Bertemu Survivor Perang Vietnam di Pasar Dong Xuan

“Hello… shopping! Shopping! Very cheap! Very cheap!” teriak seorang lelaki tua yang berjualan souvenir di dekat pintu masuk pasar Dong Xuan Hanoi sambil melambaikan tangan ke saya. Saya yang tidak ingin belanja souvenir hanya menggeleng dan melangkah masuk ke dalam pasar terbesar di Hanoi itu. Tetapi sepanjang saya menyusuri pasar mencari baju Ao Dai (baju tradisional Vietnam), malah kepikiran lelaki tua itu dan berniat mampir melihat barang dagangannya setelah selesai mengelilingi pasar.

Terletak di jantung kota tua Hanoi Vietnam, pasar Dong Xuan yang dibangun oleh Perancis pada akhir abad 19 ini merupakan pasar tertutup yang terdiri dari beberapa lantai dengan banyak kios serta lorong-lorong kecil. Di lantai dasar bagian tengah, ada air mancur dengan tempat duduk di sekelilingnya sehingga pengunjung pasar bisa melepaskan lelah di sini.  Pasar ini menjual berbagai kebutuhan mulai dari pakaian, makanan, sepatu dan souvenir.

Saya kemudian naik ke lantai satu untuk mencari baju Ao Dai. Sudah lama saya ingin memiliki baju tradisional Vietnam ini karena unik dan cantik. Selain itu juga bisa dikenakan wanita berjilbab karena modelnya yang mirip baju kurung. Saya menemukan satu kios yang menjual baju Ao Dai dengan harga sesuai kantong saya dan warna yang saya cari, tetapi sayangnya ukuran untuk saya tidak ada. Akhirnya saya mengurungkan niat membeli baju Ao Dai di pasar ini karena tidak menemukan kios lain dengan harga yang lebih baik. Jika ingin berbelanja di pasar ini, jangan lupa menawar untuk mendapatkan harga yang lebih murah.

Setelah menyusuri lorong-lorong sempit dan mampir di beberapa kios, saya memutuskan untuk keluar dari pasar. Tetapi lebih dulu ingin singgah di kios souvenir lelaki tua di dekat pintu keluar. Begitu saya lewat, lelaki tua itu sedang duduk di kursinya sambil membaca koran. Tampak tenang dan fokus pada bacaannya. Saya memilih-milih souvenir dan dia meletakkan korannya sambil tersenyum lebar menatap saya.

“Shopping! Shopping! Very cheap!” katanya lagi.

Saya tertarik pada tas etnik berwarna merah yang terlihat seperti kain tenun. Lelaki tua itu bangkit mendekati saya, dan saya baru sadar kalau kaki beliau tinggal satu dan mengenakan kruk. Tapi gerakannya energik dan senyumnya sangat ramah. Saat menatap wajahnya saya merasakan aura positip menular ke diri saya.  Saya menanyakan harga tas, dan mengajukan tawaran. Entah tawaran saya terlalu tinggi atau beliau yang murah hati, tetapi tawaran pertama saya langsung disetujuinya. Bahkan beliau memberikan dua dompet kecil sebagai bonus. Teman perjalanan saya memutuskan belanja banyak souvenir di kios ini dan saya menunggunya.

“Take a seat!” katanya menyodori saya kursi plastik untuk duduk. Saya tersenyum dan mengangguk. “cảm ơn”

Matanya berbinar mendengar saya mengucap terima kasih dalam bahasa Vietnam. “Ah, you speak Vietnamese?” Saya tertawa sambil menunjukkan google translate di handphone saya,”No, no… i use google translate. See?”  “Oh, I see. Where are you from?” tanyanya sambil balas tertawa.  “Indonesia.”

“Oh ya, Indonesia. I know your country. Beautiful beach, ah?”

“Ya, i guess so…”

Lalu sambil menunggu teman saya memilih-milih souvenir, kami ngobrol. Saya merasa aura positipnya menulari saya sehingga saya ikut tersenyum lepas.

