Category Archives: Indonesia

Bertemu Tarsius Di Belitung

Belitung selain memiliki panorama alam yang luar biasa indah perpaduan pasir putih yang lembut, batu granit yang menjulang di berbagai pulau dan air laut yang membiru ternyata menyimpan kekayaan fauna langka yang menarik untuk dikunjungi. Apakah primata langka itu? Ia adalah Tarsius, monyet kecil berukuran sekitar 15 centimeter dengan berat 1 kilogram yang terdapat di hutan Batu Mentas, Kecamatan Badau, Belitung Barat, sekitar 40 menit berkendara dari pusat kota Tanjungpandan. 

 

Hanya ada tiga tempat di Indonesia yang menjadi habitat Tarsius, yaitu Sulawesi Utara, Kalimantan dan Belitung.  Tarsius jenis spectrum mendiami Cagar Alam Gunung Tangkoko, Sulawesi Utara dan Tarsius bancanus saltator yang mendiami hutan Batu Mentas Belitung. Menurut informasi Tarsius Tangkoko berukuran lebih kecil dari Tarsius Batu Mentas dan hidup berkelompok pada lubang-lubang pohon. Sedangkan Tarsius Batu Mentas cenderung hidup di bawah kanopi daun dan hidup berpindah-pindah dengan menandai teritorinya menggunakan air seninya.

 

 

MONYET HANTU YANG SETIA

 

Warga Belitung menyebut Tarsius bancanus saltator ini sebagai pelilean atau monyet hantu.  Pelilean hidup nocturnal atau aktif di malam hari.  Karena hidup di malam hari, maka ia akan tidur pada siang hari.  Tarsius termasuk karnivora.  Bentuk matanya besar dan pada malam hari menjadi sangat awas. Ia dengan mudah menemukan mangsanya seperti kecoa, burung, jangkrik dan kelelawar yang kemudian menjadi makanannya.  Tarsius juga mampu memutar kepalanya 180 derajat sehingga dengan matanya yang lebar pada malam hari akan sangat mengejutkan saat bertemu dengannya. Karena aktif pada malam hari, saat saya berkunjung ke Batu Mentas siang hari, Tarsius ini hanya diam di balik kanopi pohon sembunyi dari pengunjung.

 

Tarsius merupakan primata langka terkecil di dunia yang termasuk dalam kelas mamalia dari famili Tarsiidae.  Ia melakukan semua aktivitas hidupnya di pohon mulai dari makan, minum, tidur bahkan saat melahirkan sekalipun. Berbeda dengan monyet yang suka bergelayutan di atas pohon, Tarsius dengan tulangnya yang bisa memanjang lebih suka melompat-lompat dari pohon satu ke pohon yang lain.  Ia tidak bisa berada di atas tanah, dan ketika terpaksa di atas tanah maka ia akan terus melompat-lompat.

 

Selain menjadi habitat Tarsius, Batu Mentas juga menjadi tempat penangkaran Tarsius. Ketika saya berkunjung, ada dua Tarsius di tempat percontohan.  Menurut penjaga, kedua Tarsius itu sedang dijodohkan. Tarsius merupakan hewan yang setia pada pasangannya dan tidak mudah dijodohkan. Biasanya Tarsius hanya akan berkembang biak dengan satu pasangan.  Tetapi di Batu Mentas ini seekor Tarsius berhasil mendapatkan bayi dari pasangan yang lain.  Prestasi ini akan memberikan harapan untuk menjaga kelestarian Tarsius di masa depan.

 

 

WISATA PETUALANGAN DAN KEBUN LADA

 

Mengunjungi Batu Mentas Belitung tidak hanya akan bertemu primata langka Tarsius, tetapi juga banyak paket wisata petualangan menarik yang ditawarkan.  Mulai dari hiking menuju air terjun, river tubing, flying fox,  mandi di air sungai yang jernih hingga berkemah di areal Batu Mentas yang masih alami. Di tempat ini juga ada beberapa bungalow yang disewakan jika kita ingin menikmati suasana hutan yang tenang. 

 

Fasilitas untuk pengunjung di Batu Mentas juga cukup baik. Di areal depan sungai tampak tempat ibadah, toilet serta tempat ganti pakaian setelah bermain di sungai dan warung kecil yang menyediakan makanan untuk para pengunjung yang kelaparan. Tepat di depan sungai ada areal untuk duduk sambil menikmati pemandangan sungai yang jernih dan tenang.  Perlengkapan petualangan juga disediakan dengan lengkap untuk para pengunjung yang ingin bertualang sambil menyusuri sungai.  Tak hanya itu, tempat ini juga bersih dari sampah.

 

Selain wisata petualangan yang menarik,  Belitung merupakan salah satu tempat penghasil lada putih terbesar di Indonesia. Sepanjang jalan menuju Batu Mentas kita akan melihat perkebunan lada penduduk yang rimbun. Menurut informasi, jika kita berkunjung pada bulan Juli- Agustus, kita bisa menyaksikan para petani lada memanen lada di kebun mereka. Tak hanya lada, kita juga menemukan perkebunan nanas di sepanjang jalan menuju Batu Mentas.  Kebanyakan warga Belitung mencampurkan nanas dalam masakan mereka sehingga menimbulkan rasa asam manis yang menyegarkan. Jika anda berkunjung ke Belitung, kawasan wisata Batu Mentas ini jangan anda lewatkan karena kekayaan flora dan faunanya yang unik sangat menarik untuk dikunjungi. ***

 

Bali : Berkeliling Danau Batur, Mengunjungi Kuburan TRUNYAN



“Wherever you go, go with all your heart” – Confusius

 

Tengkorak di kuburan Trunyan


Apa yang ingin anda kunjungi di Bali?  Pantai, gunung, menikmati tradisi yang eksotis, duduk bersantai di kafe sambil ngobrol bersama teman, atau memanjakan diri di spa? Kalau semua itu sudah anda lakukan di Bali, coba hal lain yang lebih menantang dan berpetualang. Saya jamin, liburan anda pasti lebih seru! Apakah sesuatu yang lebih menantang dan berpetualang itu? Berkeliling Danau Batur menggunakan sepeda motor dan mengunjungi kuburan Trunyan. Mau coba? Ada baiknya anda menyimak perjalanan saya beberapa waktu lalu mengelilingi danau Batur dan mengunjungi kuburan Trunyan.

