Category Archives: Blogging

MENJENGUK MASA LALU.

Memories warm you up from the inside. But they also tear you apart” ~ Haruki Murakami

Lebaran ini saya pulang ke kampung masa kecil saya setelah 4 lebaran sebelumnya saya lewatkan di tempat lain. Terletak di pesisir Laut Selatan, sebenarnya  kampung masa kecil saya ini  sudah menjadi kota. Jalanan mulus, gang-gang yang sudah dicor rapi, rumah-rumah yang berdiri bagus dengan sanitasi yang memadai dan terdapat ruang publik untuk hiburan masyarakat . Jika saat saya kecil dulu jalanan depan rumah hanya dilewati kerbau yang mau ke sawah, sekarang menjadi jalur utama yang sangat ramai.  Motor yang pengendaranya tanpa helm ngebut bak balapan di sirkuit, mobil yang lalu lalang memasuki gang, pemuda-pemuda tanggung berambut stylis dengan cat merah, pirang, ungu di puncaknya, gadis-gadis ber-make-up lengkap dengan gaya fashioanable dan tak ketinggalan makanan-makanan kota seperti burger, sosis, fried chicken dijual di sini. Tidak bisa dihindari, kampung masa kecil saya telah lenyap dan berubah menjadi kota.

 

Bagi saya, pulang ke tempat ini adalah menjenguk masa lalu. Masa lalu yang menjadikan saya seperti sekarang. Seandainya rumah tidak bisa rusak, kami sekeluarga lebih suka membiarkan bangunan lama tetap berdiri tanpa polesan sesuatu yang baru, agar kami bisa sama-sama mengais kenangan ; makan bersama di wajan bekas memasak ikan kecap, tidur di tikar pandan, menggoreng satu telur dibagi banyak orang, membaca buku berulang-ulang karena buku waktu saya kecil sangat langka, meminta Bu Guru membuka perpustakaan agar saya dapat membaca buku lain, berebut wafer di kaleng Kong Guan dan melihat orang berjalan di hutan yang jauh dari kamar kami.

Tidak hanya kenangan-kenangan bersifat fisik yang saya kais dari masa lalu saya di tempat ini, tapi juga pemikiran-pemikiran saya di masa kecil.  Saya dibesarkan oleh ibu yang suka membaca dan menginginkan anak-anaknya lebih maju. Meski pendidikan ibu hanya tamat SMP, tetapi dari bacaannya yang banyak, beliau bisa memandang lebih luas ketimbang orang-orang di sekelilingnya. Dan begitulah saya dibesarkan. Di tengah banyak luka perjalanan hidup keluarga saya, saya dididik menjadi perempuan mandiri dan tidak hanya bercita-cita untuk menikah. Memasuki usia SMP saya haus bacaan dan informasi sementara akses bacaan dan informasi sangat sulit. Kami tidak memiliki televisi dan antena radio jarang bisa sampai. Maka saya mengirim surat-surat ke berbagai penjuru Indonesia melalui kolom sahabat pena yang ada di majalah remaja yang dipinjamkan ibu untuk saya. Dari surat-surat itulah saya bertukar pikiran dengan banyak teman di banyak tempat di Indonesia dan bercita-cita suatu ketika saya akan pergi lebih jauh untuk bertemu mereka. Ketika teman-teman seusia saya mulai puber dan sibuk pacaran, saya haus informasi dan jatuh cinta pada buku.

 

Masa remaja saya menjadi sedikit beda dengan teman-teman saya. Jika teman-teman memandang saya sebagai pendiam, sebenarnya pikiran saya bergolak. Saya sedikit pemberontak, antimainstrem dan benci feodalisme.  Ketika orang di sekitar saya bangga bergaul dengan pejabat serta nepotisme, saya membenci sikap-sikap itu. Bergaul bisa dengan siapa saja asal itu menyenangkan dan bermanfaat, tidak perduli siapapun dia. Saya juga berpikir bahwa cita-cita tidak harus menjadi PNS (kamu bisa menjadi apa saja, asalkan bisa memaksimalkan potensi dirimu), perempuan tidak hanya bertugas menikah dan beranak pinak, perempuan harus bisa dipandang karena kepandaiannya bukan hanya karena fisiknya yang menawan dan perempuan tidak harus berkulit putih agar tidak dicaci maki.  Saya tidak mampu mengungkapkan pikiran-pikiran saya yang bergolak itu melalui ucapan kecuali melalui sedikit tulisan saya dan menerapkan dalam kehidupan saya sendiri.

Melihat kehidupan teman-teman saya, saya seringkali merasa kehidupan saya berhenti. “Saya hanya begini-begini saja, sementara orang lain sudah berjalan jauh.” Tetapi kenyataannya hidup ini terus berjalan dan berubah.  Setiap mengais kenangan di tempat ini, saya melihat saya banyak berubah ; cara pandang saya, cara saya menghadapi masalah dan memperlakukan orang lain. Tetapi perubahan itu tidak menjauh dari pemikiran-pemikiran saya di masa kecil dan remaja. Jika dulu saya tersiksa dengan lingkungan yang memvonis saya, sekarang saya bisa memahami bahwa cara pandang saya memang berbeda dengan mereka sehingga mereka mungkin sulit menerima cara pandang saya. Maka saya sekarang bisa tersenyum menghadapi cara pandang mereka terhadap saya.

