CHIANG MAI- THAILAND, Beautiful Roses from The North

April 09, 2013
12 mins

The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes, but in having new eyes.”  – Marcel Proust

Si mawar dari utara. Itulah sebutan untuk Chiang Mai. Setiap membaca atau mendengar sebutan itu, sebagai wanita saya selalu membayangkan sesuatu yang romantis, indah dan dramatis. Dan keinginan saya mengunjungi Chiang Mai-pun semakin besar dari hari ke hari. Maka dalam serangkaian perjalanan ke beberapa kota di Thailand saya meng-agendakan untuk singgah di Chiang Mai selama tiga hari yang kemudian menjadi empat hari karena rasa penasaran saya tentang kota ini.

Chiang Mai merupakan ibukota kerajaan kuno Lanna pada abad 13, asal muasal bangsa Thailand yang kemudian berlanjut ke Sukhotai, ibukota pertama Thailand. Sebagai kota kedua terbesar di Thailand, Chiang Mai memiliki daya tarik tersendiri di banding kota lain di Thailand. Jika Bangkok merupakan kota modern dan surga belanja maka Chiang Mai adalah kota yang tenang, nyaman, sejuk dan ramah. Sangat cocok untuk berlibur rileks dan menenangkan diri. Berjarak sekitar 700 kilometer dari Bangkok dan dapat ditempuh melalui perjalanan udara selama 1 jam 15 menit atau menggunakan perjalanan darat sekitar 10 jam. Chiang Mai terletak di antara pegunungan yang membentuk daerah utara Thailand sehingga memiliki pemandangan yang indah dan udara yang sejuk.

Saya sendiri melakukan perjalanan dengan rute Jakarta – Phuket – Chiang Mai. Jarak tempuh Phuket – Chiang Mai sekitar 1200 kilometer atau 1 jam 45 menit perjalanan udara. Tiba di Chiang Mai sudah jam 9 malam, tetapi begitu menginjakkan kaki di bandara saya malah merasa seperti pulang ke negara saya sendiri. Seorang teman traveler nyeletuk saat saya senyum-senyum sendiri, “hmm, welcome to your second home.” Ya, saya juga merasa aneh merasa begitu nyaman menginjakkan kaki di kota itu. Chiang Mai kota yang tenang, nyaman, tidak mengundang banyak kecurigaan seperti kota lain di Thailand. Saat sopir taksi mengantar saya ke hostel saya bisa memercayainya lebih banyak ketimbang di Bangkok atau di Phuket. Hampir tengah malam ketika saya sampai di hostel dengan gaya yang unik ala tatami di Jepang. Meski letih saya susah tidur karena tidak sabar menunggu menjelajahi Chiang Mai esok harinya.
KOTA KUNO dan SITUS-SITUS BUDAYA


Pagi-pagi, saya dan seorang teman traveler sudah tidak sabar untuk menjelajahi Chiang Mai. Hari itu kami menjadwalkan untuk mengelilingi kota kuno, mencari masjid pada waktu sholat dhuhur serta makanan halal di sekitar masjid untuk makan siang. Dan mulailah perjalanan menyenangkan itu. Dengan berbekal peta kami menyusuri trotoar kota kuno Chiang Mai.
Kota kuno Chiang Mai merupakan wilayah bujur sangkar yang menjadi pusat kota Chiang Mai. Kota kuno ini dikelilingi oleh parit yang luas dan bersih tanpa sampah. Selain lokasi bujur sangkar ini dikelilingi parit juga dibatasi oleh puing-puing tembok kota yang masih berdiri kokoh di beberapa tempat. Untuk melindungi dan mempertahankan kota kuno ini pemerintah Chiang Mai melarang pembangunan gedung pencakar langit dengan jarak tertentu dari kota kuno. Berjalan mengelilingi kota kuno saya seperti merasakan kerajaan Lanna pada masa lalu yang berdiri di area ini.

