Category Archives: Thailand

CHIANG MAI- THAILAND, Beautiful Roses from The North

The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes, but in having new eyes.”  – Marcel Proust

Si mawar dari utara. Itulah sebutan untuk Chiang Mai. Setiap membaca atau mendengar sebutan itu, sebagai wanita saya selalu membayangkan sesuatu yang romantis, indah dan dramatis. Dan keinginan saya mengunjungi Chiang Mai-pun semakin besar dari hari ke hari. Maka dalam serangkaian perjalanan ke beberapa kota di Thailand saya meng-agendakan untuk singgah di Chiang Mai selama tiga hari yang kemudian menjadi empat hari karena rasa penasaran saya tentang kota ini.

Chiang Mai merupakan ibukota kerajaan kuno Lanna pada abad 13, asal muasal bangsa Thailand yang kemudian berlanjut ke Sukhotai, ibukota pertama Thailand. Sebagai kota kedua terbesar di Thailand, Chiang Mai memiliki daya tarik tersendiri di banding kota lain di Thailand. Jika Bangkok merupakan kota modern dan surga belanja maka Chiang Mai adalah kota yang tenang, nyaman, sejuk dan ramah. Sangat cocok untuk berlibur rileks dan menenangkan diri. Berjarak sekitar 700 kilometer dari Bangkok dan dapat ditempuh melalui perjalanan udara selama 1 jam 15 menit atau menggunakan perjalanan darat sekitar 10 jam. Chiang Mai terletak di antara pegunungan yang membentuk daerah utara Thailand sehingga memiliki pemandangan yang indah dan udara yang sejuk.

Saya sendiri melakukan perjalanan dengan rute Jakarta – Phuket – Chiang Mai. Jarak tempuh Phuket – Chiang Mai sekitar 1200 kilometer atau 1 jam 45 menit perjalanan udara. Tiba di Chiang Mai sudah jam 9 malam, tetapi begitu menginjakkan kaki di bandara saya malah merasa seperti pulang ke negara saya sendiri. Seorang teman traveler nyeletuk saat saya senyum-senyum sendiri, “hmm, welcome to your second home.” Ya, saya juga merasa aneh merasa begitu nyaman menginjakkan kaki di kota itu. Chiang Mai kota yang tenang, nyaman, tidak mengundang banyak kecurigaan seperti kota lain di Thailand. Saat sopir taksi mengantar saya ke hostel saya bisa memercayainya lebih banyak ketimbang di Bangkok atau di Phuket. Hampir tengah malam ketika saya sampai di hostel dengan gaya yang unik ala tatami di Jepang. Meski letih saya susah tidur karena tidak sabar menunggu menjelajahi Chiang Mai esok harinya.
KOTA KUNO dan SITUS-SITUS BUDAYA


Pagi-pagi, saya dan seorang teman traveler sudah tidak sabar untuk menjelajahi Chiang Mai. Hari itu kami menjadwalkan untuk mengelilingi kota kuno, mencari masjid pada waktu sholat dhuhur serta makanan halal di sekitar masjid untuk makan siang. Dan mulailah perjalanan menyenangkan itu. Dengan berbekal peta kami menyusuri trotoar kota kuno Chiang Mai.
Kota kuno Chiang Mai merupakan wilayah bujur sangkar yang menjadi pusat kota Chiang Mai. Kota kuno ini dikelilingi oleh parit yang luas dan bersih tanpa sampah. Selain lokasi bujur sangkar ini dikelilingi parit juga dibatasi oleh puing-puing tembok kota yang masih berdiri kokoh di beberapa tempat. Untuk melindungi dan mempertahankan kota kuno ini pemerintah Chiang Mai melarang pembangunan gedung pencakar langit dengan jarak tertentu dari kota kuno. Berjalan mengelilingi kota kuno saya seperti merasakan kerajaan Lanna pada masa lalu yang berdiri di area ini.

