All posts by Admin2

Cambodia, Siem Reap : Berburu Matahari Di Angkor Archaelogical Park

“Sebagian orang lebih mudah jatuh cinta pada masa lalu daripada masa kini “
 

Mengunjungi Siem Reap, Kamboja, kita diajak kembali ke masa lalu yang eksotis. Kota yang tenang, kendaraan yang hanya didominasi tuk-tuk (becak motor), penduduk lokal yang ramah dan murah senyum serta kondisi jalanan yang jauh dari kemacetan. Kamboja membawa para pelancong untuk sejenak melupakan kepelikan dunia modern dan mengagumi keindahan masa lalu melalui arsitektur candi-candi Hindu-Budha yang indah dan megah.  Tertarik kembali ke masa lalu? 

ANGKOR NATIONAL MUSEUM

Saya memasuki Siem Reap setelah menempuh perjalanan 6 jam menggunakan bus pagi dari Phnom Penh. Dengan membayar biaya 9$ atau sekitar Rp. 121.000 (kurs rupiah Agustus 2015) saya mendapatkan bus biasa yang banyak ditumpangi orang lokal. Bus berhenti empat kali di rest area untuk makan dan ke toilet. Meskipun fasilitas yang disediakan bus hanya AC, tetapi cukup nyaman untuk melakukan perjalanan 6 jam. Tepat jam 3 sore saya tiba di Siem Reap. Jemputan tuk-tuk gratis dari hotel sudah menunggu saat saya turun dari bus.  Debu jalanan Siem Reap menyerbu saya saat tuk-tuk melaju menuju hotel. Tetapi jangan khawatir dengan debu, sopir tuk-tuk yang baik segera mencarikan masker untuk melindungi wajah dari debu jalanan. 

Menyebut kota Siem Reap kita akan selalu dihubungkan dengan kompleks Angkor Wat.  Angkor sendiri berarti kota suci atau ibu kota. Sementara Khmer adalah komunitas etnik terbanyak pada masa Kamboja kuno maupun modern.  Angkor merupakan ibukota kerajaan Khmer di Kamboja pada era abad 9 hingga 12 Masehi.  Saya menyempatkan diri mengunjungi Angkor National Museum dengan tiket masuk USD 12 sebelum mengunjungi kompleks Angkor Wat esok paginya. 

 Angkor National Museum merupakan salah satu museum yang menceritakan sejarah Khmer secara informatif.  Dengan mengunjungi Angkor National Museum diharapkan kita bisa memahami keseluruhan situs yang ada di kawasan kompleks Angkor Wat secara menyeluruh.  Ruangan pertama yang saya masuki adalah Briefing Hall, suatu ruang teater dimana pengunjung disuguhi penjelasan tentang museum. Setelah menonton film singkat di Briefing Hall, saya mengunjungi galeri selanjutnya.

Angkor National Museum memiliki 7 galeri dan 1 galeri ekslusif. Galeri pertama yaitu Galeri of 1000 Budha Images yang berisi koleksi patung Budha dari berbagai zaman. Sebagian besar memperlihatkan Buddha bermeditasi dengan dinaungi naga. Galeri kedua yaitu galeri A: Khmer Civilization. Galeri dengan tagline ‘the Origin of Khmer Empire’ ini menceritakan masa kerajaan Khmer dengan pembagian periode sejak zaman pre-Angkorian, Angkorian dan post-Angkorian. 
 Galeri ketiga adalah Gallery B: Religion and Beliefs. Sesuai namanya, galeri dengan tagline ‘the Reflection of Khmer’s Beliefs’ ini menjelaskan agama dan kepercayaan masyarakat Khmer yang berpengaruh pada semua aspek kehidupan mereka, lengkap dengan legenda dan cerita rakyat yang memotivasi peradaban Angkor selama berabad-abad. Galeri keempat, Gallery C: the Great Khmer Kings yang berisi empat raja paling terkenal dalam sejarah Khmer dijabarkan secara mendalam. Mereka adalah Raja Jayawarman II yang menyatukan dua kerajaan Chenla, Raja Yasowarman I yang mendirikan Angkor sebagai ibukota kerajaan, Raja Suryawarman II yang membangun Angkor Wat sekitar tahun 1116-1145, dan Raja Jayawarman II yang membangun Angkor Thom pada periode 1181-1201. Galeri kelima, Gallery D: Angkor Wat. Di galeri yang mengusung tagline ‘the Heaven on Earth’ ini pengunjung akan disuguhi film singkat mengenai Angkor Wat, mulai dari sejarah, konsep spiritual, dan teknik arsitektur serta konstruksi Angkor Wat. 

Galeri keenam, Gallery E: Angkor Thom. Galeri ini berisi penjelasan pembangunan dan perluasan Angkor Thom. Tagline ‘the Pantheons of Spirit’ mungkin dipilih untuk menggambarkan bahwa Angkor Thom merupakan suatu mahakarya peradaban Khmer yang sudah mengenal teknik rekayasa engineering untuk kepentingan umum pada masanya. Galeri ketujuh adalah Gallery F: Story from Stones. ‘the Evidence of the Past’ tagline galeri ini mencoba memperlihatkan bahwa peradaban besar Angkor memang nyata pernah ada dari seluruh prasasti yang dikumpulkan di seantero Angkor. Galeri kedelapan, Gallery G: Ancient Costume. Disini kita bisa melihat busana, cara berpakaian, perhiasan, dan berbagai aksesoris penunjang pada setiap masa peradaban Khmer yang ditampilkan oleh dewa, dewi, dan Apasara dengan berbagai gaya dan ornament. Seperti pada peradaban lain di dunia, peradaban Khmer pun membedakan status bermasyarakat dari keindahan dan kerumitan perhiasan dan aksesoris yang dikenakan. 

Angkor National Museum sangat menarik dan informatif. Dengan pencahayaan yang artistik, pengunjung tidak akan bosan mempelajari sejarah besar yang ada di dalamnya. Mengunjungi Angkor National Museum sangat direkomendasikan sebelum berkeliling Angkor Archaelogical Park. Di samping penjelasan tertulis yang sempurna, disediakan pula audio tour guide yang bisa disewa dengan USD 3 dan tersedia dalam 7 pilihan bahasa yaitu Inggris, Jerman, Jepang, Korea, China, Thailand dan Perancis. Tetapi sayangnya pengunjung tidak diperbolehkan mengambil gambar bagian dalam museum. Pengunjung hanya diperbolehkan mengambil gambar di luar museum.
ANGKOR ARCHAELOGICAL PARK
Memasuki kawasan Angkor archaelogical park kita membayar 20$ untuk kunjungan sehari, 40$ untuk kunjungan 3 hari dan 60$ untuk kunjungan seminggu.  Hari berkunjung tidak harus sesuai tanggal pembelian tiket, tetapi ada masa berlaku dari tiket tersebut. Saya membeli tiket 40$ untuk kunjungan tiga hari. Terdapat photo diri pengunjung dalam tiket, tanda lubang jumlah hari berkunjung dan pemeriksaan tiket di pintu masuk setiap candi sehingga memperkecil kemungkinan pengunjung masuk tanpa tiket. 

Angkor archaelogical park memiliki banyak candi yang fotogenik dan eksotik untuk dikunjungi wisatawan. Angkot Wat merupakan candi paling terkenal yang dibangun pada awal abad ke 12 hingga pertengahan abad ke 12 pada masa pemerintahan Suryavarman II, periode Hindu. Terdiri dari tiga tingkatan candi, Angkot Wat memiliki lima mahkota lotus  dengan tower yang berdiri setinggi 65 meter.  Pengunjung dapat menaiki tower untuk melihat keseluruhan candi dari ketinggian.

  

Selain Angkot Wat yang sangat terkenal, candi yang paling banyak dikunjungi adalah Ta Prohm atau lebih dikenal sebagai candi Tomb Raider karena pernah digunakan sebagai lokasi syuting film Tomb Raider dengan bintang Angelina Jolie sebagai Lara Croft.  Keunikan Ta Prohm adalah akar-akar pohon besar yang berusia ratusan tahun menjalar diatas bangunan-bangunan candi. Tidak hanya itu, batang-batang pohon yang ada di Ta Prohm tampak berkilau saat tertimpa sinar matahari.  Candi lain yang tidak kalah menarik adalah Bayon. Candi yang dibangun pada masa pemerintahan Jayavarman VII ini merupakan candi Budha dengan 216 wajah. Setiap bangunan memiliki wajah yang berbeda-beda. Bagian dalam candi sendiri sangat besar dan memiliki banyak ruangan.

Jika kita tidak menyukai sesuatu yang terlalu mainstream dan touristik, jangan kuatir. Masih banyak candi eksotis yang bisa kita kunjungi seperti Angkor Thom,  Terrace of the Elephants, Preah Khan, Preah Neak Poan, Srah Srang yang merupakan tempat pemandian raja pada masa lalu dan candi-candi kecil lainnya yang tak kalah menarik.  Menghabiskan waktu di Angkor archaelogical park membuat kita diseret kembali ke masa lalu saat kerajaan Angkor ini berdiri dengan megahnya.
BERBURU MATAHARI

Selain wisata candi, para pemburu matahari akan dipuaskan dengan pemandangan sunset dan sunrise yang indah di Angkor archaelogical park ini. Pagi masih berkabut saat saya bersama ratusan orang berburu sunrise di kompleks Angkor Wat.  Berpuluh tuk-tuk yang mengantar wisatawan menuju Angkor Wat melaju seolah tak mau kehilangan kesempatan berburu matahari pagi. Angin sejuk dari kawasan hutan Angkor membelai wajah-wajah yang antusias. Begitu saya memasuki kawasan Angkor Wat untuk melihat sunrise, para pengunjung sudah berjubel memenuhi area depan kolam. Di depan kolam itulah pantulan sunrise dengan siluet Angkor Wat yang berdiri megah siap ditangkap ratusan kamera dari berbagai belahan dunia.

 Cahaya merah mulai menyebar di langit timur dan memantul di kolam depan Angkor Wat saat jarum jam menunjukkan pukul 6 pagi. Pengunjung terdiam menyaksikan matahari yang bangkit dari tidurnya dan menciptakan siluet yang menawan. Hanya terdengar jeklikan kamera untuk mengabadikan moment spesial itu. Perpaduan bangunan kuno yang eksotis dan kebesaran Tuhan bisa kita lihat dalam sunset Angkot Wat ini.

 

Tak hanya berburu sunrise yang mempesona di kawasan Angkor Wat, para pengunjung juga bisa menikmati sunset di Phnom Bakheng.  Candi ini dibangun di atas bukit Bakheng pada masa pemerintahan Jayavarman V, periode Hindu sekitar awal akhir abad 10 hingga awal abad 11.  Untuk mencapai candi ini memerlukan waktu sekitar 30 menit naik ke atas bukit. Dari atas Phnom Bakheng kita bisa menikmati pemandangan Angkor Wat dan danau Tonle Sap dari kejauhan, kota Siem Reap dari ketinggian. Tak hanya itu, kita juga bisa mengendarai gajah menyusuri bukit dengan membayar USD 20$. 

 

Karena lokasi Phnom Bakheng sedang diperbaharui, maka pengunjung yang menaiki candi untuk melihat sunset dibatasi hanya 300 orang.  Jika sudah mencapai kuota 300 orang, maka kita akan menunggu mereka yang turun untuk bisa naik ke atas candi. Pengunjung yang ingin menikmati sunset di lokasi Phnom Bakheng ini sangat banyak, maka disarankan datang lebih awal karena pada pukul 17.30, pintu naik ke atas bukit sudah ditutup. 

