All posts by Admin2

BRUNEI DARUSSALAM : RAMADHAN DI NEGERI SULTAN (PART 1)

“Ramadhan does not come to change our schedules. It comes to change our hearts.”

Masjid Omar Ali Saefuddien

Saya percaya perjalanan itu berkaitan dengan takdir. Begitu juga perjalanan saya ke Brunei Darussalam ramadhan ini. Selama 9 tahun menjalani hobby backpacker, Brunei tidak sedikitpun terlintas dalam kepala saya untuk dikunjungi karena saya selalu mencari tempat-tempat yang etnik dan eksotis. Tapi nyatanya saya malah mendapat tiket gratis return ke Brunei Darussalam. Dan berangkatlah saya ke negara terkaya kelima di dunia dari 182 negara yang memiliki ladang minyak bumi dan gas alam  versi Forbes ini.

 

Dengan penerbangan pagi dari Kualalumpur, di gate ruang tunggu keberangkatan saya bertemu seorang bapak-bapak dari Malang yang bekerja di salah satu bengkel di Brunei Darussalam selama tiga tahun terakhir setelah sebelumnya bekerja di Malaysia. Banyak orang Indonesia bekerja di sini, entah itu di rumah tangga atapun mereka memiliki usaha sendiri. Di restaurant samping hotel tempat saya menginap, waitresnya juga gadis dari Madiun, Jawa Timur.  Maka tidak mengherankan kalau saya sering mendengar percakapan bahasa Jawa di beberapa tempat.

Penerbangan dari Kualalumpur ke Brunei Darussalam memerlukan waktu 2 jam. Brunei International Airport tampak kecil, rapi dan efisien. Perjalanan kali ini saya memesan shuttle hotel karena menurut informasi angkutan umum di sini agak susah dan harus menunggu lama. Maklum kebanyakan penduduk Brunei menggunakan mobil pribadi sehingga ( sepertinya) angkutan umum tidak begitu diperlukan.  Tetapi kita bisa menggunakan aplikas taksi online DART yang biayanya lebih murah dari taksi umum. Sopir yang menjemput saya di airport sangat ramah dan berbahasa Melayu yang mudah saya pahami. Baru ngobrol dengan sopir ini saja, saya sudah mendapat feeling saya akan suka perjalanan ini. Dan benar, saya menyukai perjalanan saya.

Brunei Darussalam memang bukan negara tujuan wisata. Tidak banyak yang bisa dilihat di sini. Tetapi jika anda suka bertemu orang-orang baru dari berbagai belahan dunia dan mempelajari karakter-karakter mereka maka anda akan suka berkunjung ke sini.  Kebanyakan orang Brunei ramah, hangat dan suka menolong. Setidaknya itu yang saya rasakan sejak saya datang. Mereka selalu tersenyum, memberi informasi detail tentang negaranya, dan sikapnya hangat. Saya yang memang suka tersenyum saat bertemu orang asing sekalipun jadi merasa nyaman di negara ini karena mereka juga tersenyum balik pada saya.

Terdiri dari 4 distrik yakni Belait, Brunei dan Muara, Temburong dan Tutong, negara kecil ini sangat sepi.  Penduduk asli mengatakan bahwa negara mereka ramai pada hari raya lebaran atau hari jadi Sultan. Saya memilih tinggal di Gadong, kawasan yang menurut informasi paling ramai karena banyak ruko, mall dan restaurant di banding tinggal di kawasan Bandar Seri Begawan yang jam 7 malam sudah sepi. Meskipun begitu untuk orang yang biasa tinggal di kebisingan Jakarta, Gadong inipun masih sepi.  Tetapi kondisi sepi ini tidak menakutkan, justru bagi saya terasa nyaman dan tenang.

Ada beberapa tempat wisata yang bisa anda kunjungi di Brunei Darussalam seperti Kampong Ayer, Masjid Omar Ali, Istana Nurul Iman, Jerudong Park, The Royal Regalia Museums dan Masjid Sultan Hassanal Bolkiah.  Saya baru mengunjungi Regalia Museums dan Masjid Omar Ali Saifuddin pada tulisan part 1 ini karena lebih suka banyak diam di masjid selain udara yang panas dan menghemat energi karena sedang puasa.

Regalia Museums terletak di pusat kota Bandar Seri Begawan dan buka setiap hari mulai pukul 9 pagi hingga pukul 5 sore kecuali pada hari Jum’at yang hanya buka pukul 9 pagi hingga pukul 11.30 siang.  Museum yang berisi tentang sejarah Brunei dan tribute untuk Sultan ini sangat menarik untuk dikunjungi dan gratis. Semua tempat wisata di Brunei tidak menggunakan tiket berbayar untuk memasukinya.

Tidak jauh dari Regalia Museums, hanya dengan berjalan kaki sekitar 10 menit saya menemukan Masjid Omar Ali Saifuddien. Masjid ini dinamai berdasarkan Omar Ali Saifuddien III, Sultan Brunei ke-28. Masjid ini diselesaikan pada tahun 1958 dengan arsitektur Islam modern yang memadukan arsitektur Mughal dengan gaya Italia. Masjid ini dibangun diatas laguna di tepi sungai Brunei di Kampong Ayer dengan menara kubah emas dan dilengkapi dengan taman indah yang mengelilingi masjid. Ada jembatan yang membentang diatas laguna menuju replika perahu kerajaan milik Sultan yang memerintah pada abad ke 16.

Saya merencanakan diam di masjid ini mulai ashar hingga waktu berbuka puasa. Ternyata menjelang berbuka puasa banyak pekerja migran dari India, Bangladesh dan Indonesia berkumpul di sini untuk berbuka puasa bersama. Saya kemudian bergabung dengan mereka berbuka puasa di sini. Banyak yang menyiapkan makanan dan minuman untuk orang-orang yang berbuka di masjid. Dan sayapun kebagian makanan itu. Di tengah para perantau yang mengais rezeki di tanah asing, saya merasakan buka puasa saya begitu berharga.

(to be continued)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hoi An, Vietnam : Lawas Dan Romantis

“Some folks call her a runaway. A failure in the race. But she knows where her ticket takes her. She will find her place in the sun”

― Tracy Chapman

Setelah Google map membuat saya nyasar-nyasar mencari tempat makan halal dan tidak menemukannya, saya tiba di jalanan besar dengan lalu lalang orang yang kebanyakan turis berambut pirang. Dengan penerangan lampion yang artistik di berbagai tempat, suasana malam menjadi hangat dan romantis.

“Nanti saya ingin bulan madu di sini,” Saya terpesona pada malam yang romantis dan bangunan-bangunan tua yang eksotis. “Kamu sudah memilih tempat bulan madumu, jadi yang mana calon suamimu?” Saya balas tertawa.

Hoi An merupakan kota kecil di Vietnam Tengah yang pada abad ke 15 hingga abad ke 19 merupakan pelabuhan dagang utama di Asia Tenggara dan menjadi pusat kerajaan Champa. Namun seiring runtuhnya dinasti Nguyen dan redupnya kejayaan Hoi An pelabuhan dagang itu pindah ke Da Nang, kota pelabuhan terdekat.  Hampir selama ratusan tahun, Hoi An tak tersentuh modernisasi sehingga sampai hari ini bisa kita nikmati eksotisme keaslian bangunan-bangunan tuanya yang berarsitek perpaduan Jepang dan Tiongkok.