Di dalam kota yang di kelilingi tembok dan parit ini, saya menemukan banyak sekali wat (candi) indah yang didirikan sejak abad 13 sejak pendiriang kota Chiang Mai oleh Raja Mengrai. Beberapa candi yang saya kunjungi adalah Wat Chedi Luang yang didirikan pada tahun 1941, berada di dalam kota kuno dengan gaya arsitektur Lanna. Lalu Wat Phra Singh, berlokasi di kota kuno dan didirikan pada tahun 1345. Wat ini berasitektur utara Thailand. Wat yang paling terkenal di Chiang Mai adalah Wat Phrathat Doi Suthep yang berada di ketinggian bukit sebelah barat laut kota. Ada sekitar 300 wat di pelosok Chiang Mai yang membuat kota sangat kaya dengan situs-situs bersejarah.


 Setelah memasuki beberapa wat saya meneruskan perjalanan menuju pintu gerbang utama tembok kota di Chiang Mai yang terkenal dengan nama Tha Phae. Banyak sekali wisatawan asing menuju pintu gerbang Tha Phae dan berfoto-foto di sana. Saya semakin penasaran seperti apa melewati gerbang ini. Ketika saya menyeberang dan memasuki gerbang Tha Phae saya seperti melihat dua peradaban yang kontras dan menakjubkan. Di dalam tembok, saya bisa merasakan aura kerajaan Lanna di masa lalu dengan situs-situs bersejarah yang dilindungi dan dilestarikan sementara di luar tembok saya melihat kemodernan seperti restoran, café-café dengan arsitektur modern bertebaran. Seperti mengunjungi dua peradaban di satu kota.
Puas berkeliling kota tua, saya meneruskan perjalanan mencari masjid yang berada tidak jauh dari lokasi kota kuno. Menemukan masjid di kota asing selalu menjadi agenda saya dalam setiap traveling. Setelah berjalan beberapa saat saya menemukan sebuah masjid dengan tempat makan halal di seberang jalan depan masjid. Usai shalat dhuhur saya memutuskan untuk makan siang di tempat makan halal itu. Pemilik tempat makan itu menemani saya makan bahkan menyendokkan makanan ke piring saya dan mengajak mengobrol lama. Menemukan saudara seiman saat traveling selalu saja meneduhkan hati dan selalu ingat pada Allah SWT.
WHITE TEMPLE, GOLDEN TRIANGLE dan LONG NECK KAREN

Hari kedua saya menjadwalkan ikut tour ke Chiang Rai untuk melihat White Temple, Golden Triangle dan Long Neck Karen. Chiang Rai semakin terkenal dengan perpaduan alam yang eksotis dan wisata-wisata petualangannya. Dengan menggunakan mobil ELF yang nyaman saya bersama tujuh wisatawan dari berbagai negara berangkat ke Chiang Rai. Dalam perjalanan, kami sempat mampir ke Hot Spring Chiang Rai dan merebus telur di sumber air panas tersebut sebelum menuju  White Temple.
Setengah jam kemudian, kami sampai di White Temple sebuah wat yang megah dan semuanya serba putih. White Temple atau Wat Ron Kun ini merupakan ide seorang seniman Thailand Chalermchai Kositpipat yang ingin membangun kuil serba putih. Untuk memasuki kuil ini kami melewati semacam jembatan yang dibawahnya terdapat patung-patung berupa tangan dan manusia yang sedang menggapai-gapai ke udara. Kami melepaskan alas kaki saat memasuki wat dan melihat ke dalam kuil. Tampak ikon budaya dan kontemporer di dinding wat seperti gambar superman, kapal luar angkasa, doraemon bahkan Neo Matrix ada di dinding ini. Terlihat unik. Keluar dari kuil kami mengelilingi sisi halaman lain white temple dan melihat bangunan megah keemasan yang ternyata toilet. Saya bertanya-tanya apa sebenarnya pesan yang disampaikan oleh sang seniman melalui bangunan toilet emas ini dan belum menemukan jawabannya. Usai mengelilingi White Temple kami melanjutkan perjalanan ke Golden Triangle.