 

Ada perasaan senang sekaligus sedih melihat tempat masa kecil saya ini menjadi kota.  Saya kehilangan hal-hal eksotis yang dulu saya miliki di tempat ini, tetapi itu tidak bisa ditolak lagi. Semua tempat cepat atau lambat telah menjadi kota. Serbuan budaya kota mengalir deras melalui internet tanpa batas. Semua trend yang ada di kota dengan mudah diadopsi semua orang di manapun lokasinya asal terjangkau signal. Semoga yang terserap hal-hal yang baik dan bermanfaat yang akan merangsang pemikiran-pemikiran untuk lebih maju, bukan malah mundur.

Namun, jika semua tempat telah menjadi kota, semoga saya masih bisa menyimpan barang-barang masa lalu di tempat ini untuk mengais kenangan. Agar saya tidak lupa dari mana pemikiran-pemikiran berbeda saya pada masa kini berasal.  Saya akan menjenguknya selama umur masih ada.

 

 

Aku, Bapak Dan Ombak

“Masa lalu hanyalah spion untuk melanjutkan perjalanan ke depan yang lebih baik lagi.”

Saat usiaku 11 tahun, aku beberapa kali duduk di tempat ini bersama Bapak. Setidaknya tiga kali dalam setahun saat Bapak datang mengunjungiku untuk membubuhkan tandatangan di raport kenaikan kelasku, Bapak memberiku hadiah jalan-jalan ke tempat ini. 

                    “Ini baru anak perempuan Bapak, juara terus!” katanya seraya menandatangani raport dan berusaha menjangkau kepalaku. Aku mengambil raport itu lalu menghindar pergi sebelum tangan Bapak menyentuh kepalaku. 

Senja hari, Bapak akan memaksaku memberi hadiah jalan-jalan ke tempat ini. Laut dan ombak. Tempat menakutkan yang tidak aku sukai meskipun aku tumbuh di desa pesisir. Ibu sering menakut-nakutiku tentang ombak, air pasang dan orang tenggelam di lautan agar aku tidak keluyuran seperti teman-teman masa kecilku. Karenanya aku ketakutan melihat laut dan ombak. Setiap Bapak mengajakku duduk di sini, aku menahan ketakutan yang parah ombak akan datang menenggelamkan kami. Lalu aku memilih menunduk pura-pura bermain pasir.

“Jadi perempuan jangan penakut. Ombak yang kamu hadapi dalam hidup nanti akan lebih besar,” katanya menarik lenganku mendekat lalu memelukku dari samping. Aku tak pernah nyaman dalam pelukannya. Ada dinding tinggi yang tak terlihat di antara kami.  Kaku dan beku.  Bapak tidak sanggup merobohkan dinding itu dan aku tidak ingin menembusnya. Kami seolah hanya bisa melihat dari seberang tanpa bisa menyentuh kedalaman hati masing-masing.

Lalu matahari memerah dan air laut berubah keemasan. Bapak akan menikmati pemandangan indah itu sambil menghela napas takjub.  Aku tahu, dalam benaknya pasti sudah tersusun kisah-kisah baru yang direkanya sendiri.  Nanti saat manggung wayangan, sebagai Dalang, Bapak akan menyelipkan kisah-kisah rekaannya itu untuk dinikmati penontonnya.  Selain seorang guru, Bapak juga seorang pencerita.

Tidak kusangka, belasan tahun kemudian saya juga suka mereka-reka cerita, menikmati senja dan memburu ombak.  Semua ketakutan tentang ombak, air pasang dan orang tenggelam telah lenyap.  Karena seringkali ombak kehidupan lebih ganas dari ombak di lautan. Aku masih bisa menikmati indahnya senja di lautan, tetapi dalam kehidupan terkadang hanya kegelapan.   

Kini, 12 tahun sudah Bapak pergi.  Lebih dari waktu itu pula aku berusaha menembus dinding diantara kami, dan Bapak berusaha merobohkannya dengan berbagai cara meski terkadang cara itu salah.  Aku tahu, kami telah berhasil.  Aku memaafkannya, mengikhlaskan semuanya dan kemudian jika masih mungkin mencintainya dalam doa. Semoga Bapak memaafkan juga. Tidak ada dinding itu lagi diantara kami.  Bahkan cinta tak perlu banyak dikatakan untuk disebut cinta.  Cinta tak harus selalu bersama untuk disebut ada.  Namun hati kami akan mengikatnya meski alam telah berbeda.

AHA Moment SKYSCANNER Indonesia : INSPIRASI HIDUP DARI BENUA EROPA


“Kamu kira, kalau sudah memakai pakaian Eropa, bersama orang Eropa, bisa sedikit bicara Belanda lantas jadi Eropa? Tetap saja, monyet!” – Pramudya Ananta Toer dalam  BUMI MANUSIA.