Bahkan sejak 1999, Hoi An ditetapkan sebagai salah satu warisan dunia UNESCO sebagai pelabuhan dagang Asia Tenggara yang terawat dengan baik. Bangunan-bangunan tua ini pada masa kini digunakan sebagai hotel, kafe, ruko dan tempat tinggal yang masih terjaga keasliannya.

Untuk mencapai Hoi An diperlukan waktu satu jam perjalanan udara atau sekitar semalam perjalanan darat dari Hanoi, kota yang saya kunjungi sebelumnya di Vietnam Utara.Karena waktu saya sempit, saya menggunakan pesawat dari Hanoi sore hari dan tiba di Da Nang international airport malam hari.  Tidak ada bandara di Hoi An, jadi bandara terdekatnya adalah di kota Da Nang. Dari Da Nang dibutuhkan waktu 40 menit untuk sampai di Hoi An menggunakan taksi, shuttle bus atau bus. Karena saya tiba di Da Nang sudah malam, maka yang tersedia hanya taksi. Beberapa taksi yang direkomendasikan oleh para traveler adalah Mai Linh, Son Han, Tien Sa Da Nang, dan Vinasun taksi. Saya kemudian memilih Vinasun taksi. 

Karena sebelumnya saya kena scam taksi di Hanoi saat terjebak macet pengalihan jalan akibat Trump-Kim Hanoi Summit, jadi saya langsung curiga saat taksi membelah jalanan kota Da Nang dan argo taksi bergerak cepat menuju angka million. Saya langsung nyolek sopir taksi dan menanyakan jumlah argonya. Ternyata saya salah lihat koma di argo. Argo yang benar menunjukan ratusan, bukan million. Sopir taksi malah menertawakan kecurigaan saya dan ketika sampai di depan hotel malah mengembalikan uang tips yang saya berikan untuk menunjukkan kejujurannya. Saya jadi malu.

Tak hanya Hoi An The Ancient Town yang menarik buat saya, tapi ada satu tempat yang ingin saya kunjungi yaitu MYSON SANCTUARY komplek candi Hindu sebagai peninggalan kejayaan kerajaan Champa. Dari kota Hoi An dibutuhkan waktu satu jam untuk sampai di komplek MYSON menggunakan bus bersama banyak traveler yang lain. Terletak di perbukitan, candi-candi ini sebagian telah hancur karena perang Vietnam. MYSON juga salah satu warisan peninggalan dunia UNESCO yang banyak dikunjungi wisatawan.

Saya sendiri mengunjungi candi ini karena dalam Babad Tanah Jawi disebutkan bahwa salah satu putri Champa yang bernama Anawarati atau Dwarawati menikah dengan raja Majapahit Brawijaya V (Kertabhumi) dan sekarang makamnya ada di Trowulan Mojokerto. Jadi saya merasa tempat ini ada hubungannya dengan negara saya.

Bahkan dalam salah satu ruangan candi tampak patung Garuda yang sekarang menjadi lambang negara kita. Saya tidak paham benar soal candi-candi Hindu, tetapi yang menarik lagi kemudian adalah orang-orang Champa ini setelah bersinggungan dengan pedagang Arab kemudian beragama Islam. Mereka tersebar di Saigon, Vietnam selatan, Kamboja dan Thailand. Lokasi ini kemudian menjadi salah satu tujuan wisata yang menarik buat turis Asia maupun Barat. Dengan fasilitas yang nyaman, mobil terbuka hingga pintu masuk areal Myson dan kafe yang menyediakan makanan, pengunjung bisa menikmati kunjungannya dengan gembira.

Tetapi saya sarankan kalau berkunjung ke tempat ini lebih baik pagi hari karena jika siang hari panasnya luar biasa.
Sebagai kota pelabuhan, Hoi An sudah jelas lebih panas dibanding Hanoi. Keindahan kota ini akan tampak pada sore saat sunset hingga malam hari lampion-lampion menyala. Sungai yang membelah tengah kota tua semarak dengan perahu-perahu sewaan yang membawa pasangan-pasangan romantis diterangi temaram lampion. Saat teman saya mengajak naik, saya malah memilih duduk di sisi sungai melihat beberapa wanita tua yang menjual lampion kecil dalam wadah kertas untuk dilarung ke atas sungai.

Orang-orang berjuang untuk hidup tentu saja, ketika pasangan-pasangan romantis naik perahu, nenek-nenek tua ini berjuang menjual lampion-lampion kecil untuk melanjutkan hidupnya.  Saya ingin menghabiskan malam ini sampai pagi di tepi sungai, tetapi saya salah duga. Tepat jam 9, setelah saya mencicipi kopi Vietnam di salah satu kafe, lampion-lampion mulai mati. Kafe-kafe juga mulai closing dan mengusir pembelinya.

Turis-turis mulai pulang ke hotel masing-masing. Begitu saya, akhirnya memutuskan kembali ke hotel. Lebih lucu lagi ternyata hotel sudah mematikan semua lampu dan penjaga tidur di depan pintu masuk. Tepat jam 10 malam, kota romantis ini telah mati.

Saya sudah mengunjungi beberapa kota tua di beberapa negeri seperti Edinburgh Old Town di Inggris, Phuket Old Town di Thailand, Kyoto Old Town di Jepang, Takayama Old Town di Jepang,  Jeonju Hanok village di Korea, Geneva Old Town di Geneva Swiss dan saya jatuh cinta pada Hoi An The Ancient Town dibanding yang lainnya. Saya akan kembali lagi untuk bulan madu. Semoga.

Hanoi, Vietnam : Kota Ramah Di Tepi Sungai Merah

“Every new friend, is a new adventure, the start of more memories… – Patrick Lindsay.
Pagi baru dimulai saat pesawat yang saya tumpangi mendarat di bandara Noi Bai international airport Hanoi, Vietnam utara.  Waktu tempuh dari Kualalumpur ke Hanoi sekitar 2 jam penerbangan. Belum meletihkan untuk satu perjalanan udara bahkan saya bisa menikmatinya.  Ini kedua kalinya saya menjejakkan kaki di Vietnam setelah sebelumnya pada tahun 2011, saya mengunjungi Saigon, Ho chi Minh, Vietnam selatan.
 
