Category Archives: DESTINATIONS

Hanoi, Vietnam : Kota Ramah Di Tepi Sungai Merah

“Every new friend, is a new adventure, the start of more memories… – Patrick Lindsay.
Pagi baru dimulai saat pesawat yang saya tumpangi mendarat di bandara Noi Bai international airport Hanoi, Vietnam utara.  Waktu tempuh dari Kualalumpur ke Hanoi sekitar 2 jam penerbangan. Belum meletihkan untuk satu perjalanan udara bahkan saya bisa menikmatinya.  Ini kedua kalinya saya menjejakkan kaki di Vietnam setelah sebelumnya pada tahun 2011, saya mengunjungi Saigon, Ho chi Minh, Vietnam selatan.
 
Noi Bai International airport tidak terlalu megah. Begitu selesai urusan imigrasi, hanya perlu berjalan sebentar sudah berhadapan dengan pintu keluar utama.  Setelah mematuhi nasehat pejalan lain untuk menukarkan uang USD yang saya bawa dari Indonesia di Songviet Corp Currency Exchange karena nilai tukarnya lebih bagus dari money changer yang lain dan tidak memotong biaya apapun, saya segera keluar pintu utama.  Bus bernomor 86 akan membawa saya ke pusat kota Hanoi. Bus stop 86 terletak di sisi kiri setelah keluar pintu utama airport. Hanya dengan tiket seharga 35.000 VND atau sekitar Rp. 22.000,  bus berwarna kuning yang mirip TransJakarta dan nyaman ini akan membawa saya ke pusat kota. Rata-rata backpacker dari berbagai negara menggunakan bus ini karena dipastikan lebih murah dibanding taksi atau angkutan online. Di Hanoi juga beroperasi Grab car dan Grab Bike, meskipun saya tidak sempat mencoba angkutan online itu karena lebih banyak berjalan kaki atau naik bus. 
Saya meminta kondektur agar memberi tahu saat bus tiba di Old Quarter tempat saya menginap, yang ternyata masih harus berjalan sekitar 1 kilometer dari halte tempat saya turun menuju hotel. Tetapi keramahan resepsionis hotel membuat keletihan saya mencari lokasi hotel hingga nyasar-nyasar langsung hilang. Saya suka cara mereka memperlakukan tamu. Sopan, ramah, hangat dan ringan tangan untuk membantu.  
Hanoi merupakan ibukota Vietnam yang dahulu berfungsi sebagai ibukota Vietnam Utara. Terletak di tepi kanan Sungai Merah, Hanoi memiliki iklim yang lembab ; saat musim panas sangatlah panas dan lembab namun pada musim dingin, relatif dingin dan kering.  Bulan Februari ini Hanoi masih dingin dan berkabut. Hujan juga masih turun jadi jaket dan jas hujan sangat diperlukan.  Vietnam yang bernama resmi Republik Sosialis Vietnam ini merupakan negara paling timur di Semenanjung Indochina, Asia Tenggara. Berbatasan dengan Tiongkok di sebelah utara, Laos di sebelah barat laut, Kamboja di sebelah barat daya dan Laut China Selatan membentang di sebelah timur.

 

Sebagai backpacker muslim, tantangan saya di setiap perjalanan adalah mencari makanan halal.  Makanan halal di Hanoi tidaklah sulit, meski juga tidak gampang ditemukan. Di areal Masjid Al Noor, Hang Luoc street ada kantin kecil yang menyediakan makanan halal dengan menu-menu yang sangat enak. Sore setelah istirahat sejenak, saya memasuki kantin kecil itu dan bertemu banyak muslim dari berbagai negara. Seperti layaknya saudara yang lama tidak berjumpa, kami langsung akrab dan berbagi kursi. Beberapa orang lelaki bahkan makan di emperan masjid karena kursi kantin sudah penuh. Saya setuju dengan saudara dari Malaysia bahwa makanan di sini sangat enak. Bahkan hanya dengan menu tumis kangkung saja rasanya luar biasa. Mungkin juga karena saya sangat kelaparan.   
  
Tak hanya di Masjid Al Noor, saya juga mencoba restaurant halal India PK Spice Restaurant di Hang Manh street yang terletak di kawasan Old Quarter. Jadi untuk teman-teman muslim yang akan berkunjung ke Hanoi tidak perlu khawatir mencari makanan halal, memang tidak banyak tetapi mudah ditemukan jika anda menginap di kawasan Old Quarter.
Hanoi Old Quarter merupakan tempat yang terdiri dari 36 ruas jalan dan telah berusia lebih dari 1000 tahun. Berbagai gerai toko berada di ruas jalan ini seperti cinderamata, obat-obatan herbal, baju, sutera pelangi, bunga dan banyak lagi. Ruas-ruas jalan ini dinamai berdasarkan produk yang dijual. Old Quarter menurut saya sangat menarik, apalagi di kawasan ini juga terdapat beberapa tempat wisata seperti Ba Ma Temple, Danau Hoan Kiem, Ngoc Son temple, Viatnemese Women’s Museum, Dong Xuan Market dan beberapa tujuan wisata menarik lainnya.  Saya lebih suka berjalan kaki menyusuri 36 ruas jalan di Old Quarter meskipun bisa menggunakan Cyclo, atau becak khas Vietnam. Setelahnya bisa berjalan menuju tepi danau Hoan Kiem untuk  duduk menikmati senja. 

 

“Where are you from?” tanya seorang lelaki pejalan saat saya duduk di salah satu meja kapal Halong Bay esok harinya.  “Indonesia,” jawabku sambil duduk di hadapannya. Seorang perempuan berambut pirang, satu lagi berwajah melayu berambut keriting dan satu lagi mengenakan jilbab duduk di samping lelaki itu. “Oh, i see. Nasi goreng right? I like nasi goreng,” lanjut lelaki itu.  Dan pembicaraan kami mengalir lancar disertai gurauan. Meraka dari Australia, Philipina, Malaysia dan Brazilia. Keempatnya solo traveler yang dipertemukan dalam bus menuju Halong Bay dan sudah pernah berkeliling Indonesia sampai ke lekuk-lekuknya sementara saya yang asli Indonesia malah belum. Oke, pertemuan yang menarik di meja kapal Halong Bay, semenarik tempat yang sudah sangat lama ingin saya kunjungi ini.

 

Teluk Halong merupakan teluk di sebelah utara Vietnam yang berbatasan dengan Tiongkok dan berjarak sekitar 170 km dari Hanoi. Saya memesan paket tour dari Klook karena tidak bisa pergi naik motor sendirian dan juga tidak tahu caranya jika harus pergi sendirian. Klook menurut saya sangat recomended karena profesional pelayanan dan guidenya yang tanggap juga ramah. Saya dijemput di hotel dan bertemu peserta lain di salah satu jalan kawasan Old Quarter dan pulangnya diantar ke jalan dekat hotel lagi. Bus yang saya naiki juga bagus dan nyaman, termasuk makanan dan kapal di Halong Bay. Bahkan request halal food saat memesan tiket secara online juga disediakan ketika makan bersama di kapal.  Secara khusus sang guide menyajikan sepiring makanan halal khusus. 