DANAU BATUR YANG CANTIK
 

Danau Batur

 

Danau Batur merupakan danau terbesar di Bali, terletak di kecamatan Kintamani Bangli, 65 kilometer dari Denpasar. Danau Batur merupakan danau terbesar di Bali yang juga telah ditetapkan sebagai Global Geofark Network atau taman Bumi oleh Unesco. Artinya kawasan danau Batur menjadi taman bumi pertama pertama yang ditetapkan secara resmi oleh Unesco.

Danau Batur

Untuk mencapai tempat ini, anda bisa menyewa mobil dari kawasan Kuta dengan biaya kisaran 400-500 ribu perhari atau menyewa sepeda motor dengan biaya sekitar 50 ribu perhari. Jika perjalanan lancar hanya membutuhkan waktu dua jam dari Denpasar, namun terkadang jalur menuju Kintamani sangat padat sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama. Saya lebih suka menggunakan sepeda motor karena petualangan akan terasa lebih seru.

Asyiknya bersepeda motor mengelilingi Danau Batur

Beberapa waktu lalu, citra buruk melekat pada wisata danau Batur sehingga wisatawan enggan menikmati danau Batur lebih dekat karena pengemudi seringkali menghentikan perahu di tengah danau dan akan melanjutkan perjalanan jika wisatawan mau membayar sejumlah uang yang diminta pengemudi. Tetapi kondisi sekarang sudah semakin membaik. Meskipun awalnya saya agak ragu, tetapi saya memutuskan untuk menikmati danau Batur lebih dekat.

 

Jalan curam di sekeliling danau Batur

Pemandangan danau Batur dari Kintamani tampak mempesona. Gunung Batur yang menjulang menaungi danau Batur dibawahnya. Wisatawan bisa menikmati pemandangan indah ini sambil duduk bersantai di areal public yang tersedia sambil menikmati makanan kecil. Tetapi saya tidak puas hanya menikmati danau Batur dari ketinggian Kintamani. Saya bersama beberapa teman memutuskan untuk membawa motor turun mendekati danau.  Menyusuri jalanan menurun yang berkelok-kelok, pemandangan danau Batur semakin mempesona dari dekat. Beberapa orang menawari kami menyeberang ke desa Trunyan dengan biaya 800 ribu per kapal, tetapi saya masih ragu untuk menyeberang mengingat kisah-kisah buruk yang pernah saya baca di media. 
 

Memancing di tepi danau

 

Saat kami istirahat di pinggir danau dan menikmati pemandangan tiba-tiba seorang lelaki mendekati kami dan menawarkan perahu untuk menyeberang ke desa Trunyan dengan harga murah. Hanya 400 ribu perkapal! Benarkah? Saya mulai tergoda karena memang sejak lama saya ingin menyeberang ke desa Trunyan. Seorang teman asli Bali kemudian menawar harga itu dan lelaki itu memberi kami harga baru 300 ribu perkapal! Wah, murah sekali! Sayang sekali kalau sudah sampai di sini tapi tidak mampir ke kuburan Trunyan, kan? Saya memutuskan mengambil tawaran itu. Dan kami dikasih aba-aba untuk mengikuti motor lelaki kekar itu.

Desa Trunyan

Kami naik turun bukit di pinggiran danau Batur mengikuti lelaki itu. Pemandangan di sepanjang perjalanan menakjubkan. Hingga kami memasuki batas desa Trunyan, lelaki itu tak juga berhenti. Kami mulai curiga dan was-was kira-kira kami akan dibawa kemana? Apakah karena hanya membayar 300 ribu maka kami dibawa ke perkampungan paling dekat untuk menyeberang ke kuburan Trunyan? Tapi saya justru menikmati perjalanan mengelilingi danau Batur dengan mengendarai motor. Hingga motor lelaki itu melewati pura di pinggir danau Batur dan berhenti di perkampungan paling dekat dengan kuburan Trunyan. Dua orang wisatawan dari Jakarta juga sedang menunggu di sana.

Tak lama perahu dengan tenaga kayuh manusia datang menjemput kami dan kami semakin yakin bahwa kuburan Trunyan tinggal dekat saja. Benar, hanya 15 menit kami naik perahu sudah sampai ke kuburan Trunyan.

KUBURAN TRUNYAN

Welcome to Kuburan Trunyan

 

Desa Trunyan terkenal dengan pemakamannya yang unik. Tidak seperti masyarakat Bali lainnya yang melakukan ngaben untuk jenazah, tetapi warga desa Trunyan meletakkan jenazah di satu area berundak di bawah pohon Taru Menyan. Pohon  besar yang menjulurkan akar-akarnya ini menguarkan bau wangi sehingga mayat yang diletakkan dibawahnya tidak berbau.