Noi Bai International airport tidak terlalu megah. Begitu selesai urusan imigrasi, hanya perlu berjalan sebentar sudah berhadapan dengan pintu keluar utama.  Setelah mematuhi nasehat pejalan lain untuk menukarkan uang USD yang saya bawa dari Indonesia di Songviet Corp Currency Exchange karena nilai tukarnya lebih bagus dari money changer yang lain dan tidak memotong biaya apapun, saya segera keluar pintu utama.  Bus bernomor 86 akan membawa saya ke pusat kota Hanoi. Bus stop 86 terletak di sisi kiri setelah keluar pintu utama airport. Hanya dengan tiket seharga 35.000 VND atau sekitar Rp. 22.000,  bus berwarna kuning yang mirip TransJakarta dan nyaman ini akan membawa saya ke pusat kota. Rata-rata backpacker dari berbagai negara menggunakan bus ini karena dipastikan lebih murah dibanding taksi atau angkutan online. Di Hanoi juga beroperasi Grab car dan Grab Bike, meskipun saya tidak sempat mencoba angkutan online itu karena lebih banyak berjalan kaki atau naik bus. 
Saya meminta kondektur agar memberi tahu saat bus tiba di Old Quarter tempat saya menginap, yang ternyata masih harus berjalan sekitar 1 kilometer dari halte tempat saya turun menuju hotel. Tetapi keramahan resepsionis hotel membuat keletihan saya mencari lokasi hotel hingga nyasar-nyasar langsung hilang. Saya suka cara mereka memperlakukan tamu. Sopan, ramah, hangat dan ringan tangan untuk membantu.  
Hanoi merupakan ibukota Vietnam yang dahulu berfungsi sebagai ibukota Vietnam Utara. Terletak di tepi kanan Sungai Merah, Hanoi memiliki iklim yang lembab ; saat musim panas sangatlah panas dan lembab namun pada musim dingin, relatif dingin dan kering.  Bulan Februari ini Hanoi masih dingin dan berkabut. Hujan juga masih turun jadi jaket dan jas hujan sangat diperlukan.  Vietnam yang bernama resmi Republik Sosialis Vietnam ini merupakan negara paling timur di Semenanjung Indochina, Asia Tenggara. Berbatasan dengan Tiongkok di sebelah utara, Laos di sebelah barat laut, Kamboja di sebelah barat daya dan Laut China Selatan membentang di sebelah timur.

 

Sebagai backpacker muslim, tantangan saya di setiap perjalanan adalah mencari makanan halal.  Makanan halal di Hanoi tidaklah sulit, meski juga tidak gampang ditemukan. Di areal Masjid Al Noor, Hang Luoc street ada kantin kecil yang menyediakan makanan halal dengan menu-menu yang sangat enak. Sore setelah istirahat sejenak, saya memasuki kantin kecil itu dan bertemu banyak muslim dari berbagai negara. Seperti layaknya saudara yang lama tidak berjumpa, kami langsung akrab dan berbagi kursi. Beberapa orang lelaki bahkan makan di emperan masjid karena kursi kantin sudah penuh. Saya setuju dengan saudara dari Malaysia bahwa makanan di sini sangat enak. Bahkan hanya dengan menu tumis kangkung saja rasanya luar biasa. Mungkin juga karena saya sangat kelaparan.   
  
Tak hanya di Masjid Al Noor, saya juga mencoba restaurant halal India PK Spice Restaurant di Hang Manh street yang terletak di kawasan Old Quarter. Jadi untuk teman-teman muslim yang akan berkunjung ke Hanoi tidak perlu khawatir mencari makanan halal, memang tidak banyak tetapi mudah ditemukan jika anda menginap di kawasan Old Quarter.
Hanoi Old Quarter merupakan tempat yang terdiri dari 36 ruas jalan dan telah berusia lebih dari 1000 tahun. Berbagai gerai toko berada di ruas jalan ini seperti cinderamata, obat-obatan herbal, baju, sutera pelangi, bunga dan banyak lagi. Ruas-ruas jalan ini dinamai berdasarkan produk yang dijual. Old Quarter menurut saya sangat menarik, apalagi di kawasan ini juga terdapat beberapa tempat wisata seperti Ba Ma Temple, Danau Hoan Kiem, Ngoc Son temple, Viatnemese Women’s Museum, Dong Xuan Market dan beberapa tujuan wisata menarik lainnya.  Saya lebih suka berjalan kaki menyusuri 36 ruas jalan di Old Quarter meskipun bisa menggunakan Cyclo, atau becak khas Vietnam. Setelahnya bisa berjalan menuju tepi danau Hoan Kiem untuk  duduk menikmati senja. 

 

“Where are you from?” tanya seorang lelaki pejalan saat saya duduk di salah satu meja kapal Halong Bay esok harinya.  “Indonesia,” jawabku sambil duduk di hadapannya. Seorang perempuan berambut pirang, satu lagi berwajah melayu berambut keriting dan satu lagi mengenakan jilbab duduk di samping lelaki itu. “Oh, i see. Nasi goreng right? I like nasi goreng,” lanjut lelaki itu.  Dan pembicaraan kami mengalir lancar disertai gurauan. Meraka dari Australia, Philipina, Malaysia dan Brazilia. Keempatnya solo traveler yang dipertemukan dalam bus menuju Halong Bay dan sudah pernah berkeliling Indonesia sampai ke lekuk-lekuknya sementara saya yang asli Indonesia malah belum. Oke, pertemuan yang menarik di meja kapal Halong Bay, semenarik tempat yang sudah sangat lama ingin saya kunjungi ini.

 

Teluk Halong merupakan teluk di sebelah utara Vietnam yang berbatasan dengan Tiongkok dan berjarak sekitar 170 km dari Hanoi. Saya memesan paket tour dari Klook karena tidak bisa pergi naik motor sendirian dan juga tidak tahu caranya jika harus pergi sendirian. Klook menurut saya sangat recomended karena profesional pelayanan dan guidenya yang tanggap juga ramah. Saya dijemput di hotel dan bertemu peserta lain di salah satu jalan kawasan Old Quarter dan pulangnya diantar ke jalan dekat hotel lagi. Bus yang saya naiki juga bagus dan nyaman, termasuk makanan dan kapal di Halong Bay. Bahkan request halal food saat memesan tiket secara online juga disediakan ketika makan bersama di kapal.  Secara khusus sang guide menyajikan sepiring makanan halal khusus. 

 

Teluk Halong sejak tahun 1994 ditetapkan sebagai warisan dunia oleh Unesco, bahkan pada tahun 2012, teluk ini menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia versi New 7 Wonders Foundation. Teluk ini terdiri dari 1900 lebih pulau-pulau kapur yang menjulang dramatis. Beberapa pulau memiliki goa yang besar dan cantik seperti goa Hang Dau Go yang merupakan goa terbesar di kawasan Halong. Mengunjungi teluk ini, saya seperti diseret ke tempat asing yang mistis dan luar biasa indah. Kabut yang menyelimuti pulau-pulau kapur yang menjulang itu menambah kecantikan teluk ini. Sayangnya saya belum sempat mengekplor lebih dalam kehidupan penghuni teluk ini karena waktu yang sempit. Jadi saya hanya bisa menikmati keindahannya sebagai turis tanpa mengetahui kehidupan penghuninya.  Saya ingin kembali dan bertemu penghuninya suatu saat nanti.
Hanoi yang cantik, penduduknya yang ramah dan teman perjalanan saya yang menyenangkan, membuat perjalanan singkat saya sangat berkesan. Saat resepsionis meminta maaf jika ada kekurangan selama saya tinggal di sana, lalu bersama tiga petugas hotel lainnya mengantarkan saya ke mobil yang akan mengantar saya ke bandara, mendadak saya gelisah. Saya seperti hendak berpisah dengan saudara-saudara saya sendiri. Saya enggan pergi, tetapi pejalan harus terus berjalan meski hati saya tertambat di Hanoi.

 

 

 

Aku, Bapak Dan Ombak

“Masa lalu hanyalah spion untuk melanjutkan perjalanan ke depan yang lebih baik lagi.”

Saat usiaku 11 tahun, aku beberapa kali duduk di tempat ini bersama Bapak. Setidaknya tiga kali dalam setahun saat Bapak datang mengunjungiku untuk membubuhkan tandatangan di raport kenaikan kelasku, Bapak memberiku hadiah jalan-jalan ke tempat ini. 

