KELUYURAN KE TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN SALAK

Suka jalan-jalan ke hutan? Kalau kalian tinggal di sekitaran Jabodetabek, Taman Nasional Gunung Halimun Salak ini bisa jadi pilihan. Nggak jauh kok dan banyak hal menarik di dalamnya. Saya hanya mengunjungi sedikit sekali karena hanya sampai perkemahan Sukamantri, itupun sudah menemukan banyak hal menarik. Saya nggak akan cerita panjang lebar karena petunjuk dan banyak hal tentang Gunung Halimun Salak bisa teman-teman temukan dengan mudah di internet. Ini saya hanya ingin berbagi foto-fotonya saja. Selamat menikmati…

 

 

 

 

 

LEUWEUNG GELEDEGAN ECOLODGE BOGOR : GLAMPING & STAYCATION AMAN SAAT PANDEMI

Bosan 9 bulan isolasi karena pandemi? Jika anda tinggal di sekitaran Jabodetabek, banyak tempat untuk staycation yang aman untuk meredakan stress akibat pandemi. Karena saya memiliki beberapa penyakit bawaan, maka saya memilih perjalanan maksimal dua jam menggunakan mobil pribadi sehingga tidak terlalu lelah. Setelah browsing di internet, pilihan saya jatuh pada glamping & staycation di Leuweung Geledegan Ecolodge Bogor. Sepertinya menarik jika melihat Instagram dan websitenya, semoga saja begitu kenyataannya. Saya memesan melalui aplikasi perjalanan, meskipun sebenarnya lebih menguntungkan jika anda memesan melalui website mereka karena lebih murah sedikit dan included barbeque khusus weekend. Sementara jika memesan melalui aplikasi perjalanan, tidak included barbeque.

Mencari lokasi Leuweung Geledegan Ecolodge sangat mudah. Sebelum pintu keluar tol Jagorawi, ada petunjuk besar arah ke lokasi tersebut. Dari pintu keluar tol kita belok ke arah kanan, lalu setelah turunan Tugu Kujang dan menemukan BTM kita ambil jalan lurus hingga bertemu dengan pertigaan Pancasan belok ke kiri.  Nanti kita akan menemukan beberapa petunjuk ke arah lokasi. Setelah jalanan menanjak lalu belok ke arah kanan ke jalanan berbatu, kita akan menemukan lokasi luas dan asri dengan tulisan Leuweung Geledegan Ecolodge. Dari situ mobil bisa langsung memasuki parkiran yang luas dengan petugas yang ramah dan siap membantu parkir.

Dari pintu parkiran, tamu langsung bisa masuk ke arah gedung resepsionis yang tepat berada di depan air mancur yang tertata dengan cantik. Bangunan resepsionis ini juga menarik, tampak menjulang dan memiliki banyak tempat duduk untuk menunggu. Hanya satu sih nggak enaknya, meja resepsionis berbentuk miring sehingga susah untuk dipakai menulis, padahal kita pasti butuh menulis sesuatu di sana misalnya menandatangani formulir check in. Setelah mendapatkan kunci, kita akan mencari lokasi kamar kita sendiri tanpa diantar petugas. Ini nggak masalah buat saya karena konsepnya memang glamping bukan hotel.

Memasuki areal glamping, saya langsung bertemu kolam renang untuk dewasa dan anak-anak, dengan pemandangan background gunung Salak. Sementera di sisi kanan restaurant. Di lokasi ini juga sering digunakan untuk kondangan. Karena sedang pandemi, tamu yang datang dalam kondangan itu hanya sedikit dengan protokol kesehatan yang ketat. Oh ya, memasuki area Leuweung Geledegan Ecolodge ini wajib masker dan disediakan pencuci tangan di pintu masuk. Bahkan sebelum masuk parkiran semua yang ada dalam mobil dicek suhu tubuhnya.  Dilakukan penyemprotan desinfektan juga di kamar jadi penjagaan selama pandemi cukup aman.

