Category Archives: Tiongkok

Beijing : Cahaya Diantara Warna Merah

“Focus on the journey not the destination.”

 

Tiananmen square

Matahari  baru menggeliat bangun saat aku menaiki eskalator stasiun Qianmen. Sinarnya hangat menerpa tubuhku yang semalam kedinginan menginap di bangku-bangku tidak nyaman bandara Beijing. Warga lokal berjalan tergesa-gesa memasuki stasiun, hendak berangkat beraktivitas. Sebagian wisatawan menyeret kopernya tertatih-tatih dengan wajah yang letih. 

Pendestrian Tiananmen saat malam

Penginapanku di kawasan backpacker tidak jauh dari stasiun Qianmen.  Lokasinya sangat strategis karena berdekatan dengan stasiun dan Tiananmen Square. Area Qianmen membuatku langsung jatuh cinta. Bangunan-bangunan tradisional Tiongkok masih berdiri kokoh dijadikan hostel, toko souvenir, restoran-restoran dan juga tempat tinggal. Motor listrik berseliweran tetapi tidak membuat gaduh kecuali sedang mengklakson. Aku seolah sedang berada di lokasi film-film kungfu China yang aku tonton. Tempat menginapku pun bangunannya tradisional dan unik.

“Kita istirahat saja dulu beberapa jam sebelum menjelajah sekitaran Qianmen,” kata temanku.

 
Aku menyetujuinya. Tujuh jam perjalanan Jakarta-Beijing sangat meletihkan karena kami bermalam di bandara yang dingin. Sebelum menikmati jalanan kota Beijing, aku merebahkan tubuhku di pembaringan hostel. Tak sampai sepuluh menit aku terlelap.

***

Penjaga Tiananmen square

“Here we are! Tiananmen square!” teriak temanku girang.

Tiananmen square adalah alun-alun besar dengan lebar sekitar 500 meter dan panjang 880 meter yang merupakan pusat kota Beijing yang sangat terkenal. Ada empat pintu masuk utama Tiananmen square yaitu melalui utara, selatan, barat dan timur.  Alun-alun ini terbuka hingga tengah malam dengan pemeriksaan keamanan di setiap pintu masuk bagi pengunjung.

“Ri, minggir Ri, ada barisan mau lewat!” temanku mendorongku menepi.

Tampak sekelompok tentara berbaris melintasi alun-alun, sementara sebagian tentara yang lain berjaga di setiap sudut alun-alun. Ada beberapa tempat bersejarah yang bisa kita lihat di sini seperti Museum Nasional China, Makam Mao Zedong, Balai Agung Rakyat dan Monumen Pahlawan Rakyat. Pada pagi dan sore hari juga ada upacara pengibaran dan penurunan bendera. Tak hanya tempat bersejarah, di alun-alun ini juga ada penjual makanan dan minuman. Kami membeli minuman sebelum menyeberang jalan bawah tanah menuju Forbidden City.

“Jangan terlalu banyak minum,” cegah temanku ketika aku membuka botol minuman.

 
Bagi sebagian orang yang biasa tinggal di tempat bertoilet bersih, maka menggunakan toilet-toilet umum di Beijing sebaiknya dihindari. Lebih baik menggunakan toilet di hotel sebelum berangkat dan setelah pulang dari jalan-jalan. Karena akan membuat sedikit trauma dengan kondisinya yang jorok bahkan sebagian orang tidak menutup pintu toilet saat buang air.

“Sssttt! Lihat tuh kebanyakan anak kecil celananya bolong,” celetuk temanku lagi.

 
Dan begitu aku menoleh, tampak ibu dari anak itu membiarkan anaknya buang air di mana saja tanpa menggunakan air untuk membersihkannya. Dengan kondisi toilet yang horor ini, membuat aku dan teman-teman mengurangi jatah minum sehingga hampir dehidrasi.  

Forbidden City

Forbidden city atau Kota Terlarang merupakan komplek istana seluas 720.000 m2, yang dibangun sejak 1406 hingga tahun 1420.  Ada sekitar 800 bangunan dan 8000 ruangan. Warna merah, emas dan ukiran khas China mendominasi bangunan yang berdiri megah dan kokoh itu. Pada masa pemerintahan dua dinasti terakhir di China yaitu Dinasti Ming hingga Qing, sekitar 500 tahun, komplek istana ini tertutup untuk umum sehingga di sebut Kota Terlarang. Pada tahun 1987, Unesco menetapkan komplek ini sebagai situs warisan dunia. Meskipun tidak lagi ditempati kaum bangsawan, tetapi tempat ini terjaga dengan baik dan menjadi tujuan wisata yang sangat populer di Beijing. Untuk mengelilinginya diperlukan waktu tiga jam dari pintu masuk gerbang selatan di dekat Tiananmen square dan pintu keluar bagian utara. Aku memutuskan tidak berjalan sampai ujung karena kaki sudah mulai kram belum sempat istirahat panjang sejak perjalanan dari Jakarta. Belum lagi dehidrasi yang mulai mengintai tubuhku. 

Wangfujing street

Hari menjelang malam ketika aku menyusuri Wangfujing street mencari makanan halal tetapi malah tersesat masuk pasar dan membeli makanan halal yang sangat mahal. Setelah menyesal kehilangan banyak Yuan untuk seporsi makanan yang sangat tidak enak, kami kembali ke hostel melewati Qianmen street yang semarak. Pendestrian ini sangat menyenangkan untuk berjalan-jalan. Pertokoan, kafe-kafe bahkan pasar yang berjualan souvenir bisa kami temukan di salah satu gangnya. Kakiku mulai kram lagi dan aku memutuskan kembali ke hostel untuk istirahat.