                    “Ini baru anak perempuan Bapak, juara terus!” katanya seraya menandatangani raport dan berusaha menjangkau kepalaku. Aku mengambil raport itu lalu menghindar pergi sebelum tangan Bapak menyentuh kepalaku. 

Senja hari, Bapak akan memaksaku memberi hadiah jalan-jalan ke tempat ini. Laut dan ombak. Tempat menakutkan yang tidak aku sukai meskipun aku tumbuh di desa pesisir. Ibu sering menakut-nakutiku tentang ombak, air pasang dan orang tenggelam di lautan agar aku tidak keluyuran seperti teman-teman masa kecilku. Karenanya aku ketakutan melihat laut dan ombak. Setiap Bapak mengajakku duduk di sini, aku menahan ketakutan yang parah ombak akan datang menenggelamkan kami. Lalu aku memilih menunduk pura-pura bermain pasir.

“Jadi perempuan jangan penakut. Ombak yang kamu hadapi dalam hidup nanti akan lebih besar,” katanya menarik lenganku mendekat lalu memelukku dari samping. Aku tak pernah nyaman dalam pelukannya. Ada dinding tinggi yang tak terlihat di antara kami.  Kaku dan beku.  Bapak tidak sanggup merobohkan dinding itu dan aku tidak ingin menembusnya. Kami seolah hanya bisa melihat dari seberang tanpa bisa menyentuh kedalaman hati masing-masing.

Lalu matahari memerah dan air laut berubah keemasan. Bapak akan menikmati pemandangan indah itu sambil menghela napas takjub.  Aku tahu, dalam benaknya pasti sudah tersusun kisah-kisah baru yang direkanya sendiri.  Nanti saat manggung wayangan, sebagai Dalang, Bapak akan menyelipkan kisah-kisah rekaannya itu untuk dinikmati penontonnya.  Selain seorang guru, Bapak juga seorang pencerita.

Tidak kusangka, belasan tahun kemudian saya juga suka mereka-reka cerita, menikmati senja dan memburu ombak.  Semua ketakutan tentang ombak, air pasang dan orang tenggelam telah lenyap.  Karena seringkali ombak kehidupan lebih ganas dari ombak di lautan. Aku masih bisa menikmati indahnya senja di lautan, tetapi dalam kehidupan terkadang hanya kegelapan.   

Kini, 12 tahun sudah Bapak pergi.  Lebih dari waktu itu pula aku berusaha menembus dinding diantara kami, dan Bapak berusaha merobohkannya dengan berbagai cara meski terkadang cara itu salah.  Aku tahu, kami telah berhasil.  Aku memaafkannya, mengikhlaskan semuanya dan kemudian jika masih mungkin mencintainya dalam doa. Semoga Bapak memaafkan juga. Tidak ada dinding itu lagi diantara kami.  Bahkan cinta tak perlu banyak dikatakan untuk disebut cinta.  Cinta tak harus selalu bersama untuk disebut ada.  Namun hati kami akan mengikatnya meski alam telah berbeda.

Misenska Praha : Library Cafe Yang Tenang

“Happiness is a cup of coffee and a good book”

Pagi baru dimulai saat kami tiba di Praha, Republik Ceko, setelah semalaman naik bus dari Budapest. Hanya dengan sekali naik tram dari stasiun Praha sampailah kami di Flora. Tepat jam 8 pagi kami sudah berdiri di depan apartemen Miroslav, tempat kami menginap selama di Praha.  Satu jam menunggu di depan pintu apartemen, Miro, begitu panggilan cowok gondrong berwajah ramah itu muncul dari arah lain. Rupanya ia tinggal di apartemennya yang lain dan kami datang kepagian. 

 

Apartemen Miro
Apartemen Miro terletak di bangunan tua yang liftnya lawas terbuat dari kayu dan sangat antik. Tetapi menurut Miro kebanyakan lift di Praha memang antik seperti itu.  Meskipun beberapa apartemen sekeliling tampak tua dan kusam, tetapi bagian dalam apartemen milik Miro modern, rapi, bersih dan nyaman. Selain semua fasilitas yang lengkap di apartemen, Miro juga menyediakan banyak makanan instant, kopi, teh, gula pasir, roti, buah-buahan bahkan wine seandainya kami bisa meminumnya. Apartemen Miro merupakan tempat ternyaman kami menginap selama keliling Eropa sebulan.  Setelah menunjukkan peta, brosur wisata dan sedikit petuah bagaimana menjelajah Praha, Miro mempersilakan kami istirahat.

 

Praha yang romantis dan magis
Menjelajahi kota Praha seperti memasuki kota abad silam. Hampir semua bangunan tua berarsitektur gothic, renaissance hingga baroque style terawat dengan baik dan menjadi daya tarik yang kuat bagi wisatawan dari seluruh dunia. Pemandangan di setiap sudut kota tampak romantis sekaligus magis.  Setelah menjalajahi Old Town Square, Jam astronomis, St. Nicholas Curch, hingga naik ke puncak menara gerbang Charles Bridge untuk melihat pemandangan di kejauhan yang luar biasa indah kami mulai kelelahan dan lapar.  Seorang teman mengusulkan kami menyeberang Charles Bridge lalu beristirahat di Misenska kafe. 
Misenska
Tidak jauh dari Charles Bridge, Misenska kafe terletak di deretan pertokoan unik yang menjual souvenir khas Praha, beberapa hostel dan restoran.  Memasuki Misenska kafe seperti memasuki sebuah rumah tinggal yang tenang.  Kafe masih sepi, mungkin karena belum jam makan siang, ketika kami memilih duduk di areal taman dan seorang waitres memberikan buku menu. Kafe ini buka setiap hari mulai jam 10 pagi hingga jam 10 malam. Di bagian depan tampak perpustakaan kecil berisi berbagai buku yang bisa dibaca para pengunjung kafe sambil duduk santai.   
Library Misenska Cafe
   
Bagian dalam Misenska Cafe
Karena tidak menyediakan menu berat, kami memesan kopi, coklat panas dan cemilan.  Kopi yang disajikan di Misenska kafe tidaklah istimewa seperti kebanyakan kafe lain yang menyediakan Espresso, Cappucino, Caffe latte dan Ice Caffe.  Tetapi pengunjung sepertinya menyukai tempat ini karena suasananya yang tenang dan nyaman. Saya melihat beberapa pengunjung yang baru datang langsung masuk ke perpustakaan memilih-milih buku lalu membawanya ke bagian dalam untuk dibaca seolah tempat ini rumahnya sendiri.  Beberapa pengunjung yang lain berbincang tetapi suaranya rendah sehingga tidak mengganggu pengunjung yang lain.