 

Teluk Halong sejak tahun 1994 ditetapkan sebagai warisan dunia oleh Unesco, bahkan pada tahun 2012, teluk ini menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia versi New 7 Wonders Foundation. Teluk ini terdiri dari 1900 lebih pulau-pulau kapur yang menjulang dramatis. Beberapa pulau memiliki goa yang besar dan cantik seperti goa Hang Dau Go yang merupakan goa terbesar di kawasan Halong. Mengunjungi teluk ini, saya seperti diseret ke tempat asing yang mistis dan luar biasa indah. Kabut yang menyelimuti pulau-pulau kapur yang menjulang itu menambah kecantikan teluk ini. Sayangnya saya belum sempat mengekplor lebih dalam kehidupan penghuni teluk ini karena waktu yang sempit. Jadi saya hanya bisa menikmati keindahannya sebagai turis tanpa mengetahui kehidupan penghuninya.  Saya ingin kembali dan bertemu penghuninya suatu saat nanti.
Hanoi yang cantik, penduduknya yang ramah dan teman perjalanan saya yang menyenangkan, membuat perjalanan singkat saya sangat berkesan. Saat resepsionis meminta maaf jika ada kekurangan selama saya tinggal di sana, lalu bersama tiga petugas hotel lainnya mengantarkan saya ke mobil yang akan mengantar saya ke bandara, mendadak saya gelisah. Saya seperti hendak berpisah dengan saudara-saudara saya sendiri. Saya enggan pergi, tetapi pejalan harus terus berjalan meski hati saya tertambat di Hanoi.

 

 

 

Misenska Praha : Library Cafe Yang Tenang

“Happiness is a cup of coffee and a good book”

Pagi baru dimulai saat kami tiba di Praha, Republik Ceko, setelah semalaman naik bus dari Budapest. Hanya dengan sekali naik tram dari stasiun Praha sampailah kami di Flora. Tepat jam 8 pagi kami sudah berdiri di depan apartemen Miroslav, tempat kami menginap selama di Praha.  Satu jam menunggu di depan pintu apartemen, Miro, begitu panggilan cowok gondrong berwajah ramah itu muncul dari arah lain. Rupanya ia tinggal di apartemennya yang lain dan kami datang kepagian. 

 

Apartemen Miro
Apartemen Miro terletak di bangunan tua yang liftnya lawas terbuat dari kayu dan sangat antik. Tetapi menurut Miro kebanyakan lift di Praha memang antik seperti itu.  Meskipun beberapa apartemen sekeliling tampak tua dan kusam, tetapi bagian dalam apartemen milik Miro modern, rapi, bersih dan nyaman. Selain semua fasilitas yang lengkap di apartemen, Miro juga menyediakan banyak makanan instant, kopi, teh, gula pasir, roti, buah-buahan bahkan wine seandainya kami bisa meminumnya. Apartemen Miro merupakan tempat ternyaman kami menginap selama keliling Eropa sebulan.  Setelah menunjukkan peta, brosur wisata dan sedikit petuah bagaimana menjelajah Praha, Miro mempersilakan kami istirahat.

 

Praha yang romantis dan magis
Menjelajahi kota Praha seperti memasuki kota abad silam. Hampir semua bangunan tua berarsitektur gothic, renaissance hingga baroque style terawat dengan baik dan menjadi daya tarik yang kuat bagi wisatawan dari seluruh dunia. Pemandangan di setiap sudut kota tampak romantis sekaligus magis.  Setelah menjalajahi Old Town Square, Jam astronomis, St. Nicholas Curch, hingga naik ke puncak menara gerbang Charles Bridge untuk melihat pemandangan di kejauhan yang luar biasa indah kami mulai kelelahan dan lapar.  Seorang teman mengusulkan kami menyeberang Charles Bridge lalu beristirahat di Misenska kafe. 
Misenska
Tidak jauh dari Charles Bridge, Misenska kafe terletak di deretan pertokoan unik yang menjual souvenir khas Praha, beberapa hostel dan restoran.  Memasuki Misenska kafe seperti memasuki sebuah rumah tinggal yang tenang.  Kafe masih sepi, mungkin karena belum jam makan siang, ketika kami memilih duduk di areal taman dan seorang waitres memberikan buku menu. Kafe ini buka setiap hari mulai jam 10 pagi hingga jam 10 malam. Di bagian depan tampak perpustakaan kecil berisi berbagai buku yang bisa dibaca para pengunjung kafe sambil duduk santai.   
Library Misenska Cafe
   
Bagian dalam Misenska Cafe
Karena tidak menyediakan menu berat, kami memesan kopi, coklat panas dan cemilan.  Kopi yang disajikan di Misenska kafe tidaklah istimewa seperti kebanyakan kafe lain yang menyediakan Espresso, Cappucino, Caffe latte dan Ice Caffe.  Tetapi pengunjung sepertinya menyukai tempat ini karena suasananya yang tenang dan nyaman. Saya melihat beberapa pengunjung yang baru datang langsung masuk ke perpustakaan memilih-milih buku lalu membawanya ke bagian dalam untuk dibaca seolah tempat ini rumahnya sendiri.  Beberapa pengunjung yang lain berbincang tetapi suaranya rendah sehingga tidak mengganggu pengunjung yang lain.

 

Buku Menu Misenska Cafe

 

Hot Chocolate

 

Coffee, Hot Chocolate dan Cemilan

 

Menurut informasi kota ini lebih terkenal dengan minuman bir-nya, sehingga saya tidak banyak mendapatkan informasi menarik tentang kopi. Tetapi kafe-kafe unik di setiap sudut kota Praha sangat menarik untuk dicoba.  Setelah dua jam menikmati ketenangan Misenska kafe, saya melanjutkan penjelajahan.  Praha merupakan tempat romantis sekaligus magis yang membuat saya ingin kembali suatu saat nanti.*

 

Baduy : Jalinan Persaudaraan 15 Tahun

“Panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung, kurang tidak boleh ditambah, lebih tidak boleh dikurang,” (Pepatah Suku Baduy yang maknanya manusia harus jujur apa adanya)

Rumah Suku Baduy

Hampir tiga minggu saya tidak bisa menulis karena writer’s block. Beberapa deadline berantakan. Semakin saya memaksakan diri untuk menulis, semakin saya kacau.  Saya harus pergi ke suatu tempat yang membuat otak saya fresh.  Lalu, saya memutuskan pergi ke Baduy,  dengan pertimbangan saya bisa jalan-jalan ke hutan sekaligus bertemu saudara Baduy yang pernah saya kunjungi sebelumnya.

Jalan menembus hutan ke perkampungan Baduy

 

Hutan menuju perkampungan Baduy

 

Sungai jernih di Baduy

Ini ketiga kalinya saya ke Baduy.  Pertama kali ke Baduy tahun 2003, mengikuti teman mahasiswa yang sedang penelitian, lalu tahun  2008, riset untuk novel yang sampai hari ini belum juga ditulis. Dari ketiga kunjungan itu saya menginap di tempat yang sama yaitu di rumah Kang Sarpin Baduy luar yang kemudian saya anggap sebagai saudara. Saya mengagumi keluarga Kang Sarpin dan mengikuti perjalanan keluarga ini dari anak-anak mereka kecil hingga tumbuh dewasa.  Jika ada yang bilang ikatan persaudaraan tidak hanya terjadi karena ikatan darah, maka saya menemukan ikatan persaudaraan ini dengan keluarga Kang Sarpin. 
Tahun 2003, pertama kali ke Baduy bertemu Kang Sarpin
 