 

Menara Eiffel

Pada masanya,  sebagai bangsa yang dijajah ratusan tahun, bepergian ke Eropa itu mustahil. Hanya orang-orang tertentu yang bisa melakukannya. Bukan hanya karena biayanya yang besar, tetapi juga mental sebagai bangsa terjajah yang hanya berani meletakkan sebagian cita-cita dalam khayalan. Tetapi masa itu telah lewat. Hari ini, bepergian ke Eropa menjadi lebih mudah. Tiket pesawat promo dengan harga sesuai kantong bisa dengan mudah kita pesan melalui mesin pencari Skyscanner Indonesia. Informasi perjalanan murah ke Eropa juga bisa kita temukan di berbagai group traveller. Para pejalan dengan senang hati akan berbagi pengalaman mereka menjelajahi Eropa sekaligus tips-tips mendapatkan harga transportasi dan penginapan yang murah. Dan… voilaaa! Para pemimpipun bisa mewujudkan cita-citanya. Saya termasuk salah satu pemimpi itu!

BERJUANG MEWUJUDKAN MIMPI
Sejak kecil saya suka membaca buku-buku dengan setting Eropa dan berharap kelak bisa bepergian ke Eropa. Tetapi saya dilahirkan di keluarga yang biasa-biasa saja, jangankan pergi ke Eropa, pergi ke kota sebelah saja membutuhkan waktu setahun untuk menabung. Bukan hanya itu, saya juga sakit-sakitan. Tetapi setelah saya bekerja dan tinggal di Jakarta, saya memberanikan diri untuk bermimpi. Bukanlah Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi kita?   Tentu saja, kita juga harus berjuang untuk mewujudkannya.

Saya di depan Gedung PBB Geneva, Swiss

Saya mengurus semua persiapan ke Eropa  sendirian tanpa agen perjalanan. Mulai dari menabung jauh-jauh bulan, mengejar tiket promo, mengurus dua visa Eropa (UK dan Scengen), memesan bus dan kereta sambungan antar negara tiga bulan sebelumnya agar mendapat promo, mencari penginapan murah dan mempelajari jalan menuju lokasi yang akan saya tuju. Tidak semuanya mulus, pada pertengahan tahun pekerjaan saya bermasalah dan uang yang saya cadangkan untuk biaya ke Eropa tidak dibayarkan. 

Perjalanan mengajarkan banyak hal

Pada saat itu saya sudah pasrah. Mungkin Tuhan belum mengizinkan saya pergi sejauh itu. Saya mulai mempersiapkan mental jika tidak berhasil berangkat dan melepaskan semua biaya yang sudah saya bayarkan sebagian di depan. Saya juga menjadi lebih dekat dengan Tuhan untuk memohon, meminta sekaligus memberi kekuatan jika perjalanan ini gagal. Saya sadar sesadar-sadarnya perjalanan juga serupa takdir, hanya akan terjadi jika Tuhan berkehendak.  Pada puncak keikhlasan saya, ternyata pertolongan itu datang. Ada satu kerjaan yang mencairkan uangnya sehingga saya bisa berangkat ke Eropa. And then…. my dream comes true!

EROPA, MY DREAM COMES TRUE!
Tuhan benar-benar memeluk mimpi saya. Pada bulan Mei 2017, saya berhasil keliling Eropa dalam satu bulan, mengunjungi 7 negara 8 kota besar mulai dari London, Edinburg, Paris, Geneva, Vienna, Budapest, Praha dan Amsterdam.    

Saya di Museum Louvre
 Memulai perjalanan panjang dengan menjelajah Inggris saya menemukan banyak hal menarik di negara ini. London sangat multikultural, menghargai perbedaan dan terbuka pada ras yang berbeda-beda. Mereka hidup berdampingan dengan baik dan tidak mudah terkejut dengan sesuatu yang berbeda dengan diri mereka. Saya juga menemukan banyak muslimah berjilbab di jalan dan melakukan kegiatan mereka dengan aman. Saya mengunjungi hampir semua lokasi wisata terkenal seperti Big Ben, London Eye, Buckingham Palace, Trafalgar Square, London Brigde, Sherlock Holmes Museum, Camden Market, Oxford city dan Harry Potter Tour.  Tak hanya itu saya juga menyempatkan diri pergi ke Edinburg Skotlandia meski hanya sehari.  
London Big Ben

Paris merupakan kota yang luar biasa kaya dengan benda-benda seni bernilai tinggi sekaligus rawan dunia kriminalitas. Orang-orangnya tak seramah di Inggris tetapi kotanya luar biasa cantik dan klasik. Saya mengunjungi lokasi wisata mainstream seperti Menara Eiffel, Montmartre, Sungai Seine, Arch de Triomphe, Museum Louvre dan lain sebagainya.  Melanjutkan perjalanan ke Geneva saya hanya memiliki satu tujuan yaitu mengunjungi gedung PBB. Geneva sangat mahal sehingga saya hanya berani mengunjunginya dalam sehari sebelum kemudian melanjutkan perjalanan ke Vienna, Budapest, Praha dan Amsterdam. Saya jatuh cinta pada Budapest yang menurut saya salah satu kota tercantik di Eropa sekaligus murah untuk ukuran Eropa. 
Budapest yang cantik