 

Buku Menu Misenska Cafe

 

Hot Chocolate

 

Coffee, Hot Chocolate dan Cemilan

 

Menurut informasi kota ini lebih terkenal dengan minuman bir-nya, sehingga saya tidak banyak mendapatkan informasi menarik tentang kopi. Tetapi kafe-kafe unik di setiap sudut kota Praha sangat menarik untuk dicoba.  Setelah dua jam menikmati ketenangan Misenska kafe, saya melanjutkan penjelajahan.  Praha merupakan tempat romantis sekaligus magis yang membuat saya ingin kembali suatu saat nanti.*

 

Baduy : Jalinan Persaudaraan 15 Tahun

“Panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung, kurang tidak boleh ditambah, lebih tidak boleh dikurang,” (Pepatah Suku Baduy yang maknanya manusia harus jujur apa adanya)

Rumah Suku Baduy

Hampir tiga minggu saya tidak bisa menulis karena writer’s block. Beberapa deadline berantakan. Semakin saya memaksakan diri untuk menulis, semakin saya kacau.  Saya harus pergi ke suatu tempat yang membuat otak saya fresh.  Lalu, saya memutuskan pergi ke Baduy,  dengan pertimbangan saya bisa jalan-jalan ke hutan sekaligus bertemu saudara Baduy yang pernah saya kunjungi sebelumnya.

Jalan menembus hutan ke perkampungan Baduy

 

Hutan menuju perkampungan Baduy

 

Sungai jernih di Baduy

Ini ketiga kalinya saya ke Baduy.  Pertama kali ke Baduy tahun 2003, mengikuti teman mahasiswa yang sedang penelitian, lalu tahun  2008, riset untuk novel yang sampai hari ini belum juga ditulis. Dari ketiga kunjungan itu saya menginap di tempat yang sama yaitu di rumah Kang Sarpin Baduy luar yang kemudian saya anggap sebagai saudara. Saya mengagumi keluarga Kang Sarpin dan mengikuti perjalanan keluarga ini dari anak-anak mereka kecil hingga tumbuh dewasa.  Jika ada yang bilang ikatan persaudaraan tidak hanya terjadi karena ikatan darah, maka saya menemukan ikatan persaudaraan ini dengan keluarga Kang Sarpin. 
Tahun 2003, pertama kali ke Baduy bertemu Kang Sarpin
 

Tahun 2008, kedua kalinya ke Baduy, Marno anak Kang Sarpin masih kecil
Tahun 2018, ketiga kalinya ke Baduy, Marno anak Kang Sarpin sudah remaja.
Orang-orang yang belum pernah ke Baduy selalu berpikir bahwa Baduy itu seram, susah dijangkau dan antah berantah. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Sebelum ada KRL, memang agak menyebalkan naik kereta dari Jakarta ke Rangkasbitung dengan kondisi kereta yang buruk. Tapi setelah ada KRL perjalanan menjadi sangat gampang. Kita hanya perlu naik KRL dari Tanah Abang ke Rangkasbitung dengan biaya Rp.13.000 selama 2 jam perjalanan lalu disambung dengan mobil ELF ke Ciboleger dengan biaya Rp.25.000 selama 2 jam perjalanan. Dari Ciboleger kita jalan kaki menembus hutan sekitar 1 jam dengan jarak 2 kilometer, baru kemudian sampai di perkampungan Baduy.
Salah satu rumah suku Baduy

 

Kampung Gajeboh Baduy

Gadis mencuci di Sungai
Dari ketiga kali kunjungan saya, Baduy luar mengalami banyak perubahan mulai dari jalanan yang semula tanah menjadi batu-batu berundak sehingga memudahkan para pejalan, rumah-rumah yang semakin rapih serta manusia-manusianya yang menjadi lebih terbuka. Tetapi Baduy tetap sama di mata saya. Tempat ini bukan tempat wisata buat saya, tetapi tempat untuk mencerahkan pikiran dan menata ulang sudut pandang.  Sebagai orang yang tinggal di Jakarta, saya tidak perlu kecentilan mencari sensasi dengan terkaget-kaget tidur di balai-balai, mandi di pancuran terbuka, makan dengan ikan asin atau bergelap-gelap tanpa listrik. Saya lebih suka memasuki alam pikiran warga Baduy yang sederhana, apa adanya dan damai. Bahkan saya mengagumi cara mereka bertemu di jalanan, berhenti sejenak, saling menyapa hangat seperti semut-semut yang bertemu saudaranya.  Karena itu semua, saya lebih suka ke Baduy sendirian bukan bersama rombongan sehingga saya bisa maksimal hidup di tengah-tengah mereka meskipun hanya beberapa hari.
Laki-laki suku Baduy
 

Kegiatan para wanita menenun

Berjalan menembus hutan
Kegiatan yang bisa dilakukan di perkampungan ini adalah pergi ke sungai, menyusuri beberapa perkampungan yang sudah terhubung dengan jembatan bambu dan jalanan batu berundak sehingga sangat mudah untuk menjelajah sendiri sekalipun, ikut tuan rumah ke ladang ikut para wanita belajar menenun dan berkunjung ke Baduy dalam. Jarak Baduy dalam dari Baduy luar sekitar 10 km berjalan kaki. Adat istiadat di Baduy dalam lebih ketat, misalnya kita tidak boleh mandi menggunakan sabun saat mandi di sungai dan hanya menggunakan lampu minyak kecil pada malam hari.  Jika di Baduy luar masih tersedia bilik-bilik pancuran untuk mandi, di Baduy dalam harus ke sungai.
Malam di rumah Suku Baduy
 

Ambu kesayangan, istri Kang Sarpin

 

Gadis-gadis kecil Suku Baduy yang cantik

Saya mencintai Baduy sejak pertama saya datang berkunjung.  Malam-malam gelap di bawah cahaya bulan dan bintang, udara dingin yang membuat tubuh menggigil, suara anjing yang menggonggong di hutan, laki-laki yang bersenandung lagu Sunda sambil berjalan dalam gelap, suara langkah kaki bersahutan dalam hening malam dan tawa lirih para gadis yang duduk di emper rumah menunggu kantuk.  Saya sering berharap malam tidak cepat berlalu saat menginap di Baduy, karena malam-malam di perkampungan ini sangat indah.  Membuat otak saya terbuka, membersihkan sampah yang selama ini terkeliaran tanpa manfaat di kepala saya dan menghadirkan energi-energi positip baru. Selama perkampungan Baduy ini masih ada, saya akan terus kembali. 

Amsterdam : Terjebak Di Tengah Keriuhan Suporter Bola

“Amsterdam is like the rings of a tree: It gets older as you get closer to the center.” – John Green

Setelah dua jam perjalanan menggunakan pesawat Easy Jet dari Praha, sampailah saya di Bandara Schiphol Belanda. Ini adalah negara terakhir yang saya kunjungi setelah 6 negara Eropa lainnya dalam rangkaian saya backpacker satu bulan. 
 
Belanda merupakan satu-satunya negara Eropa yang secara psikologis membuat saya merasa nyaman dan betah. Mungkin karena di negara ini saya dengan mudah menemukan orang Indonesia, makanan Indonesia dan warga lokal yang lumayan ramah. Namun harga penginapan di kota ini paling mahal dan paling sulit dicari dibandingkan dengan 6 negara Eropa lainnya. Bahkan kami terpaksa menginap di Amstelveen yaitu kota pinggiran Amsterdam untuk mendapatkan harga yang sesuai dengan kantong.
Dan mulailah penjelajahan kami di Amsterdam. Dari Amstelveen, kami harus naik tram sekitar 45 menit untuk sampai kota Amsterdam. Hari cukup terik dan saya memiliki beberapa tujuan yang ingin saya kunjungi. Pertama mencari makanan halal dan murah, kedua mengunjungi Rijksmuseum, ketiga menyusuri kanal-kanal Amsterdam dan keempat pada malam harinya saya ingin melihat Red Light District. Perkiraan saya, sampai tengah malam saya akan menghabiskan waktu menjelajahi pusat kota Amsterdam. 
 