***

Pagi baru saja dimulai saat kami tiba di stasiun subway Dongzhimen. Orang-orang lokal Tiongkok berjalan tergesa mengejar subway menuju tempat kerja, mengantri panjang di depan  pintu kereta dan berebut lebih dulu menaiki eskalator. Kami memilih exit B kemudian mencari terminal bus Dongzhimen yang terletak sekitar 100 meter dari pintu keluar subway.


Menurut informasi, ada beberapa bus yang bisa membawa kami ke  The Great Wall gerbang Mutianyu antara lain bus nomor 980, 915, 915 express, 916 dan 916 express. Seorang wanita petugas terminal berseragam biru dengan bahasa Inggris yang lumayan lancar menyarankan kami naik bus nomor 916 express yang melewati jalan tol sehingga lebih cepat dan turun di halte wilayah Huairou.  Karena tidak memiliki Beijing Transportation Card kami dikenakan biaya CNY 15, sedangkan pemegang kartu dikenakan biaya CNY 12 untuk perjalanan bus dari terminal Dongzhimen hingga wilayah Huairou. 

Bersama warga lokal Tiongkok yang sedang menjalankan aktivitas hariannya dan bercengkerama ramai di bus dengan teman-temannya, kami menikmati perjalanan menuju distrik Huairou, sekitar 70 kilometer dari kota Beijing tempat gerbang Mutianyu, The Great Wall berada. 

The great wall

 
The Great Wall atau Tembok Besar Tiongkok merupakan sejarah penting bagi negeri Tiongkok. Tembok yang dibangun ratusan tahun silam pada masa Dinasti Ming ini memiliki panjang sekitar 8851 kilometer dan pada tahun 1987 bangunan ini masuk sebagai salah satu situs warisan dunia Unesco. Ada empat gerbang untuk memasuki Tembok Besar Tiongkok yaitu melalui gerbang Badaling, Mutianyu, Jinshaling dan Simatai.  Gerbang Badaling merupakan gerbang yang paling populer dikunjungi turis karena jaraknya paling dekat dari kota Beijing, memiliki tanjakan yang relatif mudah dilewati dan mudah dijangkau dengan transportasi umum. Gerbang Badaling telah banyak direstorasi dan selalu ramai pengunjung. Sementara gerbang Jinshaling dan Simatai merupakan gerbang yang letaknya paling jauh dari kota Beijing dan memiliki tanjakan yang sulit dilalui. Gerbang Jinshaling dan Simatai lebih cocok untuk mereka yang memiliki stamina kuat dan penggemar hiking. 

Here we are! My dream come true!

Setelah mempertimbangkan berbagai hal, kami kemudian memilih memasuki Tembok Besar Tiongkok melalui gerbang Mutianyu. Selain tidak terlalu ramai pengunjung, gerbang Mutianyu lebih otentik dan bisa dijangkau menggunakan transportasi umum. 

Hampir jam 10 pagi saat penumpang lokal yang duduk di sebalah temanku  dengan menggunakan bahasa isyarat menyarankan agar kami turun di salah satu halte Huairao. Dari halte tersebut kami masih harus menyewa mobil untuk sampai gerbang Mutianyu. Tetapi begitu kami turun dari bis, kami dikerubungi empat sopir taksi yang gayanya setengah memaksa kami untuk naik taksinya. Temanku mencoba bertanya dengan bahasa Inggris tapi tak satupun mereka paham bahasa Inggris. Mendadak kami takut karena salah satu dari mereka kasar dan memaksa.

“Kita cari minimarket dulu aja yuk,” kata temanku menarik lenganku.

 
Aku berjalan menghindar dari empat sopir taksi itu, tetapi mereka malah mengikuti kami. Kami jadi bingung dan ketakutan. Tiba-tiba ada seorang cewek lokal yang cantik dan memerhatikan kami. Ia hendak naik ke boncengan motor yang dikendarai wanita paruh baya sepertinya ibunya.

“May i help you?” tanyanya dengan bahasa Inggris yang fasih dan jelas di dengarkan.

Yesss!!! Dunia seketika menjadi terang mendengar cewek cantik itu bisa berbahasa Inggris. Kami segera mengemukakan masalah kami. Cewek itu menjelaskan bahwa untuk sampai gerbang Mutianyu memang harus menyewa mobil mereka. Dan ia menawar harga pulang pergi ke sopir-sopir taksi itu dengan harga terendah yang ia ketahui sebagai orang lokal. Salah satu sopir yang umurnya paling tua dan wajahnya baik bersedia mengantar kami. Aku dan temanku mengucapkan terima kasih tak terhingga pada cewek cantik yang sudah menolong kami itu. Sayang sekali, aku tidak menanyakan siapa namanya dan bertukar kontak.
Gerbang Mutianyu
 

Satu jam kemudian, kami sudah sampai di gerbang Mutianyu. Suasana tidak terlalu ramai dan udara sangat sejuk. Kami membeli tiket cable car untuk naik ke tembok besar dan turunnya menggunakan kereta luncur atau toboggan dengan biaya CNY 100. Tetapi begitu antri cable car aku mulai merasa takut. Bagaimana tidak? Cable car yang aku pilih ternyata tanpa dinding kaca sama sekali. Begitu giliran kita masuk cable car, kita harus berdiri di tempat dan terdorong dengan keras masuk ke dalam cable car. Petugas kemudian mengunci kami dan cable car berjalan ke atas tanpa sekat apapun.

“Bagaimana kalau tiba-tiba ada angin kencang nabrak kita?” tanya temanku sambil tertawa saat cable car mencapai puncak tertinggi.
Cable car terbuka

Ia tahu aku sangat ketakutan. Sebagai penderita phobia ketinggian dan claustrophobia, aku ingin mengurangi ketakutanku pada ketinggian setiap kali traveling dengan mencoba hal-hal yang menantang. Tetapi keringat dingin mengaliri pelipisku. Temanku mengalihkan ketakutanku dengan mengajak melihat pemandangan di kejauhan.  Dari ketinggian, tembok besar itu terlihat meliuk-liuk bagaikan ular naga yang sedang tidur. 