Tahun 2008, kedua kalinya ke Baduy, Marno anak Kang Sarpin masih kecil
Tahun 2018, ketiga kalinya ke Baduy, Marno anak Kang Sarpin sudah remaja.
Orang-orang yang belum pernah ke Baduy selalu berpikir bahwa Baduy itu seram, susah dijangkau dan antah berantah. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Sebelum ada KRL, memang agak menyebalkan naik kereta dari Jakarta ke Rangkasbitung dengan kondisi kereta yang buruk. Tapi setelah ada KRL perjalanan menjadi sangat gampang. Kita hanya perlu naik KRL dari Tanah Abang ke Rangkasbitung dengan biaya Rp.13.000 selama 2 jam perjalanan lalu disambung dengan mobil ELF ke Ciboleger dengan biaya Rp.25.000 selama 2 jam perjalanan. Dari Ciboleger kita jalan kaki menembus hutan sekitar 1 jam dengan jarak 2 kilometer, baru kemudian sampai di perkampungan Baduy.
Salah satu rumah suku Baduy

 

Kampung Gajeboh Baduy

Gadis mencuci di Sungai
Dari ketiga kali kunjungan saya, Baduy luar mengalami banyak perubahan mulai dari jalanan yang semula tanah menjadi batu-batu berundak sehingga memudahkan para pejalan, rumah-rumah yang semakin rapih serta manusia-manusianya yang menjadi lebih terbuka. Tetapi Baduy tetap sama di mata saya. Tempat ini bukan tempat wisata buat saya, tetapi tempat untuk mencerahkan pikiran dan menata ulang sudut pandang.  Sebagai orang yang tinggal di Jakarta, saya tidak perlu kecentilan mencari sensasi dengan terkaget-kaget tidur di balai-balai, mandi di pancuran terbuka, makan dengan ikan asin atau bergelap-gelap tanpa listrik. Saya lebih suka memasuki alam pikiran warga Baduy yang sederhana, apa adanya dan damai. Bahkan saya mengagumi cara mereka bertemu di jalanan, berhenti sejenak, saling menyapa hangat seperti semut-semut yang bertemu saudaranya.  Karena itu semua, saya lebih suka ke Baduy sendirian bukan bersama rombongan sehingga saya bisa maksimal hidup di tengah-tengah mereka meskipun hanya beberapa hari.
Laki-laki suku Baduy
 

Kegiatan para wanita menenun

Berjalan menembus hutan
Kegiatan yang bisa dilakukan di perkampungan ini adalah pergi ke sungai, menyusuri beberapa perkampungan yang sudah terhubung dengan jembatan bambu dan jalanan batu berundak sehingga sangat mudah untuk menjelajah sendiri sekalipun, ikut tuan rumah ke ladang ikut para wanita belajar menenun dan berkunjung ke Baduy dalam. Jarak Baduy dalam dari Baduy luar sekitar 10 km berjalan kaki. Adat istiadat di Baduy dalam lebih ketat, misalnya kita tidak boleh mandi menggunakan sabun saat mandi di sungai dan hanya menggunakan lampu minyak kecil pada malam hari.  Jika di Baduy luar masih tersedia bilik-bilik pancuran untuk mandi, di Baduy dalam harus ke sungai.
Malam di rumah Suku Baduy
 

Ambu kesayangan, istri Kang Sarpin

 

Gadis-gadis kecil Suku Baduy yang cantik

Saya mencintai Baduy sejak pertama saya datang berkunjung.  Malam-malam gelap di bawah cahaya bulan dan bintang, udara dingin yang membuat tubuh menggigil, suara anjing yang menggonggong di hutan, laki-laki yang bersenandung lagu Sunda sambil berjalan dalam gelap, suara langkah kaki bersahutan dalam hening malam dan tawa lirih para gadis yang duduk di emper rumah menunggu kantuk.  Saya sering berharap malam tidak cepat berlalu saat menginap di Baduy, karena malam-malam di perkampungan ini sangat indah.  Membuat otak saya terbuka, membersihkan sampah yang selama ini terkeliaran tanpa manfaat di kepala saya dan menghadirkan energi-energi positip baru. Selama perkampungan Baduy ini masih ada, saya akan terus kembali. 

Amsterdam : Terjebak Di Tengah Keriuhan Suporter Bola

“Amsterdam is like the rings of a tree: It gets older as you get closer to the center.” – John Green

Setelah dua jam perjalanan menggunakan pesawat Easy Jet dari Praha, sampailah saya di Bandara Schiphol Belanda. Ini adalah negara terakhir yang saya kunjungi setelah 6 negara Eropa lainnya dalam rangkaian saya backpacker satu bulan. 
 
Belanda merupakan satu-satunya negara Eropa yang secara psikologis membuat saya merasa nyaman dan betah. Mungkin karena di negara ini saya dengan mudah menemukan orang Indonesia, makanan Indonesia dan warga lokal yang lumayan ramah. Namun harga penginapan di kota ini paling mahal dan paling sulit dicari dibandingkan dengan 6 negara Eropa lainnya. Bahkan kami terpaksa menginap di Amstelveen yaitu kota pinggiran Amsterdam untuk mendapatkan harga yang sesuai dengan kantong.
Dan mulailah penjelajahan kami di Amsterdam. Dari Amstelveen, kami harus naik tram sekitar 45 menit untuk sampai kota Amsterdam. Hari cukup terik dan saya memiliki beberapa tujuan yang ingin saya kunjungi. Pertama mencari makanan halal dan murah, kedua mengunjungi Rijksmuseum, ketiga menyusuri kanal-kanal Amsterdam dan keempat pada malam harinya saya ingin melihat Red Light District. Perkiraan saya, sampai tengah malam saya akan menghabiskan waktu menjelajahi pusat kota Amsterdam. 
 
Setelah tujuan pertama yaitu makan di tempat halal dan murah terpenuhi, saya segera melanjutkan ke tujuan kedua yaitu Rijkmuseum. Tetapi ketika melewati kanal-kanal menuju Rijkmuseum mendadak kami bertemu rombongan suporter bola yang berjalan beriringin, meneriakkan yel-yel dan semakin lama semakin banyak. Pada saat itu menjelang final liga Eropa Ajax vs MU 2017 yang pertandingannya sendiri berada di Stockholm Sweden. 
Namun keramaian para supporter Ajax yang nonton bareng di pusat kota Amsterdam itu luar biasa. Sebelumnya saya yang memang kurang paham bola mengira pertandingan berada di stadion sekitar pusat kota sehingga orang-orang bergerak bersamaan menuju stadion. Ternyata saya salah. Tak hanya nonton bareng di tempat terbuka, banyak kafe-kafe yang juga menjadi tempat berkumpul untuk nonton bola. Jalan menjadi begitu penuh dan tidak nyaman, apalagi seorang teman perjalanan saya sempat hilang dalam kerumunan supporter. Saya kemudian memutuskan untuk menunggu suasana lebih tenang dengan memasuki salah satu mall kecil untuk memesan kopi sambil menunggu teman yang hilang kembali.
Sekitar 15 menit saya menikmati kopi, sms peringatan masuk ke hp dan berbahasa Belanda. Mendadak saya ketakutan berada di tempat riuh dan asing seperti itu. Saya mulai panik mengingat beberapa hari sebelumnya rangkaian bom meledak di Inggris lalu halte Kampung Melayu Jakarta. Karena saya tidak paham bahasa Belanda, seorang cowok Belanda menjelaskan bahwa itu peringatan sebaiknya saya segera kembali ke rumah. Semakin malam, biasanya dalam pesta bola seperti itu banyak orang mabuk dan bisa saja terjadi keributan. Maka setelah teman saya yang hilang kembali, kami memutuskan untuk kembali ke hotel.
 