Golden Triangle merupakan wilayah perbatasan Thailand dengan Laos, Myanmar dan China. Perbatasan ini hanya dipisahkan oleh delta pertemuan sungai Mekong dan sungai Ruak. Golden Triangle ini dahulu merupakan rute perdagangan dan penyeluncupan candu dan sangat identik dengan opium. Tetapi opium di Golden Triangle sekarang tinggal sejarah. Setiap tempat dijaga dengan ketat untuk menindak tegas para pengedar opium baik warga lokal maupun mancanegara. Kami baik boat menyusuri sepanjang sisi sungai dan melihat lebih dekat perbatasan ini.  Tampak sebuah patung Budha keemasan di wilayah Thailand, bangunan Kasino di wilayah Myanmar dan pasar yang ada di wilayah Laos. Untuk memasuki pasar di wilayah Laos ini kami bisa masuk tanpa imigrasi. Pasar ini menjual berbagai souvenir Laos dan beberapa produk seperti tas yang ternyata produk China. Usai makan siang, kami sempat mengunjungi Mae Sai, wilayah Thailand paling utara. Wilayah ini berbatasan langsung dengan Myanmar hanya dengan border sungai dan jalan raya. Sebenarnya kami bisa masuk ke wilayah Myanmar dengan menunjukkan passport melalui perbatasan ini, tetapi kami masih memiliki tujuan lain yaitu Long Neck Karen dan hari sudah menjelang sore. Karena itu kami segera melanjutkan perjalanan.

Sudah senja saat kami tiba di Long Neck Karen, satu-satunya tempat yang menjadi tujuan utama saya mengunjungi Thailand. Long Neck Karen atau suku leher panjang sangat terkenal dan diliput berbagai media karena keunikannya, saya ingin melihat mereka. Memasuki area Long Neck Karen kami langsung melihat pemandangan unik dengan pakaian tradisional mereka dan leher berhias gelang yang tampak sangat berat. Mereka memercayai bahwa semakin panjang lehernya maka semakin cantik. Proses pemakaian gelang tersebut dilakukan pada anak perempuan sejak usia 5 tahun. Tumpukan gelang tersebut akan ditambah setiap dua sampai tiga tahun sekali. Gelang seberat 7 kilogram pada para wanita Karen ini boleh dilepas pada saat-saat tertentu misalnya persalinan, sedang sakit dan ingin muntah atau saat pernikahan. Gelang besi ini baru benar-benar boleh dilepas saat meninggal dunia. Selain mencoba gelang yang berat ini kami sempat menikmati tarian mereka yang lincah dan ceria. Hari sudah malam saat kami kembali ke Chiang Mai.
SUNDAY WALKING MARKET, KULINER dan BELANJA MURAH


Seorang teman menyarankan saya memperpanjang waktu untuk menikmati Sunday Walking Market di Chiang Mai. Saya rasa saran itu sangat tepat. Sunday Walking Market nyaris mirip dengan Malioboro di Yogyakarta tetapi areanya sangat luas. Saya dan seorang teman sampai letih menyusuri area pasar dadakan di hari minggu ini. Tetapi belanja dan menikmati kuliner khas Thailand membuat kami tak memedulikan kaki yang mulai menjerit-jerit minta diistirahatkan. 


Sepanjang area Sunday Walking Market kami menemukan penjual pakaian, souvenir, makanan, pertunjukan seni bahkan tukang pijat. Ramai dan seru! Di sini kita bisa membeli berbagai macam souvenir khas Thailand yang sangat menarik dengan harga yang menarik juga karena setengah dari harga yang ada di Bangkok. Tak hanya souvenir-souvenir lucu, di area ini kami juga menemukan berbagai macam kuliner khas Thailand seperti Pad Thai dan Tom Yam yang berbahan dasar mie dan sea food. Sunday Walking Market ini mengakhiri malam saya di Chiang Mai sebelum esoknya saya melanjutkan perjalanan.
Chiang Mai, kota kuno yang tenang, ramah dan sejuk ini meninggalkan kesan yang spesial bagi saya. Jika anda menyukai tempat berlibur yang tenang dan tentu saja murah, maka Chiang Mai bisa menjadi pilihan menarik. Selamat berlibur!
 Published : Annisa Magazine 2013

Bangkok, The Venice Of The East’

“The world is a book and those who do not travel read only one page.” – Augustine of Hippo

 

Seorang teman dari Canada mengatakan, “no city like Bangkok.” Saya rasa kekaguman teman saya itu ada benarnya. Bangkok merupakan sebuah kota yang lengkap dengan keindahan budaya masa lalu dan antusiasme penuh akan hal-hal baru. Tidak hanya lokasi-lokasi wisata bernilai budaya warisan masa lalu yang unik dan menarik, tetapi Bangkok juga menyediakan kemodernan yang terus berkembang. Bangkok mampu menjadi pusat regional yang dapat menyaingi Singapura dan Hongkong. Tak hanya itu, Bangkok yang murah juga menjadi surga para backpacker dan destinasi favorit teratas di Asia bagi wisatawan dunia. Khaosan Road merupakan kawasan backpacker terkenal di Bangkok.