Selama keliling Eropa, saya memilih menginap di rumah warga lokal sehingga saya tahu bagaimana mereka menjalani hari-harinya. Dari sanalah inspirasi tentang kehidupan Eropa kemudian saya lihat dan saya pelajari. Saya melihat bagaimana mereka mengorganisir hal-hal kecil sehari-hari dengan detail, saya melihat bagaimana mereka berjuang keras untuk membiayai hidup mereka di kota yang mahal. Tak hanya tempat wisata yang apik, Eropa juga menyuguhkan manusia-manusia yang menarik.

INSPIRASI DARI MEREKA
Eropa mengajarkan saya banyak hal positip. Hal-hal kecil yang dilakukan warganya membuat saya terinspirasi dan mengadopsi sikap-sikap itu ketika kembali ke Indonesia.  Misalkan saja ; saya terinspirasi ketika para pengunjung kafe dan restoran membereskan bekas makan minumnya sendiri dan menaruhnya ke tempat sampah. Saya terinspirasi bagaimana mereka disiplin di jalan dan membuang sampah pada tempatnya. Saya terinspirasi bagaimana mereka menjaga peninggalan bersejarah yang berumur ratusan tahun dan dikagumi wisatawan dari segala penjuru dunia. Saya terinspirasi bagaimana mereka menghargai privacy orang lain dan tidak sibuk kepo atau nyinyir pada hal yang bukan urusan mereka. Saya terinspirasi bagaimana mereka mandiri, mengerjakan banyak hal sendiri, selalu bersemangat dan tidak bergantung pada orang lain. Saya terinspirasi bagaimana sebagian dari  mereka memperlakukan saya yang berjilbab dengan baik, berbeda dengan berita-berita tentang kebencian di media. 

Rumah warga lokal di Praha

Dan saya….sebagai bangsa yang pernah terjajah lama oleh Eropa sadar, mereka manusia yang sama dengan kita. Memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tidak perlu merasa inferior karena perbedaan warna kulit karena pada dasarnya kita semua sama-sama MANUSIA.

Crepes terkenal di Paris

Setelah berhasil mewujudkan satu mimpi besar saya ini, saya merasa menjadi orang yang berbeda. Saya tahu bagaimana caranya bermimpi, berjuang mewujudkannya  kemudian mengikhlaskan apapun yang diputuskan oleh Tuhan tentang sebuah hasil. Saya mulai bisa menikmati proses memperjuangkan sesuatu pada mimpi-mimpi saya yang lain. Setiap kali saya teringat kebiasaan disiplin dan mandiri orang-orang Eropa, saya juga menjadi terpacu dan malu saat sedang tidak bersemangat. Setiap melihat orang-orang usil di tempat wisata, saya tergerak untuk mengingatkan agar mereka menjaga peninggalan besar yang dimiliki bangsa ini. Tidak hanya melihat tempat-tempat baru yang menakjubkan, perjalanan juga mengajarkan saya tentang kehidupan yang mendalam. 


Bermimpi Keliling Dunia & Mewujudkannya


“Mimpi tanpa tekad untuk mewujudkannya hanya akan menjadi khayalan tidak berguna.”

 

 

Saya di Emirates Stadium Inggris

 

 Sejak kecil saya suka bermimpi. Salah satu mimpi saya adalah keliling dunia melihat lokasi-lokasi dalam buku cerita yang saya baca. Tapi itu sepertinya mustahil. Bagaimana tidak? Keliling dunia itu sudah pasti memerlukan uang yang tidak sedikit. Dalam bayangan masa kecil saya, itu tidak akan mungkin terjadi. Saya hanyalah putri satu keluarga dengan tingkat ekonomi rendah dan tinggal di desa pesisir terpencil dengan akses ke kota terdekat saja susah. Tidak hanya itu, saya juga sakit-sakitan. Diam-diam, saya melupakan mimpi saya.
Saya di museum Louvre Paris
 Tetapi jangan main-main dengan mimpi. Ternyata saat kita belum benar-benar melupakannya, dia tumbuh dalam kepala kita dan mencari jalannya. Di Jakarta, saya bertemu teman-teman yang juga “pemimpi gila” untuk bisa melihat dunia dalam segala keterbatasannya. Dan dari sanalah semua bermula. Dengan keterbatasan biaya dan gaya perjalanan berbiaya minim (tapi tetap aman untuk perempuan) saya mengunjungi 7 negara di Asia Tenggara. Setelahnya saya menulis beberapa artikel dan buku mengenai perjalanan itu. Tak hanya sampai disitu, ternyata mimpi melihat dunia semakin menjadi-jadi, semakin jauh dan semakin jauh. Pada saat banyak masalah, hiburan kami adalah membaca diskusi di group traveler, nonton program jalan-jalan di discovery chanel dan membuat itinerary perjalanan. Semua itu kami lakukan dengan suka cita meskipun kami tidak tahu kapan akan pergi ke tempat tersebut.
Saya di depan kantor PBB Geneva, Swiss
 