Begitu keluar mall kecil itu, kami segera disambut rombongan-rombongan supporter yang semakin banyak dan semakin gaduh. Satu jam menunggu di halte tram akhirnya kami sadar bahwa semua tram yang menuju dan keluar kota Amsterdam dihentikan. Kepanikan mulai terjadi bagaimana kami harus kembali ke hotel, sedangkan untuk naik mobil online juga tidak memungkinkan. Tapi seorang wanita Asia yang baru pulang bekerja mengajak kami jalan bersama menuju stasiun lain yang cukup jauh tetapi masih dilewati tram menuju Amstelveen. Seorang warga lokal yang kebetulan bersama kami menuju stasiun menertawakan kami yang liburan tapi terjebak di tengah-tengah supporter bola. “It’s wonderful, huh!?” katanya sambil tertawa.
Dan semua tujuan yang ingin kami kunjungi hari itu gagal karena terjebak di tengah supporter bola. Tapi besoknya kami masih punya waktu untuk kembali menjelajahi Rijkmuseum, kanal-kanal tua Amsterdam dan Red Light District. Saya akan ceritakan di tulisan selanjutnya. Amsterdam, kota itu membuat saya ingin kembali dan tinggal lebih lama.

Kleines Cafe Vienna, Austria : Nikmatnya Kopi Dalam Romantisme Before Sunrise

“You can’t buy happiness, but you can buy coffee, which is pretty close.”

Senja mengambang di jendela dapur rumah Aurora saat saya membuka kulkas untuk mengambil air es.  Sudah pukul 9 malam tapi matahari turun begitu pelan. Aurora, si pemilik rumah sedang pergi liburan bersama putrinya dan mengijinkan kami memakai seluruh ruangan rumahnya, sementara teman perjalanan saya sedang berburu tiket opera. Saya punya waktu sendirian di depan jendela membayangkan pertemuan Jesse dan Celine sebelum menjelajahi Vienna berdua dalam film Before Sunrise. 
 

Mengunjungi Vienna bagi penggemar film Before Sunrise artinya menjelajahi lokasi shooting Jesse dan Celine, salah satunya Kleines Cafe.  Tidak hanya karena romantisme film Before Sunrise jika esok harinya saya mengunjungi Kleines Cafe, tapi  pada tahun 2011, “Viennese Coffee House Culture” masuk dalam daftar “Intangible Cultural Heritage” (warisan budaya non-benda) dari Unesco.  Selain sebagai kota musik yang tenar di seluruh dunia, kedai-kedai kopi (Wiener Kaffeehaus) memiliki peranan penting yang membentuk kekayaan budaya di Vienna. 
Menurut informasi dari seorang teman Austria, kedai-kedai kopi di Vienna menjadi tempat pertemuan dan berdiskusi para musisi, penulis dan berbagai jenis kalangan untuk saling mengungkapkan ide bahkan mengkritisi karya. Di antara aroma kopi, deru mesin espresso dan hilir mudik pengunjung kedai kopi, mereka melahirkan ide-ide hebat. 
Saya menemukan lokasi Kleines Cafe setelah tersesat di gang-gang sempit yang artistik. Terletak di Franziskanerplatz 3, cafe ini kecil dan terkesan sederhana. Hanya terdapat 4 meja di ruangan dalam, sebuah meja bar dan selebihnya di luar kafe.  Saya memutuskan masuk ke bagian dalam kafe karena di luar telah penuh. Seorang lelaki tua pelayan kafe, menyambut ramah dan mempersilakan kami duduk.  Beberapa pengunjung sibuk dengan kegiatan masing-masing ; membaca koran, mengetik di laptop, bahkan ada yang sedang menulis musik. Pelayan kafe menyodorkan kami daftar menu.  Selain menu breakfast dan lunch, ada beberapa jenis kopi seperti  Kleiner Brauner (kopi espresso dengan cream), Verlangerter Verkehrt (kopi latte) dan coklat panas.  Saya memilih kopi latte yang lembut dan sepotong kue yang tidak terlalu manis. 

Kedai kopi pertama didirikan di Vienna pada tahun 1685.  Tetapi sempat mengalami kelesuan pada tahun 1950-an ketika orang-orang lebih memilih menonton televisi di rumah ketimbang bertemu di kedai kopi. Tapi kemudian kedai-kedai kopi ini hidup lagi dan berjaya hingga saat ini. Di beberapa kedai yang masih klasik, biasanya pengunjung dihibur oleh iringan piano dan disuguhi makanan khas Vienna.
Beberapa jam duduk di Kleines Cafe, saya membayangkan romantisme Jesse dan Celine di Before Sunrise.  Kedai kopi tua bergaya bohemian ini tak hanya menghadirkan romantisme yang memikat tapi juga bisa memunculkan ide-ide menarik di kepala. Pelayan tua-nya yang ramah dan membawa dompet wanita berwarna merah berisi uang logam kembalian, pengunjungnya yang tenang dan tidak berisik serta keakraban mereka yang ngobrol di tenda luar kedai.  Setelah kafein di gelas terkuras, ide-ide liar itu akan bermunculan di kepala membuat orang-orang kreatif tak ingin meninggalkan kedai kopi ini lebih cepat.  Seandainya masih ada waktu saya ingin berlama-lama di sini, sayangnya saya harus segera kembali.  Kleines cafe menyisakan kenangan buat orang-orang yang bertualang dengan ide.

Kopi Kong Djie Belitung : Menikmati Arabika Dan Robusta Dalam Satu Cangkir

“Adventure in life is good; consistency in coffee even better. (Justina Chen)”

Matahari belum tinggi saat mobil kami membelah jalanan Belitung yang rapih dan bersih. Sebelum menjelajah pantai di Belitung Selatan, kami memutuskan untuk singgah di kedai kopi paling otentik di Belitung yaitu kedai kopi Kong Djie. Terletak di jalan Siburik Barat Tanjung Pandan depan Gereja Regina Pacis, kedai kopi ini sudah berdiri sejak 1943. Mungkin ini bukan kedai pertama yang ada di Belitung tetapi setidaknya kedai kopi  yang masih mempertahankan keotentikannya selama 75 tahun.

 

Bangunan kedai kopi Kong Djie tampak tradisional, sederhana dan kecil. Mungkin hanya bisa menampung sekitar 50 pengunjung baik di bagian luar kedai maupun di dalam kedai. Karena bagian luar penuh, kami memutuskan mencari tempat duduk di bagian dalam satu meja dengan warga lokal yang ngopi pagi sambil bercengkerama.  Berbagai lapisan masyarakat berbaur dalam aroma kopi dan candaan yang hangat.  Sambil menunggu dua cangkir kopi susu pesanan yang merupakan favorit di kedai ini, kamipun terlibat obrolan dengan warga lokal.  Menurut mereka, masyarakat Belitung selalu mengawali dan mengakhiri hari-harinya dengan segelas kopi. Pagi sebelum beraktivitas mereka menyulut semangat dengan segelas kopi dan malam sepulang aktivitas  juga melepas penat dengan segelas kopi.  Kedai Kong Djie buka mulai pukul 5 pagi hingga 4 sore. 

 

 

Tak lama pesanan kopi susu kami datang.  Sebenarnya tak hanya kopi susu yang laris dipesan di kedai ini, namun juga kopi O dan kopi hitam. Saya menyesap kopi perlahan dan merasakan nikmatnya kopi susu yang lembut.  Memakai campuran kopi Arabika dan Robusta serta resep rahasia peninggalan keluarga, kopi ini dimasak dalam tungku arang supaya aromanya keluar.  Agar kopi tidak terbau apek, air yang digunakan untuk menyeduh harus benar-benar mendidih. Ada tiga ceret  yang digunakan untuk memasak kopi ini, satu berukuran paling tinggi dan dua yang lain berukuran setengahnya.  Ketiga ceret ini dahulu terbuat dari tembaga, namun sekarang sudah dimodifikasi menggunakan bahan aluminium. Perubahan bahan ceret ini tidak akan mengubah kenikmatan rasa kopi yang dihasilkan. Tak hanya menjual kopi, kedai Kon Djie juga menyediakan makanan kecil seperti donat, pastel, gorengan dan telur ayam setengah matang.

