikit merasakan energi kreatif para penulis hebat itu saya hanya bisa berdiri di depan pintu tertutup Writer’s Museum sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat lain.

Matahari bersinar cerah, tetapi udara dingin yang menggigit membuat saya semakin menggigil. Saya memutuskan masuk ke Museum Nasional Skotlandia untuk menghangatkan badan sekaligus melihat koleksi di dalamnya. Penemuan-penemuan pada masa abad keemasan Edinburgh terpajang di museum ini. Lokasi museum ini sangat luas sehingga butuh waktu lama untuk mengelilinginya dan saya sudah kelaparan. 

Sebelum jam makan siang tiba, saya sudah keluar dari museum dan melewati belokan jalan dengan patung Greyfriars Bobby. Seperti kisah Hachiko di Jepang, Bobby adalah anjing milik seorang polisi bernama John Gray.  Saat John Gray meninggal dimakamkan di Greyfriars Kirk.  Sejak kepergian tuannya itulah, Bobby duduk menunggui makam tuannya hingga anjing ini meninggal. 

Menyeberang jalan dari patung Greyfriars Bobby, saya terdampar di tempat makan Nando’s karena sudah kelaparan. Sebelum mencicipi kopi di The Elephant House tempat JK. Rowling melahirkan Harry Potter, saya ingin makan kentang dan ayam di Nando’s. 

Menjelang sore, saya mendaki Calton Hill untuk melihat Edinburgh dari ketinggian.  Calton Hill terletak di tengah kota Edinburgh tidak jauh dari tempat kami menginap. Tidak hanya pemandangannya yang sangat indah dari ketinggian, di bukit Calton ini juga terdapat beberapa tempat bersejarah yang bisa dikunjungi seperti Monumen Nelson, yang berbentuk seperti teleskop terbalik dan Monumen Nasional untuk memperingati prajurit Skotlandia yang meninggal di Perang Napoleon.  

Dari atas bukit ini terlihat jelas kontur alam Edinburgh yang berbukit-bukit dan bangunan-bangunan kuno yang mencuat indah. Andai saja memiliki banyak waktu, saya ingin duduk lebih lama di atas bukit ini sambil menikmati sapuan angin dingin dan memandang kejauhan. Tapi saya bukan orang Skotlandia yang bisa jogging di pagi hari yang beku, maka saya memutuskan kembali ke hostel sebelum terkena hipotermia.

Lampu-lampu mulai menyala saat saya berjalan kembali ke hostel. Pemandangan kota menjadi kian eksotis dan magis. Saya sampai beberapa kali berhenti dan menghela napas dalam.  Takjub melihat pendar lampu menerpa bangunan-bangunan kuno itu sambil membayangkan para pesohor yang mengubah dunia itu berjalan di sini pada masanya sambil memikirkan temuan-temuannya yang rumit. 

Eksotisme Edinburgh bukan hanya berpendar dari penampakan luarnya yang cantik tapi juga kegeniusan otak penghuni kotanya. Malam menjadi luar biasa dingin ketika saya menyeberang jalan menuju hostel.  Saya berjanji untuk kembali suatu hari nanti. ***