Tak kalah menawan dengan sunrise di Angkor Wat, sunset di Phnom Bakheng menciptakan pemandangan yang luar biasa. Matahari keemasan tenggelam di tengah kota Siem Reap dengan siluet candi yang eksotis membuat pengunjung merasa damai menikmati hari yang tersisa.  Rasanya ingin lebih lama berdiam di ketinggian sambil menikmati langit yang sebentar lagi bertabur bintang, namun saya harus segera turun. Petugas sebentar lagi akan mengusir para pengunjung untuk meninggalkan candi. Bukit sudah gelap dan binatang hutan mulai bersuara saat saya turun menyusuri bukit meninggalkan Phnom Bakheng.
OLD MARKET, NIGHT MARKET dan PUB STREET
Anda ingin berburu oleh-oleh atau menikmati kehidupan malam di Siem Reap? Di sini tempatnya. Old market berdekatan dengan pub street dan night market. Pada siang hari, wisatawan bisa berbelanja berbagai macam souvenir dan hasil kerajinan tangan Kamboja sementara malam harinya, night market dan pub street akan ramai dikunjungi orang untuk belanja, makan malam dan menikmati kehidupan malam.  Di sekitar tempat ini juga banyak kita temukan guesthouse, bar dan restoran dengan harga yang terjangkau.

Berbagai jenis souvenir khas kamboja dan oleh-oleh khas Kamboja dijual di area Old Market dengan harga yang bisa ditawar seperti Krama, kain khas Kamboja bermotif kotak-kotak atau garis-garis dan berbagai souvenir. Harga souvenir di Old Market lebih murah daripada jika anda belanja di night market. 

MAKANAN KHAS KAMBOJA
Tidak lengkap rasanya jika kita berkunjung ke suatu kota tanpa menikmati makanan khas mereka. Begitu juga makanan khas Kamboja yang nikmat. Saya mencoba beberapa makanan khas atau bisa disebut lauk pauk yang dimakan bersamaan dengan nasi. Restoran yang saya kunjungi merekomendasikan saya mencoba Amok, Cem Cemerik dan Lok Lak.  Amok terbuat dari ikan yang dipepes, sementara Cem Cemerik terbuat dari seafood dan Lok Lak dari daging bumbu kari. Ada satu menu yang sangat terkenal di salah satu restoran muslim yaitu Beef Climbing Mountain. Menu ini banyak diburu para pandatang muslim karena penasaran. Hampir mirip dengan Lok Lak, Beef Climbing Mountain terbuat dari daging yang dimasak dengan sayuran. Nama unik ini berasal dari pemilik restoran Malaysia untuk mengundang pengunjung datang ke restoran.

Mengunjungi Kamboja seolah kembali ke masa lalu yang eksotis, agung dan megah. Jika anda menyukai hal-hal yang beraroma masa lalu dan wisata sejarah, Kamboja adalah tempat yang tepat. Tunggu apa lagi? Let’s go!

Travel Mates

“Have you found the right travel mates?”
Dita, saya dan mantan pacar 😀
Kalau kata penulis buku-buku traveling Claudia Kaunang, “travel mates bisa jadi teman baik, tapi teman baik belum tentu bisa jadi travel mates. Itu bener banget!
Empat tahun lalu ketika saya resign dari kantor, saya memutuskan untuk memulai perjalanan.  Tetapi saya tidak berani melakukannya sendirian. Pertama karena saya sering sakit mendadak dan kedua saya memang penakut.  Menunggu teman yang sudah saya kenal sebelumnya rasanya sulit, karena rata-rata teman saya tidak suka melakukan perjalanan secara nekad dan susah menemukan waktu yang pas. Saya kemudian masuk ke sebuah millist jalan-jalan untuk memantau orang-orang didalamnya dan mencari teman. 
Dita
Sampai suatu hari ada cewek yang posting begini :  “Dear all, gue mau ke Vietnam 4 hari, udah beli tiket Air Asia buat bulan ini tanggal ini, anyone? Email me kalo tertarik join.” Cewek itu namanya Dita. Cuma pake good feeling aja aslinya, saya kemudian respon emailnya dan nanya-nanya sedikit buat mencocokkan pribadi saja. Pertanyaan saya memang agak ndeso sih hehe, karena saya memang asli ndeso. Saya nanya begini, “Loe suka dugem  nggak?” Dia jawab ,” enggak.” Pertanyaan kedua,”Loe traveling bawa pacar?” Dia jawab,” nggak.” Pertanyaan ketiga, “Loe hobby shooping?” Dia jawab, “suka tapi kalo traveling lebih suka nyasar ke tempat asing ketimbang shooping.”  That’s good!  Kayaknya dia nggak jauh beda sih sama saya. “Nggak bisa/nggak suka dugem, nggak bawa pacar dan traveling bukan untuk shooping!” Mendadak saya girang dan semangat. Saya berdoa semoga kami cocok di perjalanan.

Mengelilingi Thailand sama Dita
Pertemuan pertama kami di bus damri bandara dan meski awalnya agak kaku, lanjutannya kami bisa akrab.  Orangnya mandiri khas traveler, selalu pengen tahu, suka pernik-pernik lucu, suka kucing dan hobby banget sama sesuatu yang gratisan buat para backpacker. Hahaha. Siapa sih yang nggak suka gratisan?  Dita juga gampang mengingat suatu tempat meskipun masih aja nyasar is the best.  Oh, nggak hanya itu, dia juga pemberani. Tahun 2013 gegara saya gagal ikut ke Jepang, dia berangkat sendirian selama 10 hari dan menginap couchsurfing.  Perjalanan di Vietnam seru meskipun terlalu singkat. Perjalanan berikutnya kami menyusuri 3 kota di Thailand dalam 10 hari. Beberapa perjalanan kemudian kami rencanakan tetapi gagal, sampai akhirnya kami kembali melakukan perjalanan ke Jepang, menyusuri 4 kota dalam 11 hari. 
Dita dan Icha ngubek-ngubek peta
Dalam perjalanan ke Jepang inilah, Dita mengenalkan saya pada Icha. Teman lain yang juga tergila-gila traveling. Icha tidak jauh beda dari kami, dia juga tidak suka dugem, tidak bawa pacar dan lebih hobby nyasar ketimbang shooping. Di setiap hostel tempat kami menginap, Icha selalu bangun paling pagi, rajin packing dan nguprek-nguprek temannya buat jalan pagi ngelihat sekeliling. Icha juga selalu membawa segala keperluan yang kadang tidak dibawa temannya, perhatian banget sama teman-temannya. Traveling sama Icha artinya nggak usah takut lupa sesuatu karena Icha pasti membawanya dan pasti membaginya. Hahaha. Makasih Icha.

Icha
Tidak hanya mereka berdua teman traveling saya, ada satu lagi namanya Sita. Saya mengenal Sita di internet dan melakukan briefing sebelum berangkat ke Korea Selatan tahun 2012.  Ceilaaa resmi banget pake briefing segala, hahaha! Sita mengenakan jilbab, hobby nyasar juga dan suka bergaul dengan orang lokal.  Pernah kejadian waktu kami naik subway, tiba-tiba beberapa orang minta foto-foto sama kami, eh, ternyata itu kenalan barunya si Sita di subway. Hadehhh! Sita penggila drama Korea dan dibelain nyasar seharian buat nyari kantor si managemen artis pujaannya. Tapi kehebohan nyasar terbayar setelah berhasil menemukan gedungnya di Gangnam District diantar cowok Korea keren pula. Meskipun waktu masuk mobil cowok korea keren itu, saya sampai baca ayat kursi saking takutnya mau dibawa kemana.  Dalam perjalanan dengan Sita juga, saya mendapatkan banyak teman baru dari berbagai negara yang masih komunikasi hingga hari ini. Terakhir saya merencanakan umroh bareng Sita tapi Allah sepertinya merencanakan hal lain. Waktu kami tidak cocok dan kami pergi sendiri-sendiri.
Sita dan saya di Korea
Dari pertemanan traveling ini lama kelamaan meningkat jadi persahabatan. Saya, Dita dan Icha punya group khusus yang tanpa direncanakan sudah menjadi tempat berbagi tips perjalanan, info tiket promo, rencana perjalanan berikutnya, berbagi mimpi dan tempat curcol. Kami juga terbiasa berbagi tugas dalam merencanakan sebuah perjalanan. Ada yang pesan tiket, ada yang pesan hostel, ada yang bikin itenerary dan mencari info tempat yang mau dikunjungi. Pembagian tugas itu sudah otomatis terjadi dengan kesadaran dan kemandirian masing-masing.  Kami saling menghargai dan toleransi kemana saja tempat yang masing-masing ingin kami kunjungi.  Jika sesuatu terjadi dan ada yang tidak terpenuhi, kami saling berbesar hati dan berpikir positip plus ngarep dengan kata-kata andalan,”ini artinya kita akan ke sini lagi buat melihat yang belum kita lihat.”
Dita dan Icha
Dalam salah satu perjalanan pendek naik kereta, seseorang bertanya pada kami,”Kalian bekerja di tempat yang sama? Satu kampung? Satu kampus atau sepupu?” Dan semua jawabannya “Tidak,” tapi kami disatukan oleh “kegilaan yang sama dan kehausan yang sama mengintip dunia yang berbeda dari dunia yang kita lihat setiap hari.” 
Ketemu Dina Duaransel di Chiangmai
Dan… persahabatan selalu butuh waktu. Kita tidak bisa memaksa setiap orang yang kita temui atau orang yang baru kita kenal menjadi sahabat. Label sahabat selalu butuh proses panjang terkadang jatuh bangun. Ada kalanya bahkan persahabatan itu kadaluwarsa dan tidak bisa dilanjutkan lagi. Saya, Dita, Icha dan juga Sita sepertinya tipe orang yang santai memandang label sahabat. Kami tidak membebani satu sama lain dengan label sahabat. Tetapi mengalir dan bertumbuh dalam setiap ketikan di whassup.“Tahun ini kita kemana? Eh, ada tiket promo noh! Ketemuan yuk? Naik kereta yuk! Udah, jangan sedih mending browsing tiket promo! Dan bla bla bla lainnya.” Lalu seribu rencana mengalir dan seribu mimpi menunggu terealisasi.
Terimakasih sahabat perjalananku, kalian sudah sabar menemani saya dalam setiap perjalanan, meskipun kalau moody saya kambuh saya suka rese. Hihihi 