 

Duduk di dalam kedai kopi yang sudah berumur 75 tahun dan dipertahankan keotentikannya, membuat saya melamunkan masa tahun 1943.  Saat itu Indonesia belum merdeka dan masih dalam penjajahan Jepang.  Menurut pemiliknya yang merupakan generasi penerus kedai kopi Kong Djie, keluarganya yang bermarga Ho, Tionghoa terpaksa menyeberang dari Bangka ke Belitung karena kelaparan pada masa penjajahan Jepang.  Mereka kemudian mendirikan kedai kopi Kong Djie.  Kata Kong Djie sendiri berasal dari bahasa Hakka (bahasa yang dituturkan oleh orang Hakka di pegunungan Guangdong, Tiongkok), Kong artinya terang, sementara Djie adalah nama untuk anak kedua. Kedai ini memiliki beberapa cabang dengan mengadopsi sistem franchise yang hanya meminjam brand sementara bahan baku diambil dari Kong Djie. Di franchise ini pula, Kong Djie menempatkan satu peracik kopi yang telah menguasai racikan kopi mereka. Karena tidak ada perkebunan kopi di Belitung kedai kopi Kong Djie terpaksa mengambil pasokan kopi dari pulau Jawa dan Sumatera. 

 

 

Segelas kopi susu di cangkir kami telah tandas dan warga lokal yang menemani kami telah berangkat beraktivitas. Tapi saya enggan meninggalkan kehangatan kedai kopi ini. Saya bisa merasakan perjuangan masa lalu yang hebat, tradisi yang mengikatnya dan sejarah yang terbentuk selama 75 tahun di kedai ini. Mungkin benar kata-kata yang pernah saya baca, Tuhan menciptakan kopi agar kita bisa berteman, bercengkerama, tertawa dan saling memahami. Dan itu semua saya temukan di kedai kopi Kong Djie.

 

Belitung, Ketika Alam Membuatku Jatuh Cinta

“Kata orang Indonesia adalah potongan surga yang jatuh ke bumi, dan mungkin Belitung salah satu potongannya.”

Matahari belum tinggi saat saya membelah jalanan kota Tanjungpandan yang basah setelah hujan semalam.  Kota yang bersih, jalanan beraspal halus dan suasana yang lengang membuat saya seperti memasuki sisi dunia lain setelah keluar dari kebisingan Jakarta.  Terkenal dengan sebutan Bumi Laskar Pelangi sejak novel dan film Laskar Pelangi meledak tahun 2008, Belitung menjadi tempat wisata terkenal di Indonesia.  Pantai-pantai yang cantik, terumbu karang yang terawat, pulau-pulau yang masih perawan dan infrastruktur yang mendukung membuat Belitung bertahan menjadi tempat tujuan wisata.  Saya menjelajahi Belitung untuk membuktikan bahwa tempat ini seperti potongan warna surga yang jatuh ke bumi.

PANTAI TANJUNG KELAYANG DAN PULAU BURUNG

Saya memerlukan waktu 45 menit bermobil dari pusat kota Tanjungpandan untuk sampai di pantai Tanjung Kelayang.  Begitu turun dari mobil  saya disergap papan besar dengan tulisan warna-warni “PANTAI TANJUNG KELAYANG” dan “WELCOME TO BELITONG”.   Di belakang tulisan ini pemandangan biru air laut tampak sempurna. Airnya jernih, pasirnya putih halus dan bebas sampah membuat saya terpesona.  Banyak kapal nelayan bersandar di pantai ini, menambah cantiknya pemandangan. 

Pantai Tanjung Kelayang juga menjadi pelabuhan untuk para wisatawan memulai menjelajah pulau-pulau kecil yang cantik.  Setelah berganti pakaian untuk berenang, saya mulai menjelajahi pulau-pulau kecil di sekitar pantai Tanjung Kelayang.  Tak jauh dari pantai Tanjung Kelayang, tampak pulau kecil dengan batu granit  menjulang tinggi menyerupai kepala burung garuda. Pulau ini juga disebut pulau Burung. Karena masih pagi, kami memutuskan untuk menjelajah pulau terjauh lebih dahulu.  Sepanjang perjalanan, langit biru cerah dan air laut di kejauhan tampak berwarna toska.  Batu-batu granit yang berwarna putih tampak kontras dengan kebiruan di sekelilingnya. Baru memulai penjelajahan dan saya sudah memercayai bahwa Belitung adalah potongan warna surga yang jatuh ke bumi.

  
PULAU BATU BERLAYAR
Setelah berperahu sekitar 20 menit sampailah saya di pulau Batu Berlayar.  Seperti namanya, pulau Batu Berlayar memiliki ciri batu granit yang lebar seperti kapal yang sedang berlayar di tengah lautan.  Saya turun ke pantai dan menyusuri pantai. Batu-batu granit menyebar eksotis di sekeliling pulau. 

Airnya sangat jernih dan pasirnya putih lembut.  Sejauh mata memandang tampak kebiruan air laut, langit yang cemerlang dan batu-batu granit putih yang menjulang.  Saya menceburkan diri berendam di lautan dangkal yang jernih itu sambil melihat burung-burung kecil yang terbang di langit.  Sepertinya saya akan betah berjam-jam berendam di sini. Namun, saya memutuskan melanjutkan perjalanan ke pulau lain.

PULAU LENGKUAS

Sebelum mencapai Pulau Lengkuas, saya singgah di spot snorkeling yang menyuguhkan pemandangan bawah laut yang indah.  Terumbu karangnya masih terjaga dan ikan warna-warni berseliweran di sekitar saya.  Saya ingin berenang lebih lama di spot ini, tetapi mercusuar di Pulau Lengkuas yang menjulang tinggi seolah-olah memanggil saya untuk segera ke sana. 

Pulau Lengkuas memiliki ikon mercusuar peninggalan Belanda sejak 1882 setinggi 62 meter yang masih berfungsi untuk memantau kapal yang keluar masuk ke Pulau Belitung hingga saat ini. Kita bisa memasuki mercusuar dan naik ke atas melalui anak tangga, tetapi saat ini hanya bisa sampai lantai 4 karena sedang direnovasi.  Di setiap lantai terdapat jendela yang mempelihatkan pemandangan birunya laut Belitung.  

Tempat ini juga menjadi tempat istirahat para wisatawan setelah menjelajahi pulau demi pulau.  Banyak tempat duduk dari kayu yang bisa kita gunakan untuk istirahat makan siang sambil menikmati pemandangan laut yang indah.  Jangan lupa sambil minum air kelapa muda yang segar.Tak hanya mercusuar yang menjulang ikonik, di sisi lain tempat ini juga terdapat batu-batu granit besar yang membuat pulau ini tampak semakin eksotis.  Para pengunjung bisa memanfaatkan sisi ini untuk berfoto.  Di bawah pohon besar teduh yang daunnya kemerahan menjulang ke laut, saya duduk berjam-jam menikmati pemandangan. Tempat ini sangat indah tepat untuk menenangkan diri.

 PULAU KELAYANG

Matahari sedikit condong ke barat ketika saya melanjutkan perjalanan menuju Pulau Kelayang.  Berjarak 20 menit dari Pulau Lengkuas menggunakan perahu, pulau ini merupakan pulau terbesar diantara gugusan pulau-pulau yang lain. 