Setelah tujuan pertama yaitu makan di tempat halal dan murah terpenuhi, saya segera melanjutkan ke tujuan kedua yaitu Rijkmuseum. Tetapi ketika melewati kanal-kanal menuju Rijkmuseum mendadak kami bertemu rombongan suporter bola yang berjalan beriringin, meneriakkan yel-yel dan semakin lama semakin banyak. Pada saat itu menjelang final liga Eropa Ajax vs MU 2017 yang pertandingannya sendiri berada di Stockholm Sweden. 
Namun keramaian para supporter Ajax yang nonton bareng di pusat kota Amsterdam itu luar biasa. Sebelumnya saya yang memang kurang paham bola mengira pertandingan berada di stadion sekitar pusat kota sehingga orang-orang bergerak bersamaan menuju stadion. Ternyata saya salah. Tak hanya nonton bareng di tempat terbuka, banyak kafe-kafe yang juga menjadi tempat berkumpul untuk nonton bola. Jalan menjadi begitu penuh dan tidak nyaman, apalagi seorang teman perjalanan saya sempat hilang dalam kerumunan supporter. Saya kemudian memutuskan untuk menunggu suasana lebih tenang dengan memasuki salah satu mall kecil untuk memesan kopi sambil menunggu teman yang hilang kembali.
Sekitar 15 menit saya menikmati kopi, sms peringatan masuk ke hp dan berbahasa Belanda. Mendadak saya ketakutan berada di tempat riuh dan asing seperti itu. Saya mulai panik mengingat beberapa hari sebelumnya rangkaian bom meledak di Inggris lalu halte Kampung Melayu Jakarta. Karena saya tidak paham bahasa Belanda, seorang cowok Belanda menjelaskan bahwa itu peringatan sebaiknya saya segera kembali ke rumah. Semakin malam, biasanya dalam pesta bola seperti itu banyak orang mabuk dan bisa saja terjadi keributan. Maka setelah teman saya yang hilang kembali, kami memutuskan untuk kembali ke hotel.
 
Begitu keluar mall kecil itu, kami segera disambut rombongan-rombongan supporter yang semakin banyak dan semakin gaduh. Satu jam menunggu di halte tram akhirnya kami sadar bahwa semua tram yang menuju dan keluar kota Amsterdam dihentikan. Kepanikan mulai terjadi bagaimana kami harus kembali ke hotel, sedangkan untuk naik mobil online juga tidak memungkinkan. Tapi seorang wanita Asia yang baru pulang bekerja mengajak kami jalan bersama menuju stasiun lain yang cukup jauh tetapi masih dilewati tram menuju Amstelveen. Seorang warga lokal yang kebetulan bersama kami menuju stasiun menertawakan kami yang liburan tapi terjebak di tengah-tengah supporter bola. “It’s wonderful, huh!?” katanya sambil tertawa.
Dan semua tujuan yang ingin kami kunjungi hari itu gagal karena terjebak di tengah supporter bola. Tapi besoknya kami masih punya waktu untuk kembali menjelajahi Rijkmuseum, kanal-kanal tua Amsterdam dan Red Light District. Saya akan ceritakan di tulisan selanjutnya. Amsterdam, kota itu membuat saya ingin kembali dan tinggal lebih lama.

Kleines Cafe Vienna, Austria : Nikmatnya Kopi Dalam Romantisme Before Sunrise

“You can’t buy happiness, but you can buy coffee, which is pretty close.”

Senja mengambang di jendela dapur rumah Aurora saat saya membuka kulkas untuk mengambil air es.  Sudah pukul 9 malam tapi matahari turun begitu pelan. Aurora, si pemilik rumah sedang pergi liburan bersama putrinya dan mengijinkan kami memakai seluruh ruangan rumahnya, sementara teman perjalanan saya sedang berburu tiket opera. Saya punya waktu sendirian di depan jendela membayangkan pertemuan Jesse dan Celine sebelum menjelajahi Vienna berdua dalam film Before Sunrise. 
 

Mengunjungi Vienna bagi penggemar film Before Sunrise artinya menjelajahi lokasi shooting Jesse dan Celine, salah satunya Kleines Cafe.  Tidak hanya karena romantisme film Before Sunrise jika esok harinya saya mengunjungi Kleines Cafe, tapi  pada tahun 2011, “Viennese Coffee House Culture” masuk dalam daftar “Intangible Cultural Heritage” (warisan budaya non-benda) dari Unesco.  Selain sebagai kota musik yang tenar di seluruh dunia, kedai-kedai kopi (Wiener Kaffeehaus) memiliki peranan penting yang membentuk kekayaan budaya di Vienna. 
Menurut informasi dari seorang teman Austria, kedai-kedai kopi di Vienna menjadi tempat pertemuan dan berdiskusi para musisi, penulis dan berbagai jenis kalangan untuk saling mengungkapkan ide bahkan mengkritisi karya. Di antara aroma kopi, deru mesin espresso dan hilir mudik pengunjung kedai kopi, mereka melahirkan ide-ide hebat. 
Saya menemukan lokasi Kleines Cafe setelah tersesat di gang-gang sempit yang artistik. Terletak di Franziskanerplatz 3, cafe ini kecil dan terkesan sederhana. Hanya terdapat 4 meja di ruangan dalam, sebuah meja bar dan selebihnya di luar kafe.  Saya memutuskan masuk ke bagian dalam kafe karena di luar telah penuh. Seorang lelaki tua pelayan kafe, menyambut ramah dan mempersilakan kami duduk.  Beberapa pengunjung sibuk dengan kegiatan masing-masing ; membaca koran, mengetik di laptop, bahkan ada yang sedang menulis musik. Pelayan kafe menyodorkan kami daftar menu.  Selain menu breakfast dan lunch, ada beberapa jenis kopi seperti  Kleiner Brauner (kopi espresso dengan cream), Verlangerter Verkehrt (kopi latte) dan coklat panas.  Saya memilih kopi latte yang lembut dan sepotong kue yang tidak terlalu manis. 

Kedai kopi pertama didirikan di Vienna pada tahun 1685.  Tetapi sempat mengalami kelesuan pada tahun 1950-an ketika orang-orang lebih memilih menonton televisi di rumah ketimbang bertemu di kedai kopi. Tapi kemudian kedai-kedai kopi ini hidup lagi dan berjaya hingga saat ini. Di beberapa kedai yang masih klasik, biasanya pengunjung dihibur oleh iringan piano dan disuguhi makanan khas Vienna.
Beberapa jam duduk di Kleines Cafe, saya membayangkan romantisme Jesse dan Celine di Before Sunrise.  Kedai kopi tua bergaya bohemian ini tak hanya menghadirkan romantisme yang memikat tapi juga bisa memunculkan ide-ide menarik di kepala. Pelayan tua-nya yang ramah dan membawa dompet wanita berwarna merah berisi uang logam kembalian, pengunjungnya yang tenang dan tidak berisik serta keakraban mereka yang ngobrol di tenda luar kedai.  Setelah kafein di gelas terkuras, ide-ide liar itu akan bermunculan di kepala membuat orang-orang kreatif tak ingin meninggalkan kedai kopi ini lebih cepat.  Seandainya masih ada waktu saya ingin berlama-lama di sini, sayangnya saya harus segera kembali.  Kleines cafe menyisakan kenangan buat orang-orang yang bertualang dengan ide.