“Takayama Jepang” Nuansa Samurai Di Kota 9 To 5


“Travel brings power and love back into your life.”  – Rumi
Kota Takayama
Jika anda memasuki kota Takayama setelah mengunjungi Tokyo yang glamour, sibuk dan sangat ramai, maka Takayama akan menjadi dunia yang sangat berbeda. Tapi di sanalah serunya kota ini!
Berangkat Sekolah
PERJALANAN MENUJU TAKAYAMA
Setelah mengunjungi Osaka, Tokyo dan Kyoto, saya bersama dua orang teman dari Indonesia memutuskan mampir ke kota kecil Takayama sebelum kembali ke tanah air. Kami memesan tiket bus melalui internet dan bus akan melewati halte tepat jam 8 pagi esok harinya. Pemesanan bus di internet sudah termasuk paket hostel dan paket wisata ke Shirakawa go. 
Bus yang membawa kami ke Takayama
Jepang terkenal dengan kediplinannya, maka jangan sampai datang di halte lewat semenit saja dari jam 8 pagi. Pagi-pagi buta kami sudah packing dan naik turun subway agar sampai di halte sebelum jam delapan. Kami membayangkan akan banyak penumpang yang bersama kami menuju Takayama. Tetapi tepat jam 8 pagi, sebuah bus tingkat tanpa penumpang berhenti di halte.  Apa benar ini bus yang kami pesan? Kenapa kosong? Sopir bus turun dan menyapa kami dalam bahasa Jepang. Teman saya menunjukkan tiketnya dan ternyata benar, bus tingkat ini bus yang akan membawa kami  ke Takayama. Sopir bus mengatakan penumpangnya hanya empat dan kami dipersilakan memilih tempat duduk di mana saja.  Kami memilih duduk di tingkat atas, sementara satu penumpang lagi di bawah. 
Perjalanan Menuju Takayama
Perjalanan dari Kyoto menuju Takayama memerlukan waktu empat jam. Sepanjang perjalanan, saya sengaja tidak tidur karena sayang melewatkan pemandangan yang kami lalui. Setelah melewati kota-kota kecil, jalan tol panjang yang menembus pegunungan, dan istirahat di rest area selama setengah jam, tepat jam 12 siang kemudian kami memasuki kota kecil Takayama. 
Menurut wikipedia, Takayama adalah sebuah kota benteng yang berada di Prefektur Gifu. Pegunungan mengelilingi Takayama sehingga suasana asri dan sejuk akan menyelimuti kota ini. Itulah bayangan saya. Tetapi Takayama sangat berbeda dengan bayangan saya.  Takayama sangat panas di bulan Mei. Bahkan Kyoto jauh lebih sejuk dibanding Takayama. Tidak hanya panas, Takayama juga sepi. Tidak banyak orang muda melintas di jalanan, kami hanya menemukan para manula beraktivitas. Saya mulai ragu, apa yang akan saya temukan di kota kecil ini?
Memasuki Kota Takayama
Udara yang sangat panas membuat kami kelelahan dan memutuskan istirahat sebentar di hostel sebelum menjelajah Takayama. Seorang teman dari Belgium mengatakan Takayama akan habis dijelajahi dalam satu jam dan kota kecil ini sangat cantik. Tetapi kota ini hanya terlihat aktif mulai jam 9 pagi hingga jam 5 sore. Benarkah? Kami mulai penasaran akan menemukan sesuatu yang cantik di sini. Maka, saat matahari tak lagi garang, bersama satu orang teman baru dari Malaysia, kami mulai menjelajah Takayama.
NUANSA SAMURAI dan KOTA NINE TO FIVE
Kota Takayama yang cantik dan tenang
Meski matahari sudah tidak garang, tetapi udara masih panas saat kami mulai menyusuri kota kecil Takayama. Ada beberapa pilihan menjelajahi kota ini yaitu dengan naik sepeda atau bus dari stasiun. Tapi kami lebih suka jalan kaki agar bisa memotret apa saja yang kami lalui. 
Nuansa Samurai Takayama

 

Jepang selalu identik dengan era Samurai. Di kota tua Takayama ini, kami masih bisa merasakan nuansa Samurai itu. Selama periode Edo, Takayama dipertahankan sebagai kota budaya dan dagang. Kami bisa melihat budaya yang masih terus dipertahankan di kota ini, salah satunya saat kami mengunjungi jalan Sannomachi. Di sepanjang jalan ini tampak rumah dan bangunan kuno yang masih dipertahankan bentuknya sejak periode Edo. Hampir seluruh bangunan itu terbuat dari kayu dan pengunjung diperbolehkan masuk untuk melihat-lihat ke dalam bangunan tersebut. Selain dipertahankan sebagai rumah tinggal, bangunan kuno itu juga dipergunakan sebagai toko souvenir, restoran atau tempat penginapan khas Jepang yang disebut ryokan.
Kafe Cantik
Saya menemukan kafé-kafé cantik yang bisa digunakan untuk bersantai menikmati kota tua Takayama, tetapi sayang kafé ini hanya buka sampai jam 5 sore. Dan benar kata teman dari Belgium itu, kota ini hanya aktif mulai jam 9 pagi hingga jam 5 sore. Ketika kami kembali ke hostel jam tujuh malam, suasana sangat sepi. Tidak ada hiburan malam di kota ini.  Menurut saya kota ini memang sangat cocok untuk manula karena ketenangannya. Saya jadi membayangkan kalau saya warga Jepang, saya akan menghabiskan masa tua di kota ini.
Morning Market

Esoknya, di sudut kota Takayama kami menemukan pasar yang buka pada jam 6 pagi. Banyak wisatawan berkunjung ke pasar pagi ini. Pasar ini buka hingga pukul 12 siang dan menjual berbagai barang seperti makanan, sayur mayur, buah-buahan, souvenir hingga alat-alat rumah tangga. Yang paling mengesankan buat saya di sini saat disapa laki laki jangkung  sambil tersenyum ramah,” Assalamu’alaikum.”
Penjual di morning market
SHIRAKAWA GO
Shiroyama Point
Setelah menjelajah kota tua Takayama, esoknya kami mengunjungi Shirakawa go, salah satu situs warisan dunia yang terletak di lembah sungai Shokawa. Daerah ini pada zaman dahulu terisolasi karena lokasinya berada di tengah pegunungan. Tetapi saat ini jalan toll dan highway sudah menghubungkan Shirakawa go dan desa-desa sekitarnya. Jalan menuju Shirakawa go memang melewati pegunungan, tetapi pegunungan itu telah ditembus sehingga tercipta tunnel-tunnel jalan toll menembus pegunungan.  Perjalanan dari Takayama sampai Shirakawa go memerlukan waktu sekitar satu jam.
Ada satu spot terbaik untuk melihat Shirakawa go yaitu dari desa Shiroyama. Dari Shiroyama ini kita bisa melihat keseluruhan pemandangan Shirakawa go yang menawan. Dari kejauhan, pedesaan ini nyaris sama dengan pemandangan pedesaan di film-film klasik Jepang. Asri, sejuk dan cantik. Kami benar-benar tak sabar untuk segera tiba di sana.
Desa Ogimachi
Desa Ogimachi adalah desa terbesar di Shirakawa go. Kami memerlukan waktu sekitar satu jam untuk mengelilingi desa yang cantik ini. Di kelilingi pegunungan yang lebat, rumah-rumah tradisional yang bercirikan atap miring tampak unik dan kokoh. Kontruksi ini juga sangat kuat untuk berlindung pada musim salju. Terdiri dari tiga sampai empat tingkat, rumah-rumah tradisional ini cukup untuk tempat satu keluarga besar. Desa ini benar-benar seperti surga dunia. Airnya yang bening, bunga-bunga yang indah, ikan-ikan yang berkeliaran di saluran air dan udara yang sejuk.  Yang paling menarik bagi saya adalah kulkas alami yang ada di setiap depan rumah. Minuman-minuman di botol ditaruh di ember penuh air dingin. Saat kita mengambil botol minuman itu dinginnya sama seperti saat kita mengambilnya dari kulkas.
Kulkas alami
Wisatawan bisa memasuki rumah-rumah tradisional ini dan minum teh atau sake yang sudah disiapkan oleh penjaga rumah yang ramah. Bahkan kami bisa naik ke bagian rumah paling atas untuk melihat benda-benda kuno yang ada di dalam rumah tersebut. Shirakawa go benar-benar pedesaan yang bertahan dari gempuran modernisasi yang ada di sekelilingnya.
Pemandangan dari dalam rumah tradisional
OLEH-OLEH DARI TAKAYAMA
Kue-kue lucu Takayama
Selain souvenir, kerajinan tangan dan makanan khas Takayama, yang paling terkenal dari Takayama adalah boneka Sarubobo. Boneka ini khas Takayama dan tidak ada di tempat lain di Jepang. Boneka ini memang agak aneh, tidak memiliki pancaindera di wajahnya dan kalau diperhatikan agak menakutkan.  Menurut cerita setempat, boneka ini dibuat seorang nenek untuk cucunya agar mendapatkan kebahagiaan dalam menjalani hidupnya kelak. 
Sarubobo I love you
Menurut travel guide kami, boneka ini dahulu hanya dibuat dalam satu warna saja yaitu warna merah, namun sekarang terdiri dari berbagai warna yang dari masing-masing warna itu memiliki arti sendiri. Misalnya warna merah yang berarti keberuntungan dari pernikahan dan kelahiran. Warna biru yang berarti keberuntungan di tempat kerja, warna pink untuk percintaan, warna hijau untuk kesehatan, warna kuning untuk rezeki yang baik dan warna hitam untuk membuang kesialan. Boneka ini banyak tersedia di toko-toko seluruh Takayama dan menurut saya oleh-oleh paling khas yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. 
Takayama, satu kota di Jepang yang membuat saya ingin kembali ke sana. 🙂

Bali : Berkeliling Danau Batur, Mengunjungi Kuburan TRUNYAN



“Wherever you go, go with all your heart” – Confusius

 

Tengkorak di kuburan Trunyan


Apa yang ingin anda kunjungi di Bali?  Pantai, gunung, menikmati tradisi yang eksotis, duduk bersantai di kafe sambil ngobrol bersama teman, atau memanjakan diri di spa? Kalau semua itu sudah anda lakukan di Bali, coba hal lain yang lebih menantang dan berpetualang. Saya jamin, liburan anda pasti lebih seru! Apakah sesuatu yang lebih menantang dan berpetualang itu? Berkeliling Danau Batur menggunakan sepeda motor dan mengunjungi kuburan Trunyan. Mau coba? Ada baiknya anda menyimak perjalanan saya beberapa waktu lalu mengelilingi danau Batur dan mengunjungi kuburan Trunyan.

DANAU BATUR YANG CANTIK
 

Danau Batur

 

Danau Batur merupakan danau terbesar di Bali, terletak di kecamatan Kintamani Bangli, 65 kilometer dari Denpasar. Danau Batur merupakan danau terbesar di Bali yang juga telah ditetapkan sebagai Global Geofark Network atau taman Bumi oleh Unesco. Artinya kawasan danau Batur menjadi taman bumi pertama pertama yang ditetapkan secara resmi oleh Unesco.

Danau Batur

Untuk mencapai tempat ini, anda bisa menyewa mobil dari kawasan Kuta dengan biaya kisaran 400-500 ribu perhari atau menyewa sepeda motor dengan biaya sekitar 50 ribu perhari. Jika perjalanan lancar hanya membutuhkan waktu dua jam dari Denpasar, namun terkadang jalur menuju Kintamani sangat padat sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama. Saya lebih suka menggunakan sepeda motor karena petualangan akan terasa lebih seru.

Asyiknya bersepeda motor mengelilingi Danau Batur

Beberapa waktu lalu, citra buruk melekat pada wisata danau Batur sehingga wisatawan enggan menikmati danau Batur lebih dekat karena pengemudi seringkali menghentikan perahu di tengah danau dan akan melanjutkan perjalanan jika wisatawan mau membayar sejumlah uang yang diminta pengemudi. Tetapi kondisi sekarang sudah semakin membaik. Meskipun awalnya saya agak ragu, tetapi saya memutuskan untuk menikmati danau Batur lebih dekat.