Namanya Pak Binh Phan, usianya menjelang 70 tahunan. Tapi badannya masih tegap, terlihat sehat dan jejak ketampannya masih jelas di wajahnya.  Saat terjadi perang Vietnam, beliau masih berusia 20-an dan kehilangan satu kakinya. Kondisi yang sulit paska perang dan menyesuaikan hidup dengan satu kaki hampir membuatnya putus asa. Tapi ia sanggup bertahan dan mengatasi kesulitannya dengan berbagai cara. Setelah merintis berbagai usaha namun gagal, kemudian ia berjualan souvenir di pasar Dong Xuan hingga saat ini. Menurutnya bertemu pembeli dari berbagai negara dan mendengar sedikit cerita mereka yang mampir di kiosnya membuatnya lebih semangat.

Saya justru kebalikannya. Saya mendapatkan semangat hidup saya yang sedang remuk saat keliling Vietnam ini kembali lewat Pak Binh Phan. Jika dengan satu kaki saja beliau bisa bertahan melewati banyak hal, bagaimana dengan saya yang memiliki kaki normal? Bahkan yang saya lakukan hanya mengeluh dan mengeluh. Di akhir obrolan saya, Pak Binh Phan memeluk saya penuh respect saat saya meminta foto bersama.  Beliau juga tidak keberatan saat saya mengambil fotonya dari berbagai sudut.  Saya seperti menangkap pesan dari matanya yang bersinar positip bahwa memiliki satu kaki bukan masalah, asalkan masih bisa menciptakan kebahagiaan untuk diri sendiri dan orang di sekelilingnya. Terima kasih Pak Binh Phan! You are awesome!

Munjungan, Kenangan dan Harapan

“Kapan awakmu anjok? (kapan kamu turun gunung)?”

Itu pertanyaan teman-teman saya yang tinggal di Trenggalek kota, saat ingin bertemu sementara saya berada di Munjungan. (note : buat yang nggak tahu, Munjungan itu berada di kawasan pegunungan Trenggalek Jawa Timur, pinggir pantai selatan, sementara teman-teman saya tinggal di dataran Trenggalek kota kabupaten).  Dulu setiap mendengar pertanyaan itu saya jadi minder, Ya Tuhan betapa anggunnya saya (anak nggunung maksudnya) dibanding mereka yang tinggal di dataran kota Trenggalek, saya merasa seperti manusia purba yang masih memakai baju dari dedaunan dan menggunakan transportasi sulur-sulur pohon besar ala Tarzan untuk sampai ke seberang.

Sayangnya, meski kampung tempat saya dibesarkan ini sekarang telah menjelma kota, teman-teman saya masih takut “munggah” (naik) ke Munjungan. Mungkin mereka masih berpikir jalan yang meliuk-liuk di sela pegunungan itu akan melahapnya, mabuk perjalanan atau diculik Tarzan? Duh, kalian belum merasakan betapa asyiknya naik mobil pick up terbuka, duduk di belakang, menembus kabut pegunungan yang tinggi, melihat jurang-jurang terjal dengan pemandangan gunung yang dramatis, sungai penuh bebatuan di bawah sana dan menghirup udara segar di sela pohon-pohon yang menjulang. Atau berhenti di puncak tertinggi untuk melihat laut yang membiru di kejauhan sambil menghirup kopi panas dan menikmati semangkuk bakso.  Bahkan sebulan lalu, saya memilih naik mobil bak terbuka duduk di belakang pada malam hari sekitar jam 8-9 malam menembus hutan berkabut dan gerimis. Saya merasa seperti bertualang di Jurasic Park meskipun bak belakang mobil pick up yang saya duduki bekas kambing tapi saya bahagia. Saya jarang memilih naik mobil tertutup (kecuali hujan atau diomelin Ibu) saat pulang karena merasa akan kehilangan sensasi petualangan menembus hutan.

For your information…, Munjungan memiliki banyak tempat wisata yang mungkin tidak ada di dataran kota Trenggalek. “Ya iyalah, karena gunung dan dataran tentu saja berbeda Ri.” (mohon baca dulu, sebelum nyampluk saya, hahaha) Oke, deal! Mari kita lanjutkan sambil nangkis samplukan. Jika kalian ingin santai-santai di tepi pantai sambil nongkrong ngopi sore sampai malam, kami punya pantai Blado yang paling mudah untuk dikunjungi. Jika kalian ingin menikmati pantai berbatu yang romantis dengan pasir ‘agak putih’ lembut dengan background perahu-perahu nelayan, kalian bisa ke pantai Ngampiran. Jika kalian suka air terjun, kami punya coban Wonoasri yang mudah dijangkau dengan naik motor lalu nyambung hiking 15 menit. Jika kalian suka pemandangan hutan yang instagramable, kalian bisa coba Hutan Plumpit. Masih ada pantai Raja’an, Ngadipuro, Slah dan Dadapan yang tak kalah indah.