Pohon Taru Menyan

Untuk mencapai kuburan Trunyan, pengunjung bisa melalui akses jalur darat sekitar 45 menit dari jalur Panelokan seperti yang saya lakukan lalu dilanjutkan bersampan sekitar 15 menit, atau menyewa boat di dermaga Kedisan yang memerlukan waktu sekitar 45 menit menyeberangi danau Batur. Memasuki areal kuburan, kita akan melihat pemandangan yang mengerikan. Tengkorak yang berjejer di atas undakan, mayat-mayat yang berbaring di ancak saji (kurungan bambu berbentuk segitiga sama kaki), koin-koin bertebaran, baju-baju jenazah yang dibawakan oleh keluarganya sebagian terkubur di tanah dan tulang belulang yang berserakan di atas tanah. Saya beruntung karena ada jenazah yang baru di tempatkan di salah satu ancak saji dan kondisinya masih utuh. Wisatawan bebas mengambil foto di area ini bahkan menyentuh tengkorak-tengkorak yang berjejer di undakan.

Jenazah dalam ancak saji dan barang yang dibawakan dari rumah
Tidak semua jenazah dikuburkan di pekuburan Trunyan. Mereka yang dikuburkan di bawah pohon Taru Menyan adalah mereka yang meninggal secara wajar. Sedangkan mereka yang meninggal karena kecelakaan, dibunuh dan bunuh diri akan dikuburkan di lokasi berbeda yang bernama Sema Bantas. Sedangkan jenazah anak-anak dan bujangan dikuburkan di Sema Muda.
Ancak saji (kurungan bambu berbentuk segitiga sama kaki) hanya berjumlah 11. Jika ada yang meninggal maka salah satu jenazah yang sudah menjadi tulang akan digeser untuk diisi dengan jenazah baru. Di depan ancak saji terdapat foto jenazah, piring, baju, perhiasan, sapu tangan milik jenazah. Kuburan Trunyan ini melengkapi kekayaan wisata Kintamani, Danau Batur yang indah sekaligus menyimpan tradisi yang unik.  Jangan sampai anda lewatkan saat berkunjung ke Bali.

 

Pontianak, Kota Katulistiwa

“Not all those who wander are lost” – JRR. Tolkien

 Tengah hari saat matahari tepat di atas kepala saya mendarat di Bandara Supadio, Pontianak. Matahari sangat terik dan udara begitu panas melebihi Jakarta. Tetapi udara yang panas tak mengurangi semangat saya untuk menjelajahi kota ini.  Setiap tempat selalu menawarkan pesona dan pembelajaran yang berbeda bagi  penjelajah, juga kota yang satu ini.  Bukankah setiap tempat di Indonesia selalu punya sisi unik dan menarik? Banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi di Kota Khatulistiwa ini mulai dari wisata alam, sejarah, budaya dan kuliner. Ayo, kita susuri kota ini dan kita temukan sisi menariknya! 

ISTANA KADRIAH

Kota Pontianak  mulanya di bangun di tengah persimpangan Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Landak, yang dikenal dengan nama Kampung Dalam Bugis.  Istana Kadriah merupakan cikal bakal lahirnya Kota Pontianak.  Dibangun  pada tahun 1771 M dan baru selesai tahun 1778 M.  Sultan pertama yang memerintah kesultanan Pontianak adalah Sayyid Syarif Abdurahhman Alkadri. Dalam perkembangannya, istana ini telah mengalami beberapa kali renovasi hingga seperti yang kita lihat sekarang. Sultan ke -6, yaitu Sultan Syarif Muhammad Alkadri tercacat sebagai salah satu Sultan yang merenovasi istana ini secara besar-besaran.



Istana Kadriah terletak di Kampung Beting, Kelurahan Dalam Bugis, tidak jauh dari pusat Kota Pontianak.  Lokasi ini dapat dijangkau menggunakan jalur darat maupun jalur sungai.  Melalui jalur darat kita bisa melewati jembatan  Sungai Kapuas sedangkan jalur sungai bisa menggunakan sampan atau speed boat dari pelabuhan Senghie.
Memasuki halaman istana kita masih bisa merasakan sisa kemegahan Istana Kadriah pada masanya. Halaman yang luas dan ditumbuhi rumput terasa lapang ketika dipandang, dibagian depan tampak meriam kuno buatan Portugis. Menginjakkan kaki di anjungan istana, kita bisa melihat tempat peristirahatan Sultan. Dari tempat ini konon, Sultan beristirahat sambil melihat pemandangan Sungai Kapuas dan Sungai Landak yang indah. Di pintu utama terdapat hiasan ornamen bulan dan bintang. Warna kuning mendominasi ruang ketika memasuki balairung. Di balairung ini pengunjung bisa melihat foto-foto Sultan dan keluarganya, lampu kesultanan pada masanya, lampu hias, kipas angin, kaca seribu wajah juga singgahsana Sultan dan Permaisuri. Kami diijinkan foto di depan singgahsana tetapi tidak boleh duduk diatasnya.

Selain balairung di sisi kiri dan kanan terdapat 6 kamar tidur, salah satunya adalah kamar tidur Sultan lengkap dengan tempat tidur Sultan yang juga bernuansa kuning, sementara kamar yang lainnya dulu merupakan kamar mandi dan ruang makan. Di bagian belakang terdapat satu ruangan besar yang berisi benda-benda warisan Kesultanan Pontianak seperti pakaian Sultan dan Permaisurinya, foto-foto, senjata dan arca.  Pengunjung tidak dipungut biaya saat mengunjungi istana ini, namuan seorang ibu yang mengaku sebagai  cucu  kesekian sultan mengingatkan pada pengunjung untuk menaruh uang sumbangan di kotak.   Istana Kadriah merupakan salah satu peninggalan yang sangat bernilai, semoga terus dilakukan perawatan dengan baik sehingga peninggalan bersejarah ini tidak rusak dimakan waktu.

