NISHIKI MARKET KYOTO : Pasar Sejak 400 Tahun Lalu

Mengunjungi Kyoto, selalu membuat saya seperti kembali ke Jepang pada zaman Edo. Kebudayaan ratusan tahun lalu yang masih dilestarikan itu tercermin dari bangunan-bangunan eksotis di sepanjang Gion. Tak hanya bangunan-bangunan eksotis pada zaman Edo, tetapi di sini juga ada Nisiki Market. Pasar rakyat yang ada sejak 400 tahun lalu. Banyak wisatawan manca negara maupun warga lokal berkunjung ke pasar ini. Pasar ini tampak bersih, rapi, dinamis dan menyenangkan. Berkunjung ke Kyoto tanpa mampir ke Nisiki market tidak akan lengkap. Apalagi kalau anda penggemar kuliner Jepang. Nisiki Market menjual banyak sekali kuliner khas Kyoto yang sangat menarik.

Saya berkunjung ke Nishiki Market setelah mengelilingi Gion untuk melihat bangunan-bangunan zaman Edo yang masih berdiri kokoh. Sebenarnya ingin mencicipi teh di salah satu bangunan itu namun batal karena harganya mahal. Maka saya memilih untuk berburu kuliner di Nishiki Market. Memasuki pasar ini saya justru kebingungan mau membeli apa karena segala kuliner Jepang ada di sini. Mulai dari makanan khas Kyoto, buah-buahan, acar, teh sampai ikan asin.

Saya tergoda untuk membeli buah strowberry yang terlihat segar dan besar-besar. Saya jarang menemukannya di Indonesia. Lalu teman saya membeli teh hijau untuk oleh-oleh. Ada bermacam-macam teh bisa kita dapatkan di pasar ini dengan harga terjangkau. Jangan lupa mencoba sushi dan beberapa penganan lokal yang sangat menarik. Jika anda penggemar kuliner, jangan lewatkan mampir ke Nishiki Market!

Kenapa Saya Ingin Pergi ke Rusia?

Suatu sore sekitar tahun 1994 saat saya tenggelam membaca majalah berbahasa Jawa, Jaya Baya, yang populer pada masa itu di Jawa Timur, Bapak datang membawa sebuah buku dan menyodorkan ke saya. Buku asing itu saya pandangi dengan tidak tertarik. Buku apa sih ini? Mungkin buku pewayangan, begitu pikir saya karena Bapak saya seorang dalang dan hobbynya memaksa saya membaca kisah-kisah pewayangan.

“Ini buku kumpulan cerita pendek karya Anton Chekhov, sastrawan Rusia. Kamu harus membacanya kalau ingin jadi penulis,” kata Bapak. Lalu saya menjadi tertarik karena buku itu bukan buku pewayangan. Kata Bapak, Anton Chekhov seorang penulis besar Rusia yang terkenal karya cerpen-cerpen dan dramanya. Inilah awal ketertarikan saya dengan Rusia.

Tak hanya mengenalkan Rusia melalui karya Anton Chekchov, Bapak juga menceritakan hubungan kenegaraan antara Indonesia-Rusia pada masa Presiden Soekarno yang hangat tetapi berubah dingin sejak Presiden Soeharto memangku jabatan. Bapak saya seorang pemuja Soekarno tulen dan mengagumi Rusia. Saya melihat mata Bapak selalu berbinar saat bicara tentang Soekarno ataupun Rusia. Binar yang menulari saya menjadi ingin tahu apa dan bagaimana Rusia.

Tetapi mengenali negara dengan wilayah hampir 1/8 bumi dan terluas di dunia ini terasa sulit. Wajah Rusia melalui banyak media terlihat berbeda. Saat menonton film-film Hollywood wajah Rusia begitu mengerikan sementara saya tidak bisa menonton film-film asli buatan Rusia. Saat membaca karya-karya Chechov saya mengenali perilaku batin manusia Rusia yang unik. Sampai kemudian, Bapak membawakan saya buku lainnya yang berjudul ‘Mati Ketawa Ala Rusia’. Kata pengantar buku ini ditulis oleh Gus Dur. Buku ini berisi lelucon ala Rusia mulai dari tema politis sampai rumah tangga. Lelucon-lelucon satire tentang kondisi Uni Soviet pada masa itu membuat saya terpingkal-pingkal. Ya Tuhan, Rusia sungguh lucu. Tetapi bagaimana mereka bisa kelihatan begitu misterius dan mengerikan?

Pandangan tentang Rusia yang saling bertolak belakang ini justru membuat saya sangat tertarik tentang Rusia. Bukankah hal-hal yang misterius menggugah adrenalin kita untuk mengetahui lebih banyak? Dan, begitulah saya. Saya tidak  bisa dihadapkan pada hal yang samar-samar dan hanya ‘kata media, kata orang’, saya ingin membuktikannya sendiri seperti apa Rusia itu suatu hari nanti. Itu tekad saya!

Lalu, bertahun-tahun kemudian saat tulisan saya berupa artikel perjalanan dan cerita pendek mulai dimuat media lokal maupun nasional, Uni Soviet-pun telah bubar dan Bapak juga sudah berpulang, saya masih terus mencari informasi tentang Rusia. Internet memuaskan keingintahuan saya tentang Rusia. Negara kaya budaya dengan bangunan-bangunan bersejarah yang luar biasa. Moskow, Saint Petersburg, Kazan, Sochi, Kaliningrad, Velikiy Nodgorod, Vladimir dan banyak lagi tempat menarik di sana yang layak dijelajahi dan dituliskan menjadi pengalaman saya melihat lebih luas. Pengalaman yang ingin saya persembahkan untuk Bapak saya yang telah tiada. Saya akan bilang padanya, “Bapak, saya mewujudkan mimpimu melihat Rusia yang sebenarnya. Dan Bapak benar, Rusia itu mengagumkan.”