Begitu aku mulai menikmati naik cable car ternyata sudah harus turun. Petugas di bawah meneriaki kami agar kami melompat karena lintasannya sangat cepat dan susul menyusul. Begitu pintu terbuka kami melompat keluar. Dan hufff! Aku oleng hampir jatuh. Untung temanku memegangi tanganku. 

Kami segera mencari pintu masuk tembok besar dan mulai mendaki. Benar seperti yang pernah aku baca, tembok besar China gerbang Mutianyu terlihat lebih otentik. Tidak banyak pengunjung sehingga lebih tenang dan tidak  berdesakan saat mendakinya.  Masih banyak pepohonan sehingga tembok raksasa ini seolah meliuk-liuk di tengah hutan.  

The great wall

 
Tembok besar gerbang Mutianyu menggunakan batu granit dengan tinggi 8 meter dan lebar 5 meter. Terdapat menara suar yang pada masanya digunakan untuk menyampaikan pesan militer dengan cara membuat sinyal asap di siang hari dan api pada malam hari. Tembok besar menjadi salah satu bagian penting dari sejarah arsitek China yaitu untuk membatasi wilayah perkotaan dan perumahan, batas kepemilikan lahan, penanda perbatasan dan jalur komunikasi untuk menyampaikan pesan.

“Bagaimana kalau kita istirahat satu jam di sini?” ajakku pada teman-teman.

 

Mereka menyetujuinya, lagipula kami menyewa mobil selama empat jam pulang pergi. Kami segera mencari tempat duduk yang nyaman, lalu membuka bekal makanan dari hostel yang aslinya makanan dari Jakarta. Puding jelly, roti dan beberapa botol minuman. 

Turun dari tembok besar kami sudah membeli tiket tobbogan atau kereta luncur. Hanya di gerbang Mutianyu yang dilengkapi kereta luncur untuk kembali ke pintu masuk. Awalnya aku membayangkan kami akan naik kereta luncur bersamaan dan kenyataannya naik sendiri-sendiri. Tanganku langsung berkeringat dingin. Aku ingin berbalik dan membeli cable car saja, tetapi haruskah aku membuang-buang uang? Aku menyeka keringat dingin dan mulai antri di dekat papan luncur. 

Kereta luncur tobbogan sejenis kereta beroda untuk diduduki dan dilengkapi dengan rem. Kereta dapat meluncur sampai 60 km/jam menempuh jarak sejauh 1.6 km diatas lintasan stainless steal. Begitu naik ke atas kereta luncur aku berusaha menyesuikan diri meskipun masih ketakutan. Naik motor saja aku tidak bisa bagaimana naik kereta luncur di atas ketinggian ini?  

Penjual di kawasan the great wall

 Dan benar saja! Sepertinya aku membuat orang-orang di belakangku kesal karena aku bergerak lambat. Aku berusaha menikmati perjalanan menerabas hutan menggunakan kereta luncurku meskipun tanganku berkeringat dingin dan tubuhku gemetar. Orang-orang di belakangku tidak bisa ngebut dan memanjakan adrenalin mereka. Aku tidak peduli meskipun mereka marah, lebih baik aku pelan daripada jatuh ke bawah. Sampai di bawah tanganku dingin dan aku menangis. Ini sangat menyenangkan sayangnya aku ketakutan.

“Lunch! Lunch! Cheap! Cheap!” kata bapak sopir yang mencegat kami di depan restoran. 
Kami menggeleng. Sebenarnya lapar, tetapi tidak yakin makan ditempat yang tidak halal dan sama sekali tidak tahu jenis makanannya karena semua menu berbahasa China. Kami kemudian kembali ke tempat parkir.
“Take a picture, please?” temanku ingin foto bersama di parkiran dengan background lintasan tobbogan di kejauhan.

Bapak sopir segera beraksi mengambil foto kami. Tetapi begitu berada di mobil dan kami memeriksa hasil fotonya, semua foto adalah kaki kami! Ok, good pictures!

***

Belum terlalu sore ketika kami tiba kembali di terminal bus Dhongzhimen. Hampir seharian tidak makan kami memutuskan untuk langsung ke masjid Niujie. Menurut informasi, di sekitar masjid Niujie banyak makanan halal. Tetapi  dari terminal bus Dhongzhimen kami tidak menemukan nomor bus ke distrik Xuanwu. Kami harus naik subway kemudian menggantinya dengan bus kota. Baiklah, karena sudah sangat lapar kami buru-buru masuk ke dalam stasiun subway dan mencari line menuju distrik Xuanwu.Tiga puluh menit kemudian setelah naik subway dan berganti bus kami sampai di distrik Xuanwu. Sepanjang jalan sekitar masjid tampak pertokoan dan restoran halal. Kami memilih salah satu restoran yang ada di paling ujung. Awalnya kebingungan mencari tempat masuknya, tetapi pelayan restoran menunjukkan kami pintu masuk. Di dalam restoran tampak luas dan nyaman. Kami memilih tempat di pojok agar bisa mengamati lalu lalang orang yang masuk ke dalam restoran. 

Pelayan tidak bisa bahasa Inggris, sehingga kami hanya menunjuk menu yang kami inginkan. Nasi, sate domba, kuah sup dan teh hangat. Pengunjung restoran kebanyakan warga lokal. Aku melihat gadis mengenakan jilbab sedang makan di salah satu meja dan tersenyum kepadaku. Aku membalas senyumnya seraya mengangguk. 

Tak lama makanan datang dan kami menyantapnya dengan lahap. Ternyata makanan yang kami pesan kurang untuk berempat. Aku masih kelaparan, tetapi mau pesan lagi kuatir keburu sore ke masjid. Berharap pulang dari masjid bisa makan lagi di tempat ini.