MASJID  JAMI’ PONTIANAK


Selain Istana Kadriah, masjid Jami’ Pontianak yang juga dikenal dengan nama Masjid Sultan Syarif Abdurrahman ini merupakan bangunan bersejarah sebagai tonggak berdirinya kota Pontianak. Lokasi masjid ini satu kawasan dengan Istana Kadriah, tidak jauh dari pusat kota Pontianak dan bisa ditempuh melalui jalur darat maupun sungai.

Masjid Sulatn Syarif Abdurrahman adalah masjid tertua dan terbesar di kota Pontianak. Masjid dengan undakan berasitektur Jawa dengan mahkota berasitektur Eropa ini mayoritas kontruksi bangunan terbuat dari kayu belian. Pagar, lantai, dinding, menara dan bedug besar semuanya terbuat dari kayu belian. Tonggak utama masjid yang terdiri dari 6 buah juga terbuat dari kayu belian dan diperkirakan sudah berusia 170 tahun. Masjid ini berbentuk panggung dan memiliki kolong di bawah lantainya, berada tepat di atas sungai Kapuas.  Seperti pada Istana Kadriah, pengunjung tidak dipungut biaya saat mengujungi tempat bersejarah itu.

TUGU KHATULISTIWA
Keistimewaan Pontianak adalah salat satu kota di dunia yang tepat dilintasi garis khatulistiwa. Karena itu ibu kota Kalimantan Barat ini mendapat julukan Kota Khatulistiwa. Sebagai keistimewaan sekaligus mengukuhkan julukan itu, dibangunlah sebuah tugu yang letaknya persis di pinggir Sungai Kapuas.

Tugu Khatulistiwa atau Equator Monument berada di Jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara, Propinsi Kalimantan Barat. Lokasinya berada sekitar 3 km dari pusat Kota Pontianak, ke arah kota Mempawah. Tugu ini menjadi salah satu ikon wisata Kota Pontianak dan selalu dikunjungi masyarakat, khususnya wisatawan yang datang ke Kota Pontianak.
Pada bulan Maret dan September, Tugu Khatulistiwa  sangat istimewa karena pada tengah hari ketika matahari mencapai titik kulminasi dan tidak menciptakan bayangan. Selain melihat bayangan yang hilang pada bulan itu juga ada  festival dan atraksi budaya untuk wisatawan.

MAKANAN & OLEH-OLEH KHAS PONTIANAK
Mengunjungi Pontianak belum lengkap kalau belum berwisata kuliner. Saya mencicipi makanan khas Pontianak salah satunya adalah bubur pedas, kuliner yang diklaim sebagai makanan khas dari Sambas.  Saya mengira bahwa bubur ini akan terasa sangat pedas sesuai namanya, tapi ternyata saya salah. Bubur ini bercita rasa gurih dan segar dengan berbagai aroma sayuran.  Bubur pedas terbuat dari beras yang disangrai bersama kelapa parut, setelah ditumbuk dan berasnya pecah baru dimasak dalam air mendidih dan ditambahkan tetelan daging. Setelah itu dibubuhi aneka sayuran. Sayur yang paling umum digunakan adalah, kangkung, kacang panjang, pakis, umbi merah dan daun kesum. Daun kesum inilah yang membuat bubur beraroma beda dan bercita rasa unik. Pelengkap nikmat makan bubur pedas adalah ikan teri goreng, kacang tanah goreng, sambal, jeruk sambal dan kecap manis.  

Selain makanan khas Pontianak yang saya coba, kita juga bisa membeli oleh-oleh khas Pontianak di jalan Pattimura seperti air minum lidah buaya, jeruk Pontianak, keripik keladi, lempok durian, dodol buah dan manisan.  Tak hanya makanan, Pontianak juga memiliki souvenir-souvenir unik seperti kaos bertuliskan Khatulistiwa atau Pontianak, gantungan kunci Bornoe, hiasan dinding dari ukiran Dayak serta kain-kain khas Pontianak.  Kota Khatulistiwa ini menawarkan berbagai hal yang menarik untuk dikunjungi. Tertarik untuk berkunjung?  Jangan ditunda lagi!

Ujunggenteng, Indonesia

PANTAI & JALAN TANPA UJUNG YANG MISTIS

“Travel is more than the seeing of sights; it is a change that goes on, deep and permanent, in the ideas of living.” – Miriam Beard”
 

 

Bagi saya pantai ini biasa saja, tidak memiliki keistimewaan yang membuat saya langsung jatuh cinta. Memiliki pasir coklat dan bentuk pantai yang memanjang, tak banyak yang bisa dinikmati saat senja. Tapi benarkah begitu? Saya tetap yakin kalau setiap tempat itu memiliki detail keistimewaan tersendiri yang mungkin belum saya temukan saat pandangan pertama.  

Maka saya akan berburu keistimewaan itu sampai menemukannya. Dari air terjun ratu yang menjulang, lalu kawasan air terjun yang membentuk semacam ceruk, dari kejauhan tempat ini nyaris seperti Tanah Lot, tapi memang begitu orang-orang menyebutnya karena mirip sekali, mencoba makanan khas tepi pantai  dan nongkrong malam-malam bersama tukang ojek di sebuah warung makan. Tapi saya tetap belum menemukannya dan saya belum putus asa.