 

Hingga suatu malam, saya menemukan promo tiket ke Eropa dengan full board airline yaitu Etihad dan Qatar seharga Rp. 5.5 juta return multicity. Setelah beberapa kali cek dan ricek saya memberitahu teman-teman “pemimpi gila” itu dan membeli tiket multicity, Jakarta-London dan Amsterdam-Jakarta untuk perjalanan tahun berikutnya. Selesai membeli tiket saya bengong. Buat yang sering pergi ke Eropa mungkin perasaan saya ini lebay. Tapi buat orang biasa kayak saya ini agak menakutkan. Benarkah mau pergi sejauh itu? Ya Allah, Eropa kan mahal! Uang dari mana? Bahkan saat itu belum memiliki biaya sama sekali. Tetapi teman-teman bilang, “kita punya waktu setahun untuk mempersiapkannya.” Oke! Bismillah saja!
Saya di Praha
   

 

Maka dalam waktu setahun kami semua berusaha keras menabung, khususnya saya banting tulang dan ngirit habis-habisan demi mewujudkan mimpi itu. Saya bahkan tidak berani memberitahu keluarga dan teman dekat sekalipun tentang mimpi itu. Saya hanya akan memberitahu ketika semuanya sudah jelas bisa berangkat. Kami merencanakan akan mengunjungi tujuh negara dan delapan kota yaitu : Inggris (London dan Edinburg/Skotlandia), Paris, Geneva Swiss, Austria Vienna, Budapest, Praha dan Amsterdam dalam satu bulan.  Dan mulailah kami berburu informasi, tiket promo bus atau kereta untuk sambungan antar negara hingga hunting hostel dan penginapan murah tapi aman. Kami membeli tiket bis dan kereta tiga bulan sebelum keberangkatan melalui web GOEURO dan STUDENT AGENCY dengan harga promo 50% hingga 25%. Sedangkan hostel dan Airbnb kami pesan mendekati keberangkatan karena menunggu approval visa.

 

Saya di museum Mozart Vienna Austria
Tidak seru kalau sebuah perjalanan tidak diawali dengan drama. Dan persoalan visa ini benar-benar drama abis-abisan. Kami membutuhkan dua visa untuk keliling Inggris dan Eropa, satu visa UK dan satu lagi visa scengen. Semua persyaratan dan pengajuan visa kami lakukan secara mandiri. Isian formulir visa UK yang ada di website itu nyaris seperti wawancara kerja yang njlimetnya parah sehingga saya harus simulasi melakukan pengisian di lembar kertas sebelum mengisi di websitenya. Tetapi bagusnya, waktu kami mengisi formulir visa UK, ada pilihan formulir baru yang lebih sederhana. Dan kami memilih formulir baru itu. Begitu bikin janji temu pengajuan berkas melalui website, ternyata full booking hingga dua minggu berikutnya dan kami mendapatkan tanggal yang mepet keberangkatan. Sementara visa scengenpun belum kami urus. Kami mulai panik karena petugas bilang, paling cepat visa akan keluar 14 hari, tetapi tidak pasti karena sedang ramai dan bahkan bisa sebulan. Saya lemas. Bagaimana ini? Semua tiket sambungan antar negara sudah dipesan. Tetapi kemudian saya pasrahkan saja, kalau takdirnya berangkat juga pasti bisa berangkat. Akhirnya berkas kami masukkan semua dan kami menunggu dengan cemas.
Saya di tepi sunga Danube Budapest
 

 

Sembilan hari kemudian seorang teman saya mendapatkan email pemberitahuan dari VFS UK bahwa visa kami sudah dapat diambil. Waktu mengambil visa saya dan teman-teman gemetaran parah. Belum pernah sepanik ini mengurus visa. Tetapi alhamdulillah visa kami berlima semuanya lolos. Tinggal mengurus visa scengen. Begitu membuat janji temu dengan VFS Belanda, janji temu semuanya sudah full booking sampai tanggal 4 bulan depan. Kembali kami panik karena kami akan berangkat tanggal 4. Akhirnya kami memakai fasilitas premium longue untuk janji temu, dengan biaya lebih mahal untuk bisa mendapatkan janji temu dan memasukkan berkas lebih awal.  Dengan premium longue-pun kami baru bisa mendapatkan janji temu seminggu kemudian dengan asumsi visa akan selesai tepat tanggal 4.
Saya di Belanda
 Begitu bertemu dengan petugas untuk memasukkan berkas visa scengen, petugas bilang bahwa kemungkinan visa akan jadi lewat tanggal waktu berangkat karena kondisinya benar-benar sedang ramai. Kami bingung, karena kalau lewat tanggal berangkat kami harus membeli tiket baru dan menghanguskan semua tiket sambungan antar negara karena itinerarynya bergeser. Pilihannya hanya dua, memasukkan berkas dengan resiko membeli tiket baru atau tidak memasukkan berkas dengan resiko gagal mengunjungi enam negara lainnya yang menggunakan visa scengen. Setelah diskusi dan mikir, akhirnya kami memutuskan untuk memasukkan berkas dan mengambil resiko pertama. Saya malah berpikir kalau ini gagal, mungkin memang belum waktunya pergi ke sana.
Saya di Edinburg Skotlandia
 