Di dalam kota yang di kelilingi tembok dan parit ini, saya menemukan banyak sekali wat (candi) indah yang didirikan sejak abad 13 sejak pendiriang kota Chiang Mai oleh Raja Mengrai. Beberapa candi yang saya kunjungi adalah Wat Chedi Luang yang didirikan pada tahun 1941, berada di dalam kota kuno dengan gaya arsitektur Lanna. Lalu Wat Phra Singh, berlokasi di kota kuno dan didirikan pada tahun 1345. Wat ini berasitektur utara Thailand. Wat yang paling terkenal di Chiang Mai adalah Wat Phrathat Doi Suthep yang berada di ketinggian bukit sebelah barat laut kota. Ada sekitar 300 wat di pelosok Chiang Mai yang membuat kota sangat kaya dengan situs-situs bersejarah.


 Setelah memasuki beberapa wat saya meneruskan perjalanan menuju pintu gerbang utama tembok kota di Chiang Mai yang terkenal dengan nama Tha Phae. Banyak sekali wisatawan asing menuju pintu gerbang Tha Phae dan berfoto-foto di sana. Saya semakin penasaran seperti apa melewati gerbang ini. Ketika saya menyeberang dan memasuki gerbang Tha Phae saya seperti melihat dua peradaban yang kontras dan menakjubkan. Di dalam tembok, saya bisa merasakan aura kerajaan Lanna di masa lalu dengan situs-situs bersejarah yang dilindungi dan dilestarikan sementara di luar tembok saya melihat kemodernan seperti restoran, café-café dengan arsitektur modern bertebaran. Seperti mengunjungi dua peradaban di satu kota.
Puas berkeliling kota tua, saya meneruskan perjalanan mencari masjid yang berada tidak jauh dari lokasi kota kuno. Menemukan masjid di kota asing selalu menjadi agenda saya dalam setiap traveling. Setelah berjalan beberapa saat saya menemukan sebuah masjid dengan tempat makan halal di seberang jalan depan masjid. Usai shalat dhuhur saya memutuskan untuk makan siang di tempat makan halal itu. Pemilik tempat makan itu menemani saya makan bahkan menyendokkan makanan ke piring saya dan mengajak mengobrol lama. Menemukan saudara seiman saat traveling selalu saja meneduhkan hati dan selalu ingat pada Allah SWT.
WHITE TEMPLE, GOLDEN TRIANGLE dan LONG NECK KAREN

Hari kedua saya menjadwalkan ikut tour ke Chiang Rai untuk melihat White Temple, Golden Triangle dan Long Neck Karen. Chiang Rai semakin terkenal dengan perpaduan alam yang eksotis dan wisata-wisata petualangannya. Dengan menggunakan mobil ELF yang nyaman saya bersama tujuh wisatawan dari berbagai negara berangkat ke Chiang Rai. Dalam perjalanan, kami sempat mampir ke Hot Spring Chiang Rai dan merebus telur di sumber air panas tersebut sebelum menuju  White Temple.
Setengah jam kemudian, kami sampai di White Temple sebuah wat yang megah dan semuanya serba putih. White Temple atau Wat Ron Kun ini merupakan ide seorang seniman Thailand Chalermchai Kositpipat yang ingin membangun kuil serba putih. Untuk memasuki kuil ini kami melewati semacam jembatan yang dibawahnya terdapat patung-patung berupa tangan dan manusia yang sedang menggapai-gapai ke udara. Kami melepaskan alas kaki saat memasuki wat dan melihat ke dalam kuil. Tampak ikon budaya dan kontemporer di dinding wat seperti gambar superman, kapal luar angkasa, doraemon bahkan Neo Matrix ada di dinding ini. Terlihat unik. Keluar dari kuil kami mengelilingi sisi halaman lain white temple dan melihat bangunan megah keemasan yang ternyata toilet. Saya bertanya-tanya apa sebenarnya pesan yang disampaikan oleh sang seniman melalui bangunan toilet emas ini dan belum menemukan jawabannya. Usai mengelilingi White Temple kami melanjutkan perjalanan ke Golden Triangle.