Tak hanya bisa menikmati bebatuan granit yang menjulang, dan pasir putih yang halus, di tempat ini kita juga bisa memasuki hutan kecil yang terdapat goa di dalamnya. Goa yang terbentuk dari bebatuan granit ini terhubung dengan laut. Jika kita menyusuri lebih jauh, kita bisa naik ke atas batu-batu granit dan memandang laut dari ketinggian. Dari bebatuan tinggi ini kita bisa melihat birunya laut di kejauhan. Pulau Kelayang tidak jauh dari pantai Tanjung Kelayang, maka setelah puas menikmati pemandangan di Pulau Kelayang, saya kembali ke Pantai Tanjung Kelayang untuk melanjutkan perjalanan ke pantai yang lain.

PANTAI TANJUNG TINGGI

Pantai Tanjung Tinggi juga dikenal sebagai Pantai Laskar Pelangi karena pantai ini menjadi lokasi syuting film Laskar Pelangi. Terletak tidak jauh dari pantai Tanjung Kelayang, pantai cantik ini memiliki banyak sekali batu granit yang besar dan tinggi sehingga menjadikan pantai ini sangat unik. Nama Tanjung Tinggi diambil dari kata tanjung yang artinya semenanjung dan tinggi yang artinya pantai yang memiliki bebatuan yang tinggi. 

Di pantai ini pengunjung bisa melakukan banyak aktivitas seperti mendaki batu-batu granit yang tinggi dan melihat pemandangan laut dari ketinggian, memancing di sela-sela bebatuan, berenang atau duduk menunggu matahari terbenam seperti yang saya lakukan. Pemandangan saat matahari terbenam di pantai ini sangat menakjubkan.

PANTAI PENYABONG

Esoknya saya melanjutkan perjalanan menjelajah Belitung Selatan. Tujuan pertama saya mengunjungi Pantai Penyabong.  Jalanan bagus beraspal menyambung sampai pantai, sehingga mobil bisa masuk sampai tepi pantai.  Kita hanya perlu berjalan sedikit untuk menaiki batu granit besar yang ada di sisi pantai.  


Pantai di Belitung Selatan lebih alami, sepi dan perawan dibanding pantai sebelumnya. Di sini bebatuan granit besar menjulang tinggi sehingga para pengunjung bisa naik ke atas untuk menikmati pemandangan lautan biru dari ketinggian.  Saya mendaki ke atas batu dan melihat warna laut seperti berlapis mulai dari biru jernih dan hijau toska. Di tempat ini juga terdapat warung makan yang menjual masakan kepiting dengan harga murah. Anda tak akan melewatkan ini setelah melihat pemandangan alam yang menakjubkan.

PANTAI TELUK GEMBIRA

Pantai Teluk Gembira terletak tidak jauh dari Pantai Penyabong. Pantai ini telah dilengkapi berbagai fasilitas lengkap untuk menerima para wisatawan seperti restoran, gasebo, mushala, toilet yang bersih dan bagus.  Pengunjung bisa menikmati keindahan pantai sambil duduk di gasebo tepi pantai atau duduk di bebatuan granit yang menjorok di pantai.

 Memiliki panorama yang indah perpaduan antara bebatuan granit, pasir putih serta laut lepas yang berwarna biru dihiasi pulau-pulau kecil di sekitar Teluk Gembira, pantai ini memiliki air yang jernih dan bebas dari sampah. Di pantai Teluk Gembira ini juga terdapat dermaga penyeberangan yang disinggahi oleh perahu yang membawa orang-orang yang tinggal di Pulau Seliu. Setiap hari ada dua kali jadwal perahu yang menyebarang dari Teluk Gembira ke Pulau Seliu dan sebaliknya.

DANAU KAOLIN
Tempat terakhir yang melengkapi potongan warna surga di Belitung yaitu Danau Kaolin. Danau berwarna hijau toska ini terletak di desa Air Raya Tanjungpandan.
   

Memiliki daratan yang putih bersih dan warna air yang hijau toska, danau ini berasal dari bekas penambangan Kaolin yang telah ditinggalkan.  Kaolin merupakan bahan untuk membuat cat dan kosmetik.  Air danau ini juga dipercaya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit.  Perpaduan warna putih dan hijau toska akan menjadi obyek foto yang menarik jika anda menyukai fotografi.  ***

Pantai Cantik Di Dekat Jakarta

Gaya hidup Jakarta yang serba macet, bising dan terburu-buru membuat sebagian orang mudah dilanda stress hingga depresi. Jika anda penyuka pantai, ada beberapa pantai cantik yang dekat dengan Jakarta yang bisa anda kunjungi bersama keluarga untuk melepaskan penat, tidak membutuhkan waktu lama dan anggaran-pun tidak akan membengkak. Pantai apa saja itu? Simak pengalaman perjalanan saya menyusuri pantai cantik yang tidak jauh dari Jakarta.

 

1.                PULAU HARAPAN

Pulau harapan terletak di gugusan pulau seribu, berjarak 2 jam menggunakan speedboat dari Marina Ancol, atau 3 jam jika anda menggunakan kapal ekonomi dari Kaliadem. Pulau ini merupakan pulau berpenduduk, jadi anda bisa menyewa rumah penduduk untuk menginap.  Fasilitas homestay cukup nyaman, bahkan pemilik rumah akan memasakkan makanan untuk anda termasuk dalam biaya menginap. Tetapi jika anda tidak mau repot, lebih baik anda memesan paket trip dari Jakarta, sehingga sampai Pulau Harapan tinggal menikmati liburan. 

Memiliki pantai yang berpasir putih, taman bermain, warung makan, deretan kios souvenir dan dermaga untuk menjemput dan mengantar penumpang kapal, Pulau Harapan juga menjadi pintu untuk para wisatawan menjelajahi pulau-pulau kecil di sekitarnya.  Dengan menyewa kapal anda bisa island hoping ke beberapa pulau cantik seperti Pulau Bulat, Pulau Bira dan Pulau Kalampunian Besar.  Semua pulau kecil itu memiliki pantai yang cantik, berpasir putih dan masih perawan. Tak hanya menikmati pantai, anda juga bisa snorkeling untuk menikmati terumbu karang indah yang ada di bawah laut.  Malamnya, anda bisa menikmati ikan bakar yang lezat di depan homestay anda.  Pulau Harapan bisa dikunjungi dengan waktu singkat 2 hingga 3 hari. Anda bisa melakukannya saat weekend bersama keluarga.

2.               
                    PULAU PAHAWANG

Beberapa tahun terakhir, Pulau Pahawang naik daun dan banyak dikunjungi wisatawan. Terletak di Lampung, anda memerlukan waktu sekitar 12 jam perjalanan darat dan laut dari Jakarta untuk sampai Pulau Pahawang.  Tetapi jika anda menggunakan pesawat waktu bisa dipangkas lebih pendek.  Dari Pelabuhan Ketapang, anda bisa menyewa kapal untuk island hoping menikmati pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Pahawang yang tak kalah cantiknya. Saya justru lebih jatuh cinta pada pulau-pulau kecil yang jarang dikunjungi seperti Pulau Balak, Pulau Kelagian, Taman Nemo Pulau Pahawang, Pulau Kelagian Lunik dan Tanjung Putus.  Pantainya berpasir putih lembut dan airnya jernih.  Anda bisa snorkeling dan berendam di pantai sepuas-puasnya. 