Dari restoran tempat kami makan, masjid Niujie ada di seberang jalan. Kami menyeberang dan menyusuri sepanjang jalan Niujie. Tampak sebuah masjid berarsitektur campuran China dan Arab yang berdiri megah di depan kami. Begitu memasuki gerbang seorang lelaki tua beruban dengan wajah ramah menyapa kami.

“Assalamu’alaikum. Are you from Malaysia?” tanyanya.

“Wa’alaikumsalam. I am from Indonesia,” jawabku.

Wajahnya tampak sumringah. “Oh, Indonesi… come…come…” lelaki tua berambut putih itu mengantarkan kami ke pintu masuk.

 
Sebenarnya masjid sudah tutup bagi wisatawan, tetapi karena kami muslim dan datang dari jauh kami diperbolehkan masuk. Masjid Niujie juga bisa dikunjungi non muslim tetapi harus menggunakan pakaian sopan dan tidak diperkenankan masuk ke tempat ibadah. Aku dan teman-teman masuk lewat samping dan mulai berkeliling. 

Masjid Niujie

  
Masjid Niujie merupakan masjid tertua di Beijing yang dibangun pada 996 pada masa Dinasti Liao (916-1125). Masjid ini menjadi titik awal masuknya Islam di dataran Tiongkok. Populasi muslim terbesar Beijing tinggal di sekitar masjid membentang dari utara ke selatan.

“Tempat sholat perempuan di sebelah sana,” kata temanku menunjuk papan petunjuk.
Tempat sholat perempuan Masjid Niujie

Aku melihat-lihat berkeliling lebih dulu. Beberapa jamaah dan pengunjung tampak duduk di halaman masjid. Sebagian ngobrol, sebagian lagi melamun. Aku jadi ingin duduk melamun memandangi masjid yang unik dan indah ini. Maka aku pun mengambil tempat duduk di halaman berdekatan dengan jama’ah wanita yang sudah tua. Beliau tersenyum melihat aku menghampirinya. Sayang kami tidak bisa saling menyapa karena keterbatasan bahasa. 

Bagian areal dalam masjid

 
Luas kompleks masjid mencakup 6000 meter persegi terdiri dari ruang sholat utama, tempat wudhu, menara dengan paviliun, ruang sholat perempuan dan juga ruang pameran. Karena kami sejak siang belum menunaikan sholat, maka kami segera ke tempat sholat perempuan. Tetapi pintu tempat sholat perempuan terkunci dan tidak ada seorangpun yang bisa kami tanyai. Mungkin karena sebentar lagi malam. Setelah puas berkeliling, kami segera keluar halaman masjid. 

Pintu menara masjid dan saya

 Dari jalan Niujie masjid tua itu berdiri megah. Sudah melewati banyak perjalanan hidup yang berat dan ia masih berdiri kokoh di sana. Warna merah menghiasi setiap sudut Tiongkok. Dan aku melihat cahaya terpancar dari masjid tua Niujie. Menerangi langkahku untuk terus melanjutkan perjalanan.

***

(artikel ini ada dalam buku saya “Keliling Asia Memburu Cahaya” terbitan Grasindo, masih beredar di seluruh toko buku Indonesia)

Xi’an : Cahaya 1000 Tahun

“He who returns from a journey is not the same as he who left.” – Chinese proverb

Kota Xian dari ketinggian tembok kota

Mendengar kata Xi’an, kepala para pejalan akan dijejali bayangan kejayaan Tiongkok masa lampau.  Di ibukota Tiongkok kuno ini terdapat terracotta warrior ; koleksi ribuan patung prajurit penjaga makam yang dibuat pada masa dinasti Qin, tembok kuno yang mengelilingi kota Xi’an, Bell Tower dan Giant Wild Goose Pagoda sebagai bukti kejayaan Tiongkok pada masa lampau. 

Eksotis.  Aura itu menyergap mataku, begitu bus yang kutumpangi memasuki kota Xi’an.  Saat bus melewati jalan menikung di ketinggian, aku terdorong dan oleng ke samping hingga seorang lelaki lokal yang duduk di sebelahku tertawa. Aku membalasnya dengan senyum dan membuang pandang ke jendela kaca bus. “Sian… Sian…” lelaki itu menyentuh lenganku sambil menunjuk-nunjuk tembok yang mengelilingi kota di kejauhan.

Tembok kota Xian

Aku mengajaknya bicara dalam bahasa Inggris tetapi lelaki itu tertawa sambil menggeleng-geleng. Lagi-lagi ia menunjuk tembok tinggi yang mengelilingi kota Xi’an di kejauhan. Aku hanya bisa menangkap isyarat bahwa kami telah memasuki kota Xi’an dengan tanda tembok yang menjulang mengelilingi kota.  Lelaki di sebelahku ini tampak sangat bangga dengan kota tempat ia tinggal. Sayangnya aku tidak bisa bahasa Mandarin sehingga kami hanya berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat tubuh. Tetapi seperti kebanyakan lelaki lokal yang aku temui selama menyusuri dataran Tiongkok, mereka kocak dan siap membantu. 

Matahari tepat di atas kepala saat bus memasuki gerbang tembok kota Xi’an lalu melambat mengikuti arus lalu lintas yang padat.  Bus berbelok ke samping Longhai Hotel. Di samping hotel yang tampak seperti terminal kecil itulah bus airport ini berhenti dan menurunkan penumpangnya.  Lelaki lokal di sampingku melambaikan tangan lalu meninggalkan aku turun dari bus lebih dulu. 