 

Jalan curam di sekeliling danau Batur

Pemandangan danau Batur dari Kintamani tampak mempesona. Gunung Batur yang menjulang menaungi danau Batur dibawahnya. Wisatawan bisa menikmati pemandangan indah ini sambil duduk bersantai di areal public yang tersedia sambil menikmati makanan kecil. Tetapi saya tidak puas hanya menikmati danau Batur dari ketinggian Kintamani. Saya bersama beberapa teman memutuskan untuk membawa motor turun mendekati danau.  Menyusuri jalanan menurun yang berkelok-kelok, pemandangan danau Batur semakin mempesona dari dekat. Beberapa orang menawari kami menyeberang ke desa Trunyan dengan biaya 800 ribu per kapal, tetapi saya masih ragu untuk menyeberang mengingat kisah-kisah buruk yang pernah saya baca di media. 
 

Memancing di tepi danau

 

Saat kami istirahat di pinggir danau dan menikmati pemandangan tiba-tiba seorang lelaki mendekati kami dan menawarkan perahu untuk menyeberang ke desa Trunyan dengan harga murah. Hanya 400 ribu perkapal! Benarkah? Saya mulai tergoda karena memang sejak lama saya ingin menyeberang ke desa Trunyan. Seorang teman asli Bali kemudian menawar harga itu dan lelaki itu memberi kami harga baru 300 ribu perkapal! Wah, murah sekali! Sayang sekali kalau sudah sampai di sini tapi tidak mampir ke kuburan Trunyan, kan? Saya memutuskan mengambil tawaran itu. Dan kami dikasih aba-aba untuk mengikuti motor lelaki kekar itu.

Desa Trunyan

Kami naik turun bukit di pinggiran danau Batur mengikuti lelaki itu. Pemandangan di sepanjang perjalanan menakjubkan. Hingga kami memasuki batas desa Trunyan, lelaki itu tak juga berhenti. Kami mulai curiga dan was-was kira-kira kami akan dibawa kemana? Apakah karena hanya membayar 300 ribu maka kami dibawa ke perkampungan paling dekat untuk menyeberang ke kuburan Trunyan? Tapi saya justru menikmati perjalanan mengelilingi danau Batur dengan mengendarai motor. Hingga motor lelaki itu melewati pura di pinggir danau Batur dan berhenti di perkampungan paling dekat dengan kuburan Trunyan. Dua orang wisatawan dari Jakarta juga sedang menunggu di sana.

Tak lama perahu dengan tenaga kayuh manusia datang menjemput kami dan kami semakin yakin bahwa kuburan Trunyan tinggal dekat saja. Benar, hanya 15 menit kami naik perahu sudah sampai ke kuburan Trunyan.

KUBURAN TRUNYAN

Welcome to Kuburan Trunyan

 

Desa Trunyan terkenal dengan pemakamannya yang unik. Tidak seperti masyarakat Bali lainnya yang melakukan ngaben untuk jenazah, tetapi warga desa Trunyan meletakkan jenazah di satu area berundak di bawah pohon Taru Menyan. Pohon  besar yang menjulurkan akar-akarnya ini menguarkan bau wangi sehingga mayat yang diletakkan dibawahnya tidak berbau.

Pohon Taru Menyan

Untuk mencapai kuburan Trunyan, pengunjung bisa melalui akses jalur darat sekitar 45 menit dari jalur Panelokan seperti yang saya lakukan lalu dilanjutkan bersampan sekitar 15 menit, atau menyewa boat di dermaga Kedisan yang memerlukan waktu sekitar 45 menit menyeberangi danau Batur. Memasuki areal kuburan, kita akan melihat pemandangan yang mengerikan. Tengkorak yang berjejer di atas undakan, mayat-mayat yang berbaring di ancak saji (kurungan bambu berbentuk segitiga sama kaki), koin-koin bertebaran, baju-baju jenazah yang dibawakan oleh keluarganya sebagian terkubur di tanah dan tulang belulang yang berserakan di atas tanah. Saya beruntung karena ada jenazah yang baru di tempatkan di salah satu ancak saji dan kondisinya masih utuh. Wisatawan bebas mengambil foto di area ini bahkan menyentuh tengkorak-tengkorak yang berjejer di undakan.

Jenazah dalam ancak saji dan barang yang dibawakan dari rumah
Tidak semua jenazah dikuburkan di pekuburan Trunyan. Mereka yang dikuburkan di bawah pohon Taru Menyan adalah mereka yang meninggal secara wajar. Sedangkan mereka yang meninggal karena kecelakaan, dibunuh dan bunuh diri akan dikuburkan di lokasi berbeda yang bernama Sema Bantas. Sedangkan jenazah anak-anak dan bujangan dikuburkan di Sema Muda.
Ancak saji (kurungan bambu berbentuk segitiga sama kaki) hanya berjumlah 11. Jika ada yang meninggal maka salah satu jenazah yang sudah menjadi tulang akan digeser untuk diisi dengan jenazah baru. Di depan ancak saji terdapat foto jenazah, piring, baju, perhiasan, sapu tangan milik jenazah. Kuburan Trunyan ini melengkapi kekayaan wisata Kintamani, Danau Batur yang indah sekaligus menyimpan tradisi yang unik.  Jangan sampai anda lewatkan saat berkunjung ke Bali.

 

Jepang: Keindahan Masa Lalu Dan Masa Kini


“Travel is the only thing you buy, that makes you richer”

Jepang menawarkan ragam wisata yang menarik bagi wisatawan.  Jika anda penggemar hal-hal yang berbau klasik dan eksotis dari masa lalu anda bisa mengunjungi wisata-wisata klasik bernuansa Samurai dari periode Edo yang masih dipertahankan keasliannya. Tetapi jika anda menyukai wisata modern dan futuristik, anda juga bisa mengunjungi tempat-tempat wisata yang menawarkan hal-hal berbau futuristik dan glamour masa kini. Jadi anda ingin mengunjungi yang mana? Jepang memiliki keduanya.

OSAKA

Saat saya mengunjungi Jepang beberapa bulan lalu, saya memutuskan untuk mengambil penerbangan Jakarta- Osaka (Kansai) dan menikmati Osaka beberapa hari sebelum melanjutkan perjalanan ke kota lain menggunakan bus malam. Osaka memiliki tempat-tempat menarik baik yang klasik maupun modern. Saya membeli one day pass (Amazing Osaka Pass) di Kansai Airport sebelum berkeliling Osaka. Kelebihan one day pass (Amazing Osaka Pass) ini, dengan membeli seharga 2300 Yen, kita sudah bisa berkeliling seharian menggunakan bus dengan nomor tertentu dan masuk beberapa tempat wisata tanpa membayar lagi.
Osaka dari ketinggian

Dengan panduan peta Osaka, saya bersama dua teman dari Indonesia siap menjelajah Osaka.  Sepanjang sisi jalan yang saya telusuri, saya menemukan bangunan-bangunan menjulang dan kota yang sangat modern. Orang-orang lalu lalang menggunakan sepeda dan sebagian bersantai di areal public yang luas sambil membaca buku. Kami memasuki stasiun dan mencari jalan terdekat menuju Hep Five Ferris Wheel. 
Hep Five Ferris Wheel
Hep Five Ferris Wheel adalah sebuah bianglala di atas gedung tinggi. Dari puncaknya kita bisa menyaksikan keseluruhan kota Osaka. Saya sebenarnya paranoid terhadap ketinggian, tetapi sayang rasanya melewatkan bianglala ini. Hep Five Ferris Wheel dibangun sejak Desember 1998 setinggi 106 meter dengan waktu putar 15 menit. Memandangi kota Osaka menjelang sore dari ketinggian 106 meter sungguh menakjubkan. Gedung-gedung tinggi menjulang memenuhi langit, seolah menjadi simbol modernisasi. Setelah 15 menit putaran itu selesai, saya turun dari bianglala itu dengan gemetar. Tapi juga takjub karena saya bisa menaklukkan ketakutan saya.
Parit yang mengelilingi Osaka Castle

Tujuan selanjutnya adalah Osaka Castle. Berbeda dengan pemandangan yang saya temukan dari ketinggian  Hep Five Ferris Wheel yang sangat modern, Osaka Castle menawarkan pemandangan negeri dongeng dari masa lalu. Kastel yang memiliki arsitektur khas istana Jepang ini berbentuk seperti piramida dan dikelilingi oleh perairan atau parit besar. Fungsinya sekarang sebagai museum yang menyimpan bukti-bukti sejarah pembangunan kastel Osaka.
Osaka Minami

 Dari Osaka Castel hari sudah menjelang malam. Kami melanjutkan perjalanan ke  Minami untuk naik  Tombori River Cruise.  Setelah semua penumpang naik kapal, kami kemudian menyusuri Minami. Sepanjang pinggir sungai kami melihat  restoran, hotel dan tempat  belanja. Perjalanan hanya memakan waktu sekitar duapuluh menit dengan guide yang  kocak. Yang menarik dari tour singkat Tombori River Cruise ini buat saya adalah sepanjang perjalanan kami  melambaikan tangan ke setiap orang ditepian sungai meskipun kami tidak  kenal. Mereka juga balas melambai dengan suka cita. Menurut saya ini bagian yang paling menarik dari tour ini. Keramahan dari orang-orang yang tidak saling mengenal untuk menyapa dan bertukar senyuman.

KYOTO

Jika anda menyukai eksotisme masa lalu seperti saya, maka Kyoto-lah tempatnya. Kyoto merupakan kota kuno yang kaya dengan sejarah masa lalu yang masih dipertahankan hingga sekarang. Dengan berbekal peta dan kartu tranfortasi pasmo, saya dan teman-teman mulai menjelajah Kyoto. 

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Kiyomizudera Temple. Jalanan menuju kuil yang berada di atas bukit itu memang menanjak tetapi  masih bisa ditempuh segala umur. Kiyomizudera temple dibangun dengan kayu yang tidak lapuk meski umurnya sudah lebih dari seribu tahun dan berada diatas bukit dengan pemandangan yang bagus. Dari dalam kuil kita bisa memandang kota Kyoto di kejauhan. Di sekeliling kuil juga terdapat taman Jepang dan kolam-kolam jernih yang didalamnya terdapat ikan warna-warni. Turun  dari Kiyomizudera Temple kita melewati Higashiyama district yang merupakan tempat jajaran kafe-kafe dan toko cinderamata khas Jepang. Tempat ini sangat ramai, tetapi teratur dan menarik untuk berbelanja.

Tujuan berikutnya adalah Sagano bamboo forest atau hutan bambu Sagano di Arashiyama pinggiran barat Kyoto. Hutan bambu Sagano merupakan situs alam yang menyenangkan sekaligus menenangkan. Kita bisa menikmati hutan bambu Sagano dengan berjalan kaki, naik becak yang ditarik manusia atau naik sepeda. Kami memasuki hutan dengan berjalan kaki. Jalan setapak dalam hutan bambu ini sekitar 200 meter dan jika anda haus selama perjalanan, jangan kuatir, kita bisa membeli minuman botol/kaleng di mesin minuman yang tersedia di sepanjang perjalanan. Tidak hanya hutan bambu, di sekitar Sagano bamboo forest ini juga terdapat kuil  Tenryu yang merupakan kuil Zen terbesar di Jepang. Jika kita terus berkeliling kita juga akan menemukan rumah-rumah tua khas Jepang dan  taman yang indah, dan pemandangan menakjubkan di tepi sungai. Sagano bamboo forest merupakan tempat yang tepat untuk menenangkan diri dan berdekatan dengan alam.