Esoknya, sebelum benar-benar give up, saya menyusuri jalanan desa pinggir pantai yang panjang tak berujung (atau mungkin ujungnya ada di desa lain, saya melakukan perjalanan dan kembali sebelum sampai ujung). Nah, di jalan desa tepi pantai inilah saya menemukannya. Selain anak-anak kecil yang berlarian bahagia meminta saya memotretnya, nenek-nenek tua yang sibuk bekerja di depan rumah, mbak-mbak yang berjalan menggendong bakul dan hewan-hewan ternak yang merumput. Saya menemukan sebuah jalan, sepi, lengang dan tidak terlihat ujungnya. Saat saya menapaki jalan ini, saya seolah menuju perjalanan hidup saya yang tidak saya ketahui. Dan inilah keistimewaan tempat ini bagi saya karena saya kemudian merasa sendu di tempat ini. Seperti pejalan yang menyadari bahwa suatu ketika saya akan menapaki jalan ini sendirian, menuju Cinta segala Cinta. Tinggal menunggu waktu itu datang! Saya yakin, saat waktu saya tiba, saya akan menyusuri jalan itu sendirian…. suatu saat nanti!

Teluk Kiluan, Indonesia

KEINDAHAN TERSEMBUNYI

“A wise traveler never despises his own country.” – Carlo Goldoni

Indonesia menyimpan banyak keindahan alam yang tersembunyi dan kadang sulit dijangkau karena transportasi yang sulit dan kondisi jalan yang belum memadai. Salah satu keindahan tersembunyi itu adalah Teluk Kiluan yang berada di Lampung Selatan.

Dalam perjalanan yang memakan waktu semalaman dari Jakarta itu awalnya saya sudah hopeless karena kondisi jalan yang luar bisa susah, rusak dan nyaris bisa dibilang mengerikan. Dalam hati saya sudah mengancam, kalau sampai teluk tidak menemukan “something different” mungkin saya akan sangat kecewa. Apalagi kami membawa mobil yang salah untuk menaiki pegunungan dan jalanan tusak itu sehingga sekujur tubuh rasanya rontok semua.

Pagi hari kami memasuki Teluk Kiluan dan saya belum bisa melihat kecantikannya. Tetapi saat kami makan sarapan, saya mulai merasakannya. Makanan laut yang luar biasa enak itu mulai membuat saya tertarik, apalagi saat siang hari kami naik sampan ke tengah lautan. Wow! Dan penjelajahan dimulai.

  Kami menuju tengah lautan lepas yang menghitam, dan diam-diam saya sangat ketakutan. Ini pertama kalinya saya bersampan ke tengah lautan lepas dengan perahu kecil. Oh my God! Sementara saya tidak bisa berenang, jadi saya memutuskan untuk berdoa dan pasrah pada takdir. Rencana ke tengah lautan ini adalah untuk melihat lumba-lumba di habitat yang sesungguhnya. Menuju garis horison di tengah lautan rasanya sangat jauh tapi saya mulai terbiasa dan tenang. Setelah menunggu beberapa saat, kawanan lumba-lumba itupun muncul dan berseliweran di dekat perahu kami. Hilang sudah ketakutanku dan berganti dengan kegirangan.

 Tak hanya melihat lumba-lumba di lautan, saya bisa menyisir beberapa pulau kecil di sekitar Teluk Kiluan yang tak kalah cantiknya seperti pulau Kepala, batu Candi dan banyak lagi. Memang susah untuk menjangkau tempat ini tetapi dalam hati saya berpikir bahwa pulau-pulau cantik di Indonesia memang sebaiknya tetap tak terjangkau agar tidak kotor dan rusak. Semakin banyak pengunjung akan semakin banyak sampah dan jejak-jejak perusak. Dan rasanya kesulitan perjalanan sepadan dengan apa yang kita lihat di tempat tersembunyi ini. So? Tetaplah tersembunyi pulau-pulau yang cantik di Indonesia…

Karimunjawa, Indonesia

THE REAL PARADISE

“You cannot discover new oceans unless you leave sight of the shore” – Fortune Cookie

sunset di Karimunjawa

Awalnya saya hanya ingin meredakan letih ketika berkunjung ke Pulau yang berada di Jawa Tengah ini, tetapi setelah saya sampai di sana, saya jatuh cinta. Tidak hanya letih karena rutinitas yang lenyap tapi benar-benar menjadi “sweet escaped” buat saya. Apalagi saya mendapatkan beberapa teman yang menyenangkan selama di sana juga penduduk yang ramah dan siap membantu.

Ferry dari Pelabuhan Tanjung Mas Semarang
Teman baru, Antoine and Camila

Welcome!
Jajaran rumah apung

Setelah menempuh perjalanan 3 jam dari pelabuhan Tanjung Mas Semarang, saya memasuki pintu gerbang Pulau Karimunjawa. Cuaca panas menyambut saya tetapi tak mengurangi semangat saya menjelajah daerah ini. Menggunakan mobil bak terbuka saya menuju penginapan apung yang saya pesan. Karena terletak di atas laut, maka kami harus naik perahu lagi menuju penginapan. Dan, wow! Saya langsung ‘bahagia’ mendapatkan sebuah kamar dengan pintu persis menghadap laut. It’s beautiful view! I like it!

anak-anak hiu

perahu snorkeling

pulau kecil sekitar  wisma

Hutan Mangrove

Banyak hal bisa kita lakukan di Pulau Karimunjawa, mostly wisata bahari seperti menyelam, snorkeling dengan spot yang luar biasa cantik, mengunjungi pembiakan ikan hiu bahkan berenang bersama hiu-hiu yang masih kanak-kanak, mengelilingi pulau dengan berjalan kaki menikmati pasirnya yang putih bersih, menjelajahi daratan melihat hutan bakau dan jangan lupa mencicipi masakan seafood yang luar biasa lezat.