Saya mendapatkan kamar Pinus 04 dengan kapasitas 5 orang yang posisinya ketika membuka pintu menghadap gunung Salak. Ada beberapa jenis kamar mulai dari untuk 6 orang, 5 orang dan 2 orang. Harga kamar bisa anda cek di website mereka. Fasilitas kamar hanya sabun mandi, handuk dan air mineral, jadi harus bersiap sendiri membawa sandal dan teko air panas. Meskipun kita bisa mengambil air panas di restoran. Keseluruhan areal Leuweung ini tidak terlalu luas dengan kontur yang berbukit-bukit. Tidak banyak hal bisa saya lakukan di lokasi glamping ini karena setelah satu kali putaran semua lokasi sudah saya kunjungi. Hanya ada kolam renang, restoran, sungai kecil untuk berperahu yang lintasannya hanya pendek saja dan jalur sepeda yang sepertinya agak sulit bersepeda di lokasi sempit itu. Tetapi penataan tenda tempat menginap dan taman-taman di sekelilingnya sangat cantik. Berbagai macam bunga mekar dan tumbuh dengan subur. Pemandangan akan semakin cantik saat hujan turun dengan langit yang berkabut sehingga kita bisa duduk-duduk di depan tenda sambil ngopi dan menikmati hujan.

 

Makan sarapan disediakan secara gratis dan enak dengan jumlah berlimpah. Saya datang sarapan jam 9 dan masih tersedia cukup banyak. Protokol kesehatan di areal sarapan ini juga sangat ketat. Semua wajib mengenakan masker dan cuci tangan sebelum masuk ke dalam restoran. Sementara pada waktu makan yang lain kita harus membeli di restoran karena tidak boleh membawa makanan dari luar. Namun ini masalahnya, makanan di restoran tidak tersedia cukup variasi atau mungkin saya makan sudah lewat jam makan dan kehabisan. Tersedia paket suki dan barbeque, namun jika anda tidak membeli kamar melalui website maka harus membeli terpisah untuk barbeque. Pemesanan suki dan barbeque harus semalam sebelumnya agar kebagian karena mereka hanya membuat menu itu secara terbatas. Saya mencoba suki dan rekomended karena sangat enak. Apalagi anda makan suki di tempat dingin dengan hujan yang turun deras. Itu luar biasa.

Jika anda gampang bosan seperti saya, menginap dua hari di sini pasti bingung mau ngapain. Anda bisa jalan sekitar lokasi glamping misalnya ke perkemahan Sukamantri, melihat sapi-sapi di depan lokasi glamping atau ke Setu Tamansari. Saya melakukan itu untuk mengisi kebosanan. Pada malam harinya anda bisa menikmati film di lokasi pemutaran film yang ada di area glamping atau menyalakan api unggun. Untuk menyalakan api unggun silakan kontak petugasnya. Sebenarnya memang tidak disediakan antaran makan ke kamar, namun selama pandemi sepertinya mereka bersedia mengantar ke kamar. Oya, semua kontak bisa dilakukan melalui WA dan mereka akan aktif membalas. So, dari pengalaman saya menginap di sini, over all oke, jikapun ada kekurangan, semoga depan mereka memperbaikinya. Selamat glamping dan staycation!

KARAWANG, YANG DEKAT NAMUN TERASA JAUH

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati?  

~ Bait Pertama Puisi Chairil Anwar Karawang-Bekasi

Ini pertama kalinya saya keluar rumah untuk berwisata setelah 9 bulan isolasi karena pandemi. Masih belum berani naik angkutan umum, atau pergi menginap. Jadi saya memilih pergi dengan mobil sendiri dengan perjalanan one day. Tanpa tujuan hendak kemana, akhirnya saya memutuskan ke Karawang. Bekasi-Karawang tidak jauh, tapi entah kenapa terasa sangat jauh buat saya. Segala sesuatu yang tidak menarik memang terasa jauh, begitu juga dengan sebuah tempat. Saya sudah tinggal selama 20 tahun di Bekasi-Jakarta dan Bogor, tapi belum pernah sekalipun berniat mengunjungi Karawang. Paling saat naik kereta dari kampung saya selalu melewati Karawang itupun dini hari jadi tidak bisa melihat apa-apa.