Fushimi Inari Taisha
Menjelang senja kami melanjutkan perjalanan ke Fushimi Inari Taisha. Berbeda dengan kuil lain di Jepang, Fushimi merupakan lorong panjang dengan deretan rapat Torii (dua batang palang sejajar yang disangga dua batang tiang vertikal)  berwarna oranye.   Kuil ini terletak di lereng gunung dan untuk mencapai kuil inti , pengunjung harus mendaki ratusan anak tangga dan jalan setapak yang dinaungi Torii warna oranye yang membentuk koridor indah.  Fushimi Inari merupakan kuil untuk Inari yaitu dewa kesuburan sebagai sumber kesuksesan. Menikmati Fushimi saat senja dan lampu mulai menyala sangat mengesankan. Bangunan dan torii berwarna oranye itu akan menyala tertimpa lampu dan memancarkan aura hangat yang menentramkan.

Buah di Nishiki market
Esoknya kami mengunjungi Nishiki Market dan Gion district. Nishiki Market terletak di jantung pusat perbelanjaan Kyoto. Pasar Nishiki menjual segala jenis makanan yang dikeringkan, buah-buahan, sayuran, seafood segar juga yang sudah diawetkan, serta teh khas Jepang. Pasar Nishiki sangat teratur dan rapi. Tidak hanya untuk belanja, pasar ini juga menjadi tempat yang sangat menarik untuk para wisatawan untuk berwisata kuliner dan membeli oleh-oleh.
Tempat yang paling ingin saya kunjungi di Kyoto adalah Gion distric. Gion merupakan tempat yang sangat terkenal karena kebanyakan Geisha berada di sana. Sebagai pekerja seni mereka bekerja di restoran dan rumah teh yang ada di sekitaran Gion. Tetapi sayang, harusnya saya mengunjungi Gion pada waktu malam hari sehingga bisa bertemu Geisha, karena pada sore hari belum banyak dari mereka yang terlihat. Tidak hanya Geisha yang menjadi daya pikat Gion district, tetapi deretan rumah-rumah kuno yang masih dipertahankan keasliannya dan masih terawat dengan baik sangat menarik untuk dijelajahi. Maka meskipun tidak bisa menikmati teh sambil melihat Geisha mempertunjukkan kemampuan seninya, saya cukup terhibur melihat salah satu dari mereka berjalan menyusuri jalan Hanami-koji di areal Gion.

Distric Gion

TOKYO

Dengan gedung-gedung tinggi yang menjulang ke langit, papan-papan iklan yang artistik dan glamour serta orang-orang yang mengenakan pakaian serba hitam berjalan tergesa-gesa, lengkaplah sudah pemandangan Tokyo sebagai kota modern, masa kini, sibuk dan glamour. Dan kota ini memang cocok untuk wisatawan penggemar tempat-tempat modern dan futuristik.
Toko di Harajuku

Tetapi jangan salah, kita juga bisa menemukan kuil Sensoji atau kuil Asakusa Kannon yang tampak tradisional di tengah semua kemodernan itu. Kuil Sensoji banyak dikunjungi wisatawan dan merupakan kuil tertua di Tokyo. Untuk memasuki kuil Sensoji pengunjung harus memasuki dua gerbang. Selain sebagai tempat ibadah, area Sensoji temple juga sebagai pemujaan arwah. Di jalan sekeliling Sensoji Temple kita bisa menemukan kafe-kafe, restoran dan tempat penjualan  cinderamata. Tempat favorit saya di Asakusa adalah rooftop gedung informasi di seberang kuil Sensoji. Dari tempat itu saya bisa melihat Asakusa dari ketinggian. Benar-benar pemandangan yang indah! Kita bisa melihat Sensoji temple, deretan pertokoan, kafe dan restoran, orang lalu lalang serta Tokyo Skytree di kejauhan.
 

Dari Asakusa kami melanjutkan perjalanan ke Harajuku yang terkenal dengan banyak remaja lalu lalang mengenakan dandanan aneh-aneh. Kami memasuki Takeshita-dori dan mulai menelusuri area itu. Kegiatan yang bisa dilakukan di Harajuku selain melihat penampilan para remaja berdandan aneh adalah berbelanja. Banyak butik-butik yang menjual pakaian ajaib ala Harajuku hingga yang biasa saja. Harga yang mereka tawarkan terjangkau. Bagi penyuka belanja mungkin Harajuku bisa menjadi tempat pilihan untuk berbelanja.

Pemandangan malam Tokyo dari Rainbow Brigge
Setelah menyusuri Harajuku, hari sudah malam. Tetapi kami masih memiliki satu wish list yaitu menyeberangi Rainbow Bridge pada waktu malam hari. Saya masih paranoid terhadap ketinggian, apalagi di bawah jembatan itu laut lepas, tetapi saya tidak mungkin menyia-nyiakan tantangan menarik ini. Begitu memasuki areal jembatan, malam begitu sepi mencekam, angin bertipu kencang, hanya ada satu dua orang lewat dan dibawah sana laut lepas tampak hitam pekat. Jembatan dengan panjang 580 meter ini menghubungkan Shibaura Pier dengan Odaiba. Sepertinya akan romantis kalau menyeberangi jembatan ini waktu sunset sambil melihat pemandangan kota Tokyo di kejauhan, bukan malam hari dengan angin kencang dan suasana mencekam seperti ini. Tetapi toh, pemandangan malam dari Rainbow Bridge cukup mengesankan. Lampu-lampu diatas jembatan dan kapal yang lalu lalang di lautan menyala dikejauhan, menyuguhkan pemandangan malam yang berbeda.

Hachiko Entrance
Esoknya kami menyempatkan diri menengok Hachiko yang ada di depan stasiun Shibuya. Tempat ini sangat ramai dan banyak wisatawan ingin bertemu dengan patung anjing Hachiko. Kesetiaan anjing Hachiko menunggui majikannya pulang hingga bertahun-tahun padahal majikannya telah meninggal membuat para wisatawan terharu dan antri berfoto dengan patungnya. Drama memang selalu memikat manusia, dimanapun mereka berada.

 

Pemakaman Jepang

Beberapa hari menikmati Tokyo yang sangat modern, seorang teman asli Jepang membawa kami berkeliling pinggiran Jepang, untuk melihat hal yang berbeda. Kami dibawa mengelilingi pemakaman Jepang juga kuil-kuil di pinggiran Tokyo yang bersejarah dan masih terawat dengan baik. Jepang membuat saya takjub melihat modernisasi dan tradisional yang bersinergi tanpa harus saling mematikan. Sinergi yang menciptakan keindahan. (end).

Tanah Suci dan Cinta

“Tidak ada cinta yang abadi selain cinta-Nya”


Banyak orang bilang, melakukan perjalanan ke tanah suci tidak hanya membutuhkan uang tetapi juga membutuhkan undangan dari Allah. Menurutku itu benar!
Ada satu masa dalam hidupku, aku bisa melakukan perjalanan itu dengan mengandalkan uang. Tetapi kenyataannya aku sama sekali tidak berminat dan memilih melakukan perjalanan ke negara lain. Bahkan saat kakak dan teman mulai mengkritik perjalanan-perjalananku ke beberapa negara dan menunda keberangkatanku ke tanah suci, aku mulai marah. Kenapa mereka ikut campur urusanku? Aku mau kemanapun itu uangku dan itu urusanku. 
Tetapi pada pertengahan tahun 2014 segalanya berubah. Tidak hanya berada di titik kritis kehidupan dengan berbagai masalah, sisa trauma yang susah disembuhkan dan luka baru yang datang tiba-tiba, tetapi aku juga sangat merindukan pergi ke tanah suci. Rindu yang sangat. Padahal aku sama sekali tidak punya uang untuk membayar paket perjalanan ke tanah suci. 
Apa yang bisa kulakukan? Aku dengan gegabah mendaftar ke satu agen travel umroh lalu mencairkan sisa tabungan yang jumlahnya hanya separuh dari harga paket yang mesti kubayar. Lalu sisanya bagaimana? Masih sibuk mikir gimana dapat uang separuhnya lagi, agen travel mendesak terus sampai seperti rentenir mengejar buruannya padahal masih ada waktu satu setengah bulan lagi. Merasa tidak nyaman dikejar-kejar sekaligus panik bagaimana mencari separuh uang itu, aku memutuskan membatalkan bergabung dengan travel ini dengan resiko kehilangan uang pendaftaran. Jadi uangku yang sudah nggak cukup makin aja nggak cukup.

Tapi aku tidak menyerah. Aku memutuskan daftar lagi di salah satu pameran travel dan disana mendapatkan diskon sebanyak uang pendaftaranku yang hilang di travel sebelumnya. Tetapi masalahnya uangku tetap masih kurang separuhnya. Dari mana aku akan mendapatkan kekurangan uang itu? Tiba-tiba pulang dari mendaftar, rezeki itu datang. Separuh uang yang kurang plus uang saku sekitar satu juta sampai di tanganku. Alhamdulillah. 

 
Apakah semudah itu? Ternyata tidak. Sebulan menjelang berangkat aku sakit-sakitan. Darah tinggi sampai 175/110 dan sempat pingsan di blok M. Bahkan kondisi depresiku semakin parah. Aku seperti tidak punya harapan melanjutkan hidup, tidak punya semangat dan sangat sedih. Makan susah dan tidur tidak nyenyak. Berat badan susut begitu banyak. Apa yang terjadi denganku? Keluargaku bingung juga sahabat-sahabatku. Seorang sahabat muslimah dari Kanada bilang, ”Allah akan menyembuhkanmu di tanah suci nanti sis, kalau perlu teman bicara aku akan selalu ada.” Dan, melalui email-email yang panjang, aku menumpahkan semua kegalauanku. Kegalauan yang aku sendiri kurang tahu pasti karena apa. Dengan sabar dia membaca dan membalasnya sekaligus mensupport bahwa aku akan baik-baik saja. Terimakasih sahabat.
Hingga hari keberangkatan itu tiba. 12 Januari 2015.
Begitu mendarat di Madinah dan naik bis menuju hotel air mataku tumpah ruah. Memandangi hamparan tanah haram, mataku tidak percaya. Benarkah aku sudah sampai? Inilah tanah haram? Di sinikah Islam yang kupilih sebagai petunjuk hidup dan matiku berawal? Islam yang membuatku jatuh cinta sejak aku kelas dua SD. Aku terisak-isak terus dalam perjalanan ke hotel. Menarik perhatian beberapa orang di bis, tapi aku tak peduli. Lagipula aku tidak bisa mengendalikan perasaanku yang tidak menentu.
Pada hari pertama kedatangan itu, aku bisa menikmati makanan dengan lahap. Kesehatanku prima dan aku bisa mengikuti semua ibadah tanpa jeda. Dengan waktu tidur hanya 2 jam permalam, aku sangat kuat, sehat dan semangat. Subhanallah! Hari demi hari semakin membuatku semangat. Apalagi begitu menginjakkan kaki di Mekah. Aku menangis bahagia. Sangat bahagia. Semua penyakitku sepertinya terbang hilang. Semua luka berasa menguap. Semua trauma berasa lenyap. Yang tertinggal hanya cinta. Cinta-Nya.
Tidak hanya merasakan cinta-Nya yang begitu nyata dan kuat, cerita hidup teman-teman dalam perjalanan ini membuatku banyak merenung. Tidak ada manusia yang lepas dari cobaan. Salah seorang teman yang selalu tersenyum, gemar menolong dan tidak pernah menampakkan kesedihan ternyata baru kehilangan suaminya. Mereka baru saja menikah empat bulan dan sang suami dipanggil menghadap Rabb-Nya. Lalu pasangan senior yang tidak dikaruniai putra dan selalu kelihatan gembira. Pada akhirnya manusia hanya singgah sebentar di dunia dengan segala senda guraunya. Tujuan akhirnya adalah akherat dan pertemuan dengan Tuhan-nya. Lalu kenapa kita begitu sedih, sedangkan cinta-Nya begitu besar?
Kini, aku juga sadar kenapa orang-orang sholeh tersenyum saat kembali menemui Rabb-Nya. Karena mereka bahagia bertemu kekasihnya. Aku tidak bisa membayangkan betapa bahagianya mereka saat bertemu Rabb-Nya. Sedangkan aku yang bergelimang dosa saja, sangat bahagia bisa berdekatan dengan Allah. Aku merasa cinta-Nya memancar begitu indah, menyembuhkan semua luka-luka. Aku ingin kembali ke tanah itu. Ya Rabb, panggillah aku kembali.