Mencari alamat hostel tempatku menginap di Xi’an ternyata tak semudah dugaan. Memasuki dunia tanpa google sekaligus sebagai fakir wifi aku hanya mengandalkan catatan petunjuk dalam notesku. Dari Xi’an Railway Stasiun mengambil line 2 turun di Bei Da Jie. Tetapi mencari stasiun kereta bawah tanah yang tidak jauh dari tempat kita berdiripun ternyata tidak mudah.  Tidak ada petunjuk Bahasa Inggris dan tubuh yang letih membuat pikiran susah fokus.  Setelah berjalan memutar dan salah arah, akhirnya aku menemukan pintu masuk stasiun yang ternyata tidak jauh dari lokasiku mondar-mandir. Aku menyeret travel bag menuruni tangga stasiun subway dan membeli tiket subway. Setelah mengambil line 2, tiga puluh menit kemudian aku berhasil turun di Bei Da Jie. 

Stasiun Bei Da Jie

Perjalananku semakin lambat karena sejak pagi belum makan. Mencari alamat hostel yang seharusnya mudah sesuai petunjuk tidak juga segera kutemukan. Keluar dari stasiun subway aku menyeret travel bag dengan kepala pusing dan perut keroncongan. Sepertinya harus mencari tempat makan sebelum pingsan di jalan. Tapi di mana? Aku menyadari kesalahan keduaku ; tidak survey lokasi makan halal di sekitar stasiun subway. Sedangkan kesalahan pertamaku adalah ; tidak belajar bahasa mandarin sedikitpun.Baiklah, mungkin sebaiknya melanjutkan perjalanan. Aku berharap menemukan tempat makan halal di perjalanan menuju hostel.

Sesuai petunjuk, dari arah jalan besar aku harus belok ke kanan. Tampak deretan pohon besar yang menaungi sisi jalan sehingga suasana menjadi sejuk dan teduh.  Beberapa sopir angkutan sejenis bajaj ngetem menunggu penumpang. Melihat aku lewat di depannya, mereka menawarkan diri dengan ramah untuk mengantarku. Aku menggeleng dan menolak dengan halus. Tanpa sengaja mataku tertumbuk pada deretan kedai makan di seberang jalan yang hampir semuanya terdapat plang halal di bagian pintu. Aku bersorak kegirangan dan memutuskan menyeberang jalan memasuki salah satu kedai makan itu.  

Kedai makan yang kumasuki ternyata belum buka. Areal kedai tampak kotor dan sedang dibersihkan. Sebagian karyawan wanita mengenakan jilbab menyapu halaman kedai dan sebagian yang lain sedang  sibuk memasak. Sementara karyawan laki-laki yang mengenakan kopyah putih sibuk merapikan bangku-bangku kedai. Aku berniat untuk pindah ke kedai lain, tetapi kedai yang lain juga masih tutup. Sepertinya kedai-kedai ini hanya buka di malam hari.  

Rumah makan muslim yang pemiliknya baik hati memberi kami makanan

 Seorang perempuan tua, mengenakan jilbab warna merah jambu tersenyum ramah menghampiriku. Dan mulailah ia menggunakan bahasa mandarin untuk berkomunikasi. Aku menggeleng-geleng bingung. Tetapi nenek ramah ini seperti memahami kebingunganku. Ia membawakan sepiring roti dan semangkok mie kuah lalu dengan isyarat bahasa tubuh seolah bicara, “kamu mau makan ini?” Lalu aku mengangguk yakin. Seorang wanita berjilbab yang lain membawakan aku segelas air putih sambil mempersilakan aku makan. “Xie…xie.. terima kasih,” hanya itu bahasa mandarin yang paling aku pahami. 

Semangkok mie kuah di depanku masih panas, sementara roti bakpao berwarna pandan menggoda untuk segera kulahap. Aku masih mengira-ngira bagaimana aturan makan roti dan mie kuah di depanku ketika nenek ramah itu mengajariku cara makan roti dan mie kuah. Ia memakan roti terlebih dahulu kemudian mie atau mencampurkan roti ke dalam mie. Tetapi bisa juga sesuai selera.
  
Meski tidak sesuai dengan lidah Indonesiaku, roti dan mie kuah ini lumayan sebagai pengganjal perut. Porsinya terlalu banyak untukku tetapi aku berusaha menghabiskannya. Aku belum tahu budaya setempat tentang makan, tetapi karena pemilik warung ini muslim, aku yakin tidak akan suka melihat orang makan tanpa menghabiskannya.

“Saya akan membayar. Berapa semuanya?” aku nekat bertanya dalam bahasa Indonesia sambil mengeluarkan dompet.

 
Seorang lelaki bertubuh pendek mengenakan kopyah yang sedari tadi sibuk membantu membereskan bangku-bangku kedai menghampiriku dan menggeleng-geleng sambil membuat isyarat tangan tidak usah membayar. Hah!? Tidak usah membayar? Jangan dong, aku sudah makan masa tidak membayar? Aku memaksa memberikan uangku, tetapi lelaki yang ternyata pemilik kedai itu tetap menolak. Ia membuat isyarat menengadahkan tangan ke langit seolah berdoa lalu menangkupkan kedua tangannya di dada sambil tersenyum. Melihat ketulusan di wajahnya, aku tidak memaksa memberikan uangku lagi. 



Keharuan menyeruak di dadaku saat berpamitan dengan pemilik kedai, nenek yang ramah dan semua karyawannya. Menerima kebaikan di tempat asing selalu membuat dadaku bergetar.  Aku merasakan persaudaran muslim yang kuat di tanah ini, bukan karena semata ketulusannya memberi musafir seperti aku makanan gratis, tetapi keramahannya menerima sebagai saudara.