 

Selain destinasi-destinasi wisata Bangkok yang menarik, belanja selalu menjadi tujuan beberapa wisatawan Indonesia mengunjungi Bangkok. Saya mencoba melakukan hal yang sedikit berbeda untuk menikmati Bangkok. Diantaranya dengan menyusuri sungai Chao Phraya, menonton pertunjukan Siam Niramit, menengok harian Bangkok Post dan menonton Bioskop di Bangkok. Tertarik menjadikan Bangkok sebagai destinasi anda berikutnya? Simak perjalanan saya kali ini sebelum anda melakukan perjalanan ke negeri Gajah Putih itu.

SUNGAI CHAO PHRAYA ‘THE VENICE OF THE EAST’

 

Menyusuri sungai Chao Phraya merupakan salah satu cara yang saya pilih untuk menikmati Bangkok. Banyak wisatawan asing juga memilih menikmati Bangkok dengan cara menyusuri sungai ini. Chao Phraya adalah sungai terpanjang dan terpenting di Thailand yang membelah Bangkok dari utara hingga selatan.  Memiliki panjang 372 kilometer yang mengalir dari utara Thailand menuju ke Teluk Thailand (Teluk Siam) di selatan. Hulu sungai Chao Phraya ini berada di Sungai Ping.

 

Memiliki air berwarna coklat namun bersih dari sampah, sungai Chao Phraya tampak selalu ramai dari siang hingga malam. Selain kapal pengangkut barang yang hilir mudik, kita bisa melihat kapal-kapal wisatawan menyusuri setiap tepian sungai Chao Phraya. Di setiap dermaga pemberhentian banyak ditawarkan paket wisata menyusuri sungai Chao Phraya dengan berbagai harga dan penawaran wisata yang menarik. Saya memulai perjalanan dari salah satu dermaga pemberhentian dan membeli tiket single trip seharga 40 THB yang akan mengantarkan saya hingga ke akhir perjalanan. Awalnya ingin membeli tiket trip seharga 150 THB agar bisa naik turun boat seharian, tetapi karena waktu yang sempit dan saya harus menuju tempat lain saya memilih single trip ini. Dan meski saya hanya membeli tiket single trip ternyata cukup menyenangkan. 


Sepanjang perjalanan saya bisa menikmati Bangkok dari sungai Chao Phraya. Ada pos-pos pemberhentian menarik di sepanjang perjalanan yang merupakan lokasi  wisata terkenal di Thailand seperti : Grand Palace yang berada di area Rattanakosin, Wat Arun , Wat Pho atau patung buddha sedang istirahat dan Chinatown. Kita juga bisa menikmati gedung pencakar langit yang menjulang dari sepanjang sungai Chao Phraya. Bangkok tampak lengkap dinikmati dari perjalanan menyusuri sungai ini, kota dengan warisan masa lalu yang kaya dan kemodern-an masa kini yang penuh semangat. Tak heran jika dengan wisata sungai Chao Phraya ini Bangkok juga dikenal dengan sebutan The Venice of the East.

KUIL, MADAME TUSSAUDS dan TEMPAT MENARIK LAINNYA

 

Selain kemodernan yang terus berkembang pesat, Bangkok memiliki warisan budaya yang sangat banyak dan tak ternilai harganya. Ada sekitar 400 kuil yang tersebar di Bangkok. Beberapa yang terkenal adalah ; Grand Palace dan Wat Phra Kaeo yang merupakan istana raja. Grand Palace buka mulai pukul 8.30 sampai 3.30 sore. Mengunjungi Grand Palace harus mengenakan pakaian yang sopan dan bersepatu. Jangan tergoda bujukan sopir tuk-tuk yang mengatakan bahwa Grand Palace buka pukul 1 siang karena mereka akan mengajak anda berkeliling kota dengan menarik biaya mahal sehingga anda terlambat mengunjungi Grand Palace.