Mengingat Desember Di Macau Mosque & Cemetery (2)


Masjid itu memang satu komplek dengan pemakaman muslim. Tampak lengang dan tidak nampak seorangpun di sana. Aku dan Meidy melangkah menuju pelataran belakang masjid yang dekat dengan pemakaman dan menemukan seorang wanita berjilbab hitam panjang sedang menangis. Aku dan Meidy saling pandang lalu memutuskan untuk duduk di samping wanita itu tanpa bicara apapun. Saat dia mengangkat wajahnya, aku bisa mengenali bahwa dia orang Indonesia. Ia tersenyum padaku dan Meidy lalu mengusap air matanya.
Masjid Macau
“Teman saya dari Indonesia sakit dan meninggal.  Dia masuk Macau dengan ilegal. Saya berharap masih bisa dimakamkan di sini,” katanya.
“Sakit apa?”
“Demam tinggi,” jawabnya. “Inilah susahnya kalau ilegal, kalau nggak dapat ijin dimakamkan di sini, kemungkinan dia akan di kremasi.”
Rumah nenek Aisha
Dan ia menangis terisak-isak lagi. Adzan dhuhur berkumandang, tampak beberapa lelaki berwajah Indonesia memasuki masjid dan mbak jilbab hitam bangkit dari duduknya untuk mengambil wudhu. Ia sempat bertanya kami siapa dan berasal dari Indonesia mana. Dalam sekejab kami sudah akrab seperti layaknya saudara. Tak lama kamipun sholat berjamaah.
Aku, nenek Aisha dan si mbak
Usai sholat jama’ah, seorang nenek masuk ke dalam masjid. Si mbak memperkenalkan kami ke nenek yang berwajah chinese ini. Beliau seorang mualaf dan tinggal di rumah mungil dekat masjid sendirian. Nama mualaf nenek ini Aisyah. Karena iman Islamnya, dia rela meninggalkan keluarganya dan hidup sendirian di usianya yang sudah renta. Subhanallah. Si mbak yang sering mengirimi nenek ini makanan setiap ke masjid. Aku jadi berkaca-kaca melihat kondisi nenek, rumahnya dan kekuatan iman Islamnya.
Karena ada titipan salam dari headwriter, aku diantar si mbak menemui imam masjid. Ternyata beliau berasal dari Sumatera. Rasanya lega setelah menyampaikan titipan salam. Kami menunggu ashar sambil menemani si mbak menunggu jenazah temannya. Tetapi sampai adzan ashar berkumandang, jenazaha tak juga datang. Ternyata si teman sudah di kremasi dan tidak bisa dimakamkan di sini. Si mbak menangis lagi, tetapi sambil terus berdoa untuk temannya.
Pemakaman di areal masjid
 Usai ashar kami memutuskan pulang. Karena tidak tahu jalan pulang ke hotel, si mbak berbaik hati mengantarkan kami sampai terminal. Sepanjang perjalanan kaki menuju terminal, si mbak cerita suka dukanya bekerja di negeri yang jauh dari kampung halaman. Tujuh tahun sudah si mbak merantau, bermula dari Hongkong. Ia bekerja untuk membiayai anak-anaknya. Pernah dikejar-kejar polisi karena berjualan asongan. Sampai kemudian dia bekerja di Macau sebagai pembantu rumah tangga. Sementara suaminya menceraikannya. “Hidup memang tidak selalu mudah, tetapi juga tidak sulit jika kita mau mensyukurinya,” katanya.
Sebelum berpisah, kami berpelukan lalu menghilang di keramaian terminal. Aku sendiri lupa nama si mbak dan lupa minta nomor handphonenya. Tetapi aku berharap suatu hari kalau aku ke Macau lagi bisa bertemu dengan Mbak ini. Semoga.

Mengingat Desember di Mesquita e Cemitério de Macau (1)

A good traveler has no fixed plans, and is not intent on arriving.  ~Lao Tzu

“Good Morning from Macau!”  kicauku di twitter pada suatu pagi di bulan Desember 2011 dari salah satu hostel mungil di dekat kawasan kasino Grand Lisboa Macau. Aku main internet sambil meringkuk di selimut.  Sebenarnya suhu cuma sekitar 18 derajat celcius, tapi buat orang tropis sepertiku sudah cukup bikin menggigil dan malas beranjak dari pembaringan.

Beberapa menit kemudian, headwriterku di sinetron series mention. “Tary lagi di Macau? Salam hormat ya untuk imam masjid Macau. Saya pernah singgah di sana beberapa waktu lalu.”  Aku membalas mention itu,”Insya Allah.” Tiba-tiba aku sadar. Waduh! “Salam” itu kan harus disampaikan dan kata “Insya Allah” itu harus diusahakan sampai titik darah penghabisan. Wah, gimana nih? Padahal aku nggak tahu dimana masjid itu! Sisi hatiku yang lain bilang “makanya ri, lain kali jangan segampang itu bilang insya Allah.”  Akhirnya aku memutuskan untuk mengubah beberapa rencana dan memasukkan agenda ke masjid Macau pada sore hari menjelang Ashar.
jalanan Macau malam hari
Setelah resign sebagai karyawan stasiun “Televisi Milik Kita Bersama” pada Agustus 2011 dan mendapati kenyataan hidup yang meleset dari rencana, aku memutuskan untuk melihat dunia di luar sana. Meidy, sepupuku yang baru pulang sekolah di Perancis bersedia menjadi travelmate-ku. Kebetulan dia juga lagi galau dan butuh hal-hal baru untuk penyegaran hidupnya. Karena perjalanan dengan paket wisata sudah pasti mahal, maka kami memutuskan backpacker ke Macau-Hongkong-Singapura dalam 12 hari. Ini pertama kalinya aku keluar negeri!

Dengan panduan buku-buku traveling dan Om Google, aku mengurus sendiri akomodasi dan transfortasi selama perjalanan ke tiga negara itu. Keder juga sih, soalnya pertama kalinya pergi dan semua ngurus sendirian.  Tujuan utamaku pergi hanya ingin melihat dunia yang berbeda dan menemukan hal-hal baru. Tetapi, mention dari headwriter-ku itu membuatku punya tujuan lain. Aku ingin sholat di masjid kota-kota yang aku kunjungi! Dan begitulah seterusnya, mencari masjid kemudian menjadi tujuan utama bagiku ketika mengunjungi tempat-tempat baru.
pendestrian di pinggir waduk
Setelah mengunjungi tempat-tempat wisata populer di Macau, aku dan Meidy naik bis menuju menuju pemberhentian terakhir di dekat pelabuhan. Menurut peta, dari sana bisa berjalan kaki ke arah masjid. Tetapi begitu turun dari bis, kami berada di sebuah perempatan dan tidak tahu harus kemana.  Tak seorangpun yang kami temi bisa berbahasa Inggris sampai akhirnya kami mengikuti insting untuk naik ke pinggiran sebuah waduk besar.  Kami bertanya menggunakan bahasa isyarat  pada orang yang kami temui kemudian dan menunjukkan peta lokasi masjid. Orang itu menunjuk ke kanan lalu ke kanan lagi. Hmm, sepertinya tidak jauh. Kami segera berjalan mengikuti petunjuk orang itu.
Kami berjalan menyusuri pendestrian pinggir waduk yang bersih dan banyak ditanami bunga warna warni. Udara sangat segar dan waduk tampak  tenang di kejauhan. Tempat ini sepertinya juga dipakai olahraga karena banyak alat-alat untuk olahraga. Tetapi setelah kami berjalan sekitar 30 menit, belokan ke masjid itu tak juga kami temukan. Dimana masjid itu? Kami terus berjalan dan bertemu mbak-mbak dan mas-mas dari Indonesia sedang bercengkerama di pinggir waduk sambil menikmati sore hari. Aku dengar mereka ngomong bahasa Jawa. “Kapan kowe mulih? Yak opo se kon iku? Gak main blas wis!” Hehehe. Sepertinya mereka berasal dari tanah kelahiranku.

alat olahraga di pinggir waduk
 Seorang cowok hitam manis yang berpapasan dengan kami senyum-senyum. Apa maksudnya ya? Ia kemudian menghampiri kami dan bertanya, “Dari Malaysia?” Meidy menggeleng. “Kami dari Indonesia.” “Mau ke masjid. Dimana ya?” Cowok itu menunjuk jalan di ujung . Waduhhh! Masih jauh rupanya. Kami kemudian pamit dan melanjutkan perjalanan menuju masjid. Cowok hitam manis itu senyum-senyum sambil melambaikan tangannya. Meidy tertawa geli.

Seperti petunjuk cowok itu, kami berbelok ke kanan. Tapi kami menemukan kelenteng. Apa masjid di sini arsitekturnya seperti ini? Tapi nggak ada tulisannya masjid? Kayaknya bukan ini deh! Mungkin masih di depan sana. Aku dan Meidy terus berjalan sampai menemukan rumah (kalau di Indonesia kontrakan kali ya). Meidy terdiam bingung. Mana masjidnya?
2011 belum populer selfie lho padahal! haha
“Mungkin masjidnya di dalam sana. Ngetuk pintu dan nanya orang aja yuk,” kataku. Tapi Meidy terdiam ragu. Aku tidak sabar dan melangkah ke halaman. Meidy mengikutiku. Semua pintu tertutup dan sangat sepi. Meidy berhenti dan mencermati petanya lagi. Aku ikut melihat peta. Tiba-tiba beberapa menit kemudian ada suara-suara napas. Kami menoleh ke arah suara. Bersamaan itu tampak anjing besar berwarna hitam di halaman agak jauh dari kami membuka matanya. Melihat orang asing, anjing itu langsung bangkit dan menyalak. Sorot matanya penuh permusuhan. Lalu, dua anjing besar lainnya datang! Ketiganya sama besarnya dan sama sangarnya!  Waaaaaaa! Ini benar-benar gila! Aku mencoba memasukkan bayangan anjing-anjing lucu, baik dan setia ke dalam otakku. Tapi kenyataannya aku tetap saja ketakutan! Nggak lucu kalau sampai digigit anjing di sini, beneran deh! OMG tolongggg!