I love Karimunjawa!
Antoine and Camila
ladang mutiara


pelabuhan

Seminggu berada di Pulau ini membuat saya enggan untuk pulang. Meskipun baju bersih saya sudah habis dan kulit saya sudah menghitam tapi saya masih enggan packing. Tidur siang menghadap laut, mendengarkan ombak kecil menghantam karang dan suara perahu motor membelah lautan membuat saya merasa sangat dekat dengan pencipta alam ini. Tapi, saya harus kembali ke Jakarta untuk kembali ke kehidupan yang sesungguhnya. Tapi saya janji akan kembali suatu hari untuk cinta saya pada pulau ini!

Tana Toraja, Indonesia

PERJALANAN MERAYAKAN KEMATIAN

“All journeys have secret destinations of which the traveler is unaware.” –  Martin Burber

‘Negeri yang bulat seperti bulan dan matahari’ begitulah gelar untuk wilayah Tana Toraja. Orang Toraja menyebut dirinya to raya yang artinya keturunan para raja atau to riaja yang artinya orang yang berdiam di atas awan (pegunungan). Toraja termasuk salah satu wilayah propinsi Sulawesi Selatan, sekitar 350 kilometer sebelah utara kota Makasar. Toraja bisa dijangkau dengan dua cara menggunakan jalur darat dan udara; menggunakan bus dari Makasar atau pesawat kecil dari Bandara Sultan Hasanudin ke bandara Pongtiku. 

Sejak dua tahun lalu, saya ingin melakukan perjalanan ke Tana Toraja, namun berbagai kesibukan selalu membatalkan rencana itu. Akhirnya saya memutuskan mengambil cuti tahunan saya dan melakukan perjalanan ke Tana Toraja. Saat riset lokasi-lokasi wisata lewat internet dan mencari informasi perjalanan, saya merasakan bahwa perjalanan saya kali ini bukanlah perjalanan biasa.

Warisan kebudayaan megalitik serta gaya hidup Austronesia menjadikan Tana Toraja menarik untuk dikunjungi wisatawan. Pemandangan alam yang indah dan nuansa tradisional Toraja mulai saya rasakan begitu bus yang saya tumpangi memutari kolam buatan di kota Makale. Atap rumah adat Toraja, tongkonan, yang bentuknya seperti perahu tampak indah timbul tenggelam di antara kabut yang menyelimuti kota yang dikelilingi pegunungan ini. Infrasuktur jalan di Toraja yang menghubungkan dua kota utama ; Makale dan Rantepao cukup baik. Dan selama perjalanan ini, saya memutuskan untuk menginap di Rantepao.

PASAR BOLU dan WISATA PEMAKAMAN

Tepat pukul 9 pagi, saya menginjakkan kaki di Rantepao. Beberapa pengendara bentor (becak motor) menawari saya untuk mengantarkan ke hotel. Namun saya memilih naik pete-pete (angkutan umum). Pete-pete di Toraja bukan seperti angkutan umum biasa seperti di kota-kota lain. Kebanyakan pete-pete di Toraja adalah mobil Avanza yang digunakan sebagai angkutan umum dan sangat nyaman.

Setelah beristirahat sejenak dan berganti pakaian, saya tidak sabar untuk menjelajah Toraja. Lewat petugas hotel saya menyewa motor untuk transportasi ke lokasi-lokasi wisata yang ingin saya kunjungi.
Lokasi pertama yang saya kunjungi adalah pasar hewan Bolu, Rantepao. Menurut petugas hotel hari ini adalah hari pasaran dan saya tak boleh melewatkannya. Berdekatan dengan lokasi pasar tradisional, pasar hewan ini tampak unik dengan hamparan tedong (kerbau) dan babi di areal tanah lapang yang luas. Tidak seperti pasar hewan yang biasa saya lihat di tempat lain, para penjual hewan di pasar ini semuanya laki-laki dan sebagian besar mengenakan sarung dipinggangnya. Terjadi sekali seminggu, dan hampir 90% kerbau yang dijual di pasar ini untuk upacara kematian. Tedong Bonga (kerbau belang) adalah kerbau yang sangat mahal dan langka. Harganya bisa mencapai ratusan juta. Saya melihat banyak wisatawan asing di pasar hewan Bolu. Mereka tampak antusias melihat keunikan pasar ini.

Saya lalu meneruskan perjalanan ke goa pemakaman Londa, setengah jam dari Makale ke arah Rantepao. Londa merupakan sebuah pemakaman purbakala yang berada dalam goa. Untuk memasuki goa pemakaman Londa saya menyewa lampu petromak dan diantar Toni, pemuda Toraja yang sejak kecil sudah menjadi pemandu wisata menjelajahi lekuk-lekuk goa Londa. 

Menurut Toni, semua yang dimakamkan di goa Londa adalah dari garis keturunan Tatengkeng. Di bagian depan pemakaman tampak tau-tau (patung dari kayu nangka) yang mirip dengan mayat yang dimakamkan. Tau-tau itu di letakkan di pemakaman setelah melalui ritual tertentu. Menurut Toni, mereka yang patungnya berjajar di balkon pemakaman berasal dari kasta yang tinggi. Beberapa kali tau-tau itu dicuri orang sehingga sempat dibuatkan teralis dan dikunci.
Di depan gua saya juga melihat keranda dengan bentuk yang berbeda-beda. Toni menjelaskan bahwa bentuk keranda yang dipakai untuk mengantarkan jenasah ke pemakaman sesuai dengan status social atau kasta orang yang meninggal. Jenazah yang berkasta tinggi diantar dengan keranda berbentuk tongkonan, sementara jenazah yang berkasta biasa menggunakan keranda bambu. Peletakan jenazah di goa juga sesuai dengan kastanya masing-masing. Kasta tertinggi di letakkan di tempat paling tinggi sementara kasta biasa di tempat yang rendah. Orang Toraja masih mempercayai bahwa setelah meninggal, mereka akan menuju Puyo (surga) dan semakin tinggi mayat diletakkan maka semakin dekat mereka dengan Puyo.