Golden Triangle merupakan wilayah perbatasan Thailand dengan Laos, Myanmar dan China. Perbatasan ini hanya dipisahkan oleh delta pertemuan sungai Mekong dan sungai Ruak. Golden Triangle ini dahulu merupakan rute perdagangan dan penyeluncupan candu dan sangat identik dengan opium. Tetapi opium di Golden Triangle sekarang tinggal sejarah. Setiap tempat dijaga dengan ketat untuk menindak tegas para pengedar opium baik warga lokal maupun mancanegara. Kami baik boat menyusuri sepanjang sisi sungai dan melihat lebih dekat perbatasan ini.  Tampak sebuah patung Budha keemasan di wilayah Thailand, bangunan Kasino di wilayah Myanmar dan pasar yang ada di wilayah Laos. Untuk memasuki pasar di wilayah Laos ini kami bisa masuk tanpa imigrasi. Pasar ini menjual berbagai souvenir Laos dan beberapa produk seperti tas yang ternyata produk China. Usai makan siang, kami sempat mengunjungi Mae Sai, wilayah Thailand paling utara. Wilayah ini berbatasan langsung dengan Myanmar hanya dengan border sungai dan jalan raya. Sebenarnya kami bisa masuk ke wilayah Myanmar dengan menunjukkan passport melalui perbatasan ini, tetapi kami masih memiliki tujuan lain yaitu Long Neck Karen dan hari sudah menjelang sore. Karena itu kami segera melanjutkan perjalanan.

Sudah senja saat kami tiba di Long Neck Karen, satu-satunya tempat yang menjadi tujuan utama saya mengunjungi Thailand. Long Neck Karen atau suku leher panjang sangat terkenal dan diliput berbagai media karena keunikannya, saya ingin melihat mereka. Memasuki area Long Neck Karen kami langsung melihat pemandangan unik dengan pakaian tradisional mereka dan leher berhias gelang yang tampak sangat berat. Mereka memercayai bahwa semakin panjang lehernya maka semakin cantik. Proses pemakaian gelang tersebut dilakukan pada anak perempuan sejak usia 5 tahun. Tumpukan gelang tersebut akan ditambah setiap dua sampai tiga tahun sekali. Gelang seberat 7 kilogram pada para wanita Karen ini boleh dilepas pada saat-saat tertentu misalnya persalinan, sedang sakit dan ingin muntah atau saat pernikahan. Gelang besi ini baru benar-benar boleh dilepas saat meninggal dunia. Selain mencoba gelang yang berat ini kami sempat menikmati tarian mereka yang lincah dan ceria. Hari sudah malam saat kami kembali ke Chiang Mai.
SUNDAY WALKING MARKET, KULINER dan BELANJA MURAH


Seorang teman menyarankan saya memperpanjang waktu untuk menikmati Sunday Walking Market di Chiang Mai. Saya rasa saran itu sangat tepat. Sunday Walking Market nyaris mirip dengan Malioboro di Yogyakarta tetapi areanya sangat luas. Saya dan seorang teman sampai letih menyusuri area pasar dadakan di hari minggu ini. Tetapi belanja dan menikmati kuliner khas Thailand membuat kami tak memedulikan kaki yang mulai menjerit-jerit minta diistirahatkan. 


Sepanjang area Sunday Walking Market kami menemukan penjual pakaian, souvenir, makanan, pertunjukan seni bahkan tukang pijat. Ramai dan seru! Di sini kita bisa membeli berbagai macam souvenir khas Thailand yang sangat menarik dengan harga yang menarik juga karena setengah dari harga yang ada di Bangkok. Tak hanya souvenir-souvenir lucu, di area ini kami juga menemukan berbagai macam kuliner khas Thailand seperti Pad Thai dan Tom Yam yang berbahan dasar mie dan sea food. Sunday Walking Market ini mengakhiri malam saya di Chiang Mai sebelum esoknya saya melanjutkan perjalanan.
Chiang Mai, kota kuno yang tenang, ramah dan sejuk ini meninggalkan kesan yang spesial bagi saya. Jika anda menyukai tempat berlibur yang tenang dan tentu saja murah, maka Chiang Mai bisa menjadi pilihan menarik. Selamat berlibur!
 Published : Annisa Magazine 2013
Avatar
Writer, Traveller and Dreamer

2 Responses for this article

  1. Avatar
    Anonymous
    on
    Apr 10th, 2013

    Atap bangunan di foto pertama, kedua, dan keempat mirip dengan atap gonjong bangunan Rumah Gadang di Sumatera Barat. Apakah kedua kawasan ini punya sejarah masa lalu, ya?

    Reply
  2. Avatar
    on
    May 12th, 2013

    Hihi baru tau ada yang komentar disini, maaf belum survey soal itu, tapi bisa jadi karena culturenya dekat kali ya….

    Reply

Leave a Reply to Anonymous

  • (not be published)