Satu jam perjalanan bermobil dari Bekasi, saya memasuki wilayah Karawang yang memang sebenarnya tidak menarik. Tapi tunggu dulu, jangan putus asa dulu, bukankah saya selalu yakin semua tempat memiliki sisi yang unik untuk di ekplore? Benar, di tempat ini banyak kejadian bersejarah yang bisa kita kenang kembali mulai dari tragedi Rawagede dan Rumah Sejarah Soekarno Rengasdengklok. Tragedi Rawagede terjadi 9 Desember 1947 ketika Belanda melancarkan agresi militer pertama. 431 penduduk Karawang menjadi korban pembantaian ini. Saya tidak mengenal tragedi ini sebelum melihat monumen Rawagede di Karawang mungkin karena tragedi ini tidak pernah menjadi sejarah nasional. Desa Rawagede sudah berganti nama menjadi Balongsari saat ini, tetapi trauma itu masih tersisa. Saya hanya lewat sesaat di monument sebelum kemudian melanjutkan perjalanan ke Rumah Sejarah Rengasdengklok.

Tempat wisata yang bisa dikunjungi di Karawang diantaranya situs candi Jiwa, Pantai Tanjung Baru, Curug Bandung, Vihara Sian Djin Ku po, Danau Cipute dan masih banyak lagi.  Saya hanya mengunjungi dua diantaranya, itupun ketika kembali ke rumah sudah malam. Entah kenapa tempat ini terasa sangat jauh.

RUMAH SEJARAH SOEKARNO RENGASDENGKLOK

Bertempat di Desa Kalijaya rumah bersejarah ini mudah ditemukan. Berjarak sekitar 20 meter dari gerbang masuk yang bertuliskan Rumah Sejarah Soekarno Rengasdengklok saya menyusuri jalan beton yang sepanjang sisinya terdapat graffiti tokoh bangsa. Lingkungan rumah ini seperti pemukiman biasa sehingga saya agak ragu rumahnya sebelah mana. Tetapi seorang tetangga rumah membantu parkir dan menunjukkan rumah yang saya cari. Setelah mengikuti protokol kesehatan pandemi, saya memasuki rumah sejarah itu. Seorang wanita, istri cucu (alm.) Djiaw Kie Siong menyambut di pintu dengan ramah. Rumah ini dahulu merupakan rumah alm. Djiaw Kie Song. Tidak dijelaskan dengan pasti kenapa rumah ini yang dipilih, namun menurut cucu alm pemilik rumah, mungkin karena rumah ini tidak terlalu mencolok dan sedikit tersembunyi sehingga tidak mencurigakan. Apalagi kondisi waktu itu sangat genting.

Rumah Rengasdengklok menjadi saksi bisu sejarah kemerdekaan Indonesia. Pada masa itu, pemuda dalam kelompok Menteng 31 menyembunyikan Soekarno dan Hatta dari pengaruh Jepang untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Desakan itu ditolak tetapi esok harinya proklamasi terjadi di Jakarta. Rumah Sejarah Soekarno ini memang berbeda dengan gambar rumah masa lalu yang saya lihat di internet, beberapa bagian tampak sudah dipoles lebih modern. Namun sebenarnya bangunan utama masih sama, ubin dan perabotan di dalamnya juga masih asli.

Sebuah meja tempat peribadatan berada di tengah ruangan dalam dengan foto-foto masa lalu di atasnya. Tempat tidur Seokarno dan Hatta dengan perabotan yang masih asli lengkap kelambunya tampak bersih dan rapi. Di pojok ruangan ada dua lemari yang berisi foto-foto masa lalu yang menyimpan kenangan sejarah peristiwa Rengasdengklok. Di dinding samping peribadatan, puisi Chairil Anwar terbingkai dengan rapi. Rumah sejarah yang sudah menjadi Cagar Budaya ini terawat dengan sangat baik, menurut cucu yang tinggal di bagian belakang rumah ini, ia memang menjaga rumah ini sesuai pesan kakeknya Djiaw Kie Song yang pada masa hidupnya seorang petani yang menggeluti Feng Sui. Berada di dalam rumah ini meskipun udaranya sangat sejuk, tapi saya bisa merasakan peliknya suasana puluhan tahun lalu saat menjelang proklamasi.