Aku dan Meidy berdiri membeku di tengah halaman sementara tiga anjing ganas itu terus menyalak dan seperti hendak menerkam kami. Meidy memegang tanganku erat sampai lecet rasanya, sementara sekujur tubuhku dingin. Aku mulai baca-baca doa. Paling nggak semoga ada manusia muncul dari balik pintu rumah itu. Tapi tidak ada satu manusiapun. Anjing itu terus menyalak dan mendekati kami. Aku menarik lengan Meidy agar berjalan pelan-pelan keluar halaman. Aku dengar Meidy berbisik,”kalau terjadi apa-apa, maafin aku ya.” Aku diam saja dan menarik Meidy berjalan pelan-pelan keluar halaman. Begitu keluar dari halaman, aku memberi aba-aba ke Meidy,”lariiiii!” Dan kami lari tunggang langgang dikejar anjing. Kami tiba di depan gerbang tinggi sebuah bangunan lalu tanpa pikir panjang kami mendorong gerbang  yang tidak terkunci itu. Kami segera menutup gerbang dan sembunyi. Tiga anjing itu berkeliaran di luar gerbang, menyalak-nyalak dan mengendus gerbang. Hampir seperempat jam mereka di sana, baru pergi setelah putus asa tidak menemukan kami. 

waduk yang keren

Begitu situasi aman, aku dan Meidy menghela napas lega. Kami melihat sekeliling lalu membaca tulisan di gerbang. Tampak tulisan arab “Bismillah” kemudian ada huruf china dan di bawahnya (kami nggak tahu artinya apaan) dan ada lagi tulisan, “Macau Mosque and Cemetery” “Mesquita E Cemeterio De Macau.” Kami saling berpandangan lalu berpelukan senang. Alhamdulillah! Akhirnya kita menemukan masjidnya! Tapi kenapa tempat ini sangat sepi? Aku memandang berkeliling dan tidak menemukan siapapun. Ada banyak pohon menjulang tinggi dan daun-daun kering berjatuhan. Beberapa sisi juga tampak kotor dan tua. Tiba-tiba tangan Meidy mencengkeram lenganku kuat-kuat lagi.

“Lihat itu.. lihat itu.. itu kan.. itu kan…” wajah Meidy pias ketakutan. Aku menoleh ke arah telunjuk Meidy dan mendapati barisan nisan diam membeku di sana. Hah!? Ini masjid atau kuburan???
(berlanjut ke bagian 2)

CHIANG MAI- THAILAND, Beautiful Roses from The North

The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes, but in having new eyes.”  – Marcel Proust

Si mawar dari utara. Itulah sebutan untuk Chiang Mai. Setiap membaca atau mendengar sebutan itu, sebagai wanita saya selalu membayangkan sesuatu yang romantis, indah dan dramatis. Dan keinginan saya mengunjungi Chiang Mai-pun semakin besar dari hari ke hari. Maka dalam serangkaian perjalanan ke beberapa kota di Thailand saya meng-agendakan untuk singgah di Chiang Mai selama tiga hari yang kemudian menjadi empat hari karena rasa penasaran saya tentang kota ini.

Chiang Mai merupakan ibukota kerajaan kuno Lanna pada abad 13, asal muasal bangsa Thailand yang kemudian berlanjut ke Sukhotai, ibukota pertama Thailand. Sebagai kota kedua terbesar di Thailand, Chiang Mai memiliki daya tarik tersendiri di banding kota lain di Thailand. Jika Bangkok merupakan kota modern dan surga belanja maka Chiang Mai adalah kota yang tenang, nyaman, sejuk dan ramah. Sangat cocok untuk berlibur rileks dan menenangkan diri. Berjarak sekitar 700 kilometer dari Bangkok dan dapat ditempuh melalui perjalanan udara selama 1 jam 15 menit atau menggunakan perjalanan darat sekitar 10 jam. Chiang Mai terletak di antara pegunungan yang membentuk daerah utara Thailand sehingga memiliki pemandangan yang indah dan udara yang sejuk.

Saya sendiri melakukan perjalanan dengan rute Jakarta – Phuket – Chiang Mai. Jarak tempuh Phuket – Chiang Mai sekitar 1200 kilometer atau 1 jam 45 menit perjalanan udara. Tiba di Chiang Mai sudah jam 9 malam, tetapi begitu menginjakkan kaki di bandara saya malah merasa seperti pulang ke negara saya sendiri. Seorang teman traveler nyeletuk saat saya senyum-senyum sendiri, “hmm, welcome to your second home.” Ya, saya juga merasa aneh merasa begitu nyaman menginjakkan kaki di kota itu. Chiang Mai kota yang tenang, nyaman, tidak mengundang banyak kecurigaan seperti kota lain di Thailand. Saat sopir taksi mengantar saya ke hostel saya bisa memercayainya lebih banyak ketimbang di Bangkok atau di Phuket. Hampir tengah malam ketika saya sampai di hostel dengan gaya yang unik ala tatami di Jepang. Meski letih saya susah tidur karena tidak sabar menunggu menjelajahi Chiang Mai esok harinya.
KOTA KUNO dan SITUS-SITUS BUDAYA


Pagi-pagi, saya dan seorang teman traveler sudah tidak sabar untuk menjelajahi Chiang Mai. Hari itu kami menjadwalkan untuk mengelilingi kota kuno, mencari masjid pada waktu sholat dhuhur serta makanan halal di sekitar masjid untuk makan siang. Dan mulailah perjalanan menyenangkan itu. Dengan berbekal peta kami menyusuri trotoar kota kuno Chiang Mai.
Kota kuno Chiang Mai merupakan wilayah bujur sangkar yang menjadi pusat kota Chiang Mai. Kota kuno ini dikelilingi oleh parit yang luas dan bersih tanpa sampah. Selain lokasi bujur sangkar ini dikelilingi parit juga dibatasi oleh puing-puing tembok kota yang masih berdiri kokoh di beberapa tempat. Untuk melindungi dan mempertahankan kota kuno ini pemerintah Chiang Mai melarang pembangunan gedung pencakar langit dengan jarak tertentu dari kota kuno. Berjalan mengelilingi kota kuno saya seperti merasakan kerajaan Lanna pada masa lalu yang berdiri di area ini.

Di dalam kota yang di kelilingi tembok dan parit ini, saya menemukan banyak sekali wat (candi) indah yang didirikan sejak abad 13 sejak pendiriang kota Chiang Mai oleh Raja Mengrai. Beberapa candi yang saya kunjungi adalah Wat Chedi Luang yang didirikan pada tahun 1941, berada di dalam kota kuno dengan gaya arsitektur Lanna. Lalu Wat Phra Singh, berlokasi di kota kuno dan didirikan pada tahun 1345. Wat ini berasitektur utara Thailand. Wat yang paling terkenal di Chiang Mai adalah Wat Phrathat Doi Suthep yang berada di ketinggian bukit sebelah barat laut kota. Ada sekitar 300 wat di pelosok Chiang Mai yang membuat kota sangat kaya dengan situs-situs bersejarah.


 Setelah memasuki beberapa wat saya meneruskan perjalanan menuju pintu gerbang utama tembok kota di Chiang Mai yang terkenal dengan nama Tha Phae. Banyak sekali wisatawan asing menuju pintu gerbang Tha Phae dan berfoto-foto di sana. Saya semakin penasaran seperti apa melewati gerbang ini. Ketika saya menyeberang dan memasuki gerbang Tha Phae saya seperti melihat dua peradaban yang kontras dan menakjubkan. Di dalam tembok, saya bisa merasakan aura kerajaan Lanna di masa lalu dengan situs-situs bersejarah yang dilindungi dan dilestarikan sementara di luar tembok saya melihat kemodernan seperti restoran, café-café dengan arsitektur modern bertebaran. Seperti mengunjungi dua peradaban di satu kota.
Puas berkeliling kota tua, saya meneruskan perjalanan mencari masjid yang berada tidak jauh dari lokasi kota kuno. Menemukan masjid di kota asing selalu menjadi agenda saya dalam setiap traveling. Setelah berjalan beberapa saat saya menemukan sebuah masjid dengan tempat makan halal di seberang jalan depan masjid. Usai shalat dhuhur saya memutuskan untuk makan siang di tempat makan halal itu. Pemilik tempat makan itu menemani saya makan bahkan menyendokkan makanan ke piring saya dan mengajak mengobrol lama. Menemukan saudara seiman saat traveling selalu saja meneduhkan hati dan selalu ingat pada Allah SWT.
WHITE TEMPLE, GOLDEN TRIANGLE dan LONG NECK KAREN

Hari kedua saya menjadwalkan ikut tour ke Chiang Rai untuk melihat White Temple, Golden Triangle dan Long Neck Karen. Chiang Rai semakin terkenal dengan perpaduan alam yang eksotis dan wisata-wisata petualangannya. Dengan menggunakan mobil ELF yang nyaman saya bersama tujuh wisatawan dari berbagai negara berangkat ke Chiang Rai. Dalam perjalanan, kami sempat mampir ke Hot Spring Chiang Rai dan merebus telur di sumber air panas tersebut sebelum menuju  White Temple.
Setengah jam kemudian, kami sampai di White Temple sebuah wat yang megah dan semuanya serba putih. White Temple atau Wat Ron Kun ini merupakan ide seorang seniman Thailand Chalermchai Kositpipat yang ingin membangun kuil serba putih. Untuk memasuki kuil ini kami melewati semacam jembatan yang dibawahnya terdapat patung-patung berupa tangan dan manusia yang sedang menggapai-gapai ke udara. Kami melepaskan alas kaki saat memasuki wat dan melihat ke dalam kuil. Tampak ikon budaya dan kontemporer di dinding wat seperti gambar superman, kapal luar angkasa, doraemon bahkan Neo Matrix ada di dinding ini. Terlihat unik. Keluar dari kuil kami mengelilingi sisi halaman lain white temple dan melihat bangunan megah keemasan yang ternyata toilet. Saya bertanya-tanya apa sebenarnya pesan yang disampaikan oleh sang seniman melalui bangunan toilet emas ini dan belum menemukan jawabannya. Usai mengelilingi White Temple kami melanjutkan perjalanan ke Golden Triangle.


Golden Triangle merupakan wilayah perbatasan Thailand dengan Laos, Myanmar dan China. Perbatasan ini hanya dipisahkan oleh delta pertemuan sungai Mekong dan sungai Ruak. Golden Triangle ini dahulu merupakan rute perdagangan dan penyeluncupan candu dan sangat identik dengan opium. Tetapi opium di Golden Triangle sekarang tinggal sejarah. Setiap tempat dijaga dengan ketat untuk menindak tegas para pengedar opium baik warga lokal maupun mancanegara. Kami baik boat menyusuri sepanjang sisi sungai dan melihat lebih dekat perbatasan ini.  Tampak sebuah patung Budha keemasan di wilayah Thailand, bangunan Kasino di wilayah Myanmar dan pasar yang ada di wilayah Laos. Untuk memasuki pasar di wilayah Laos ini kami bisa masuk tanpa imigrasi. Pasar ini menjual berbagai souvenir Laos dan beberapa produk seperti tas yang ternyata produk China. Usai makan siang, kami sempat mengunjungi Mae Sai, wilayah Thailand paling utara. Wilayah ini berbatasan langsung dengan Myanmar hanya dengan border sungai dan jalan raya. Sebenarnya kami bisa masuk ke wilayah Myanmar dengan menunjukkan passport melalui perbatasan ini, tetapi kami masih memiliki tujuan lain yaitu Long Neck Karen dan hari sudah menjelang sore. Karena itu kami segera melanjutkan perjalanan.