“Xie…xie…” aku agak bergetar mengucapkannya.
Lohas Hostel

 
Perjalanan mencari alamat hostel mungkin masih melelahkan, tetapi semangatku membara karena kebaikan dari pemilik kedai. Aku kembali menyeret travel bag meninggalkan kedai. Berapa gang lagi yang harus kulewati untuk menemukan alamat hostel itu? Tetapi baru lima langkah mataku tertumbuk pada plang hostel yang kucari. Ternyata hostel yang kucari hanya berjarak sekitar duapuluh langkah dari kedai makan itu.  
Pelajaran yang aku dapat hari ini, jangan coba-coba mencari sesuatu dalam keadaan lapar! Sudah pasti mata akan kabur dan otak susah bekerja sehingga plang hostel yang tidak jauh dari pandanganpun menjadi kabur.  Beruntung pemilik kedai yang baik hati itu menyelamatkan aku. Dengan tawa miris, aku bergegas menuju hostel itu.

***

Lohas hostel tempatku menginap cukup nyaman. Meskipun resepsionis berwajah tampan yang menyambut kami bicara bahasa Inggris terbata-bata, tetapi sangat ramah dan penolong. Dari jendela kamar di lantai tiga, aku melihat jalanan riuh oleh lalu lalang motor listrik dan orang berjalan kaki. Sebagian besar mereka mengenakan jilbab dan kopyah. 

Aku terseret masa lalu, membayangkan saat Islam memasuki kota ini. 
Islam memasuki kota Xi’an diperkirakan pada abad ke 7 melalui jalur sutra pedagang Arab dan Persia. Suku Hui yang mendiami kota Xi’an menjadi salah satu etnis terbesar yang memeluk agama Islam.  Muslim Tiongkok tidak selalu melewati masa yang mudah. Pada masa revolusi kebudayaan China dibawah Mao Zedong menjadi teror bagi kamu muslim. Tetapi setelah Mao Zedong mangkat, muslim Tiongkok bisa kembali hidup damai dan membangun masjid-masjid. Menurut informasi yang aku baca ada 10 masjid di kota Xi’an saat ini, salah satunya The Great Mosque atau masjid agung Xi’an yang merupakan masjid tertua di Tiongkok.

Ya, The Great Mosque! Itulah tujuan perjalananku. Aku tak sabar untuk mencari masjid tertua di Tiongkok ini dan merasakan pendar-pendar cahayanya.

***

 

Usai shalat ashar di hostel, aku mengikuti arus orang yang berjalan kaki menuju muslim quarter.  Menurut informasi resepsionis hostel, The Great Mosque tidak jauh dari muslim quarter. Aku berniat sholat maghrib di sana. Sepanjang jalan menuju muslim quarter tampak ramai turis Asia lalu lalang. Penduduk lokal laki-laki mengenakan kopyah, sementara para wanita lokal mengenakan jilbab. Sebagian hilir mudik dengan motor listrik dengan klakson yang mengagetkan pejalan kaki dan sebagian yang lain berjualan di tokonya masing-masing. Semakin mendekati gerbang muslim quarter semakin ramai. 

Muslim quarter

Tiba di persimpangan jalan, tampak gerbang muslim quarter dengan jajaran toko-toko yang ramai pengunjung. Aku memasuki gerbang dan terpesona dengan banyaknya jajanan halal yang berderet di sepanjang sisi jalan. Para turis membeli makanan eceran dan langsung memakannya sambil jalan-jalan menyusuri sepanjang muslim quarter.  Para penjual berteriak-teriak menjajakan dagangannya. Aku merasakan aura yang hangat, dekat dan bersahabat. Melihat minuman berwarna kemerahan yang menggoda aku membeli satu. Minuman yang aku kira teh itu ternyata terbuat dari sari buah-buahan. Rasanya agak asam  tapi enak sekali diminum sore-sore.  

Jajanan di muslim quarter


 Sebagian besar makanan di sepanjang muslim quarter halal. Hampir setiap tempat berjualan makanan memasang plang halal atau halal coret merah yang artinya tidak halal.  Selama aku menyusuri dataran Tiongkok, Xi’an memiliki tempat makanan halal paling banyak. Berbagai makanan dan minuman lokal yang unik dan menggoda selera dijual di sepanjang jalan ini seperti satai domba, gurita goreng, buah-buahan dan berbagai minuman. Roti berisi daging sepertinya menjadi favorit para turis karena antreannya mengular panjang. Tak hanya makanan, sepanjang muslim quarter juga banyak toko yang berjualan souvenir, rempah-rempah, kain khas Tiongkok dan baju. 

Penjual kue di muslim quarter

Aku dan teman-teman terlalu gembira menyusuri muslim quarter  sampai lupa waktu maghrib telah lewat. Aku menemukan plang petunjuk arah ke masjid dan mengikuti jalan itu. Tetapi jalan kecil itu malah membawa kami masuk ke pemukiman penduduk lokal dengan gang kecil yang gelap. Tetapi ada seseorang yang berbaik hati menunjukkan kami arah masjid. Kami segera berbalik arah mengikuti petunjuk itu. 

Tiba di gerbang masjid ternyata sudah tutup. Kami tidak menemukan jalan lain untuk masuk ke dalam masjid. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke muslim quarter.  Perut mulai keroncongan dan kami masuk ke sebuah kedai makan yang khusus menjual dumpling. Karena penjual tidak bisa berbahasa Inggris, kami menunjuk mangkok pembeli untuk memberi tahu makanan  yang kami pesan. Beberapa saat kemudian penjual mengangguk-angguk dan meracik pesanan kami. 

Aku mengedarkan pandangan mengelilingi ruangan di dalam kedai. Banyak wanita-wanita lokal mengenakan jilbab dengan gaya khas mereka. Kulit mereka putih bersih dengan wajah yang kemerahan. Saat menunduk, mereka tampak seperti orang yang tersipu malu. Mataku bertubrukan dengan seorang wanita yang juga sedang memandangku. Kami saling tersenyum dan mengangguk. Seandainya aku bisa berbahasa mandarin, aku sudah menghampiri mejanya dan mengajaknya ngobrol.  Sayangnya kami hanya bisa saling memandang dan tersenyum. 