Dengan penerangan lampu petromak saya merangkak memasuki goa. Saya harus berhati-hati agar tidak menyenggol tengkorak-tengkorak berusia ratusan tahun yang berserakan di sekeliling. Untuk menggeser tengkorak itu sedikit saja, harus melalui proses ritual. Di sekeliling tengkorak itu banyak tumpukan baju, gelas plastic aqua dan rokok. Saya pikir ini sampah yang ditinggalkan pengunjung, tapi ternyata saya salah. Tumpukan baju usang, gelas plastic dan rokok itu sengaja di kirimkan keluarga mayat. Orang Toraja berkeyakinan bahwa mereka yang sudah mati juga membutuhkan baju, makanan dan minuman seperti orang yang masih hidup.

Saya terus merangkak memasuki goa dan menemukan peti mati baru. Peti itu masih terlihat bagus dan rangkaian bunga yang melingkari peti belum layu. Menurut Toni, peti itu baru diletakkan tujuh hari lalu. Hingga sampailah saya di depan dua tengkorak yang saling bersisian. Dua tengkorak itu tampak dramatis berada di ruangan goa yang temaram. Menurut Toni, dua tengkorak itu adalah sepasang kekasih yang tidak direstui oleh orang tua mereka. Semacam kisah Romeo Juliet dari Toraja. Hm, ternyata setiap daerah selalu memiliki kisah-kisah yang romantic sekaligus tragis!
               
Tujuan selanjutnya adalah Lemo. Pemakaman alam yang dipahat sekitar abad XVI ini merupakan pemakaman leluhur Toraja. Di pemakaman batu Lemo ini ada 75 liang batu kuno dan 40 tau-tau yang tegak berdiri dan 75 lubang batu. Posisi tau-tau di Lemo berbeda dengan tau-tau di Londa. Tau-tau di Lemo mengangkat tangan ke atas dengan mata menatap langit sebagai prestise, status dan peran para bangsawan di Desa Lemo. Di beri nama Lemo karena salah satu model liang batu di sana berbentuk bundar dan berbintik-bintik seperti jeruk. 
    

Tujuan berikutnya adalah To’Doyan, pohon besar yang menjadi tempat pemakaman bayi (anak yang belum tumbuh giginya). Pohon ini secara alamiah memberi akar-akar tunggang yang secara teratur tumbuh membentuk rongga-rongga. Rongga inilah yang digunakan sebagai tempat menyimpan mayat bayi. Namun, pohon ini sekarang tidak lagi digunakan sebagai pemakaman.

            
Pada masa sekarang, beberapa orang Toraja membuat Patane (rumah makam) yang lebih modern untuk tujuh turunan dan meletakkan di pinggir jalan sehingga mudah dijangkau. Rumah makam modern ini terbuat dari beton seperti laiknya bangunan di kota. Dari pemakaman bayi To’Doyan saya singgah di kampung tradisional Kete Kesu. Di kampung tradisional ini saya bisa melihat tongkonan-tongkonan tua yang atapnya terbuat dari bambu dan telah ditumbuhi ilalang. Di sekitar tongkonan tua ini saya juga menemukan beberapa perajin ukir Toraja.
MAKANAN dan OLEH-OLEH KHAS TORAJA.
 Saat makan siang, saya berburu makanan khas Toraja. Sayang kalau saya tidak mencicipi makanan khas Tana Toraja. Meski sebagian besar penduduk Tana Toraja memeluk agama Kristen, tetapi di kota Rantepao kita bisa menemukan rumah makan-rumah makan khusus untuk muslim. 
 

Selain kopi Toraja yang sangat terkenal, Tana Toraja juga memiliki berbagai makanan khas yang unik dan lezat. Salah satu contohnya adalah Papiong. Papiong merupakan lauk pauk untuk pelengkap makan dengan nasi. Dimasak dengan berbagai sayuran di dalam bambu dan memasaknya dengan cara dibakar. Campuran sayuran di dalam Papiong yaitu : daun bawang, serai, bawang putih, telor, merica dan bawang merah.  Biasanya ada beberapa pilihan isi lauknya yaitu : ayam, ikan dan babi. Kalau di Jawa Papiong lebih mirip dengan pepes. Dimakan dengan nasi hangat sangat lezat. 

Makanan khas Toraja yang lain adalah Pamarrasan dan Pangrarang. Pamarrasan berupa lauk pauk daging ayam, babi atau ikan yang sudah dibakar lalu dimasak menggunakan keluwek dan sayur pangi. Sayur pangi adalah kulit keluwek yang sudah di iris tipis-tipis dan dijemur . Keluwek dalam bahasa Toraja adalah Pamarrasan. Sementara Pangrarang adalah sate Toraja. Bedanya dengan sate di tempat lain adalah cara memasaknya. Pangrarang hanya di bakar dengan bumbu garam secukupnya lalu setelah dibakar matang dimakan dengan cabe ulek.  