Banyak homestay dan beberapa resort disediakan di Pulau Pahawang. Penginapan homestay sebagian besar digunakan pengunjung open trip sementara resort biasanya dipilih pengunjung yang membutuhkan suasana tenang bersama teman atau keluarga. Saya menginap di sebuah resort di Tanjung Putus tepat di depan pantai dengan harga yang terjangkau sudah termasuk biaya makan. Ada beberapa pilihan harga resort yang bisa kita sesuaikan dengan dana yang kita miliki.  Saya sarankan anda memilih paket trip yang tepat yang memberi keleluasaan anda memilih tempat menginap, menyediakan makan sehingga anda tidak kesulitan lagi mencari makan serta memberikan pilihan island hoping yang menarik sehingga perjalanan anda aman dan nyaman. Pulau Pahawang dan pulau-pulau kecil yang masih perawan di sekitarnya menjadi pilihan menarik untuk mengisi weekend gateway anda dan keluarga.

3.                 PULAU BELITUNG

Sejak novel dan film Laskar Pelangi meledak di pasaran, pulau ini menjadi sangat terkenal. Seringkali kita berpikir pulau ini jauh tetapi kenyataannya hanya membutuhkan waktu 50 menit menggunakan pesawat dari Jakarta.  Anda hanya memerlukan waktu 3 sampai 4 hari untuk mengunjungi Belitung dan akan menikmati panorama alam yang luar biasa indahnya. 

Memiliki infrastruktur yang bagus dan lengkap, serta panorama laut yang membiru, pasir putih dan batu-batu granit yang menjulang membuat Belitung sangat istimewa. Anda bisa mengunjungi Pantai Tanjung Kelayang yang menjadi pelabuhan kapal untuk memulai island hoping menuju pulau-pulau kecil cantik seperti Pulau Burung, Pula Lengkuas dan Pulau Batu Berlayar. Semua pulau ini memiliki pantai berpasir putih dan bebatuan granit yang unik.  Tak hanya menyusuri pantai, anda juga bisa snorkeling untuk menikmati keindahan bawah laut.   Jika anda memiliki cukup waktu, Pantai Penyabong dan Pantai Teluk Gembira di Belitung Selatan tak kalah menarik. Lebih perawan dibanding pantai-pantai yang lain, pantai di Belitung Selatan ini layak untuk dikunjungi. Nah, tertarik mengisi weekend anda untuk mengunjungi pantai?  Saya yakin dengan mengunjungi pantai-pantai itu anda akan kembali semangat menjalani rutinitas sehari-hari. ***

Bertemu Tarsius Di Belitung

Belitung selain memiliki panorama alam yang luar biasa indah perpaduan pasir putih yang lembut, batu granit yang menjulang di berbagai pulau dan air laut yang membiru ternyata menyimpan kekayaan fauna langka yang menarik untuk dikunjungi. Apakah primata langka itu? Ia adalah Tarsius, monyet kecil berukuran sekitar 15 centimeter dengan berat 1 kilogram yang terdapat di hutan Batu Mentas, Kecamatan Badau, Belitung Barat, sekitar 40 menit berkendara dari pusat kota Tanjungpandan. 

 

Hanya ada tiga tempat di Indonesia yang menjadi habitat Tarsius, yaitu Sulawesi Utara, Kalimantan dan Belitung.  Tarsius jenis spectrum mendiami Cagar Alam Gunung Tangkoko, Sulawesi Utara dan Tarsius bancanus saltator yang mendiami hutan Batu Mentas Belitung. Menurut informasi Tarsius Tangkoko berukuran lebih kecil dari Tarsius Batu Mentas dan hidup berkelompok pada lubang-lubang pohon. Sedangkan Tarsius Batu Mentas cenderung hidup di bawah kanopi daun dan hidup berpindah-pindah dengan menandai teritorinya menggunakan air seninya.

 

 

MONYET HANTU YANG SETIA

 

Warga Belitung menyebut Tarsius bancanus saltator ini sebagai pelilean atau monyet hantu.  Pelilean hidup nocturnal atau aktif di malam hari.  Karena hidup di malam hari, maka ia akan tidur pada siang hari.  Tarsius termasuk karnivora.  Bentuk matanya besar dan pada malam hari menjadi sangat awas. Ia dengan mudah menemukan mangsanya seperti kecoa, burung, jangkrik dan kelelawar yang kemudian menjadi makanannya.  Tarsius juga mampu memutar kepalanya 180 derajat sehingga dengan matanya yang lebar pada malam hari akan sangat mengejutkan saat bertemu dengannya. Karena aktif pada malam hari, saat saya berkunjung ke Batu Mentas siang hari, Tarsius ini hanya diam di balik kanopi pohon sembunyi dari pengunjung.

 

Tarsius merupakan primata langka terkecil di dunia yang termasuk dalam kelas mamalia dari famili Tarsiidae.  Ia melakukan semua aktivitas hidupnya di pohon mulai dari makan, minum, tidur bahkan saat melahirkan sekalipun. Berbeda dengan monyet yang suka bergelayutan di atas pohon, Tarsius dengan tulangnya yang bisa memanjang lebih suka melompat-lompat dari pohon satu ke pohon yang lain.  Ia tidak bisa berada di atas tanah, dan ketika terpaksa di atas tanah maka ia akan terus melompat-lompat.

 

Selain menjadi habitat Tarsius, Batu Mentas juga menjadi tempat penangkaran Tarsius. Ketika saya berkunjung, ada dua Tarsius di tempat percontohan.  Menurut penjaga, kedua Tarsius itu sedang dijodohkan. Tarsius merupakan hewan yang setia pada pasangannya dan tidak mudah dijodohkan. Biasanya Tarsius hanya akan berkembang biak dengan satu pasangan.  Tetapi di Batu Mentas ini seekor Tarsius berhasil mendapatkan bayi dari pasangan yang lain.  Prestasi ini akan memberikan harapan untuk menjaga kelestarian Tarsius di masa depan.

 

 

WISATA PETUALANGAN DAN KEBUN LADA

 

Mengunjungi Batu Mentas Belitung tidak hanya akan bertemu primata langka Tarsius, tetapi juga banyak paket wisata petualangan menarik yang ditawarkan.  Mulai dari hiking menuju air terjun, river tubing, flying fox,  mandi di air sungai yang jernih hingga berkemah di areal Batu Mentas yang masih alami. Di tempat ini juga ada beberapa bungalow yang disewakan jika kita ingin menikmati suasana hutan yang tenang. 

 

Fasilitas untuk pengunjung di Batu Mentas juga cukup baik. Di areal depan sungai tampak tempat ibadah, toilet serta tempat ganti pakaian setelah bermain di sungai dan warung kecil yang menyediakan makanan untuk para pengunjung yang kelaparan. Tepat di depan sungai ada areal untuk duduk sambil menikmati pemandangan sungai yang jernih dan tenang.  Perlengkapan petualangan juga disediakan dengan lengkap untuk para pengunjung yang ingin bertualang sambil menyusuri sungai.  Tak hanya itu, tempat ini juga bersih dari sampah.

 

Selain wisata petualangan yang menarik,  Belitung merupakan salah satu tempat penghasil lada putih terbesar di Indonesia. Sepanjang jalan menuju Batu Mentas kita akan melihat perkebunan lada penduduk yang rimbun. Menurut informasi, jika kita berkunjung pada bulan Juli- Agustus, kita bisa menyaksikan para petani lada memanen lada di kebun mereka. Tak hanya lada, kita juga menemukan perkebunan nanas di sepanjang jalan menuju Batu Mentas.  Kebanyakan warga Belitung mencampurkan nanas dalam masakan mereka sehingga menimbulkan rasa asam manis yang menyegarkan. Jika anda berkunjung ke Belitung, kawasan wisata Batu Mentas ini jangan anda lewatkan karena kekayaan flora dan faunanya yang unik sangat menarik untuk dikunjungi. ***

 

Oxford Inggris, Kota Pelajar Yang Menarik

“Oxford, diantara keanggunan dan ketenanganmu aku menemukan keindahan”

Apa sih menariknya Oxford?  Beberapa waktu lalu saya mengunjungi Oxford Inggris dan menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di benak saya.