Kalau makanan bagaimana?  Sebagai daerah pesisir, jika suka kalian bisa memuaskan diri makan seafood. Ikan, udang, cumi, rumput laut dengan berbagai cara masaknya yang menggiurkan. Kalau kalian mau bisa menunggu jaring nelayan naik ke daratan dan membeli satu plastik ikan laut segar dengan harga lebih murah ketimbang esok harinya di pasar.  Atau cicipi jajanan pasar jadul yang enak dan murah seperti getuk, cenil, pecel, punten, tiwul, jadah dan banyak lagi. Tapi kalau kalian suka makanan masa kini, jangan salah! Di sini juga ada fried chicken, sate, tahu bulet, martabak, kue pukis, bakso, nasi goreng dan lain-lainnya. Kalau mau gratis, kalian bisa makan di rumah saya, hanya jika saya dan ibu saya sedang di sana, karena kalau tidak, rumah saya kosong. Oke, apakah sudah membuktikan bahwa kami tidak hanya makan daun-daunan mentah dan berburu binatang ala Tarzan? Kalau belum saya lanjutkan!

Sekarang soal nguri-nguri tradisi, melestarikannya agar tidak punah. Kalau kata eyang Mahatma Gandhi “sebuah budaya bangsa tinggal di hati dan di dalam jiwa rakyatnya.” Ada beberapa tradisi yang masih dilestarikan seperti longkangan dan syawalan. Beberapa tahun terakhir,  desa saya Karangturi-Munjungan merayakan tradisi Syawalan. Saya sengaja memperpanjang libur lebaran saya, agar bisa melihat Syawalan ini.  Seingat saya sejak kecil jika ingin melihat tradisi Syawalan harus ke daerah lain yang merayakannya. Namun kini, Kepala desa kami yang muda dan progresif tampak berusaha melestarikan tradisi ini setiap tahunnya dan melakukan banyak kemajuan di berbagai bidang sehingga desa kami lebih berdaya. Tidak hanya kirab gunungan ketupat, namun juga dilengkapi dengan tarian jaranan, drum band, pasar malam dan panggung hiburan. So, kalau kalian masih berkeinginan “munggah” (naik) ke Munjungan, banyak hal menarik bisa kalian gali, jangan kuatir orangnya juga cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Yakali saya mau bilang jelek, sementara saya juga orang sini. Hahaha.

 

Belasan tahun sudah saya “anjok kebablasan” dari Munjungan dan hidup lama di perantauan bahkan mungkin tak akan pernah kembali menetap di tanah kenangan ini. Saya tidak lahir di tanah kenangan ini, tapi saya datang bersama ibu saat usia saya 4 tahun. Ketika itu jalanan menembus hutan masih bebatuan dan alat transportasinya hanya jeep tua. Lalu saya meninggalkan tanah kenangan ini saat jalanan sudah beraspal, namun sawah-sawah belum banyak yang punah. Saya tidak mempunyai sumbangsih apa-apa untuk tanah tempat saya dibesarkan ini, bahkan mungkin saya memiliki banyak hutang budi. Karena di tanah kenangan ini saya dipaksa menerima hal-hal baru dalam usia 4 tahun, saya banyak belajar menjadi manusia, banyak berpikir tentang tujuan hidup, banyak protes sebagai perempuan yang dibesarkan dalam tradisi Jawa dan banyak mendapatkan inspirasi untuk dituliskan. Saya berharap, semakin maju tanah ini, semakin maju pula masyarakatnya.  Semoga.

Dan, saya berharap teman-teman saya di dataran Trenggalek kota yang selalu nanya, “kapan awakmu anjok?” akan mulai mau “munggah” untuk menikmati keindahannya. Saya percaya, kalian tidak akan kecewa! Saya jamin!

*Credit Picture : Doc. Pribadi dan Wanda