Dumping Xian

 Selain dumpling, aku memesan satai domba satu tusuk seharga 10 Yuan. Menurut informasi, satai domba ini makanan favorit di muslim quarter selain roti isi daging. Ketika satai itu datang aku terpana melihat tusukan besar dari besi dan keratan daging yang besar-besar. Keluargaku terbiasa makan segala sesuatu dalam bentuk yang kecil, tetapi melihat sate ini malah tertantang untuk menggigitnya. Aku membayangkan kalau ibuku tahu hal ini, beliau akan marah. Bagi ibu, kesopanan juga termasuk  makan dalam potongan kecil-kecil sehingga makanan lebih rapi saat dikunyah. Tetapi begitu aku menggigit sate domba itu, rasanya tidak rugi kalau harus menabrak norma yang diajarkan ibuku. Karena sate domba ini sangat enak. Dagingnya empuk dan bumbu jintannya terasa gurih di mulut. Sebelum pesanan dumpling datang, aku sudah menghabiskan satu tusuk sate itu.

“Kenapa mereka selalu menggunakan bumbu jinten, sih?” tanya temanku yang tidak suka makan jintan.

“Coba tanyakan ke penjualnya,” jawabku.
Sate domba yang empuk!

 
Lalu terjadilah pembicaraan yang aneh lagi. Karena kebanyakan warga lokal tidak bisa berbahasa Inggris, temanku menggunakan bahasa Indonesia, sementara pelayan menggunakan bahasa Mandarin. Hasilnya kami  tidak menemukan jawaban kenapa hampir semua makanan menggunakan bumbu jinten dan rempah. Justru dari artikel perjalanan di internet aku mendapat jawaban. Seperti Islam yang masuk melalui pedagang Arab dan Persia, kuliner mereka pun banyak dipengaruhi kuliner Arab yang banyak menggunakan jinten dan rempah. 

Hampir pukul 10 malam saat kami selesai makan dumpling dan berpamitan pada pemilik kedai. Semakin malam jalanan sepanjang muslim quarter semakin ramai. Para penjual meneriakkan makanannya dan turis-turis menikmati jajanan dengan gembira. Mataku tinggal 5 watt, tetapi aku dan teman-teman malah tersesat menjauh dari arah pulang ke hostel. Tidak menemukan orang yang bisa berbahasa Inggris sehingga kami semakin susah menemukan jalan pulang. Menjelang jam 12 malam kami baru sampai hostel. Bukankah perjalanan tanpa pengalaman tersesat tidak akan seru?

Maka bersyukurlah bila kau tersesat dalam perjalanan.

***

The great mosque Xi’an
Masjid agung Xi’an. The great mosque!

Di sinilah kemudian aku berdiri esok harinya. The great mosque merupakan masjid tertua di Tiongkok. Lokasi masjid agung Xi’an berada di sekitar muslim quarter tidak jauh dari hostel tempatku menginap. Hari itu hari jum’at dan jama’ah sedang menunaikan sholat  jum’at di dalam masjid. Tidak hanya sebagai tempat ibadah umat muslim di kota Xi’an, The great mosque juga mengijinkan turis non muslim melihat-lihat areal masjid tapi tidak diperbolehkan ke bagian dalam masjid. 

Jamaah sholat Jum’at di Masjid Agung Xian

Saat melihat berkeliling, aku menemukan catatan pada bagian interior masjid yang menyebutkan bahwa masjid ini didirikan pada tahun 742 masehi atau 13 abad yang lalu. Meskipun telah berumur lebih dari 1000 tahun dan menjadi salah satu warisan sejarah Tiongkok, masjid ini terjaga dengan baik keasliannya. Sekilas bangunan masjid ini tampak menyerupai kelenteng dengan halaman dan pavilion-pavilion. Namun saat aku melihat lebih cermat tampak kaligrafi Al-Quran di setiap bangunan. Taman dan kolam yang berada di halaman masjid tampak unik dan kuno. 

Gapura Masjid Agung Xian

 
Duduk di halaman sambil memandang ke arah masjid, aku termenung. Pada masanya, pedagang-pedagang dari Arab dan Persia yang melawati jalur sutra menyebarkan Islam ke kota ini.  Sebagian dari mereka menikah dengan suku Hui yang mendiami wilayah ini dan Islam kemudian berkembang di sini. Rentang waktu seribu tahun kemudian, aku duduk di halaman masjid ini dan memiliki iman yang sama dengan mereka.  Pendar cahaya masih menyala di masjid tua ini dan menerangi perjalanan orang-orang yang mencari.  

Jama’ah sholat jumat keluar dari masjid. Mereka mengenakan baju koko dan kopyah, sebagian besar sudah berusia lanjut dan tampak ramah. Salah satu orang menghampiri kami dan bicara dengan bahasa yang tidak kami pahami. Lagi-lagi aku menyesal karena tidak bisa bahasa Mandarin atau Arab sehingga tidak bisa berkomunikasi dengan para jama’ah.

“Malaysia?” tanyanya.

Aku menggeleng dan segera paham bahwa beliau ingin tahu kami dari negara mana. “Indonesia,” jawabku.

“Ahhh, Indonesi. Soekarno…ha?”


Aku mengangguk-angguk senang. Bapak berkopyah putih itu mengeluarkan  uang kertas Indonesia dari berbagai zaman dan menunjukkan pada kami. Wow! Rupanya beliau mengoleksi uang kertas Indonesia. Beliau menunjuk-nunjuk uang kertas itu sambil menggunakan bahasa isyarat bahwa beliau pernah ke Indonesia.  

Bapak baik hati yang terkesan dengan Presiden RI Pertama

 
Setelah menemani keliling masjid sebentar, bapak itu mengantarkan kami ke tempat sholat wanita. Aku berpikir kami akan sholat di dalam komplek masjid tetapi ternyata tempat sholat wanita ada di bagian lain. Beliau mengantar kami ke sebuah rumah di dalam gang tidak jauh dari masjid yang dijadikan tempat sholat wanita.  Tampak seorang wanita berjilbab menyambut kami dengan bahasa mandarin. Bapak itu kemudian berpamitan pada kami.