Kopi Kong Djie Belitung : Menikmati Arabika Dan Robusta Dalam Satu Cangkir

“Adventure in life is good; consistency in coffee even better. (Justina Chen)”

Matahari belum tinggi saat mobil kami membelah jalanan Belitung yang rapih dan bersih. Sebelum menjelajah pantai di Belitung Selatan, kami memutuskan untuk singgah di kedai kopi paling otentik di Belitung yaitu kedai kopi Kong Djie. Terletak di jalan Siburik Barat Tanjung Pandan depan Gereja Regina Pacis, kedai kopi ini sudah berdiri sejak 1943. Mungkin ini bukan kedai pertama yang ada di Belitung tetapi setidaknya kedai kopi  yang masih mempertahankan keotentikannya selama 75 tahun.

 

Bangunan kedai kopi Kong Djie tampak tradisional, sederhana dan kecil. Mungkin hanya bisa menampung sekitar 50 pengunjung baik di bagian luar kedai maupun di dalam kedai. Karena bagian luar penuh, kami memutuskan mencari tempat duduk di bagian dalam satu meja dengan warga lokal yang ngopi pagi sambil bercengkerama.  Berbagai lapisan masyarakat berbaur dalam aroma kopi dan candaan yang hangat.  Sambil menunggu dua cangkir kopi susu pesanan yang merupakan favorit di kedai ini, kamipun terlibat obrolan dengan warga lokal.  Menurut mereka, masyarakat Belitung selalu mengawali dan mengakhiri hari-harinya dengan segelas kopi. Pagi sebelum beraktivitas mereka menyulut semangat dengan segelas kopi dan malam sepulang aktivitas  juga melepas penat dengan segelas kopi.  Kedai Kong Djie buka mulai pukul 5 pagi hingga 4 sore. 

 

 

Tak lama pesanan kopi susu kami datang.  Sebenarnya tak hanya kopi susu yang laris dipesan di kedai ini, namun juga kopi O dan kopi hitam. Saya menyesap kopi perlahan dan merasakan nikmatnya kopi susu yang lembut.  Memakai campuran kopi Arabika dan Robusta serta resep rahasia peninggalan keluarga, kopi ini dimasak dalam tungku arang supaya aromanya keluar.  Agar kopi tidak terbau apek, air yang digunakan untuk menyeduh harus benar-benar mendidih. Ada tiga ceret  yang digunakan untuk memasak kopi ini, satu berukuran paling tinggi dan dua yang lain berukuran setengahnya.  Ketiga ceret ini dahulu terbuat dari tembaga, namun sekarang sudah dimodifikasi menggunakan bahan aluminium. Perubahan bahan ceret ini tidak akan mengubah kenikmatan rasa kopi yang dihasilkan. Tak hanya menjual kopi, kedai Kon Djie juga menyediakan makanan kecil seperti donat, pastel, gorengan dan telur ayam setengah matang.

 

Duduk di dalam kedai kopi yang sudah berumur 75 tahun dan dipertahankan keotentikannya, membuat saya melamunkan masa tahun 1943.  Saat itu Indonesia belum merdeka dan masih dalam penjajahan Jepang.  Menurut pemiliknya yang merupakan generasi penerus kedai kopi Kong Djie, keluarganya yang bermarga Ho, Tionghoa terpaksa menyeberang dari Bangka ke Belitung karena kelaparan pada masa penjajahan Jepang.  Mereka kemudian mendirikan kedai kopi Kong Djie.  Kata Kong Djie sendiri berasal dari bahasa Hakka (bahasa yang dituturkan oleh orang Hakka di pegunungan Guangdong, Tiongkok), Kong artinya terang, sementara Djie adalah nama untuk anak kedua. Kedai ini memiliki beberapa cabang dengan mengadopsi sistem franchise yang hanya meminjam brand sementara bahan baku diambil dari Kong Djie. Di franchise ini pula, Kong Djie menempatkan satu peracik kopi yang telah menguasai racikan kopi mereka. Karena tidak ada perkebunan kopi di Belitung kedai kopi Kong Djie terpaksa mengambil pasokan kopi dari pulau Jawa dan Sumatera. 

 

 

Segelas kopi susu di cangkir kami telah tandas dan warga lokal yang menemani kami telah berangkat beraktivitas. Tapi saya enggan meninggalkan kehangatan kedai kopi ini. Saya bisa merasakan perjuangan masa lalu yang hebat, tradisi yang mengikatnya dan sejarah yang terbentuk selama 75 tahun di kedai ini. Mungkin benar kata-kata yang pernah saya baca, Tuhan menciptakan kopi agar kita bisa berteman, bercengkerama, tertawa dan saling memahami. Dan itu semua saya temukan di kedai kopi Kong Djie.

 

Belitung, Ketika Alam Membuatku Jatuh Cinta

“Kata orang Indonesia adalah potongan surga yang jatuh ke bumi, dan mungkin Belitung salah satu potongannya.”

Matahari belum tinggi saat saya membelah jalanan kota Tanjungpandan yang basah setelah hujan semalam.  Kota yang bersih, jalanan beraspal halus dan suasana yang lengang membuat saya seperti memasuki sisi dunia lain setelah keluar dari kebisingan Jakarta.  Terkenal dengan sebutan Bumi Laskar Pelangi sejak novel dan film Laskar Pelangi meledak tahun 2008, Belitung menjadi tempat wisata terkenal di Indonesia.  Pantai-pantai yang cantik, terumbu karang yang terawat, pulau-pulau yang masih perawan dan infrastruktur yang mendukung membuat Belitung bertahan menjadi tempat tujuan wisata.  Saya menjelajahi Belitung untuk membuktikan bahwa tempat ini seperti potongan warna surga yang jatuh ke bumi.

PANTAI TANJUNG KELAYANG DAN PULAU BURUNG

Saya memerlukan waktu 45 menit bermobil dari pusat kota Tanjungpandan untuk sampai di pantai Tanjung Kelayang.  Begitu turun dari mobil  saya disergap papan besar dengan tulisan warna-warni “PANTAI TANJUNG KELAYANG” dan “WELCOME TO BELITONG”.   Di belakang tulisan ini pemandangan biru air laut tampak sempurna. Airnya jernih, pasirnya putih halus dan bebas sampah membuat saya terpesona.  Banyak kapal nelayan bersandar di pantai ini, menambah cantiknya pemandangan. 

Pantai Tanjung Kelayang juga menjadi pelabuhan untuk para wisatawan memulai menjelajah pulau-pulau kecil yang cantik.  Setelah berganti pakaian untuk berenang, saya mulai menjelajahi pulau-pulau kecil di sekitar pantai Tanjung Kelayang.  Tak jauh dari pantai Tanjung Kelayang, tampak pulau kecil dengan batu granit  menjulang tinggi menyerupai kepala burung garuda. Pulau ini juga disebut pulau Burung. Karena masih pagi, kami memutuskan untuk menjelajah pulau terjauh lebih dahulu.  Sepanjang perjalanan, langit biru cerah dan air laut di kejauhan tampak berwarna toska.  Batu-batu granit yang berwarna putih tampak kontras dengan kebiruan di sekelilingnya. Baru memulai penjelajahan dan saya sudah memercayai bahwa Belitung adalah potongan warna surga yang jatuh ke bumi.

