CERITA DARI PASAR CHOWRASTA

June 30, 2019
4 mins

Pukul 7 pagi, saya keluar penginapan untuk menghirup udara pagi Penang, Malaysia. Orang-orang sering menyebutnya Pulau Pinang karena kota ini memang terletak di kepulauan kecil yang masih masuk dalam wilayah Seberang Parai.  Di kalangan orang Indonesia, Penang lebih terkenal sebagai tempat berobat karena memiliki beberapa rumah sakit yang bagus. Padahal tak hanya itu, Penang juga memiliki George Town, salah satu kota yang masuk daftar Unesco Heritage Site karena berhasil melestarikan bangunan bersejarah dari abad lampau.  Bangunan-bangunan tua cantik perpaduan arsitektur Eropa dan Asia yang difungsikan sebagai toko, cafe, restoran dan tempat tinggal ini bisa anda temui saat berjalan-jalan menyusuri George Town.

Tujuan saya pagi ini ke Pasar Chowrasta. Ide mengunjungi pasar ini datang dari seorang sahabat yang menitipkan pesannya ke salah satu penjual buku di Pasar Chowrasta. Tetapi Pasar Chowrasta yang berdiri sejak 1890 dan telah mengalami beberapa perbaikan ini memang menjadi salah satu tujuan wisata. Terletak di perempatan pusat kota tepatnya di jalan Lebuh Tamil, pasar tradisional ini menjual bermacam kebutuhan mulai dari jajanan, sayur mayur, daging, sembako, pakaian dan buku. Di sebelah pasar ini juga terdapat deretan tenda-tenda kecil yang berjualan makanan seperti cendol, rujak, es campur yang menurut saya sangat enak.

 

Setelah menyusuri lantai 1 pasar Chowrasta, saya naik ke lantai 2, tempat deretan lapak penjual buku berada. Tidak susah untuk menemukan lapak yang dimaksud sahabat saya untuk dikunjungi. Pemiliknya bernama Pakcik Iskandar, lelaki India yang ramah berusia sekitar 60 tahun. Kawasan pasar ini pada pertengahan abad 19 memang banyak dihuni suku Tamil yang berasal dari India Selatan, salah satunya nenek moyang Pakcik Iskandar. Meskipun sekarang populasi orang-orang India di sekitar kawasan Chowrasta mengecil, namun kita masih bisa menemukannya di pasar ini.

 

 

Pakcik Iskandar yang mencintai buku ini sejak muda sudah berjualan di Chowrasta. Koleksi bukunya cukup lengkap terdiri dari buku-buku baru dan buku bekas dari penulis berbagai negara seluruh dunia termasuk buku dari Indonesia. Saya menemukan buku-buku terbitan tahun 1945-1950-an dengan kondisi kertas masih bagus dan harga terjangkau. Pak Iskandar juga mempersilakan saya menawar harga yang beliau ajukan untuk mendapatkan harga yang bagus.

 

Saya kemudian membeli buku LITTLE BOY LOST dari penulis Inggris Marghanita Laski terbitan tahun 1949 yang bercerita tentang laki-laki yang mencari anaknya yang hilang di Perancis selama masa perang dan buku MERRIE ENGLAND dari penulis Paul Johnson terbitan tahun 1964. Ada beberapa buku tua tentang sejarah Melayu yang ingin saya beli tetapi harganya lumayan mahal sehingga saya batal membelinya. Pak Iskandar menguasai semua isi buku yang dijualnya dan menjelaskan setiap detail buku dengan gamblang ke pelanggannya.  Bahkan ketika beberapa orang generasi milenial datang mencari buku romans remaja, Pak Iskandar langsung tanggap dan memahami buku yang dimaksud. Baginya buku adalah denyut nadi kehidupannya dan jalan rezekinya. Meski dunia digital bisa jadi akan menenggelamkan semua buku-buku yang dijualnya, beliau selalu percaya rezeki akan menghampirinya melalui sesuatu yang dicintainya.

Hampir dua jam saya berbincang-bincang tentang Penang dan buku di lapaknya sambil melihatnya melayani pelanggan. Saya sempat menanyakan apakah pelanggannya banyak mencari buku dari penulis Indonesia? Menurut Pakcik Iskandar selalu ada yang mencari buku-buku tokoh Indonesia seperti Soekarno atau tokoh-tokoh Indonesia lainnya tetapi sayang koleksinya dari Indonesia sedikit. Dulu Pakcik sering datang ke Indonesia untuk mengambil buku-buku yang akan dijualnya sebelum kerjasamanya dengan salah satu penerbit berakhir karena penerbit itu tutup.Pasar selalu menghadirkan kehidupan khas manusia-manusia di kota yang ditinggalinya. Pakcik Iskandar dengan koleksi buku-bukunya adalah inspirasi bagi saya untuk bisa memahami bahwa cinta pada buku tak harus mati dengan banjirnya dunia digital. Karena begitulah cinta yang sebenarnya, tak mudah menyerah pada perubahan.

 

 

Avatar
Writer, Traveller and Dreamer

Leave a Reply

  • (not be published)