Setelah memotret semua sudut rumah, cucu pemilik rumah yang baik ini bahkan bersedia memotret saya di depan rumah dan membuka pagar depan. Beliau juga menyarankan saya mampir ke Candi Jiwa yang tidak jauh dari tempat itu. Maka setelah pamitan saya memutuskan mampie ke Candi Jiwa.

CANDI JIWA & CANDI BLANDONGAN

Dari rumah sejarah Rengasdengklok, saya menyusuri sepanjang jalan lurus yang bersisian dengan sungai, persawahan dan tanaman menghijau. Pemandangannya sangat indah sebenarnya jika sungai ini tidak dibelakangi dan bisa ditata dengan baik. Saya membayangkan bisa berperahu kecil di sepanjang sungai ini dengan tanaman bunga-bunga yang indah di sepanjang sisinya. Tapi kenyataannya di sepanjang sungai ini merupakan tempat penduduk mandi, mencuci apa saja, sikat gigi, buang hajat dan buang sampah. Jadi sebagian besar pemandangan jadi tidak mengenakkan.Di sudut-sudut jalan tampak poster pasangan yang sedang berlaga di pilkada nanti. Pasangan-pasangan ini tersenyum cerah dan bahagia di dalam fotonya. Salah satunya artis ibukota yang berperan dalam salah satu sinetron dengan rating tertinggi beberapa saat lalu. Semoga saja siapapun yang terpilih bisa mengubah segalanya lebih baik. Tempat ini menarik menurut saya, tetapi jadi sangat mengganggu dengan kegiatan di sepanjang sungai itu.

Setelah menemukan perempatan dengan tanda arah Candi Jiwa, saya belok ke arah kanan lalu tibalah di pinggir sawah. Kompleks candi ini memang terletak di tengah sawah tepatnya di kecamatan Batujaya dan Pakisjaya, Karawang. Setelah parkir di halaman rumah penduduk, saya menuju loket yang banyak orang antri. Ternyata ramai juga yang ingin mengunjungi candi. Tidak ada tiket sebenarnya tetapi harus membayar sukarela untuk memasuki kompleks candi. Lalu saya menyusuri pinggiran sawah yang sedang bagus-bagusnya hampir panen. Sepanjang pinggir sawah itu saya juga bisa menikmati padang luas yang terdapat banyak kambing sejenis biri-biri, ini sangat menarik seandainya digarap lebih maksimal. Jalan menuju candi disekitar persawahan juga sudah bagus dan bersih. Kompleks candi tampak di kejauhan di dalam pagar dan pengunjung hanya boleh melihat candi dari kejauhan.

Candi peninggalan Budha ini diperkirakan berkaitan dengan kerajaan Tarumanegara dan lebih tua dibanding Candi Borobudur. Di kompleks ini sebenarnya terdapat banyak titik candi, tetapi kemungkinan situs yang lain masih terpendam di dalam tanah. Setelah melihat Candi Jiwa, saya melewati persawahan yang sangat asri menuju Candi Blandongan. Candi Blandongan lebih luas dan terawat dengan sangat baik. Pengunjung juga hanya bisa melihat dari jauh karena dipagar. Di sekitar Candi Blandongan terdapat jalan-jalan kecil yang bisa dilewati memutar sehingga pengunjung bisa melihat candi dari berbagai arah. Karena lokasinya persis di tengah sawah maka udaranya terasa sangat enak. Suara penghalau burung dan aroma persawahan terasa khas. Pengunjung bahkan bisa duduk-duduk di bawah pohon menikmati siang di sekeliling candi. Tempat ini menarik menurut saya, hanya saja mungkin belum banyak dikenal. Atau saya yang nggak gaul?

Hampir sore ketika saya ingin melanjutkan ke pantai terdekat. Tetapi mobil malah kepentok jalan kecil yang mepet tambak. Takut jatuh ke dalam tambak, akhirnya saya memutuskan putar balik dan pulang. Karawang yang terasa jauh itu kini lebih dekat dengan saya. Kompleks percandiannya yang bersih dan berada di tengah sawah, sejarah yang melingkupi daerah ini dan bahkan sungai di pinggir jalan yang menyajikan pemandangan menganggu. Semoga saja ke depan tempat ini menjadi semakin menarik untuk dikunjungi.

*Photo monument dari Google, yang lainnya dokumentasi pribadi