Oxford merupakan kota pelajar paling terkenal di Inggris yang berjarak sekitar 200 kilometer dari pusat kota London. Kita bisa naik kereta atau bus untuk menjangkau kota ini. Saya naik kereta dari salah satu stasiun di London dengan membeli  tiket di pounding machine. Perlu waktu sekitar 1.5 jam hingga sampai di kota tua Oxford yang cantik.

Saya memiliki waktu 12 jam untuk berkeliling sebelum kembali ke London sore harinya. Di stasiun Oxford tersedia paket tour yang akan mengantarkan kita keliling kota Oxford, tetapi saya lebih suka berkeliling sendiri. Apa saja yang bisa kita kunjungi dan lakukan di Oxford? Berikut rekomendasi buat kamu yang ingin berkunjung ke Oxford Inggris.

       JALAN-JALAN KELILING KAMPUS UNIVERSITAS OXFORD
Universitas Oxford merupakan perguruan tinggi berbahasa Inggris tertua di dunia. Menurut data, universitas ini sudah didirikan sejak abad ke 11, namun karena kelemahan dokumentasi sejarah, sehingga tidak diketahui kapan tepatnya universitas ini didirikan.  
Keluar stasiun saya berjalan kaki mengelilingi areal kampus.  Kota ini benar-benar cantik, tenang dan nyaman. Bangunan-bangunan tua bergaya Victoria menjulang di setiap sudut kota dan terawat dengan baik. Berjalan di areal kampus ini, saya seperti memasuki kehidupan berabad-abad yang lalu.  Banyak turis baik sendiri maupun berkelompok bersama tour guide hilir mudik mengelilingi kota.  Ada 38 college di Oxford dan college yang bisa dikunjungi seperti Exeter College yang didirikan pada tahun 1314 dan Hertford College yang didirikan pada tahun 1282. Mengelilingi kota Oxford bersama mahasiswa yang jalan kaki maupun bersepeda sangat berkesan. Seolah-olah saya juga kuliah di kampus berbahasa Inggris tertua di dunia ini.
   MENGUNJUNGI CHRIST CHURCH KATEDRAL
Kesuksesan novel Harry Potter juga diikuti kesuksesan film-film-nya. Para penggemar film Harry Potter pasti tidak asing dengan The Great Hall, tempat Harry Potter dan sahabat-sahabatnya pertama kali menghadapi topi seleksi untuk masuk ke asrama Gryffindor, Slytherin, Ravenclaw atau Hufflepuff. Di hall ini pula, biasanya para siswa sekolah sihir Hogward berkumpul untuk makan malam, menerima paket dari keluarga masing-masing, tempat Dumbledor menyampaikan pengumuman-pengumuman penting dengan menyalakan lilin-lilin terbang di atas langit-langit ruangan.  Satu tempat yang menjadi inspirasi The Great Hall adalah Dining Hall yang berada di Chrish Church katedral, Universitas Oxford.
Chrish Church adalah satu-satunya gereja yang tergabung di dalam lingkungan kampus Universitas Oxford. Setelah menjadi lokasi syuting pembuatan film Harry Potter, pengunjung gereja itu meningkat drastis. Tujuan utama mereka adalah The Dining Hall yang menjadi inspirasi The Great Hall yang ada di film Harry Potter. Pengunjung dari berbagai manca negara ingin melihat secara langsung lokasi pengambilan gambar film Harry Potter.  Ketika saya tiba di depan gereja, antrian sudah mengular panjang. Lima belas menit antre, tiba giliran saya membeli tiket dan melewati pemeriksaan security. Saya kemudian dipersilakan masuk ke areal gereja.
Areal Chrish Church sangat luas dan saya memilih untuk langsung ke Dining Hall.  Pengunjung tampak terpesona melewati bagian-bagian bangunan kuno Victoria yang megah dan cantik. Setelah menaiki tangga, sampailah saya di depan The Dining Hall. Karena antrean banyak, petugas mengatur jumlah orang yang masuk ke dalam The Dining Hall. Dan tibalah giliran saya memasuki Dining Hall.
Arus pengunjung perlahan memasuki Dining Hall sambil terus memotret setiap sisi Dining Hall. Ruangan ini benar-benar mirip dengan The Great Hall di film Harry Potter.  Tata letak meja panjang dan kursi, peralatan makan dan foto-foto yang terpasang di dinding. Bahkan pada bagian depan tempat para guru dan kelapa sekolah Hogward juga memiliki kesamaan.  Sambil berjalan memutar, para pengunjung yang kebanyakan penggemar Harry Potter mengabadikan moment kunjungan mereka seolah mereka benar-benar berada dalam situasi malam malam di sekolah sihir Hogward.
Tak hanya The Dining Hall yang menjadi inspirasi film Harry Potter, beberapa tempat di areal Chrish Church juga menjadi lokasi syuting film Harry Potter. Setelah keluar dari The Dining Hall, saya menuju lapangan luas yang menjadi tempat latihan Quidditch Harry Potter dan teman-temannya. Di tempat ini juga pertama kalinya Harry Potter belajar naik sapu terbang dan terbang mengelilingi menara-menara kastil Hogward. Saya membayangkan terbang menggunakan sapu terbang melihat kota Oxford yang cantik dari ketinggian.
3    MENIKMATI MUSIK JALANAN YANG MENARIK
Ketika saya sampai di pusat kota tua, tampak jajaran pertokoan, restoran dan kafe-kafe. Banyak orang berkerumun di pinggir jalan menikmati sajian musik yang dimainkan sekelompok anak muda. Permainan musiknya menarik dan terlihat profesional. Banyak orang berhenti dan menikmati sampai selesai sebelum kemudian memberikan uang di kotak wadah alat musik yang terbuka di depan grup musik itu. Banyak band mendunia yang didirikan di Oxford seperti Radiohead dan Thom Yorke.
Nah, jika kamu berkunjung ke Oxford jangan lewatkan sajian musik jalanan yang menarik dan memberi energi ini. 
4     MENIKMATI TEH DAN KUE DI KAFE
Jalan-jalan keliling kota tanpa ojek pasti bikin gempor buat kaki Indonesia. Makanya saya menyempatkan diri mampir ke salah satu kafe untuk minum teh dan kue sambil melihat lalu lalang orang.  Ada satu kafe kecil yang menyajikan kue-kue ringan dan minuman hangat dengan harga murah. Kafe itu letaknya sedikit tersembunyi tapi orang lokal menunjukkannya pada kami.  Ada banyak kafe cantik di setiap sisi kota Oxford, kamu bisa mencobanya sambil menikmati kecantikan kota tua Oxford.
MENGUNJUNGI BODLEIAN LIBRARY


Jika kamu penggemar buku, maka tempat ini tak akan kamu lewatkan. Bodleian library merupakan perpustakaan tertua di Eropa dan terbesar kedua di Inggris. Perpustakaan ini menjadi sangat terkenal di seluruh dunia karena beberapa ruangannya digunakan sebagai tempat pengambilan gambar film Harry Potter. Nah, tertarik berkunjung ke Inggris? Jangan lupa mampir di kota cantik Oxford, saya jamin kamu nggak akan kecewa.