 

Dan… kami semua pasrah dalam doa. Agak lebay, tapi begitulah kenyataannya. Saya bahkan sudah ikhlas kalau memang tidak jadi berangkat. Tetapi tujuh hari kemudian, (beberapa hari sebelum kami berangkat), visa scengen sudah jadi dan bisa diambil. Saya yang cengeng menangis haru.  Akhirnya kami bisa berangkat melihat dunia lebih jauh lagi!  Kemudian saya percaya, semua hal berawal dari mimpi. Tetapi mimpi tanpa tekad untuk mewujudkannya akan menjadi khayalan tidak berguna. *

Travel Mates

“Have you found the right travel mates?”
Dita, saya dan mantan pacar 😀
Kalau kata penulis buku-buku traveling Claudia Kaunang, “travel mates bisa jadi teman baik, tapi teman baik belum tentu bisa jadi travel mates. Itu bener banget!
Empat tahun lalu ketika saya resign dari kantor, saya memutuskan untuk memulai perjalanan.  Tetapi saya tidak berani melakukannya sendirian. Pertama karena saya sering sakit mendadak dan kedua saya memang penakut.  Menunggu teman yang sudah saya kenal sebelumnya rasanya sulit, karena rata-rata teman saya tidak suka melakukan perjalanan secara nekad dan susah menemukan waktu yang pas. Saya kemudian masuk ke sebuah millist jalan-jalan untuk memantau orang-orang didalamnya dan mencari teman. 
Dita
Sampai suatu hari ada cewek yang posting begini :  “Dear all, gue mau ke Vietnam 4 hari, udah beli tiket Air Asia buat bulan ini tanggal ini, anyone? Email me kalo tertarik join.” Cewek itu namanya Dita. Cuma pake good feeling aja aslinya, saya kemudian respon emailnya dan nanya-nanya sedikit buat mencocokkan pribadi saja. Pertanyaan saya memang agak ndeso sih hehe, karena saya memang asli ndeso. Saya nanya begini, “Loe suka dugem  nggak?” Dia jawab ,” enggak.” Pertanyaan kedua,”Loe traveling bawa pacar?” Dia jawab,” nggak.” Pertanyaan ketiga, “Loe hobby shooping?” Dia jawab, “suka tapi kalo traveling lebih suka nyasar ke tempat asing ketimbang shooping.”  That’s good!  Kayaknya dia nggak jauh beda sih sama saya. “Nggak bisa/nggak suka dugem, nggak bawa pacar dan traveling bukan untuk shooping!” Mendadak saya girang dan semangat. Saya berdoa semoga kami cocok di perjalanan.

Mengelilingi Thailand sama Dita
Pertemuan pertama kami di bus damri bandara dan meski awalnya agak kaku, lanjutannya kami bisa akrab.  Orangnya mandiri khas traveler, selalu pengen tahu, suka pernik-pernik lucu, suka kucing dan hobby banget sama sesuatu yang gratisan buat para backpacker. Hahaha. Siapa sih yang nggak suka gratisan?  Dita juga gampang mengingat suatu tempat meskipun masih aja nyasar is the best.  Oh, nggak hanya itu, dia juga pemberani. Tahun 2013 gegara saya gagal ikut ke Jepang, dia berangkat sendirian selama 10 hari dan menginap couchsurfing.  Perjalanan di Vietnam seru meskipun terlalu singkat. Perjalanan berikutnya kami menyusuri 3 kota di Thailand dalam 10 hari. Beberapa perjalanan kemudian kami rencanakan tetapi gagal, sampai akhirnya kami kembali melakukan perjalanan ke Jepang, menyusuri 4 kota dalam 11 hari. 
Dita dan Icha ngubek-ngubek peta
Dalam perjalanan ke Jepang inilah, Dita mengenalkan saya pada Icha. Teman lain yang juga tergila-gila traveling. Icha tidak jauh beda dari kami, dia juga tidak suka dugem, tidak bawa pacar dan lebih hobby nyasar ketimbang shooping. Di setiap hostel tempat kami menginap, Icha selalu bangun paling pagi, rajin packing dan nguprek-nguprek temannya buat jalan pagi ngelihat sekeliling. Icha juga selalu membawa segala keperluan yang kadang tidak dibawa temannya, perhatian banget sama teman-temannya. Traveling sama Icha artinya nggak usah takut lupa sesuatu karena Icha pasti membawanya dan pasti membaginya. Hahaha. Makasih Icha.