“Hurry up!” seorang gadis berjilbab yang fasih berbahasa Inggris menjelaskan pada kami bahwa tempat ini akan segera tutup dan wanita berjilbab yang menjaga masjid itu akan segera pulang. Gadis manis itu ternyata berasal dari Malaysia.

 
 Gadis itu memberi tahu kami tempat meletakkan sendal dan membantu kami membuka keran air wudhu. Setelah berwudhu kami segera naik ke lantai atas. Meskipun seperti rumah yang difungsikan sebagai tempat sholat, tetapi bersih dan nyaman. Seperti di Indonesia, tersedia mukena bersih dan sajadah. Beberapa Al-qur’an juga tampak berjajar di rak mungil sudut ruangan.

Allahhu akbar!

 
Bersujud di tempat asing yang jauh dari tanah air membuat mataku memanas. Buliran air mata membasahi pipiku. Allah memberi kesempatan aku ke tempat ini, bertemu dengan saudara seiman di negeri lain agar aku tetap istiqomah di jalan-Nya.  Kami memang berbeda warna kulit dan bahasa. Tapi iman kami sama. Tersenyum, tertawa, menangis dan mencintai dengan cara yang sama. Cahaya Allah terang benderang, menerangi hati yang gelap dalam pencarian. 

Wanita berjilbab yang menunggu kami di bawah tersenyum begitu kami menuruni undakan selesai shalat. Ia mengunci pintu begitu kami keluar dari mushala itu. Aku dan teman-teman mengikuti langkahnya menyusuri gang. Wanita itu dengan bahasa isyarat menawari kami mampir, tetapi karena hari mulai gelap kami memutuskan untuk kembali ke hostel.

“Xie…xie…terima kasih,” kataku.

Di persimpangan jalan setelah saling berpelukan kami mengucap salam dan berpisah.

***

Saya di depan pintu masuk menuju tembok kota Xian
 

Sejuk air wudhu masih terasa di wajahku saat aku masuk ke kedai mie di pinggir jalan. Kedai kecil yang bersih dan terdapat tulisan halal di pintu masuknya itu tampak hangat dan nyaman. Beberapa orang lokal dan turis duduk menikmati semangkok mie sambil berbincang. Tampak di ujung meja, seorang kakek-kakek sedang asyik berbincang dengan cucu laki-lakinya yang baru berumur sepuluh tahun. Sesekali tampak sang kakek menyuapkan mie ke mulut cucunya. Aku memilih duduk di pojok untuk bisa mengamati keseluruhan pengunjung kedai.

“Eat? Eat?” seorang remaja laki-laki mengenakan celana jeans dan kaos serta kopyah putih menghampiriku dengan malu-malu. Wajahnya imut-imut dan kedua pipinya tampak kemerahan.

“Speak english?” tanyaku yang disambut gelengan kepala sambil tertawa kecil. Dia melanjutkan bicara dalam bahasa mandarin dan aku giliran yang tidak paham.

Seperti  kemarin, kami memesan makanan dengan cara menunjuk makanan di meja seorang pembeli. Ia memahami apa yang kami maksud sambil tersenyum malu-malu lalu pergi meracik mie kami.

“Negeri ini hebat ya, memiliki banyak peninggalan masa lalu yang luar biasa,” kata temanku sambil menerima minuman botol berwarna kuning yang dipesannya. Baru tiga hari di Xi’an kami jatuh cinta pada minuman ini.

 
Temanku benar, banyak warisan budaya masa lalu yang hebat di negeri ini. Tadi pagi sebelum ke masjid agung Xi’an kami mengunjungi teraccota wariors. Sebuah museum yang berisi kumpulan koleksi dari 8000 lebih patung berbetuk prajurit dan kuda dengan ukuran asli yang terletak di dekat makam Kaisar pertama dinasti Qin, Qin Shi Huang. Patung-patung itu dibuat sekitar 210-209 SM untuk mengawal patung Kaisar pertama China, Qin Shi Huang.

“Selain budaya masa lalu yang hebat bertahan sampai ribuan tahun, aku yakin juga karena peninggalan itu dijaga dengan baik,” tambah seorang teman yang lain.“Benar sekali! Banyak tempat memiliki peninggalan masa lalu yang hebat,  sayangnya tidak semua bisa menjaganya dengan baik,” aku menyimpulkan.Mie pesanan kami datang. Aku menelan ludah melihat mie hangat mengepul di hadapanku. Kami segera menikmati mie khas Xian dengan lahap.

***

Malam merambat pelan saat aku dan teman-teman menyusuri jalanan kota Xi’an.  Tampak tembok kota Xi’an berdiri kokoh dan megah di depan sana. Lentera berwarna merah menyala di atas tembok. Aku berhenti dan menatap kejauhan. Kota ini menyimpan kemasyuran masa lalu yang luar biasa. Museum tentara teraccota yang mengagumkan, Bell Tower, tembok tua yang berdiri kokoh mengelilingi kota dan tujuan utamaku ke sini ; The Great Mosque yang sudah berumur 1000 tahun lebih. Semua kejayaan masa lalu itu terjaga dengan baik seolah membawa pengunjungnya menembus waktu kembali ke masa lampau. Aku kembali berjalan menyusuri kota. Lentera merah di atas tembok kota masih menyala.  Berkedip-kedip di kejauhan. Tetapi ada cahaya lain yang menyusup ke dadaku.

1000 tahun cahaya dari masjid agung Xi’an.

***
(artikel ini ada dalam buku saya “Keliling Asia, Memburu Cahaya” yang tersedia di seluruh toko buku Gramedia dan toko buku online)