 

Kuil terkenal lain yang saya kunjungi adalah Wat Pho, terletak di dekat Grand Palace, kuil ini dibangun 1688 sebagai tempat Reclining Buddha. Terdapat patung berlapis emas yang panjangnya 46 meter dan tingginya 15 meter dengan mata dan kaki yang dilapisi kerang mutiara. Untuk memasuki tempat ini juga diharapkan mengenakan pakaian yang sopan dan pantas. Wat Pho buka jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Lalu saya melanjutkan perjalanan dengan mengunjungi Wat Arun (Temple of Dawn) yang terletak di tepi sungai Chao Phraya. Wat Arun memantulkan cahaya yang indah karena dilapisi porselen.

 

 

Tempat menarik lain yang bisa dikunjungi adalah Erawan Shrine yang merupakan patung pemujaan Dewa empat muka yang sakti. Banyak  wisatawan manca negara ke sini untuk bersembahyang. Selain kuil, kita bisa juga mengunjungi Jim Thompson House yang sangat terkenal dengan koleksi sutra Thai-nya. 


Dan jangan lupa mengunjungi Madame Tussauds (museum patung lilin orang-orang terkenal) yang berlokasi di Siam Square (Siam Discovery) karena di tempat ini kita bisa menemukan Bapak Proklamator kita Soekarno diabadikan dalam patung lilin bersama para pemimpin dunia hebat yang lain. Melihat patung lilin beliau berada di antara deretan patung lilin pemimpin hebat dunia rasanya sangat membanggakan sebagai bangsa Indonesia.

MENONTON SIAM NIRAMIT, THAI BOXING dan BIOSKOP

 

Mungkin bagi sebagian wisatawan menonton bioskop bukanlah sesuatu yang ingin dilakukan di negeri asing karena berpikir bahwa di Indonesia-pun kita bisa menonton bioskop. Tapi saya justru ingin melakukannya karena sensasinya pasti berbeda. Menonton ‘Breaking Dawn’ dengan subtittle bahasa Thailand yang tentu saja tidak saya mengerti saja sudah asyik, apalagi ikut berdiri mendengarkan semua penonton menyanyikan lagu kebangsaan Thailand sebelum pertunjukan dimulai menjadi sesuatu yang sangat berbeda.

 

Tak hanya menonton bioskop, pertunjukan yang membuat saya terkagum-kagum adalah SIAM NIRAMIT, Journey to the Enchanted Kingdom of Siam. Pertunjukan yang kental nuansa budaya Thailand ini menceritakan kerajaan-kerajaan di Thailand sekaligus kehidupan masyarakat Thailand. Semua budaya Thailand yang eksotis ditampilkan dalam pertunjukan spektakuler yang berdurasi dua jam ini. Gedung pertunjukan yang megah dengan teknik panggung yang luar biasa ini juga merupakan gedung pertunjukan terbesar di dunia dan masuk dalam Guinness World Record. Tak hanya tempat pertunjukannya yang luar biasa, para penari, teknik panggung, lighting, kostum dan cerita yang disuguhkan sangat menarik sehingga tidak membosankan. Penonton pertunjukkan juga dilibatkan langsung dalam pertunjukan dengan diajak maju berpentas di depan atau penari tiba-tiba muncul di tengah penonton. Selama dua jam tak henti tepuk tangan penonton dari berbagai bangsa terus bergemuruh mengagumi pertunjukan ini. Sayang kami dilarang memotret di dalam gedung pertunjukan.
 
Dan jika anda penggemar pertunjukan lain yang berupa tantangan maka anda tak boleh mengabaikan Thai Boxing. Di  MBK, salah satu mall besar di Bangkok pertandingan Thai Boxing diadakan setiap Rabu mulai pukul 6 petang. Nah, tertarik menikmati Bangkok? Anda bisa memilih cara anda sendiri yang berbeda dan lebih menarik. Selamat jalan-jalan!
 
(Published : Sekar Magazine)