Untuk oleh-oleh kita bisa membeli deppa tori’, kue khas Toraja dan sirup Markisa yang belum dicampur dengan apapun. Kita juga bisa membawa oleh-oleh berupa ukiran, kain tenun Toraja, cinderamata berupa patung-patung dari kayu nangka juga t’shirt khas Toraja.
PERAYAAN KEMATIAN

Dalam perjalanan, saya melihat sebuah areal luas dengan banyak rumah itu dihiasi kain warna merah, putih dan motif hitam diatas merah. Saya memutuskan berhenti. Pak Indra yang sedang bekerja di situ mengatakan bahwa minggu depan akan diadakan perayaan kematian atau lebih dikenal Rambu Solo’. Areal dengan deretan rumah dari bambu dan kayu ini disebut rante. Saya langsung antusias untuk melihat perayaan itu minggu depan. Tetapi saya tidak mungkin memperpanjang cuti saya. Maka, untuk mengobati kekecewaan, saya mendengar cerita Pak Indra tentang perayaan kematian Rambu Solo’.

Rambu Solo’ merupakan upacara kematian yang sangat meriah dan memakan waktu berhari-hari. Upacara ini biasanya dilaksanakan pada siang hari saat matahari mulai condong ke barat dan biasanya berlangsung dua sampai tiga hari, bahkan untuk kalangan bangsawan bisa sampai dua minggu. Jumlah kerbau dan babi yang dipotongpun berbeda sesuai status social. Jika yang meninggal dunia bangsawan, maka jumlah kerbau yang dipotong lebih banyak dibanding yang bukan bangsawan. Keluarga bangsawan akan menyembelih kerbau antara 24 sampai dengan 100 ekor kerbau. Sedangkan warga golongan menengah diharuskan menyembelih 8 ekor kerbau ditambah dengan 50 ekor babi. Sebelum jumlah itu mencukupi, jenazah tidak boleh dikuburkan di tebing atau di tempat tinggi. Maka, tak jarang jenazah disimpan selama bertahun-tahun di Tongkonan sampai akhirnya keluarga menyiapkan hewan kurban. Namun bagi penganut agama Nasrani dan Islam kini, jenazah dapat dikuburkan dulu di tanah, lalu digali kembali setelah pihak keluarganya siap melaksanakan upacara. 

Prosesi dimulai dengan jenazah dipindahkan dari rumah duka menuju tongkonan pertama (tongkonan tammuon), yaitu tongkonan dimana ia berasal. Di sana dilakukan penyembelihan 1 ekor kerbau sebagai kurban atau dalam bahasa Torajanya Ma’tinggoro Tedong, yaitu cara penyembelihan khas orang Toraja, menebas kerbau dengan parang dengan satu kali tebasan saja. Kerbau yang akan disembelih ditambatkan pada sebuah batu yang diberi nama Simbuang Batu. Setelah itu, kerbau tadi dipotong-potong dan dagingnya dibagi-bagikan kepada mereka yang hadir. Jenazah berada di tongkonan pertama (tongkonan tammuon) hanya sehari, lalu keesokan harinya jenazah akan dipindahkan lagi ke tongkonan yang berada agak ke atas lagi, yaitu tongkonan barebatu, dan di sini pun prosesinya sama dengan di tongkonan yang pertama.

Selanjutnya, jenazah diusung menggunakan duba-duba (keranda khas Toraja). Di depan duba-duba terdapat lamba-lamba (kain merah yang panjang, biasanya terletak di depan keranda jenazah, dan dalam prosesi pengarakan, kain tersebut ditarik oleh para wanita dalam keluarga tersebut. Jenazah tersebut akan disemayamkan di rante, di sana sudah berdiri lantang (rumah sementara yang terbuat dari bambu dan kayu) yang sudah diberi nomor. Lantang itu sendiri berfungsi sebagai tempat tinggal para sanak keluarga yang datang nanti. Sesampainya di rante, jenazah diletakkan di lakkien (menara tempat disemayamkannya jenazah selama prosesi berlangsung). Jenazah dibaringkan di atas lakkien sebelum nantinya akan dikubur. Hiburan yang ditunggu-tunggu dalam perayaan kematian ini adalah ma’pasilaga tedong (adu kerbau). Adu kerbau sangat digemari orang-orang Toraja. Saya jadi teringat kerbau-kerbau di Pasar Bolu yang saya kunjungi pagi tadi.

Matahari mulai turun dan saya mengingat pesan petugas hotel, “lebih baik mbak kembali ke hotel sebelum malam. Karena setelah petang warga Toraja menghentikan kegiatannya dan lebih suka berdiam diri di rumah.” Tetapi baru saja berpamitan dengan Pak Indra perut saya keroncongan. Akhirnya saya berhenti di rumah makan kecil dengan lokasi yang memukau. Berbentuk panggung, pengunjung rumah makan bisa menikmati hamparan sawah dan gunung di kejauhan. Sambil menunggu ayam yang dimasak dalam bambu dan nasi putih hangat, saya menikmati secangkir kopi Toraja.

Dan gerimis mulai turun. Perjalanan hari ini sangat menakjubkan. Diam-diam saya merasakan aura mistis, saya seperti mendengar seseorang melakukan Ma’badong (menyanyikan lagu-lagu untuk mengenang jenazah) di upacara pemakaman Toraja, sementara ibu-ibu bersedu-sedan dan para pria berteriak penuh semangat. Setelah peti jenazah dimasukkan ke dalam liang batu di sisi tebing, maka masa berkabung telah lewat.  Sebuah kematian boleh disertai rasa duka, namun juga harus dirayakan dengan kegembiraan. Karena manusia yang mati itu telah selesai tugasnya di dunia dan tidak lagi merasakan kesusahan. Bentuk penghormatan terhadap kematian dan kearifan falsafah local Toraja yang masih terjaga meski zaman telah digerus modernisasi. 
(artikel ini pernah dimuat majalah Femina)