Sudah senja saat kami tiba di Long Neck Karen, satu-satunya tempat yang menjadi tujuan utama saya mengunjungi Thailand. Long Neck Karen atau suku leher panjang sangat terkenal dan diliput berbagai media karena keunikannya, saya ingin melihat mereka. Memasuki area Long Neck Karen kami langsung melihat pemandangan unik dengan pakaian tradisional mereka dan leher berhias gelang yang tampak sangat berat. Mereka memercayai bahwa semakin panjang lehernya maka semakin cantik. Proses pemakaian gelang tersebut dilakukan pada anak perempuan sejak usia 5 tahun. Tumpukan gelang tersebut akan ditambah setiap dua sampai tiga tahun sekali. Gelang seberat 7 kilogram pada para wanita Karen ini boleh dilepas pada saat-saat tertentu misalnya persalinan, sedang sakit dan ingin muntah atau saat pernikahan. Gelang besi ini baru benar-benar boleh dilepas saat meninggal dunia. Selain mencoba gelang yang berat ini kami sempat menikmati tarian mereka yang lincah dan ceria. Hari sudah malam saat kami kembali ke Chiang Mai.
SUNDAY WALKING MARKET, KULINER dan BELANJA MURAH


Seorang teman menyarankan saya memperpanjang waktu untuk menikmati Sunday Walking Market di Chiang Mai. Saya rasa saran itu sangat tepat. Sunday Walking Market nyaris mirip dengan Malioboro di Yogyakarta tetapi areanya sangat luas. Saya dan seorang teman sampai letih menyusuri area pasar dadakan di hari minggu ini. Tetapi belanja dan menikmati kuliner khas Thailand membuat kami tak memedulikan kaki yang mulai menjerit-jerit minta diistirahatkan. 


Sepanjang area Sunday Walking Market kami menemukan penjual pakaian, souvenir, makanan, pertunjukan seni bahkan tukang pijat. Ramai dan seru! Di sini kita bisa membeli berbagai macam souvenir khas Thailand yang sangat menarik dengan harga yang menarik juga karena setengah dari harga yang ada di Bangkok. Tak hanya souvenir-souvenir lucu, di area ini kami juga menemukan berbagai macam kuliner khas Thailand seperti Pad Thai dan Tom Yam yang berbahan dasar mie dan sea food. Sunday Walking Market ini mengakhiri malam saya di Chiang Mai sebelum esoknya saya melanjutkan perjalanan.
Chiang Mai, kota kuno yang tenang, ramah dan sejuk ini meninggalkan kesan yang spesial bagi saya. Jika anda menyukai tempat berlibur yang tenang dan tentu saja murah, maka Chiang Mai bisa menjadi pilihan menarik. Selamat berlibur!
 Published : Annisa Magazine 2013

Bangkok, The Venice Of The East’

“The world is a book and those who do not travel read only one page.” – Augustine of Hippo

 

Seorang teman dari Canada mengatakan, “no city like Bangkok.” Saya rasa kekaguman teman saya itu ada benarnya. Bangkok merupakan sebuah kota yang lengkap dengan keindahan budaya masa lalu dan antusiasme penuh akan hal-hal baru. Tidak hanya lokasi-lokasi wisata bernilai budaya warisan masa lalu yang unik dan menarik, tetapi Bangkok juga menyediakan kemodernan yang terus berkembang. Bangkok mampu menjadi pusat regional yang dapat menyaingi Singapura dan Hongkong. Tak hanya itu, Bangkok yang murah juga menjadi surga para backpacker dan destinasi favorit teratas di Asia bagi wisatawan dunia. Khaosan Road merupakan kawasan backpacker terkenal di Bangkok.

 

Selain destinasi-destinasi wisata Bangkok yang menarik, belanja selalu menjadi tujuan beberapa wisatawan Indonesia mengunjungi Bangkok. Saya mencoba melakukan hal yang sedikit berbeda untuk menikmati Bangkok. Diantaranya dengan menyusuri sungai Chao Phraya, menonton pertunjukan Siam Niramit, menengok harian Bangkok Post dan menonton Bioskop di Bangkok. Tertarik menjadikan Bangkok sebagai destinasi anda berikutnya? Simak perjalanan saya kali ini sebelum anda melakukan perjalanan ke negeri Gajah Putih itu.

SUNGAI CHAO PHRAYA ‘THE VENICE OF THE EAST’

 

Menyusuri sungai Chao Phraya merupakan salah satu cara yang saya pilih untuk menikmati Bangkok. Banyak wisatawan asing juga memilih menikmati Bangkok dengan cara menyusuri sungai ini. Chao Phraya adalah sungai terpanjang dan terpenting di Thailand yang membelah Bangkok dari utara hingga selatan.  Memiliki panjang 372 kilometer yang mengalir dari utara Thailand menuju ke Teluk Thailand (Teluk Siam) di selatan. Hulu sungai Chao Phraya ini berada di Sungai Ping.

 

Memiliki air berwarna coklat namun bersih dari sampah, sungai Chao Phraya tampak selalu ramai dari siang hingga malam. Selain kapal pengangkut barang yang hilir mudik, kita bisa melihat kapal-kapal wisatawan menyusuri setiap tepian sungai Chao Phraya. Di setiap dermaga pemberhentian banyak ditawarkan paket wisata menyusuri sungai Chao Phraya dengan berbagai harga dan penawaran wisata yang menarik. Saya memulai perjalanan dari salah satu dermaga pemberhentian dan membeli tiket single trip seharga 40 THB yang akan mengantarkan saya hingga ke akhir perjalanan. Awalnya ingin membeli tiket trip seharga 150 THB agar bisa naik turun boat seharian, tetapi karena waktu yang sempit dan saya harus menuju tempat lain saya memilih single trip ini. Dan meski saya hanya membeli tiket single trip ternyata cukup menyenangkan. 


Sepanjang perjalanan saya bisa menikmati Bangkok dari sungai Chao Phraya. Ada pos-pos pemberhentian menarik di sepanjang perjalanan yang merupakan lokasi  wisata terkenal di Thailand seperti : Grand Palace yang berada di area Rattanakosin, Wat Arun , Wat Pho atau patung buddha sedang istirahat dan Chinatown. Kita juga bisa menikmati gedung pencakar langit yang menjulang dari sepanjang sungai Chao Phraya. Bangkok tampak lengkap dinikmati dari perjalanan menyusuri sungai ini, kota dengan warisan masa lalu yang kaya dan kemodern-an masa kini yang penuh semangat. Tak heran jika dengan wisata sungai Chao Phraya ini Bangkok juga dikenal dengan sebutan The Venice of the East.

KUIL, MADAME TUSSAUDS dan TEMPAT MENARIK LAINNYA

 

Selain kemodernan yang terus berkembang pesat, Bangkok memiliki warisan budaya yang sangat banyak dan tak ternilai harganya. Ada sekitar 400 kuil yang tersebar di Bangkok. Beberapa yang terkenal adalah ; Grand Palace dan Wat Phra Kaeo yang merupakan istana raja. Grand Palace buka mulai pukul 8.30 sampai 3.30 sore. Mengunjungi Grand Palace harus mengenakan pakaian yang sopan dan bersepatu. Jangan tergoda bujukan sopir tuk-tuk yang mengatakan bahwa Grand Palace buka pukul 1 siang karena mereka akan mengajak anda berkeliling kota dengan menarik biaya mahal sehingga anda terlambat mengunjungi Grand Palace.

 

Kuil terkenal lain yang saya kunjungi adalah Wat Pho, terletak di dekat Grand Palace, kuil ini dibangun 1688 sebagai tempat Reclining Buddha. Terdapat patung berlapis emas yang panjangnya 46 meter dan tingginya 15 meter dengan mata dan kaki yang dilapisi kerang mutiara. Untuk memasuki tempat ini juga diharapkan mengenakan pakaian yang sopan dan pantas. Wat Pho buka jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Lalu saya melanjutkan perjalanan dengan mengunjungi Wat Arun (Temple of Dawn) yang terletak di tepi sungai Chao Phraya. Wat Arun memantulkan cahaya yang indah karena dilapisi porselen.

 

 

Tempat menarik lain yang bisa dikunjungi adalah Erawan Shrine yang merupakan patung pemujaan Dewa empat muka yang sakti. Banyak  wisatawan manca negara ke sini untuk bersembahyang. Selain kuil, kita bisa juga mengunjungi Jim Thompson House yang sangat terkenal dengan koleksi sutra Thai-nya. 


Dan jangan lupa mengunjungi Madame Tussauds (museum patung lilin orang-orang terkenal) yang berlokasi di Siam Square (Siam Discovery) karena di tempat ini kita bisa menemukan Bapak Proklamator kita Soekarno diabadikan dalam patung lilin bersama para pemimpin dunia hebat yang lain. Melihat patung lilin beliau berada di antara deretan patung lilin pemimpin hebat dunia rasanya sangat membanggakan sebagai bangsa Indonesia.

MENONTON SIAM NIRAMIT, THAI BOXING dan BIOSKOP

 

Mungkin bagi sebagian wisatawan menonton bioskop bukanlah sesuatu yang ingin dilakukan di negeri asing karena berpikir bahwa di Indonesia-pun kita bisa menonton bioskop. Tapi saya justru ingin melakukannya karena sensasinya pasti berbeda. Menonton ‘Breaking Dawn’ dengan subtittle bahasa Thailand yang tentu saja tidak saya mengerti saja sudah asyik, apalagi ikut berdiri mendengarkan semua penonton menyanyikan lagu kebangsaan Thailand sebelum pertunjukan dimulai menjadi sesuatu yang sangat berbeda.

 

Tak hanya menonton bioskop, pertunjukan yang membuat saya terkagum-kagum adalah SIAM NIRAMIT, Journey to the Enchanted Kingdom of Siam. Pertunjukan yang kental nuansa budaya Thailand ini menceritakan kerajaan-kerajaan di Thailand sekaligus kehidupan masyarakat Thailand. Semua budaya Thailand yang eksotis ditampilkan dalam pertunjukan spektakuler yang berdurasi dua jam ini. Gedung pertunjukan yang megah dengan teknik panggung yang luar biasa ini juga merupakan gedung pertunjukan terbesar di dunia dan masuk dalam Guinness World Record. Tak hanya tempat pertunjukannya yang luar biasa, para penari, teknik panggung, lighting, kostum dan cerita yang disuguhkan sangat menarik sehingga tidak membosankan. Penonton pertunjukkan juga dilibatkan langsung dalam pertunjukan dengan diajak maju berpentas di depan atau penari tiba-tiba muncul di tengah penonton. Selama dua jam tak henti tepuk tangan penonton dari berbagai bangsa terus bergemuruh mengagumi pertunjukan ini. Sayang kami dilarang memotret di dalam gedung pertunjukan.
 
Dan jika anda penggemar pertunjukan lain yang berupa tantangan maka anda tak boleh mengabaikan Thai Boxing. Di  MBK, salah satu mall besar di Bangkok pertandingan Thai Boxing diadakan setiap Rabu mulai pukul 6 petang. Nah, tertarik menikmati Bangkok? Anda bisa memilih cara anda sendiri yang berbeda dan lebih menarik. Selamat jalan-jalan!
 
(Published : Sekar Magazine)