  
PULAU BATU BERLAYAR
Setelah berperahu sekitar 20 menit sampailah saya di pulau Batu Berlayar.  Seperti namanya, pulau Batu Berlayar memiliki ciri batu granit yang lebar seperti kapal yang sedang berlayar di tengah lautan.  Saya turun ke pantai dan menyusuri pantai. Batu-batu granit menyebar eksotis di sekeliling pulau. 

Airnya sangat jernih dan pasirnya putih lembut.  Sejauh mata memandang tampak kebiruan air laut, langit yang cemerlang dan batu-batu granit putih yang menjulang.  Saya menceburkan diri berendam di lautan dangkal yang jernih itu sambil melihat burung-burung kecil yang terbang di langit.  Sepertinya saya akan betah berjam-jam berendam di sini. Namun, saya memutuskan melanjutkan perjalanan ke pulau lain.

PULAU LENGKUAS

Sebelum mencapai Pulau Lengkuas, saya singgah di spot snorkeling yang menyuguhkan pemandangan bawah laut yang indah.  Terumbu karangnya masih terjaga dan ikan warna-warni berseliweran di sekitar saya.  Saya ingin berenang lebih lama di spot ini, tetapi mercusuar di Pulau Lengkuas yang menjulang tinggi seolah-olah memanggil saya untuk segera ke sana. 

Pulau Lengkuas memiliki ikon mercusuar peninggalan Belanda sejak 1882 setinggi 62 meter yang masih berfungsi untuk memantau kapal yang keluar masuk ke Pulau Belitung hingga saat ini. Kita bisa memasuki mercusuar dan naik ke atas melalui anak tangga, tetapi saat ini hanya bisa sampai lantai 4 karena sedang direnovasi.  Di setiap lantai terdapat jendela yang mempelihatkan pemandangan birunya laut Belitung.  

Tempat ini juga menjadi tempat istirahat para wisatawan setelah menjelajahi pulau demi pulau.  Banyak tempat duduk dari kayu yang bisa kita gunakan untuk istirahat makan siang sambil menikmati pemandangan laut yang indah.  Jangan lupa sambil minum air kelapa muda yang segar.Tak hanya mercusuar yang menjulang ikonik, di sisi lain tempat ini juga terdapat batu-batu granit besar yang membuat pulau ini tampak semakin eksotis.  Para pengunjung bisa memanfaatkan sisi ini untuk berfoto.  Di bawah pohon besar teduh yang daunnya kemerahan menjulang ke laut, saya duduk berjam-jam menikmati pemandangan. Tempat ini sangat indah tepat untuk menenangkan diri.

 PULAU KELAYANG

Matahari sedikit condong ke barat ketika saya melanjutkan perjalanan menuju Pulau Kelayang.  Berjarak 20 menit dari Pulau Lengkuas menggunakan perahu, pulau ini merupakan pulau terbesar diantara gugusan pulau-pulau yang lain. 


Tak hanya bisa menikmati bebatuan granit yang menjulang, dan pasir putih yang halus, di tempat ini kita juga bisa memasuki hutan kecil yang terdapat goa di dalamnya. Goa yang terbentuk dari bebatuan granit ini terhubung dengan laut. Jika kita menyusuri lebih jauh, kita bisa naik ke atas batu-batu granit dan memandang laut dari ketinggian. Dari bebatuan tinggi ini kita bisa melihat birunya laut di kejauhan. Pulau Kelayang tidak jauh dari pantai Tanjung Kelayang, maka setelah puas menikmati pemandangan di Pulau Kelayang, saya kembali ke Pantai Tanjung Kelayang untuk melanjutkan perjalanan ke pantai yang lain.

PANTAI TANJUNG TINGGI

Pantai Tanjung Tinggi juga dikenal sebagai Pantai Laskar Pelangi karena pantai ini menjadi lokasi syuting film Laskar Pelangi. Terletak tidak jauh dari pantai Tanjung Kelayang, pantai cantik ini memiliki banyak sekali batu granit yang besar dan tinggi sehingga menjadikan pantai ini sangat unik. Nama Tanjung Tinggi diambil dari kata tanjung yang artinya semenanjung dan tinggi yang artinya pantai yang memiliki bebatuan yang tinggi. 

Di pantai ini pengunjung bisa melakukan banyak aktivitas seperti mendaki batu-batu granit yang tinggi dan melihat pemandangan laut dari ketinggian, memancing di sela-sela bebatuan, berenang atau duduk menunggu matahari terbenam seperti yang saya lakukan. Pemandangan saat matahari terbenam di pantai ini sangat menakjubkan.

PANTAI PENYABONG

Esoknya saya melanjutkan perjalanan menjelajah Belitung Selatan. Tujuan pertama saya mengunjungi Pantai Penyabong.  Jalanan bagus beraspal menyambung sampai pantai, sehingga mobil bisa masuk sampai tepi pantai.  Kita hanya perlu berjalan sedikit untuk menaiki batu granit besar yang ada di sisi pantai.  


Pantai di Belitung Selatan lebih alami, sepi dan perawan dibanding pantai sebelumnya. Di sini bebatuan granit besar menjulang tinggi sehingga para pengunjung bisa naik ke atas untuk menikmati pemandangan lautan biru dari ketinggian.  Saya mendaki ke atas batu dan melihat warna laut seperti berlapis mulai dari biru jernih dan hijau toska. Di tempat ini juga terdapat warung makan yang menjual masakan kepiting dengan harga murah. Anda tak akan melewatkan ini setelah melihat pemandangan alam yang menakjubkan.

PANTAI TELUK GEMBIRA

Pantai Teluk Gembira terletak tidak jauh dari Pantai Penyabong. Pantai ini telah dilengkapi berbagai fasilitas lengkap untuk menerima para wisatawan seperti restoran, gasebo, mushala, toilet yang bersih dan bagus.  Pengunjung bisa menikmati keindahan pantai sambil duduk di gasebo tepi pantai atau duduk di bebatuan granit yang menjorok di pantai.

 Memiliki panorama yang indah perpaduan antara bebatuan granit, pasir putih serta laut lepas yang berwarna biru dihiasi pulau-pulau kecil di sekitar Teluk Gembira, pantai ini memiliki air yang jernih dan bebas dari sampah. Di pantai Teluk Gembira ini juga terdapat dermaga penyeberangan yang disinggahi oleh perahu yang membawa orang-orang yang tinggal di Pulau Seliu. Setiap hari ada dua kali jadwal perahu yang menyebarang dari Teluk Gembira ke Pulau Seliu dan sebaliknya.

DANAU KAOLIN
Tempat terakhir yang melengkapi potongan warna surga di Belitung yaitu Danau Kaolin. Danau berwarna hijau toska ini terletak di desa Air Raya Tanjungpandan.
   

Memiliki daratan yang putih bersih dan warna air yang hijau toska, danau ini berasal dari bekas penambangan Kaolin yang telah ditinggalkan.  Kaolin merupakan bahan untuk membuat cat dan kosmetik.  Air danau ini juga dipercaya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit.  Perpaduan warna putih dan hijau toska akan menjadi obyek foto yang menarik jika anda menyukai fotografi.  ***