Icha
Tidak hanya mereka berdua teman traveling saya, ada satu lagi namanya Sita. Saya mengenal Sita di internet dan melakukan briefing sebelum berangkat ke Korea Selatan tahun 2012.  Ceilaaa resmi banget pake briefing segala, hahaha! Sita mengenakan jilbab, hobby nyasar juga dan suka bergaul dengan orang lokal.  Pernah kejadian waktu kami naik subway, tiba-tiba beberapa orang minta foto-foto sama kami, eh, ternyata itu kenalan barunya si Sita di subway. Hadehhh! Sita penggila drama Korea dan dibelain nyasar seharian buat nyari kantor si managemen artis pujaannya. Tapi kehebohan nyasar terbayar setelah berhasil menemukan gedungnya di Gangnam District diantar cowok Korea keren pula. Meskipun waktu masuk mobil cowok korea keren itu, saya sampai baca ayat kursi saking takutnya mau dibawa kemana.  Dalam perjalanan dengan Sita juga, saya mendapatkan banyak teman baru dari berbagai negara yang masih komunikasi hingga hari ini. Terakhir saya merencanakan umroh bareng Sita tapi Allah sepertinya merencanakan hal lain. Waktu kami tidak cocok dan kami pergi sendiri-sendiri.
Sita dan saya di Korea
Dari pertemanan traveling ini lama kelamaan meningkat jadi persahabatan. Saya, Dita dan Icha punya group khusus yang tanpa direncanakan sudah menjadi tempat berbagi tips perjalanan, info tiket promo, rencana perjalanan berikutnya, berbagi mimpi dan tempat curcol. Kami juga terbiasa berbagi tugas dalam merencanakan sebuah perjalanan. Ada yang pesan tiket, ada yang pesan hostel, ada yang bikin itenerary dan mencari info tempat yang mau dikunjungi. Pembagian tugas itu sudah otomatis terjadi dengan kesadaran dan kemandirian masing-masing.  Kami saling menghargai dan toleransi kemana saja tempat yang masing-masing ingin kami kunjungi.  Jika sesuatu terjadi dan ada yang tidak terpenuhi, kami saling berbesar hati dan berpikir positip plus ngarep dengan kata-kata andalan,”ini artinya kita akan ke sini lagi buat melihat yang belum kita lihat.”
Dita dan Icha
Dalam salah satu perjalanan pendek naik kereta, seseorang bertanya pada kami,”Kalian bekerja di tempat yang sama? Satu kampung? Satu kampus atau sepupu?” Dan semua jawabannya “Tidak,” tapi kami disatukan oleh “kegilaan yang sama dan kehausan yang sama mengintip dunia yang berbeda dari dunia yang kita lihat setiap hari.” 
Ketemu Dina Duaransel di Chiangmai
Dan… persahabatan selalu butuh waktu. Kita tidak bisa memaksa setiap orang yang kita temui atau orang yang baru kita kenal menjadi sahabat. Label sahabat selalu butuh proses panjang terkadang jatuh bangun. Ada kalanya bahkan persahabatan itu kadaluwarsa dan tidak bisa dilanjutkan lagi. Saya, Dita, Icha dan juga Sita sepertinya tipe orang yang santai memandang label sahabat. Kami tidak membebani satu sama lain dengan label sahabat. Tetapi mengalir dan bertumbuh dalam setiap ketikan di whassup.“Tahun ini kita kemana? Eh, ada tiket promo noh! Ketemuan yuk? Naik kereta yuk! Udah, jangan sedih mending browsing tiket promo! Dan bla bla bla lainnya.” Lalu seribu rencana mengalir dan seribu mimpi menunggu terealisasi.
Terimakasih sahabat perjalananku, kalian sudah sabar menemani saya dalam setiap perjalanan, meskipun kalau moody saya kambuh saya suka rese. Hihihi 

Tanah Suci dan Cinta

“Tidak ada cinta yang abadi selain cinta-Nya”


Banyak orang bilang, melakukan perjalanan ke tanah suci tidak hanya membutuhkan uang tetapi juga membutuhkan undangan dari Allah. Menurutku itu benar!
Ada satu masa dalam hidupku, aku bisa melakukan perjalanan itu dengan mengandalkan uang. Tetapi kenyataannya aku sama sekali tidak berminat dan memilih melakukan perjalanan ke negara lain. Bahkan saat kakak dan teman mulai mengkritik perjalanan-perjalananku ke beberapa negara dan menunda keberangkatanku ke tanah suci, aku mulai marah. Kenapa mereka ikut campur urusanku? Aku mau kemanapun itu uangku dan itu urusanku. 
Tetapi pada pertengahan tahun 2014 segalanya berubah. Tidak hanya berada di titik kritis kehidupan dengan berbagai masalah, sisa trauma yang susah disembuhkan dan luka baru yang datang tiba-tiba, tetapi aku juga sangat merindukan pergi ke tanah suci. Rindu yang sangat. Padahal aku sama sekali tidak punya uang untuk membayar paket perjalanan ke tanah suci. 
Apa yang bisa kulakukan? Aku dengan gegabah mendaftar ke satu agen travel umroh lalu mencairkan sisa tabungan yang jumlahnya hanya separuh dari harga paket yang mesti kubayar. Lalu sisanya bagaimana? Masih sibuk mikir gimana dapat uang separuhnya lagi, agen travel mendesak terus sampai seperti rentenir mengejar buruannya padahal masih ada waktu satu setengah bulan lagi. Merasa tidak nyaman dikejar-kejar sekaligus panik bagaimana mencari separuh uang itu, aku memutuskan membatalkan bergabung dengan travel ini dengan resiko kehilangan uang pendaftaran. Jadi uangku yang sudah nggak cukup makin aja nggak cukup.

Tapi aku tidak menyerah. Aku memutuskan daftar lagi di salah satu pameran travel dan disana mendapatkan diskon sebanyak uang pendaftaranku yang hilang di travel sebelumnya. Tetapi masalahnya uangku tetap masih kurang separuhnya. Dari mana aku akan mendapatkan kekurangan uang itu? Tiba-tiba pulang dari mendaftar, rezeki itu datang. Separuh uang yang kurang plus uang saku sekitar satu juta sampai di tanganku. Alhamdulillah. 

 
Apakah semudah itu? Ternyata tidak. Sebulan menjelang berangkat aku sakit-sakitan. Darah tinggi sampai 175/110 dan sempat pingsan di blok M. Bahkan kondisi depresiku semakin parah. Aku seperti tidak punya harapan melanjutkan hidup, tidak punya semangat dan sangat sedih. Makan susah dan tidur tidak nyenyak. Berat badan susut begitu banyak. Apa yang terjadi denganku? Keluargaku bingung juga sahabat-sahabatku. Seorang sahabat muslimah dari Kanada bilang, ”Allah akan menyembuhkanmu di tanah suci nanti sis, kalau perlu teman bicara aku akan selalu ada.” Dan, melalui email-email yang panjang, aku menumpahkan semua kegalauanku. Kegalauan yang aku sendiri kurang tahu pasti karena apa. Dengan sabar dia membaca dan membalasnya sekaligus mensupport bahwa aku akan baik-baik saja. Terimakasih sahabat.
Hingga hari keberangkatan itu tiba. 12 Januari 2015.
Begitu mendarat di Madinah dan naik bis menuju hotel air mataku tumpah ruah. Memandangi hamparan tanah haram, mataku tidak percaya. Benarkah aku sudah sampai? Inilah tanah haram? Di sinikah Islam yang kupilih sebagai petunjuk hidup dan matiku berawal? Islam yang membuatku jatuh cinta sejak aku kelas dua SD. Aku terisak-isak terus dalam perjalanan ke hotel. Menarik perhatian beberapa orang di bis, tapi aku tak peduli. Lagipula aku tidak bisa mengendalikan perasaanku yang tidak menentu.
Pada hari pertama kedatangan itu, aku bisa menikmati makanan dengan lahap. Kesehatanku prima dan aku bisa mengikuti semua ibadah tanpa jeda. Dengan waktu tidur hanya 2 jam permalam, aku sangat kuat, sehat dan semangat. Subhanallah! Hari demi hari semakin membuatku semangat. Apalagi begitu menginjakkan kaki di Mekah. Aku menangis bahagia. Sangat bahagia. Semua penyakitku sepertinya terbang hilang. Semua luka berasa menguap. Semua trauma berasa lenyap. Yang tertinggal hanya cinta. Cinta-Nya.
Tidak hanya merasakan cinta-Nya yang begitu nyata dan kuat, cerita hidup teman-teman dalam perjalanan ini membuatku banyak merenung. Tidak ada manusia yang lepas dari cobaan. Salah seorang teman yang selalu tersenyum, gemar menolong dan tidak pernah menampakkan kesedihan ternyata baru kehilangan suaminya. Mereka baru saja menikah empat bulan dan sang suami dipanggil menghadap Rabb-Nya. Lalu pasangan senior yang tidak dikaruniai putra dan selalu kelihatan gembira. Pada akhirnya manusia hanya singgah sebentar di dunia dengan segala senda guraunya. Tujuan akhirnya adalah akherat dan pertemuan dengan Tuhan-nya. Lalu kenapa kita begitu sedih, sedangkan cinta-Nya begitu besar?
Kini, aku juga sadar kenapa orang-orang sholeh tersenyum saat kembali menemui Rabb-Nya. Karena mereka bahagia bertemu kekasihnya. Aku tidak bisa membayangkan betapa bahagianya mereka saat bertemu Rabb-Nya. Sedangkan aku yang bergelimang dosa saja, sangat bahagia bisa berdekatan dengan Allah. Aku merasa cinta-Nya memancar begitu indah, menyembuhkan semua luka-luka. Aku ingin kembali ke tanah itu. Ya Rabb, panggillah aku kembali.